• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Hasil penelitian di atas merupakan fakta-fakta yang menunjukkan bagaimana masyarakat Dusun Bulak, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, berpartisipasi dalam memberika pelayanan sosial bagi lanjut usia. Berikut akan dibahas mengenai makna-makna yang terkandung dalam fakta-fakta tersebut.

1. Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Sosial bagi Lanjut Usia di Dusun Bulak

a. Alasan Masyarakat Dusun Bulak Berpartisipasi dalam Pelayanan Sosial bagi Lanjut Usia

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat Dusun Bulak dalam pelayanan sosial bagi lansia dapat dikatakan cukup baik, karena masyarakat Dusun Bulak memiliki kepedulian terhadap kondisi lansia yang ada di keluarganya maupun yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Kepedulian ini yang menumbuhkan keinginan di masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan lanjut usia untuk menjalani kehidupan di masa tuanya.

Tingkat partisipasi masyarakat dalam memberikan pelayanan sosial bagi lansia di Dusun Bulak dapat dilihat dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari, dan

120

memberikan dorongan atau motivasi bagi lansia agar tetap aktif dalam mengikuti kegiatan yang ada di masyarakat. Tidak hanya keluarga lansia, masyarakat di Dusun Bulak juga memberikan pelayanan sosial bagi lansia, hal ini dapat diketahui dengan adanya kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Tunas Mekar di Dusun Bulak. Adanya pembentukan kelompok BKL Tunas Mekar ini, karena masyarakat memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kondisi lansia yang sakit, kurang mendapat perhatian keluarga, sehingga masyarakat ingin meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan lansia melalui berbagai pembinaan dan kegiatan agar lansia memiliki hari tua yang bahagia.

Selain BKL Tunas Mekar, sebagai bentuk perhatian dan upaya masyarakat untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan, lansia difasilitasi layanan pemeriksaan kesehatan atau Posyandu Lansia yang rutin dilaksanakan satu kali dalam sebulan sejak tahun 2011. Kegiatan pemeriksaan kesehatan yang meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, dan pemberian obat ini bekerjasama dengan Puskesmas Sentolo II melalui proses pengajuan proposal oleh tokoh-tokoh masyarakat Dusun Bulak. Adanya fasilitas pemeriksaan kesehatan ini karena masyarakat ingin memberikan layanan kesehatan kepada lansia agar kesehatan lansia tetap terjaga di masa tuanya. Dengan demikian, maka diharapkan kesehatan lansia tetap dapat terpantau dan apabila terdapat permasalahan kesehatan pada lansia akan segera mendapat penanganan.

Masyarakat juga memberikan pelayanan sosial bagi lasia melalui kegiatan-kegiatan yang ada di Dusun Bulak. Kegiatan tersebut meliputi pertemuan RT, pertemuan kelompok tani, pertemuan BKL, dan kerja bakti. Dalam kegiatan

121

tersebut banyak dilakukan musyawarah untuk membahas suatu kegiatan atau program. Semua masyarakat mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat dalam musyawarah tersebut, termasuk juga lansia. Hal ini karena masyarakat sadar akan persamaan hak yang dimiliki oleh lansia dan masyarakat bukan lansia.

Keberadaan pengusaha kerajinan tas kain perca dan tas agel di Dusun Bulak berdampak baik bagi kondisi ekonomi masyarakat Dusun Bulak termasuk lansia. Sebab, lansia tetap mendapat kesempatan untuk bekerja dalam pembuatan kerajinan-kerajinan tersebut. Lansia tetap dilibatkan dalam kegiatan tersebut, karena pengusaha peduli dengan kondisi ekonomi lansia yang sudah tidak seproduktif dulu lagi, serta ingin membantu lansia mengisi waktu luangnya agar tidak jenuh berdiam diri di rumah. Dengan kondisi fisik yang sudah mengalami penurunan, lansia diberi pekerjaan dan tugas yang ringan dalam proses pembuatan kerajinan tersebut.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa alasan atau latar belakang partisipasi masyarakat Dusun Bulak dalam memberikan pelayanan sosial bagi lansia di sekitar tempat tinggalnya antara lain karena: 1) masyarakat ingin meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan lansia, 2) memberikan pelayanan agar lansia sehat di masa tuanya, 3) masyarakat menyadari adanya persamaan hak yang dimiliki lansia dengan masyarakat bukan lansia, 4) ingin membantu lansia dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari lansia, 5) membantu lansia mengisi waktu luangnya agar tidak jenuh berdiam diri di rumah.

