BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Pembahasan
4.4 Pembahasan
4.4.1 Keaktifan siswa
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Gunungpring 02 Muntilan kabupaten Magelang tahun pelajaran 2010/2011. Subjek dari penelitian ini adalah semua siswa kelas V SD Negeri Gunungpring 02. Penelitian ini dilaksanakan pada hari Senin, 17 Januari 2010. Dalam pengamatan keaktifan siswa yang dilakukan, peneliti mengacu pada empat aspek yang ada di dalam lembar pengamatan. Pengamatan keaktifan siswa tidak hanya dilakukan oleh peneliti saja, namun juga di dukung dengan wawancara guru dan wawancara kepada siswa. Dari hasil pengamatan keaktifan siswa yang dilakukan oleh peneliti, wawancara guru dan wawancara siswa diperoleh rata-rata 37,5. Kegiatan awal yang dilakukan adalah apersepsi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa. Peneliti bertanya kepada siswa “Negara manakah yang mendapat julukan Negara kincir angin?”. Setelah itu peneliti mengaitkan dengan materi yang akan di pelajari siswa tentang proses kedatangan bangsa Belanda ke wilayah nusantara. Setiap kelompok diminta untuk menjelaskan proses masuknya kedatangan bangsa Belanda ke wilayah nusantara. Kegiatan kedua adalah permainan dengan menggunakan amplop yang didalamnya terdapat gambar tokoh yang terkait dengan materi. Dari hasil pengamatan antara pengamatan yang dilakukan peneliti, wawancara guru dan wawancara siswa terjadi peningkatan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Pada pertemuan
pertama di siklus I siswa beberapa siswa kurang mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik sehingga siswa tersebut tidak dapat menjawab pertanyaan. Siswa belum percaya diri dalam menjawab dan menggunakan media karena siswa takut salah dalam menjawab pertanyaan. Siswa tidak mau menjawab karena malu jika jawaban siswa salah. Dalam berdiskusi siswa merasa tidak cocok dengan teman satu kelompok karena ada beberapa siswa yang saling bermusuhan. Pada pertemuan kedua, peningkatan keaktifan siswa terjadi karena peneliti menggunakan media video dalam menyampaikan materi. Dengan menggunakan video memudahkan siswa dalam memahami materi. Siswa menjadi lebih antusias sehingga suasana kelas menjadi terkendali. Perubahan anggota kelompok yang heterogen menjadikan kegiatan kerja kelompok dapat berjalan dengan baik.
Hasil pengamatan keaktifan siswa pada siklus II yang dilakukan oleh peneliti, wawancara guru dan wawancara siswa diperoleh rata-rata sebesar 91,7. Pada pertemuan pertama ini terjadi peningkatan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Peningkatan keaktifan siswa terjadi karena peneliti menggunakan permainanan yang menuntut setiap siswa aktif dalam mengikuti permainan tersebut. Permainan tersebut membuat anak berani menyampaikan pendapat dan menerima pendapat dari temannya. Siswa menjadi lebih antusias sehingga suasana kelas menjadi lebih interaktif. Siswa merasa lebih senang dan nyaman pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar tersebut. Perubahan anggota
kelompok yang heterogen menjadikan kegiatan kerja kelompok dapat berjalan dengan baik. Pada akhir siklus II ini terjadi peningkatan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Peningkatan keaktifan siswa terjadi karena peneliti menggunakan permainanan yang menuntut setiap siswa aktif dalam mengikuti permainan tersebut. Peneliti memeperbolehkan siswa untuk mengerjakan tugas diluar kelas. Dengan tidakan tersebut siswa merasa senang dan nyaman sehingga tugas terselesaikan dengan cepat dan tepat. Siswa menjadi lebih antusias sehingga suasana yang terjadi menjadi lebih interaktif. Siswa merasa lebih senang dan nyaman pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar tersebut.
4.4.2 Kerja Kelompok Siswa
Dalam kegiatan berdiskusi, peran kerja kelompok sangat penting dilakukan supaya tugas-tugas dapat diselesaikan dengan baik dan dapat diselesaikan tepat waktu sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Berdasarkan hasil pengamatan kerja kelompok pada siklus I yang dilakukan oleh peneliti yang didukung wawancara guru dan wawancara siswa diperoleh rata-rata 52,1. Pada siklus I, setiap kelompok diminta untuk menjelaskan proses masuknya kedatangan bangsa Belanda ke wilayah nusantara. Kegiatan kedua adalah permainan dengan menggunakan amplop yang didalamnya terdapat gambar tokoh yang terkait dengan materi. Hasil yang diperoleh adalah siswa kurangnya kerjasama yang dilakukan anggota kelompok. Siswa hanya mengandalkan
pada siswa yang pintar. Hal ini dikarenakan pembagian kelompok yang kurang heterogen. Dalam mengikuti kegiatan berdiskusi, banyak siswa kurang dapat bekerja sama dengan teman kelompok. Siswa mengikuti kegiatan diskusi kelompok dari awal hingga akhir akan tetapi belum dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Hal ini disebabkan karena siswa belum serius dalam menyelesaikan tugas dengan teman kelompok. Tingkat kerja sama yang terjalin dalam setiap anggota masih rendah, siswa masih bermain dan berbicara dengan teman. Selain itu masih banyak siswa yang belum dapat menerima pendapat dari teman kelompok. Sehingga masalah yang dihadapi dalam kelompok, tidak cepat terselesaikan.
