• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia merupakan lembaga Perpustakaan tingkat satu (Nasional) yang termasuk ke dalam kelompok perpustakaan umum. Menurut Panduan Penyelenggaran Perpustakaan Umum yang dikeluarkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tahun 1992 tujuan umum dari perpustakaan umum adalah membina dan mengembangkan kebiasaan membaca dan belajar sebagai suatu proses yang berkesinambungan seumur hidup serta kesegaran jasmani dan rohani masyarakat yang berada dalam jangkauan layanannya, sehingga terkembang daya kreasi dan inovasinya bagi peningkatan martabat dan produktivitas setiap warga

78 Hasil wawancara dengan informan yaitu Ibu Dra.Made Ayu Wirayati M. Ikompada tanggal 4 Juli 2015.

masyarakat secara menyeluruh dalam menunjang pembangunan nasional.79 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai perpustakaan acuan bagi seluruh perpustakaan yang ada di Indonesia yang menurut Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah lembaga pemerintah non-departemen yang melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang perpustakaan yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, rujukan, deposit, penelitian, pelestarian, dan pusat jejaring perpustakaan, serta berkedudukan di Ibukota Negara.

1. Kebijakan Pelestarian Koran Langka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Mengingat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah lembaga yang menaungi atau menjadi acuan bagi seluruh Perpustakaan di Indonesia seperti yang disebutkan dalam Undang-undang No. 4 tahun 1990 menyebutkan dengan jelas bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia merupakan badan yang ditunjuk untuk melaksanakan pelestarian semua karya cetak dan rekam yang diterbitkan di Indonesia atau di luar negeri tentang Indonesia.

Dalam hal pelestarian bahan pustaka khususnya koran langka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia belum memiliki kebijakan secara tertulis. Akan tetapi pihak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah menggunakan acuan sebagai kebijakan pelestarian yaitu UU No.43 tahun 2007 tercantum pada Bab 1, pasal 1.

Jadi sampai saat ini belum ada kebijakan tertulis mengenai pelaksanaan pelestarian koran langka, hal itu terkendala karena sering adanya pergantian antara pejabat Eselon II yang pada saat proses membuat kebijakan, otomatis pejabat yang baru ini memulai dari awal dan mempelajari ulang tentang kebijakan. Akan tetapi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menggunakan beberapa pedoman seperti mengadopsi tentang prinsip-prinsip pelestarian bahan pustaka oleh IFLA.

Akan tetapi bukan berarti Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tidak harus mengeluarkan kebijakan tertulis mengenai pelestarian khususnya pelestarian koran langka. itu semua belum tentu sesuai dengan kondisi realita di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, mengingat Indonesia adalah daerah tropis yang berbeda dengan prinsip-prinsip pedoman IFLA yang dikeluarkan oleh Eropa. Karena sebuah lembaga harus memiliki kebijakan tertulis dalam suatu kegiatannya, apalagi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah sebuah lembaga yang menjadi pusat rujukan perpustakaan tingkat nasional.

2. Teknis Pelaksanaan Pelestarian Koran Langka Di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Kegiatan yang dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam melestarikan koran langka meliputi cara menambal dan menyambung kertas, fumigasi, enkapsulasi, penjilidan, dan alih media.

Kegiatan yang dilakukan bidang konservasi meliputi kegiatan perbaikan koran langka seperti proses menambal dan menyambung kertas,

fumigasi, enkapsulasi, dan penjilidan. Koran langka yang sudah diperbaiki di bagian konservasi dikembalikan ke bagian penyimpanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk dilayankan kembali agar dapat digunakan oleh para pemustaka. Sedangkan bidang transformasi digital melakukan kegiatan alih media dalam bentuk CD, dan bidang reprografi melakukan pelestarian koran langka dalam bentuk mikro dan foto.

a) Menambal dan Menyambung Kertas

Salah satu upaya yang dilakukan bidang konservasi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk memperbaiki koran langka yang rusak yaitu menambal dan menyambung kertas. Kegiatan ini bermanfaat untuk mengisi lubang-lubang, dan bagian-bagian yang dihilangkan pada kertas atau menyatukan kembali kertas yang sudah robek akibat macam-macam faktor perusak. Sedangkan untuk kegiatan menyambung koran langka yang sudah rusak dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan mesin dan manual. Hasil yang diperoleh dengan cara mesin lebih banyak dibandingkan dengan cara manual yang lebih sedikit, karena dengan cara manual diperlukan ketelitian bagi yang mengerjakannya.