122

b. Bentuk-bentuk Partisipasi Masyarakat Dusun Bulak dalam Pelayanan Sosial bagi Lanjut Usia

Bentuk partisipasi masyarakat dalam memberikan pelayanan sosial bagi lansia dirasa sesuai dengan kajian sebelumnya yaitu tentang jenis partisipasi yang diungkapkan oleh Cohen dan Uphoff (dalam Siti Irene AD, 2015:61) yang menyebutkan bahwa jenis partisipasi yang pertama adalah partisipasi pengambilan keputusan, kedua partisipasi dalam pelaksanaan, dan yang terakhir partisipasi dalam evaluasi.

Partisipasi dalam pengambilan keputusan ini berkaitan dengan penentuan program, gagasan atau ide yang menyangkut kepentingan bersama dalam pembentukan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Tunas Mekar. Masyarakat hadir pada kegiatan Posyandu, masyarakat berdiskusi tentang pembentukan kelompok BKL, masyarakat mengungkapkan ide dan gagasan, berdiskusi bersama hingga memperoleh keputusan untuk membentuk kelompok BKL Tunas Mekar. Hal ini sejalan dengan pendapat Yudan Hermawan dan Yoyon Suryono (2016:105) bahwa partisipasi dalam perencanaan masyarakat dilibatkan penuh dalam proses perencanaan program melalui musyawarah bersama, pada musyawarah tersebut ide dan usulan dari masyarakat menjadi hal penting atau acuan dalam perencanaan program.

Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pelayanan sosial bagi lansia melalui berbagai kegiatan di Dusun Bulak ini meliputi menggerakkan sumber daya masyarakat untuk memberikan pelayanan sosial bagi lansia, seperti

123

keluarga dan masyarakat memberikan dukungan dan motivasi kepada lansia untuk tetap aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di Dusun Bulak. Peranan keluarga dan masyarakat sangat berarti dalam keberhasilan pelayanan sosial bagi lansia di Dusun Bulak. Tidak hanya dorongan, dukungan, ataupun motivasi saja yang diberikan, tetapi masyarakat juga berpartisipasi dan berkontribusi dalam bentuk pendanaan atau finansial untuk membantu dalam pelaksanaan kegiatan, maupun untuk penyediaan fasilitas. Hal ini sesuai dengan pendapat Yudan Hermawan dan Yoyon Suryono (2016:106) bahwa partisipasi dalam proses pelaksanaan masyarakat ikut berpartisipasi sebelum program dimulai sampai akhir program, berupa pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja, uang tunai, dan atau beragam bentuk lainnya.

Berdasarkan hasil studi dokumentasi yang dilakukan peneliti dari arsip notulensi BKL Tunas Mekar, partisipasi masyarakat dalam evaluasi kegiatan pelayanan sosial bagi lansia di Dusun Bulak ini melalui pertemuan Bina Keluarga Lansia (BKL) Tunas Mekar setiap awal tahun baru. Pertemuan ini dikhususkan untuk membahas ketercapaian kegiatan, hambatan, serta pemecahan masalah untuk perbaikkan pelaksanaan kegiatan di tahun selanjutnya. Pada kegiatan ini melibatkan pengurus dan anggota BKL Tunas Mekar yang memiliki anggota keluarga lansia. Seperti yang dijelaskan oleh Yudan Hermawan dan Yoyon Suryono (2016:106), partisipasi masyarakat dalam evaluasi merupakan aktivitas yang melibatkan pihak bersangkutan untuk mencari informasi dalam mengembangkan kegiatan yang sedang berjalan, pencarian informasi agar berjalan sesuai waktu dan sasaran yang ditetapkan.

124

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa masyarakat berpatisipasi dalam memberikan pelayanan sosial bagi lansia di Dusun Bulak dalam dua bentuk, yaitu partisipasi dalam bentuk fisik dan partisipasi dalam bentuk nonfisik.

