• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. PEMBAHASAN

Berdasarkan dari fokus penelitian ini maka dapat disampaikan tentang temuan di lapangan bahwa bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi adalah bentuk kekerasan fisik seperti memukul, dan kekerasan verbal seperti berkata-kata kasar. Ironisnya subjek beranggapan bahwa berkata-kasar tidak termasuk dalam kategori KDRT. Menurut subjek yang di maksud dengan KDRT adalah kekerasan fisik yang disertai dengan bukti lebam pada tubuh korban.

68

Konsep yang dimiliki subjek tentang KDRT tidak sesuai dengan kajian teori yang menyebutkan bentuk-bentuk KDRT, antara lain: (1). Kekerasan fisik seperti: memukul, menendang, dan lain-lain yang mengakibatkan luka, rasa sakit, atau cacat pada tubuh. (2). Kekerasan psikis adalah suatu tindakan penyiksaan secara verbal. Seperti menghina, berkata kasar dan kotor yang mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri, meningkatkan rasa takut. (3). Kekerasan Seksual adalah suatu perbuatan yang berhubungan dengan memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual dengan cara-cara yang tidak wajar. (4). Kekerasan Ekonomi. adalah suatu tindakan yang membatasi istri untuk bekerja di dalam atau di luar rumah untuk menghasilkan uang dan barang, termasuk membiarkan istri yang bekerja untuk di-eksploitasi (Baquandi, 2009). Temuan selanjutnya berdasarkan dari fokus penelitian yang dapat disampaikan adalah tentang kebermaknaan hidup pelaku KDRT hingga akhirnya insaf. Sebagaimana teori kebermaknaan hidup menurut (Bastaman, 2007) bahwa ada lima metode dalam menemukan makna hidup yaitu: (a). Pemahaman pribadi. (b). Bertindak positif. (c). Pengakraban hubungan. (d). Pendalaman nilai. (e). Ibadah yang dijelaskan sebagai berikut.

Temuan di lapangan tentang metode kebermaknaan hidup bahwa subjek menemukan makna hidup dengan memahami diri sendiri. Subjek menyadari dan mengakui segala kekurangan diri yang cenderung memiliki

69

terdapat faktor pemicu yang mendahuluinya. Setelah menyadari kekurangan diri subjek pun insaf dan berinisiatif menjalani kehidupan selanjutnya dengan hal-hal positif.

Temuan di lapangan tentang metode kebermaknaan hidup bahwa subjek menemukan makna hidup dengan bertindak positif. Subjek mulai mengisi kegiatan sehari-hari dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Seperti, mengurus pekerjaan rumah, bekerja sampingan selain pekerjaan utama sebagai pengusaha, mengerjakan ibadah sholat lima waktu secara berjamaah di masjid, menjadi muadzin di mushollah.

Temuan di lapangan tentang metode kebermaknaan hidup bahwa subjek menemukan makna hidup dengan melakukan pengakraban hubungan terhadap orang lain. Subjek menjadikan orang tua sebagai figur modeling yang cenderung diidolakan sehingga sedikit banyak mempengaruhi keputusan dan perilaku subjek, nasehat yang disampaikan orang tua subjek menjadi tolok ukur perilakunya sehingga mampu membawa dirinya dalam berbagai macam pergaulan. Seperti melibatkan diri dalam kegiatan sosial, sholat berjamaah, menjadi muadzin, menghadiri pengajian.

Temuan di lapangan tentang metode kebermaknaan hidup bahwa subjek menemukan makna hidup dengan melakukan pendalaman nilai. Dengan memiliki filosofi hidup maka subjek cenderung melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih terarah sesuai dengan nilai-nilai yang

70

didalaminya. Seperti berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat, setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri. Dalam arti mampu memimpin diri sendiri di jalan ajaran Allah SWT. Selanjutnya berusaha dapat bermanfaat bagi istri, anak, dan keluarga serta orang lain. Dan menurut subjek setiap kegiatan di dalam hidup bernilai ibadah. Dalam arti ibadah untuk berbuat kebajikan kepada sesama manusia.

Temuan di lapangan tentang metode kebermaknaan hidup bahwa subjek menemukan makna hidup dengan melakukan ibadah. Ibadah yang di maksud adalah segala ajaran agama yang dibawa dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Baik itu ibadah yang berhubungan dengan janji kepada Allah SWT (hablumminaAllah) atau pun ibadah yang berhubungan dengan janji kepada manusia (hablumminannas). Dan tidak akan berarti apa-apa ibadah kepada Allah SWT apabila hubungan terhadap manusia kurang harmonis.

