BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Aktivitas Ekstrak Daun (Jatropha multifida L.) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus
Terbentuknya area bening disekitar paper disc yang ditanamkan pada media kultur pada uji aktivitas antibakteri membuktikan bahwa ekstrak daun Jarak Tintir (Jatropha multifida L.) memiliki sifat antibakteri terhadap pertumbuhan awal bakteri Staphylococcus aureus.
Zona bening adalah daerah yang tidak ditumbuhi bakteri yang terlihat lebih jernih dari area sekitarnya. Kemampuan ekstrak daun Jarak Tintir (Jatropha multifida L.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri diduga karena adanya kandungan senyawa aktif metabolit sekunder dalam daun. Suharmiati mengungkapkan daun jarak tintir mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan tanin. Hal ini juga diungkapkan Isnaini (2010) dalam Skrining Fitokimia Ekstrak Pohon Yodium diketahui positif mengandung flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin. Beberapa peneliti menyatakan pendapat yang berbeda-beda sehubungan dengan mekanisme kerja dari flavonoid. Cara Kerja
flavonoid antara lain; flavonoid menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas dinding sel bakteri, mikrosom, dan lisosom sebagai hasil interaksi antara flavonoid dengan DNA bakteri. Sementara Mirzoeva dalam Zamrodi (2011) dalam penelitiannya mendapatkan bahwa flavonoid mampu melepaskan energi tranduksi terhadap membran sitoplasma bakteri selain itu juga menghambat motilitas bakteri. Mekanisme yang berbeda dikemukakan oleh Di Carlo dan Estrela yang menyatakan bahwa gugus hidroksil yang terdapat pada struktur senyawa flavonoid menyebabkan perubahan komponen organik dan transpor nutrisi yang akhirnya akan mengakibatkan timbulnya efek toksik terhadap bakteri ungkap Sabir (2005).
Kontrol positif yang digunakan dalam penelitian ini adalah povidone iodine 10%, povidon-iodine ialah suatu iodovor dengan polivinil pirolidon berwarna coklat gelap dan punya bau yang khas (Ganiswara, 1995 dalam Anonim 2011). Povidone-iodine merupakan agen antimikroba yang efektif dalam desinfeksi dan pembersihan kulit baik pra- maupun pascaoperasi, dalam luka traumatik yang kotor pada pasien rawat jalan dan untuk mengurangi sepsis luka pada luka bakar. Tjay dan Rahardja (2002 dalam Anonim 2011) mengungkapkan
Povidon-iodine bersifat bakteriostatik dengan kadar 640 μg/ml dan bersifat bakterisid pada kadar 960 μg/ml. Dalam 10% povidon iodine
mengandung 1% iodiyum yang mampu membunuh bakteri dalam 1 menit dan membunuh spora dalamm waktu 15 menit (Ganiswara, 1995 dalam Anonim 2011).
Pada penelitian ini digunakan aquades steril sebagai pelarut pada pengenceran konsentrasi larutan. Aquades tersusun atas hydrogen perixida maksimal 49.9%. Aquades ini berwarna putih bening seperti air. Aquades adalah air biasa yang telah mengalami penyulingan sehingga tidak memiliki kandungan mineral apapun dan juga tidak ada campuran apapun, sehingga bisa berperan sebagai pelarut (Fatih,2008 dalam Friziah 2012). Digunakan aquades steril sebagai pelarut dengan tujuan agar memperkecil kemungkinan bahwa adanya sifat antibakteri daun jarak tintir adalah berasal dari pelarut yang digunakan.
Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa diameter zona hambat paling besar adalah perlakuan ekstrak pada konsentrasi 100% dengan rata-rata zona hambat 7,67 mm. Berdasarkan kriteria zona hambat menurut Davis Stout, diketahui ekstrak daun yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yaitu pada konsentrasi 5%, 10%, 25 %, 50% dan 100%. Pada konsentrasi 5% berdaya hambat lemah dalam menghambat pertumbuhan
Staphylococcus aureus. Sedangkan pada konsentrasi 10%, 25 %, 50% dan 100% berkekuatan sedang terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus, dimana kisaran zona hambat untuk adalah 6-7 mm.
Dari uji normalitas diketahui data berdistribusi tidak normal dan pada diagram Q-Q plot data tidak menyebar disekitar diagram. Selanjutanya dilakukan Uji Kruskal-Walis, dari uji didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan. Pada hasil uji regresi linier diketahui bahwa diameter zona hambat tidak berpengaruh terhadap diameter zona hambat bakteri karena R2
yang didapat tidak mendekati linier atau satu. Faktor yang mempengaruhi diameter zona hambat adalah sensitivitas organisme, kondisi inkubasi, kecepatan difusi agar. Salah satu hal tersebut yang juga diduga mempengaruhi ukuran zona hambat. Hal ini mungkin terjadi karena senyawa aktif tidak terlarut sempurna. Beswika (2009) dalam penelitiannya mengungkapkan perbedaan pengaruh tesebut disebabkan oleh molekul besar senyawa metabolit sekunder mengalami kesulitan berdifusi pada medium agar.
