• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Alasan Yang Mendasari CV. Nova Furniture Melakukan Pemutusan Hubungan Kerja

Alasan yang mendasari CV. Nova Furniture melakukan PHK terhadap kedua karyawannya adalah karena Setiawan dan Wiyono adalah dua orang pekerja CV. Nova Furniture yang tertangkap tangan telah melakukan perjudian di luar perusahaan, dan berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Sukoharjo kedua pekerja tersebut di jatuhi pidana Penjara selama 3 bulan penjara terhitung sejak 25 September 2009 – 25 Desember 2009.

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 158 ayat (1) menjelaskan mengenai PHK yang dapat dilakukan oleh Pengusaha dengan alasan:

a. melakukan penipuan, pencurian, atau penggelapan barang dan/atau uang milik perusahaan;

b. memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikan perusahaan;

commit to user

lxxxi

c. mabuk, meminum minuman keras yang memabukkan, memakai dan/atau mengedarkan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya di lingkungan kerja;

d. melakukan perbuatan asusila atau perjudian di lingkungan kerja; e. menyerang, menganiaya, mengancam, atau mengintimidasi teman

sekerja atau pengusaha di lingkungan kerja;

f. membujuk teman sekerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;

g. dengan ceroboh atau sengaja merusak atau membiarkan dalam keadaan bahaya barang milik perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi perusahaan;

h. dengan ceroboh atau sengaja membiarkan teman sekerja atau pengusaha dalam keadaan bahaya di tempat kerja;

i. membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya dirahasiakan kecuali untuk kepentingan negara; atau

j. melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang diancam pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.

Berdasarkan Pasal 153 ayat (1) huruf j mengenai PHK yang diperbolehkan oleh Pengusaha terhadap pekerjanya dimana pekerja yang melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang di ancam pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, Setiawan dan Wiyono yang di PHK oleh CV. Nova Furniture berdasarkan alasan karena kedua pekerja tersebut telah tertangkap tangan melakukan perjudian di luar perusahaan dan oleh Pengadilan Negeri Sukoharjo dikenakan pidana penjara selama 3 bulan penjara. Berdasarkan alasan tersebut dan fakta hukum yang terjadi, maka Pasal 153 ayat (1) huruf j tidak dapat dijadikan sebagai dasar diperbolehkannya PHK oleh CV. Nova Furniture Karanganyar. Sebab pekerja hanya dipidana penjara selama 3 bulan penjara dan perbuatan tersebut dilakukan bukan di dalam lingkungan perusahaan.

commit to user

lxxxii

Namun selain merujuk pada Pasal 153 ayat (1) huruf j, perlu diketahui juga bahwa di dalam Pasal 160 ayat 5 menyatakan bahwa : “Dalam hal pengadilan memutuskan perkara pidana sebelum masa 6 (enam) bulan berakhir dan pekerja/ buruh dinyatakan bersalah, maka pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja kepada pekerja/buruh yang bersangkutan”. Merujuk pada Pasal 160 ayat 5 berarti yang memperbolehkan pengusaha melakukan PHK terhadap pekerjanya bila pekerja diputus oleh pengadilan sebelum masa 6 (enam) bulan berakhir dan pekerja atau buruh dinyatakan bersalah. Jadi PHK yang dilakukan oleh CV. Nova Furniture terhadap Setiawan dan Wiyono sesuai dengan Pasal 160 ayat (5), sebab sesuai dengan Keputusan Pengadilan Negeri Sukoharjo pekerja dinyatakan bersalah dan dipidana penjara selama 3 bulan penjara. Jadi sebelum masa 6(enam) bulan berakhir pekerja bebas dari hukumnnya.

Selain itu di dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kepmenakertrans) Nomor Kep-150/MEN/2000 tentang Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangaon, Uang Penghargaan Masa Kerja, dan Ganti Kerugian dari Perusahaan, tertanggal 20 Juni 2000 pada Pasal 19 ayat (1) dan ayat (2) dijelaskan bahwa :

“Pengusaha dapat mengajukan permohonan ijin pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja ditahan oleh pihak yang berwajib karena pengaduan pengusaha maupun bukan”.

“Dalam hal pekerja ditahan oleh pihak yang berwajib bukan atas pengaduan pengusaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), permohonan ijin dapat diajukan setelah pekerja ditahan paling sedikit selama 60 (enam puluh) hari takwim”.

