• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Siti Yeni Sulistyawati S441102008 (Halaman 168-196)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Tradisi perkawinan masyarakat Samin secara umum tidak ada bedanya dengan yang biasa berlaku dimasyarakat umum. Dalam masyarakat Samin, perkawinan dapat dinyatakan sah, jika sudah disahkan oleh orangtua pengantin perempuan dan disaksikan oleh warga sekitar. Menurut mereka, perkawinan yang dilaksanakan di KUA hanyalah untuk memenuhi peraturan pemerintah. Bahkan sebagian kecil masyarakat Samin yang tinggal di Desa Kemantren masih ada yang belum mencatatkan perkawinannya ke KUA. Hal ini juga dilakukan oleh pasangan pengantin yang dijadikan objek dalam penelitian ini.

Cara pelaksanaan perkawinan pada masyarakat Samin dimulai dengan cara jawab yang dilakukan oleh calon pengantin laki-laki kepada orangtua calon pengantin perempuan. Terdapat beberapa fersi pengucapan jawab dan sadat dalam perkawinan masyarakat Samin. Hal ini dikarenakan jawab dan sadat tidak menggunakan bahasa baku dan memiliki sifat fleksibel. Menurut masyarakat Samin, bahasa yang digunakan dalam pengucapan jawab dan sadat tersebut adalah termasuk bahasa Jawa ragam krama inggil. Bahasa tersebut untuk selanjutnya akan diwariskan kepada generasi penerusnya secara turun temurun. Untuk itu dapat dikatakan bahwa hal ini termasuk salah

commit to user

satu bentuk tradisi lisan. Maka dari itu dapat ditemukan pengucapan jawab dan sadat yang berbeda-beda, namun intinya adalah sama yakni meminta ijin dan mengikat janji.

Menyikapi berbagai fersi jawab dan sadat yang memiliki lebih dari satu fersi, maka dalam pembahasan ini akan disajikan satu fersi saja yakni dipilih fersi yang dituturkan oleh Sardji yang akrab disapa mbah Sardji. Jawab yang diucapkan oleh calon pengantin laki-laki yakni: Pak, Mbok lampah kula mriki wau gadhah karêp ajêng suwito kalih Panjênêngan. Anane kula suwito Panjênêngan sêkalian, kula gadhah karêp ajêng ngarêpakên turun ndiko estri pangaran... Niki yen Sampeyan pun nglêgakakên mbenjangipun badhe kula jak nglampahi tatane tiyang sikêp rabi. Selanjutnya orangtua calon pengantin perempuan yang dijawab oleh calon pengantin laki-laki tadi, akan nari (menanyakan) kepada calon pengantin perempuan. Jika calon pengantin perempuan telah setuju, maka calon pengantin laki-laki (calon suami) akan melaksanakan nyuwito. Nyuwito adalah suatu pengabdian diri (magang atau ngengger) ditempat orangtua calon pengantin perempuan sampai mereka

berdua “rukun” (bersetubuh). Kemudian Bapak dari calon pengantin

perempuan menjawab: E iya Le wis tak tampa panyuwitanêm, anakku mbok jawab ya wis tak lêgakna. Sêpisan iki wae kanggo sêlawase ngantio dadi kaken-kaken lan ninen-ninen.”

Jika mereka berdua (calon pengantin) telah rukun, maka calon pengantin laki-laki akan menemui orangtua dari calon pengantin perempuan dan berkata E, Pak, Mbok niki turun ndiko mpun rukun, tatane tiyang mpun kula lampahi.

commit to user

Bapak dari calon pengantin perempuan menjawab: E, ya Le nek ngono wong

tuwa tak tata, têrus nglumpukna wong dikon nyêkseni, disadat.

Pada saat pelaksanaan upacara perkawinan, pihak calon pengantin perempuan harus disaksikan oleh orangtuanya. Akan tetapi untuk pihak calon pengantin laki-laki tidak wajib disaksikan oleh orangtuanya. Perkawinan juga disaksikan oleh warga setempat yang hadir. Perkawinan diawali dengan pengucapan sadat wali (ikrar). Sadat menurut mereka berasal dari kata pisahe adat, yakni berpisahnya adat yang semula seorang diri bersama orangtuanya, menjadi memisah karena sudah memiliki pasangan hidup atau sudah tidak sendiri lagi. Bunyi sadat wali tersebut adalah sebagai berikut:

Ya para sêdherek sêdaya, sêpuh utawi anem ingkang sampun nglêmpak wontên ing ngriki, kula ken nêkseni ucap kula kaliyan putra nganten. Niki kula duwe turun anak wedok pêngarane ... (nama calon pengantin perempuan) wis tak lêgakna janji karo pênganten lanang ... (nama calon pengantin laki-laki). Iki wis enek kandhane pênganten lanang nek wis padha dhêmêne. Kula sêkseni sanjange pênganten lanang, nek mpun dinikah. Tampa Ten!

