• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Keberhasilan suatu proses pembelajaran sendiri dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku. Berhasilnya belajar tergantung kepada beberapa faktor, yaitu 1) faktor psikologis, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik meliputi : intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kelelahan. 2) faktor lingkungan sosial, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor sosial yang berpengaruh pada hasil belajar antara lain sebagai berikut : lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Dari hasil kegiatan pembelajaran matematika materi bangun datar segitiga menggunakanmetode demonstrasi dengan alat peraga yang dilakukan selama penelitian, diperoleh beberapa temuan hasil tindakan sebagai berikut : 4. Penerapan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Matematika

Metode demonstrasi yang dikaji dalam penelitian ini merupakan suatu metode pembelajaran yang diharapkan dapat mewujudkan proses pembelajaran yang efektif untuk menolong siswa dengan melakukan berbagai cara, dari yang sekedar memberikan pengetahuan yang sudah diterima begitu saja oleh peserta didik, sampai cara agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah dalam pembelajaran matematika bangun datar segitiga. Metode demonstrasi tidak mengharuskan siswa untuk mengahafal rumus-rumus yang terdapat pada matematika, tetapi penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Sehingga siswa dapat memiliki rasa ingin tahu dan rangsangan visual siswa serta dapat menerapkan di kehidupan sehari-hari.

Sebelum metode demonstrasi diterapkan pada kelas eksperimen, perlu menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol dan diketahui bahwa kedua kelas memiliki kemampuan awal yang berbeda.Oleh karena itu, peneliti melakukan pengambilan data dari nilai pretest yang dilakukan di

kelas VII-F dan VII-H sebagai data awal.Pemberian tes ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan siswa mengingat materi bangun datar segitiga ketika menduduki bangku Sekolah dasar (SD).Diperoleh kelas VII-H sebagai kelas eksperimen dan VII-F sebagai kelas kontrol.Penetapan kelas eksperimen dan kontol berdasarkan rata-rata hasil pretest yang rendah dan tinggi. Diketahui rata-rata hasil pretest kelas VII-F adalah 64,18%, dan kelas VII-H adalah 5,9%

Langkah-langkah yang dilakukan pada metode ini adalah proses pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru kemudian diikuti peserta didik dengan mendemonstrasikan alat peraga yang sesuai dengan tema pembelajaran setiap pertemuan. Dengan begitu siswa mendapatkan kesempatan untuk melakukan percobaan yang dapat memberikan pengalaman menemukan ide baru dalam memecahkan masalah setiap kegiatan penemuan dan membantu siswa memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda. Terlebih siswa menjadi lebih memahami melalui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan obyek sebenarnya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Utari Sumarno (2004:5) bahwa pembelajaran matematika diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir matematis (meliputi: pemahaman, pemecahan masalah, penalaan, komunikasi, dan koreksi matematis), kritis serta sikap yang terbuka dan objektif, dan untuk itu pembelajaran matematika yang hanya membuat pasif siswa harus dihindarkan. Meskipun pada teorinya dalam pembelajaran matematika siswa disiapkan untuk mempunyai kemampuan berpikir matematis, kritis, serta sikap yang terbuka dan ojektif tetapi pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian, peneliti terpaksa misalnya menjelaskan dengan menggunakan papan tulis, biasanya hal tersebut terjadi ketika peneliti memberikan penekanan terhadap suatu materi dan membantu siswa yang kurang paham, karena siswa mengalami lupa terhadap materi bangun datar segitiga tersebut yang mempunyai teori dan rumus yang cukup banyak. Namun hal itu akan menjadi motivasi, apabila

peneliti menggunakan alat peraga yang menyenangkan dalam menyajikan proses kejadian, sehingga materi yang didapatkan melalui pengalaman akan mudah ditangkap dan menurunkan keabstrakan konsep. Sebagaimana diungkapkan oleh Surdjana (2009), alat peraga pendidikan suatu alat bantu yang dapat membantu guru dalam proses mengajar serta dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan belajar (Wijaya dan Rusyan, 1994).

Pada penelitian ini alat peraga yang digunakan untuk menjelaskan materi bangun datar segitiga adalah macam-macam segitiga berasal dari bahan sedotan serta papan paku untuk menemukan keliling dan luas segitiga.Adanya alat peraga ini tidak menjamin terpusatnya perhatian siswa terhadap alat tersebut.Untuk menghindari hal tersebut hendaknya guru mengajak siswa berpartisipasi secara aktif. Sebelum siswa melakukan percobaan, peneliti memberikan contoh terlebih dahulu cara kerja alat peraga tersebut dengan metode demonstrasi, karena tidak semua siswa sadar dengan yang dilihatnya.