Ketentuan PHK di dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kepmenakertrans) Nomor Kep-150/MEN/2000 tidak menyebutkan lamanya proses peradilan berlangsung, di dalam Pasal 19 ayat (1) hanya menyebutkan pengusaha dapat melakukan PHK terhadap pekerjanya yang ditahan oleh pihak berwajib, baik atas pengaduan perusahaan atau bukan.

commit to user

lxxxiii

Jadi berdasarkan ketentuan di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kepmenakertrans) Nomor Kep-150/MEN/2000 tentang Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja danPenetapan Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja, dan Ganti Kerugian dari Perusahaan, tertanggal 20 Juni 2000, maka alasan yang mendasari PHK oleh CV. Nova Furniture terhadap pekerjanya sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan tentang Ketenagakerjaan.

2. Prosedur Pelaksanaan PHK Oleh CV. Nova Furniture Terhadap Pekerja yang di PHK

Menurut ketentuan di dalam Pasal 151 dan 152 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, prosedur Pemutusan Hubungan Kerja yang dilakukan oleh Pengusaha adalah :

a. Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah, dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja;

b. Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh;

c. Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud benar-benar tidak menghasilkan persetu-juan, pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial;

d. Permohonan penetapan pemutusan hubungan kerja diajukan secara tertulis kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial disertai alasan yang menjadi dasarnya;

commit to user

lxxxiv

e. Permohonan penetapan dapat diterima oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial apabila telah dirundingkan;

f. Penetapan atas permohonan pemutusan hubungan kerja hanya dapat diberikan oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial jika ternyata maksud untuk memutuskan hubungan kerja telah dirundingkan, tetapi perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

Berdasarkan ketentuan di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, mengenai prosedur pelaksanaan PHK oleh Pengusaha, maka Prosedur PHK yang dilakukan oleh CV. Nova Furniture terhadap Setiawan dan Wiyono yang melakukan PHK tanpa melakukan upaya pencegahan terlebih dahulu agar PHK tidak terjadi tidak sesuai dengan ketentuan di dalam Pasal 151 ayat (1), dimana Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah, dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja. Upaya yang dimaksut didalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak tampak dalam pelaksanaan PHK oleh CV. Nova Furniture, terlihat bahwa pengusaha langsung melakukan PHK terhadap Wiyono ketika ia masuk kerja setelah menjalani masa tahanannya, dan kepada Setiawan Pengusaha melakukan Skorsing tanpa alasan yang jelas, dan ketika skorsing berakhir pihak Pengusaha langsung melakukan PHK terhadap Setiawan. Di dalam penjelasan pada Pasal 151 ayat (1) menjelaskan bahwa Yang dimaksud dengan segala upaya dalam ayat ini adalah kegiatan-kegiatan yang positif yang pada akhirnya dapat menghindari terjadinya pemutusan hubungan kerja antara lain pengaturan waktu kerja, penghematan, pembenahan metode kerja, dan memberikan pembinaan kepada pekerja/buruh. Karena PHK yang dilakukan oleh CV. Nova Furniture bukan karena perusahaan tutup karena kondisi perekonomian melainkan karena pekerja telah melakukan kesalahan berat di luar perusahaan, maka upaya yang dapat dilakukan oleh Pengusaha adalah melakukan pembinaan terhadap pekerja yang telah dihukum pidana oleh pihak yang berwajib. Melihat prestasi kerja yang telah dilakukan pekerja selama pekerja bekerja pada CV. Nova Furniture, seharusnya pengusaha memberikan

commit to user

lxxxv

kesempatan terhadap pekerja. Sebab PHK merupakan upaya terakhir dalam perselisihan hubungan industrial, apabila masih dapat dilakukan pencegahan, seharusnya PHK dicegah agar tidak terjadi.

Pihak Pengusaha telah mengeluarkan Surat Keputusan Pemutusan Hubungan Kerja terlebih dahulu kepada kedua pekerjanya yang telah melakukan kesalahan berat di luar perusahaan tersebut, Pihak Pengusaha tidak melakukan upaya pencegahan dan perundingan Bipartit terlebih dahulu dalam melakukan PHK terhadap pekerjanya. Karena tidak puas atas PHK sepihak yang dilakukan oleh pihak Pengusaha dan tidak menyetujui SK PHK yang telah dikeluarkan oleh Pengusaha, maka pekerja dan pengusaha yang didampingi oleh serikat pekerja CV. Nova Furniture Karanganyar melakukan perundingan secara bipartit. Serikat Pekerja sebagai organisasi yang memperjuangkan hak-hak buruh seharusnya mengupayakan segala hal agar PHK terhadap Setiawan dan Wiyono tidak terjadi. Jadi serikat pekerja belum melaksanakan fungsinya dalam melindungi hak-hak pekerja dalam pelaksanaan PHK oleh CV. Nova Furniture.

