BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Pada bagian ini akan dijelaskan deskripsi data hasil penelitian yang bertujuan mengetahui bentuk-bentuk diskriminasi dan respon waria pekerja seks komersial. Berikut ini diuraikan hasil deskripsi bentuk-bentuk diskriminasi dan respon waria pekerja seks komersial.
a. Bentuk-bentuk diskriminasi terhadap waria pekerja seks komersial di Taman Makam Pahlawan Panaikang.
Wanita pria atau biasa kita sebut dengan waria yang sering kita jumpai Masyarakat sekitar yang lebih suka berperan layaknya perempuan dalam kehidupan sehari-sehari yang memiliki kelainan seksualitas yang terjadi, akibatkan beberapa faktor yaitu (1) Biologis, setiap manusia memiliki dua hormon yang ada dalam tubuh yaitu hormone wanita atau yang biasa disebut dengan hormone estrogen dan hormon laki-laki atau yang disebut dengan hormon androgen, fenomena yang terjadi pada waria yang dapat kita lihat sekarang itu di akibatkan karena pertumbuhan hormon yang tidak sesuai dengan gendernya, dimana hormon estrogen pada waria lebih berkembang dibandingkan dengan hormon androgennya. (2) Lingkungan, pengaruh lingkungan membawa dampak pada perubahan tingkah laku mulai sejak dini hingga dewasa. Perubahan tingkah laku pada anak laki-laki sebagian besar lingkungan pergaulan berteman dengan anak perempuan yang
69 menjadikan karakter yang terbentuk pada anak laki-laki lebih ke arah feminin sesuai dengan lingkungan pergaulan dalam hal peran orang tua sangat penting dalam pembentukan karakter pada anak-anak. Adapun pembentukan karakter pada manusia umumnya terjadi sejak dini yang kemudian terbawa hingga dewasa..
Sejalan dengan penelitian ini Peter L Berger dan Thomas Luckman dalam teori konstruksi sosial yang mengatakan bahwa dalam keadaan objektif, manusia secara struktural dipengaruhi oleh lingkungan dimana manusia tinggal dengan kata lain arah perkembangan manusia ditentukan secara sosial dari lahir hingga tumbuh dewasa. Sementara dalam kenyataan subjektivitas manusia di pandang sebagai organisme yang memiliki kecedenrungan tertentu dalam societus. Dalam hal ini subjektivitas manusia bermain dalam lingkungan sosialnya individu telah mengambil alih dunia sosial yang telah membentuknya sesuai dengan kreativitas yang dimiliki oleh tiap individu.
Hal yang terjadi pada diri waria yang dalam keadaan objektif dimana ia secara struktural dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia tinggal atau secara langsung pembentukan karakter dari waria itu berasal dari lingkungan ia berada, yang memang masa kecilnya yang sudah berperilaku seperti perempuan tetapi tetap dibiarkan seperti itu di lingkungan sosialnya yang menganggap secara subjektif bahwa hal yang lakukan itu adalah benar yang mengakibatkan ia akan berperilaku seperti perempuan hingga ia dewasa yang mulai dari penampilan hingga gaya bicara dan memilih untuk menjadi waria.
Selain itu juga berlangsung dalam suatu proses dengan momen yang terjadi menurut Berger dan Lukman yaitu konsep yang menghubungkan antara subjektif dan objektif melalui konsep dialektika yang dikenal dengan eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Menurut Berger dan Lukman bahwa Eksternalisasi adalah penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk manusia. Karena pada dasarnya manusia sejak lahir akan mengenal dan berinteraksi dengan produk-produk sosial.
Dari yang pernyataan informan yang di ketahui bahwa waria melakukan Eksternalisasi dalam kehidupan yaitu dengan melakukan adaptasi ataupun penyesuaian diri dalam lingkungan dengan melakukan interaksi dengan dunia sosio-kultural agar dapat diterima dimana ia berada. Penyesuaian yang dilakukan waria yaitu sebagai bentuk eksternalisasi agar waria dapat diterima di masyarakat berdasarkan dengan perannya yang telah ia pilih. Tetapi pandangan masyarakat berbeda-beda ada menerima keberadaan waria adapun yang tidak menerima keberadaan waria tergantung dari sudut pandang masyarakat menilai.
