BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembahasan
BAB 5 PENUTUP
5.1. Kesimpulan 5.2. Saran 1.6.3 Bagian Akhir
10
Bagian akhir skripsi berisi : a Daftar Pustaka
11
BAB 2
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia adalah potensi yang ada pada diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam, untuk menuju tercapainya kesejahteraan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Potensi sumber daya manusia sangat penting karena potensi sumberdaya manusia pada hakekatnya adalah modal dasar pembangunan nasional. Potensi sumberdaya manusia belum dapat dimanfaatkan secara optimal mengingat sebagian angkatan kerja memiliki keterampilan dan pendidikan yang rendah. Keadaan tersebut dapat berpengaruh terhadap sikap mental tenaga kerja dilingkungan kerjanya yang berakibat rendahnya hasil kerja. Hal ini dapat berakibat pada rendahnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan hidup. Oleh karena itu diperlukan kejujuran untuk membentuk sikap mental dan sosial yang dilandasi semangat dikalangan karyawan dan pengusaha (Murdasyah Sinungan,2002:133).
Penarikan (recruitment) sumber daya manusia adalah suatu proses pencarian dan pemikatan para calon tenaga kerja (karyawan) yang mempunyai kemampuan sesuai dengan kebutuhan suatu organisasi. Pengelolaan sumber daya manusia dalam pengelolaan usaha adalah tenaga kerja, dimana tenaga kerja merupakan orang yang memberikan tenaga, bakat, kreatifitas,dan usaha mereka pada perusahaan (Handoko,1997:233)
Karyawan atau sumber daya manusia merupakan satu–satunya aset perusahaan yang bernafas atau hidup disamping aset–aset lain yang tidak bernafas atau bersifat kebendaan seperti modal, bangunan gedung,mesin peralatan kantor, persediaan barang.
2.2. Pendidikan
Pendididikan sangat penting bagi kehidupan manusia, pendididikan merupakan disiplin ilmu tersendiri yang pengkajiannya diperlukan studi khusus. Melalui pendidikan kepribadian dan kemampuan karyawan tailor dapat dibentuk dan dikembangkan. Berdasarkan UU RI No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan
bahwa : “Pendidikan usaha sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Zahara idris (1992:4) Mengemukakan bahwa pendidikan adalah serangkaian kegiatan komunikasi antara manusia dengan anak didik secara tatap muka, menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya agar dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin supaya menjadi manusia dewasa dan bertanggung jawab. Potensi yang dimaksud meliputi potensi fisik,emosi, moral, pengetahuan dan ketrampilan. Pendapat M Ngalim Purwanto (1993:13) mangatakan bahwa pendidikan adalah sagala usaha yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak–anak dalam pertumbuhan jasmani dan rohani agar berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Menurut Redja Mudyahardjo (2001:3) berpendapat bahwa pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu.
Berdasarkan pendapat diatas maka pendidikan dalam penelitian ini adalah serangkaian kegiatan atau usaha yang dapat dilakukan orang dewasa terhadap anak didiknya secara sadar dan sengaja untuk membantu mengembangkan dan meningkatkan potensi pribadinya baik rohani (pengetahuan dan sikap) maupun jasmani (keterampilan)
agar menjadi manusia dewasa dan bertanggung jawab yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat serta mempengaruhi pertumbuhan individu. Pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi pendidikan formal, non formal, dan in formal.
2.2.1. Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah pendidikan berprogram, berstruktur, dan berlangsung disekolah, mempunyai bentuk organisasi dibagi dalam waktu–waktu tertentu, berlangsung dari kanak–kanak sampai perguruan tinggi. (Umar T ,1995:63). Pendidikan formal dimulai sejak manusia sadar bahwa pengalaman yang harus dibedakan kepada generasi berikutnya semakin banyak. Hal ini mendorong untuk mengusahakan suatu lembaga yang biasa digunakan untuk menyampaikan berbagai ilmu pengatahuan atau keahlian yang dimiliki. Lembaga ini dikenal dengan nama sekolah, yang mempunyai kewajiban untuk mengusahakan agar kecerdasan pikiran anak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Struktur yang harus dilalui dan ditempuh oleh murid pada pendidikan formal seperti SD, SMP, SMU / SMK dan perguruan Tinggi dengan jenjang atau masa belajar tertentu, direncanakan dengan sistematis dengan periode waktu tertentu melalui tahapan–tahapan, seseorang tidak dapat belajar pada SLTP jika tidak memiliki Surat Tamat Belajar pada Sekolah Dasar atau yang sederajad.
