BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan
Dari keempat fokus dalam penelitian ini, subjek pertama dapat menerima
dirinya sebagai perempuan tidak berkasta. Subjek merasa bahagia menikah
dengan suaminya kini karena subjek tidak ingin di jodohkan oleh orang tua.
Tekadang subjek memang merasa sedih karena harus meninggalkan orang tuanya
dan adanya konflik di keluarga besarnya. Akan tetapi, subjek tetap bisa merasa
bahagia karena terkadang subjek diijinkan untuk menjenguk kedua orang tuanya.
Subjek masih sering pulang kerumah kecilnya untuk bertemu kedua orang tuanya.
Komunikasipun masih lancar antara orang tua dan subjek. Hanya saja untuk
berkumpul dengan keluarga besar subjek tidak bisa, namun hal itu tidak membuat
subjek menyesal menikah. Subjek menjadi lebih pasrah mengenai keadaan
hidupnya kini. Hal ini menunjukkan subjek sesuai dengan aspek penyesuaian
sosial di bidang kepuasan pribadi. Adanya perasaan bahagia dalam diri subjek
setelah menikah turun kasta.
Selain itu, subjek juga merasa dirinya dapat diterima dengan baik di
keluarga tidak berkasta atau keluarga suaminya. Hal itu membuat subjek bahagia
dan tidak terlalu memikirkan kasta. Keadaan ekonomi yang menjadi salah satu
faktor pun juga tidak menjadi masalah dalam hidup subjek. Subjek merasa
berkecukupan dan tidak menuntut hal tersebut. Beberapa keluarga dari suami
subjek juga ada yang turun kasta, sehingga subjek tidak canggung karena ada
yang bernasib sama dengannya. Hal tersebut yang membuat subjek dengan
sesuai dengan aspek penyesuaian sosial pada penyesuaian diri terhadap kelompok.
Subjek mampu menyesuaikan diri di lingkungan keluarga suaminya.
Pada lingkungan tidak berkasta, subjek menjadi kurang dapat melakukan
penyesuaian sosial. Hal itu dikarenakan masih adanya penolakan di keluarga besar
subjek. Walaupun keluarga kecil subjek sudah menerima, namun keluarga besar
subjek masih menolak sehingga subjek menjadi mengalami kesusahan ketidak
melakukan penyesuaian sosial di lingkungan keluarga berkastanya. Hal ini tidak
sesuai dengan aspek penyesuaian sosial bagian penampilan nyata, dimana subjek
kurang dapat memenuhi harapan kelompoknya yaitu tetap menjadi perempuan
berkasta.
Pada lingkungan masyarakat, subjek juga kurang dapat melakukan
penyesuaian sosial. Hal itu dapat dilihat dari kurangnya keinginan subjek dalam
mengikuti kegiatan di masyarakat. Subjek merasa enggan dan tidak mau berbaur
dengan masyarakat. Padahal subjek tinggal di Bali yang ketat dengan kebudayaan
sosialnya dimana individu harus dapat bersosialisasi lingkungan tersebut karena
segala kegiatan berhubungan dengan masyarakat di desa adat tersebut. Memang
subjek saat berada di rumah dinas yaitu di Denpasar lingkungan subjek banyak
yang bukan umat Hindu. Akan tetapi, pada saat subjek di kampung suaminya
yang merupakan umat Hindu, subjek juga tidak ikut serta dalam kegiatan di
masyarakat. Subjek mengakui bahwa sudah ada ibu mertuanya yang melakukan
kegiatan di masyarakat, namun sebagai umat Hindu dan masyarakat Bali subjek
yang sudah menikah memiliki tanggung jawabnya sendiri dalam berkegiatan di
sosial. Subjek tidak ikut berpartisipasi dan kurang dapat menjalankan perannya
dengan baik dalam kegiatan sosial.
2. Subjek 2
Subjek kedua juga memiliki perasaan yang sama ketika harus menikah turun
kasta. Subjek merasa sangat bahagia dan tidak ada penyesalan dalam hidupnya
ketika menikah turun kasta. Subjek mengakui memang dari saat pacaran subjek
dan suami berpikir untuk menikah dan jika tidak diijinkan maka suaminya akan
menghamili subjek. Akhirnya hal itupun terjadi, dan subjek menikah dikarenakan
hamil terlebih dahulu. Sampai pada akhirnya subjek menikah dengan suaminya
dengan restu semua keluarganya. Hal ini sesuai dengan aspek penyesuaian sosial
pada kepuasan pribadi. Subjek merasa bahagia dengan status kasta yang kini
subjek sandang yaitu sebagai perempuan tidak berkasta. Hal tersebut dikarenakan
subjek telah menikah dengan suaminya yang subjek cintai.
Pada lingkungan keluarga tidak berkasta subjekpun juga merasa senang.
