BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
Berdasarkan tujuan, manfaat, hasil, dan pembahasan penelitian, maka peneliti memberikan saran atau masukan dengan harapan mampu mengembangkan keilmuan bidang psikologi Islam.
1. Bagi Lansia, diharapkan dapat mengimplementasikan bentuk coping religious agar tidak mengalami kecemasan menghadapi kematian.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya, diharapkan dapat melakukan pengambilan data dengan menambah intensitas wawancara agar data yang didapat tereksplorisasi dengan lebih baik lagi.
92
DAFTAR PUSTAKA
Adriani, Y. (2019). Religious coping pada lansia; pengaruhnya terhadap kesehatan mental. Repository.Uinjkt.Ac.Id.
https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/57325%0Ahttps://re pository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/57325/1/RELIGIOUS COPING PADA LANSIA %3B PENGARUHNYA TERHADAP KESEHATAN MENTAL.pdf
Akbar, S. N. (2014). Hubungan psychological well-being dengan kecemasan dalam menghadapi kematian pada lansia di panti werdha budi sejahtera.
Jurnal Ecopsy, 1(4).
Andriani, S., Lukitasari, A., & Hasbalah, K. (2019). Strategi Koping Lansia dengan Tempat Tinggal di Ulee Kareeng Banda Aceh. Serambi Saintia:
Jurnal Sains Dan Aplikasi, 7(2), 74–83.
Angganantyo, W. (2014). Coping religius pada karyawan muslim ditinjau dari tipe kepribadian. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 2(1), 50–61.
Annisa, D. F., & Ifdil, I. (2016). Konsep kecemasan (anxiety) pada lanjut usia (lansia). Konselor, 5(2), 93–99.
Arqi, M. A. (2018). Kematian menurut Islam wetu telu ditinjau dari perspektif psikologi Islam. Jurnal Psikologi Islam, 5(1), 37–44.
Atika, T. A., & Tarigan, U. (2014). Prosedur Penerbitan Surat Keputusan Pensiun Pegawai Negeri Sipil pada Badan Kepegawaian Daerah Deli Serdang.
JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan Dan Sosial Politik UMA (Journal of Governance and Political Social UMA), 2(1), 18–30.
Bandura, A., & Wessels, S. (1994). Self-efficacy (Vol. 4). na.
Cahyandari, R. (2019). Peran Spiritual Emotional Freedom Technique Dalam Penanganan Nosocomephobia. ESOTERIK, 5, 282–303.
Creswell, J. W. (2016). Research design: pendekatan metode kualitatif, kuantitatif, dan campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 5.
Edgar, Andrew, & Sedgwick, P. (1999). Key Concept in Cultural Theory.
Routledge.
Ermawati, & Shanty, S. (2017). KECEMASAN MENGHADAPI KEMATIAN PADA LANJUT USIA. Psibernetika.
Fatimah, F. (2010). Merawat Manusia Lanjut Usia. Jakarta: Transinfo Media.
Firmansyah, F. (2014). Pasangan Lansia Ini Minta Disuntik Mati Bersama.
Tempo.co. https://www.gooto.com/read/610106/pasangan-lansia-ini-minta-disuntik-mati-bersama
Fitriani, A. (2016). Peran religiusitas dalam meningkatkan psychological well being. Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 11(1), 57–80.
Ghufron, M. N. (2021). Kematangan Beragama dan Kecemasan Kematian pada Penyitas Covid-19: Adakah Hubungannya? Rumah Jurnal, 1–19.
Hartono, B. S. (2012). Psikologi Konseling edisi revisi. Surabaya: Kencana Prenada Media Group.
Hoelterhoff, M., & Chung, M. C. (2013). Death anxiety and well-being; coping with life-threatening events. Traumatology, 19(4), 280–291.
Hurlock, E. B. (1996). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan, terj. In Isti Widiyati, Jakarta: Erlangga.
Juniarly, A. (2012). Peran koping religius dan kesejahteraan subjektif terhadap stres pada anggota bintara polisi di polres kebumen. Psikologika: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi, 17(1), 5–18.
