• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

2. Pembahasan

2.1. Faktor Tekanan dari Pacar

Berdasarkan data hasil penelitian bahwa tekanan dari pacar yang mempengaruhi terjadinya kehamilan pranikah mayoritas responden menyatakan ada tekanan dari pacar yaitu 28 orang (84,8%), selebihnya menyatakan tidak ada yaitu 5 orang (15,2%). Faktor tekanan dari pacar merupakan faktor tertinggi yang mempengaruhi terjadinya kehamilan pranikah.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kartika (2010) yang meneliti faktor-faktor penyebab terjadinya kehamilan pranikah di Kecamatan Batu Malang Jawa Timur adalah faktor ada tekanan dari pacar yaitu sebanyak 68,4%.

Kebutuhan remaja untuk mencintai dan dicintai pada seorang remaja putri biasanya harus rela melakukan apa saja terhadap pasangannya, termasuk karena adanya tekanan dari pacarnya tanpa memikirkan dampak atau risiko yang nanti dihadapinya. Dalam hal ini yang berperan bukan saja nafsu seksual mereka, melainkan juga karena sikap memberontak terhadap orang tuanya. Remaja lebih membutuhkan suatu bentuk hubungan, penerimaan, rasa aman, dan harga diri sebagai layaknya manusia dewasa. Jika di dalam lingkungan keluarga tidak dapat membicarakan masalah yang dihadapinya, remaja tersebut akan mencari solusinya di luar rumah. Begitu juga jika remaja tersebut tidak mendapat cinta dan perhatian yang cukup dari orang tuanya, dia akan mencarinya di luar rumah melalui lingkungan pergaulannya. Adanya perhatian dan cinta yang cukup dari orang tua dan anggota keluarga terdekatnya memudahkan remaja tersebut memasuki masa pubertasnya (Dianawati, 2006).

Menurut asumsi peneliti, dari hasil penelitian ini terlihat bahwa tekanan dari pacar merupakan alasan yang banyak dikemukakan oleh remaja putri. Adanya ajakan pacar untuk melakukan aktivitas seks dari mulai yang ringan- ringan seperti berpegangan tangan, mencium pipi/kening, berpelukan, mencium bibir lambat laun menyebabkan remaja putri terangsang untuk melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Adanya rayuan pacar untuk melakukan hubungan seks juga acapkali menyebabkan remaja putri tidak kuasa menolak godaan dari pacar untuk melakukan hubungan seks. Ada juga pacar yang sering memaksa pacar untuk melakukan hubungan seks. Rasa takut ditinggalkan oleh pacar menyebabkan remaja putri gampang saja menyerahkan kesuciannya. Selain itu, sang pacar yang mengatakan akan selalu bertanggungjawab jika dirinya hamil juga menjadi alasan remaja putri mau melakukan hubungan seks dengan pacar. Remaja putri mudah terbujuk untuk melakukan hubungan seks karena adanya tekanan pacar karena sebagian besar remaja putri masih mencari jati diri. Secara psikologis, remaja putri pada masa remaja mudah mengikuti arus dan mencurahkan rasa cinta kepada pacarnya terkadang melebihi apapun sehingga ketika ada tekanan dari pacar karena takut ditinggalkan remaja putri menyerahkan kesuciannya.

2.2. Faktor Rasa Penasaran

Berdasarkan data hasil penelitian bahwa rasa penasaran remaja putri yang mempengaruhi terjadinya kehamilan pranikah mayoritas responden menyatakan ada rasa penasaran yaitu 28 orang (84,8%), selebihnya menyatakan

tidak ada yaitu 5 orang (15,2%). Faktor rasa penasaran merupakan faktor tertinggi yang mempengaruhi terjadinya kehamilan pranikah.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Indarti (2009) yang meneliti faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kehamilan pranikah remaja putri di Desa Suryalaya Jawa Barat mendapatkan hasil bahwa mayoritas responden menyatakan melakukan hubungan seks karena rasa penasaran nikmatnya melakukan hubungan seks (65,8%), selebihnya menyatakan tidak ada (34,2%)

Pada usia remaja, rasa keingintahuan begitu besar terhadap seks. Apalagi jika teman-temannya mengatakan bahwa seks itu nikmat, ditambah lagi adanya segala informasi yang tidak terbatas. Rasa penasaran tersebut semakin mendorong mereka untuk lebih jauh lagi melakukan berbagai macam percobaan sesuai dengan yang diharapkannya (Dianawati, 2006).