Sesuai UU RI No 20 Tahun 2003 bab I Pasal 1 Ayat 11 dinyatakan bahwa “ Jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang dan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi.”
2.2.1.1. Pendidikan Dasar
Menurut PP No. 28 Tahun 1990, pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya 9 tahun, diselenggarakan 6 tahun di SD dan 3 tahun di SMP atau satuan pendidikan yang sederajad. Pendidkan di Sekolah Dasar bertujuan memberikan bekal
kemampuan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara serta mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama. Pada Sekolah Dasar diberikan pengetahuan yang bersifat umum dan mendasar seperti mata pelajaran matematika, agama, bahasa Indonesia, manulis, membaca, kerajiana tangan. Sehingga dari sekolah dasar hanya akan memperolah bekal kemampuan, pengetahuan dan keterampilan yang masih dasar dan sedikit.
Pendidikan di Sekolah Menengah Pertama bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya di Sekolah Dasar. Manfaat bagi siswa adalah mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga Negara yang sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan siswa untuk hidup dalam masyarakat atau mengikuti pendidikan menengah. Pada SMP mata pelajaran yang diberikan lebih luas daripada SD , misalnya diberikan mata pelajaran ketrampilan jasa dan PKK baik boga maupun busana. Mata pelajaran PKK merupakan muatan lokal yang memberikan pelajaran tentang busana seperti menyulam, membuat pola, dan menjahit. Bahan kajian mangenai busana masih taraf sederhana, sehingga pengetahuan dan keterampilan bidang busana masih sedikit. Seorang karyawan tailor yang mencapai pendidikan formal sampai tingkat dasar dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya akan terbatas sesuai dengan pengatahuan yang dimilikinya.
2.2.1.2. Pendidikan Menengah
Menurut PP No 29 Tahun 1990, Pendidikan menengah adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi lulusan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. (Abu Ahmadi, 2001:163)
2.2.1.2.1. Pendidikan Menengah Umum
Pendidikan menengah umum adalah pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan, peningkatan keterampilan, dan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat akhir masa pendidikan. (Madyo Eko Susilo,1993:80). Pendidikan menengah umum mengutamakan penyiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Sekolah Menengah Umum menyelenggarakan program yang berhubungan dengan kebutuhan untuk memasuki perguruan tinggi dan kurikulum yang menitik beratkan pada pengetahuan yang bersifat akademik. Sekolah Menengah Umum mempunyai dua jurusan yaitu IPA dan IPS. Mata pelajaran yang bersifat umum seperti PKN dan bersifat khusus sesuai jurusan IPA mempelajari fisika dan jurusan IPS mempelajari akuntansi. Pada Sekolah Menengah Umum tidak diberikan pelajaran PKK sehingga lulusan sekolah menengah umum tidak mempunyai keterampilan bidang busana kecuali jika mengikuti kursus menjahit. Dengan demikian karyawan tailor dengan tingkat pendidikan sekolah menengah umum untuk dapat mengerjakan pekerjaanya menjahit harus belajar dalam bidang busana dengan mengikuti kursus menjahit ataupun belajar secara otodidak di tailor.
2.2.1.2.2. Pendidikan Menengah Kejuruan
Pendidikan menengah kejuruan adalah lembaga pendidikan sekolah yang mempersiapkan anak untuk menguasai keahlian–keahlian tertentu seperti : SMEA, SMKK, STM, dan sebagainya. (Hasbullah,2001:53) Pada pendidikan menengah kejuruan kurikulum bersifat fungsional yang berisi teori dan praktek sesuai jenis sekolahnya. Mata pelajaran sesuai dengan ciri khas sekolah yang bersangkutan dengan tidak mengurangi kurikulum nasional. Pada SMEA terdapat jurusan akuntasi, manajemen, dan lain-lain. Untuk SMKK terdiri dari jurusan tata busana, tata boga, tata kecantikan dan pariwisata.