Karim, K., & Yoenanto, N. H. (2021). Dukungan Sosial Dan Religiusitas Terhadap Kecemasan Masyarakat Yang Tinggal Sendiri Selama Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Psikologi, 17(2), 102–113.
Kastenbaum, R. (2000). The psychology of death. Springer Publishing Company.
Lehto, R., & Stein, K. F. (2009). Death anxiety: An analysis of an evolving concept.
M. Quraish, S. (2016). Tafsir Al-Misbah (Rev). PT. Lentera Hati.
Markam, S., & Slamet I.S, S. (2008). Pengantar Psikologi Klinis. UI-Press.
Maryam, R. S., & Ekasari, M. F. (2012). Rosidawati., Jubaedi A. Batubara I.
Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika.
Merizka, L., Khairani, M., Dahlia, D., & Faradina, S. (2019). Religiusitas dan kecemasan kematian pada dewasa madya. AN-NAFS, 13(2), 76–84.
Moleong, L. J. (2014). Metode penelitian kualitatif edisi revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mujib, A. (2017). Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Islam, Edisi Kedua. PT RajaGrafindo Persada.
Naftali, A. R., Ranimpi, Y. Y., & Anwar, M. A. (2017). Kesehatan spiritual dan kesiapan lansia dalam menghadapi kematian. Buletin Psikologi, 25(2), 124–
135.
Noviyanti, N. (2019). Strategi Coping pada Lansia di Panti Jompo Tresna Werdha Palembang. Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial Dan Sains, 8(1), 31–40.
Nurhayati, S. R. (2012). Dukungan Sosial dan Strategi Coping Para Lansia. Jurnal Penelitian Humaniora, 17(1).
Osei-Waree, J. , M, W. (2016). A Qualitative Study Of The Meaning For Older People Of Living Alone At Home In Rural Ghana. International Journal of Nursing Student Scholarship, 3, 1–16.
Pandji, D. (2013). Menembus dunia lansia. Elex Media Komputindo.
Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014). Menyelami Perkembangan Manusia (12th ed.). McGraw-Hill Education.
Pargament, K. I. (1997). The Psychology of Religion and Coping. Guilford Press.
Pasmawati, H. (2017). Pendekatan konseling untuk lansia. Jurnal Ilmiah Syi‟ar, 17(1).
Polkinghorne, D. E. (1989). Phenomenological research methods: In RS Valle &
S. Halling (Eds.). Existential phenomenological perspectives in psychology (pp. 41-60) (p. 85). New York: Plenum.
Purnama, A., & Hikmawati, E. (2009). Kepuasan hidup dan dukungan sosial lanjut usia. B2P3KS Press.
Rahayu, S. N. (2013). Kecemasan dan strategi coping istri yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga di Samarinda. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 1(1).
Reza, I. F. (2015). Mengatasi Kerentanan Stres Melalui Coping Religius.
Yogyakarta. PT Kanisius.
Reza, I. F. (2016). Implementasi Coping Religious dalam Mengatasi Gangguan Fisik-Psikis-Sosial-Spiritual pada Pasien Gagal Ginjal Kronik. Intizar, 22(2), 243–280.
Salsabila Yurizqi, A. (2022). Hubungan Antara Coping Religiusitas Dengan Kecemasa Narapidana Menjelang Masa Bebas Di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Kabupaten Banyuwangi. UIN KIAI ACHMAD SIDDIQ JEMBER.
Santrock, J. W. (2012). Perkembangan Masa Hidup jilid 2 (tigabelas). PT Gelora Aksara Pratama.
Semenova, V., & Stadtlander, L. (2016). Death anxiety, depression, and coping in family caregivers. Journal of Social, Behavioral, and Health Sciences, 10(1), 5.
Seran, A., & Laksana, L. (2017). Pedoman Etika Penelitian Unika Atma Jaya (2nd ed.). Kanisius.