Subjek sangat diterima dan tidak mengalami masalah dalam berkehidupan di
lingkungan suaminya tersebut. keluarga suaminyapun tidak pernah melarang jika
subjek ingin pulang dan bertemu orang tua kandungnya. Hal itu membuat subjek
merasa nyaman tinggal di lingkungan keluarga suaminya. Kebebasan dan
dukungan untuk subjek sangat dirasakan subjek. Subjekpun juga merasa dirinya
harus dapat melakukan hal baik di keluarga suaminya. Hal itu tercermin ketika
subjek beraktivitas dilingkungan keluarga suaminya. Subjek menjadi lebih rajin
bangun pagi untuk melakukan kegiatan rumah tangga di banding ketika subjek
yang menyatakan bahwa subjek mampu menyesuaikan diri di lingkungan yang
baru.
Pada lingkungan keluarga berkasta, subjek tidak mendapat penolakan. Akan
tetapi, subjek tidak ingin berkumpul dengan keluarga besarnya. Hal itu
dikarenakan subjek merasa malu karena menikah turun kasta karena hamil.
Subjek tidak masalah ketika harus menikah turun kasta, namun karena subjek
hamil maka subjek kurang dapat berbaur dengan keluarga berkasta subjek. Hal ini
tidak sesuai dengan aspek penyesuaian sosial pada sikap sosial. Hal itu
dikarenakan subjek kurang mampu menunjukkan sikap yang menyenangkan
terhadap keluarga berkastanya. Walaupun keluarga berkastanya sudah dapat
menerima subjek, namun subjek yang menjauh dari keluarga berkastanya
dikarenakan malu.
Kemudian, untuk dilingkungan masyarakat terlihat subjek juga kurang dapat
berbaur dengan masyarakat disekitarnya. Hal itu diakui subjek bahwa subjek tidak
mengenal orang-orang di sekitar rumahnya. Subjek juga tidak pernah mengikuti
kegiatan di masyarakat karena sudah mertuanya yang mengikuti kegiatan tersebut.
pdahal harusnya subjek ikut serta dalam kegiatan tersebut dikarenakan subjek
sudah berkeluarga. Subjek memiliki tanggung jawabnya sendiri dalam
berkegiatan dimasyarakat. Hal ini tidak sesuai dengan aspek penyesuaian sosial
pada sikap sosial. Subjek tidak ikut berpartisipasi dan kurnag dapat menjalankan
3. Subjek 3
pada subjek ketiga, subjek juga mengaku bahagia menikah turun kasta.
Walaupun subjek mendapatkan penolakan yang sangat besar dari keluarga
berkastanya namun subjek tetap merasa bahagia. Subjek awalnya merasa sedih
karena harus menghadapi penolakan yang sangat besar. Akan tetapi, sejalannya
waktu keluarga berkasta subjek dapat menerima subjek sebagai perempuan tidak
berkasta dan subjekpun turut bahagia dengan penerimaan tersebut. Subjek
memang tidak masalah ketika subjek harus turun kastanya. Subjek merasa bahagia
dengan status kastanya karena dengan demikian subjek dapat bersama dengan
orang yang dicintainya. Pernyataan ini sesuai dengan aspek penyesuaian sosial
yang menyatakan adanya rasa puas, perasaan bahagia dan mampu menerima diri
sendiri apa adanya dalam situasi sosialnya kini.
Pada lingkungan keluarga tidak berkasta yaitu keluarga suaminya, subjek
juga merasa bahagia karena dia dapat diterima dengan baik di lingkungan
tersebut. Subjek merasa tidak ada masalah di lingkungan keluarga suaminya.
Subjek mendapat prilaku yang baik dan subjekpun berusaha untuk berprilaku
yang baik. Hal ini sesuai dengan aspek penyesuaian sosial ketika subjek dapat
menyesuaikan diri secara baik di lingkungan keluarga ini.
Selain itu, pada lingkungan keluarga berkasta subjek terlihat masih takut
untuk berkumpul dengan keluarganya. Walaupun kini keluarga subjek sudah
menerima subjek, namun kakek subjek masih kaku dan tidak dapat menerima
penurunan kasta subjek. Hal tersebut membuat subjek menjadi jarang pulang
lingkungan keluarga berkastanya. Hal tersebut tidak sesuai dengan penampilan
nyata pada aspek penyesuaian sosial. Hal tesebut dikarenakan subjek tidak dapat
memenuhi harapan kelompok yaitu sebagai perempuan berkasta.
Pada lingkungan masyarakat, subjek juga kurang dapat melakukan
penyesuaian sosial. Hal itu dikarenakan subjek yang jarang mengikuti kegiatan di
masyarakat dan lebih mengandalkan mertuanya dalam berkegiatan di masyarakat.
Subjek tidak pernah berbaur dan keluar dari rumah suaminya. Subjek merasa lebih
nyaman di lingkungan keluarga suaminya dibanding harus berkegiatan di
masyarakat. Jika ada kegiatan di masyarakat dan subjek di ajak oleh mertuanya
subjek hanya ikut namun diam dan tidak berbicara ataupun berbaur dalam
kegiatan sosial tersebut. Hal tersebut membuktikan bahwa subjek kurang dapat
melakukan penyesuaian sosial. Aspek yang tidak sesuai adalah sikap sosial
dimana subjek kurang mampu berpartisipasi dan kurang dapat menjalankan
perannya dengan baik dalam kegiatan sosial.