BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.4. Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada petugas kantin di sekitar Kampus USU tahun 2010, diperoleh data yang merupakan keadaan nyata dengan cara menyebarkan kuesioner kepada 60 petugas kantin. Data tersebut dijadikan
panduan dalam melakukan pembahasan dan sebagai hasil akhir dapat dijabarkan sebagai berikut:
5.4.1. Pengetahuan Petugas Kantin terhadap Sanitasi Makanan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan (Notoadmodjo, 2007).
Pengetahuan yang baik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sumber informasi dan faktor pendidikan serta faktor lingkungan. Semakin banyak seseorang mendapatkan informasi baik dari lingkungan keluarga, tetangga maupun dari media cetak. Hal ini akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Pendidikan memainkan peran penting, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik juga pengetahuan petugas kantin terhadap sanitasi makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pengetahuan dalam menangani atau mengelola sanitasi makanan (Santoso, 1995).
Namun begitu, berdasarkan Tabel 5.3. dapat dilihat persentase terbesar responden berpendidikan sehingga tingkat SMA yaitu sebanyak 33 orang (55%). Sedangkan persentase tingkat pengetahuan bagi petugas kantin adalah sebanyak 47 orang (78,3%) dalam kategori baik. Ini membuktikan pendidikan tidak mempunyai pengaruh yang besar terhadap pengetahuan petugas kantin. Mungkin petugas kantin mendapat sumber informasi dari sumber yang lain seperi media cetak atau pengalaman yang memicu peningkatan pengetahuan mereka.
Seluruh petugas kantin mempunyai pengetahuan bahwa tindakan menggaruk hidung/tubuh saat menangani makanan/minuman adalah salah. Ini dapat dilihat pada Tabel 5.5. di mana semua pertugas kantin yaitu sebanyak 60
orang (100%) telah menjawab dengan benar. Ini adalah bagus karena mereka sudah mengetahui bahwa tindakan itu bisa menyebabkan penyakit bisa tertular pada makanan.
Kepentingan menutup rambut saat mengolah makanan juga mendapat persentase yang tinggi yaitu sebanyak 53 orang (88,3%) yang menjawab dengan benar. Kemungkinan mereka sudah mengetahui bahwa rambut juga bisa menjadi agen penularan penyakit pada makanan. Tetapi ada juga yang beranggapan bahwa pemakaian penutup rambut itu tidak perlu karena mungkin mereka tidak biasa menggunakan penutup rambut dan pada yang memakai jilbab, mereka menutup rambut bukan untuk mencegah penularan tetapi karena sudah kewajiban sebagai orang Islam.
Pengetahuan mengenai manfaat dapur terpelihara bersih mendapat persentase ketiga tertinggi yaitu sebanyak 52 orang (86,7%) menjawab dengan benar. Ini adalah karena mereka samada sudah benar-benar faham bahwa dapur perlu terpelihara dengan bersih untuk mencegah penularan penyakit pada makanan atau mereka hanya menjaga dapur supaya bersih untuk menarik lebih ramai pelanggan yang datang ke kantin.
Pengetahuan petugas kantin mengenai bahan makanan mentah perlu diasingkan dari bahan makanan yang sudah siap dimasak juga mendapat persentase ketiga tertinggi sama seperti pengetahuan mengenai manfaat dapur terpelihara bersih yaitu sebanyak 52 orang (86,7%) yang menjawab dengan benar. Ini adalah bagus karena mereka sudah mengetahui bahwa makanan mentah tidak bisa dicampurkan dengan bahan makanan yang siap dimasak. Sekiranya kedua ini dicampurkan, mikroorganisme yang terdapat pada bahan makanan mentah akan mudah tertular pada makanan yang sudah siap dimasak.
Namun begitu, petugas kantin kurang berpengetahuan mengenai suhu mikroorganisme berkembang biak. Ini adalah karena hanya 23 orang (38,3%) yang menjawab dengan benar. Tidak ramai petugas kantin yang mengetahui secara teori bahwa mikroorganisme paling suka berkembang biak pada suhu kamar dan lembab. Ramai dari mereka yang menjawab mikroorganisme suka berkembang biak pada suhu panas atau sejuk. Mungkin ini disebabkan mayoritas
petugas kantin memiliki tingkat pendidikan sehingga SMA sahaja yaitu sebanyak 33 orang (55%).
Sebanyak 30 orang (50%) dari petugas kantin yang mengetahui definisi sanitasi makanan yang benar berdasarkan teori. 30 orang lagi menjawab sanitasi makanan adalah upaya untuk memelihara kelazatan makanan. Hal ini menunjukkan tidak semua petugas kantin yang mengetahui apa yang dimaksudkan dengan sanitasi dan mereka merasakan sanitasi makanan itu adalah salah satu cara untuk memelihara makanan agar tetap lazat.