2. MIC (Minimum Inhibitory Concentration) Ekstrak Daun
Nilai MIC (Minimum inhibitory Concentration) ekstrak daun belum bisa didapatkan dalam penelitian ini. Hal ini terlihat dari Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 , semua media kultur pada semua konsentrasi dapat ditumbuhi oleh bakteri. Perbedaan yang terlihat pada jam ke 0 dan 24 adalah pada jam ke 0 media kultur dalam kondisi jernih setelah jam ke 24 hampir semua media menjadi keruh. Hanya pada konsentrasi 13% dan 14% media terlihat agak jernih. MIC atau KHM (Kadar hambat minimal) pada daun Jarak tintir belum bisa ditemukan. Diduga hal ini terjadi karena konsentrasi pada perlakuan terlalu rendah, sehingga jumlah zat aktif yang terkandung dalam perlakuan sedikit. Hal ini mengakibatkan kemampuan dari senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun belum bisa menghambat pertumbuhan bakteri. Situasi ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Ajizah (2004) dalam Maliana (2013) bahwa konsentrasi ekstrak yang semakin tinggi membentuk zona bening yang semakin besar. Semakin pekat konsentrasi suatu ekstrak, maka senyawa metabolit sekunder yang
terkandung di dalamnya akan semakin banyak sehingga memberikan pengaruh terhadap diameter zona bening yang terbentuk .
Ratnawati dalam Isnaini (2010) menyatakan bahwa pengaruh ekstrak metanol daun Jarak Tintir menghambat pertumbuhan bakteri
Bacillus subtilis. Dibuktikan dengan terbentuknya zona hambat sebesar 17,44 mm- 23, 99mm. Efektivitas kerja antibakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya konsentrasi antibakteri, jumlah bakteri, spesies bakteri, bahan organik, suhu, dan pH lingkungan (Cowan 1999 dalam Silvikasari 2011). Karena nilai MIC tidak bisa didapatkan maka nilai MBC (Minimum Bacteredical Concentration) atau KBM (Kadar Bunuh Minimal) pun tidak bisa didapatkan, karena dasar dari pengujian MBC adalah hasil dari uji MIC. Hal serupa juga dikemukakan oleh Junairiah (2012) pada uji nilai MIC dan MBC ekstrak Dumortiera hirsuta terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Nilai MIC dan MBC dari ekstrak Dumortiera hirsuta belum bisa ditemukan hal ini diduga karena tidak terjadinya penurunan nilai koloni pada ekstrak hingga mencapai 90%. MIC bisa ditetapkan jika bakteri yang tumbuh kurang dari 90%. Aktivitas dri konsentrasi yang diberikan hanya bersifat bakteriostatik.
3. Aktivitas Getah Jarak Tintir (Jatropha multifida L.) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus
Hasil dari uji aktivitas getah Jarak Tintir (Jatropha multifida L.) , menunjukkan bahwa getah mempunyai aktivitas penghambatan pertumbuhan Staphylococcus aureus. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya zona bening atau yang disebut dengan zona hambat pada
sekitar paper disc. Temuan ini membuktikan bahwa dalam getah Jarak Tintir terdapat senyawa aktif yang mempunyai aktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Anonym I,2006 dalam Sulaiman (2013) mengungkapkan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa getah Jarak Tintir dapat digunakan untuk membantu pengobatan luka karena adanya kandungan zat-zat kimia antara lain alkaloida, saponin, flavonoida dan tanin.
Dalam Ummah (2010: 79-80) “Tanin diduga berperan sebagai antibakteri karena memiliki kemampuan membentuk senyawa kompleks dengan protein melalui ikatan hydrogen. Jika terbentuk ikatan hidrogen antara tanin dengan protein kemungkinan protein akan terdenaturasi sehingga metabolisme bakteri menjadi terganggu” Metabolime bakteri terganggu diduga karena ikatan hidrogen antara tanin dan protein enzim akan mendenaturasi dinding sel. Maka dengan adanya tanin maka akan terjadi penghambatan metabolisme sel, mengganggu sintesa dinding sel, dan protein dengan mengganggu aktivitas enzim. Kerusakan pada membran sel dapat mencegah masuknya bahan-bahan makanan atau nutrisi yang diperlukan bakteri untuk menghasilkan energi (Ummah,2010). Akibatnya bakteri akan mengalami hambatan pertumbuhan dan bahkan kematian (Volk and Wheller, 1988 dalam Ummah 2010).