Berdasarkan Pasal 151 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, Prosedur yang dilakukan oleh CV. Nova Furniture ini tidak sesuai di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, sebab dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh.

Pihak CV. Nova Furniture telah mengeluarkan Surat Keputusan Pemutusan Hubungan Kerja terlebih dahulu sebelum dilakukan perundingan antara pekerja dan pengusaha, seharusnya pekerja dan pengusaha melakukan perundingan terlebih dahulu untuk membicarakan maksut dan tujuan dilakukannya PHK tersebut bukan secara sepihak mengeluarkan Surat Pemutusan Hubungan Kerja terhadap pekerja. Perundingan Bipartit dilakukan oleh Pengusaha pada tanggal 03 Febuari 2010.

commit to user

lxxxvi

Perundingan Perselisihan Hubungan Industrial antara Setiawan dan Pengusaha berlanjut pada mediasi di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Karanganyar. Menurut ketentuan di dalam Pasal 3 dan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial :

a. Perselisihan hubungan industrial wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat;

b. Penyelesaian perselisihan melalui bipartit harus diselesaikan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal dimulainya perundingan;

c. Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari salah satu pihak menolak untuk berunding atau telah dilakukan perundingan tetapi tidak mencapai kesepakatan, maka perundingan bipartit dianggap gagal;

d. Dalam hal perundingan bipartit gagal, maka salah satu atau kedua belah pihak mencatatkan perselisihannya kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat dengan melampirkan bukti bahwa upaya-upaya penyelesaian melalui perundingan bipartit telah dilakukan;

e. Setelah menerima pencatatan dari salah satu atau para pihak, instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat wajib menawarkan kepada para pihak untuk menyepakati memilih penyelesaian melalui konsiliasi atau melalui arbitrase;

f. Dalam hal para pihak tidak menetapkan pilihan penyelesaian melalui konsiliasi atau arbitrase dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja, maka instansi yang bertangung jawab di bidang ketenagakerjaan melimpahkan penyelesaian perselisihan kepada mediator;

g. Penyelesaian melalui konsiliasi dilakukan untuk penyelesaian perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, atau perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh;

commit to user

lxxxvii

Pencatatan Perselisihan PHK antara CV. Nova Furniture dengan pekerjanya dilakukan pada tanggal 18 Januari 2010, padahal pada tanggal tersebut pihak pengusaha dan pekeja belum melakukan perundingan bipartit, sebab perundingan bipartit baru dilakukan pada tanggal 03 Februari 2010.

Menurut Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan industrial, perundingan antara pengusaha dan pekerja harus dilakukan terlebih dahulu, dan apabila perundingan gagal, para pihak dapat mencatatkan perselisishan pada instansi yang berwenang mengenai ketenagakerjaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam pencatatan perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja tersebut, belum dilampirkan bukti bahwa upaya-upaya penyelesaian melalui perundingan bipartit, sebab perundingan bipartit baru dilakukan pada tanggal 3 Februari 2010.

Jadi menurut Pasal 151 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Pasal 3 dan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industial, Prosedur Pemutusan Hubungan Kerja yang dilakukan oleh CV. Nova Furniture terhadap Setiawan dan Wiyono tidak sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan tentang Ketenagakerjaan. Begitu pula prosedur Mediasi yang dilakukan oleh pihak Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Karanganyar, dimana menurut ketentuan didalam Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2004, Mediator menyelesaikan tugasnya dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak menerima pelimpahan penyelesaian perselisihan. Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja ini berakhir dalam jangka waktu 59 hari terhitung mulai masuknya permohonan mediasi tanggal 18 Januari 2010 sampai dengan pembuatan risalah mediasi pada tanggal 17 Maret 2010.

Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto,S.H.,MA, bahwa masalah pokok penegakkan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau

commit to user

lxxxviii

negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : (2010:08)

a. faktor hukumnya sendiri (undang-undang);

b. faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum;

c. faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum;

d. faktor masyarakat. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan;

e. faktor kebudayaan;yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Berdasarkan pendapat dari Prof. Dr. Soerjono Soekanto,S.H.,MA, dapat dilihat bahwa, prosedur pelaksanaan PHK yang terjadi pada CV. Nova Furniture belum menjalankan peraturan tentang Ketenagakerjaan yang ada, sehingga penegakkan hukum di bidang Ketenagakerjaan belum dapat terwujud.