Pengucapan sadat wali tersebut akan dilanjutkan dengan pengucapan sadat nganten oleh calon pengantin laki-laki. Bunyi sadat nganten yaitu Nggih Pak mpun kula tampa wit Jêng Nabi jênêng kula lanang sênêng rabi, tata dhêmên wedok pêngaran ... (nama calon pengantin perempuan) kukuh jawab dhêmên janji, tak nikah mpun kula lampahi.

commit to user

Setelah upacara perkawinan dengan adanya pengucapan sadat wali dan sadat nganten dilaksanakan, maka mereka berdua telah sah menjadi pasangan suami isteri, walaupun perkawinan tersebut tidak dicatatkan ke KUA.

Masyarakat Samin juga memiliki tradisi merayakan pesta perkawinan yang dikenal dengan istilah adang akeh. Pelaksanaan adang akeh mencerminkan bahwa masyarakat Samin sangat suka bergotong royong, saling membantu, dan sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan serta kekeluargaan. Jadi dalam pelaksanaan adang akeh, mereka tidak menggunakan jasa karang taruna maupun tenaga kerja dari luar. Semua pekerjaan yang ada selama adang akeh berlangsung, akan dikerjakan bersama oleh para saudara dan tetangga yang jumlahnya cukup banyak sehingga terasa ringan. Tidak hanya dalam hal pekerjaan, mereka juga tidak perlu menyewa kekurangan peralatan rumah tangga seperti peralatan di dapur dan meja-kursi untuk para tamu yang jumlahnya tidak sedikit. Semua kekurangan tersebut dapat tertutupi dengan adanya bantuan pinjaman dari para warga sekitar.

Pelaksanaan pesta perkawinan tersebut dapat dikatakan berlangsung secara sederhana dan tidak dijumpai adanya pelamina untuk kedua pengantin.Hal ini dikarenakan menurut masyarakat Samin, upacara perkawinan yang paling penting adalah pada saat kawinan yang dijumpai adanya pengucapan sadat dan telah disahkan oleh orangtua.

Selain itu, menurut mereka maksud dari dihadirkannya pelamina untuk pengantin adalah merupakan lambang kebahagiaan dua orang pengantin yang disandingkan. Jadi hal itu hanya merupakan perlambang. Oleh karena itu

commit to user

menurut mereka tidak perlu menghadirkan pelamina seperti itu, pada kenyataannya pengantin sudah rukun. Perlambang-perlambang tersebut sudah berada pada diri masing-masing pengantin. Untuk itulah mereka tidak menghadirkan pelamina pada saat pesta perkawinan.

Selain tidak dijumpai adanya pelaminan pada saat pelaksanaan upacara pesta perkawinan, juga ditemukan ciri khas dalam menerima sumbangan dari para tamu. Sumbangan yang dibawa para tamu baik perempuan maupun laki-

laki, semuanya membawa sandhang pangan atau bahan-bahan sembako. Hal

ini dikarenakan masyarakat Samin tidak menerima sumbangan berupa uang pada saat pesta perkawinan.

Menurut masyarakat Samin, ketika pesta upacara perkawinan berlangsung, para tamu akan disuguh makan dan minum. Untuk itulah jika para tamu ingin

menyumbang, maka sumbangan mereka berupa sandhang pangan, bukan

berupa uang. Ada yang berpendapat jika sumbangannya berupa uang, dapat menimbulkan kesan jual beli. Hal ini dikarenakan mereka sebagai tamu yang usai disuguh makan dan minum, kemudian memberikan sumbangan berupa uang, hal itu terkesan seperti orang membeli makan dan minum di warung yang kemudian dibayar dengan uang. Padahal dalam adang akeh tersebut, mereka tidak berdagang, jadi tidak perlu ada yang membeli.

