• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Pembahasan ini berisis tentang analisis data yang sudah diperoleh oleh peneliti untuk mencari dan juga menyusun data secara sistematis berdasarkan observasi, wawancara dan juga dokumen yang diperoleh dalam proses penelitian dilapangan. Berikut analisis data yang diperoleh :

1. Kondisi Psikologis Anak Pasca Terjadinya Tsunami

a. anak masih mengingat kejadian yang menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui apakah anak masih mengingat kejadian yang menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang pernah dialaminya dimana dalam hal ini adalah tsunami, peneliti mendapati temuan-temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai anak-anak yang masih mengingat kejadian yang menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang pernah dialaminya dimana dalam hal ini adalah tsunami.

No Anak masih mengingat kejadian tsunami yang pernah dialaminya

1 SH (Suheti)-AZ (Azka)

2 EL (Eti)-FA (Faud)

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan dari anak-anak yang masih mengingat kejadian menakutkan mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya dimana dalam hal ini adalah bencana tsunami.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai ingatan kejadian traumatis tsunami yang pernah dialami oleh anak-anak usia dini, dimana menurut corney dalam jurnal menjelaskan bahwa trauma berasal dari bahasa yunani yang berarti luka.89 Prawirohardjo juga mengungkapkan bahwa trauma merupakan sebuah pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba, mengejutkan dan meninggalkan bekas atau kesan yang mendalam pada jiwa seseorang yang mengalaminya.90

Ciri-ciri lain dari trauma yang diungkapkan oleh triantoro dan saputra adalah, disebabkan oleh kejadian dahsyat yang mengguncang diluar rencana dan kemauan kita, kejadiannya sudah berlalu, terjadi mekanisme psikofisis dimana artinya bila tidak melawan maka akan binasa, sensitif terhadap stimulus yang menyerupai kejadian asli.91

Dimana beberapa permasalahan yang dialami oleh anak korban bencana adalah akan merasa takut untuk masuk kedalam rumah, mengalami gangguan tidur seperti mimpi buruk, dan akan menangis jika mendengar suara gaduh, serta ditemukan juga perubahan sikap anak yang menjadi lebih sensitif

89 Hayatul Khairul Rahmat, Desi Alawiyah. Konseling Trauma: Sebuah Strategi Guna Mereduksi Dampak Psikologis Korban Bencana Alam. Jurnal mimbar: media intelektual muslim dan bimbingan rohani, Vol. 6, No 1, 2020. h.39

90 Ibid.

91 Hayatul Khairul Rahmat, Desi Alawiyah. Konseling Trauma: Sebuah Strategi Guna Mereduksi Dampak Psikologis Korban Bencana Alam. Jurnal mimbar: media intelektual muslim dan bimbingan rohani, Vol. 6, No 1, 2020. h. 37

3 SJ-OZ (Ozil)

4 ML-ZN (Zahdan)

5 MY, AD-RZ (Rizal)

6 AK (Avika) 06:38

seperti mudah tersinggung.92 begitu juga ciri-ciri yang masih dialami oleh anak-anak di desa sumberjaya pasca 2 tahun terjadinya tsunami dimana dari hasil wawancara yang dilakukan bersama ibu dan ada juga yang bersama ayah, kakek dan juga nenek dari anak yang menjadi korban tsunami menunjukkan beberapa ciri-ciri seperti timbulnya rasa takut, menangis bila mengalami beberapa kejadian seperti mati lampu, hujan deras, suara gaduh, suara angin kencang dimalam hari.

b. anak memimpikan hal yang buruk mengenai apa yang terjadi

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui apakah anak memimpikan hal yang buruk mengenai hal yang pernah dialaminya dimana dalam hal ini adalah tsunami, peneliti mendapati temuan-temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai anak-anak masih memimpikan hal yang buruk mengenai hal yang pernah dialaminya dimana dalam hal ini adalah tsunami.