Menurut Berger dan Luckman teori konstruksi sosial dalam konsep Objektivitas yang dimana dapat diketahui bahwa objektivasi yaitu interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami institusionalisasi. Proses objektivasi dapat diartikan yaitu proses pembedaan antara dua realitas sosial, yaitu realitas diri individu
71 dan realitas sosial lain yang berada di luarnya, sehingga realitas sosial menjadi suatu yang objektif.
Informan menyadari bahwa menjadi seorang waria adalah hal yang tidak benar di mata masyarakat tetapi waria tetap pada pendiriannya dan meyakini bahwa pilihannya atas kehendaknya sendiri dan tidak ada unsur paksaan dari manapun menjadi waria semata-mata karena naluri yang ada dalam dirinya dan akan menerima atas apa yang telah ia pilih. Walaupun sebagian masyarakat menganggap menjadi seorang waria adalah yang hal tidak baik dan melanggar norma yang ada tetapi diketahui waria berharap agar masyarakat tidak mendiskriminasi mereka dengan apa yang telah ia pilih.
Menurut Berger dan Lukman pelembagaan dan legitimasi tersebut agen bertugas menarik dunia subjektivitasnya menjadi obyektif melalui interaksi sosial yang di bangun secara bersama. Pelembagaan ini dapat terjadi jika terjadi kesepahaman intersubjektif atau hubungan dengan subjek.
Waria di dalam masyarakat membuat pembeda yang bertujuan untuk membuat identitas baru, yang dapat merubah nama aslinya dan pekerjaan yang identik dengan perempuan, seperti berhias layaknya perempuan yang melupakan identitas aslinya. Waria melakukan perubahan penampilan hingga fisiknya dikarenakan waria pada umumnya melakukan hal tersebut atau komunitas waria melakukan hal yang sama. dalam konstruksi sosial ini dapat disebut dengan interaksi
sosial melalui pelembagaan dan legitimasi karena kesamaan yang terjadi pada waria.
Pada tahap Internalisasi yaitu individu sebagai kenyataan subjektif menafsirkan realitas sosial objektif atau presepan kembali realitas individu dan mentransformasikan ke struktur dunia objektif kedalam struktur dunia subjektif. Pada tahap ini individu akan menerima segala yang bersifat objektif dan kemudian akan direalisasikan secara subjektif internalisasi ini berlangsung selama seumur hidup individu. internalisasi juga mengidentifikasi diri di tengah lembaga lembaga sosial atau organisasi sosial dimana individu menjadi anggotanya. Dari penjelasan pada tahap internalisasi sudah dijelaskan bahwa yang terjadi pada diri waria di akibatkan karena kecenderungan menjadi waria dipengaruhi pengalaman ataupun lingkungan pada masa Ia kecil, pengalaman yang terbentuk karena pengalaman kehidupan sehari-hari yang menjadikan waria lebih mengarah kepada sifat feminism dibandingkan maskulin dan ini dapat terus berkembang sampai ia dewasa. Pada tahap ini waria yang hidup bermasyarakat senantiasa harus dituntut untuk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya dengan melalui proses. Sebagai makhluk sosial waria dituntut untuk dapat mempertahankan keberadaannya di tengah masyarakat.
Realitas sosial mengharuskan seseorang untuk memberikan responnya. Respon terhadap pranata sosial yang ada dalam masyarakat yang bisa berupa penerimaan , penyesuain maupun penolakan, yang terjadi pada waria yang dapat kita lihat, penyesuaian diri yang dilakukan
73 oleh waria terhadap masyarakat tidak sepenuhnya ditanggapi baik oleh beberapa masyarakat yang tidak menyukai dengan keberadaan waria sehingga terjadinya diskriminasi terhadap waria.
