• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Pembahasan Validitas Leaflet

Berdasarkan analisis muka-belakang, ditemukan beberapa permasalahan dalam pembelajaran matematika serta solusi untuk mengatasinya. Baik itu masalah dalam perangkat pembelajaran guru, sumber belajar dan karakteristik siswa. Itu semua didapatkan saat peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan guru dan siswa. Saat ditelusuri lebih lanjut, peneliti menemukan 2 masalah pokok yang menjadi kendala dalam pembelajaran matematika yaitu : kendala dalam pemahaman konsep dan kendala dalam penggunaan sumber belajar.

Pertama, mengenai perangkat pembelajaran guru. dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah dikatakan bahwa seharusnya guru mampu merancang pembelajaran yang efektif. Usaha yang dilakukan oleh seorang guru agar terciptanya pembelajaran yang efektif adalah merancang silabus, RPP, dan penyiapan media atau sumber belajar. Akan tetapi itu semua tidak peneliti temukan saat melaksanakan observasi lapangan. Saat proses pembelajaran guru tidak menggunakan RPP sebagai acuan dalam proses pembelajaran. Selain itu saat diwawancarai mengenai perangkat pembelajaran, guru matematika tersebut mengakui bahwa ia memang tidak mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan baik. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika pembelajaran yang berlangsung memang terkesan monoton pada satu metode atau model pembelajaran yang dikuasai guru saja.

Berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan guru cenderung mengajar dengan metode ceramah dan tidak melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika. Kemudian dalam mengajarkan suatu konsep, guru tidak selalu menjelaskannya dengan terperinci sehingga pemahaman siswa akan materi matematika tidak tersusun dengan baik. Pembelajaran seperti ini tentu tidak menarik minat siswa untuk belajar matematika. Padahal matematika bisa lebih menarik jika disusun dengan konsep yang baik, runtun, dan menarik. Selanjutnya saat diwawancarai secara langsung, guru matematika tersebut mengakui bahwa ia kurang mengerti dengan metode pembelajaran efektif pada kurikulum 2013 saat ini. Menurutnya pembelajaran akan lebih baik dan tersampaikan jika menggunakan metode atau model pembelajaran yang sering ia gunakan.

Selanjutnya jika dilihat dari faktor siswanya, peneliti sering menemukan keadaan dimana siswa kurang tertarik untuk belajar matematika. Beberapa dari mereka merasa bahwa pelajaran matematika itu membosankan. Hal ini terlihat dalam proses pembelajaran, kebanyakan siswa mencari aktivitas lain saat guru menjelaskan materi, hanya beberapa siswa yang mengerjakan latihan, selain itu mereka juga kurang aktif dalam pembelajaran. Saat ditanyai secara langsung dengan beberapa siswa, mereka mengatakan bahwa pelajaran matematika yang diberikan guru sulit untuk dicerna dengan baik. Kemudian saat mengerjakan latihan mereka sering kesulitan untuk membahasnya baik itu secara individu maupun kelompok, sehingga mereka harus selalu meminta bantuan kepada guru untuk memahami maksud soal dan langkah pengerjaannya. Hal seperti ini tentu tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika kurikulum 2013 saat ini, dimana siswa dituntut untuk bisa belajar mandiri.

Kedua, mengenai sumber belajar. Pada kurikulum 2013 saat ini pemerintah menyediakan buku siswa dan buku guru sebagai buku wajib sumber belajar. Dimana sumber belajar tersebut disesuaikan

dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran matematika serta penyusunan materinya berdasarkan pendekatan tematik, saintifik inkuiri, discovery dan/atau project based learning. Meskipun begitu buku yang telah disiapkan pemerintah ini masih memiliki permasalahan dalam pengaplikasiannya. Hal ini peneliti temukan langsung saat observasi di kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan. Walaupun pada kenyataannya setiap siswa memiliki buku pegangan, namun buku yang mereka gunakan saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan belajar mereka. Banyak dari siswa mengeluhkan tidak bisa memahami maksud dari materi yang ada pada buku secara mandiri, tampilan buku yang kurang menarik, dan susah untuk dibawa kemana-mana.