Sidiq, U., Choiri, M., & Mujahidin, A. (2019). Metode penelitian kualitatif di bidang pendidikan. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1–228.
Sihab, B. A., & Nuchayati. (2021). Loneliness Pada Lansia Yang Tinggal Sendiri.
Jurnal Penelitian Psikologi, 8.
Stuart, G. W. (2016). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart 2.
Sudirman, S. P. (2011). Psikologi Usia Lanjut. Universitas Gajah Mada.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Supriyono, E. (2015). Aktifitas Fisik Keseimbangan Guna Mengurangiresiko Jatuh pada Lansia. Jorpres (Jurnal Olahraga Prestasi), 11(2).
Sussman, M. B., Steinmetz, S. K., & Peterson, G. W. (2013). Handbook of Marriage and the Family. Springer Science & Business Media.
Utami, M. S. (2012). Religiusitas, koping religius, dan kesejahteraan subjektif.
Jurnal Psikologi, 39(1), 46–66.
Yuliana. (2015). Mengatasi Kecemasan Terhadap Kematian Pada Pasien Sakit Parah Melalui Konseling Kelompok. Psychology Fotum UMM, 458–463.
Yunita, J. (2017). Masalah Kesehatan Dalam Siklus Kehidupan. Jurnal Kesehatan Komunitas, 3(4), 127–128. https://doi.org/10.25311/keskom.vol3.iss4.222
95 LAMPIRAN Lampiran 1 Informed Consent
Lampiran 2 Surat Persetujuan IU.1
IU.2
IU.3
SO.
SO.2
Lampiran 3 Pedoman Wawawncara Informan Utama
I. Identitas diri subjek:
1. Nama 2. Usia
3. Jenis kelamin 4. Pekerjaan
5. Keluarga saat ini:
a. Keluarga saat ini b. Keadaan anak
c. Saat ini tinggal bersama, alasan II. Pertanyaan:
No Faktor Penyebab Kecemasan
Kematian
Indikator Pertanyaan
1. Usia Semakin bertambah usia semakin tinggi tingkat kecemasan
1. Apa yang sekarang bapak/ibu rasakan ketika sudah memasuki masa lansia?
2. Diusia yang sekarang ini (usia lanjut) apakah bapak/ibu sering mengalami kecemasan?
3. Diusia sekarang ini bagaimana perasaan bapak/ibu ketika memikirkan sebuah kematian?
4. Apakah dengan
memikirkan kematian dapat membuat bapak/ibu merasa cemas?
2. Integritas ego Lingkungan tempat
tinggal akan
mempengaruhi kecemasan
1. Untuk sekarang ini apa tujuan hidup bapak/ibu?
2. Bagaimana reaksi bapak/ibu ketika menghadapi situasi kematian orang-orang terdekat anda atau teman sebaya anda?
3. Kontrol diri Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan permasalahan dari luar maupun dalam diri
1. Apa reaksi bapak/ibu ketika ada orang yang bercerita tentang kematian?
2. Apa yang bapak/ibu lakukan ketika orang-orang disekitar anda membahas mengenai kematian?
4. Personal sense of fulfillment
Merasa puas dengan kehidupannya
1. Hal apa yang membuat bapak/ibu merasa sedih?
2. Apakah perasan sedih itu masih sering muncul?
3. Ketika bapak/ibu merasa sedih apakah dapat membuat anda merasa cemas?
5. Religiusitas Menjalankan
kegiatan keagamaan
1. Pernahkah bapak/ibu merasa cemas ketika anda jauh dari Allah?
6. Stressful environment
Merasa cemas karena kondisi lingkungan
1. Bagaiamana reaksi masyarakat disekitar bapak/ibu ketika ada orang yang meninggal?
2. Apakah masyarakat sekitar ikut serta dalam pemakaman orang yang meninggal?
7. Diagnosis penyakit parah atau
mematikan
Merasa cemas dengan penyakit yang diderita
1. Apakah bapak/ibu menderita penyakit seperti diabetes, hypertensi atau lainnya?
8. Pengalaman dengan kematian
Kematian orang-orang terdekat
1. Apakah bapak/ibu pernah menghadapi secara langsung kematian orang disekitar anda?
No Aspek Indikator Pertanyaan
Coping Religious
1. Positif 1. Penilaian ulang agama yang baik hati
1. Apa yang bapak/ibu pikirkan apabila kematian datang secara tiba-tiba?
2. Apakah bapak/ibu percaya bahwa amalan baik yang telah anda lakukan sebelumnya memebrikan pengaruh dikehidupan sekarang?
