Bab 5. Hasil penelitian dan pembahasan
3. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian untuk mengidentifikasi Pelaksanaan Program Usaha Kesehatan Sekolah pada Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Doloksanggul diperoleh hasil.
Pelaksanaan Kegiatan Program UKS pada SD di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Dolok Sanggul
Berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/SKII/2004 tentang kebijakan dasar puskesmas, program kegiatan puskesmas dibagi dalam dua kelompok, yaitu upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan wajib adalah program yang harus dikerjakan oleh setiap puskesmas, sedangkan upaya kesehatan pengembangan pelaksanaan diserahkan kepada Dinas Kesehatan masing-masing untuk menentukan upaya apa yang akan dilaksanakan oleh suatu puskesmas berdasarkan permasalahan yang ada di wilayah kerjanya.
Puskesmas Kecamatan Doloksanggul ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai puskesmas yang melaksanakan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), sebagai salah satu upaya kesehatan pengembangan yang harus dilaksanakan. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Doloksanggul banyak terdapat sekolah, dari taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan tingkat atas. Berdasarkan hasil penelitian pada SD di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Doloksanggul dalam pelaksanaan program UKS meliputi kegiatan Trias UKS yang diantaranya tentang
pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Secara keseluruhan pelaksanaan program UKS sudah terlaksana dengan baik (87,5%) sedangkan yang menyatakan pelaksanaan program UKS terlaksana dengan kategori cukup (12,5%). Pelaksanaan program ini sangat ditentukan oleh adanya kemitraan antara instansi terkait. Dengan melakukan upaya-upaya koordiansi yang lebih efektif melalui pemantauan dan evaluasi program UKS, dimana sebelumnya ditemukan tingginya masalah kesehatan pada anak sekolah di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Doloksanggul seperti kurangnya kesadaran akan kebersihan diri, tingginya angka anak usia sekolah yang mengalami karies gigi dan kurangnya peralatan yang mendukung pelaksanaan UKS (Data Puskesmas Doloksanggul 2012), dan setelah adanya upaya-upaya koordiansi yang lebih efektif melalui pemantauan dan evaluasi program UKS pelaksanaan program UKS mengalami peningkatan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Umi Muzakkiroh (2004) tentang kemitraan antara puskesmas dengan sekolah dasar dalam kegiatan UKS di wilayah kerja puskesmas Jabon yang menyatakan bahwa kesuksesan program UKS sangat ditentukan oleh kemitraan antara puskesmas dengan pihak sekolah.
Pada pendidikan kesehatan dinyatakan bahwa guru dan petugas kesehatan telah menyelenggarakan kegiatan pendidikan kesehatan melalui pemberian informasi yang dilakukan secara intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Bila dilihat dari hasil penelitian tentang pelaksanaan kegiatan pendidikan kesehatan mencapai 98% baik, hal ini dapat diartikan bahwa kegiatan pendidikan kesehatan telah dilaksanakan dengan baik. Keberhasilan ini dapat tercapai melalui pendidikan
kesehatan yang diberikan melalui kegiatan intrakurikuler di sekolah yaitu dengan adanya mata pelajaran yang mendukung seperti mata pelajaran pendidikan jasmani, IPA, dan mata pelajaran lainya yang diajarkan oleh guru di sekolah. Selain itu, pendidikan kesehatan juga diberikan melalui kegiatan ekstrakurikuler, dimana guru dan petugas kesehatan yang dari puskesmas berperan aktif didalamnya yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang gizi, imunisasi, narkoba dan yang lainya yang dilaksanakan diluar jam sekolah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Tim Pembina UKS (2008), yang menyatakan bahwa pelaksanaan kegiatan pendidikan kesehatan dapat diberikan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler dilaksanakan pada saat jam pelajaran berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pendidikan ini tidak hanya diberikan pada saat mata pelajaran pendidikan jasmani saja, namun bisa juga secara integratif pada saat mata pelajaran lainnya disampaikan kepada peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan di luar jam pelajaran yang dilakukan di sekolah atau di luar sekolah. Misalnya, melaksanakan penyuluhan tentang gizi, narkoba, dan sebagainya terhadap peserta didik.
Selanjutnya berdasarkan pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan di sekolah dasar wilayah kerja puskesmas Kecamatan Doloksanggul secara keseluruhan menunjukkan hasil 95 % tergolong cukup. Pertolongan kesehatan kebanyakan dilakukan oleh guru dan perawat (100%). Hal ini disebabkan karena masih kurangnya tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kecamatan Doloksanggul seperti dokter,dan tenaga terlatih lainya dimana lebih didominasi
oleh tenaga kesehatan seperti perawat dan bidan. Namun hal ini tidak sejalan dengan pendapat Stanhope dan Lancaster (2000) pelayanan kesehatan di sekolah setidaknya dilakukan oleh tenaga perawat, dokter, tenaga terlatih, tenaga kesehatan mental, terapis, ataupun tenaga kesehatan lainya.
