• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada ibu-ibu yang mempunyai bayi di RSU Panyabungan Kabupaten MADINA, diperoleh data tentang pengetahuan ibu terhadap pengukuran suhu tubuh bayi saat demam dengan memberi kuesioner untuk diisi kepada 97 orang ibu-ibu yang dijadikan responden. Data tersebut dijadikan tolak ukur dalam melakukan pembahasan dan sebagai hasil akhir dapat dijabarkan sebagai berikut :

Secara keseluruhan umur responden bevariasi, antara 20 tahun hingga lebih dari 35 tahun, sehingga di kelompokkan menjadi 20-25 tahun, 26-30 tahun, 31-35 tahun, dan >35 tahun. Berdasarkan tabel 5.1. menunjukkan bahwa kelompok umur terbanyak adalah 26-30 tahun yaitu 67%.

Distribusi karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan terakhir dilihat pada tabel 5.2 dijumpai 55,7% yang berpendidikan terakhir SMA dan merupakan kelompok yang paling banyak.

Pada tabel 5.3 Menurut kelompok pekerjaan, sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga 43,3 %.

Untuk mengukur tingkat pengetahuan responden, diberikan 14 pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitia tentang pengetahuan responden, sesuai tabel 5.5 diperoleh bahwa dari 97 responden terdapat 32 orang (33%) yang berpengetahuan baik, dan 51 orang (52,6%) berpengetahuan sedang, sedangkan yang berpengetahuan kurang adalah 14 orang (14,4%).

Pada tabel 5.4 kebanyakan responden pada penelitian ini hanya menjawab pertanyaan nomor 4, 5, dan 8 dengan baik yaitu >75%. Dimana pada pertanyaan nomor 4 ditanyakan perlukah ibu melakukan pengukuran suhu tubuh pada bayi. Ini sesuai yang dikemukakan Eisenberg (1997) perlu dilakukan pengukuran suhu tubuh pada bayi, agar dapat mengetahui lebih awal dan dapat segera melakukan penatalaksaan demam sehingga tidak berlanjut ke keadaan kejang demam.

Pada pertanyaan nomor 5 ditanyakan jenis termometer yang ibu ketahui, Menurut pendapat Hermalinda perlu diketahuinya jenis-jenis termometer, karena sebelum melakukan pengukuran suhu tubuh terlebih dahulu menilai pasien dan menentukan jenis – jenis termometer yang akan digunakan, oleh karena itu setiap ibu harus mengetahui jenis – jenis termomter yang akan digunakan pada bayinya. Dan pada pertanyaan nomor 8 ditanyakan termometer yang manakah biasa digunakan ibu. Pertanyaan ini, kita sebagai peneliti agar dapat mengetahui jenis termometer yang digunakan para ibu-ibu saat mengukur suhu tubuh bayi ketika demam, sudah akurat atau belum.

Responden yang menjawab pertanyaan sedang yaitu 40-75%, pada pertanyaan nomor 1, 2, 3, 6, 7, 9, 10, 11, 13, dan 14. Para ibu menjawab pertanyaan sedang karena kemungkinan para ibu mengenal termometer tapi tidak mempunyai termometer sehingga tidak dapat mengaplikasikannya. Pada pertanyaan nomor 1 ditanyakan tahukah ibu tentang suhu tubuh bayi normal. Seperti yang telah dikemukakan Nelson (2002), suhu tubuh bayi normal adalah 37 ºC. Pada pertanyaan nomor 2 ditanyakan cara ibu untuk mengetahui bahwa bayi sedang demam adalah dengan mengecup kening merasakan dengan telapak tangan sesuai dengan yang dikemukakan Eisenberg (1997) pengukuran suhu tubuh bisa digunakan dengan sentuhan bibir pada dahinya ini dapat menunjukkan hal yang sama dengan alat pengukuran suhu tubuh. Pada pertanyaan nomor 3 ditanyakan apa yang pertama kali dilakukan ibu saat bayi deman yaitu dengan ditempatkan pada suhu ruangan normal, pakaian yang tidak tebal dan memberi kompres. Ini sesuai dengan yang dikemukakan pendapat Nia Kania bahwa penatalaksanaan demam pada bayi ada dua bagian, bagian yang pertama secara fisik yaitu anak