5. Peningkatan Motivasi

Peningkatan motivasi belajar siswa pada penelitian dapat dilihat dari hasil lembar kuesioner.Lembar kuesioner diisi oleh siswa pada awal pertemuan dan akhir pertemuan.Cara ini dilakukan peneliti untuk mengetahui motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah dilaksanakan penelitian di kelas eksperimen.Berikut adalah grafik yang menunjukkan motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah penelitian.

Gambar 4.7.

Grafik Persentase Motivasi Belajar

57.147 58.47 0 10 20 30 40 50 60 70

Gambar di atas merupakan grafik hasil kuesioner motivasi yang diisi oleh siswa.Hasil skor rata-rata siswa merupakan kategori tinggi dan terjadi peningkatan pada motivasi awal dan akhir.Dari hasil tersebut dapat terlihat bahwa motivasi belajar siswa sejak awal sudah rendah atau hanya memiliki satu tingkat dari indikator keberhasilan yang ditetapkan, sehingga peningkatan pada akhir kuesioner juga mengalami satu tingkat lebih tinggi dari motivasi awal setelah dilaksanakan metode pembelajaran demonstrasi.Oleh sebab itu motivasi yang dimiliki siswa kelas VII-H ini telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan oleh peneliti.

Pada saat setelah penelitian motivasi belajar siswa semakin meningkat.Menggunakan metode demonstrasi dapat dijadikan suatu metode mengajar di bidang pendidikan yang bagus, dimana dapat membantu siswa memahami dengan jelas jalannya suatu kegiatan secara nyata menggunakan alat peraga yang berkaitan dengan materi. Sebagaimana diungkapkan oleh Syaifudin Bahri Djamarah (2000), mengatakan bahwa kelebihan metode demonstrasi yang memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Peningkatan persentase juga menunjukkan adanya pengaruh penggunaan metode yang digunkan mangajar serta motivasi ekstrinsik dalam mengikuti pelajaran matematika.

Penggunaanmetode demonstrasi merupakan suatu cara yang dapat menarik perhatian siswa untuk meningkatkan motivasi ekstrinsik siswa dalam mengikutipembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan teori Santrock (2007) yang mengatakan bahwa motivasi ekstrinsik adalah hal dan keaadan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.Pujian dan hadiah, peraturanatautata tertib sekolah, teladan orangtua, guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar.Motivasi ekstrinsik siswa dapat berkembang bisa jadi karena adanya metode demonstrasi yang dapat merangsang rasa ingin tahu siswa

tentang suatu hal baru yang melibatkan mereka secara aktif menjadi subjek dalam pembelajaran.

Metode demonstrasi juga membuat siswa senang, sehingga dapat mendorong siswa berpartisipasi dan merubah keaktifan siswa yang tidak mempunyai makna menjadi suatu keaktifan bermakna, sebagai contoh siswa sudah tidak lagi tiduran di meja selama proses pembelajaran. Hal ini membuat metode demonstrasi menjadi sangat menarik digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) terutama dalam mempelajari materi yang bersifat abstrak dan membuat siswa bosan serta ngantuk. Oleh sebab itu metode ini sangat cocok digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Alat peraga merupakan salah satu cara yang digunakan dalam metode ini untuk mempelajari materi yang bersifat abstrak dan membuat siswa menjadi bosan serta mengantuk. Oleh sebab itu metode ini sangat cocok digunakan untuk meningkatkan motivasi siswa.

6. Peningkatan Hasil Belajar

Hasil belajar meningkat setelah menerapkan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika.Hal ini ditunjukkan dengan adanya aspek kognitif dan aspek afektif.

a) Hasil Belajar Aspek Kognitif

Peningkatan hasil belajar aspek kognitif siswa pada materi bangun datar segitiga menggunakan metode demonstrasi diperoleh hasil tes belajar siswa yaitu pretest dan posttest. Hasil ketuntasan data aspek kognitif dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

Gambar 4.8

Dari analisis didapatkan nilai pretest terdapat 5,9% yang tuntas standar KKM 75. Pada nilai posttest jumlah siswa yang mencapai KKM adalah 35,3%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pada pembelajaran matematika dengan menggunakan metode demonstrasi. Hasil belajar aspek kognitif belum memenuhi indikator target keberhasilan peneliti yaitu 50% siswa mendapat nilai KKM yaitu 75.

