• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku-pikiran yang terganggu, dimana berbagai bentuk pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru, afek yang datar atau tidak sesuai, dan berbagai gangguan aktivitas motorik yang aneh (bizzare). Pasien skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali masuk dalam kehidupan fantasi yang penuh dengan delusi dan halusinasi (Davison, 2006: 444).

Simtom-simtom utama yang dialami oleh penderita adalah mencakup simtom positif dan negatif serta disorganisasi. Simtom positif ini mencakup tentang hal-hal yang berlebihan dan distorsi, seperti hal-halusinasi dan waham. Simtom-simtom ini, sebagian terbesarnya, menjadi ciri suatu episode akut skizofrenia (Davison, 2006: 445).

Dari gambaran kasus ini, peneliti melihat ada gejala gangguan psikotik, gejala-gejala yang muncul mirip dengan gejala skizofrenia paranoid dan skizofrenia hebefrenik. Hal ini berdasarkan atas diagnosa berikut:

Subyek I: H

1) Adanya simtom positif berupa halusinasi auditorik dan waham kejaran (Davison, 2006: 445). Dimana H sering mendengar bisikan-bisikan aneh yang menyuruhnya untuk mengerjakan sesuatu, atau panggilan-panggilan untuk mengajaknya berbicara. Selain itu H sering mengalami waham kejaran.

2) Adanya simtom negatif yang memiliki ciri menurunnya afeksi dan konasi, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri, dan penarikan diri secara sosial (Maslim, 2001: 47). Simtom negatif yang tampak pada H adalah ekspresi wajah yang datar saat pertama kali bertemu pada tanggal 9 Januari 2009. Dari keterangan pengasuh dan hasil observasi ada indikasi kuat munculnya perilaku penarikan diri dan larut dalam diri sendiri. Hal ini juga diperkuat dengan hasil tes grafis yang menunjukkan adanya indikasi kuat H menarik diri dari lingkungan dan memiliki karakter introvert.

3) Adanya simtom disorganisasi (Davison, 2006: 450), yaitu perilaku-perilaku aneh yang tampak pada H.

4) Adanya riwayat gangguan serupa setidaknya 12 bulan terakhir (Maslim, 2001: 50). Hal ini pernah terjadi pada tahun 2004.

Dari empat indikator di atas, peneliti berasumsi apa yang dialami H lebih cenderung mengarah pada gangguan skizofrenia paranoid.

Subyek II: S

1) Adanya simtom positif berupa halusinasi auditorik dan waham tentang dirinya yang bisa melihat jin (Davison, 2006: 446). Dimana S sering mendengar suara-suara jin yang mengajaknya untuk berbicara dan mendiskusikan masalah teman-teman sesama penghuni ponpes. Selain itu S sering mengalami waham berupa melihat dan berkomunikasi dengan jin.

Selain itu S sering kali tersenyum sendiri, kadang disertai dengan cekikikan tanpa sebab yang jelas.

2) Adanya simtom negatif yang memiliki ciri menurunnya afeksi dan konasi, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri, dan penarikan diri secara sosial (Maslim, 2001: 47). Simtom negatif yang tampak pada S adalah ekspresi wajah yang datar, perilaku yang tidak bertanggungjawab, hampa tujuan dan perasaan. Dari hasil observasi dan keterangan pengasuh ada indikasi kuat munculnya perilaku penarikan diri dan larut dalam diri sendiri. Hal ini juga diperkuat dengan hasil tes grafis yang menunjukkan adanya indikasi kuat S mengalami ganguan skizofrenia dan menarik diri dari lingkungan serta memiliki karakter introvert.

3) Adanya simtom disorganisasi (Davison, 2006: 449), yaitu perilaku-perilaku aneh yang tampak pada S. Dimana S sering kali bermasalah dalam

mengorganisasikan pembicaraan sehingga pendengar sulit untuk memahami maksud ucapannya.

4) Adanya riwayat gangguan serupa setidaknya 12 bulan terakhir, hal ini pernah terjadi pada tahun 1995 dan 2005 (Maslim, 2001: 50).

