• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

Dari 80 responden penderita tuberkulosis, diketahui mayoritas jenis kelamin respondennya adalah laki-laki yaitu sebanyak 58 orang (72,5%) sedangkan perempuan sebanyak 22 orang (27,5%). Penelitian pada 4900 responden yang dilakukan oleh Peltzer et al., (2012) di Afrika Selatan didapati pola yang sama, dengan jumlah responden laki-laki (54,5%) lebih banyak dibandingkan perempuan (45,5%) yang mengalami TB paru.

Pada kelompok masing-masing pengobatan TB paru non-MDR dan MDR tidak terdapat perbedaan, dengan jumlah responden berjenis kelamin laki-laki lebih banyak pada kedua kelompok. Pada kelompok non-MDR, jumlah laki-laki sebanyak 31 orang (77,5%) dan perempuan sebanyak 9 orang (22,5%). Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan Moussas, G., et al (2008) di Yunani, bahwa pasien penderita TB paru yang menjalani pengobatan di non-MDR lebih banyak laki-laki dibandingkan dengan perempuan, dengan jumlah laki-laki 78 orang dan perempuan 54 orang. Sementara pada responden TB-MDR, jumlah laki-laki sebanyak 27 orang (67,5%) dan perempuan 13 orang ( 32,5%). Hal ini memiliki pola yang sama dengan penelitian yang dilakukan Vega,P., et al. (2003) di Peru bahwa terdapat penderita TB-MDR berjenis kelamin laki-laki ( 60,7%) lebih banyak dibandingkan perempuan ( 39,3%). Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian sebelumnya dimana laki-laki cenderung lebih banyak menderita tuberkulosis paru dibandingkan perempuan hal ini mungkin dikarenakan oleh status sosial dan pekerjaan laki-laki lebih berpotensi untuk terpajan kuman M. tuberkulosis.

Usia yang paling banyak mengalami TB paru dalam penelitian ini adalah pada usia 36-60 tahun sebanyak 50 orang (62,5%). Disusul dengan usia 18-35 tahun sebanyak 26 orang (32,5%) dan usia diatas 60 tahun sebanyak 4 orang (5%). Pola ini hampir sama yang diteliti oleh oleh Peltzer et al., (2012) di Afrika Selatan, bahwa yang paling banyak mengalami TB paru adalah usia produktif 31-44 tahun sebanyak 41,8 %. Disusul dengan usia 18-30 tahun sebesar 36,6% dan usia 45 ke atas sebesar 21,5%. Dan berdasarkan usia penderita tuberkulosis, tingkat penularan penyakit ini lebih tinggi pada usia produktif karena lebih sering berinteraksi dengan lingkungan sekitar (Pertiwi, 2012).

Mayoritas responden adalah pada kelompok pekerjaan tidak tetap atau lainnya sebanyak 38 orang (47,5%), disusul dengan pekerjaan wiraswasta sebanyak 28 orang (35%), pegawai swasta 8 orang (10%) dan PNS 6 orang (7,5%). Penelitian yang dilakukan Ige et al.,( 2011) di Nigeria memiliki karakteristik yang sama dengan penelitian ini dalam hal kelompok pekerjaan responden. Kelompok pekerjaan tidak tetap lebih banyak ( 70,8 %) dibandingkan yang bekerja tetap (29,2%). Sementara penelitian yang dilakukan Putri (2013) di Manado, bahwa responden wirswasta lebih banyak menderita TB paru (36,5%), disusul pegawai (23,1%) , tidak bekerja (19,2%). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor yang berkontribusi penularan TB adalah status gizi masyarakat yang dipengaruhi status ekonomi dan pekerjaan sehingga memberi peluang penularan tuberkulosis (Weber et al., 2008).

Dalam penelitian ini tingkat pendidikan terakhir SMA merupakan yang paling banyak menderita TB paru. Dari 80 respoden penelitian, sebanyak 49 orang (61,3%) disusul dengan SMP 23 orang (28,8%), Perguruan Tinggi 6 orang (7,5%) dan SD 2 orang (2,5%). Pola yang sama terjadi di Manado yang diteliti oleh Putri (2013) bahwa responden penderita TB paru paling banyak adalah dengan tingkat pendidikan SMA (44,2%), disusul SMP (19,2%), SD (19,2 %) dan Sarjana (17,3 %). Kebanyakan responden merupakan dengan tingkat pendidikan SMA, hal ini terjadi bahwa sekarang ini rata-rata seluruh masyarakat sudah sampai menempuh pendidikan SMA sesuai dengan program yang diberikan pemerintah dalam bidang pendidikan.

Sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk melihat apakah terdapat hubungan kelompok pengobatan TB paru non-MDR dan TB-MDR dengan tingkat depresi. Dari 80 responden pada dua kelompok, didapatkan hasil bahwa pada pada kelompok TB-MDR lebih banyak mengalami depresi yaitu sebanyak 28 orang ( 70%) sedangkan pada kelompok non-MDR terdapat 22 orang (55%) yang mengalami depresi.

Pada non-MDR, dari 22 orang yang mengalami depresi paling banyak mengalami depresi ringan yaitu sebanyak 12 orang (30%), yang mengalami depresi sedang sebanyak 7 orang (17,5%) sementara yang mengalami depresi berat sebanyak 3 orang (7,5%). Pola ini sama dengan penelitian yang dilakukan Basu et

32

al.,( 2012) di India bahwa terdapat 91 orang (82,4%) mengalami depresi pada penderita TB paru non-MDR. Paling banyak mengalami depresi ringan yaitu sebanyak 47 orang (42,7%), diikuti yang mengalami depresi sedang sebanyak 38 orang (34,5%) dan depresi berat sebanyak 6 orang (5,5%). Sementara penelitian yang dilakukan Nurkhalesa (2014) di Jember, dari 30 responden penelitian terdapat 28 orang (93,3%) yang mengalami depresi. Paling banyak mengalami depresi sedang yaitu sebanyak 19 orang (63,3%), diikuti depresi ringan sebanyak 9 orang (30%).

Pada penelitian ini , kelompok responden TB-MDR terdapat 28 orang yang mengalami depresi, dimana paling banyak mengalami depresi sedang dan berat, sedangkan depresi ringan hanya ada 6 orang (15%). Sebanyak 13 orang (32,5%) mengalami depresi sedang dan 9 orang (22,5%) mengalami depresi berat. Pada penelitian yang dilakukan Reviono et al., (2013) di Surakarta pada penderita TB- MDR sebanyak 53,5% mengalami depresi. Sementara penelitian yang dilakukan Vega et al.,(2003) di Peru dari 75 sampel penderita TB-MDR yang diteliti terdapat 36 orang (52,2 %) mengalami depresi. Dibandingkan dengan kelompok non-MDR, depresi sedang dan berat lebih banyak pada kelompok TB-MDR. Efek samping obat pada regimen pengobatan TB-MDR juga sebagai penyebab timbulnya depresi dan keinginan bunuh diri. Obat yang diduga pemicu timbulnya hal tersebut adalah sikloserin (Mtonga, 2008).

Hubungan antara tipe penderita TB paru yang dikelompokkan dengan tipe pengobatan yaitu TB paru non-MDR dan TB-MDR dengan tingkat depresi dari penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan signifikan antara kedua variabel dengan p value <0,05 ( p=0,046). Banyaknya penderita TB yang mengalami depresi selama proses pengobatan disebabkan oleh beberapa hal yaitu ketidaktahuan mereka tentang penyakitnya, penderita mengira bahwa TB adalah suatu penyakit berbahaya dengan angka kesembuhan dan survival yang rendah. Selain itu, proses pengobatan akan berlangsung dan lama serta menganggu rutinitas keseharian penderita TB, sehingga mereka tidak melakukan pengobatan dengan tidak baik (Aamir dan Aisha, 2010).

Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan penelitian yaitu bahwa penderita TB paru banyak yang memiliki faktor komorbid lain sehingga

memungkinkan sebagai penyebab terjadinya depresi pada penderita TB paru selain oleh karena penyakitnya sendiri. Faktor-faktor komorbid tersebut adalah banyaknya penderita TB yang juga mengalami HIV, DM, gagal ginjal, dan kelainan-kelainan oleh karena efek samping obat sehingga memungkinkan untuk terjadinya depresi. Selain itu peneliti hanya menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden dalam menentukan tingkat depresi, sehingga kesimpulan yang diambil hanya berdasarkan pada data yang dikumpulkan melalui kuesioner tersebut. Sehingga pada penelitian selanjutnya dapat melihat faktor- faktor tersebut dalam menentukan hubungan terjadinya depresi pada penderita TB paru.

34

Dokumen terkait