Terkadang apa yang disampaikan dalam buku, dengan apa yang dijelaskan oleh guru di sekolah sering tidak sinkron. Sehingga mereka lebih memilih untuk belajar matematika di sekolah dari pada belajar secara mandiri di rumah. Ini berarti guru matematika tidak sepenuhnya menjalankan materi yang tertera pada buku pegangan guru maupun buku pegangan untuk siswa. Hal ini bisa dimaklumi jika guru dan siswa kesulitan dalam memahami buku pegangannya saat ini, sehingga guru matematika mencari alternatif lain agar materi bisa tersampaikan dengan baik kepada siswa, walaupun nantinya apa yang disampaikan itu tidak sinkron dengan apa yang tertera pada buku.

Selain itu saat siswa diwawancarai dengan langsung, mereka memang mengakui bahwa mereka tidak tertarik untuk belajar matematika dengan menggunakan buku yang digunakan saat ini. Karena mereka menginginkan buku pelajaran yang menarik, kretif, unik dan bahasanya mudah dipahami. Namun hal itu tidak mereka temukan dalam buku matematika kurikulum 2013. Sehingga diwajarkan jika banyak dari mereka malas untuk membaca buku baik saat belajar di sekolah maupun mengulang materi di rumah.

Ketiga, mengenai karakteristik siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan. Karakteristik siswa bisa dilihat dari usia, kemampuan akademik, gaya belajar, minat dan motivasi belajar siswa. Hal tersebut bisa peneliti lihat dari observasi dan wawancara dengan siswa secara langsung.

Berdasarkan standar usia, anak-anak pada usia 14-16 tahun seharusnya sudah bisa untuk berpikir secara abstrak. Sehingga pembelajaran matematika yang memerlukan defenisi dan penyimbolan yang abstrak seperti aljabar dan sistem persamaan linear sudah bisa dipahami jika tersampaikan dengan baik.

Kemudian jika dilihat dari kemampuan dan kecepatan siswa dalam memahami suatu materi, kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan memiliki kemampuan yang heterogen. Artinya dalam satu kelas siswa tersebut ada yang memiliki kemampuan belajar yang tinggi, ada yang berkemampuan sedang dan ada yang berkemampuan rendah. sehingga mereka memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda dalam memahami suatu materi.

Kemudian dilihat dari perbedaan gaya belajar, ada siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik, audio, visual , maupun audio visual. Perbedaan gaya belajar ini tentu harus menuntut guru untuk kreatif dalam proses pembelajaran agar materi tersampaikan dengan baik dan sesuai dengan gaya belajar mereka masing-masing.

Selanjutnya jika dilihat dari minat dan motivasi belajar. Banyak siswa yang mengakui bahwa belajar matematika itu membosankan, dan tidak menarik. Sehingga permasalahan ini menjadi penting untuk diatasi, karena membutuhkan sebuah pembelajaran yang kreatif dan unik agar menimbulkan kembali minat dan motivasi belajar siswa. Lewat permasalahan dan kebutuhan belajar yang telah dipaparkan di atas, menjadi alasan bagi peneliti untuk mengembangkan sebuah bahan ajar yang menarik dan kretif seperti leaflet dengan susunan materi

yang sesuai dengan kemampuan siswa lewat tahapan belajar teori bruner.

Menurut Syarif (2015) leaflet adalah bahan cetak berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Biasanya terdiri dari 1-2 lembar saja dengan cetakan dua muka dengan ciri khas adanya lipatan yang membentuk beberapa bagian leaflet seolah-olah memiliki halaman tersendiri. Biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi, permainan warna yang menarik, gambar yang baik dan menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga akan menarik minat membaca siswa.

