BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
5.2.1 Kebiasaan Merokok pada Mahasiswa Kedokteran
Penelitian ini menunjukkan prevalensi perokok aktif di kalangan mahasiswa masih cukup tinggi yaitu 13.9% seperti dalam tabel 5.2. Angka ini lebih tinggi dari hasil survey yang dilakukan oleh Global Health Professional Survey (GHPS) pada mahasiswa kedokteran Indonesia, yaitu 9.3%.
Terlihat pada tabel 5.2. angkatan 2010 memiliki prevalensi perokok aktif sebesar 19.9% sedangkan angkatan 2011 memiliki prevalensi perokok aktif sebesar 9.4% dan angkatan 2012 memiliki prevalensi perokok aktif sebesar 13.4%. Mahasiswa angkatan 2010 yang lebih lama menempuh pendidikan kedokteran seharusnya lebih jelas memahami bahaya rokok sehingga prevalensi perokok aktif dalam angkatan tersebut seharusnya lebih rendah, namun gambaran ini tidak terlihat pada hasil data yang dikumpulkan dalam penelitian ini. Hal ini menunjukkan tinggi tingkat pendidikan kedokteran tidak menentukan prevalensi mahasiswa perokok aktif. Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian oleh Gunari (2006) yang menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara tingkat pengetahuan bahaya rokok dengan sikap dan perilaku merokok.
Pengetahuan mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan belum tentu dapat membuat pengguna berhenti merokok. Hal ini sesuai dengan penelitian Maharani (2011) terhadap dosen pria Fakultas Kedokteran Undip yang menyatakan bahwa terdapat perokok aktif di antara dosen pria Fakultas Kedokteran yang dianggap memiliki kemampuan kecakapan, dan pengetahuan tinggi terutama masalah kesehatan dari merokok dan juga yang dianggap sebagai panutan sehingga tidak seharusnya memiliki gaya hidup merokok.
Salah satu penyebab yang mungkin menjadi faktor tingginya prevalensi perokok aktif pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah pengaruh teman dan faktor sosial seperti hasil penelitian oleh Maharani (2011) bahwa teman merupakan faktor paling mempengaruhi dalam merokok.
Menurut Aini (2013) faktor-faktor lain yang dapat menjadi penyebab tingginya prevalensi perokok aktif pada mahasiswa kedokteran adalah:
• Kebiasaan perilaku merokok, yaitu merokok menjadi perilaku yang harus tetap dilakukan tanpa adanya motif yang bersifat positif maupun negatif.
• Reaksi emosi yang positif, yaitu merokok digunakan untuk menghasilkan emosi positif seperti rasa senang, relaksasi, dan kenikmatan rasa.
• Reaksi penurunan emosi, yaitu merokok digunakan untuk mengurangi perasaan negatif seperti marah, cemas, dan stres.
• Ketagihan atau kecanduan, yaitu merokok telah menjadi suatu kecanduan atau ketergantungan.
5.2.2. Hubungan Kebiasaan Merokok dengan konsentrasi MDA serum Pada penelitin ini uji-t memiliki nilai p < 0.05 menunjukkan konsentrasi MDA serum non-perokok dan perokok tidak identik. Mean perokok (10.44) lebih tinggi dari mean non-perokok (8.87). Sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh kebiasaan merokok terhadap timbulnya radikal bebas.
Pada tabel 5.3. dapat dilihat bahwa pada penelitian ini mean konsentrasi MDA serum non-perokok adalah 8.87 ± 1.171 dan mean konsentrasi MDA serum perokok adalah 10.44 ± 2.328. Mean perokok adalah lebih tinggi dibandingkan dengan mean non-perokok dengan selisih 1.57. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Montano et al. (2010) yang mendapatkan hasil mean konsentrasi MDA serum non-perokok (0.42 ± 0.17 nmol/ml) lebih tinggi dibandingkan dengan mean konsentrasi MDA serum perokok (1.68 ± 0.82 nmol/ml) dengan selisih mean 1.44 nmol/ml. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian oleh Bizori et al. (2011) yang mendapatkan hasil mean konsentrasi MDA serum non-perokok (1.84 ± 0.50 µmol/l) lebih tinggi dibandingkan dengan mean konsentrasi MDA serum perokok (2.76 ± 0.88 µmol/l) dengan selisih mean 0.92 µmol/l. Hasil penelitian ini yang serupa juga ditunjukkan oleh penelitian Nagamma et al. (2011) yang mendapatkan hasil mean konsentrasi MDA serum non-perokok (1.94 ± 0.6 nmol/ml) lebih tinggi dibandingkan dengan mean konsentrasi MDA serum perokok (1.73 ± 0.65 nmol/ml) dengan selisih mean 0.21 nmol/ml.
Hasil mean konsentrasi MDA serum perokok yang lebih tinggi dari mean konsentrasi MDA serum non-perokok menunjukkan bahwa teradapat efek yang nyata dari rokok terhadap peroksidasi lemak dalam tubuh. Pengaruh merokok terhadap proksidasi lemak juga dibuktikan oleh Frei et al. dalam penelitiannya dengan memaparkan serum langsung pada asap rokok dan mengukur berbagai kelas lipid hydroperoxides sebagai indikator peroksidasi lemak yang terjadi. Hasil dari penelitiannya membuktikan pemaparan asap rokok terhadap serum menyebabkan kerusakan oksidatif pada lemak dengan cepat.