Tim Pembina UKS (2008) menyatakan bahwa beberapa hal yang mendukung pelaksanaan TRIAS UKS adalah dengan pelaksanaan dokter kecil (kader kesehatan siswa), pengadaan ruang/ sudut UKS, dan pengadaan alat peraga UKS. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa pelaksanaan kader kesehatan siswa belum pernah dilaksanakan sama sekali (0%), dan pengadaan ruang kesehatan khusus tidak ada (0%), karena penyelenggaraan pelatihan dokter kecil dan pengadaan ruang kesehatan khusus pada sekolah dasar negeri di wilayah puskesmas Kecamatan Doloksanggul masih dalam tahap perencanaan yang akan dilaksanakan dengan kerjasama lintas program dan lintas sektoral antara pihak sekolah dan pihak puskesmas seperti mengadakan pertemuan petugas kesehatan dan tim pembina UKS tingkat kecamatan, mempersiapkan sarana dan biaya yang diperlukan, persiapan pelatihan dokter kecil dan persiapan administrasi.
Pemeriksaan kesehatan umum/ penyaringan kesehatan bagi siswa menurut 98% responden adalah baik, hal ini sesuai dengan pendapat Supranto (2004) bahwa salah satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan adalah penyaringan kesehatan yaitu dengan melakukan pengkajian fisik, pengkajian pengelihatan, pendengaran, dan kondisi lainya yang memerlukan perhatian khusus. Hal ini dapat terwujud karena adanya kerjasama yang baik dan terkoordinasi antara lintas
program dan lintas sektoral pihak sekolah dengan petugas kesehatan yang ada di puskesmas kecamatan Doloksanggul diwujudkan dengan adanya kunjungan rutin penjaringan kesehatan pada anak baru kelas I setiap awal tahun ajaran baru, melakukan penyuluhan, pembagian obat cacing dua kali setahun yaitu pada bulan Mei dan November, melakukan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) yang biasa dilakukan pada bulan Oktober atau November, pencabutan gigi susu sekali setahun. (Data Puskesmas Kecamatan Doloksanggul, 2012)
Hasil ini sejalan juga dengan pendapat Nursalam (2004) yang mengatakan penekanan utama pada pelayanan kesehatan di sekolah atau madrasah adalah upaya peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), pengobatan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilakukan secara serasi dan terpadu terhadap peserta didik yang pada khususnya dan warga sekolah pada umumnya dibawah koordinasi pembina UKS dengan bimbingan teknis dan pengawasan puskesmas setempat.
Pada program UKS untuk kegiatan pembinaan lingkungan sekolah sehat yang dilakukan oleh sekolah dasar yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Doloksanggul menunjukkan 60,94% cukup. Pemeliharan lingkungan sekolah secara fisik dimana pemeliharan kebersihan lingkungan sekolah, penyediaan sumber air bersih, pembuangan air/ sanitasi, tempat sampah di setiap ruangan kelas pada setiap sekolah sudah tersedia, dan pemeriksaan kelayakan sekolah terhadap fasilitas kantin, kelas, fasilitas olahraga dan penerangan di dalam dan diluar gedung sekolah sudah dilaksanakan yang kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan penjaringan. Menetapkan kebijakan yang tertutup
dalam arti siswa tidak diizinkan meninggalkan area sekolah selama waktu sekolah, termasuk saat istirahat dan rutin dilakukan razia pakaian, tas maupun laci siswa yang dilakukan oleh beberapa sekolah yang menjadi sampel penelitian ini.
Namun, pemeliharan lingkungan sekolah secara mental (psikologis) atau non fisik adalah kurang dimana kurangnya peran aktif dari seluruh masyarakat di sekolah dalam pemeliharaan lingkungan sekolah seperti tidak adanya staff yang bertugas untuk mengawasi lingkungan sekolah, tidak adanya pengadaan dokter kecil, tidak adanya konselor sekolah atau guru BP3 yang bertugas untuk mengatasi permasalahan siswa . Hal tersebut disebabkan karena kurangnya dana yang mendukung pelaksanaan tersebut seperti pendanaan untuk menggaji penjaga sekolah, melakukan pelatihan dokter kecil, serta masih sedikitnya guru yang khusu menangani siswa yang bermasalah seperti guru BP3. (Data Dinkes Kabupaten Humbang Hasundutan, 2012)
Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Tim Pembina UKS (2008) bahwa pembinaan lingkungan sekolah sehat merupakan salah satu unsur penting dalam membina ketahanan sekolah yang harus dilakukan, karena lingkungan kehidupan yang sehat sangat diperlukan untuk meningkatkan kesehatan seluruh komunitas sekolah serta peningkatan daya serap siswa dalam proses belajar mengajar maka pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat dilaksanakan baik pemeliharaan secara fisik dan secara non fisik (mental). Pembinaaan lingkungan sekolah yang sehat sangat diperlukan, sesuai dengan pendapat Swanson dan Nies bahwa lingkungan sekolah yang sehat dimulai dari kebijakan pemerintah, kebijakan dewan sekolah tentang lingkungan sekolah yang sehat.