Dengan adanya leaflet ini diharapkan dapat mempermudah siswa memahami materi matematika lewat tahapan teori bruner, khususnya pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel yang menjadi bahasan pada leaflet berbasis teori bruner ini merupakan hasil rumusan dari wawancara dan diskusi dengan guru matematika kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan. Melalui wawancara dan diskusi tersebut ditelusuri mengenai hasil belajar, kemampuan belajar siswa, serta karakteristik siswa kelas VIII.2 yang menjadi dasar bagi peneliti untuk merancang leaflet berbasis teori bruner. Isi materi pada leaflet disesuaikan dengan buku teks dan sumber belajar lainnya yang membahas tentang Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Berdasarkan standar isi untuk SMP kelas VIII peneliti merancang leaflet berbasis teori bruner yang sesuai dengan indikator dan tujuan pembelajaran yang diharapkan pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.

Salah satu materi dalam matematika yang secara simultan terbangun terutama sejak awal pembelajaran matematika di sekolah menengah pertama adalah Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel merupakan bagian dari aljabar. Siswa sering mengalami suatu kegiatan aljabar diantaranya persamaan linear dua variabel dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya situasi yang

berhubungan dengan perniagaan/jual beli. Agar terbangun kebermaknaan dalam materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, maka aspek pemecahan masalah terutama dari konteks yang ada disekitar siswa perlu dijadikan sebagai acuan. Dengan demikian untuk mengkonstruksi pemahaman matematis yang kokoh, diperlukan pengembangan bahan ajar dan soal-soal aljabar yang berangkat dari masalah sehari-hari yang memerlukan kemampuan siswa dalam menganalisis suatu masalah. Sehingga dengan disusunnya materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel lewat tahapan belajar teori bruner, siswa bisa merepresentasikan masalah kedalam gambaran kemudian merepresentasikan gambar kebahasa matematika sehingga didapatkan konsep yang utuh dari Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.

Menurut Purwanto (2009) suatu produk dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila produk tersebut dapat mengukur apa hendak diukur atau produk tersebut telah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Secara umum leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel sudah dikategorikan sangat valid berdasarkan penilaian dari validator, dengan nilai total 86,84% untuk seluruh aspek penilaiannnya. Kelayakan isi mendapatkan nilai 85,56%, kelayakan penyajian mendapatkan nilai 85,56%, kelayakan kegrafikan mendapatkan nilai 87,67% dan kelayakan bahasa mendapatkan nilai 88,19%. Aspek-aspek yang divalidasi dalam leaflet berbasis teori bruner adalah : ketepatan, kesesuaian, kebenaran, manfaat, penyajian pembelajaran, desain, ukuran/format, sesuai kaidah bahasa indonesia, penggunaan istilah/simbol dan mampu memotivasi siswa. Sehingga berdasarkan penilaian yang diberikan oleh 3 orang validator tersebut, leaflet ini sudah memenuhi standar untuk digunakan di dalam kelas.

Menjawab rumusan masalah pada bab 1, “Bagaimana Karakteristik

Valid?”. Disini peneliti menggunakan kata karakteristik, dimana kata karakteristik memiliki arti yang sama dengan spesifikasi atau ciri-ciri. Redaksi dari karakteristik leaflet yang valid itu berisi spesifikasi produk dari leaflet yang memiliki kriteria valid sesuai standar BSNP, dimana aspek validnya itu dipenuhi dengan lembar validasi yang nantinya akan dinilai oleh validator. Deskripsi hasil validasi menunjukkan bahwa leaflet berbasis teori bruner pada materi SPLDV yang peneliti rancang sudah valid dengan melakukan beberapa perbaikan sesuai dengan apa yang disarankan oleh validator.

Leaflet yang peneliti rancang dibuat berdasarkan analisis

kebutuhan belajar siswa SMP Negeri 2 Pariangan. Leaflet ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa. Agar semua itu tercapai maka leaflet didesain dengan semenarik mungkin, materinya disusun dengan runtun atau terstruktur, berdasarkan pada pengalaman nyata siswa dan sesuai dengan karakteristik siswanya.