Kepentingan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum memegang makanan juga tidak dipahami oleh petugas makanan karena hanya sebanyak 26 orang (43,3%) yang menjawab dengan benar. Ramai dari petugas kantin yang merasakan mereka perlu mencuci tangan agar tangan mereka kelihatan bersih dan berbau wangi. Ini menunjukkan mereka tahu bahwa mencuci tangan itu perlu, namun apa yang mereka tidak tahu adalah tujuan mencuci tangan yang sebenar adalah untuk mencegah dari penularan penyakit.
5.4.2. Sikap Petugas Kantin terhadap Sanitasi Makanan
Sikap bermaksud reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus objek (Notoatmodjo, 2007). Pada Tabel 5.6. diperoleh sebagian besar petugas kantin memiliki sikap baik sebanyak 58 orang (96,7%) dan sebagian kecil memiliki sikap sedang yaitu sebanyak 2 orang (3,3%). Hal ini menunjukkan bahwa petugas kantin yang memiliki sikap baik berarti telah meyakini tentang cara-cara menjaga sanitasi makanan. Sedangkan petugas kantin yang memiliki sikap sedang berarti mereka belum meyakini cara-cara menjaga sanitasi makanan yang benar mungkin karena mereka kurang berpengalaman atau mereka tidak mendapat penyuluhan mengenai bagaimana menjaga sanitasi makanan yang benar.
Sikap baik dan sedang dapat dipengaruhi oleh pengalaman langsung yang dialami individu terhadap sesuatu hal dan sikap tidak dibawa sejak lahir tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman individu sepanjang perkembangan selama hidupnya. Dalam penentuan sikap yang utuh, pengetahuan,
pikiran, keyakinan dan emosi akan memegang peranan penting. Setelah seseorang mengetahui objek atau stimulus, proses selanjutnya adalah memliki atau bersikap terhadap stimulus atau objek tersebut (Notoatmodjo, 2007).
Berdasarkan Tabel 5.3. didapatkan bahwa persentase umur petugas kantin tertinggi adalah umur kurang dari 25 tahun yaitu sebanyak 22 orang (36,7%). Walaupun umur mereka kurang dari 25 tahun, namun mayoritas petugas kantin mempunyai sikap yang baik dalam menjaga sanitasi makanan. Ini menunjukkan walaupun pada usia muda dan kurang berpengalaman, namun sikap mereka baik dalam menjaga sanitasi makanan.
Petugas kantin mempunyai sikap yang paling baik mengenai pembersihan dan pencucian bahan makanan mentah sebelum dimasak. Ini dapat dilihat pada Tabel 5.7. dimana semua petugas kantin bersetuju dengan penyataan tindakan yaitu sebanyak 60 orang (100%). Pengasingan bahan makanan mentah dengan makanan yang sudah dimasak juga mendapat persentase yang tinggi yaitu sebanyak 54 orang (90%) bersetuju dengan penyataan itu. Kedua-dua tindakan ini memperoleh persentase yang tinggi, namun ada juga petugas kantin yang tidak tahu mengapa tindakan itu perlu mungkin karena tindakan itu sudah menjadi kebiasaan mereka dalam menjaga sanitasi makanan sejak dari dulu lagi.
Berbanding pengetahuan yang kurang mengenai kepentingan mencuci tangan, sikap mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menangani makanan disetujui mayoritas petugas kantin yaitu sebanyak 51 orang (85%). Meskipun pengetahuan kurang namun sikap petugas kantin terhadap tindakan mencuci tangan adalah baik. Ini menunjukkan pengetahuan tidak semestinya berpengaruh terhadap sikap.
Mayoritas petugas kantin yaitu sebanyak 18 orang (30%) tidak bersetuju dengan penyataan bahwa para pedagang tidak boleh ngobrol/bercakap-cakap saat menangani makanan. Ini adalah karena mereka merasakan bahwa ngobrol/bercakap-cakap tidak mempengaruhi proses penularan penyakit. Sedangkan saat petugas kantin ngobrol/bercakap-cakap, mikroorganisme yang terdapat di mulut mereka bisa masuk ke dalam makanan dan jika mereka terkena penyakit TBC atau Influensa penyakit mereka bisa tertular melalui cara itu.
Pemakaian alat bantu saat menangani makanan tidak disetujui oleh segelintir petugas kantin yaitu sebanyak 13 orang (21,6%). Pemakaian penutup kepala saat menangani makanan makanan serta penggunaan lap yang dicuci dan direbus terlebih dahulu tidak disetujui oleh 12 orang (20%) petugas kantin. Ketiga-tiga penyataan ini tidak disetujui karena mungkin tindakan itu belum lagi menjadi kebiasaan pada mereka. Contohnya penggunaan lap perlu dicuci dan direbus terlebih dulu karena sekiranya lap direbus, maka mikroorganisme yang terdapat pada lap itu akan mati akibat dari suhu yang tinggi. Mereka juga merasakan bahwa tindakan itu memakan waktu yang lama dan hanya merepotkan saja.