Hasil mean konsentrasi MDA serum perokok yang lebih tinggi dari mean konsentrasi MDA serum non-perokok pada penelitian-penelitian ini sesuai dengan teori Pryor (1997) bahwa fase gas dan tar dari rokok dapat menghasilkan radikal bebas yang akibatnya menyebabkan kerusakan oksidasi lemak pada tubuh. Menurut Pryor(1997), Fase gas rokok mengandung 1014 radikal bebas karbon
bermassa-molekular-rendah dan oxygen-centered dalam sekali hisapan. Sedangkan tar mengandung mengandung radikal bebas quinone-hydroquinone- semiquinone bermassa-molekular-rendah.
Pada uji linear regression dengan Pearson correlation coefficient didapatkan nilai r = 0.59. Hasil ini menunjukkan hubungan linear yang kuat antara indeks Brinkman dengan konsentrasi MDA serum. Artinya setiap peningkatan indeks Brinkman akan menghasilkan peningkatan pada konsentrasi MDA serum secara proposional.
5.2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsentrasi MDA Serum
Konsentrasi MDA serum non-perokok pada penelitian ini berkisar dari yang terendah 7.3 µM hingga yang tertinggi 11.3 µM. Sedangkan konsentrasi MDA serum perokok pada penelitian ini berkisar dari yang terendah 7.4 µM hingga yang tertinggi 15.0 µM. Terlihat bahwa non-perokok dapat memiliki konsentrasi MDA serum yang lebih tinggi daripada perokok. Hal ini dapat disebabkan oleh karena rokok bukan satu-satunya sumber radikal bebas bagi tubuh manusia sehingga memungkinkan faktor-faktor lain menyebabkan konsentrasi MDA serum non-perokok untuk lebih tinggi daripada perokok. Menurut Kumar (2011) terdapat 3 sumber radikal bebas, yaitu :
• Sumber internal : Sumber internal dapat berupa reaksi pada rantai respirasi, fagositosis, sintesis prostaglandin dan sistem sitokrom P450.
Sumber internal lainnya adalah mitokondria, xanthine oxidase, fagosit, reaksi yang melibatkan besi dan transition metal, peroksisom, rantai arachidonate, olahraga, iskemia dan inflamasi.
• Sumber eksternal : Sumber eksternal dapat berupa asap rokok, polutan lingkungan, radiasi, sinar UV, ozon, obat-obat tertentu, pestisida dan pelarut industri.
• Faktor fisiologis : Kondisi mental seperti stres, emosi dan keadaan sakit dapat memicu pembentukan radikal bebas.
Selain faktor-faktor di atas, kondisi tubuh juga dapat mempengaruhi stres oksidatif sehingga hasil pemeriksaan konsentrasi MDA serum non-perokok dapat melebihi hasil pemeriksaan konsentrasi MDA serum perokok. Menurut Halliwell (2012), tingkat stres oksidatif yang rendah pada perokok dan tingkat stres oksidatif yang tinggi pada non-perokok mungkin dapat disebabkan oleh faktor genetik. Selain itu obesitas, hiperkolesterolemia dan hiperglisemia juga berpengaruh dalam meningkatkan tingkat stres oksidatif pada tubuh.
Tabel 5.5. Indeks Brinkman dan Konsentrasi MDA Serum Mahasiswa Perokok No. Indeks Brinkman
(batang tahun) Konsentrasi MDA Serum (µM) 1. 180 7.4 2. 40 7.6 3. 20 8.0 4. 150 8.0 5. 10 8.7 6. 100 9.2 7. 20 9.8 8. 60 10.1 9. 10 11.2 10. 20 11.3 11. 60 12.2 12. 120 12.3 13. 60 12.3 14. 40 13.5 15. 140 15.0
Pada tabel 5.5. ataupun gambar 5.2. terlihat bahwa sampel dengan indeks Brinkman 180 batang tahun memiliki MDA yang cukup rendah yaitu 7.4 µM. Menurut Edgar et al., anomali ini dapat disebabkan oleh polyunsaturated / saturated fat ratio (P/S ratio) yang sangat dipengaruhi oleh pola makan. Perbedaan pola makan yang mempengaruhi P/S ratio oleh sampel ini dapat sangat mempengaruhi hasil konsentrasi MDA serum.
Anomali ini juga dapat disebabkan jika sampel ini mengkonsumsi buah- buahan dalam jumlah banyak secara rutin. Menurut Halliwell (2012), tanaman memilki antioksidan yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh karena tanaman memerlukan antioksidan dalam jumlah besar untuk menghadapi stres oksidatif yang besar dari penghasilan O2 sewaktu fotosintesis. Akan tetapi efek antioksidan
dari tanaman secara langsung terhadap kesehatan tubuh manusia masih diperdebatkan.