Dan STM terdiri dari jurusan elektro, mesin otomotif, teknik bangunan dan teknik listrik industri.
Pemerintah juga mempunyai program dalam dunia pendidikan, yaitu untuk SMK sebanyak 70% dan 30% untuk SMU. Perubahan jumlah sekolah ini dipicu data yang diperoleh dilapangan bahwa pengangguran produktif kebanyakan adalah lulusan SMU. Pada dasarnya SMU diprogramkan untuk mereka yang melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, sedangkan pembekalan skill (untuk SMU) bisa dikatakan tidak ada. Berbeda dengan dunia SMK, mereka dituntut untuk menguasai untuk skill serta harapan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
SMK dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dari segi keterampilan kerja, maka dari itu saat ini banyak perusahaan yang membutuhkan lulusan SMK. Dinas pendidikan telah menganjurkan untuk lebih memilih SMK karena lebih menjanjikan dalam dunia kerja.
Pendidikan menengah kejuruan benar–benar mempersiapkan peserta didik untuk terjun didunia kerja, maka karyawan tailor yang mencapai pendidikan sekolah menengah kejuruan khususnya jurusan tata busana mampu mengerjakan pekerjaanya yang beraneka ragam sesuai dengan pesanan pelanggan dengan baik karena telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas.
2.2.1.3. Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi dapat diartikan sebagai perguruan tinggi yaitu suatu istilah umum dalam kelembagaan pendidikan yang digunakan untuk menunjukkan suatu lembaga yang memberikan pendidikan yang setinggi–tingginya antara lain mencakup akademi, sekolah tinggi, institute, dan universitas (Achmad Munif,2002:189). Menurut
Cipta Ginting (2003:137) Pendidikan tinggi adalah pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dari pada pendidikan menengah.
Pengajaran suatu mata kuliah pada pendidikan tinggi biasanya mencakup berbagai kegiatan seperti kuliah, praktikum, diskusi dan response. Praktikum yang efektif bermanfaat dalam melatih keterampilan mahasiswa, menerapkan dan mengintegrasikan pengetahuan secara nyata, membuktikan sesuatu secara ilmiah, serta menimbulkan penghargaan terhadap ilmu dan keterampilan yang dimiliki (Cipta Ginting, 2003:105). Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi telah mencapai kedewasaan yang baik dan matang, sehingga dalam pengkajian materi lebih diarahkan pada tanggung jawab kepada diri sendiri maupun masyarakat.
2.2.2. Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal adalah pendidikan diluar sekolah yang secara potensial dapat membantu dan menggantikan pendidikan formal dalam aspek–aspek tertentu seperti : pendidikan dasar dan keterampilan khusus. Pendidikan non formal diselenggarakan dengan sengaja dan sistematis, tertib, berencana, diluar persekolahan dengan menyesuaikan waktu pelaksanaan, waktu yang diberikan, proses belajar yang dipakai, fasilitas dan tenaga pengajar dengan kebutuhan dan keadaan peserta didik agar memperoleh hasil yang memuaskan. Pendidikan non formal antara lain, pendidikan mayarakat, keolahragaan, keterampilan, kepemudaan, dan kebudayaan. Lembaga Pendidikan keterampilan (LPK) memberikan pengetahuan berupa kursus menjahit, kursus memasak, kursus merias, kursus bahasa Inggris, kursus komputer. Kursus menjahit terdiri dari tingkat dasar, tingkat terampil dan tingkat mahir.Pendidikan non formal juga dapat berupa seminar,pelatihan,tentang busana. Pengajaran dalam pendidikan non formal mempunyai nilai praktis dan dapat digunakan untuk bekerja di tailor.
2.2.3. Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah suatu proses yang sesungguhnya terjadi seumur hidup karena tiap–tiap individu memperoleh sikap, nilai, keterampilan, pengetahuan dan pengalaman sehari–hari, teman, pergaulan, pasar, perpustakaan, dan media massa. Pada umumnya tidak terdapat perjenjangan. Pendidikan ini berlangsung tanpa organisasi, yakni tanpa orang tertentu harus diangkat atau ditunjuk sebagai pendidik, tanpa suatu program yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, tanpa evaluasi yang formal berbentuk ujian. Namun demikian pendidikan informal ini sangat penting bagi pembentukan pribadi seseorang. Pengaruh oramg tua, orang lain yang ditemui anak dalam pergaulan sehari hari dapat membentuk sikap dan nilai–nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam hidupnya.