Pendapat yang lain mengatakan bahwa pada jaman dahulu uang adalah barang yang dibuat oleh pemerintah Belanda (pada jaman penjajahan), untuk itu masyarakat Samin tidak mau menerima uang, yang mereka butuhkan untuk hidup adalah sandhang pangan. Selain itu ketika ada pihak pemerintah

commit to user

Belanda yang mempunyai hajat, mereka akan menggunakan uang sebagai sumbangan. Menyikapi hal tersebut, menurut masyarakat Samin maka pendahulunya sewaktu itu (pada jaman penjajahan) telah mengikrarkan janji bagi para pengikutnya maupun generasi penerus yang mau mengikutinya kelak. Janji tersebut yakni menyatakan bahwa ketika salah seorang masyarakat Samin mempunyai hajat, mereka jangan sampai mau menerima sumbangan yang berupa uang. Olah karena itu, walaupun pada jaman sekarang Indonesia sudah merdeka, masih ada masyarakat Samin yang tetap tidak mau menerima sumbangan berupa uang.

Hal ini menjadikan pada jaman sekarang ada dua macam cara dalam menerima sumbangan, yakni masih ada yang tidak mau menerima sumbangan berupa uang dan ada yang sudah mau menerima sumbangan berupa uang. Jadi hal itu merupakan hak pribadi. Adakalanya bagi masyarakat Samin yang sudah mau menerima uang, cara yang digunakan yakni orang yang menerima uang bukan yang punya hajat, melainkan sang pengantin. Jadi menurut mereka tamu yang memberikan uang tadi memiliki tujuan memberikan uang saku kepada pengantin, bukan menyumbang untuk pesta perkawinan.

Selanjutnya jika hasil dari sumbangan pada saat pesta perkawinan tersebut masih banyak, maka sumbangan tersebut akan ditukar dengan uang. Hal ini berdasarkan penuturan Sariman, yaitu “Lha nak asile akeh ki ya nak butuhe urung cukup, ya diijolna itungan. Dadine ijol.”

Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa prosesi perkawinan masyarakat Samin yang dilaksanakan di desa Kemantren masih tetap

commit to user

berpegang pada tradisi masyarakat Samin yang terdahulu. Walaupun pada jaman sekarang sudah banyak dijumpai beberapa pengaruh dari perkembangan jaman. Kemudian mengenai sumbangan pada saat upacara pesta perkawinan walaupun wujudnya sandhang pangan atau bahan-bahan sembako, namun pada hakekatnya juga akan kembali berupa uang. Meskipun demikian sumbangan yang berupa sembako memiliki kelebihan yang cukup signifikan, yakni ketika hendak menanak nasi maupun memasak sayuran atau lauk yang lain, dapat langsung menggunakan bahan dari hasil sumbangan.

2. Makna Simbolik dalam Tradisi Perkawinan Masyarakat Samin

Pelaksanaan tradisi perkawinan masyarakat Samin, sarat akan simbol- simbol tertentu yang disimbolkan dengan cara tersendiri. Dikatakan demikian karena tata cara seperti ini hanya dapat ditemui pada pelaksanaan tradisi perkawinan masyarakat Samin saja. Perkawinan masyarakat Samin akan dimulai dari jawab. Senada dengan pepatah orang Jawa bahwa wong Jawa ki sing penting Jawabe, demikian pula yang terjadi pada masyarakat Samin. Menurut pandangan masyarakat Samin, yang dapat menjadikan seseorang memiliki sesuatu itu dikarenakan adanya jawab. Dengan jawab maka seseorang dapatmempunyaipeluang untuk memiliki sesuatu yang diinginkan tersebut.

Perkataan cara jawab, dicontohkan oleh Sariban, Pak karo Mbok duwe anak wedok arêp takkarêpna, rak ngono (Hasil wawancara pada hari Rabu,

commit to user

diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia yakni bapak dan ibu memiliki anak perempuan akan saya pinang.