Spesifikasi hasil perancangan leaflet berbasis teori bruner ini sudah bisa mengatasi masalah yang terindikasi pada analisis muka belakang, yaitu : (1) leaflet sesuai dengan standar isi (KI, KD, indikator) kurikulum 2013 untuk SMP kelas VIII, (2) leaflet mengatasi kendala belajar siswa terhadap penggunaan buku paket matematika yang mereka gunakan, (3) materinya disajikan sesuai dengan karakteristik siswa kelas VIII, (4) leaflet bisa digunakan kapanpun dan dimanapun siswa inginkan, (5) siswa bisa belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan belajar mereka masing-masing, (6) leaflet mampu menarik minat membaca siswa, (7) leaflet mampu menarik motivasi belajar siswa terhadap pelajaran matematika, (8) siswa menjadi lebih aktif dalam belajar dan aktif dalam mengerjakan soal latihan, dan (9) siswa lebih mudah memahami materi SPLDV.

Berdasarkan penilaian dari validator, dan spesifikasi perancangan, maka leaflet berbasis teori bruner ini sudah memiliki karakteristik yang valid. Artinya leaflet sudah valid sesuai dengan kriteria penilaian

yang aspek validnya dipenuhi dengan lembar validasi produk, dan memiliki karakteristik yang mampu mengatasi masalah yang terindikasi pada analisis muka-belakang siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan.

Meskipun begitu, leaflet berbasis teori bruner yang peneliti kembangkan ini juga tidaklah sempurna dijadikan sebagai bahan ajar utama. Hal ini bisa dilihat saat pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan leaflet berbasis teori bruner, peneliti mendapati beberapa kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki pada leaflet, yaitu :

1. Dalam leaflet peneliti tidak menjelaskan secara detail mengenai istilah variabel ataupun istilah matematika lainnya.

2. Pada soal latihan indikator 1, peneliti mendapati bahwa soal latihan tidak diberikan instruksi yang cukup untuk mengerjakannya.

3. Pada leaflet indikator 3, 4, dan 5 peneliti tidak mendefenisikan dengan jelas mengenai kesimpulan apa itu metode grafik, metode eliminasi dan metode substitusi.

4. Pada prosedur penyelesaian masalah, peneliti hanya menggunakan satu cara penyelesaian saja.

Berdasarkan kelemahan-kelemahan pada perancangan produk tersebut, peneliti menyadari bahwa leaflet yang dikembangkan atau yang telah dilakukan penelitian harus direvisi kembali dengan baik. Namun terlepas dari semua kelemahan-kelemahan di atas, kita harus menyadari bahwa leaflet merupakan bahan ajar yang berbentuk lembaran-lembaran kertas, untuk 1 indikator hanya bisa dikembangkan dalam sebuah leaflet. Sehingga tidak semua materi bisa peneliti masukkan dalam leaflet. Disisi lain leaflet tidak bisa dijadikan sebagai bahan ajar utama dari pembelajaran matematika. Leaflet hanya bisa dijadikan sebagai bahan ajar pendukung atau pendamping agar memudahkan siswa dalam memahami konsep. Dengan kata lain

penyusunan leaflet tidak bisa sesempurna penyusunan sebuah buku pelajaran matematika.

Walaupun banyak kekurangan dan keterbatasan dari pengembangan leaflet berbasis teori bruner ini, disisi lain leaflet ini memiliki dampak positif terhadap pembelajaran matematika. Dampak positif yang peneliti temukan setelah dilakukannya penelitian adalah banyak siswa yang mengaku bahwa mereka lebih mudah memahami konsep matematika dengan menggunakan leaflet daripada menggunakan buku paket matematika, dan siswa menjadi lebih antusias dalam belajar matematika karena desain leaflet yang mampu menarik perhatian siswa. Sehingga tujuan utama dari pengembangan

leaflet ini sudah terlaksana yaitu leaflet bisa menuntun pemahaman

konsep siswa dengan baik, dan leaflet ini juga meningkatkan minat belajar dan membaca siswa.