Dari empat indikator di atas, peneliti berasumsi apa yang dialami S lebih cenderung mengarah pada gangguan skizofrenia hebefrenik.

Adapun faktor yang menyebabkan mereka berdua mengalami skizofrenia adalah berbeda. Dimana subyek H disebabkan oleh adanya kurangnya komunikasi dengan kelurga serta adanya faktor ekonomi, dimana H tidak lagi bekerja secara mapan setelah mendapat PHK dari perusahaan. Sedangkan S, disebabkan adanya faktor impotensi sehingga mengakibatkan istrinya berselingkuh, dan adanya faktor ekonomi yang kurang mapan. S sejak muda hingga memiliki tiga orang anak tidak sekalipun pernah bekerja, sehingga yang menghidupi adalah istrinya. Hal-hal seperti ini membuat S merasa kehilangan wibawanya sehingga S menjadi sakit.

Untuk menetapkan prognosa kita harus mempertimbangkan semua faktor dibawah ini :

1) Kepribadian prepsikotik : bila skizoid dan hubungan antar manusia memang kurang memuaskan, maka prognosa lebih jelek.

2) Bila skizofrenia timbul secara akut, maka prognosa lebih dari baik dari pada bila penyakit itu mulai secara pelan-pelan.

3) Jenis : prognosa jenis katatonik yang paling baik dari semua jenis skizofrenia. Sering penderita dengan katatonik sembuh dan kembali ke

kepribadian prepsikotik. Kemudian adalah jenis paranoid. Banyak dari jenis ini bisa kembali kemasyarakat. Hebrefenia dan simplex mempunyai prognosa yang paling jelek. Biasanya penderitanya menuju kearah kemunduran mental.

4) Umur : makin muda umur permulaannya, makin jelek prognosanya.

5) Pengobatan : makin lekas diberi pengobatan, makin baik prognosanya.

6) Dikatakan bahwa bila faktor pencetus, seperti penyakit badaniah atau stress psikologik, maka prognosa lebih baik.

7) Faktor keturunan : prognosa menjadi lebih berat bila didalam keluarga terdapat seorang atau lebih yang menderita skizofrenia.

Beberapa penelitian telah menemukan bahwa lebih dari periode 5 sampai 10 tahun setelah perawatan psikiatrik pertama kali dirumah sakit karena skizofrenia, hanya kira-kira 10 sampai 20 persen pasien dapat digambarkan memiliki hasil yang baik. Lebih dari 50 persennya pasien dapat digambarkan memiliki hasil yang buruk, dengan perawatan dirumah sakit yang berulang, eksaserbasi gejala, episode gangguan mood berat, dan usaha bunuh diri. Walaupun terdapat angka-angka kurang bagus tersebut, skizofrenia memang tidak selalu memiliki perjalanan penyakit yang memburuk dan sejumlah faktor telah dihubungkan dengan prognosis yang baik (Dino, 2007).

Rentang angka pemulihan yang dilaporkan dalam literatur adalah 10%-60%, dan perkiraan yang beralasan adalah bahwa 20%-30%dari semua pasien skizofrenia mampu untuk menjalani kehidupan yang agak normal. Kira-kira 20%-30% dari pasien terus mengalami gejala yang sedang dan 40%-60% dari pasien

terus terganggu secara bermakna oleh gangguan-gangguannya selama seluruh hidupnya (Dino, 2007).

Setelah dilakukan penelitian dengan terapi do’a terhadap penderita skizofrenia, ternyata ada hal-hal menarik yang dapat kita pelajari. Dengan terapi do’a ini subyek pertama mengalami perbaikan yang cukup pesat, dimana dalam waktu tujuh bulan H sudah diijinkan pulang karena sudah bisa dikatakan sembuh.