Menurut asumsi peneliti, nikmatnya melakukan hubungan seks dengan pacar membuat banyak remaja putri merasa penasaran, karena dibumbui oleh rasa sayang dan cinta, serta nafsu. Membicarakan masalah seks masih dianggap tabu di kalangan remaja putri dengan keluarga sehingga banyak remaja mencari informasi dari teman-temannya yang malah menjerumuskan remaja putri tersebut untuk melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Kurangnya keterbukaan keluarga terhadap perilaku seks yang benar menyebabkan remaja putri sering tidak bisa menolak pacarnya ketika meminta atau memaksa melakukan hubungan seks. Rasa penasaran muncul karena adanya larangan untuk melakukan hubungan seks, sehingga semakin dilarang para remaja semakin penasaran untuk merasakan atau menikmati hubungan seks dengan

pasangannya. Dorongan nafsu yang muncul serta rasa penasaran yang tinggi serta bujuk rayu dari pacar sehingga remaja putri mengalami kehamilan pranikah. Rasa penasaran dalam diri remaja mengenai kenikmatan melakukan hubungan seks merupakan salah satu pencarian jati diri remaja, berkembangnya hormon-hormon seks dalam tubuh remaja menyebabkan remaja mempunyai hasrat yang tinggi pula dalam melakukan hubungan seks terutama dengan pacarnya.

2.3. Faktor Tekanan dari Teman

Berdasarkan hasil penelitian bahwa tekanan dari teman yang mempengaruhi terjadinya kehamilan pranikah mayoritas responden menyatakan ada tekanan dari teman yaitu 25 orang (75,8%), selebihnya menyatakan tidak ada yaitu 8 orang (24,2%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rustamaji (2009) di Kecamatan Brosotan Yogyakarta mendapatkan bahwa yang mempengaruhi kejadian kehamilan pranikah mayoritas menyatakan ada tekanan dari teman sebaya (64,5%).

Menurut Dianawati (2006) lingkungan pergaulan yang telah dimasuki oleh seorang remaja dapat berpengaruh untuk menekan temannya yang belum melakukan hubungan seks. Bagi remaja tersebut, tekanan dari teman-temannya itu dirasakan lebih kuat daripada tekanan yang didapat dari pacarnya sendiri. Keinginan untuk dapat diterima oleh lingkungan pergaulannya begitu besar, sehingga dapat mengalahkan semua nilai yang didapat, baik dari orang tua

maupun dari sekolahnya. Pada umumnya remaja tersebut melakukannya hanya sebatas ingin membuktikan bahwa dirinya sama dengan teman-temannya, sehingga dapat diterima menjadi bagian dari anggota kelompoknya seperti yang diinginkan.

Menurut asumsi peneliti, dalam lingkungan pergaulan teman sebaya mempunyai pengaruh yang kuat terhadap diri remaja tersebut baik pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh negatif yang sering diikuti remaja seperti perilaku merokok, tawuran, juga perilaku seks. Pada pergaulan teman sebaya biasanya ada ejekan-ejekan pada rekan-rekan yang belum pernah melakukan hubungan seks dengan pacarnya dan dianggap kampungan, tidak mengerti pergaulan, dan lain-lain. Selain itu, cerita-cerita dari teman sebaya tentang hubungan seksnya dengan pacarnya kadang membuat remaja untuk mencoba perilaku seks tersebut dengan pacarnya sehingga dapat terjadi kehamilan pranikah.

2.4. Faktor Kebutuhan Badaniah

Berdasarkan data hasil penelitian bahwa kebutuhan badaniah yang mempengaruhi terjadinya kehamilan pranikah mayoritas responden menyatakan ada kebutuhan badaniah yaitu 23 orang (69,7%), selebihnya menyatakan tidak ada yaitu 10 orang (30,3%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rustamaji (2009) yang meneliti kebutuhan badaniah dengan terjadinya kehamilan pranikah di Kecamatan Brosotan Yogyakarta mendapatkan hasil bahwa mayoritas responden menyatakan

melakukan perilaku seks pranikah karena adanya kebutuhan badaniah sebanyak 73,6%.

Menurut Dianawati (2006), seks merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang. Tidak terkecuali remaja juga menginginkan hubungan seks ini, sekalipun akibat dari perbuatannya tersebut tidak sepadan dibandingkan dengan risiko yang mereka hadapi.