Setelah jawab, maka prosesi selanjutnya adalah nyuwito. Berkaitan dengan nyuwito, dapat dijumpai beberapa makna simbolik yakni nyuwito merupakan suatu pengabdian. Lamanya pelaksanaan nyuwito bergantung pada kedua calon pengantin. Ibarat nasi, jika belum bisa dimakan, maka harus menunggu terlebih dahulu sampai nasi tersebut dimakan. Hal ini menyimbolkan bahwa masyarakat Samin jika ingin memiliki sesuatu yang belum waktunya, maka ia harus sabar menunggu dan tetap berusaha. Usaha tersebut tercermin dangan

adanya pengabdian. Selain itu nyuwito juga menyimbolkan bahwa

masyarakat Samin tidak suka memaksakan kehendak kepada orang lain. Segala sesuatu yang berkaitan dengan orang lain harus dilaksanakan dengan dasar persetujuan kedua belah pihak dan dengan hati yang sama-sama ikhlas.

Berakhirnya prosesi nyuwito ini ditandai dengan rukun (berhubungan suami-isteri) oleh calon pengantin. Jika mereka sudah rukun, selanjutnya calon pengantin laki-laki akan menyampaikan perihal tersebut kepada orangtua calon pengantin perempuan. Penyampaian tersebut bertujuan supaya

mereka segera diresmikan sebagai pasangan suami-isteri.Hal ini

menyimbolkan bahwa seorang laki-laki memiliki tanggungjawab yang besar terhadap kebaikan dari perempuan.

Selanjutnya dilaksanakan kawinan yang ditandai dengan pengucapan sadat wali dan sadat nganten. Sadat wali diucapkan oleh wali dari calon

commit to user

pengantin laki-laki. Menurut mereka pengucapan sadat tersebut menjadikan semua menjadi lebih jelas. Hal ini dikarenakan rukun yang telah dilakukan oleh kedua calon pengantin telah dikatakan sendiri oleh calon pengantin laki- laki kepada orangtua calon pengantin perempuan dan wali dari calon pengantin perempuan sendiri juga sudah menyatakan sah. Selain itu pada saat para warga dikumpulkan sebagai saksi (pada prosesi kawinan), orangtua dari calon pengantin perempuan telah menyarahkan anaknya kepada calon pengantin laki-laki dan pengantin laki-lakipun telah berjanji akan menjaganya dan memposisikan pengantin perempuan sebagai satu-satunya pasangan hidupnya sampai akhir hayatnya. Hal ini menyimbolkan bahwa masyarakat Samin bersifat terbuka, damai, tidak memaksakan jodoh, dan setia kepada pasangan hidupnya.

Kemudian akan diadakan upacara pesta perkawinan. Upacara pesta perkawinan pada masyarakat Samin cenderung disederhanakan. Sebagai contoh pada saat pesta perkawinan dilangsungkan, mereka tidak menghadirkan pelamina untuk pengantin. Menurut mereka pengantin cukup berhias secara sederhana lalu ikut menyapa para tamu yang datang. Pada saat hari pesta perkawinan masyarakat Samin tidak ditemukan adanya ubarampe yang biasa dihadirkan dalam tata cara perkawinan adat Jawa. Jadi pelaksanaan pesta upacara perkawinan tradisi Samin tidak menghadirkan ubarampe seperti halnya upacara perkawinan adat Jawa karena menurut masyarakat Samin, semua sudah berada dalam diri masing-masing pengantin.Makna dari tarub yakni diurubi, makna dari garu dikarêpna.

commit to user

Selanjutnya makna dari kêmbang mayang, seseorang jika tidak punya kêmbang tidak dapat mempunyai anak. Oleh karena tidak ditemukan adanya pelamina untuk pengantin, secara tidak langsung tata cara perkawinan adat Jawa juga tidak dilaksanakan. Hal ini menyimbolkan bahwa masyarakat Samin memiliki pandangan hidup bahwa semua konteks yang ada dalam kehidupan ini sudah ada pada diri masing-masing manusia.

Selain itu masyarakat Samin juga mengenal beberapa hal lain yang mengisyaratkan makna tertentu. Sebagai contoh dengan tidak dihadirkannya pelamina bagi pengantin merupakan simbol kesederhanaan dalam menjalani hidup. Selanjutnya pengantin tidak memakai busana pengantin yang cukup mewah, justru sebaliknya busana yang dipakai cukup sederhana. Walaupun demikian ia tetap terlihat berbeda sebagaimana pengantin pada umumnya dan pengantin tersebut selalu menyapa para tamu yang hadir. Hal ini menyimbolkan bahwa masyarakat Samin lebih merakyat, apa adanya, hemat, dan suka dengan pola hidup yang sederhana serta tidak bermewah-mewahan.

