BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
Hasil analisis data pada penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 20 – 25 tahun yaitu sebanyak 24 orang (46,2%). Latipun (2003) berpendapat bahwa umur itu mempengaruhi pengetahuan seseorang. Semakin dewasa usia maka tingkat kemampuan dan kematangan dalam berpikir dan menerima informasi lebih baik jika dibandingkan dengan usia yang masih muda atau belum dewasa. Pada usia tersebut memudahkan seseorang menerima ilmu atau pengetahuan dengan lebih baik. Apalagi ditunjang dengan tingkat pendidikan responden yang sebagian besar responden mempunyai pendidikan sampai tingkat SMP atau sederajat yaitu sebanyak 24 orang (46,2%).
Menurut Soekanto (2002), salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah tingkat pendidikan. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang terhadap individu, kelompok atau masyarakat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian pada tesis Murdjati yang menyebutkan bahwa tingkat pendidikan ibu lulusan SMP/SMA meningkatkan kelengkapan imunisasi dasar sebesar 1,4 kali dibanding tingkat pendidikan SD/tidak sekolah. Maka bagi peneliti tingkat pendidikan ibu yang sebagian besar lulusan SMP atau sederajat, berpengaruh pula pada peningkatan pengetahuan dan sikap ibu terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada bayi mereka.
commit to user
Hasil penelitian juga menunjukan bahwa pada kebanyakan responden baru memiliki 1 orang anak yaitu sebanyak 31 orang (59,6%). Sebenarnya menurut hasil penelitian Murdjati menyebutkan bahwa jumlah anak lebih besar dari 2 anak tidak mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar dibanding dengan yang mempunyai anak kurang dari atau sama dengan 2 anak. Sehingga menurut peneliti banyaknya anak tidak mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar. Tapi menurut peneliti hal ini masih perlu dibuktikan dengan penelitian yang lebih mendalam.
2. Pengaruh penyuluhan tentang imunisasi dasar lengkap terhadap pengetahuan dan sikap ibu tentang imunisasi dasar lengkap.
Hasil analisis data sesuai Tabel 4.18 didapatkan nilai rata-rata pengetahuan kelompok treatment sebesar 16,73 sedangkan yang tidak mendapatkan perlakuan
nilai rata-rata sebesar 10.69 dan untuk nilai t sebesar 5.387 dengan signifikansi
0,000 < a = 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan responden yang mendapatkan Penyuluhan imunisasi dengan yang tidak mendapatkan penyuluhan, atau dapat juga dikatakan bahwa penyuluhan tentang imunisasi dasar lengkap berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap.
Begitu juga pada Tabel 4.19 pada hasil analisis pengaruh penyuluhan terhadap sikap ibu tentang imunisasi dasar lengkap menunjukkan bahwa nilai
rata-rata Sikap pada kelompok Treatment sebesar 61,81 sedangkan yang tidak
mendapatkan perlakuan nilai rata rata yang diperoleh sebesar 54,54 dan untuk
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
59
perbedaan yang signifikan antara sikap ibu tentang Imunisasi Dasar yang
mendapat penyuluhan dengan yang tidak mendapatkan penyuluhan, atau dapat juga dikatakan bahwa penyuluhan tentang imunisasi dasar lengkap berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan sikap ibu tentang imunisasi dasar lengkap menjadi lebih baik.
Pengetahuan merupakan hasil tahu, hal ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek, individu mempunyai dorongan untuk mengerti, dengan pengalamannya memperoleh pengetahuan. Sikap seseorang terhadap suatu obyek menunjukkan pengetahuan orang tersebut terhadap obyek yang bersangkutan. Hal ini dapat diartikan bahwa sikap yang positif maupun sikap negatif terbentuk dari komponen pengetahuan. Semakin banyak pengetahuan yang didapat akan semakin positif sikap yang terbentuk (Walgito, 2003).