Temuan selanjutnya berdasarkan dari fokus penelitian yang dapat disampaikan adalah tentang manfaat kebermaknaan hidup pelaku KDRT hingga akhirnya insaf. Makna hidup yang dimiliki subjek menjadikan kehidupannya cenderung lebih bernilai, merasakan kedamaian, tentram (sakinah, mawadah, warohmah), tidak ada keragu-raguan atau was-was dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Temuan lain yang didapat peneliti di lapangan adalah tentang konsep kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sebagaimana yang diuraikan di

71

kekerasan fisik yang dibuktikan dengan lebam pada tubuh korban. Dan hal tersebut tidak sesuai dengan kajian teori terkait bentuk-bentuk KDRT. Temuan lain yang didapat peneliti di lapangan adalah tentang konsep kebermaknaan hidup. Bahwa makna hidup merupakan pedoman hidup yang menjadikan kehidupan cenderung lebih bernilai dan cenderung lebih bahagia. Makna hidup yang hakiki dianggap sebagai pedoman agar dapat selamat dunia akhirat dengan mengerjakan ajaran agama, mengikuti Nabi Muhammad SAW, mesti selamet, membaca dan memahami isi kandungan Al- Qur’an dan Hadits secara murni.

Temuan lain yang didapat peneliti di lapangan berupa konsep kebermaknaan hidup sesuai dengan kajian teoritik yang menjadi dasar fokus penelitian ini. Yaitu, Nilai-nilai yang dianggap penting sebagai tujuan hidup yang harus dipenuhi bisa ditemukan melalui tiga cara logotheraphy dari Frankl (1990), yaitu: a) menciptakan suatu pekerjaan atau melakukan suatu perbuatan (nilai kreatif), b) mencoba untuk mengalami sesuatu atau bertemu dengan seseorang (nilai pengalaman), c) mengambil sikap untuk menghadapi penderitaan yang tidak dapat dihindari (nilai sikap). Kepuasan hidup yang lebih besar, lebih bahagia, dan depresi yang rendah dijumpai pada individu yang telah memiliki makna hidup yang kuat.

Setelah seorang terbiasa hidup dengan perilaku kerasnya kemudian berkesempatan menemukan jalan yang sesuai dengan tuntunan agama, dan mengerjakan ibadah secara terus-menerus sehingga ahirnya mendapatkan

72

kebermaknaan dalam hidup. Dengan pemahaman hidup yang baru seorang kemudian belajar untuk merespon dengan cara yang baru saja dipelajarinya. Dalam penelitian ini seorang yang dulunya merespon setiap stimulus dengan cenderung mudah marah lantas, dengan makna hidup yang ditemukan seorang tersebut merespon dengan cara baru yang cenderung lebih toleran.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk-bentuk KDRT pelaku, menggambarkan proses kebermaknaan hidup, dan menemukan manfaat kebermaknaan hidup yang dialami pelaku KDRT. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan triangulasi sebagai validasi data. Subjek penelitian adalah mantap pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ada dua subjek yang dijadikan sumber informasi dengan jenis studi kasus kebermaknaan hidup mantan pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Penelitian ini menemukan beberapa temuan, yaitu bentuk-bentuk KDRT pelaku adalah kekerasan verbal dan fisik. Hanya saja subjek berasumsi kekerasan verbal tidak termasuk sebagai bagian dari KDRT. Kebermaknaan hidup yang dialami pelaku KDRT sehingga akhirnya insaf diperoleh dengan melakukan berbagai metode. Seperti, metode pemahaman diri (kesadaran subjek akan perilaku kekerasan yang dilakukan sebagai perilaku salah); metode bertindak positif (dari kesadaran diri subjek hanya mengisi aktivitas sehari-hari dengan kegiatan positif yang bermanfaat); metode pengakraban hubungan (subjek menjadikan orang tua sebagai figur modeling dan mengikuti nasehat orang tua serta bergaul secara luas dalam kegiatan sosial yang beroriantasi kepada orang lain); metode pendalaman nilai (memiliki falsafah hidup); dan metode ibadah (mengerjakan ibadah secara terus menerus, mengerjakan

74

perintah dan meninggalkan larangan agama). Sehingga makna hidup memberikan manfaat kepada subjek seperti hidup menjadi lebih bernilai dan lebih bahagia.