Belum diterimanya waria oleh sebagian Masyarakat yang membuat kehidupan menjadi terbatas mulai dari pekerjaan maupun lainnya, kebanyakan waria berprofesi sebagai pengamen, kerja salon serta yang menjadi pekerja seks komersial yang guna untuk memenuhi kebutuhanya karena terbatasnya ruang gerak di tengah-tengah Masyarakat. Waria seringkali dihadapkan dengan berbagai tindakan diskriminasi.
Dalam Penelitian yang dilakukan oleh Firman Arfanda dan Sakaria Anwar (2015) yang berjudul “Konstruksi Sosial Masyarakat terhadap waria” menyatakan bahwa waria adalah kaum marjinal yang mendapat
tekanan secara struktur dan kultur. Waria sering dikucilkan bahkan mendapat perlakuan diskriminatif dalam penelitian ini menjelaskan bahwa masyarakat kurang menerima adanya waria karena pengetahuan masyarakat masih terbatas secara umum. Penelitian ini membahas waria secara umum yang terjadi di kalangan masyarakat dan tidak menunjukkan dimana itu terjadi. Yang menjadikan pembeda dalam penelitian ini yaitu dimana menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk diskriminasi masyarakat terhadap waria yang terjadi di Taman Makam Pahlawan panaikang kota makassar.
Adapun bentuk-bentuk diskriminasi yang dialami waria di Taman Makam Pahlawan yaitu :
a. Diskriminasi Verbal.
Perlakuan yang didapatkan waria seperti pengejekan, pembullyan maupun kata-kata yang tidak pantas dapat digolongkan kedalam diskriminasi verbal. Dimana diskriminasi verbal dapat diartikan sebagai tindakan diskriminasi yang dilakukan dalam bentuk perkataan baik berupa mengintimidasi, mengganggu, mengejek, merendahkan serta mencela. Pengetahuan Masyarakat tentang Waria belum cukup luas. Stigma negatif Masyarakat pada waria sudah melekat sejak dulu. Sebagian besar Masyarakat berpandangan waria membawa pengaruh buruk terhadap lingkungan utamanya bagi waria yang bekerja sebagai pemuas nafsu atau biasa kita sebut dengan pekerja seks komersial. Hal demikian yang dirasakan waria di Taman Makam Pahlawan Panaikang yang menjadi bahan olokan oleh Masyarakat. Pemberian nama oleh Masyarakat yang biasa kita dengar dengan kata banci atau bencong, secara tidak langsung dengan panggilan tersebut Masyarakat sudah melakukan tindakan diskriminasi terhadap waria bahkan beberapa masyarakat memanggil waria dengan panggilan tergolong kasar atau tidak pantas.
b. Diskriminasi Penghindaran (avoidance)
Penghindaran atau dikenal dengan sebutan menghindari termasuk kedalam tindakan diskriminasi. Kelompok Masyarakat dapat dikatakan melakukan diskriminasi penghindaran ketika Masyarakat secara sengaja menghindari golongan tertentu yang tidak
75 disukai. Diskriminasi penghindaran dialami langsung waria di Taman Makam Pahlawan Panaikang berupa pengusiran yang dilakukan oleh Masyarakat sekitar. Tindakan tersebut sebagai wujud ketidaksukaan warga pada waria yang berada di Taman Makam Pahlawan Panaikang utama nya yang bekerja sebagai pekerja seks komersial.
Selain itu penghindaran ataupun pengusiran juga dilakukan oleh kalangan pengguna jalan yang melewati lokasi taman makam pahlawan panaikang yaitu dengan sengaja mengusir waria yang berada di lokasi. Perilaku menghindari ataupun mengusir secara sengaja kepada waria merupakan salah bentuk tertanamnya stigma buruk waria di Masyarakat atau dapat dikatakan berlangsung sampai sekarang.
c. Diskriminasi Fisik (physical abuse)
Penyimpangan yang ada dalam diri waria menyebabkan waria sering kali memperoleh tindakan kekerasan oleh Masyarakat yang dapat mengakibatkan cedera pada diri waria itu sendiri tindakan yang dilakukan Masyarakat seperti melempari batu dan memukul waria. Tindakan tersebut dapat digolongkan ke dalam diskriminasi Fisik yang dapat diartikan sebagai tindakan diskriminasi yang dilakukan dengan cara menyakiti memukul hingga sampai menyerang seseorang secara sengaja.