Perbaikan-perbaikan kondisi ini sudah tampak dari perilaku H mulai bulan ketiga, dimana saat itu H merasa sudah lebih baik kondisinya, dan sudah mulai bisa bercerita dan berbicara secara kohern. Meskipun tidak ada patokan khusus untuk menyatakan subyek H telah sembuh karena tidak tersistematis dalam catatan tertentu, namun ketika Gus Zain mengatakan sudah diperboleh pulang maka saat itu juga pasien dianggap sembuh. Mereka menilai ukuran kesembuhan pasien dari tingkah laku atau perilaku-perilaku pasien itu sendiri. Dimana ketika pasien sudah tidak lagi mengalami keluhan yang dialami seperti halusinasi, delusi, dan sebagainya, serta bisa berperilaku dengan baik, wajar, tidak mudah marah, dan berakhlak karimah terhadap semuanya maka pasien sudah bisa dikatakan sembuh dan diijinkan untuk pulang.

Sedangkan untuk pasien kedua belum bisa dikatakan sembuh total, karena sejak masuk ditahun 2005 S jarang mengalami perkembangan yang cukup berarti.

Menurut pengakuan keluarganya S hanya bisa mengalami perbaikan diawal-awal masuk Ponpes saja. Dalam keterangan Gus Zain dan juga pengasuh lainnya, hal ini terjadi karena S sudah terlambat dalam pengobatannya, dalam arti S terlalu

banyak mengkonsumsi obat-obatan anti-psikotik sejak dalam perawatan RSJ selama sepuluh tahun, sehingga hal ini mempengaruhi fungsi dan kerja otak.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Alvan Goldstein. Menurutnya, ditemukan adanya zat endorphin dalam otak manusia. Yaitu suatu zat yang memberikan efek menenangkan yang disebut endogenonius morphin. Subandi menjelaskan, bahwa kelenjar endorfina dan enkefalina yang dihasilkan oleh kelenjar pituitrin di otak ternyata memiliki efek yang mirip dengan opiat (opium/candu) yang memiliki fungsi menimbulkan kenikmatan, sehingga disebut opiat endogen. Apabila seseorang dengan sengaja memasukkan zat morphin ke dalam tubuhnya, maka akan terjadi penghentian produksi endorphin. Pada pengguna narkoba, apabila dilakukan penghentian morphin dari luar secara tiba-tiba, orang tersebut akan mengalami sakaw (ketagihan yang menyiksa dan gelisah) karena otak tidak lagi memproduksi zat tersebut. Untuk mengembalikan produksi endorphin di dalam otak bisa dilakukan dengan cara meditasi, sholat yang benar, atau melakukan dzikir-dzikir yang memang banyak memberikan ketenangan (Islamic media, http://isamic.xtgem.com).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Thabathabai, do’a dan dzikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas do’a dan dzikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Do’a dan dzikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT. semata, sehingga do’a dan dzikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.

(http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/nov08/islam_therapy/0021.htm).

Adapun terapi metode yang digunakan dalam terapi do’a ini adalah metode asma’. Yaitu semacam terapi dengan menggunakan air sebagai media do’anya.

Sebenarnya hal ini sudah cukup lama dikenal, namun jarang pula orang yang praktekkan.

Ada alasan mengapa air digunakan sebagai medianya. Sebagaimana yang telah kita ketahui dari hasil penelitian air yang dilakukan oleh ilmuwan Jepang, Masaru Emoto, akhirnya dapat kita ketahui bahwa air ternyata hidup dan dapat memberikan respon yang positif ataupun negatif terhadap manusia. Selain itu tubuh manusia juga 75% terdiri dari zat cair, begitu pula dengan otak kita yang hampir 74% nya adalah cairan, sehingga tubuh akan lebih mudah untuk berinteraksi jika zat yang masuk adalah sama.

Hasil penelitian Masaru Emoto tersebut membuktikan bahwa ternyata air mampu merespon terhadap kata-kata, gambar, serta musik baik secara positif atau negatif. Jika kita mengatakan pada air kata-kata “cinta dan terima kasih” maka hasil foto kristal airnya sungguh dahsyat yakni membentuk kristal air heksagonal yang indah. Sebaliknya, jika kita mengatakan pada air kalimat “kamu bodoh”

maka tidak akan membentuk kristal bahkan gambarnya jelek sekali (Emoto, 2005;

15).