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk-bentuk KDRT oleh pelaku adalah kekerasan bentuk verbal dan fisik. Hanya saja subjek berasumsi kekerasan verbal tidak termasuk sebagai bagian dari KDRT. Kebermaknaan hidup yang dialami pelaku KDRT sehingga akhirnya insaf diperoleh dengan melakukan berbagai metode. Seperti, metode pemahaman diri (kesadaran subjek akan perilaku kekerasan yang dilakukan sebagai perilaku salah); metode bertindak positif (dari kesadaran diri subjek hanya mengisi aktivitas sehari-hari dengan kegiatan positif yang bermanfaat); metode pengakraban hubungan (subjek menjadikan orang tua sebagai figur modeling dan mengikuti nasehat orang tua serta bergaul secara luas dalam kegiatan sosial yang beroreantasi kepada orang lain); metode pendalaman nilai (memiliki falsafah hidup); dan metode ibadah (mengerjakan ibadah secara terus menerus, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan agama). Sehingga makna hidup memberikan manfaat kepada subjek seperti hidup menjadi lebih bernilai dan lebih bahagia.

B. Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan yang diuraikan di atas maka peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut: 1. Bagi subjek penelitian terkait

75

meningkatkan kualitas hidupnya lagi, meningkatkan komitmen pribadi yang direalisasikan dalam berbagai bentuk aktivitas sosial dan keagamaan (ibadah). 2. Bagi LSM atau pihak yang berwenang terkait KDRT. Untuk melakukan sosialisasi pemahaman mengenai KDRT secara utuh dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Balgies, S. (2011). Wawancara teori & aplikasi dalam psikogiagnostik. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Pers.

Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi:Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Baumeister, R. F. & Vohs, K. D. (2002). The Pursuit of Meaningfulness in Life. Dalam Handbook of Positive Psychology (Ed. Snyder, C. R., & Lopez, S. J.), pp. 608-618. New York: Oxford University Press.

Bukhori, B. (2012). Hubungan Kebermaknaan Hidup Dan Dukungan Sosial Keluarga Dengan Kesehatan Mental Narapidana (Studi Kasus Nara Pidana Kota Semarang). Jurnal Ad-din, 4 (1), Januari-Juni: 1-19.

Chaplin. 2000. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Charlys., Kurniati, Ni Made. (2007). MAKNA HIDUP PADA BIARAWAN . Jurnal Psikologi 1 (1), Desember, 33-39.

Creswell, J.W. (2004). Research Design Pendekatan Kualitatif , Kuantitatif dan Mixed. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Dindaswari. (2007). Alkohol dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

berdasarkan sudut pandang perempuan. http//www.multiply.dindaswari.com. Diakses 18 April 2015.

Fauziah, N. (2011). Psikodiagnostik 2 (Observasi). Surabaya: IAIN Sunan Ampel. Firmansyah, E. (2007). Mengurai Benang Kusut Kekerasan pada Anak (1 paragraf).

http//www.padangekspres.co.id. Diakses 18 April 2015.

Gan, E. (2012). The Meaning of Life After Retirement. Diakses dari

http://www.transitioning.org/2009/10/23/themeaning-of-life-after- retirement-today-10-oct/, tanggal 18 April 2015.

Hadi, S.M. (2006). Derita Anak, Derita Bangsa: Kekerasan terhadap Anak Meningkat, Pelaku Orang Terdekat (1 paragraf).http//www.kompas.com/ kesehatan/news. Diakses 18 April 2015.

Hasanah, M. (2009). Kekerasan dalam rumah tangga (studi kualitatif mengenai kekerasan dalam rumah tangga di LBH APIK Semarang). Jurnal KDRT, 13, 1-13.

74

Hasanah, M., Alsa, A., & Rustam, A. (2003). Kekerasan dalam rumah tangga (Studi kualitatif mengenai kekerasan dalam rumah tangga di LBH APIKSemarang). Semarang: Penerbit Sultan Agung.

Hawari, D. (2009). Penyiksaan fisik dan mental dalam rumah tangga (domestik violence). Jakarta: Balai Penerbit.

Hidayat, T. (2006, Oktober). Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (1

paragraf).http//www.pikiran-rakyat.com. Diambil 18 April 2015. http://www.surabayapagi.com/index.php?read~ Cegah-KDRT,-Lakukan-

Pendampingan-Suami;koalisi perempuan indonesia

Katz, R. (1960). The Functional Approach to The Study Of Attitude. Pub. Op. Qart. Lembaga Bantuan Hukum untuk Perempuan dan Keadilan (LBH APIK) Jakarta, (2002),

Angka Kekerasan di Jakarta tahun 1998-2002, Jakarta: LBH APIK

Lianawati, E. (2009). Tiada keadilan tanpa kepedulian KDRT: Perspektif psikologi feminins.Yogyakarta: Paradigma Indonesia.