Pertama, partisipasi masyarakat dalam bentuk fisik meliputi pendanaan, tenaga, dan melalui keterampilan atau keahlian yang dimiliki masyarakat, sebagai berikut:

Partisipasi pendanaan dapat berupa partisipasi dalam bentuk uang maupun finansial. Partisipasi masyarakat dalam bentuk uang yaitu: 1) masyarakat Dusun Bulak yang memberikan sumbangan dana berkaitan bantuan biaya akomodasi, transportasi, dan lain-lain yang diperlukan dalam proses pengajuan bantuan, 2) sumbangan dana untuk pengadaan PMT dalam kegiatan Posyandu Lansia, sehingga lansia tidak akan terbebani dengan tuntutan iuran. Selain itu anggota keluarga juga berpartisipasi dalam bentuk finansial dalam memenuhi kebutuhan dasar papan, sandang, pangan, antara lain: 1) menyediakan fasilitas tempat tidur dan ibadah untuk memenuhi kebutuhan lansia di tempat tinggalnya, 2) kebutuhan pakaian, 3) kebutuhan makan sehari-hari lansia. Sejalan dengan pendapat Yudan Hermawan dan Yoyon Suryono (2016:106) yang menjelaskan bahwa partisipasi fisik masyarakat dalam bentuk material yaitu masayarakat dengan sukarela memberikan sumbangan sarana prasarana untuk keberhasilan program baik berupa tempat maupun alat.

Partisipasi tenaga yang diberikan masyarakat Dusun Bulak untuk menunjang keberhasilan kegiatan pelayanan sosial bagi lansia di sekitar tempat

125

tinggalnya meliputi: 1) masyarakat secara sukarela membentuk organisasi Bina Keluarga Lansia (BKL) dengan berkonsultasi kepada pihak-pihak terkait terlebih dahulu hingga memperoleh pembinaan untuk melaksanakan kegiatan BKL, 2) terkait dengan bantuan sosial, perangkat dusun melakukan pengajuan dengan mendata terlebih dahulu nama-nama lansia yang sesuai kriteria berhak memperoleh bantuan BPJS dari pemerintah, 3) selain BPJS, bantuan lain berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi lansia juga melibatkan partisipasi tenaga masyarakat, mulai dari menentukan nama lansia calon penerima hingga proses pembagiannya, 4) tidak hanya masyarakat dewasa yang berpartisipasi dalam bentuk tenaga dalam memberikan pelayanan bagi lansia, tapi remaja juga dengan sukarela mengantarkan seorang lansia yang sakit untuk melakukan pengobatan di rumah sakit. Hamijoyo (dalam Desi Usmania, 2014:23) berpendapat bahwa, partisipasi dalam bentuk tenaga adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program.

Partisipasi masyarakat Dusun Bulak dalam bentuk keterampilan atau keahlian meliputi: 1) masyarakat yang memiliki keahlian sebagai konselor memberikan layanan konseling secara sukarela kepada lansia maupun keluarga lansia yang ingin berkonsultasi seputar permasalahan sehari-hari khususnya terkait lansia, 2) keterampilan medis untuk mendeteksi permasalahan kesehatan lansia, 3) masyarakat yang memiliki pengetahuan serta kemampuan memberi penyuluhan juga dengan sukarela menyampaikan penyuluhan kepada lansia terkait manfaat mengikuti pelayanan kesehatan, 4) masyarakat juga melatih

126

lansia membuat kerajinan tas agel dalam kegiatan ekonomi. Senada dengan pendapat Yudan Hermawan dan Yoyon Suryono (2016:106) bahwa masyarakat berpartisipasi untuk bisa menggunakan keterampilan yang telah dimiliki dalam meningkatkan kualitas kehidupannya, sumbangan ini dapat berupa peningkatan pengetahuan anggota masyarakat, peningkatan keterampilan, perbaikan perilaku, peningkatan pendapatan, dan penciptaan lapangan kerja.

Kedua, partisipasi dalam bentuk nonfisik meliputi pemikiran, partisipasi sosial, dan partisipasi representatif atau pemberian mandat, sebagai berikut:

Masyarakat berpartisipasi dalam bentuk pemikiran berupa gagasan, usulan, dan pengambilan keputusan. Masyarakat memberikan gagasan untuk membentuk paguyuban yang menaungi keluarga lansia yakni organisasi BKL (Bina Keluarga Lansia), selanjutnya masyarakat melakukan diskusi untuk pengambilan keputusan terkait pembentukan organisasi tersebut. Selain itu, masyarakat juga menyampaikan usulan terkait pemberian bantuan bagi lansia, meskipun keputusan tetap berada di tangan pemerintah desa. Sejalan dengan penjelasan yang disampaikan oleh Yudan Hermawan dan Yoyon Suryono (2016:106) bahwa ide dan pikiran yang dilakukan oleh masyarakat, dirumuskan secara bersama dalam musyawarah.