Berdasarkan hasil pengamatan kerja kelompok pada siklus II yang dilakukan oleh peneliti yang didukung wawancara guru dan wawancara siswa diperoleh rata-rata 91,6. Pada siklus II terjadi peningkatan kerja kelompok siswa, karena siswa lebih antusias dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Siswa lebih berkonsentrasi mendengarkan penjelasan guru dalam menyampaikan materi. Tugas-tugas yang dikerjakan siswa juga selesai tepat waktu. Sebagian besar siswa dapat merespon pertanyaan yang diberikan oleh guru dengan baik. Siswa dapat menjawab dan menarik kesimpulan dari pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dalam penggunaan media, siswa sudah dapat menggunakan dan mendiskripsikan media tersebut dengan benar. Dalam pelaksanaan kerja kelompok yang dilaksanakan, siswa secara aktif mengajukan pendapat dan menanggapi jawaban dari teman. Kerja kelompok berjalan dengan baik
dan siswa dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Kemampuan menerima dan menaggapi pendapat dan jawaban teman kelompok siswa semakin meningkat. Pendapat yang disampaikan siswa sudah sesuai topik dan disampaikan dengan sopan. Dalam menyelesaikan tugas dalam kelompok siswa dapat mendiskripsikan media gambar dan menyelesaikan tugasnya tepat waktu.
4.4.3 Prestasi Belajar Siswa
Pada siklus pertama penelitian telah dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dengan pembagian kelompok yang terdiri dari 5 siswa. Pada pelaksanaan siklus pertama ini satu siswa mendapat nilai 90, dua siswa mendapat nilai 80, enam siswa mendapat nilai 75, empat siswa mendapat nilai 70, sembilan siswa mendapat nilai 65, tiga siswa mendapat nilai 60, lima siswa mendapat nilai 55, tiga siswa mendapat nilai 50, dua siswa mendapat nilai 45 dan dua siswa mendapat nilai 40. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa siswa yang memperoleh nilai rata-rata diatas nilai KKM pada akhir siklus pertama sebanyak 22 siswa atau mencapai 59,5% dari 37 siswa. Siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 15 siswa atau 40,5%. Hal ini disebabkan karena ada beberapa siswa tersebut yang kurang memperhatikan penjelasan guru, kurang antusias dan tidak serius dalam mengikuti kegiatan belajar. Nilai rata-rata siswa pada akhir siklus pertama mencapai 63,2. Karena hasil akhir dalam penelitian siklus pertama belum mencapai idikator
keberhasilan akhir siklus dua, maka penelitian dilanjutkan pada siklus ke dua.
Penelitian pada siklus dua dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan yang sama dengan pembagian kelompok yang terdiri dari 3 siswa. Pada siklus kedua ini terjadi peningkatan hasil prestasi siswa, satu siswa mendapat nilai 95, empat siswa mendapat nilai 85, sepuluh siswa mendapat nilai 80, empat siswa mendapat nilai 75, empat siswa mendapat nilai 75, lima siswa mendapat nilai 70, empat siswa mendapat nilai 65, delapan siswa mendapat 60, dan satu siswa mendapat nilai 50. Dalam pelaksanaan penelitian siklus dua, siswa lebih memperhatikan penjelasan guru. Siswa lebih antusias dan aktif dalam bekerja sama dengan teman kelompok dalam mengikuti kegiatan belajar. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata nilai KKM pada akhir siklus dua sebanyak 28 siswa atau sebesar 75,67%. Kerena dalam siklus ke dua ini nilai rata-rata siswa sudah mencapai indikator keberhasilan siklus dua maka siklus tidak dilanjutkan.
Dari hasil penelitian diatas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan prestasi siswa dari kondisi awal 26,9% ke siklus pertama mencapai 59,5% dan hasil siklus kedua mencapai 75,67%. Dengan demikian, hasil penelitian diatas membuktikan hipotesis bahwa penggunaan pendekatan konstruktivisme media gambar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang berkaitan dengan mendiskrisikan perjuangan para tokoh pejuang
pada masa penjajahan Belanda dan Jepang siswa kelas V di SD N Gunungpring 02 Muntilan pada tahun pelajaran 2010/2011.