Pengetahuan yang baik diharapkan akan menimbulkan sikap yang baik pula. Berdasarkan penelitian ini tapak adanya kesesuaian antara pengetahuan dan sikap petugas kantin dalam menjaga dan mengelola sanitasi makanan.
5.4.3. Tindakan Petugas Kantin terhadap Sanitasi Makanan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Maka untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung. Tindakan merupakan realisasi dari pengalaman dan sikap menjadi perbuatan nyata. Tindakan juga merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati oleh orang lain(Notoatmodjo, 2007).
Pada Tabel 5.8. dapat diamati bahwa mayoritas petugas kantin memiliki tindakan yang baik yaitu sebanyak 55 orang (91,7%) dan sebagian kecil memiliki tindakan yang sedang yaitu sebanyak 5 orang (8,3%).
Hal ini menunjukkan bahwa petugas kantin memiliki tindakan baik berarti petugas kantin telah menilai dan meyakini bahwa pentingnya menjaga sanitasi saat menangani atau mengelola makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas yaitu sebanyak 56 orang (93,3%) petugas kantin bertindak dengan benar saat menangani bahan mentah dengan cara mereka membersihkan dan mencuci bahan makanan mentah terlebih dahulu sebelum dimasak. Ini dipengaruhi oleh sikap mereka yang baik terhadap tindakan pembersihan dan
pencucian bahan makanan sebelum dimasak. Ini menunjukkan bahwa sikap memberikan dorongan kuat dan kecenderunagn yang tinggi untuk seseorang bertindak.
Sikap mereka yang baik terhadap pengasingan bahan makanan mentah dan makanan yang siap dimasak telah mempengaruhi tindakan mereka. Ini telah ditunjukkan oleh tindakan mereka mengasingkan bahan makanan mentah dengan makanan yang sudah siap dimasak saat penyimpanan dilakukan dengan benar oleh 52 orang (86,7%) petugas kantin. Hal ini sangat benar karena menurut WHO tujuan pengasingan ini adalah bagi mengelakkan makanan mentah yang terkontaminasi dari menular ke bahan makanan yang sudah siap dimasak (WHO, 2004). Maka mayoritas petugas kantin telah melakukan tindakan yang benar dengan mengasingkan kedua bahan makanan mentah dan makanan yang sudah siap dimasak itu.
Tetapi tidak selalu orang yang berpengetahuan dan sikap yang baik langsung melakukan tindakan yang benar. Hal ini mungkin dikarenakan mereka masih ragu dalam tindakan yang dilakukan. Berdasarkan Tabel 5.9. diketahui bahwa sebagian besar petugas makanan tidak pernah mengikuti program atau penyuluhan tentang sanitasi makanan yaitu sebanyak 45 orang (75%). Ini merupakan suatu tindakan yang salah karena petugas makanan merupakan salah satu dari usaha katering berskala besar dan ini merupakan pekerjaan yang lebih rumit dibandingkan dengan penyiapan makanan langsung untuk konsumsi keluarga dan memerlukan lebih banyak aturan yang rinci.
Kegiatan ini mencakup penyiapan makanan dalam jumlah besar untuk lebih banyak orang. Maka petugas kantin seharusnya mendapatkan pelatihan yang khusus tentang cara mengelola atau menangani makanan yang benar (Adams dan Motarjemi, 2004). Hal ini dipersetujui oleh Donkor, di mana selepas pedagang makanan mendapat bimbingan dan penyuluhan yang cukup dan lebih rinci tindakan perilaku sanitasi makanan pada pedagang makanan meningkat yaitu dari 16,5% menjadi 60,5% (Donkor et al., 2009).
Sebanyak 34 orang (56,7%) melakukan tindakan yang salah dengan memakai perhiasan seperti cincin saat menangani makanan. Ini adalah tindakan yang kurang baik karena mungkin mereka merasakan bahwa pemakaian cincin tidak mempengaruhi penularan penyakit. Sedangkan adalah lebih mudah untuk menjaga kebersihan tangan jika kuku jari penjamah makanan pendek dan perhiasan makanan dilepaskan saat mengolah makanan karena kotoran dapat tersangkut di bawahnya dan sulit dibersihkan (Adams dan Motarjemi, 2004).
Pemakaian celemek dan sarung tangan pada waktu mengolah makanan tidak selalu diamalkan oleh petugas kantin. Ini dapat dilihat pada Tabel 5.9. di mana hanya 37 orang (61,7%) yang mengamalkannya. Sedangkan jika makanan harus ditangani oleh seseorang yang kulitnya berbintik-bintik, berlesi atau lukanya terinfeksi, luka tersebut harus ditutup dengan kain yang tahan air dan seeloknya penjamah makanan seharusnya memakai sarung tangan dan memakai celemek saat menangani makanan (Adams dan Motarjemi, 2004).