demam ditempatkan dalam ruangan yang bersuhu normal, pakaian anak diusahakan tidak tebal, memberikan minuman karena kubutuhan air meningkat dan memberikan kompres, dan bagian yang kedua dengan cara pemberian obat. Pada pertanyaan nomor 6 ditanyakan cara ibu membaca hasil pengukuran termometer, dengan melihat cairan yang berwarna perak menunjukkan angka termometer. Sesuai dengan yang dikemukakan Eisenberg (1997) bahwa untuk membaca termometer air raksa dengan memegang termometer ditempat yang terang dan diputar sampai melihat kolom berwarna keperakan dan untuk termometer digital, cukup dengan melihat hasil dimonitar. Pada pertanyaan nomor 7 ditanyakan bahwa organ tubuh yang digunakan untuk pengukuran suhu tubuh adalah di aksila dan rektal. Ini sesuai dengan Gabbriel (1996) bahwa termometer air raksa bisa digunakan pada aksila dan rektal, dan termometer digital juga bisa digunakan di mulut, aksila dan rektal. Pada pertanyaan 9 ditanyakan bagian tubuh yang tepat pada pengukuran suhu tubuh bayi adalah di rektal. Ini sesuai dengan yang dikemukakan Eisenberg (1997) bahwa pengukuran suhu tubuh pada yang paling tepat adalah di rektal. Pada pertanyaan 10 ditanyakan cara penggunaan termometer yang tepat untuk pengukuran suhu tubuh bayi adalah termometer air raksa sebelumnya di lap terlebih dahulu, pegang termometer diantara jari telunjuk dan jari tengah dan di tempatkan selama 2 menit. Ini sesuai dengan Eisenberg (1997) bahwa merentangkan bokong bayi dengan satu tangan lain, masukkan dengan hati – hati ujung yang membalut dari termometer kedalam rektal sedalam kira – kira 2,5 cm dan jangan mendorong dengan keras. Pegangi termometer diantara jari telunjuk dan jari tengah agar bertahan di tempat tersebut selama dua menit, gunakan tangan lain untuk menggunakan kedua bokong agar termometer tidak terdorong keluar dan menahan gerakan bayi. Pada pertanyaan no 11 ditanyakan persiapan ibu sebelum menggunakan termometer adalah memeriksa termometer terlebih dahulu, jika air raksa belum tepat atau meningkat maka terlebih dahulu mengguncang termometer sampai mencapai nilai yang di tetapkan. Ini sesuai dengan yang di kemukakan Eisenberg (1997) cara mempersiapkan termometer, cuci termometer dengan air sabun yang dingin, bilas, dan ulas dengan kapas yang telah dibasahi alkohol. Periksa letak air raksanya, jika ia terletak diatas

ukuran terkecil, maka air raksanya perlu diturunkan dengan cara mengguncang termometer dengan hati – hati. Pada pertanyaan nomor 13 ditanyakan akibat dari demam yang tinggi pada bayi adalah dehidrasi, kejang, dan bisa menyebabkan kematian. Ini sesuai dengan yang dikemukakan pendapat Wijayati (2008) bahwa akibat demam dapat menyebabkan vasokontriksi perifer yang menghasilkan produksi panas, dan berakibat pada pengeluaran panas melalui paru-paru dan berkeringat yang berlebihan menyebabkan kekurangan cairan dan elektrolit. Dan pada pertanyaan nomor 14 ditanyakan kondisi seperti apakah pada bayi yang harus dibawa ke dokter yaitu kondisi saat bayi mengalami kejang, bayi menangis dan tidak dapat ditenangkan, dikasi obat tapi tidak ada perobahan. Ini sesuai dengan yang dikemukakan Eisenberg (1997) bahwa kondisi – kondisi yang memerlukan perawatan medis adalah pada saat bayi mengalami kejang untuk pertama kali, mata terbalik keatas dan kaki seperti memukul, bayi menagis tidak dapat di tenangkan , demam tidak mau turun setelah diberi obat.

Dari responden yang banyak menjawab peertanyaan salah terdapat pada pertanyaan nomor 12 yaitu <40%. Pada pertanyaan ini ditanyakan cara penyimpanan termometer yang baik. Berarti cukup banyak ibu yang mempunyai bayi yang tidak mengetahui cara penyimpanan termometer yang baik. Seperti pada Eisenberg (1997) setelah termometer digunakan, cucilah termometer sekali lagi dengan air sabun yang dingin, bilas dan usap dengan alkohol. Dan simpan dalam wadahnya di tempatkan pada suhu 350C, dan di masukkan kedalam tempat pendinginan, jika kita ingin menggunakan termometer di keluarkan terlebih dulu dari tempat pendinginan kira – kira 1 jam. Termometer diletakkan jauh dari sumber panas, misalnya dekat jendela yang terkena sinar matahari, dekat radiator, tungku api, pengering pakaian atau kompor di dapur (panas dapat menyebabkan air raksa mengembang dan memecahkan gelasnya) .

Dari penelitian ini didapatkan tingkat pengetahuan sedang karena kemungkinan hanya sebagian responden saja yang mengetahui tentang termometer tapi tidak mengaplikasikannya, karena menurut para responden termometer itu hanya digunakan orang – orang medis bukan orang awam seperti pararesponden.

Dokumen terkait