Partisipasi masyarakat dalam pelayanan sosial bagi lansia di Dusun Bulak dalam bentuk partisipasi sosial sebagai tanda paguyuban serta memotivasi lansia untuk turut berpartisipasi atau mengajak lansia dalam kegiatan yang dilaksanakan di dusun, antara lain kegiatan pengajian, pelayanan kesehatan, dan menjenguk orang sakit. Hal ini seperti definisi dari Hamijoyo (dalam Desi

127

Usmania, 2014:23) partisipasi sosial ini diberikan oleh partisipan sebagai tanda paguyuban, misalnya arisan, menghadiri kematian, dan lainnya dan dapat juga sumbangan perhatian atau tanda kedekatan dalam rangka memotivasi orang lain untuk berpartisipasi.

Kemudian, partisipasi representatif yang diberikan masyarakat dalam kegiatan pelayanan sosial bagi lansia dilakukan dengan cara memberikan mandat/kepercayaan kepada kader Posyandu Lansia dan anggota BKL untuk melaksanakan piket dan tugas lain sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, serta pembagian kader untuk tiap-tiap RT. Sejalan dengan Chapin dan Holil (dalam Desi Usmania, 2014:23) yang menjelaskan bahwa partisipasi representatif dilakukan dengan cara memberikan mandat/kepercayaan kepada wakilnya yang duduk dalam organisasi atau panitia.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan partisipasi masyarakat dalam memberikan pelayanan sosial bagi lansia dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu partisipasi dalam bentuk fisik dan partisipasi dalam bentuk nonfisik.

a. Partisipasi fisik

1) Partisipasi dalam bentuk pendanaan atau finansial seperti pemberian sumbangan dana untuk biaya akomodasi pengajuan bantuan sosial, PMT Posyandu Lansia, pemberian fasilitas kamar tidur dan tempat ibadah, serta pemenuhan kebutuhan pakaian dan makan sehari-hari lansia. 2) Partisipasi dalam bentuk tenaga seperti masyarakat membentuk

128

berpartisipasi dalam pembagian PMT lansia, hingga mengantarkan lansia berobat ketika sakit.

3) Partisipasi dalam bentuk keterampilan atau keahlian meliputi pemberian layanan konseling oleh masyarakat yang memiliki keahlian sebagai konselor, sosialisasi atau pemberian wawasan bagi lansia, dan melatih membuat kerajinan tas agel dalam kegiatan ekonomi.

b. Partisipasi Nonfisik

1) Partisipasi dalam bentuk pemikiran antara lain gagasan masyarakat untuk membentuk kelompok BKL Tunas Mekar di Dusun Bulak dan usulan pengadaan bantuan PMT lansia pada kegiatan Musbangdes di Balai Desa Tuksono.

2) Partisipasi sosial yang diberikan masyarakat berupa ajakan dan motivasi yang dilakukan masyarakat kepada lansia untuk mengikuti kegiatan keagamaan, pelayanan kesehatan, hingga kegiatan menjenguk tetangga yang sakit.

3) Partisipasi representatif atau dengan pemberian mandat dilakukan masyarakat dalam hal pembagian jadwal piket Posyandu Lansia dan pembagian kader BKL Tunas Mekar di tiap-tiap RT di Dusun Bulak. c. Pelayanan Sosial bagi Lanjut Usia di Dusun Bulak

Seiring dengan bertambahnya usia, lansia memiliki banyak kebutuhan dan masalah yang disebabkan oleh penurunan kondisi fisik dan psikis. Kebutuhan sebagai lansia harus dapat dipenuhi agar tidak menimbulkan masalah sehari-hari. Pelayanan sosial yang ada di masyarakat harus sesuai dengan kebutuhan dan

129

mampu membantu lansia mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh lansia. Dalam Pendampingan Pelayanan Sosial Lanjut Usia Berbasis Masyarakat dijelaskan bahwa pelayanan sosial sebagai suatu proses interaksi dalam bentuk ikatan sosial antara yang memberikan pelayanan dengan yang menerima pelayanan sosial dalam upaya memberikan kemudahan untuk mengidentifikasi kebutuhan serta memecahkan masalah yang dihadapi dan juga mendorong tumbuhnya keberanian untuk mengungkap realitas hidup dan melakukan dan melakukan aktivitas guna meningkatkan kualitas hidup penerima pelayanan. Dalam hal ini penerima pelayanan yang dimaksud adalah masyarakat lanjut usia (Depsos RI, 2009: 5).