92 Zurriyatun Thoyibah, (2019). Gambaran dampak kecemasan dan gejala psikologis pada anak korban bencana gempa bumi di Lombok.. Journal of holistic nursing and health science, Vol.

2, No 1. https://ejournal2.undip.ac.id. diakses pada 07 Oktober 2019. h. 34-35

No anak memimpikan hal yang buruk mengenai apa yang terjadi

1 SJ -OZ (Ozil) M 08:42,03.30

2 SS-AA (Aufa) M 06:35

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan dari anak-anak yang masih masih mengalami mimpi buruk mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya dimana dalam hal ini adalah bencana tsunami.

Pasca bencana alam, anak-anak memiliki reaksi fisik dan psikologis yang umum terjadi dimana salah satunya adalah seperti :93 Sulit tidur dan mengalami gangguan pola tidur serta megalami mimpi buruk (BAB II), dimana hal ini juga masih dialami oleh dua orang anak dimana ibu dari anak-anak tersebut mengungkapkan bahwa anak-anaknya masih mengalami mimpi buruk mengebai kejadian traumatis yang dialaminya dalam hal ini adalah tsunami.

c. terkadang anak bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui apakah anak terkadang bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali, peneliti mendapati temuan-temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai anak-anak yang terkadang bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali dimana dalam hal ini adalah kejadian tsunami.

93 Ibid.40

No terkadang anak bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan

terjadi kembali

1 H-ES (Elisa) M 07:02

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan dari anak-anak yang terkadang bertindak atau merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kembali.

Astuti (BAB II) juga menjelaskan bahwa anak-anak juga berdampak mengalami gangguan psikologis pasca bencana alam, yang dirasakan oleh korban biasanya menunjukkan gejala seperti sulit tidur, rasa takut yang berlebihan, takut masuk rumah, tidak mau tidur didalam rumah, diliputi kecemasan dan menarik diri.94 Dimana rasa cemas yang dialami anak-anak di desa Sumberjaya ini merupakan salah satu gangguan psikologis yang menyebabkan anak bertindak dan merasa sesuatu yang buruk aka terjadi kembali sperti tsunami yang mereka alami pada 2 tahun lalu.

d. anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui apakah anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya, peneliti mendapati

temuan-94 Zurriyatun Thoyobah, dkk. Gambaran dampak kecemasan dan gejala psikologis pada anak korban bencana gempa bumi dilombok. Htps://ejornal2.undip.ac.id/index.php/hnhs vol. 2. 1, juni 2019. h. 33

2 ML-ZN (Zahdan) M 03:17, M 04:42, M 04:50

3 SJ-OZ (Ozil) M 08:42, M 08:46

4 UP-AK (Avika) M 06:57

5 EL-FA (Faud) M 07:58

6 SS AA (Aufa) M 04:28

7 SH-AZ (Azka) M 04:38

8 MY-RZ (Rizal) M 06:24, A M 06:32

temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai apakah anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya, dimana dalam hal ini adalah kejadian tsunami.

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan apakah anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya dimana dalam hal ini adalah tsunami yang terjadi pada 2 tahun lalu.

Dimana dalam proses wawancara yang dilakukan bersama dengan ibu dan juga kakek dan nenek dari anak-anak yang pernah menjadi korban bencana alam tsunami pada 2 tahun lalu tidak menunjukkan rasa marah ketika teringat kejadian tersebut tapi justru masih merasa takut apabila terjadi beberapa tanda-tanda disekitarnya seperti mati lampu, hujan deras, angin kencang dimalam hari yang menimbulkan suara seperti gemuruh, bahkan gempa disekitar tempat tinggalnya, atau bahkan ketika hanya mendengar cerita mengenai tsunami saja anak akan merasa takut karena teringat pada tsunami yang telah terjadi pada 2 tahun lalu.