Pendidikan yang diperoleh dari keluarga disebut sebagai lingkungan atau lembaga pertama karena sebelum manusia mengenal lembaga pendidikan yang lain, lembaga pendidikan yang lain inilah yang pertama ada. Kegiatan membuat busana ini merupakan suatu kegiatan rutinitas bagi keluarga tersebut untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, maka secara tidak langsung anak–anak mereka mewarisi keahlian yang dimiliki orang tuanya. Sejak kecil mereka melihat kegiatan orang tuanya setelah tumbuh dan berkembang, mereka mulai mencoba dan menirukan untuk menjahit,sehingga secara tidak sadar telah terjadi adanya proses belajar mengajar yang dilakukan di lingkungan keluarga yang merupakan pendidikan informal. Pendidikan ini diberikan secara turun temurun kepada anak –anaknya. Seorang penjahit yang memiliki keturunan menjahit dari orang tuanya akan dapat lebih terampil dibandinngkan dengan pengrajin ynag bukan dari keturunan penjahit, sehingga keterampilan yang dimiliki tidaklah sama antara penjahit yang satu dengan yang lainnya. Hal ini akan mempengaruhi produktivitas kerjanya.
2.3. Produktivitas Karyawan Tailor
2.3.1. Produktivitas
Sumber daya manusia modal dan teknologi menempati posisi yang amat strategis dalam mewujudkan tersedianya barang dan jasa. Penggunaan sumber daya manusia, modal dan teknologi secara ekstensif telah banyak ditinggalkan orang.Sebaliknya pola itu bergeser menuju penggunaan cara lebih intensif dari semua sumber–sumber ekonomi. Sumber–sumber ekonomi yang digerakkan secara efektif memerlukan ketrampilan organisatoris dan teknis sehingga mempunyai tingkat hasil guna yang tinggi. Artinya, hasil yang diperoleh seimbang dengan masukan yang diolah. Melalui berbagai perbaikan cara kerja, pemborosan waktu, tenaga dan berbagi input lainnya yang bisa dikurangi sejauh mungkin. Hasilnya tentu akan lebih baik dan banyak hal yang bisa dihemat. Yang jelas waktu tidak terbuang sia–sia, tenaga dikerahkan secara efektif dan pencapaian tujuan usaha bisa terselenggara dengan baik, efektif, dan efisien. Produktivitas pada dasarnya adalah sikap mental terhadap kemajuan dan kehidupan yang lebih mudah dicapai melalui peningkatan kualitas.
Produktivitas adalah keberhasilan atau kegagalan menghasilkan barang dan jasa dalam kualitas dan kuantitas dengan pemanfaatan yang benar dari sumber daya, pencampaian kerja yang diterapkan pada individu, kelompok dan organisasi. (Kamus Bahasa Indonesia,2007:571). Menurut R.D. Jatmiko (2004:147) Produktivitas adalah hubungan antara output dan input dalam suatu sistem yang merupakan hasil perolehan output yang lebih dengan menggunakan jumlah input yang sama atau kuantitas yang sama dengan input yang lebih kecil.
Pengertian lain dari produktivitas adalah menghasilkan lebih banyak, dan berkualitas lebih baik, dengan usaha yang sama. Dengan demikian produktivitas tenaga kerja adalah efisiensi proses menghasilkan dari sumber daya yang dipergunakan. (Pandji Anoraga,2006:52). Produktivitas merupakan sebuah konsep yang menggambarkan hubungan antara jumlah barang dan jasa yang diproduksi dengan sumber (tenaga kerja, modal, tanah, energi) yang dipakai untuk menghasilkan hasil tersebut. Dengan demikian untuk menghasilkan barang atau jasa dibutuhkan sumber-sumber, baik yang berupa tenaga kerja, modal, dan kemampuan lainnya. Dalam melaksanakan target produktivitas, tenaga kerja sebagai sumber daya manusia memegang peranan penting, karena peranan manusia dalam kegiatan organisasi dapat bersifat multi fungsi. Manusia dapat berperan sebagai perencana, pelaksana, penggerak, dan pengawas.