Pelayanan sosial lanjut usia berbasiskan masyarakat mempunyai tujuan terwujudnya kualitas lanjut usia yang menjamin dirinya mampu menjalani fungsi dan peranan sosialnya secara wajar melalui pelayanan dari, dan oleh masyarakat. Pelayanan sosial lanjut usia berbasis masyarakat yang ada di Dusun Bulak, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo antara lain pelayanan bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan spiritual.

Pelayanan bidang sosial merupakan wadah bagi lansia untuk dapat ber-silaturrahmi dengan lingkungannya, baik dengan sesama lansia maupun dengan masyarakat yang bukan lansia. Pelayanan sosial berfungsi untuk meningkatkan interaksi sosial lansia di masyarakat, sehingga lansia tetap bisa berhubungan baik dengan masyarakat dan tidak mengurung diri di rumah karena sudah dianggap tidak produktif lagi. Kegiatan yang rutin dilaksanakan yaitu pertemuan RT, pertemuan kelompok tani, pertemuan Bina Keluarga Lansia (BKL) Tunas

130

Mekar, dan kerja bakti. Selain itu, lansia juga masih diberi kesempatan untuk menjabat dalam kepengurusan Dusun Bulak, yaitu sebagai Ketua RT, Linmas, dan seksi Kerohanian.

Dalam kajian teori disebutkan bahwa salah satu permasalahan yang dialami oleh lansia yang diakibatkan oleh penurunan kondisi fisik dan psikis adalah masalah sosial. Masalah sosial yang dihadapi lansia yaitu berkurangnya kontak sosiaal, baik dengan anggota keluarga, masyarakat, lingkungan tempat tinggalnya, dan apabila dia tidak aktif dalam kegiatan masyarakat, maka akan muncul ketergantungan hanya beraktivitas di dalam rumah, kesepian, murung,dan membatasi diri untuk bergaul dengan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pelayanan sosial seperti pertemuan RT, pertemuan kelompok tani, pertemuan BKL Tunas Mekar, dan kerja bakti berjalan dengan baik. Dengan adanya pelayanan sosial yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Bulak, kebutuhan sosial lansia menjadi terpenuhi, antara lain lansia dapat diterima oleh keluarga maupun masyarakat, dapat bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya, dan terciptanya pandangan yang positif terhadap keberadaan lanjut usia.

Pelayanan kesehatan merupakan pelayanan yang bertujuan untuk memelihara kesehatan fisik lansia. Pelayanan kesehatan terdiri dari Posyandu Lansia atau pemeriksaan kesehatan, pemberian makanan tambahan, senam, rekreasi murah, serta Home Care Service setiap enam bulan berturut-turut yang merupakan program dari Dinas Sosial dan dilaksanakan oleh pengurus BKL Tunas Mekar.

131

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pelayanan kesehatan bagi lansia yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Bulak dan dibantu oleh petugas Puskesmas berjalan dengan baik dan dapat membantu lansia yang mengalami masalah pada kesehatannya. Akan tetapi, kegiatan senam tidak dilaksanakan apabila cuaca kurang mendukung, misalnya seperti saat ini musim hujan sehingga kegiatan senam ditiadakan. Selain itu, kegiatan rekreasi belum dapat rutin dilaksanakan karena pengurus dan anggota BKL Tunas Mekar memiliki kesibukan dan pekerjaan masing-masing yang tidak selalu dapat ditinggalkan, sehingga pelaksanaannya menyesuaikan waktu luang dari pengurus dan anggota BKL Tunas Mekar. Pelayanan kesehatan juga terkendala oleh dana, sehingga pemberian makanan tambahan bagi lansia hanya sekedarnya saja.

Pelayanan ekonomi merupakan pelayanan yang berfungsi untuk membantu lansia meningkatkan kondisi ekonominya dengan memanfaatkan sumber-sumber ekonomi yang ada. Pelayanan ekonomi yang ditujukan bagi lansia di Dusun Bulak yakni membuat tas dari kain perca dan kerajinan tas dari agel atau serat daun gebang. Mengingat kondisi fisik lansia yang mulai menurun, sehingga lansia tidak dibebani tugas atau pekerjaan yang rumit dan berat. Pada pembuatan tas kain perca, lansia bertugas mengelem kain perca pada pola sebelum dijahit menjadi tas belanja. Sedangkan, pada prose pembuatan tas agel, lansia bertugas untuk mepes atau mengupas dan nepung atau menyambung agel. Dalam kajian teori disebutkan bahwa masalah ekonomi yang dialami lasnia disebabkan oleh

132

menurunnya produktivitas kerja karena lansia memasuki masa pensiun sehingga pendapatan lansia mengalami penurunan.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masyarakat Dusun Bulak melaksanakan pelayanan ekonomi bagi lansia adar dapat membantu lansia memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta memelihara pendapatan lansia walaupun sudah tidak berusia produktif lagi. Selain itu, kegiatan ekonomi ini juga membantu lansia untuk mengisi waktu luangnya sehingga tidak mengalami kebosanan di masa tuanya.