Menurut asumsi peneliti, dari hasil penelitian ini terlihat bahwa mayoritas responden menyatakan melakukan hubungan seks pranikah dan menyebabkan kehamilan mengaku karena adanya kebutuhan badaniah. Meningkatnya hormon-hormon seksual dan libido pada masa remaja menyebabkan remaja rentan untuk melakukan perilaku seks pranikah. Adanya rangsangan dari pacar ketika sedang berpacaran menyebabkan remaja mudah sekali terlena mengikuti ajakan pacar tanpa memikirkan akibat yang ditanggung akibat perbuatan tersebut, yaitu terjadinya kehamilan. Banyak remaja putri yang tidak dapat menahan keinginan atau hasrat seksual ketika sedang berpacaran.

2.5. Faktor Pengetahuan

Berdasarkan data hasil penelitian bahwa pengetahuan yang mempengaruhi terjadinya kehamilan pranikah mayoritas responden terjadi kehamilan pranikah karena adanya faktor kurang pengetahuan yaitu 18 orang (54,5%), selebihnya menyatakan tidak ada yaitu 16 orang (48,5%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rustamaji (2009) yang meneliti kurangnya pengetahuan dengan terjadinya kehamilan pranikah di

Kecamatan Brosotan Yogyakarta mendapatkan hasil bahwa mayoritas responden kurang pengetahuan yaitu 79,8%, selebihnya mempunyai pengetahuan yang memadai yaitu 21,2%.

Kurangnya pengetahuan atau mempunyai konsep yang salah tentang kesehatan reproduksi pada remaja dapat disebabkan karena masyarakat tempat remaja tumbuh memberikan gambaran sempit tentang kesehatan reproduksi sebagai hubungan seksual. Biasanya topik terkait reproduksi dianggap tabu dibicarakan dengan anak (remaja). Sehingga saluran informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi menjadi sangat kurang (Dianawati, 2006).

Menurut asumsi peneliti, rendahnya pengetahuan remaja putri tentang perilaku seks menyebabkan banyak remaja putri yang terjerumus melakukan hubungan seks tersebut. Masih banyak remaja putri yang menganggap bahwa melakukan hubungan seks satu kali tidak menyebabkan kehamilan, dengan hanya menempelkan alat kelamin dengan alat kelamin pacar tidak menyebabkan kehamilan, melakukan hubungan seks dengan ganti-ganti pasangan tidak menularkan penyakit menular seksual. Kurangnya bekal pengetahuan bagi remaja putri dan hanya menuruti hawa nafsu semata menyebabkan remaja putri mudah diperdaya oleh pacarnya maupun atas keinginan sendiri melakukan hubungan seks pranikah yang menyebabkan kehamilan. Minimnya kesehatan reproduksi yang diperoleh remaja putri menyebabkan remaja putri mencari informasi tersebut dari teman, dari media massa yang kadang malah menjerumuskan remaja putri tersebut kepada perilaku seksual pranikah yang belum layak dilakukan karena belum sah dalam ikatan perkawinan.

2.6. Faktor Pelampiasan Diri

Berdasarkan data hasil penelitian bahwa pelampiasan diri yang mempengaruhi terjadinya kehamilan pranikah bahwa mayoritas responden menyatakan ada pelampiasan diri yaitu 17 orang (51,5%), selebihnya menyatakan tidak ada yaitu 16 orang (48,5%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kartika (2010) yang meneliti faktor-faktor penyebab terjadinya kehamilan pranikah di Kecamatan Batu Malang Jawa Timur mendapatkan hasil bahwa mayoritas responden menyatakan melakukan hubungan seks pranikah karena pelampiasan diri (63,9%), selebihnya menyatakan tidak ada melampiaskan diri (36,1%).

Menurut Dianawati (2006), faktor pelampiasan diri ini tidak hanya datang dari diri sendiri. Misalnya, karena terlanjur berbuat, seorang remaja perempuan biasanya berpendapat bahwa sudah tidak ada lagi yang dapat dibanggakan dalam dirinya. Maka, dengan pikirannya tersebut, ia akan merasa putus asa lalu mencari pelampiasan yang akan semakin menjerumuskannya ke dalam pergaulan bebas.

Menurut asumsi peneliti, dilihat dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak remaja putri yang melakukan hubungan seks pranikah sehingga mengalami kehamilan karena melakukan pelampiasan atas kekecewaan pada pacarnya yang sekarang maupun pada pacar sebelumnya. Bagi sebagian remaja putri bahwa kesucian yang direnggut oleh pacarnya menyebabkan dirinya tidak berharga dan tidak ada yang dapat dibanggakan lagi. Ada remaja putri merasa putus asa dengan kehidupan percintaannya yang ditinggalkan pacarnya setelah menyerahkan kesuciannya.

Dokumen terkait