Jadi upaya menambal dan menyambung kertas tersebut sudah sesuai untuk melestarikan koran langka agar tidak cepat rusak. Maka dari itu menambal dan menyambung kertas adalah salah satu metode yang efektif untuk memperbaiki dan melestarikan koran langka.

b) Fumigasi

langka dapat dilakukan di dalam ruangan perpustakaan atau juga bisa disebut parsial, sedangkan fumigasi yang dilakukan di ruangan yang sengaja dibangun atau ruangan khusus untuk melakukan kegiatan fumigasi disebut frontal.

Namun Pada umumnya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melakukan fumigasi terhadap ruangan penyimpanan koleksi untuk mencegah kehadiran berbagai macam serangga dan binatang pengerat. Adapun metode yang digunakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam pelaksanaan kegiatan fumigasi yaitu dengan cara parsial. Hal tersebut sudah sesuai dengan teori tentang pedoman teknis fumigasi, Banyak cara atau metode dalam hal pelestarian khususnya pada fumigasi, hal ini harus disesuaikan dengan tersedianya bahan fumigant, faktor ruangan, anggaran yang tersedia serta situasi dan kondisi yang perlu diperhatikan.80 Namun dalam menyiapkan peralatan keselamatan kerja pihak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia kurang peduli, atau katakanlah kurang maksimal terhadap masalah yang satu ini. “untuk perlatan keselamatan kerja sebaiknya yang harus diperlukan adalah pakaian kerja (overall), sarung tangan, sepatu boot, tutup kepala, kaca mata pelindung (goggle), masker gas (respirator), lampu halida, sapu, pengki, dan terakhir bahan fumigant yang akan digunakan. Tidak lupa kami juga menyiapkan kotak P3K, alat pemadam kebakaran, tabung oksigen dan lain-lain untuk berjaga-jaga bila ada kejadian tidak terduga yang dapat membahayakan pekerja

80 Muhammadin Razak. Pedoman Teknis Fumigasi. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 1998. h. 85.

maupun orang-orang di sekitarnya, misal tentang keracunan atau terluka pada saat bekerja. Tetapi peralatan tersebut tidak semua dapat disiapkan dikarenakan keterbatasan anggaran yang dimiliki. Akan tetapi kami mempunyai inisiatif untuk membawa sendiri perlatan kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan fumigasi.”81

c) Enkapsulasi

Kegiatan Enkapsulasi adalah cara yang dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk menjaga fisik koran langka tetap awet dan terjaga. Pada enkapsulasi setiap lembar kertas diapit plastik bebas asam dengan cara menempatkannya diantara dua lembar plastik yang transparan, jadi tulisannya tetap bisa dibaca dari luar. Pinggiran plastik tersebut ditempeli lem dari double sided tape 3M, sehingga kertas tidak terlepas.

Hal tersebut sudah sesuai dengan definisi tentang pelestarian bahan pustaka dan arsip “Enkapsulasi adalah salah satu cara preservasi kertas dengan menggunakan bahan pelindung untuk menghindarkan dari kerusakan yang bersifat fisik, misalnya rapuh karena umur, rusak karena pengaruh asam, polusi udara, berlubang arena dimakan serangga, kesalahan penyimpanan atau salah dalam pemakaian seperti menggulung atau melipat atau rusak karena terlalu sering mengalami kerusakan kecil pada bagian pinggirnya lebih baik di enkapsulasi,

karena untuk menambal kerusakan itu akan menghabiskan waktu yang terlalu lama.”82

d) Penjilidan

Untuk koran langka yang telah mengalami kerusakan, perlu segera dilakukan penjilidan ulang, agar nilai informasi yang ada didalamnya tidak hilang, sehingga koran langka yang telah diperbaiki dengan penjilidan ulang tersebut dapat dimanfaatkan kembali oleh pengguna perpustakaan.