Mirzawati, N. (2013). Kebermaknaan hidup pada odha (orang dengan HIV AIDS) wanita di kota Bukit Tinggi. Jurnal keperawatan komunitas. 1(1), Mei: 113- 125.

Missa, L. (2010). Studi kriminologi penyelesaian kekerasan dalam rumah tangga (kdrt) di wilayah masyarakat adat kota kupang. Semarang:Tesis Magister Ilmu Hukum UNDIP.

Moleong, Lexy. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Notoatmodjo. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rhineka Cipta. Nurrachmawati, A., Nurohma., Rini, Mustika. (2013). Potret Kesehatan Perempuan

Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak Kalimantan Timur) A Potrait of Health of Women Who Are The Victims of Domestice Violence (A Case Study from The Integrated Service of Women and Child Empowerment in East Kalimantan) . Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol. 3 No 1, April, 24 ± 37. Park, C. L., Malone, M. R., Suresh, D. P., Bliss, D., Rosen, R. I. (2008). Coping,

Meaning in Life, and Quality of Life in Congestive Heart Failure Patients. Quality Of Life Research, 17:21±26.

75

Park, N., Park, M. & Peterson, C. (2010). When is the Search for Meaning Related to Life Satisfaction? Applied Psychology: Health And Well-Being, 2 (1), 1±13. Poerwandari, K. (1995). Kekerasan Terhadap Perempuan Tinjauan Psikologi

Feministik, Makalah, Program Kajian Wanita PPS-UI, Jakarta.

Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development, 13th Edition. New York: McGraw- Hill.

Saraswati, R. (2009). Perempuan dan penyelesaian kekerasan dalam rumah tangga. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Schiraldi, G. R. (2007). 10 Simple Solutions for Building Self-Esteem, How to End Self-Doubt, Gain Confidence & Create APositive Self-Image. Oakland, CA: New Harbinger Publications, Inc.

Selviana, M. (2010). Sikap Istri Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Di

:LOD\DK.DPSXQJµ;¶-DNDUWDJurnal Psikologi 8 (1), Juni, 1-10.

Setiyorini, A. (2006). Faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku. Buletin Care: Akper Panti Rapih.

Setyarini, R., Atamimi, N. (2011). Self-Esteem dan Makna Hidup pada Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jurnal psikologi 38 ( 2), Desember : 176 ± 184. Steger, M. F. (2011). Meaning in Life. Dalam The Oxford Handbook of Positive

Psychology, 2nd Edition. (Ed. S. J., Lopez & C. R., Snyder). New York: Oxford University Press.

Steger, M. F., Frazier, P., Oishi, S., & Kaler, M. (2006). The Meaning in Life Questionnaire: Assessing the Presence of and Search for Meaning in Life. Journal of Counseling Psychology, 53(1), 80±93

Steger, M.F., Frazier, Oishi, S., & Kaler, M. (2006). The meaning in Life Questionnaire: Assessing the Presence of and Search for Meaning in Life. Journal of Counseling Psychology, 53 (1), 80-93.

Steger, M. F., Oishi, S. & Kashdan, T. B. (2009). Meaning In Life Across The Life Span: Levels and Correlates of Meaning in Life From Emerging Adulthood To Older Adulthood. The Journal of Positive Psychology. 4(1), 43-52. Subhan, Z. (2001). Kodrat perempuan takdir atau mitos. Yogyakarta: Pustaka

Sukri, S. S. (2004). Islam Menentang Kekerasan terhadap Istri. Yogyakarta: Gama Media.

76

Tarigan, A., Sutjipto, A., Wibawa, D., Yudhan, E., Soenaryo, H., Harsono, I., &Tjambang, J., dkk. (2001). Perlindungan terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan: (Bacaan bagi awak ruang pelayanan khusus-police women desk) Derap-warapsari psikologi feminins.Yogyakarta: Paradigma Indonesia.

Wahab, R. (2010). Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Perspektif Psikologis dan Edukatif. Yogyakarta: UII.

Yayasan Jurnal Perempuan Indonesia, 2002, h. 148

Baquandi. (2009). Kekerasan dalam rumah tangga. Malang: Skripsi Psikologi Universitas Negeri Malang.

Tamrib, A., Tamagola. (2000). Restu Sosial Budaya atas kekerasan terhadap perempuan, dalam Negara dan kekerasan terhadap perempuan, Jakarta : The Asia Foundation ± Yayasan Jurnal Perempuan, hal 103-104 .

Josephine . (2009). Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga Terhadap Pola Perilaku Anak. Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember.

Dokumen terkait