BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
Dari hasil penelitian yang telah diperoleh, pembahasan dilakukan untuk
menjawab pertanyaan penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor
penghambat ibu dalam pemberian ASI eksklusif dan mengetahui faktor yang
paling dominan penghambat ibu dalam pemberian ASI eksklusif.
5.2.1 Faktor – Faktor Penghambat Ibu Dalam Pemberian ASI Eksklusif 5.2.1.1 Faktor Kesehatan Bayi
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penghambat ibu menyusui ASI
eksklusif dari faktor kesehatan bayi jawaban yang terbanyak adalah pernyataan
nomor 4 yaitu bayi kelaparan dan menangis tengah malam walaupun sudah
diberikan ASI sebanyak 19 responden (63%). Hal ini sejalan dengan Roesli
(2005) hal ini disebabkan oleh bayi-bayi yang hanya minum/makan ASI memang
cenderung lebih cepat merasa lapar dibandingkan dengan bayi-bayi yang diberi
juga mengandung beragam enzim-enzim pencernaan, antara lain lipase (untuk
menguraikan lemak), protease (untuk menguraikan protein), dan amilase (untuk
menguraikan karbohidrat). Dengan kata lain, ASI dapat dikatakan sebagai
makanan yang sudah separuh cerna, sehingga tidak butuh waktu lama bagi sistem
pencernaan bayi yang memang belum sempurna perkembangannya untuk
mencerna habis ASI. Oleh sebab itu bayi yang diberi ASI perlu disusui setiap 2 -3
jam sekali.
Arifin (2008), juga mengatakan bahwa makanan yang dimakan seorang
ibu yang sedang dalam masa menyusui dapat mempengaruhi mutu dan jumlah air
susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat
digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika makanan yang
dikonsumsi ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan
bayi pada akhirnya kelenjar - kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak
dapat bekerja dengan sempurna dan hal ini dapat berpengaruh terhadap produksi
ASI dan mengakibatkan bayi merasa lapar dan menangis pada malam hari.
5.2.1.2 Faktor Kesehatan Ibu
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penghambat ibu menyusui ASI
eksklusif dari faktor kesehatan ibu yang paling dominan adalah pernyataan nomor
5 yaitu sebanyak 18 responden (60%) bahwa ASI tidak ada atau belum keluar.
Menurut Soetjiningsih (1997) rasa khawatir dan tidak bahagia dapat mengganggu
produksi ASI. Hal ini mengakibatkan ibu mengalami agalaksia (tidak ada ASI)
atau ibu malas memberi ASI padahal ASI akan lebih banyak apabila ibu sering
menyusui. Soetjiningsih juga mengatakan ketidakmampuan menyusui erat
laktasi, dan kurang percaya diri akan kemampuan menyusui serta kurangnya
dukungan sosial baik dari keluarga maupun dari lingkungan untuk mengatasi
masalah pada permulaan laktasi.
5.2.1.3 Faktor Pengetahuan Ibu
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penghambat ibu menyusui ASI
eksklusif dari faktor pengetahuan ibu yang terbanyak adalah pernyataan nomor 10
yaitu sebanyak 21 responden (70%) yang menyatakan tidak mengetahui manfaat
menyusui ASI eksklusif yaitu dapat menjarangkan kehamilan. Hal ini berkaitan
dengan rendahnya tingkat pendidikan ibu yang diperoleh dari penelitian data
demografi, bahwa tingkat pendidikan ibu tertinggi adalah SMU yaitu sebanyak 14
responden (47%). Menurut Rosidah (2004) pengetahuan ibu yang kurang tentang
hal tersebut di atas terjadi akibat kurangnya perhatian ibu tentang penjelasan yang
diberikan oleh petugas kesehatan, namun mayoritas ibu sudah mengetahui tentang
kapan pemberian ASI eksklusif, manfaat ASI eskklusif serta resiko apabila bayi
tidak diberi ASI secara eksklusif tetapi ibu mengatakan sulit untuk merubah
perilaku karena sudah merupakan kebiasaan dalam keluarga. Hal ini sejalan
dengan pendapat Siregar (2004), seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan
memiliki pengetahuan yang luas serta kemampuan untuk menerima informasi
lebih tinggi.
5.2.1.4 Faktor Pekerjaan
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penyebab ibu tidak menyusui ASI
eksklusif dari faktor pekerjaan yang terbanyak adalah pernyataan nomor 11
karena lokasi tempat bekerja jauh sebanyak 10 responden (33%). Menurut Roseli
karena ibu yang bekerja dapat memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan
memberikan ASI perah. Selama ibu bekerja ASI perah tahan 6-8 jam di udara
luar, 24 jam di dalam termos berisi es batu, 48 jam dalam lemari es, dan 3 bulan
dalam freezer.
Evariny (2008), juga menyatakan bahwa jauhnya tempat bekerja dan tidak
tersedianya tempat penitipan bayi merupakan alasan yang paling sering
diungkapkan oleh ibu bekerja. Dengan bantuan “tempat kerja sayang ibu” yaitu
tempat kerja yang memungkinkan karyawati menyusui secara eksklusif.