Proses Penjilidan yang dilakukan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sudah sesuai dengan definisi pelestarian bahan pustaka. proses merupakan pekerjaan menghimpun atau menggabungkan lembaran-lembaran yang lepas menjadi satu, yang dilindungi ban atau sampul.83

e) Alih Media

Koran langka adalah bahan pustaka yang cukup sulit dalam pelestariannya. Hal ini disebabkan koran langka terbuat dari kertas yang cepat rusak dan relatif berusia tua. Untuk mengatasi hal tersebut bidang Transformasi Digital di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melakukan Alih Media. “di Perpustakaan Nasional, surat kabar itu sudah pasti wajib dialih mediakan, karena sifat bahan pustakanya tidak ada lagi, kalau tidak dilestarikan atau dialih mediakan

82Muhammadin Razak. Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta: Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1992. h.56

83 Karmidi Martoatmodjo. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka, 1999. h. 123.

informasinya akan ikut hilang. Maka dari itu wajib dilestarikan dalam bentuk alih media atau pun dalam bentuk konservasi.”84

Hal ini sudah sesuai dengan definisi pedoman pembuatan e-book dan standar alih media yaitu alih media digital ini merupakan salah satu upaya penyelamatan isi atau informasi yang dikandung bahan perpustakaan tersebut tanpa menghilangkan atau merubah bentuk aslinya.85

3. Solusi Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Kendala-Kendala dalam Pelaksanaan Pelestarian Koran Langka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Di dalam melaksanakan kegiatan pelestarian koran langka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tentunya menghadapi kendala dan hambatan. Selain tidak adanya kebijakan secara tertulis mengenai pelaksanaan pelestarian koran langka, kurangnya tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan serta kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang memadai mengakibatkan pelaksanaan kegiatan pelestarian koran langka belum maksimal dan efektif. Seperti dalam pernyataan :

“ya kalau kendala, yang pertama ialah PNRI belum memiliki

kebjakan tertulis mengenai kegiatan pelestarian koran langka, Lalu yang ke dua untuk masalah anggaran yang disediakan oleh pihak PNRI untuk kegiatan pelestarian koran langka belum mencukupi. Dan untuk masalah SDM, terkadang setiap kegiatan ingin dilangsungkan ada saja yang tidak hadir, entah itu sakit, izin atau ada keperluan lain. Sehingga kami tidak mempunyai

84Hasil wawancara dari salah satu informan yaitu Pak Jamiat Wirta pada Tanggal 4 Juli

2015.

penggantinya lagi pula kami mengakui bahwa kompisisi SDM yang ada saat ini berasal dari latar belakang yang berbeda. Kendala yang terakhir yaitu tidak adanya pelatihan secara khusus dalam hal kegiatan pelestarian koran langka. Biasanya kami hanya belajar dari senior-senior kami saja tentang tata cara fumigasi yang benar. Seharusnya diperlukan suatu pelatihan secara mendalam dalam hal pengembangan potensi SDM khususnya dalam kegiatan pelestarian koran langka untuk meningkatkan keahlian serta profesionalitas masing-masing pekerja”.86

Jadi dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menghadapi kendala-kendala dalam usahanya melestarikan koran langka yang mengakibatkan kegiatan pelestarian koran langka belum maksimal. Maka solusi yang didapat untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam kegiatan pelestarian koran di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia langka sebagai berikut :

a) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia seharusnya memiliki atau sudah membuat kebijakan mengenai pelestarian bahan pustaka khususnya pada koran langka agar dapat lebih terarah dan berjalan secara efektif.

b) Mengingat pelestarian bahan pustaka membutuhkan anggaran yang cukup besar, maka Perpustakaan Nasional Republik Indonesia harus lebih mempedulikan anggaran yang dikeluarkan untuk pelestarian bahan pustaka agar kegiatan tersebut dapat berjalan secara optimal. c) Menjalin kerjasama dengan banyak perusahaan yang memproduksi

Tissue Jepang agar pasokannya tidak terhambat.

d) Perlu mengadakan peremajaan alat-alat yang sudah tidak layak atau sering rusak agar dapat berjalan dengan optimal.

e) Perlunya penambahan sumber daya manusia (SDM) yang lebih mengerti dalam melaksanakan tugas pelestarian bahan pustaka. f) Bekerjasama dengan pihak luar, misalnya mendatangkan konsultan

ahli untuk mengadakan pelatihan.

g) Para petugas khususnya bidang preservasi sebaiknya mengikuti seminar, pelatihan, dan diklat untuk masalah pelestarian khususnya koran langka agar memiliki bekal, pemahaman dan mempunyai keahlian yang baik.87

86Hasil wawancara dengan informan yaitu Pak Cecep Nurjanjanti S.Sos pada tanggal 4 Juli 2015.