3. Apakah hal tersebut juga berpengaruh terhadap kecemasan yang anda alami?
. 2. Kolaborasi koping keagamaan
1. Apakah bapak/ibu merasa bahwa Allah memberi penguatan ketika anda sedang mengalami kecemasan menghadapi kematian?
3. Mencari dukungan rohani
1. Bagaimana pandangan bapak/ibu mengenai sebuah permasalahan?
2. Mengapa Allah memberikan masalah di dalam kehidupan bapak/ibu?
3. Ketika menghadapi kecemasan apakah bapak/ibu langsung teringat dan memohon pertolongan kepada Allah?
4. Pemurnian keagamaan
1. Apakah dengan memohon ampun kepada Allah dapat mengurangi perasaan cemas bapak/ibu?
2. Apakah amalan baik yang bapak/ibu lakukan dapat membantu anda mengurangi perasaan cemas?
3. Amalan baik seperti apa yang bapak/ibu lakukan?
5. Hubungan rohani 1. Apakah kematian merupakan kehendak Allah?
2. Apakah perasaan cemas yang anda alami juga merupakan kehendak Allah?
3. Apakah setiap doa yang bapak/ibu panjatkan dikabulkan oleh Allah?
6. Mencari dukungan dari pemimpin
agama dan
anggotanya
1. Apakah bapak/ibu mempercayai ustad/ahli agama?
2. Apakah bapak/ibu pernah meminta bantuan ustad/ahli agama untuk membantu anda mengatasi kecemasan?
7. Bantuan agama 1. apakah dengan mendoakan orang lain permasalahan yang bapak/ibu alami juga akan terselesaikan?
8. Agama untuk memberi
1. Bagaimana bapak/ibu mengikhlaskan permasalahan yang anda alami?
2. Bagaimana cara bapak/ibu meminta bantuan kepada Allah ketika merasa cemas memikirkan kematian?
2. Negatif 1. Menghukum penilaian Tuhan
1. Apakah kecemasan yang bapak/ibu alami merupakan hukuman dari perbuatan buruk yang peernah anda alami?
2. Pemikiran jahat 1. Apakah bapak/ibu percaya terhadap kekuatan jahat/sihir?
2. Apakah kecemasan yang bapak/ibu alami merupakan perbuatan orang lain yang tidak menyukai anda?
3. Penilaian terhadap Tuhan adalah kekuatan
1. Apakah bapak/ibu pernah meminta kepada Allah untuk menyelakai orang lain?
4. Mengarahkan pengaturan
keagamaan kepada diri sendiri
1. Apakah bapak/ibu dapat mengatasi kecemasan yang anda alami tanpa meminta bantuan Allah?
5. Ketidakpuasan rohani
1. Apakah kecemasan yang bapak/ibu alami merupakan bukti bahwa Allah tidak sayang kepada anda?
2. Apakah bapak/ibu pernah merasa kecewa kepada Allah?
6. Ketidakpuasan agama antar pribadi
1. Apakah bapak/ibu mer`agukan saran atau masukan dari ustad?
Tabel 6 Pedoman Wawancara
Significant Others
I. Identitas diri subjek:
1. Nama 2. Usia
3. Jenis kelamin
4. Hubungan Dengan Informan Utama II. Pertanyaan:
1. Bagaiamana hubungan anda dengan informan utama? Sedekat apa?
2. Apa yang anda ketahui tentang informan utama?
3. Bagaimana keseharian informan utama?
4. Apakah informan utama menjalankan taat beribadah?
5. Apakah informan utama ikut serta dalam kegiatan masjid?
6. Bagaiamana kondisi lingkungan keagamaan disekitar informan utama?
Lampiran 4 Pedoman Observasi
PANDUAN OBSERVASI
Tema Coping Religious Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia Yang Tinggal Seorang Diri