Pelayanan spiritual merupakan pelayanan yang diberikan agar lansia meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta rajin beribadah. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pelayanan spiritual yang dilaksanakan secara rutin di Dusun Bulak yaitu pengajian rutin malam Jumat Kliwon, rabbana atau dhiba‟an, shalawatan, dan simak‟an Qur‟an. Pengajian, rabbana, dan shalawatan merupakan kegiatan pedukuhan dilaksanakan bergilir dari rumah ke rumah setiap satu bulan sekali. Sedangkan, untuk kegiatan simak‟an Qur‟an dilaksanakan di Masjid Al Abidin yang bertempat di RT 21. Kegiatan tersebut tidak hanya sebagai sarana ibadah, melainkan juga untuk kegiatan silaturrahmi antar lansia, maupun antara lansia dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelayanan sosial berbasis masyarakat bagi lanjut usia di Dusun Bulak meliputi pelayanan sosial, pelayanan kesehatan, pelayanan ekonomi, dan pelayanan spiritual.

a. Pelayanan sosial bagi lansia di Dusun Bulak yaitu berupa kegiatan pertemuan RT, pertemuan Kelompok Tani, pertemuan BKL, kegiatan kerja

133

bakti, serta lansia diberi kesempatan untuk menjabat dalam kepengurusan dusun.

b. Pelayanan kesehatan bagi lansia di Dusun Bulak antara lain Posyandu Lansia, senam lansia, rekreasi murah, dan Home Care Service yang merupakan program Dinsos dengan 6 kali kunjungan oleh kader BKL Tunas Mekar.

c. Pelayanan ekonomi bagi lansia di Dusun Bulak yakni kegiatan menempel kain dalam pembuatan tas perca, serta kegiatan mengupas dan menyambung serat daun gebang dalam pembuatan kerajinan tas agel.

d. Pelayanan spiritual bagi lansia di Dusun Bulak meliputi kegiatan pengajian rutin setiap malam Jumat Kliwon, rabbana atau dhiba‟an, shalawatan, dan simak Qur‟an.

d. Manfaat Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Sosial bagi Lanjut Usia di Dusun Bulak

Pelayanan sosial, kesehatan, ekonomi, dan spiritual yang diberikan masyarakat kepada lansia di Dusun Bulak dapat membantu lansia dalam memenuhi kebutuhannya. Apabila kebutuhan lansia dapat terpenuhi dengan baik, maka permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh lansia akan teratasi dan lansia dapat mencapai suatu kesejahteraan sosial di hari tuanya. Dari hasil penelitian diketahui bahwa lansia merasa senang dan terbantu. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan sosial yang diberikan masyarakat sudah sesuai dengan kebutuhan lansia.

134

Dalam Standarisasi Pelayanan Sosial Lanjut Usia Luar Panti (Depsos RI, 2009: 33), pelayanan sosial luar panti dikatakan berhasil jika:

1) Terpenuhinya Kebutuhan Fisik:

a) Terpenuhinya kebutuhan makan dan minum.

b) Terpenuhinya kebutuhan pakaian dan tempat tinggal. c) Terpeliharanya kesehatan fisik.

2) Terpenuhinya Kebutuhan Psikis: a) Terpenuhinya rasa kasih sayang. b) Merasa dihargai dan dibutuhkan. c) Bisa mencurahkan perasaan. d) Merasa aman.

3) Terpenuhinya kebutuhan mental spiritual:

a) Meningkatnya kesadaran dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kehidupan.

b) Meningkatnya pelaksanaan ritual ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan.

c) Memiliki wawasan dan pengetahuan. 4) Terpenuhinya kebutuhan sosial budaya:

a) Dapat diterima oleh lingkungan keluarga.

b) Dapat diterima oleh lingkungan masyarakat sekitar. c) Dapat bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya.

d) Terciptanya pandangan yang positif tentang keberadaan lanjut usia. 5) Terpenuhinya kebutuhan ekonomi:

a) Dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dokumen terkait