3. Cara dan Pemberian Kompensasi Terhadap Pekerja yang di PHK a. Cara Pemberian Kompensasi Terhadap Pekerja yang di PHK

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak menjelaskan mengenai cara pembayaran kompensasi terhadap pekerja yang di PHK, namun menurut ketentuan di dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kepmenakertrans) Nomor Kep-150/MEN/2000 tentang Penyelesaian Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja, dan Ganti Kerugian dari Perusahaan, tertanggal 20 Juni 2000 Pada Pasal 33 menjelaskan mengenai Pembayaran uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pasal 23, dan Pasal 24 harus dilakukan secara tunai. Pembayaran Kompensasi yang diberikan kepada Setiawan dan Wiyono dibayarkan dengan cara tunai.

Jadi berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kepmenakertrans) Nomor Kep-150/MEN/2000 tentang Penyelesaian Perselisihan

commit to user

lxxxix

Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja, dan Ganti Kerugian dari Perusahaan, tertanggal 20 Juni 2000 Pada Pasa 33, pembayaran kompensasi yang dilakukan oleh CV. Nova Furniture sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan tentang Ketenagakerjaan.

b. Pemberian Kompensasi Terhadap Pekerja yang di PHK

Berdasarkan ketentuan di dalam Pasal 160 ayat (7) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pengusaha wajib membayar kepada pekerja/buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja sebagai-mana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (5), uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan dalam Pasal 156 ayat (4). Sesuai dengan Anjuran yang diberikan oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karanganyar, kompensasi yang diterima Setiawan adalah : Uang Penghargaan Masa Kerja :

2 x Rp. 761.000,00 = Rp. 1.522.000,00 Uang Penggantian hak 15 % : 15% x Rp. 1.522.000,00 =Rp. 228.300,00 Jumlah = Rp. 1.750.000,00

Pemenuhan Kompensasi tersebut didasarkan pada alasan PHK yang diterima pekerja, yaitu dimana alasan PHK sesuai dengan Pasal 160 ayat (5) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, maka sesuai dengan Pasal 160 ayat (7) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan hak pekerja yang di PHK meliputi uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan dalam Pasal 156 ayat (4).

Menurut Pasal 156 ayat (3), pekerja yang bekerja selama masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 (enam) tahun, 2 (dua) bulan upah, Setiawan adalah karyawan CV. Nova Furniture yang bekerja selama 5 tahun 10 bulan, jadi pemenuhan kompensasi terhadap Setiawan menurut Pasal 156 ayat (3) mendapatkan Uang

commit to user

xc

Penghargaan Masa Kerja 2 (dua) bulan upah, sehingga hak yang diperoleh Setiawan 2 x Rp. 761.000,00 = Rp. 1.522.000,00.

Uang penggantian hak yang diterima Setiawan menurut Pasal 156 ayat (4) adalah: 1) cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur;

2) biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ketempat dimana pekerja/buruh diterima bekerja;

3) penggantian perumahan serta pengobatan dan perawatan ditetapkan 15% (lima belas perseratus) dari uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja bagi yang memenuhi syarat;

4) hal-hal lain yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

Perusahaan memberikan uang penggantian hak sebesar 15% dari Uang Penghargaan masa kerja, penghitungan ini tidak ditambahkan dengan uang pesangon seperti yang tertuang di dalam Pasal 156 ayat (4) huruf c, sebab pekerja tidak memperoleh pesangon karena menurut ketentuan Pasal 160 ayat (7) pekerja hanya mendapatkan uang penghargaan masa kerja dan ganti kerugian. Ganti kerugian yang diterima oleh pekerja, yaitu :

15% x Rp. 1.522.000,00 =Rp. 228.300,00

Cuti tahunan yang belum di ambil tidak diberikan oleh pihak perusahaan, sebab cuti pekerja telah habis dipakai. Dan perusahaan tidak memberikan biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ketempat dimana pekerja/buruh diterima bekerja. Jadi pekerja hanya menerima uang penghargaan masa kerja dan ganti rugi pengobatan dan perawatan ditetapkan 15% (lima belas perseratus) dari uang penghargaan masa kerja bagi yang memenuhi syarat;

Jadi berdasarkan pemenuhan kompensasi yang diberikan perusahaan dan atas anjuran dari pihak Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karanganyar kompensasi yang diberikan tidak sesuai dengan ketentuan didalam Pasal 160 ayat (7) dan Pasal 156 ayat (4).

commit to user

xci

Sedangkan terhadap Wiyono, pengusaha memberikan kompensasi berdasarkan Persetujuan Bersama yang dibuat dengan rincian:

Masa kerja lebih dari 4 tahun

Uang ganti rugi 15% dari pesangon dan penghargaan :