Menurut Muchdarsyah Sinungan (2008:16) terdapat banyak sekali pengertian mengenai produktivitas, yang dapat kita kelompokkan menjadi tiga, yaitu :
a. Rumusan tradisional bagi seluruh produktivitas tidak lain ialah ratio dari pada apa yang dihasilkan (out put) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang dipergunakan (input).
b. Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari pada kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.
c. Produktivitas merupakan interaksi terpadu secara serasi dari tiga faktor esensial, yakni : investasi termasuk penggunaan pengetahuan dan teknologi serta riset; manajemen dan tenaga kerja.
Berdasarkan berbagai pendapat yang dikemukakan diatas maka produktivitas adalah perbandingan antara output dengan input. Output merupakan keluaran, baik yang
berbentuk barang maupun jasa. Sedangkan input adalah masukan, yang meliputi tenaga kerja, modal kerja, dan satuan waktu kerja. Produktivitas pada dasarnya adalah sikap mental terhadap kemajuan dan kehidupan produktivitas lebih mudah dicapai melalui peningkatan kualitas.
Pentingnya produktivitas dalam meningkatkan kesejahteraan telah disadari secara universal, tidak ada jenis kegiatan manusia yang tidak mendapatkan keuntungan dari produktivitas yang ditingkatkan sebagai kekuatan untuk menghasilkan lebih banyak barang maupun jasa. Peningkatan produktivitas juga menghasilkan peningkatan langsung pada standar hidup yang berada dibawah kondisi distribusi yang sama dan perolehan produktivitas yang sesuai dengan masukan tenaga kerja.
Konsep produktivitas didasarkan pada asumsi :
1. Suatu organisasi bisnis adalah suatu badan yang mampu menentukan nasibnya. 2. Organisasi yang produktif akan menyingkirkan organisasi yang kurang produktif. 3. Organisasi harus berkembang supaya bertahan hidup.
4. Kesehatan organisasi diukur berdasarkan gambaran keuntungan jangka pendek dan jangka panjang.
5. Kwalitas yang rendah akan menyebabkan kerugian. (Sedarmayanti, 2009:203)
Produktivitas merupakan tujuan dari setiap organisasi apapun bentuknya, maka upaya–upaya yang mengarah pada pencapaiannya terus dilakukan. Kualitas merupakan unsur yang paling penting dalam upaya peningkatan produktivitas, kualitas tidak terlepas dari aspek persaingan. Produktivitas mempunyai lima dimensi, yaitu : efisiensi, efektivitas, mutu, pelayanan, dan edge (kompetitif). Dengan kelima dimensi tersebut, maka dalam mewujudkan pandangan tersebut tidak mudah, banyak hal yang harus
dilakukan. Salah satunya adalah dengan adanya pemahaman tentang hakekat manusia yang produktif, artinya bahwa organisasi harus mampu menjamin dipilihnya orang yang tepat dengan pekerjaan yang tepat serta kondisi yang memungkinkan mereka bekerja secara optimal, dengan kata lain produktivitas kerja bukan hanya sebaik–baiknya, tetapi bagaimana ia melakukan pekerjaan tersebut.
Produktivitas individu mendapat perhatian cukup besar, hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa sebenarnya produktivitas manapun bersumber dari individu yang melakukan kegiatan. Namun individu yang dimaksudkan adalah individu sebagai tenaga kerja yang memiliki kualitas kerja yang memadai. Kualitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh telah terpenuhi sebagai persyaratan, spesifikasi dan harapan. Produktivitas individu merupakan perbandingan antara efektivitas keluaran (pencapaian kinerja yang maksimal) dengan efisiensi salah satu masukan (pegawai) yang mencakup kuantitas, kualitas dalam satuan waktu. (Sedarmayanti,2009:203)
2.3.1.1. Karyawan Yang Produktif
Karyawan atau dengan kata lain pegawai atau pekerja, adalah orang yang bekerja pada suatu pekerjaan tertentu. Karyawan adalah aset utama perusahaan yang menjadi perencana dan pelaku aktif dari setiap aktivitas organisasi. Mereka mempunyai pikiran, perasaan, keinginan, status dan latar belakang pendidikan, dan jenis kelamin yang heterogen yang dibawa ke dalam organisi perusahaan.