Rahayu (2007) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa stabilitas saponin mampu menekan aktivitas mikroorganisme. Kemampuan saponin dalam mempertahankan pH, absorbansi, warna
dan persen kelarutan dan kadar air, secara interaktif mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus.
Senyawa golongan flavonoid dari beberapa bahan alam dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri. Aglikon epigenin, quersetin, kaempferol, dan luteolin-7,3- O’diglukosida pada tanaman Mentha Longifolia dilaporkan mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif (Akroum, 2009 dalam Silvikasari 2011). Agestia dalam Isnaini (2010) menjelaskan Alkaloid mengandung racun yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau dapat menyebabkan sel bakteri menjadi lisis.
Berdasarkan data yang diperoleh diameter zona hambat paling besar adalah perlakuan getah pada konsentrasi 100% dengan rata-rata zona hambat 20,33 mm. Berdasarkan kriteria zona hambat menurut Davis Stout , getah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus yaitu ekstrak dengan konsentrasi 10%, 25 %, 50% dan 100%. Pada konsentrasi 5% getah tidak memiliki daya penghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus ,hal ini dilihat dari ketiga pengulangan konsentrasi 5% paper disc kertas dapat ditumbuhi bakteri. Sedangkan pada konsentrasi 10% dengan rata-rata zona hambat 2,33 mm daya hambat pertumbuhan bakteri berkekuatan lemah. Pada konsentrasi 25 % dan 50% dengan rata-rata zona hambat berturut turut 10,67 mm dan 16,67 mm konsentrasi tersebut berkekuatan kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Sedangkan pada konsentrasi 100% berkekuatan sangat kuat dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus .
Dari uji normalitas diketahui data berditribusi tidak normal dan pada diagram Q-Q plot data tidak menyebar disekitar diagram. Selanjutnya dilakukan Uji Kruskal-Walis hasilnya tidak signifikan, maka didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang berkmakna antara kelompok perlakuan. Hal ini diduga disebabkan oleh kurangnya efektifitas senyawa metabolit dalam menghambat pertumbuhan bakteri uji. Pada uji regresi liner didapatkan bahwa konsentrasi getah tidak berpengaruh terhadap besar diameter zona hambat bakteri. Namun berdasarkan kriteria Davis Stout terdapat perbedaan kekuatan, hal ini menunjukkan kekuatan konsentrasi getah tidak sebanding dengan besarnya konsentrasi perlakuan. Tetapi besarnya konsentrasi menentukan kekuatan daya hambat getah terhadap pertumbuhan
Staphylococcus aureus.
Karya ilmiah Sulaiman (2013) mengungkapkan bahwa getah Jarak Cina dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka baru. Itu disebabkan adanya kandungan zat kimia yang dapat mencegah berkembangnya bakteri dan memperlambat proses inflamasi luka. Begitu juga dengan hasil penelitian Apriani (2010) dalam Isnaini (2010) diungkapkan bahwa larutan getah batang yodium memiliki aktivitas antibakteri yang bermakna pada Eshcerichia coli secara in vitro mulai dari konsentrasi 10%.
4. MIC (Minimum Inhibitory Concentration) Getah Daun Jarak Tintir (Jatropha multifida)
Nilai MIC ekstrak daun belum bisa didapatkan. Hal ini terlihat dari Tabel 4.3 dan Tabel 4.4, semua media kultur pada semua konsentrasi
dapat ditumbuhi oleh bakteri. Berbeda dengan daun, pada pengujian getah pada jam ke 0 media sudah terlihat keruh hal ini disebabkan karena pengaruh dari warna getah dan setelah dituangkan ke dalam media getah menjadi seperti endapan dan tidak bisa tercampur secara keseluruhan dengan media. Setelah dituangkan endapan dari getah terlihat dan tidak tersebar rata. Hal ini diduga menjadi salah satu pemicu belum bisa didapatkannnya nilai MIC dari getah tersebut. Getah tidak bisa tercampur rata karena mengendap sehingga kandungan senyawa aktif dalam getah juga tidak bisa tercampur maka tidak bisa terjadi aktivitas penghambatan terhadap bakteri uji. Dewi (2010) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa terjadi ketidakstabilan zona hambat. Jumlah ekstrak semakin besar tidak memberikan efek penghambatan lebih besar. Ini diduga karena ekstrak yang digunakan adalah ekstrak kasar yang kelarutan senyawa metabolitnya tidak maksimal. Karena kelarutan getah tidak maksimal maka kelarutan senyawa metabolitnya juga tidak maksimal.
Sama halnya dengan ekstrak daun, nilai MBC (Minimum Bactericidal Concentration) atau KBM (Kadar Bunuh Minimal) pada getah juga belum bisa didapatkan. Apabila nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) belum bisa ditemukan maka tidak bisa melakukan uji MBC. Dengan kata lain konsentrasi pada perlakuan hanya bersifat bakteriostatik atau menghambat pertumbuhan bakteri.