Dari hasil peningkatan hasil belajar siswa pada materi bangun datar segitiga setelah dilakukan penelitian ini, maka hasil yang didapat menunjukkan bahwa menggunakan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika menjadi salah satu alternative metode pembelajaran yang tepat terutama pada materi bangun datar segitiga yang bersifat abstrak, sehingga membuat siswa tidak merasa jenuh dan bosan. Lain hal jika belajar hanya membaca buku atau mendengarkan ceramah guru, maka siswa akan cepat bosan dan jenuh. Dengan adanya metode demonstrasi siswa menjadi aktif dan termotivasi untuk belajar karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan ciri khas pembelajaran matematika menggunakan metode demonstrasi yang mengatakan digunakannya masalah atau soal-soal konkret atau yang ada dalam pikiran siswa dengan masalah realistik yang diharapkan dapat membuat siswa berfikir aktif sejak awal dan siswa sendiri menemukan konsep yang akan dipelajari.

5.90% 35.30% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00% 40.00% Pretest Posttest

Peningkatan persentase hasil belajar dipengaruhi dengan motivasi siswa yang menunjukkan perubahan motivasi ekstrinsik siswa yaitu disebabkan adanya pembelajaran matematika menggunakan metode demonstrasi.Dalam penelitian ini terjadi kedekatan antara peneliti dan siswa melalui menemukan ide untuk memecahkan masalah dalam kegiatan pembelajaran.Sehingga siswa tidak takut dan ragu saat menyampaikan pendapatnya ataupun bertanya mengenai materi yang belum dipahami.

Dalam penelitian ini alat peraga juga berpengaruh pada motivasi ekstrinsik siswa yang merupakan media mengajar di pendidikan untuk mewujudkan metode demonstrasi pada pembelajaran matematika yang dilaksanakan peneliti. Namun dibalik itu penggunaan alat peraga ini cenderung untuk media bermain dan bercanda pada beberapa siswa dengan siswa lain dalam kelompoknya, contoh alat peraga papan paku. Sehingga penggunaan alat peraga dalam diskusi kelompok lebih banyak menguras waktu yang tersedia dan menuntut peneliti agar selalu mengkondisikan siswa yang bersikap gaduh karena menggunakan pembelajaran model baru ke siswa.Selain itu banyak siswa yang meminta penjelasan ulang tentang instruksi yang telah disampaikan secara berkelompok.Maka peneliti sekaligus berusaha menjadi pembimbing belajar siswa yang belum jelas. Hal itu mengakibatkan materi tidak bisa dijelaskan secara maksimal setiap pertemuannya.Dengan demikian pengunaan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga belum dapat dikatakan berhasil.Hal ini berdasarkan teori yang telah disampaikan bahwa penggunaan alat peraga itu gagal bila memboroskan waktu dan penggunaan alat peraga cenderung rumit.Teori ini dapat dibuktikan juga melalui hasil posttest yang belum mencapai indikator ketuntasan, yaitu sebanyak 50% siswa mencapai KKM 75.

b) Hasil Belajar Aspek Afektif

Berdasarkan analisis observasi yang dilakukan selama penelitian adanya peningkatan skor rata-rata, pada metode pembelajaran konvensional 45,75 % menjadi 76,22 % pada metode pembelajaran demonstrasi. Skor rata-rata siswa dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.9

Grafik Hasil Belajar Aspek Afektif

Dari gambar di atas dapat dinyatakan bahwa pencapaian hasil belajar aspek afektif siswa sudah mencapai indikator keberhasilan.Siswa dan peneliti dapat menjadi partner dalam belajar, sehingga memunculkan kedekatan dan membuat siswa menjadi aktif dan berani bertanya maupun menyampaikan pendapat dan bersemangat mengerjakan perintah dari peneliti.Peningkatan dari hasil belajar afektif siswa yang telah diamati peneliti juga menjadi bukti bahwa siswa telah belajar.Sebagaimana telah diungkapkan berdasarkan kesimpulan para ahli belajar adalah salah satu kegiatan guna memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui interaksi individu terhadap lingkungan yang ditandai dengan perubahan tingkah laku dalam dirinya.Jadi bukan hanya terbatas pada segi kognitif saja, melainkan dari segi afektif.

45.75% 76.22% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% Konvensional Demonstrasi

Dokumen terkait