Pesangon 5 x Rp. 761.000,00 = Rp. 3.805.000,00 Penghargaan Masa Kerja

2 x Rp. 761.000,00 = Rp 1.522.000,00 Jumlah = Rp. 5.327.000,00

Ganti Rugi 15% x Rp. 5.327.000,00 =Rp. 799.050,00 Sisa Cuti 8 x Rp. 36.238 = Rp. 290.000,00 Jumlah = Rp. 1.089.000,00

Penghargaan Masa Kerja

2 x Rp. 761.000,00 = Rp 1.522.000,00

Gaji Bulan Desember = Rp. 722.500,00 Jumlah = Rp. 3.333.500,00

Dari rincian tersebut di atas, Wiyono mendapatkan uang penghargaan masa kerja sebesar 2 (dua) bulan gaji, ganti rugi sebesar 15% dari uang pesangon dan penghargaan masa kerja, yang seharusnya uang ganti rugi yang diberikan adalah 15% dari penghargaan masa kerja, sebab alasan PHK pekerja tidak memenuhi ketentuan terhadap pekerja untuk mendapatkan pesangon. Uang ganti rugi yang diberikan juga meliputi sisa cuti yang belum diambil, dan Menurut Pasal 160 (ayat 7) Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2004 tentang Ketenagakerjaan, Pengusaha wajib membayar kepada pekerja/buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja sebagai-mana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (5), uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan dalam Pasal 156 ayat (4).

Menurut Pasal 156 ayat (3), pekerja yang bekerja selama masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 (enam) tahun, 2 (dua) bulan upah. Wiyono mendapatkan uang penghargaan masa kerja sebesar 2 (dua) bulan gaji sebesar

commit to user

xcii

1.522.000,00. Seperti dengan Setiawan, Wiyono tidak memperoleh biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ketempat dimana pekerja/buruh diterima bekerja. Jadi pemenuhan kompensasi terhadap Wiyono tidak sesuai sesuai dengan ketentuan di dalam Pasal 160 ayat (7) dan Pasal 156 ayat (4), sehingga kompensasi yang diberikan terhadap pekerja tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang ketenagakerjaan yang berlaku.

Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto,S.H.,MA, bahwa masalah pokok penegakkan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : (2010:08)

f. faktor hukumnya sendiri (undang-undang);

g. faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum;

h. faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum;

i. faktor masyarakat. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan;

j. faktor kebudayaan;yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Berdasarkan pendapat dari Prof. Dr. Soerjono Soekanto,S.H.,MA, dapat dilihat bahwa, pemenuhan kompensasi PHK yang terjadi pada CV. Nova Furniture tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang ketenagakerjaan, sehingga pengusaha belum menjalankan peraturan tentang Ketenagakerjaan yang ada, maka penegakkan hukum di bidang Ketenagakerjaan belum dapat terwujud.

4. Perlindungan Hukum terhadap Pekerja dalam pelaksanaan PHK a. Alasan yang Mendasari CV. Nova Furniture melakukan PHK

Perlindungan hukum dalam pemutusan hubungan kerja yang terpenting adalah menyangkut kebenaran status pekerja dalam hubungan kerja serta kebenaran alasan

commit to user

xciii

PHK. Yang perlu mendapat perhatian adalah adanya ketentuan apabila pekerja tertangkap tangan melakukan kesalahan berat dapat di-PHK tanpa izin. Hal ini bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. (Asri Wijayanti,2009:167)

Menurut Penulis, ketentuan yang terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 160 ayat (5) mengenai alasan yang diperbolehkan dalam melakukan PHK, terlihat bahwa Pemerintah tidak melindungi pekerja yang di PHK, sebab unsur-unsur di dalam Pasal 160 ayat 1 adalah :

1) Pengadilan memutuskan perkara pidana; 2) Sebelum masa 6 (enam) bulan berakhir; 3) Pekerja/ buruh dinyatakan bersalah;

4) Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja.

Unsur-unsur didalam Pasal 160 ayat (5) tersebut tidak memberikan kejelasan mengenai pengaduan tindak pidana atas pengaduan pengusaha atau tidak, dan kesalahan yang mengakibatkan pekerja ditahan oleh pihak berwajib dilakukan di dalam atau di luar perusahaan. Di lain pihak PHK karena alasan yang demikian seharusnya mempertimbangkan prestasi-prestasi kerja yang dilakukan oleh pihak pekerja, apakah pekerja selama bekerja beritikad baik atau tidak, sebab perusahaan tidak dirugikan atas penahanan oleh pihak berwajib terhadap pekerja karena kesalahan yang dilakukan oleh pekerja tidak dilakukan dilingkungan perusahaan.

Dokumen terkait