No anak merasa marah apabila diingatkan kembali mengenai hal buruk yang pernah dialaminya

1 ML-ZN (Zahdan) M 04:29, M 04:42, M 04:50

SJ-OZ (Ozil) M 08:38, M 08:46

2 MY-RZ (Rizal) M 01:52

H- E (Elisa) M 06:05

3 H-AZ (Azka) M 05:40, M 05:56

Dalam penelitian Vernberg dalam (Ulfah 2020) mengungkapkan bahwa rasa takut yang dialami anak-anak tidak bisa hilang begitu saja atau bersifat sementara selama proses pengalihan kondisi dan perhatian langsung.95 e. rekasi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui bagaimana rekasi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya, dimana peneliti mendapati temuan-temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai bagaimana rekasi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya dimana dalam hal ini adalah kejadian tsunami.

95 Ulfah nur hanifah, arum pratiwi. Gambaran kecemasan anak dengan post traumatic stress disorder sebagai dampak bencana alam angin puting beliung. Vol. 3 N0. 02, hal 173-184. mei 2020. h.179

No rekasi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya dialaminya

1 H-E (Elisa) M 07:02

AK (Avika) M 06:38

2 ML-ZN (Zahdan) M 04:38

3 SJ-OZ (Ozil) M 13:25

4 UP-AK (Avika) M 06:57, M 08:47

5 MY-RZ (Rizal) M 02:10, AD M 02:09

6 SS-AA (Aufa) M 04:28

7 SH-AZ (Azka) M 05:56

8 EI-FA (Faud) M 08:05

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan bagaimana rekasi tubuh anak bila mengingat kembali kondisi buruk yang pernah dialaminya dimana dalam hal ini adalah tsunami yang terjadi pada 2 tahun lalu.

Pasca bencana alam, anak-anak memiliki reaksi fisik dan psikologis yang umum terjadi seperti :96 Jantung berdebar-debar pada periode tertentu , Keringat dingin, Sakit kepala ketika berpikir mengenai bencana yang telah terjadi, Sulit tidur dan mengalami gangguan pola tidur serta megalami mimpi buruk, Teringan kembali dengan peristiwa yang terjadi, Sulit dalam berkonsentrasi serta menunjukkan reaksi seperti lari, berteriak, bersembunyi ketika mendengar suara keras atau mendengar getaran., Menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, Mudah marah, mudah merasa terganggu dan memandang negatif segala hal yang ada dilingkungan sekitarnya.

Hal tersebut juga ternyata masih dialami oleh anak-anak yang berada di desa Sumberjaya yang pernah menjadi korban bencana alam tsunami.

f. siklus tidur anak saat ini dan pasca terjadinya tsunami

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui bagaimana siklus tidur anak saat ini dan pasca terjadinya tsunami, dimana peneliti mendapati temuan-temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai bagaimana siklus tidur anak saat ini dan pasca terjadinya tsunami.

96 Ibid.40

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan bagaimana siklus tidur anak saat ini dan pasca terjadinya tsunami dialaminya.

Tidur merupakan aktivitas yang digunakan oleh manusia untuk beristirahat dan memulihkan kembali tenaga setelh melakukan berbagai kegiatan di siang hari, namun apa jadinya dengan anak-anak yang menjadi korban bencana alam tsunami di selat sunda yang ternyata masih mengalami siklus tidur pasca 2 tahun terjadinya tsunami.

Yang ternyata masih terdapat anak-anak yang mengalami gangguan tidur pasca 2 tahun terjadinya tsunami di desa Sumberjaya. Pasca bencana alam, anak-anak memiliki reaksi fisik dan psikologis yang umum terjadi dimana salah satunya adalah seperti :97 Sulit tidur dan mengalami gangguan pola tidur serta megalami mimpi buruk (BAB II), dan hal tersebut masih dialami oleh bebeapa anak-anak yang berada di ada desa Sumberjaya pasca 2 tahun tsunami, serta ada beberapa hal yang menyebabkan sklus tidur ank masih terganggu seperti hujan dimalam hari, angin kencang, mati lampu dimalam hari, hal tersebut menyebabkan anak mengalami gangguan dalam siklus tidurnya.