Tujuan Mengetahui bentuk coping religious kecemasan dalam menghadapi kematian pada lansia yang tinggal seorang diri Metode Observasi partisipan
Tempat Pelaksanaan Rumah subjek
No Observasi Hasil observasi
Subjek A Subjek B Subjek C
1. Kesan umum, meliputi keadaan fisik dan penampilan subjek 2. Keadaan emosi,
meliputi ekpresi, 106ahasa tubuh, dan cara menjawab subjek seperti adanya penekanan maupun pengulangan
3. Keadaan religiusitas meliputi, kegitan ibadah, rutintas
keagamaan di
lingkungan
Tabel 7 Pedoman Observasi
Lampiran 5 Hasil Wawancara Verbatim IU.1 (TS)
No. P/I Wawancara Analisis Keterangan
1. P Sebelumnya perkenalkan nama saya Evi Juaini, tujuan saya di sini untuk meminta bantuan ibu menjadi informan dalam
penelitian saya yang berjudul
“Coping Religious Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia Yang Tinggal Seorang Diri”, sebelumnya apakah ibu bersedia menjadi informan dalam penelitian saya?
Pembukaan, meminta persetujuan
2. I Iya mbak, bersedia Persetujuan
informan 3. P Baik ibu, boleh perkenalkan
nama, usia dan pekerjaan saat ini?
4. I Nama lengkapnya dulu TS, usia saya kelahiran 62 jadi sudah 60 tahun. Pekerjaan tidak ada, dulu pas masih muda ya kerja tapi setelah menikah sudah gak bekerja lagi. Kalau sekarang ini kesibukannya saya nyulam bikin tas,
Perkenalan informan
5. P Jadi kesibukan sehari-hari nyulam tas ya bu. Sekarang ini ibu tinggalnya bersama siapa?
6. I Yaaa sekarang ini mbak saya tinggalnya sendirian, anaknya yang satu sudah berkeluarga, Alhamdulillah juga saya sudah punya cucu. Anak saya yang kedua juga bekerja di luar kota. Tak suruh cari pekerjaan di Solo saja tapi katanya ya masih nyari yang cocok di Solo.
Tinggal seorang diri
Alasan tinggal sendiri adalah anak yang pertama sudah menikah dan tinggal bersama keluarga, anak yang kedua merantau diluar kota
7. P Kalau suaminya ibu?
8. I Iyaa, suami dengan saya sudah bercerai mbak, sudah dari 2010
Tinggal seorang diri
Alasan tinggal seorang diri
ya biasa mbak namanya orang klo udah berada dipuncak pasti banyak sekali godaannya. Salah saya juga sebenarnya tidak mengingatkan yaa jadinya ya begitu mbak sudah menikah lagi.
karena sudah berpisah dengan suami
9. P Nahh diusia yang sekarang ini ibu kan tinggalnya sendirian bagaimana perasaanya ibu?
10. I Perasaannya ya bersyukur aja mbak bersyukur dengan usia dan bersyukur dengan keadaan.
Alhamdulillah ya sudah sampai diusia yang sekarang
Alhamdulillah diberi umur panjang, semoga Allah memberikan umur yang lebih panjang lagi umur yang barokah umur yang manfaat dunia akhirat, eeee banyak yang diusia muda sudah menjemput ajal. Jadi saya bersyukur aja bagaiamana pun keadaannya harus tetap
bersyukur.
coping religious positif
Seeking spiritual support (mencari dukungan
rohani)
Ikhlas dengan keadaan
11. P Nggeh, Alhamdulillah ya bu yang terpenting itu ya diberi kesehatan.
Kalau perasaan cemas gitu apakah ibu sekarang ini sedang merasa cemas?