87Hasil wawancara dengan informan yaitu Ibu Dra.Made Ayu Wirayati M. Ikompada tanggal 4 Juli 2015.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian, penjelasan, dan analisis penelitian diatas mengenai kegiatan pelestarian koran langka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penulis menarik beberapa kesimpulan dari hasil penjelasan bab sebelumnya, diantaranya adalah:

1. Dari hasil penelitian ini dapat digambarkan bahwa pelaksanaan pelestarian koran langka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dilaksanakan melalui kebijakan tidak tertulis, sedangkan untuk kebijakan tertulisnya masih berupa draft umum untuk pelestarian naskah kuno. Kebijakan Pelestarian koran langka secara tidak tertulis di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia meliputi : Menambal dan menyambung, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memprioritaskan koran langka yang robek dan berlubang dilestarikan dengan cara menambal dan menyambung kertas. Fumigasi, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melakukan fumigasi terhadap ruangan penyimpanan koleksi untuk mencegah kehadiran berbagai macam serangga dan binatang pengerat. Enkapsulasi, Kegiatan ini merupakan cara yang dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk menjaga fisik koran langka tetap awet dan terjaga. Penjilidan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melakukan penjilidan Untuk koran langka yang jilidannya rusak, dilakukan tahap penjilidan ulang yang rusak. Penjilidan efektif untuk

rapuh. Alih media, Koran langka di Perpustakaan Nasional wajib dialih mediakan, karena sifat bahan pustakanya sangat terbatas, jika tidak dilestarikan atau dialih mediakan informasinya akan ikut hilang.

2. Hasil penelitian ini juga mendapatkan pengetahuan tentang teknis pelestarian koran langka yang dilaksanakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia meliputi : Menambal dan menyambung, Kegiatan ini dilakukan mengisi lubang-lubang, dan bagian-bagian yang hilang pada kertas atau menyatukan kembali kertas yang sudah robek akibat macam-macam faktor perusak. Fumigasi, di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melakukan fumigasi tanpa memperlukan ruangan khusus, dalam artian ruangan yang digunakan ialah ruangan perpustakaan untuk menyimpan koleksi koran langka. Enkapsulasi, Pada kegiatan ini setiap lembar kertas diapit plastik bebas asam dengan cara menempatkannya diantara dua lembar plastik yang transparan, jadi tulisannya tetap bisa dibaca dari luar. Penjilidan, Untuk koleksi koran langka yang jilidannya rusak, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melakukan tahap penjilidan ulang terhadap surat kabar yang telah rusak dengan membuatkan sampul pada koran langka. Alih media, pada tahap ini koran langka dialih mediakan ke bentuk format mikrofilm dan CD-ROM dengan proses pengambilan objek, melakukan foto, dan proses scanning.

3. Kendala yang dihadapi dalam pelestarian koran langka, seperti kurangnya pasokan Tissue Jepang untuk menambal dan menyambung, kurangnya anggaran untuk kegiatan pelestarian, kurangnya sumber daya manusia dan pelatihan untuk bertugas melestarikan dalam bidang preservasi. Maka dari itu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia harus lebih mempedulikan

anggaran yang dikeluarkan untuk pelestarian bahan pustaka agar kegiatan tersebut dapat berjalan secara optimal, Menjalin kerjasama dengan banyak perusahaan yang memproduksi Tissue Jepang agar pasokannya tidak terhambat, Perlunya penambahan sumber daya manusia (SDM) yang lebih mengerti dalam melaksanakan tugas pelestarian bahan pustaka, Bekerjasama dengan pihak luar, misalnya mendatangkan konsultan ahli untuk mengadakan pelatihan, Para petugas khususnya bidang preservasi sebaiknya mengikuti seminar, pelatihan, dan diklat untuk masalah pelestarian khususnya koran langka agar memiliki bekal, pemahaman dan mempunyai keahlian yang baik.

B. Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, penulis merekomendasikan beberapa saran yang dapat dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia khususnya di bagian preservasi bahan pustaka dalam memecahkan kendala yang dihadapi dalam melakukan kegiatan pelestarian koran langka, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia seharusnya memiliki atau sudah membuat kebijakan secara tertulis mengenai pelestarian bahan pustaka khususnya pada koran langka agar dapat lebih terarah dan berjalan secara efektif.

2. Mengingat pelestarian bahan pustaka membutuhkan anggaran yang cukup besar, maka Perpustakaan Nasional Republik Indonesia harus mempedulikan anggaran yang dikeluarkan untuk pelestarian bahan

3. Menjalin kerjasama dengan banyak perusahaan yang memproduksi Tissue Jepang agar pasokannya tidak terhambat.

4. Perlu mengadakan peremajaan alat-alat untuk melaksanakan pelestarian yang sudah tidak layak atau sering rusak agar pelaksanaan kegiatan koran langka dapat berjalan dengan optimal.

5. Perlunya penambahan sumber daya manusia (SDM) yang lebih mengerti dalam melaksanakan tugas pelestarian bahan pustaka.

6. Bekerjasama dengan pihak luar, misalnya mendatangkan konsultan ahli untuk mengadakan pelatihan.

7. Para petugas khususnya bidang preservasi sebaiknya mengikuti seminar, pelatihan, dan diklat untuk masalah pelaksanaan pelestarian khususnya pada koran langka agar memiliki bekal, pemahaman dan mempunyai keahlian yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rahman Saleh, Pengelolaan Terbitan Berseri (Jakarta : Universitas Terbuka, Depdikbud, 1996).

Ahmad Nawawi. Pelestarian Koleksi Buku Langka di Perpustakaan Kementrian Pekerjaan Umum. Skripsi S1 Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010.

Andi Prastowo, Menguasai Teknik-Teknik Koleksi Data Penelitian Kualitatif, (Jogjakarta: Diva Press, 2010).

Backissue Newspapers, Historic Newspaper Archive. Diakses pada pukul 20.25 WIB tanggal 5 Juni 2015 dari

http://www.backissuenewspapers.co.uk/Info/Historic-Newspaper-Archive

BlasiusSudarsono. Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto, 2006.

Brown, Facilities University Library . diakses pada pukul 22.15 tanggal 19 Oktober 2015 dari www.brown.edu/Facilities/University_library /digproj/digcols/selection.html

Darmono.Perpustakaan Sekolah: Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja (Jakarta: Grasindo, 2007)

Durea J.M dan D.W.G Clement, Dasar-dasar Pelestarian dan Pengawetan Bahan Pustaka.Jakarta: Perpustakaan Nasional, 1990.

Eva Maftuhah. Pelestarian Koleksi Buku Langka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.Skripsi S1 Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

Gardjito. Preservation and Conservation of library materials in tropical countries with particular reference to the National Library of Indonesia. 1991.

Hernandono, Perpustakaan dan Kepustakawanan, (Jakarta : Universitas Terbuka, 1999.

Ibrahim Bafadal, Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001).

IFLA,”Recommendations Concerning the International Standarizations of

Library Statistics”. Diakses pada pukul 22.00 WIB tanggal 25 Mei 2015

Karmidi Martoatmodjo, Pelestarian Bahan Pustaka. (Jakarta : Universitas Terbuka, 1999)

Lasa, SH, Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta:Pinus Book Publisher, 2007.

Lexy J. Moleong.Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosda karya, 2001).

Muhammad Djuhro. Pelestarian Bahan Pustaka (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2002).

Muhammadin Razak. Pedoman Teknis Fumigasi. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 1998.

_________________. Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta: Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1992.

