• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

Pengujian yang dilakukan diatas terhadap model menunjukkan bahwa model yang

diajukan secara signifikan membuktikan adanya pengaruh secara simultan Karakteristik

Perusahaan (Ukuran Perusahaan, Earning Per Share, price to book value, Profitabilitas, leverage), dan Ekonomi Makro (inflasi, kurs valuta asing) terhadap return saham. Pengaruh ini tidak terlalu besar jika ditinjau dari koefisien determinasi yang hanya

berada di sekitar 33,8%. Hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai penelitian di pasar

modal sebelumnya bahwa hubungan yang kuat antara informasi akuntansi dengan return

saham tidak secara kuat dan nyata. Hasil yang diperoleh sering tidak konsisten sehingga

Abdul Nasser Hasibuan : Pengaruh Karakteristik Perusahaan Dan Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Lq-45 Di Bursa Efek Indonesia, 2009.

USU Repository © 2009

Hasil yang tidak konsisten ini merupakan indikasi bahwa memang tidak terdapat

pola yang kuat terkait dengan masalah ini. Faktor penyebab yang sering diduga menjadi

penyebab hal ini adalah masalah rentang waktu dari informasi akuntansi yang

diumumkan telah terlebih dahulu diprediksi oleh investor. Keadaan tersebut

menyebabkan efek dari informasi akuntansi sering bukan pada periode yang sama

dengan return saham yang diambil sebagai data penelitian, sehingga penelitian yang

dilakukan dengan memasangkan data pada interval waktu yang sama tidak dapat

membuktikan hubungan yang signifikan.

Secara parsial menunjukkan bahwa terdapat variabel yang memberikan pengaruh

signifikan yaitu variabel PBV secara parsial memberikan kesimpulan yang mendukung

teori dan penelitian Darmadji dan Fakhrudin (2001) rasio PBV yang rendah akan

berpengaruh positif terhadap Return saham dan berbagai penelitian sebelumnya. Hubungan antara harga pasar saham dan nilai buku per lembar digunakan sebagai

pendekatan alternatif untuk menentukan nilai suatu saham, karena secara teoritis, nilai

pasar suatu saham haruslah mencerminkan nilai bukunya. Rasio PBV kebanyakan

digunakan untuk menilai harga saham-saham. Karena asset-asset perusahaan biasanya

memiliki nilai pasar dan nilai buku yang hampir sama. Idealnya, harga pasar saham jika

dibagi dengan nilai buku asetnya akan mendekati 1. Tetapi, jika ternyata perusahaan

tersebut misalnya banyak menghadapi masalah maka rasio PBV akan lebih kecil dari 1.

tapi disisi lain, bisa saja terjadi bahwa rasio ini akan lebih besar dari 1, terutama jika

perusahaan tersebut mengalami pertumbuhan yang meyakinkan. Penelitian ini konsisten

dengan penelitian Rosenberg dan kawan-kawan yang dikutip oleh Eduardus Tandelilin

Abdul Nasser Hasibuan : Pengaruh Karakteristik Perusahaan Dan Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Lq-45 Di Bursa Efek Indonesia, 2009.

USU Repository © 2009

saham-saham memiliki rasio PBV yang rendah akan menghasilkan return saham yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan saham-saham yang memiliki rasio PBV

yang tinggi. Dengan demikian maka investor untuk membeli saham-saham yang

mempunyai rasio PBV rendah jika investor mengharapkan tingkat return yang besar pada tingkat risiko tertentu. Analisa terhadap koefisien untuk variabel ini

mengindikasikan bahwa pengaruh dari PBV tersebut terhadap return saham tidak terlalu

besar. Kenaikan 1% PBV akan menaikkan return saham sebanyak 0.65%.

Inflasi secara parsial memberikan kesimpulan yang mendukung teori dan penlitian

Sakhowi (1998) berbagai penelitian sebelumnya yang menyatakan berpengeruh positif

dan signifikan terhadap return saham. Secara teoritis, investasi pada saham dapat

memberikan perlindungan nilai (hedge) yang baik dari pengaruh inflasi karena saham merupakan asset riil. Inflasi akan berpengaruh pada distribusi pendapatan tergantung pada penyebab inflasi tersebut dimana pendapatan nominal cenderung meningkat secara

cepat dalam periode inflasi, sehingga pendapatan rill dapat meningkat atau menurun

selama inflasi (samualson, 2001). Analisa terhadap koefisien untuk variabel ini

mengindikasikan bahwa pengaruh Inflasi terhadap return saham tidak terlalu besar.

Kenaikan 1% inflasi akan menaikkan return saham sebanyak 0.806%.

Analisa terhadap variabel kurs secara parsial memberikan kesimpulan yang

bertentangan dengan penelitian Junaldi (2007), dan Sakhowi (1998) memberikan

kesimpulan tidak ada pengaruh kurs rupiah terhadap return saham. Perbedaan ini

ditentukan fluktuasi kurs valuta asing dimana laba perusahaan akan semakin

diperhatikan di dalam suatu keadaan yang kurang stabil, karena informasi lain yang

Abdul Nasser Hasibuan : Pengaruh Karakteristik Perusahaan Dan Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Lq-45 Di Bursa Efek Indonesia, 2009.

USU Repository © 2009

Keadaan ini membuat investor hanya dapat menjadikan laba sebagai informasi yang

paling dapat dipercaya dan dipastikan sudah terjadi. Analisa terhadap koefisien untuk

variabel ini mengindikasikan bahwa pengaruh dari kurs tersebut terhadap return saham.