97 Ibid.40

No siklus tidur anak saat ini dan pasca terjadinya tsunami dialaminya

1 SS -AA (Aufa) M 02:04, M 03:09

2 ZN- ZN (Zahdan) M 02:23, M 02:39, M 03.15

3 SJ-OZ (Ozil) M 22:24, M 06:35

4 H-E (Elisa) M 06:05

5 EL-FA (Faud) M 05:43

6 A-RZ (Rizal) M 06:22

7 UP-AK (Avika) M 07:32, M 07:37

8 MY-RZ (Rizal) M 06:59

g. konsentrasi ketika mengobrol

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui bagaimana siklus konsentrasi ketika mengobrol pasca terjadinya tsunami, dimana peneliti mendapati temuan-temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai bagaimana konsentrasi ketika mengobrol pasca terjadinya tsunami

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan bagaimana konsentrasi anak ketika mengobrol pasca terjadinya tsunami yang dialaminya.

Mengobrol merupakan sebuah proses interaksi yang dilakukan dua arah atau lebih, mengibrol juga merupakan proses interaksi anak dengan anak lainnya, hal tersebut dapat menjadi salah satu bentuk interaksi yang dilakukan anak-anak, namun selama penelitian, peneliti menemukan anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan emosi anak pasca 2 tahun

No konsentrasi ketika mengobrol

1 CL 01 ZN (Zahdan)

2 CL 02 OZ (Ozil)

3 CL 03 AZ (Azka)

4 CL 04 FA (Faud)

5 CL 05 AA (Aufa)

6 CL 06 AZ (Azka)

7 CL 07 E (Elisa)

8 CL 08 RZ (Rizal)

terjadinya tsunami, hal ini terjadi ketika anak belum siap beradaptasi ketika dihadapkan dengan lingkungan maupun situasi yang baru dan belum menemukan orang yang cocok dengannya, mendapatkan hal yang tak terduga dari lingkungan sebayanya, seperti gangguan, gertakan maupun ketidak ramahan dari anak sebayanya.98

Selain itu Astuti juga menjelaskan bahwa anak-anak juga berdampak mengalami gangguan psikologis pasca bencana alam, yang dirasakan oleh korban biasanya menunjukkan gejala seperti sulit tidur, rasa takut yang berlebihan, takut masuk rumah, tidak mau tidur didalam rumah, diliputi kecemasan dan menarik diri.99

Menarik diri dari lingkungan menjadi salah satu penyebab anak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, dan hal tersebut dapat mempengaruhi proses pemkembangan emosi anak.

h. anak merasa was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya atau orang-orang terdekatnya

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui apakah anak merasa was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya atau orang-orang terdekatnya, dimana peneliti mendapati temuan-temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai apakah anak merasa was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya atau orang-orang terdekatnya.

98 Ibid., h. 11.6-11.7

99 Zurriyatun Thoyobah, dkk. Gambaran dampak kecemasan dan gejala psikologis pada anak korban bencana gempa bumi dilombok. Htps://ejornal2.undip.ac.id/index.php/hnhs vol. 2. 1, juni 2019 hal 33

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan apakah anak merasa was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya atau orang-orang terdekatnya, pasca 2 tahun terjadinya bencana alam tsunami di desa Sumberjaya.

Perasaan was-was merupakan salah satu bentuk reaksi fisik dan psikologis yang timbul pada diri anak pasca mengalami bencana alam seperti salah satunya adalah tsunami yang terjadi pada 2 tahun lalu didesa Sumberjaya. Hal dibawah ini juga terdapat beberapa reaksi fisik dan psikologis yang umumnya dilami pasca terjadinya bencana alam (BAB II) seperti:100 Masalah dalam pola makan, Jantung berdebar-debar pada periode tertentu, Keringat dingin , Sakit kepala ketika berpikir mengenai bencana yang telah terjadi, Sulit tidur dan mengalami gangguan pola tidur serta megalami mimpi buruk, Teringan kembali dengan peristiwa yang terjadi, Sulit dalam berkonsentrasi serta menunjukkan reaksi seperti lari, berteriak, bersembunyi ketika mendengar suara keras atau mendengar getaran.