Elemen penting dalam sebuah usaha yaitu pemberdayaan karyawan, oleh karena itu karyawan perlu mendapat perhatian khusus dari manajemen, yaitu dengan cara memberdayakannya kearah yang lebih baik. Selanjutnya terdapat tiga dimensi dalam membangun pemberdayaan karyawan yaitu:
2) Membangun kemampuan ( capability )
3) Membangun kepercayaan (trust), bila dicapai dengan cara saling mempercayai antara para manajer dan para karyawan (IGP Kawiana, 2009 :2)
Produktivitas dapat ditinjau berdasarkan tingkatnya dengan tolak ukur masing–
masing. Tolak ukur produktivitas kerja dapat dilihat dari kinerja pegawai. Untuk melihat sejauh mana produktivitas kerja pegawai, diperlukan penjelasan tentang dimensi, urut, indikator dan kriteria yang menyatakan prodiktivitas kerja pegawai. Dimensi produktivitas menyangkut masukan, proses atau produk atau keluaran. Masukan marajuk kepada pelaku produktivitas dan produk sedangkan keluaran berkaitan dengan hasil yang dicapai.
Produktivitas kerja bukan semata–mata ditujukan untuk mendapat hasil kerja sebanyak–banyaknya, melainkan kualitas kinerja juga penting diperhatikan. Sebagaimana diungkapkan oleh Laeham dan Wexley (1928:2,dalam Sedarmayanti 2009:234);
……… Performance appraisals are crucial to the effectivity menegent of an organization’s human resources, and the proper management of human resources iis a critical variable affecting an organization’s productivity”.
“produktivitas individu dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh individu tersebut dalam kerjanya. Dengan kata lain, produktivitas individu adalah bagaimana seseorang
melaksakan pekerjaannya atau untuk kerja (job performance)”.
Sejauh mana seorang pegawai dapat mencapai hasil yang memuaskan dalam kerja, tergantung dari kemampuan dan kecakapannya. Setiap jenis pekerjaan menuntut pengetahuan, kecakapan dan keterampilan tertentu, agar pekerjaan menuntut pengetahuan, kecakapan dan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang menentukan
kesiapan untuk melakuan suatu pekerjaan,hal mana tergantung dari pendidikan yang telah diterima maupun pelatihan yang telah didapat.
Pada umumnya, seorang pegawai akan mengalami kepuasan kerja apabila mempunyai kebebasan dalam menentukan pekerjaan yang ingin dilakukannya dengan cara yang diinginkanya. Demikian pula peran serta dan keterlibatan diri tanpa paksaan, akan meningkatkan motifasi kerja.
Banyaknya faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, baik yang berhubungan dengan tenaga kerja maupun yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan dan kebijaksanaan pemerintah secara keseluruhan. Para pegawai sebagai faktor yang menentukan produktivitas kerja semakin kuat oleh adanya kemajuan teknologi yang mempermudah cara pembuatan barang dan jasa yang tepat serta melibatkan pegawai sebagai faktor produksi.
Apabila tenaga yang dikeluarkan, waktu yang dihabiskan dan pikiran yang di curahkan oleh seorang pegawai untuk mengatur segenap sarana dan sumber daya tersebut masing-masing ditunjukkan kepada sasaran yang produktif, maka diharapkan volume atau jumlah produk yang dihasilkan akan meningkat. Dengan data kerja yang sesuai, kondisi lingkungan kerja yang tentram, aman dan menyenangkan maka akan dapat dicapai produktivitas kerja yang tinggi.
Produktivitas pegawai perlu memperhatikan usaha yang dilakukan pegawai dalam meningkatkan kemampuan profesionalnya melalui berbagai kegiatan yang berkesinambungan, dengan maksud untuk meningkatkan kemampuan dirinya sesuai dengan tuntutan tugas. Dengan demikian, pengukuran produktivitas kerja pegawai disamping berkaitan dengan tugas utamanya juga perlu dilihat dari kualivikasi dan pengembangan profesionalnya.
Ciri–ciri individu yang produktif, yaitu : (1) cerdas dan dapat belajar dengan relatif cepat, (2) kompeten secara profesional, (3) kreatif dan inovatif, (4) memahami pekerjaan, (5) belajar dengan cerdik menggunakan logika, efisien, tidak mudah macet