Itulah sebabnya mengapa terapi do’a ini menggunakan air sebagai medianya.

Karena air dan manusia memiliki unsur yang sama sehingga lebih cepat dalam berinteraksi dan menghasilkan gelombang elektromagnetik. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Zaik Baik pengasuh Ponpes Az-Zainy, bahwa air yang diberi do’a-do’a (terutama do’a rotibul haddad, yang selalu digunakan oleh

terapis) itu akan membentuk suatu gelombak eloktromagnetik yang akan memperlancar peredaran darah. Selain itu dalam penelitian Masaru Emoto, air yang diberi kata-kata do’a ternyata membentuk sebuah kristal air yang bentuknya lebih indah dari kata apapun. Hal ini bisa kita pahami, bahwa dalam do’a mengandung seluruh unsur kebaikan, yang meliputi, permohonan, pengharapan cinta, dan kepasrahan kepada Tuhan.

Tubuh manusia memang 70% terdiri dari air. Otak 74.5% terdiri dari air, dan darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air. Temuan ini menjelaskan air putih yang didoakan bisa menyembuhkan si sakit. Dulu, hal ini kita anggap musrik, atau paling sedikit kita anggap sugesti, tetapi ternyata molekul air itu menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit (http://zulfikri.wordpress.com/2007/09/04/keajaiban-air/).

Dalam bukunya ” The Hidden Message in Water”, Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau

Gambar. 1

Ini adalah gambar kristal air yang dibacakan do’a secara Islam, terbentuk kristal bersegi

enam.

Gambar. 2

Ini adalah gambar kristal air tanpa

perlakuan.

Gambar. 3

Ini adalah gambar kristal air jika kita mengatakan

kata-kata kebaikan.

compact disk. Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain.

Hal ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

“ZamZam Lima Syuriba Lahu,” Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya. Barang siapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang.

Barang siapa minum dengan niat kesembuhan, Insya Allah dia akan sembuh (HR.

Ahmad dan Baihaqi).

Berkaitan dengan hal ini, Tung Desem Waringin (The Most Powerfull People and Idea in Bussines 2005 versi majalah SWA dan penulis buku Financial Revolution) menyatakan, hasil penelitian Masaru Emoto itu secara menyakinkan dan ilmiah telah menyambungkan missink link tentang bagaimana doa, pikiran, dan kata-kata positif berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Doa dan kata-kata positif, ungkap Tung Desem Waringin, membuat kristal air menjadi bagus sehingga manusia yang terdiri dari 70% air juga menjadi baik (http://zulfikri.wordpress.com/2007/09/04/keajaiban-air/).

Dengan penelitian ini, jelaslah sudah bahwa terapi do’a dengan menggunakan media air ternyata bisa memberikan kesembuhan kepada penyakit yang berat sekalipun. Jika dulu banyak orang beranggapan penyembuhan penyakit melalui air yang diberi doa adalah musrik, maka oleh ilmu pengetahuan telah dibuktikan bahwa doa yang dibacakan pada air mampu merubah air tersebut menjadi air penyembuh. Jadi semua ini sejalan dengan ilmu pengetahuan. Penelitian Masaru Emoto ini tidak hanya mencakup air melainkan juga makanan yang ternyata juga mampu memberikan reaksi positif dan negatif. Inilah rahasianya mengapa kita

dianjurkan oleh agama untuk berdoa sebelum makan atau minum. Doa yang baik ternyata akan mampu merubah air atau makanan menjadi sesuatu yang baik bagi tubuh. Penelitian ini sungguh menyadarkan kita bahwa ucapan, pikiran, dan perbuatan yang tidak baik ternyata mampu mengalirkan energi negatif yang

merubah segala sesuatunya menjadi tidak baik

(http://zulfikri.wordpress.com/2007/09/04/keajaiban-air/).