12. I Emmm sekarang-sekarang ini udah gak pernah mbak, Alhamdulillahnya. Kalau ibu dulu malah sering banget kalau ada masalah sedikit bisa langsung merasa apa ya gelisah yaaa cemas itu. Apalagi dulu pas ibu cerai yaa rasanya itu cemas sekali mikirin masa depan anak gimana makannya gimana sekolahnya, soalnya eee itu lo waktu dulu itu setelah menikah ibu gak
dibolehkan kerja sama suami jadi ibu kayak eee apa mikirin anak itu.
13. P Berarati cemas dengan masa depan anak ya bu, kalau misalnya
memikirkan tentang kematian gitu apakah ibu juga merasa cemas?
14. I Jadi gini kalau masalah kematian itu sebenarnya kan ee semua orang takut ya cuman kita sebagai seorang muslim ada ininya ya supaya kita gak takut minimal berkuranglah gitu tapi semua orang pasti ee mikirin amalku apa makanya kan kita jauh-jauh persiapan banyak-banyak mendekatkan diri kepada Allah setiap saat banyak-banyak berdzikir banyak sholat malam yaa istilahnya buat bekal gitu aja.
Death anxiety Aspek positif coping
religious:religio us purification (pemurnian agama), Bentuk coping religious:
collaborative (berdzikir, sholat malam)
Pernah mengalami kecemasan menghadapi kematian dan mengatasinya dengan
mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir dan sholat
15. P Eee pernah mengalami
kecemasan menghadapi kematian nggeh? Kalau boleh tau dulu itu reaksinya gimana kalau sedang memikirkan sebuah kematian?
16. I Iya pernah mbak tapi kalau sekarang segalanya sudah tak pasrahkan aja sama yang diatas sama Allah jadi eee apa kalau memikirkan kematian ya kembali lagi semua orang pasti akan mati yaa apalagi apa ini diusia saya yang sekarang ini istilahnya apa eee wes wayahe gitu. Jadi inget mbak dulu saya pernah takut mati sampai gak bisa tidur samapai apa ituu ini lo gemeteran semua keringetan dingin soalnya apa yaa saya yang saya pikirin itu anak-anak saya apalagi anak saya yang satu masih belum menikah masih sekolah kalau saya udah gaada anu gaada yang ngurusin, mbok udah gede pun kan ya masih harus diurusin. Jadi gitu mbak
Aspek positif coping religious:
spiritual connection (hubungan rohani) Faktor
penyebab: usia Bentuk coping religious:
deferring (pasra)
Gejala: tremor
Menganggap bahwa segala sesuatu sudah menjadi kehendak Allah
Merasa diusianya sudah waktunya mendekati kematian
Informan merasa ketika
memikitkan kematian seluruh badannya jadi gemeteran
17. P Selain karena belum siap meninggalkan anak apa ada lagi hal yang membuat ibu merasa
cemas ketika menghadapi kematian?
18. I Eee iya belum siap kalau harus ninggalin anak. Kalau faktor lain apa ya ini ya saya itu pengennya anak-anak sudah pada
berkeluarga semua sudah bisa hidup dengan keluarganya masing-masing apalagi anak saya kan laki-laki semua udah ada yang ngurusin gitu aja sih mbak. Sama kalau dulu itu masih merasa amalannya masih belum cukup
Faktor penyebab:
integritas ego
Tujuan hidupnya belum terpenuhi
19. P Jadi kalau untuk sekarang ini ketika memikirkan sebuah kematian bagaimana reaksi ibu?
20. I Reaksinya nahhh, kemarin itu juga temen-temen saya itu meninggal tiga, saya kayak ya Allah memang maut itu tidak ada yang tau ya, tapi sekarang ini kalau mikirin kematian yaa udah biasa aja la mau gimana lagi setiap orang udah pasti
meninggal kan. Yaa sekarang ini sudah pasrah aja, kalau mau meninggal kapan pun insyaAllah sudah siap
Death anxiey Sudah tidak mengalami kecemasan menghadapi kematian
21. P Bagaimana ibu dulu ketika mengalami kecemasan ketika memikirkan kematian kemudian bisa mengatasi kecemasan tersebut dan kemudian tidak merasa cemas lagi?