Penentuan Skala Prioritas Dalam Pelestarian Bahan Pustaka.” Kongres VII Ikatan Pustakawan Indonesia dan Seminar Ilmiah Nasional. Tanggal 20-23 November 1995. Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Pustakawan Indonesia, 1995.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Panduan Penyelenggaran Perpustakaan Umum, (Jakarta: PNRI, 1992).

___________________________________, Pedoman Perawatan dan Pemeliharaan Fasilitas Perpustakaan. (Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 1995).

___________________________________, Pokok-Pokok Kebijakan dan Strategi Pelestarian Bahan Perpustakaan (BP) dan Naskah Kuno, 2014.

Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian (Jakarta: STIA-LAN, 1999). Rahayuningsih, F. Pengelolaan Perpustakaan (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005). Santoso Outomo. “Kerusakan Karena Faktor Lingkungan dan Cara

Penanggulangannya.” Materi Lokarya Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Dilaksanakan Tanggal 27-29 Juli 1992. Banjarmasin: Perpustakaan Daerah Kalimantan Selatan, 1992.

Sholiatalhanin. “pelestarian (Preservation) Bahan Pustaka di Perpustakaan”.

http://testiani170885.wordpress.com/2009/05/11/pelestarian-preservation-bahan-pustaka-di-perpustakaan. (Diakses pada tanggal 17 Maret 2015 jam

Sofian Effendi, Metode Penelitian Survei, (Jakarta: LP3ES, 2012). Struktur dan Organisasi Perpustakaan Nasional RI diakses pada tanggal

12Agustus 2015 pukul 00.51 dari

http://kelembagaan.perpusnas.go.id/beranda/jajaran_unit_kerja/

Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Sumiyardi, Pentingnya Pemahaman Preservasi Bagi Pustakawan. Buletin FKP2T, Th. II, No. 2. 1997.

Sutarno NS. Kamus Perpustakaan dan Informasi (Jakarta: Jala Permata, 2008). Suwija, Nyoman, Laporan Penelitian: Upaya Pelestarian Bahan Pustaka Pada

Perpustakaan Universitas Udayana. Denpasar: Universitas Undaya, 1995. The Mitchell Archives, Historic Newspaper. Diakses pada pukul20.30 WIB

tanggal 5 Juni 2015 dari http://mitchellarchives.com/history

Tjetjep S. Surialaga,dkk. “Pelestarian Koleksi Perpustakaan”, Jurnal Perpustakaan Pertanian, Vol.II no.2 (2002).

Tjutju Soendari, “Metode Penelitian Deskriptif”, diakses pada 28 November 2014 dari file.upi.edu

Totok djuroto, Manajemen Penerbitan Pers (Bandung : PT Remaja Rosda karya, 2004).

Tugas, Fungsi dan Wewenang diakses pada tanggal 12 Agustus 2015 ukul 00.51 dari http://kelembagaan.perpusnas.go.id/beranda/tugas_fungsi_wewenang/. Tuty Hendrawati. Pedoman Pembuatan E-Book Dan Standar Alih Media. Jakarta

: Perpustakaan Nasional RI, 2014.

Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan

Zulfachri Tribuana Said. Pelaksanaan Fumigasi Pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Sebagai Upaya Pelestarian Bahan Pustaka, Skripsi S1 Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

Hasil wawancara dengan informan yaitu Dra.Made Ayu Wirayati M. Ikom pada tanggal 4 Juli 2015.

Hasil wawancara dengan informan yaitu Cecep Nurjanjanti S.Sos pada tanggal 4 Juli 2015.

Hasil wawancara dari salah satu informan yaitu Jamiat Wirta pada Tanggal 4 Juli 2015

Gambar 1. Tissue Jepang

Gambar 3. Proses perendaman Koran Langka dengan air yang sudah dicampur bubur kertas

Gambar 5. Proses pengeringan koran langka yang sudah ditambal

Gambar 7. Proses Enkapsulasi dengan mesin

Gambar 9. Hard Cover untuk menjilid koran langka

1. Apa maksud dari definisi Koran Langka menurut definisi Perpustakaan Nasional? Informan : Dra. Made Ayu Wirayati, M. Ikom.

Jawab : koran langka itu, yang namanya langka secara teori harus diatas 50 tahun sampai ratusan tahun dan hanya satu-satunya dimiliki, sangat bernilai dan

Dokumen terkait