Keberhasilan ibu bekerja untuk memberikan ASI eksklusif akan lebih besar lagi.
5.2.1.5 Faktor Estetika
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ibu tidak menyusui secara eksklusif
dari faktor estetika yang paling dominan adalah pernyataan nomor 14 yaitu ibu
tidak menyusui secara eksklusif karena takut berat badan bertambah dan bentuk
tubuh tidak dapat kembali seperti sebelum melahirkan sebanyak 7 responden
(23%). Hal ini bertolak belakang belakang dengan pendapat Evariny (2008), data
membuktikan bahwa menyusui dapat membantu ibu menurunkan berat badan
lebih cepat dari pada yang tidak memberikan ASI secara eksklusif. Sebab dengan
menyusui timbunan lemak yang terjadi pada waktu hamil akan dipergunakan
dalam proses menyusui, sedangkan wanita yang tidak menyusui akan sukar untuk
menghilangkan timbunan lemak yang khusus dipersiapkan untuk menyusui. Hal
ini sejalan dengan pendapat Roesli (2005) yang menyatakan bahwa pendapat
bahwa ibu akan sukar menurunkan berat badan adalah tidak benar. Pada waktu
hamil, badan telah mempersiapkan timbunan lemak untuk membuat ASI.
badan lebih cepat daripada ibu yang tidak menyusui secara eksklusif. Timbunan
lemak yangt terjadi sewaktu hamil akan dipergunakan untuk proses menyusi,
sedangkan wanita yang tidak menyusui akan lebih sukar untuk menghilangkan
timbunan lemak.
5.2.1.6 Faktor Petugas Kesehatan
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penyebab ibu tidak menyusui ASI
eksklusif dari faktor petugas kesehatan yang paling dominan adalah pernyataan
nomor 15 yaitu ibu tidak pernah mendapat penjelasan dari petugas kesehatan
tentang ASI eksklusif sebanyak 18 responden (60%). Menurut Siregar (2004),
kurangnya penjelasan dari petugas kesehatan tentang ASI ekseklusif disebabkan
oleh belum semua petugas kesehatan atau paramedis diberi pesan dan diberikan
cukup informasi agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayi mereka serta
peraktek yang keliru dengan memberikan susu botol kepada bayi yang baru lahir.
Sedangkan menurut Nuchsan (2009), bahwa berhasil atau tidaknya penyusuan
dini di tempat pelayanan ibu bersalin, rumah sakit sangat tergantung pada petugas
kesehatan yaitu perawat, bidan atau dokter. Mereka yang pertama-tama akan
membantu ibu bersalin melakukan penyusuan dini.
5.2.1.7 Faktor Iklan
Dari hasil penelitian diperoleh ibu tidak menyusui ASI eksklusif
disebabkan oleh ibu pernah mendapat sampel gratis dari produk susu formula
sampel gratis dari produk susu formula (pernyataan nomor 18) sebanyak 13
responden (43%). Apabila ditelusuri lebih lanjut yang memberikan sampel produk
susu formula gratis adalah para produsen yang berada di tempat perbelanjaan dan
memasarkan produk susu formula dan diberikan insetif bulanan sampai disponsori
untuk naik haji (Media Indonesia, 2005). Padahal menurut Roesli (2005), bayi
yang tidak diberikan ASI secara ekseklusif atau hanya diberi susu formula dapat
mengalami infeksi saluran pernafasan, meningkatkan resiko alergi, meningkatkan
resiko kegemukan, meningkatkan resiko infeksi yang berasal susu formula yang
tercemar, dan meningkatkan resiko kematian.
5.2.1.8 Faktor Budaya
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penyebab ibu tidak menyusui ASI
eksklusif dari faktor budaya yang terbanyak adalah pernyataan nomor 19 yaitu
dalam keluarga ada kebiasaan untuk mencampur ASI dengan makanan lain
sebanyak 17 responden (57%). Menurut Roesli (2005), hal ini diakibatkan oleh
ada kebiasaan dalam keluarga, anjuran dari orang tua, dan anjuran tetangga serta
pengalaman dari anak sebelumnya yang sangat sulit untuk diubah walau sudah
diberikan informasi dan saran-saran dari petugas kesehatan. Budaya masarakat
bahwa bayi begitu lahir langsung diberikan makanan dan kolostrum dibuang
walaupun mereka tahu hal tersebut tidak sesuai dengan anjuran kesehatan tetapi
mereka menganggap anak yang diberi makanan tambahan sejak lahir tetap
berhasil jadi orang. Hal tersebut dapat diatasi dengan pendekatan dan pemberian
informasi yang berulang-ulang.
Hal ini juga sejalan dengan pendapat Soetjiningsih, dalam lingkungan
masyarakat masih banyak ibu yang terprovokasi oleh komentar yang kurang/ tidak
baik yang menganjurkan mencampur ASI dengan susu formula atau dengan
makanan pendamping ASI lainnya. Biasanya provokasi tersebut disampaikan oleh