2. Pembahasan praktikalitas leaflet berbasis teori bruner

Rumusan masalah kedua, “Bagaimana Karakeristik Leaflet Berbasis Teori Bruner di Kelas VIII SMP N 2 Pariangan yang Praktis?, redaksi dari karakteristik leaflet yang praktis itu berisi aspek-aspek praktikalitas leaflet, dimana aspek praktisnya itu dipenuhi dengan lembaran angket respon siswa terhadap penggunaan leaflet yang nantinya akan dinilai langsung oleh siswa kelas VIII SMP N 2 Pariangan setelah dilakukannya pembelajaran dengan menggunakan

leaflet berbasis teori bruner pada materi SPLDV.

Zainal Arifin mengemukakan bahwa kepraktisan mengandung arti kemudahan suatu produk baik dalam mempersiapkan, menggunakan, mengolah, menafsirkan maupun mengadministrasikan. Leaflet

dikatakan praktis jika : 1) tampilan leaflet menarik dan relevan dengan tujuan, 2) bahasa yang digunakan mudah dipahami, 3) membantu siswa dalam memahami materi SPLDV dan 4) leaflet dapat menambah motivasi belajar siswa.

Karakteristik dari leaflet berbasis teori bruner yang praktis berdasarkan hasil penelitian terbagi atas 6 poin yaitu :

1. Leaflet memiliki tampilan yang menarik

Leaflet berbasis teori bruner dirancang dengan semenarik

mungkin sehingga didapatkan sebuah produk yang sangat menarik. Poin-poin pada desain leaflet ini adalah : ukuran huruf, desain huruf, tata letak, background yang menarik, ditambah dengan gambar-gamabr yang unik. Dengan desain yang seperti ini tentu akan menarik bagi siswa. Dengan begitu pelajaran matematika yang mereka pelajari sekarang bisa lebih menyenangkan.

2. Leaflet mudah digunakan kapan saja dan dimana saja

Bentuk dari leaflet hanya berupa lembaran kertas tentu

leaflet ini memiliki kelebihan dari bahan ajar yang lainnya, yaitu leaflet mudah digunakan kapanpun siswa inginkan dan dimanapun

mereka belajar. Hal ini lebih efektif bagi siswa agar bisa mengulang pelajaran mereka kembali.

3. Struktur bahasanya sederhana

Leaflet berbasis teori bruner disusun dengan menggunakan

bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh siswa. Susunan bahasa ini mengikuti kemampuan berpikir siswa, dan menggunakan kata-kata yang familiar bagi siswa, sehingga hal ini memungkinkan bagi siswa untuk belajar mandiri.

4. Ukuran leaflet berbasis teori bruner sesuai

Ukuran leaflet berbasis teori bruner sesuai dengan siswa dan standar ukuran bahan ajar menurut BSNP. Leaflet yang peneliti kembangkan ini memiliki ukuran sebesar kertas A4 (21 x 29,7 cm). 5. Mendorong minat baca siswa

Karena desainnya yang menarik dan struktur katanya yang sederhana, leaflet ini mampu mendorong minat baca siswa. Pada observasi awal diketahui bahwa siswa jarang membaca buku paket matematika dikarenakan tampilannya yang kurang menarik dan

struktur bahasanya yang sulit. Sehingga dengan adaya leaflet berbasis teori bruner ini masalah tersebut bisa teratasi dan mampu menambah minat baca siswa.

6. Menambah motivasi belajar siswa

Semakin menarik sebuah bahan ajar yang dirancang, maka akan semakin termotivasi siswa belajar matematika. Dengan rancangan leaflet berbasis teori bruner ini, motivasi belajar siswa akan meningkat karena desainnya yang menarik perhatian siswa.

Dari hasil analisis angket respon siswa yang dilakukan, leaflet berbasis teori bruner dinyatakan praktis dan dapat digunakan dalam pembelajaran matematika. Dimana dilihat dari hasil pengolahan angket respon siswa diperoleh nilai 76,48% yang dikategorikan dengan praktis.

Angket respon yang diberikan kepada siswa memiliki 26 butir pernyataan positif. Berdasarkan hasil analisis angket respon peserta didik terhadap leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel diperoleh bahwa :

1) Siswa setuju bahwa leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel memiliki tampilan menarik. Hal ini bisa dilihat pada hasil analisis angket respon siswa pada pernyataan nomor 13-17.