Newcomb dalam Soekidjo Notoatmodjo (2007) berpendapat bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (over behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbukti
bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Pengetahuan Ibu tentang imunisasi dasar lengkap adalah hasil tahu Ibu tentang apa saja jenis imunisasi serta manfaatnya bagi bayi usia 1 tahun. Hal ini penting karena diharapkan para ibu tidak hanya sekedar datang menimbangkan
commit to user
bayinya dan mau memberikan bayinya untuk diimunisasi, tapi juga mengetahui manfaat apa saja yang didapat bila anak diberi imunisasi dasar lengkap.
Menurut Irmayati (2007) salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah karena kekurangan informasi. Pemberian informasi melalui pendidikan dan pelatihan akan meningkatkan pengetahuan, selanjutnya akan menimbulkan kesadaran dan akhirnya seseorang akan melakukan praktek sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki, meskipun memerlukan waktu yang lama. Sebelum seseorang mengadopsi praktek, ia harus terlebih dahulu tahu apa arti dan manfaat praktek tersebut bagi dirinya dan orang lain, dalam hal ini bayi yang mendapat imunisasi. Setelah seseorang mengetahui, selanjutnya akan menilai atau bersikap. Secara teori perubahan praktek atau mengadopsi praktek baru itu mengikuti proses perubahan : pengetahuan, sikap dan praktek. Pengalaman dan penelitian juga membuktikan bahwa praktek yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada praktek yang tidak didasari oleh pengetahuan. Azwar (2008) mengatakan bahwa sikap mempengaruhi praktek lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan dan dampaknya terbatas yang berarti bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya.
Hal ini terlihat pada praktek yang dilakukan oleh para ibu bayi dengan rutin menimbangkan bayinya di puskesmas atau posyandu yang hasilnya sebesar 100%. Praktek tersebut didasari oleh adanya pengetahuan yang diperoleh ibu bayi melalui pemberian informasi mengenai imunisasi dasar lengkap dari petugas
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
61
kesehatan (sebesar 84,6%), meskipun pemberian informasi tersebut diberikan secara berkala atau tidak secara rutin, selain itu informasi juga bisa didapat dari buku/majalah/koran (sebesar 7,7%) maupun bisa melalui TV/radio/internet (sebesar 7,7%).
Oleh sebab itu, sebagai tenaga kesehatan khususnya dokter
keluarga/praktisi kesehatan, yang berhubungan langsung dengan ibu bayi maupun balitanya yang ada di masyarakat harus memberikan informasi yang cukup khususnya tentang imunisasi dasar lengkap, baik jenis dan manfaatnya maupun kemungkinan reaksi yang ditimbulkan pada tubuh bayi. Diharapkan dengan adanya informasi yang cukup jelas maka ibu bayi bisa tahu pentingnya pemberian imunisasi dasar lengkap dan bersikap positif mendukung program imunisasi, sehingga ke depannya hasil yang dicapai pada program imunisasi tersebut bisa meningkatkan angka cakupan imunisasi menjadi lebih tinggi, sekaligus bisa mencegah timbulnya Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).
Pada hasil penelitian di atas ternyata juga menunjukkan bahwa bayi responden pada kelompok treatment maupun kelompok kontrol telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap tepat waktu (sebanyak 98,1%). Apabila di
cross-ceck dengan hasil nilai rendah yang didapat pada kelompok kontrol ternyata responden sebenarnya kurang mengerti manfaat secara menyeluruh pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi. Sehingga kesimpulan peneliti adalah para ibu bayi mau datang menimbangkan bayinya secara rutin, bahkan merelakan bayinya mendapatkan imunisasi dasar lengkap tepat waktu, bukan karena pengetahuan yang mereka dapat tapi karena kebanyakan ibu bayi mau melakukannya, sebagai
commit to user
ajang berkumpul para ibu terlebih ada rangsangan pemberian makanan tambahan untuk anak mereka, meskipun disisi lain ada kekuatiran responden saat bayinya diberi imunisasi DPT timbul panas pada tubuh bayi (sebesar 46,2%). Hal ini mungkin bisa jadi perhatian bagi peneliti berikutnya, untuk melakukan penelitian lebih mendalam lagi perihal motivasi ibu bayi mau membawa anaknya ke Posyandu/Puskesmas secara rutin untuk di timbang maupun diberi imunisasi dasar secara lengkap.