Pandangan negatif Masyarakat yang sudah melekat pada waria menjadi salah satu faktor adanya kekerasan fisik terhadap
waria. perlakuan Masyarakat yang kurang menyukai ataupun tidak menerima dengan kehadiran waria yang berada di tengah-tengah masyarakat. Kekerasan yang biasa yang dilakukan oleh oknum Masyarakat biasanya terjadi karena oknum tidak mendapat hal yang diinginkan. hal ini yang dialami oleh waria yang berada di taman makam Panaikang oknum Masyarakat yang tidak menyukai waria yang tega melakukan perlakuan yang kurang baik terhadap waria seperti melempari batu hingga melakukan pemukulan.
b. Respon Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) Terhadap Perlakuan Diskriminasi di Taman Makam Pahlawan Panaikang
Perlakuan Masyarakat terhadap waria akan mempengaruhi interaksi sosial waria, kehidupan sosial waria menjadi sangat terbatas karena adanya penolakan yang diterima waria yaitu seperti di kucilkan dan di lecehkan orang ia kenal maupun tidak ia kenali. Hal ini dapat mengakibatkan kehidupan sosial waria menjadi terbatas dan peluang untuk mendapatkan pekerjaan sangat terbatas. Tindakan yang dilakukan Masyarakat pada umumnya dengan keberadaan waria di dorong oleh prasangka negatif yang selanjutnya diwujudkan dalam sikap diskriminasi.
Berdasarkan teori Max weber dalam teori tindakan sosial yang mengatakan manusia atau individu dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis pada paksaan sosial yaitu artinya tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma kebiasaan nilai dan sebagainya jadi dimaksudkan
77 dengan tindakan individu sepanjang hidupnya mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya yang diarahkan kepada orang lain. Weber membaginya kedalam empat tipe tindakan sosial yaitu, Tindakan Rasionalitas instrumental, Rasional nilai, Tindakan afektif/tindakan yang mempengaruhi emosi dan Tindakan tradisional/tindakan karena kebiasaan.
Sikap ataupun perilaku yang dilakukan oleh sebagian besar Masyarakat terhadap waria terkadang melanggar norma sosial dan menganggap sebagai lelucon. berbagai tindakan yang dilakukan Masyarakat terhadap waria tergolong kedalam tindakan diskriminasi. Namun, Masyarakat sendiri sebagian tidak mengetahui bahwa perlakuannya bukanlah sebuah tindakan diskriminasi dan beranggapan bahwa perlakuan yang dilakukan kepada waria sudah dianggap wajar dan biasa dan bukanlah yang melanggar normatif. Berbagai tindakan diskriminasi yang diperoleh oleh waria bukan hanya diperoleh dari Masyarakat tetapi juga dari instansi pemerintahan terkait atau Satpol PP.
Dalam tindakan rasional Instrumental merupakan tindakan sosial yang dilakukan seseorang yang secara sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu, dalam hal ini waria sering mendapatkan tindakan diskriminasi dari oknum masyarakat, karena masyarakat beranggapan bahwa dengan adanya waria yang berada di taman makam pahlawan panaikang merupakah hal yang tidak baik untuk lingkungan sekitar, masyarakat tidak segan-segan untuk mengusir waria dari lokasi tersebut demi tujuannya dan masyarakat melakukan hal tersebut dengan sadar.
Dalam tindakan Rasional nilai yang memiliki sifat bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan secara sadar yang berhubungan tujuan artinya bahwa dalam tindakan ini masyarakat melakukan tindakan dan perbuatan yang telah ia lakukan kepada waria seperti mengusir dari hingga melakukan tindakan kekerasan kepada waria karena menganggap bahwa waria telah melanggar norma agama dan hal itu tidak biarkan dan harus ditindaklanjuti, tetapi hal yang dilakukan masyarakat kepada waria dengan melakukan kekerasaan yang dianggap terlalu berlebihan dalam melakukan tindakannya.