Selanjutnya orang tua atau yang punya hajat, tidak menerima sumbangan yang berupa uang, tetapi menerima sandhang pangan atau sembako. Hal ini menyimbolkan bahwa masyarakat Samin tidak terlalu berorientasi pada uang, tetapi kekerabatan atau persaudaraan lewat makanan.

Demikian pula pada saat adang akeh, semua kebutuhan mulai dari peralatan maupun tenaga akan dicukupi oleh para saudara dan tetangga sekitar. Hal ini menyimbolkan bahwa masyarakat Samin sangat menjunjung

commit to user

tinggi kerukunan, bergotong royong, saling membantu, dan sangat mengutamakan sistem kekeluargaan.

Selain itu masyarakat Samin pada jaman sekarang juga mengenal adanya sesaji untuk beberapa orang tertentu. Sajen tersebut diantaranya berisi, jadah dan jênang, krecek, opak, tape, kêmiri, ikan asin, cabai merah, minyak wangi, daun pinang dan sirih. Isi yang lain diantaranya adalah sisir, kaca untuk berhias, minyak wangi. Adanya kendi yang diberikan itu masih kosong tidak terisi air. Kendi itu mempunyai makna sebagai simbol orang yang hendak minum. Orang yang ingin minum biasanya akan menjinjing kendi dan langsung meminum air didalam kendi tersebut.

Kemudian dijumpai gêdhang yang menurut masyarakat Samin

menyimbolkan dhangkelane manusia itu berasal dari bapak dan ibu. Pemberian makna untuk gêdhang tersebut berbeda dengan makna pada umumnya yakni pada umumnya gêdhang bermakna digêgêt bar madhang. Termasuk pada saat upacara kawinan, yang dapat dijumpai adalah daun pinang dan buah pisang. Gêdhang disini akan dipilih pisang raja, dengan maksud pengharapan ketika telah berumah tangga kelak akan memiliki raja kaya atau harta kekayaan yang melimpah.

Selanjutnya jadah memiliki makna sebagai simbol untuk merekatkan persaudaraan. Kemudian jênang abang itu menyimbolkan kawah bayi dan ari- ari. Lebih lanjut tape memiliki unsur bau dan rasa, yakni sêngak lêgi. Rasa yang dimaksud tersebut yakni ada delapan. Perihal tersebut kembali kepada lubang manusia yang makan berjumlah delapan.

commit to user

Selain itu juga dijumpai kaca berhias digunakan untuk melihat diri atau menyimbolkan supaya seseorang harus sering mawas diri. Selanjutnya adalah sisir. Menurut pemahaman masyarakat Samin, sisir digunakan untuk

membersihkan sesuatu yang kotor pada rambut karena rambut ngêram barang

sing lêmbut untuk berpikir. Maka kadangkala disuruh mandi keramas supaya bening pikirannya.

Pembuatan sajen tersebut diperuntukkan untuk rumah, orang yang menanak nasi, orang yang menyayur, orang yang membuat teh, orang yang mengurus beras (hasil sumbangan), kemudian jika menghadirkan pertunjukan maka ada sajen untuk pertunjukan tersebut. Disampaikan pula bahwa maksud dari semua sajen tersebut, yakni untuk sajen yang ditaruh di dalam rumah bagian atas mengandung maksud supaya rêgêng. Sedangkan sajen lainnya yang diberikan kepada beberapa orang tertentu yang telah disebutkan, yakni supaya beberapa orang tersebut semangat karena mendapat upah sajen. Jadi pemberian sajen untuk beberapa orang tersebut yakni mengandung harapan supaya orang yang diberi sajen tersebut lebih semangat dalam bekerja. Beberapa orang yang biasanya mendapat sajen tersebut sebenarnya diberi atau tidak diberi sajen tidak dipermasalahkan, karena pada jaman dahulu tidak ada sajen. Jadi pembuatan sajen munculnya pada jaman sekarang.

3. Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Masyarakat Samin

Masyarakat Samin memiliki pandangan hidup “manusia itu sama saja”.