Adapun proses terapi yang dilakukan oleh Gus Zain dalam terapi do’a ini antara lain:

1. Pra Terapi: Meliputi persiapan terapis dan persiapan klien.

Dalam hal ini terapis tidak melakukan persiapan khusus dalam melakukan terapi. Begitu pula dengan klien juga tidak diminta untuk melakukan persiapan khusus. Biasanya pasien yang datang akan langsung ditanya mengenai keluhan yang dirasakan, dan penyebabnya. Terapis hanya menyediakan air yang telah diberikan do’a-do’a yang telah diembunkan selama semalam untuk diberikan kepada pasien.

2. Tahap terapi (proses do’a).

Dalam tahap terapi ini terapis akan melihat penyakitnya, dimana dalam tahapan yang pertama ini pasien dan keluarganya menceritakan terlebih dahulu penyebab sakitnya. Setelah itu terapis akan memegang kepala (bagian ubun-ubun) untuk mengetahui sakitnya apakah ringan, sedang, atau parah. Setelah itu terapis akan memberikan totok dibagian kepala, leher, dan pundak agar pasien lebih tenang. Setelah itu pasien akan diberikan terapi do’a melalui media air yang akan diminum oleh pasien

atau yang dikenal dengan terapi asma’. Air asma’ ini diberikan setiap saat sebagai pengganti air minum bagi pasien, dimana tidak ada batasan dalam mengkonsumsinya. Setelah air asma’ diberikan pada pasien, tahap selanjutnya adalah dengan bersosialisasi dengan yang lain, baik dengan terapis, pengasuh ataupun dengan sesama pasien. Selain pemberian asma’

ini, pasien juga wajib mengiikuti sholat berjamaah, pengajian dan istighostah. Bila pasien sudah mulai ada perubahan dan semakin baik, maka terapis akan memisahkan pasien yang sudah membaik dan menempatkannya dengan pasien yang sudah baik lainnya hingga pasien akhirnya diizinkan untuk pulang.

3. Pasca terapi (Pengkondisian pasien) (kontrak terapi).

Dalam terapi do’a ini terapis tidak memberikan pengkondisian khusus, hanya saja, jika pasien sudah terasa lebih baik, maka terapis akan memisahkan pasien yang sudah membaik dan menempatkannya dengan pasien yang sudah baik lainnya hingga pasien akhirnya diizinkan untuk pulang. Dan setelah pulang, pasien dan keluarganya diharuskan untuk datang dalam acara istighosah yang dilakukan setiap satu bulan sekali.

Menurut terapis, istighosah ini merupakan faktor pendukung kesembuhan yang lainnya untuk pasien, karena didalam istighosah ini keluarga diminta untuk membawa air putih dalam botol untuk didoakan secara bersama-sama yang kemudian akan diminumkan untuk keluarganya yang sakit.

Terapi do’a sangat potensial menjadi solusi alternatif psikoterapi yang dapat memenuhi kebutuhan umat Islam dalam penanganan gangguan jiwa. Dalam

praktiknya, terapi do’a berlandaskan sunnah Rasulullah sehingga tidak ada kekhawatiran untuk terjerumus pada jurang kesyirikan. Dari sisi fungsi, terapi do’a digunakan sebagai terapi gangguan jiwa, baik yang ringan hingga yang paling berat. Dalam kebutuhan diagnosis gangguan jiwa, tentunya terapi do’a dapat pula dimanfaatkan sebagai media diagnosa apakah gangguan yang dialami seseorang murni faktor psikis, fisik, atau berasal dari lainnya. Namun untuk mengoptimalkan terapi do’a sebagai bentuk psikoterapi tentunya perlu evaluasi yang mendalam terhadap praktik terapi do’a yang selama ini terjadi agar dapat dirumuskan model psikoterapi terapi do’a yang efektif dalam penanganan gangguan jiwa, terutama gangguan skizofrenia.