Dalam hal ini bukan hanya Masyarakat yang dituntut menerima ataupun mengakui keberadaan waria, tetapi hal ini juga berlaku pada waria yang harus mampu menempatkan diri pada Masyarakat, karena yang kita ketahui masih dianggap sebagai larangan dan bertentangan dengan kodrat Masyarakat Indonesia yang dimana berpegang teguh pada norma agama dan sosial yang menjadikan waria sulit diterima di tengah Masyarakat. Meskipun waria sulit diterima di Masyarakat tetapi yang kita ketahui bahwa waria juga sebagian dari warga Negara Indonesia, waria juga memiliki hak yang sama layaknya Masyarakat lainnya. Namun hal yang terjadi pada waria yang kurang mendapat perlakuan yang baik.
Dalam tindakan afektif/ tindakan yang dipengaruhi emosi tipe tindakan ini lebih didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan sadar artinya tindakan ini dilakukan secara
79 spontan, tidak rasional dan merupakan ekspresi emosional yang dikeluarkan oleh individu. waria yang yang berada di Taman Makam pahlawan Panaikang sering mendapatkan tindakan diskriminasi dari oknum masyarakat terlebih lagi pengguna jalan ataupun yang melewati lokasi taman makam pahlawan panaikang kerap waria mendapat tindakan diskriminasi seperti tindak pembullyan, kekerasaan yang dapat melukai waria, hal ini dilakukan oleh oknum masyarakat dalam tindakan afektif bahwa tindakan masyarakat ini merupakan bentuk ekspresi emosional yang ditujukan kepada waria sebagai bentuk tidak menyukai waria yang berada di lokasi tersebut, Oknum masyarakat juga secara spontan mengejek waria karena perbedaan yang terjadi. Masyarakat juga melakukan hal yang tidak rasional karena melakukan kekerasan pada waria seperti melempari batu, membusur hal ini dapat membahayakan keselamatan waria.
Waria yang sudah sering mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan oleh Masyarakat sekitar, hanya dapat menerima tindakan tersebut dengan lapang dada. Persepsi waria terkait tindakan yang dilakukan Masyarakat merupakan suatu tindakan yang wajar dikarenakan penyimpangan pada dirinya yang melanggar norma sosial yang berlaku. Perlakuan Masyarakat terhadap waria meskipun melanggar norma yang berlaku tetapi seiring dengan berjalannya waktu waria dapat menerima perlakuan tersebut. Namun jika waria memperoleh tindakan dalam bentuk kekerasan fisik tidak jarang waria memberikan perlawanan untuk melindungi dirinya.
Pada tindakan tradisional/tindakan kebiasaan dalam tindakan ini seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh. Kita ketahui waria sudah ada sejak dulu dan tidak yang ada tahu pasti kapan waria sudah masuk di indonesia, dengan adanya waria khususnya yang berada di taman makam pahlawan panaikang kota makassar sudah sejak dulu mendapatkan tindakan diskriminasi dari masyarakat karena yang diketahui masyarakat dengan adanya waria merupakan hal tidak baik melanggar norma dan label waria pada masyarakat sudah negative ditambah dengan waria yang bekerja sebagai pekerja seks komersial yang semakin waria tidak disukai, hal ini terjadi secara terus menerus yang terjadi di masyarakat sehingga muncul adanya tindakan diskriminasi yang terjadi pada waria.
Berbagai bentuk tindakan diskriminasi yang diterima oleh waria mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan pemerintah.
a. Lingkungan Keluarga
Di setiap anggota keluarga mempunyai fungsi dan peran masing-masing yang dimana kedua orang tua adalah panutan sekaligus yang menjadi contoh bagi anak-anaknya serta mempunyai peran dalam mendidik maupun membimbing, guna memiliki karakter yang baik dan dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar maupun budaya setempat. Sedangkan peran anak dalam lingkungan keluarga yaitu menghormati dan mematuhi kedua orang tua. Perkembangan dan karakter seorang anak dalam pertumbuhannya
81 sangat dipengaruhi oleh didikan kedua orang tuanya hal ini sesuai dengan peran masing-masing dalam anggota keluarga.