22. I Yaaa saya setiap saat sambil tiduran itu dzikir sebisanyalah sambal duduk-duduk juga, apa itu baca ayat kursi sehari bisa sampai 700 800 kali per hari.
Sholat lima waktu meskipun telat tapi Alhamdulillah saya gak pernah absen kalau gak capek sholat tahajud juga sering-sering berdoa meminta kepada Allah, berusaha
Aspek positif coping religious:
religious for giving (agama yang memberi), purification (pemurnian agama),
Faktor
Mencari pertolongan agama untuk mengatasi kecemasan, banyak-banyak melakukan amal kebaikan
Merasa cemas dengan kematian
sedekatnya juga kepada Allah.
Saya itu waktu bapak saya meninggal kaya ya Allah kalau sudah meninggal itu bener-bener semuanya ditinggalkan tidak ada yang dibawa sama sekali trus saya jadi takut semenjak itu truss anu saya itu langsung mikir dikuburan itu kan ngeri orang ditimpa tanah peteng ndedet. Saya kepingin kuburanku besuk menjadi taman yang indah jadi bukan tempat yang menakutkan tetapi yang indah untuku. Makanya banyak-banyak amal sholeh. Karena hanya dengan itu kita bisa selamat, kita harus banyak-banyak membawa bekal.
penyebab:
pengalaman dengan kematian
Bentuk coping religious:
collaborative (dzikir, sholat, berdo‟a)
setelah menyaksikan kematian bapaknya
Mengatasi kecemasan dengan sholat lima waktu, sholat tahajud, dzikir, dan berdo‟a kepada Allah
23. P Kemudian ketika dulu ibu merasa cemas karena memikirkan
kematian apakah ibu pernah mengunjungi ustadz dan meminta saran kepada ustadz?
24. I Kalau datang langsung dan menanyakan saya belum pernah ya mbak, tapi saya suka
mendengarkan ceramah yang membahas tentang kematian pasti saya perhatikan
Aspek positif coping
religious:sekkin g support from clergy or members (mencari dukungan dari pemimpin agama atau para anggotanya)
Ketika mengalami kecemasan
mencari dukungan spiritual dengan mendengarkan ustadz
25. P Emmm begini bu, kalau ibu sendiri apakah amal baik maupun amal buruk yang dulu pernah ibu lakukan mempengarungi
kecemasan yang ibu pernah alami?
26. I Ohh gini iya, amalan baik maupun buruk pasti akan dibalas oleh Allah, pasti itu tapi kalau untuk kecemasan yang saya alami itu mungkin ya itu
Faktor penyebab : kontrol diri
Tidak bisa mengendalikan diri dengan permasalahan yang ada
karena ketakutan saya sendiri, yen amalan baik dan buruk saya pasti akan dibalas Allah mbak tapi entah didunia maupun di akhirat. Karena Allah maha menghitung maha mendengar maha melihat jadi kesahalan kita sedikitpun Allah pasti tau. Jadi yang jelek maupun baik pasti akan dibalas. Saya kan udah pasrah ya mbak tentang hidup dan mati saya, mungkin
keikhlasan yang saya lakukan ini apa ya juga karena amalan baik saya gitu.
27. P Ibu kan sudah ikhlas ya apa namanya pasrah sama Allah, kemudian bagaiamana kok ibu ini bisa dititik pasrah dengan hidup maupun matinya ibu?
28. I Nahhh jadi saya mau cerita dulu ya mbak, jadi dulu itu pas saya cemas mati itu ya mbak, saya ceritakan ke temen, saya bilang ini itu saya kok takut ya kalau tiba-tiba Allah itu panggil saya padahal anak saya R belum apa menikah saya ceritakan ke temen saya. Papahnya udah ninggalin saya dan anak-anak gimana kalau saya juga gak ada anak saya gimana. Kemudian ndelalah alhamdulillahnya saya temen saya itu rajin ibadah jadi dia itu nyaranin saya buat pergi umroh.