Sebenarnya ada beberapa hambatan yang terjadi, hal ini berkenaan dengan manajemen terapi. Saat peneliti ingin mencari data-data tentang pasien, terapis dan pengasuh lainnya tidak memiliki dokumen yang dapat digunakan. Dalam proses terapi, terapis tidak merekam gangguan pasiennya dalam bentuk file khusus. Dalam perawatan pasien jiwa ataupun medis, hasil diagnosa dan perkembangan pasien direkam dalam file khusus hal ini bermanfaat agar perkembangan gangguan pasien dapat dipantau secara seksama. Begitu pula dalam proses terapi do’a, ada baiknya terapis merekam segala sesuatu yang terkait dengan pasien dalam proses terapi, mencakup diagnosa gangguan, faktor-faktor yang mempengaruhi, kondisi pasien, perkembangan hasil terapi, dan lain sebagainya yang dapat dijadikan terapis sebagai media pemantau perkembangan gangguan yang dialami pasien. Dari kekurangan-kekurangan yang ada, idealnya ada sebuah metode integratif antara prosedur-prosedur terapi yang ada, sehingga

menciptakan sebuah konsep terapi yang efektif dalam menangani berbagai macam gangguan jiwa. Secara ringkas, integrasi tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 5.1 Bagan Integrasi Prosedur Penanganan Gangguan Jiwa Paradigma Ilmu Kesehatan Jiwa Modern dan Islam

Terapi do’a yang diterapkan pada masing-masing subyek mempunyai dampak positif walaupun pada subyek II kesembuhan bersifat temporal. Adapun hasil tersebut dapat digambarkan sebagai berikut,

1. Subyek I (H)

Diagnosa

Anamnesa

Allo

Auto

Observasi

Psikotes

Intelegensi

Proyeksi

Inventori

Terapi Do’a Prognosa

Terapi Farmakoterapi

Jenis Gangguan Medis/Psikis/

Spiritual

Psikoterapi Psikoanalisa

Behavioristik

Humanistik/

Eksistensial

Kognitif

Terapi Do’a Bio/Psiko/Sosio/

Spiritual

Dari keterangan H, hasil yang diberikan oleh dai terapi do’a ini dapat menghilangkan bisikannya dan perasaan takut akan dibunuh, sehingga pasca terapi tersebut H tidak pernah mengalami halusinasi auditorik dan waham kejaran kembali.

Dari hasil observasi dibulan keempat, bisikan-bisikan yang didengar oleh H sudah mulai berkurang. H juga sudah mulai bisa tenang dan tidak berputar-putar ditaman seperti ketika diawal-awal kedatangannya. H sudah mulai berteman dengan orang-orang disekitarnya dan bercanda dengan pasien lainnya. Sedangkan delusi atau waham yang dialaminya belum begitu nampak berkurang intensitasnya.

H sudah mulai bisa menjalankan tugas-tugas pribadinya, misalnya mandi tanpa dipaksa, membersihkan kamar tinggalnya, ikut piket kebersihan. Hasil Observasi yang lain juga menunjukkan bahwa H sudah ada penurunan intensitas dalam hal marah-marah tanpa sebab dan sudah mulai bersosialisasi dengan pasien lainnya meskipun peneliti sempat melihat bahwa H pernah memukul temannya dan kadang bicaranya masih tidak terkontrol.

Sedangkan dibulan kelima Gus memutuskan untuk memisahkan tempat tidur H dengan yang lainnya. H dipindahkan disebelah kamar pengasuh agar mudah diawasi. Ketika peneliti bertanya kepada Gus Zain, beliau menjawab bahwa ini dilakukan karena kondisi H semakin membaik. Menurut Gus juga kemungkinan dua atau tiga bulan lagi H sudah diizinkan pulang tetapi dengan catatan masih harus kontrol dengan cara mengikuti istighosah.

Dari hasil observasi diketahui bahwa dibulan kelima H semakin menunjukkan hasil yang semakin positif. Ketika peneliti bertemu dangan H, kondisi fisik H semakin baik dan lebih terwat, tampaknya H juga semakin rajin mandi, dan rapi tidak seperti sebelumnya jika akan wawancara, H menemui peneliti dalam kondisi tidak terawat.