transgender atau biasa kita sebut waria umumnya terjadi sejak dini yang dimana kurangnya perhatian orang tua yang kurang menanamkan karakter pada anak, perubahan tingkah laku pada anak laki-laki yang cenderung bergaya feminim kadang kala tidak disadari oleh kedua orang tua. Namun Penyimpangan yang terjadi pada waria yang sulit diterima di lingkungan keluarga itu sendiri, yang mengakibatkan kebanyakan pada waria yang tidak lagi dipedulikan oleh keluarga. Penolakan keluarga atas penyimpangan yang terjadi pada waria
ditunjukkan dengan adanya tindakan diskriminasi. Tindakan diskriminasi yang dilakukan keluarga terhadap waria ditanggapi dengan sabar oleh waria.
Waria tidak memiliki pilihan selain menerima tindakan penolakan yang dilakukan keluarganya karena hal tersebut merupakan konsekuensi dari pilihannya sendiri. Namun tak jarang terdapat pula waria yang lebih memilih meninggalkan keluarganya dikarenakan tidak nyaman dengan perlakuan yang diterima dalam lingkungan keluarga.
b. Lingkungan Masyarakat
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain manusia harus senantiasa menjalin interaksi dengan lingkungan dan sekitarnya dimana dalam lingkungan Masyarakat
wajib menghormati orang yang ada dalam lingkungan sekitar sebagaimana halnya kita ketahui fenomena yang yang terjadi dengan kemunculan kaum waria di tengah-tengah Masyarakat yang keberadaanya yang tidak bisa ditolak dalam kehidupan berMasyarakat.
Waria yang yang merupakan bagian Masyarakat Indonesia yang memiliki hak yang sama dengan Masyarakat lainnya yang ingin diperlakukan dengan dengan baik walaupun waria yang menjalani hidupnya dengan identitas diri dan peran gender yang berbeda, dengan perbedaan yang dialami kaum waria yang menjadi bahan pembicaraan bagi masyarakat itu sendiri, tidak sedikit Masyarakat yang tidak menyukai kaum waria sehingga mendiskriminasi parah waria seakan akan dirinya yang paling benar, diskriminasi yang didapatkan waria bukan hanya ejekan tetapi kadang terjadi kekerasan fisik yang dilakukan oleh oknum Masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Waria yang mendapatkan perlakuan yang tidak baik bagi dirinya sikap yang ia ambil hanya bersabar atas perlakuan yang ia terima, tetapi kekerasan fisik yang yang ia terima tidak jarang ia akan membela dirinya.
c. Pemerintah
Negara memiliki kewajiban dalam menjamin kesejahteraan sosial agar semua dapat merasakan kesejahteraan yang adil dan merata. Yang ikut andil dalam kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yaitu pemerintah itu sendiri yang memiliki
83 kewenangan dan tanggung jawab. Di dalam unit pemerintah ada unit terkecil yang disebut dengan Kelurahan yang kita ketahui fungsi dari Kelurahan yaitu pemberdayaan serta pelayanan, ketentraman Masyarakat dan ketertiban umum lingkungan dalam suatu wilayah.
Secara umum lingkungan yang ditempati merupakan wilayah Kelurahan yang harusnya tau dan memberikan solusi atas apa yang terjadi pada waria dari tanggapan yang diungkapkan waria bahwa selama ia menempati wilayah tersebut belum adanya solusi dari pemerintah ia hanya diusir secara paksa oleh pihak satpol pp yang seharusnya memberikan solusi atas apa yang dialami waria.
Tindakan yang dilakukan satpol PP merupakan salah satu tugas satpol PP untuk mengamankan suatu wilayah. adapun dikarenakan tidak adanya solusi yang dapat ditawarkan, kalangan waria berasumsi bahwa tindakan yang dialami sebagai tindak diskriminasi. Meskipun waria beranggapan demikian, waria tidak memiliki pilihan selain menghindari penangkapan dari satpol PP dan menerima tindakan tersebut secara lapang dada