2) Siswa setuju bahwa leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel mudah dipahami. Hal ini bisa dilihat pada hasil analisis angket respon siswa pada pernyataan nomor 1 dan 2.

3) Siswa setuju bahwa leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel dapat membantu siswa menemukan konsep materi SPLDV dengan mudah. Hal ini bisa dilihat pada hasil analisis angket respon siswa pada pernyataan nomor 4 dan 6.

4) Siswa setuju bahwa leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel membantu siswa belajar mandiri. Hal ini bisa dilihat pada hasil analisis angket respon siswa pada pernyataan nomor 9.

5) Siswa setuju bahwa leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel memiliki gambar dan ilustrasi yang jelas. Hal ini bisa dilihat pada hasil analisis angket respon siswa pada pernyataan nomor 16 dan 17.

6) Siswa setuju bahwa leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel memotivasi mereka untuk belajar matematika. Hal ini bisa dilihat pada hasil analisis angket respon siswa pada pernyataan nomor 18.

7) Siswa setuju bahwa leaflet berbasis teori bruner pada materi sistem persamaan linear dua variabel menjadikan pelajaran matematika asyik dan menyenangkan. Hal ini bisa dilihat pada hasil analisis angket respon siswa pada pernyataan nomor 23-26.

Meskipun begitu, leaflet berbasis teori bruner ini tidaklah sempurna, hal ini bisa dilihat dari penilaian angket repon siswa dimana

leaflet hanya mendapatkan penilaian praktis secara umum. Tentu

masalah ini harus peneliti telusuri lebih lanjut dengan memperhatikan proses pelaksanaan penelitian leaflet berbasis teori bruner di kelas VIII 2. Beberapa kelemahan dalam pelaksanaan penelitian yang peneliti dapatkan adalah:

1. Banyak dari siswa yang tidak mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan leaflet berbasis teori bruner secara menyeluruh, hal ini bisa dilihat dari absen kehadiran siswa saat peneliti melaksanakan penelitian. Dikarenakan leaflet yang peneliti kembangkan sifatnya berhubungan antara satu sama lainnya, maka bagi siswa yag tidak bisa hadir sepenuhnya harus bisa mengejar ketinggalan materi. Meskipun begitu peneliti memastikan setiap

siswa mendapatkan 5 buah leaflet baik itu bagi siswa yang hadir maupun yang tidak hadir.

2. Ada beberapa siswa yang sering keluar masuk PBM tanpa meminta izin, hal ini tentu mengganggu proses pembelajaran saat dilakukannya penelitian.

3. Banyak siswa kelas VIII 2 yang memiliki kecepatan pemahaman yang sedang dan rendah, sehingga membutuhkan banyak waktu untuk peneliti agar materi SPLDV bisa tersampaikan dengan baik keseluruh siswa. Untuk 1 indikator pembelajaran bisa menghabiskan 3 SKS dalam sehari. Sehingga penelitian yang dilakukan cukup terbilang lama kerena bisa menghabiskan waktu 3 minggu untuk melaksanakan 1 kompetensi dasar.

Dibalik semua kelemahan dalam pelaksanaan leaflet berbasis teori bruner ini, peneliti selalu berusaha untuk mengatasi kekurangan-kekurangan yang didapatkan pada saat penelitian. Namun dibalik itu semua tujuan utama dari rancangan leaflet ini sudah bisa tercapai yaitu

leaflet ini mampu menarik minat baca siswa, mudah digunakan, dan

menambah motivasi belajar siswa terhadap pelajaran matematika.

3. Pembahasan Efektivitas Leaflet Berbasis Teori Bruner

Rumusan masalah ketiga, “Bagaimana Karakteristik Leaflet Berbasis Teori Bruner di Kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan yang Efektif?”, redaksi dari karakteristik leaflet yang efektif itu berisikan penilaian hasil belajar siswa, dimana aspek efektifnya itu dipenuhi dengan soal uji coba setelah diadakannya pembelajaran dengan

Dokumen terkait