Kondisi ini didukung adanya motivasi internal dari dalam diri H untuk sembuh dan kooperatif selama proses terapi berlangsung. Dimana H melaksanakan pesan-pesan terapis dengan baik, ia berusaha untuk sembuh kembali dengan jalan meningkatkan ibadah dan perbaikan pola hidup.

Dari hasil wawancara dengan istri H juga menyebutkan hal yang sama, bahwa sudah ada kemajuan dari kondisi H sehingga dalam waktu beberapa minggu lagi sudah diperbolehkan untuk pulang kembali.

2. Subyek II (S)

Adapun dengan kondisi S ini, tampak kurang menggembirakan karena sejak mengikuti terapi ini dari tahun 2005 S tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti. Hanya sewaktu diawal-awal masuk S mengalami kemajuan, dimana S tidak lagi sering mengambil barang orang seperti ketika sebelum masuk Ponpes ini. Kemudian menurut keluarganya (anak S), ayahnya juga sudah tidak jarang tertawa cekikikan sampai keras sekali, meskipun sekarang juga masih sering tertawa cekikikan namun suaranya juga jauh berkurang.

Selama dalam observasi peneliti, S juga kurang dalam hal bersih diri dan merawat diri. S masih tampak jarang mandi, dan lebih suka berdiri disepan pagar sambil tertawa cekikikan, atau jika tidak yang dilakukannya adalah mencari sampah atau apapun yang dia temukan akan dimasukkan dalam dompet yang selalu dibawanya.

Adapun simtom-simtom dari S juga tidak menunjukkan perubahan selama tujuh bulan ini. S masih suka tertawa cekikikan dan senyum sendiri terutama jika melihat laki-laki. Selaian itu simtom seperti halusinasi dan waham juga tidak berkurang.

Sedangkan menurut terapis, S ini memang sulit sembuh karena terlalu lama di RSJ. Sehingga efek obatnya juga berpengaruh terhadap pasien dan ketika dibawah kesini menjadi sulit untuk disembuhnya secara total karena dianggap sudah terlambat. Apalagi dengan usia S yang juga sudah tua, sehingga harapannya juga tipis. Menurut terapis ketika pasien tidak marah saja mereka patut bersyukur, namun S ini tidak pernah marah orangnya.

Menurut terapis juga ada pengaruhnya antara usia penderita dengan kesembuhan pasien. Karena semakin muda usia sakitnya semakin cepat sembuh, semakin tidak pernah kena obat-obatan semakin cepat sembuh.

Karena didalam obat itu kan ada zat yang membuat seseorang menjadi tumpul pikirannya atau otak, dan itu yang menyebabkan sembuhkannya jadi lama.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam agama Islam, terapi do’a dapat menjadi sebuah metode aplikatif dalam proses psikoterapi, karena bacaan do’a dari al-Qur’an dapat memberikan efek positif terhadap jiwa individu.

Banyak karangan para ulama tentang keutamaan-keutamaan ayat al-Qur’an, do’a dan dzikir. Selain memiliki efek memberi ketenangan, juga dapat digunakan sebagai sarana untuk berlindung dan menghadapi gangguan jin. Allah berfirman dalam surat al-Ra’d ayat 28:

0 " - = !GH@ 6#' ,A' ) > : ?*A' ) = !G @ I %.')

Artinya: “...(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) (Departemen Agama RI, 2005: 252).

Islam telah menegaskan bahwa kesembuhan hanyalah hak Allah semata. Islam telah membedakan antara terapi dan penyembuhan. Terapi adalah ikhtiar, dan penyembuhan adalah hak Allah semata. Terapi do’a dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi dengan menggunakan media air bisa digolongkan sebagai bentuk do’a dan permohonan kepada Allah dengan nama dan sifatnya, juga merupakan suatu permohonan kepada-Nya dari sakit yang dideritanya.

Dokumen terkait