Alaminya anak-anak di desa Sumberjaya akan merasa was-was apabila terjadi beberapa kejadian alam (seperti hujan, angin kencang, suara gemuruh

100 Ibid.40

No anak merasa was-was terhadap bahaya yang mungkin mengancamnya atau orang-orang

terdekatnya

1 ML-ZN(Zahdan) M 04:50

2 SJ- OZ (Ozil) M 13:25

3 UP-AK (Avika) M 07:08

4 SH-AZ (Azka) M 11:34, M 04:27

5 EI-FA (Faud) M 08:05

6 SH-AZ (Azka) M 07:50

7 MY-RZ (Rizal M 08:00

angin) dan non alam (mati lampu, suara gaduh, kerumunan). dimana beberapa kejadin tersebut dapat membangkitkan kembali memori buruk anak-anak yang memicu timbulnya perasaan was-was bahwa hal buruk akan kembali terjadi dan mengancam keselamatannya dan juga keluarganya.

Andoo, et.al dalam journal juga menjelaskan bahwa masalah psikologia anak yang berkaitan dengan bencana alam juga akan berlangsung lama setelah insiden tersebut terjadi.101 Itu artinya jika permasalahan tersebut tidak ditangani dengan baik dan sedini mungkin maka akan sangat mempengaruhi kondisi psikologis anak, dan dapat menjadi masalah baru dikehidupan anak selanjutnya.

i. anak mudah kaget atau terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan

Data yang telah diperoleh oleh peneliti dari lapangan cukup banyak oleh karena itu peneliti perlu melakukan proses reduksi data untuk memilah dan memilih data serta mengkategorikan data dari hasil observasi/catatan lapangan, dokumentasi dan juga wawancara. Dari beberapa proses penggalian data untuk mengetahui apakah anak mudah kaget atau terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan, dimana peneliti mendapati temuan-temuan dari beberapa informan baik melalui proses observasi, wawancara maupun dokumentasi.

Setelah di reduksi, maka proses selanjutnya adalah display data.

Display data disajikan dalam bentuk bagan, yang mana dilakukan untuk memaparkan data dengan memilih informasi-informasi mengenai apakah anak mudah kaget atau terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan.

101 Zurriyatun Thoyibah, (2019). Gambaran dampak kecemasan dan gejala psikologis pada anak korban bencana gempa bumi di Lombok.. Journal of holistic nursing and health science, Vol. 2, No 1. https://ejournal2.undip.ac.id. diakses pada 07 Oktober 2019. h. 33

No anak mudah kaget atau terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan

Setelah tahap display data selanjutnya adalah tahap verifikasi, dimana pada tahap verifikasi ini dilakukan untuk menarik kesimpulan apakah anak mudah kaget atau terperanjat dengan sesuatu yang tidak diharapkan, pasca 2 tahun terjadinya bencana alam tsunami di desa Sumberjaya yang pernah dialami oleh anak-anak di sana.\

Dalam mekanisme emosi, kaget merupakan sebuah tahap terakhir yang disebut Experience, merupakan persepsi dan interpretasi individu pada kondisi emosionalnya. pengalaman individu tersebut merupakan bentuk menerjemahkan dan merasakan perasaannya sebagai rasa takut, stress, terkejut, dan ngeri. (BAB II)

Rasa terkejut atau kaget yang dialami oleh anak-anak di desa sumberjaya umumnya di picu oleh beberapa hal seperti hujan deras, suara gemuruh angin, mati lampu, suara teriakan, dimana hal tersebut menyebabkan

Rasa terkejut atau kaget yang dialami oleh anak-anak di desa sumberjaya umumnya di picu oleh beberapa hal seperti hujan deras, suara gemuruh angin, mati lampu, suara teriakan, dimana hal tersebut menyebabkan

Dokumen terkait