Dimana kenaikan 1% kurs akan berpengaruh terhadap return saham sebesar 105,011%.

Sedangkan variabel bebas lainnya yang tidak berpengaruh secara parsial adalah

variabel Size secara parsial memberikan kesimpulan yang bertentangan dengan teori

(Sembiring 2005), Ukuran Perusahaan mempunyai pengaruh yang besar dalam

menjelaskan tingkat pengembalian. dimana perusahaan yang mempunyai kapitalisasi

pasar kecil mempunyai tingkat pemgembalian yang lebih besar dibandingkan dengan

perusahaan yang berkapitalisasi besar. Sedangkan penelitian Hamzah (2007), Suryawan

(2006) dan berbagai penelitian sebelumnya yang memberikan kesimpulan bahwa size

memberikan pengaruh secara positif terhadap return saham. Size mengacu kepada tingkat return perusahaan dalam periode tertentu yang berasal dari aktivitas utama

perusahaan tersebut.

Nilai EPS yang memberikan kesimpulan berpengeruh negatif dan tidak signifikan

terhadap return saham. Hal ini yang bertentangan dengan teori dan penelitian Eduardus

(2001), Hamzah (2007), Janaldi (2007) dan berbagai penelitian sebelumnya yang

memberikan kesimpulan bahwa EPS memberikan pengaruh secara positif terhadap

return saham. Hal ini dikarenakan para investor dalam melakukan investasi dilandasi

motif untuk mendapatkan pendapatan (earning) yang sebesar-besarnya. EPS yang tinggi adalah mencerminkan hasil atau pendapatan yang akan diterima oleh pemegang saham

untuk setiap lembar saham yang dimilikinya. investor memerlukan pertimbangan yang

Abdul Nasser Hasibuan : Pengaruh Karakteristik Perusahaan Dan Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Lq-45 Di Bursa Efek Indonesia, 2009.

USU Repository © 2009

membuat investor tertarik untuk menanamkan investasinya pada perusahaan tersebut.

Permintaan akan saham yang meningkat mengakibatkan peningkatan harga saham dan

akhirnya return sahamnya meningkat. Hal ini malah sebaliknya permintaan akan saham menurun yang mengakibatkan harga saham menurun dan return saham menurun.

Variabel yang tidak signifikan lain adalah ROA secara parsial memberikan

kesimpulan yang bertentangan dengan teori dan penelitian Junaldi (2007) berbagai

penelitian sebelumnya. ROA tidak mampu memberikan kesimpulan yang kuat. Hasil

penelitian ini juga tidak sejalan dengan kajian teoritis terkait. Ketidaksesuaian hasil ini

seperti yang telah dikemukan sebalumnya kemungkinan diakibatkan bahwa perusahaan

telah terlebih dahulu diramalkan oleh investor, sehingga periode yang harus

diregresikan seharusnya diberikan interval waktu / lag time. Dan bisa juga mungkin disebabkan gejolak ekonomi global, naiknya harga BBM yang melambung tinggi pada

akhir tahun 2005 hingga mencapai $149 per barel yang menyebabkan harga pokok

produksi perusahaan meningkat yang umumnya perusahaan di Indonesia tergantung

pada bahan baku luar negeri.

Secara pasial laverage menunjukkan hasil yang positif, tetapi tidak signifikan. Yang mengindikasikan bahwa rasio utang tidak menyebabkan perubahan return saham satu tahun ke depan. Hal ini memberikan kesimpulan yang bertentangan dengan teori

(Winarto, 2007) yang menjelaskan bahwa DER berpengaruh negatif dan signifikan

terhadap return saham. Hal ini dikarenakan hutang jangka panjang lebih besar dari

modal yang di setor dari pemilik perusahaan sehingga rasio DER yang dihasilkan tinggi.

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi DER menunjukkan

Abdul Nasser Hasibuan : Pengaruh Karakteristik Perusahaan Dan Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Lq-45 Di Bursa Efek Indonesia, 2009.

USU Repository © 2009

dengan total modal sendiri, sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan

terhadap pihak luar (kreditur). Meningkatnya beban terhadap kreditur menunjukkan

sumber modal perusahaan sangat tergantung dengan pihak luar sehingga mengurangi

minat investor dalam menanamkan dananya ke perusahaan. Menurunnya minat investor

berdampak pada penurunan harga saham perusahaan sehingga total return semakin menurun. Kesimpulan lain yang tidak mendukung penelitian (Hamzah, 2007) dan

(Ulupui, 2005) dan berbagai penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa laverage

berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Perbedaan ini kemungkinan

disebabkan oleh perbedaan sampel yang digunakan. Kemungkinan hasil akan berbeda

jika digunakan untuk memprediksi return dua atau tiga tahun ke depan. Meskipun hasilnya tidak signifikan, bukan berarti bahwa investor dapat mengabaikan rasio

Laverage suatu perusahaan. Sering kali kondisi financial distress yang dihadapi perusahaan disebabkan oleh kegagalan dalam membayar utang. Proporsi utang yang

semakin tinggi menyebabkan fixed payment yang tinggi dan akan menimbulkan risiko kebangkrutan (Hamzah, 2007).

Abdul Nasser Hasibuan : Pengaruh Karakteristik Perusahaan Dan Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Lq-45 Di Bursa Efek Indonesia, 2009.

USU Repository © 2009

Dokumen terkait