Maksud dari pandangan hidup tersebut adalah manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Akan tetapi diantara mereka dapat dibedakan

commit to user

dari perjalanan hidup, budi pekerti dan tingkah lakunya ketika hidup di dunia. Menurut mereka seseorang yang hidup di dunia ini, harus mempunyai tabiat yang baik. Orang pandai atau bodoh, kaya ataupun miskin, priyayi atau kyai, orang yang mempunyai kedudukan bahkan orang yang beragamapun, jika mempunyai tabiat tidak baik, maka buruklah budi pekertinya maupun tingkah lakunya. Untuk mencapai kehidupan yang baik, seseorang harus berpegang pada ”pandom urip”. Pandom urip ini pula yang sarat akan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom). Pandom urip yang dimaksud adalah:

a. Rukun

Kerukunan juga merupakan salah satu sifat yang terus dipertahankan oleh masyarakat Samin. Dengan adanya kerukunan segala sesuatu yang berat akan terasa ringan. Hal ini sesuai dengan falsafah rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Kerukunan dalam bermasyarakat ini dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan.

Masyarakat Samin sangat mementingkankerukunan danmelarang saling mengejek. Menurut masyarakat Samin, manusia hidup di dunia harus bisa menjaga kerukunan, tidak boleh saling mengejek, yang dipentingkan adalah rukun dan bersatu.Sudah menjadi prinsip bagi masyarakat Samin menjauhi dengki, suka mencampuri urusan orang lain, dan iri hati, karena keinginan mereka mengajak rukun. Maksud dari rukun adalah kerukunan dalam bertetangga dan kepada siapa saja. Jadi masyarakat Samin sangat menjunjung nilai kerukunan dan kekeluargaan. Hal ini mencerminkan bahwa masyarakat Samin senang dengan kehidupan

commit to user

yang lebih tenang dan damai. Untuk itulah mereka sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan.

b. Kesetiaan kepada pasangan hidup

Masyarakat Samin cenderung setia kepada pasangan hidupnya. Hal ini dikarenakan ijab atau janji yang diikrarkan pada saat kawinan yang dilaksanakan oleh masyarakat Samin adalah satu untuk selamanya. Diantara satu sama lain saling mempercayai. Selain itu fakta dapat menjadi bukti, bahwa selama dibawah pemerintahan Sukirman belum pernah dijumpai pasangan suami isteri dari masyarakat Samin yang sampai bercerai.

c. Memegang prinsip dengan kuat

Perkembangan jaman memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itulah dapat ditemukan adanya suatu budaya dan tradisi yang mengalami pergeseran dari aslinya. Demikian pula yang terjadi pada tradisi masyarakat Samin. Pedoman bagi masyarakat Samin, untuk generasinya juga mengalami perubahan dalam permasalahan yang bersifat umum. Sebagai contoh dalam bidang pendidikan, mereka sudah bersekolah seperti halnya masyarakat pada umumnya. Ketika bersekolah, mereka juga melaksanakan apa yang diajarkan oleh guru. Misalnya mereka juga mengamalkan ajaran agama Islam seperti salat dan puasa. Akan tetapi selepas dari sekolah, merekaakan kembali lagi pada nasehat dan padoman hidup yang dianut oleh orangtuanya. Semua perilakunya sama seperti yang dilaksanakan orangtuanya.

commit to user

d. Bertanggungjawab

Sikap tanggungjawab masyarakat Samin dapat terlihat pada saat membayar pajak. Menurut kepala desa Kemantren, masyarakat Samin lebih mudah dalam membayar pajak. Hal ini tentunya berbeda dengan asumsi masyarakat pada umumnya yang beranggapan bahwa masyarakat Samin memiliki salah satu ciri khas tidak mau membayar pajak.

Perjalanan sejarah menunjukan bahwa masyarakat Samin asalnya atau pada jaman dahulu yakni pada masa penjajahan Belanda, memang menolak untuk membayar pajak. Penolakan membayar pajak tidak dilakukan dengan kekerasan, namun mereka menolak dengan bahasa- bahasa yang nyleneh. Akan tetapi setelah Indonesia merdeka, pemerintah menyatakan bahwa masyarakat Samin adalah orang yang pertama dan rajin dalam membayar pajak. Hal ini merupakan cermin bahwa masyarakat Samin memiliki jiwa bertanggungjawab dan taat terhadap peraturan

Dalam dokumen Siti Yeni Sulistyawati S441102008 (Halaman 168-196)

Dokumen terkait