Nah kemudian saya berangkat umroh sama anak saya yang pertama, pas itu anak saya baru menikahnya baru. Saya lupa apa doanya ya tapi itu ya mbak rasanya setelah pulang dari umroh masalah itu kayak
langsung makbrekkk hilang gitu, jadi saya kalau untuk merasa takut lagi jadi sudah tidak. Kalau memang saya dipanggil sekarang,
Aspek positif coping
religious:sekkin g support from clergy or members (mencari dukungan dari pemimpin agama atau para anggotanya)
Mencari dukungan dan saran kepada teman
anak saya sudah besar sudah bekerja dan mandiri diluar kota, berarti sudah bisa tanpa saya begitu.
29. P Berarti ibu percaya bahwa ibu bisa melewati kecemasan itu karena kekuatan Allah 30. I Wahhh iyaa mbak iyaa jelas
mbak kalau tanpa bantuan Allah ya mungkin saya masih apa merasa cemas gelisah terus menerus. Allah itu memberikan kekuatan yang amat luar biasa.
31. P Iyaa bu betul sekalai, oiya bu untuk wawancaranya saya cukupkan sampai disini, Alhamdulillah, terimakasih ya ibu sudah bersedia menjadi responden dan mohon maaf jadi mengganggu waktunya.
penutup
32. I Alhamdulillah, wah nggak mbak tidak mengganggu sama sekali.
Ibu juga seneng bisa ngebantu mbak Evi. Saya doakan semoga sekolahnya cepat selesai dan bisa cari kerjaan yang berkah, aamiin 33. P Aamiin ibu terimakasih sekali
lagi, kalau begitu saya minta pamit
34. I Iya mbak hati-hati dijalannya
35. P Nggih ibu, assalamu‟alaikum Salam penutup
36. I Nggeh mbak, wa‟alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Hati-hati
Tabel 8 Hasi Wawancara IU.1
Verbatim IU.2 (M)
No. P/I Wawancara Analisis Keterangan 1. P Assalamu‟alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Salam pembukaan 2. I Wa‟alaikumussalam
warahmatullahi wabarakatauh 3. P Langsung saja ya bu perkenalkan
nama saya Evi, saya mau meminta bantuan dari ibu untuk menjadi informan dalam penelitian saya yang berjudul “Coping Religious Kecemasan Menghadapi
Kematian Pada Lansia yang Tinggal Seorang diri”.
Terimakasih sebelumnya nggeh ibu sudah mau menyempatkan waktunya dan mohon maaf sudah mengganggu
Pembukaan
4. I Iya mbak tidak mengganggu hehe 5. P Heehee nggeh bu, boleh
diperkenalkan nama sama usianya ibu?
6. I Ohh usinya 64 sekarang mbak uwisan, namanya ibu M
Perkenalan informan 7. P Kalau sekarang ini kesibukannya
nopo ibu?
8. I Yo mung anu ii mbak,
kesibukannya cuman nonton tv sama anu itu aja ii, gak punya kesibukan apa-apa, kepingin kerja jane tapi belum minat lagi.
Gaweane ya mung ngaji di mesjid mulih nonton TV wes.
9. P Wahh bagus nggeh bu
kesibukannya untuk beribadah.
Kalau keluarganya saat ini nggeh tinggal disini bu?
10. I Mboten mbak, tidak. Suamiku sudah meninggal lama sekali waktu itu apa lagi kerja dodolan itu trus sakit meninggal.
Tinggal seorang diri
Alasan tinggal seorang diri karena suami yang sudah meninggal 11. P Kalau anaknya ibu?
12. I Kalau anak itu anakku ada 3 yang pertama itu tinggal ikut
suaminya di Banyuanyar situ tok, kalau yang kedua sama
Tinggal seorang diri
Alasan tinggal seorang diri karena anak yang sudah