BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.6. Pembahasan
Berdasarkan teoritis yang telah disebutkan pada bab
sebelumnya, telah dijelaskan bahwa variable long term debt to equity
ratio (X1), return on asset (X2), earning per share (X3) secara teori
mempunyai pengaruh terhadap biaya modal keseluruhan / WACC
(Y).
Teori trade off yang menyatakan bahwa pada pemilihan
struktur modal terdapat pertukaran antara risiko dan keuntungan.
Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang
menyeimbangkan risiko dan keuntungan perusahaan, pada teori ini
menjelaskan tentang pengaruh antara perimbangan hutang jangka
panjang yang seharusnya digunakan oleh perusahaan sehingga dapat
menciptakan keuntungan dengan memanfaatkan biaya yang timbul
atas modal, namun manfaat pajak yang didapatkan oleh perusahaan
akibat penggunaan hutang yang semakin tinggi lambatlaun juga
membawa perusahaan pada kondisi kesulitan keuangan pada saat
risiko usaha semakin tinggi.
Teori Pecking Order yang menyatakan bahwa perusahaan
seharusnya pertama kali memilih pendanaan internal (laba ditahan),
kemudian pendanaan eksternal berupa hutang dan saham sebagai
sumber terakhir, merupakan teori yang menitik beratkan pada
penggunaan sumber dana dengan biaya yang paling rendah.
Melonggarkan kebutuhan dana eksternal dengan harapan dapat
menggunakan laba ditahan sebagai sumber pendanaan menandakan
bahwa laba atas pengembalian investasi asset yang diharapkan oleh
perusahaan juga akan mempengaruhi besaran biaya modal yang akan
ditanggung perusahaan dikemudian hari. Teori pecking order dapat
diterapkan lebih baik jika saja perusahaan memiliki sisa laba bersih
sehingga mampu untuk melakukan pencadangan untuk keperluan
investasi dikemudian hari tanpa memberi pilihan dan signal negatif
bagi para investor serta memberatkan hak para pemberi kredit.
Pada teori Signaling menyatakan bahwa manajer
mempunyai informasi yang lebih lengkap tentang kondisi perusahaan
yang tidak diketahui oleh investor. Menurut teori signaling perilaku
manajer seharusnya akan cenderung memberikan yang terbaik bagi
para investor. Setiap keputusan atas pendanaan ataupun penggunaan
dana akan memberi signal bagi investor, hal ini menandakan bahwa
yang dimilikinya sesuai laba yang dilaporkan oleh perusahaan, maka
dividenpun akan diberikan dan signal yang positif akan diraih oleh
perusahaan, namun perlu diingat bahwa pembagian dividen
merupakan biaya atas modal saham yang harus ditanggung oleh
perusahaan. Semakin tinggi laba per saham yang dimilki oleh
perusahaan maka semakin tinggi pula biaya yang akan ditanggung.
Fakta atas teori tersebut diatas kemudian diuji, dan melalui
penelitian berdasarkan analisis regresi linier berganda yang telah
dilakukan, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa baik secara
simultan (uji F) dan parsial (uji t) seluruhnya tidak signifikan, artinya
bahwa variabel Long Term Debt to Equity Ratio, return on assets,
dan Earning Per Share tidak mempunyai pengaruh signifikan
terhadap Weighted Average Cost of Capital pada perusahaan tekstil
yang go public di Bursa Efek Indonesia. Variabel bebas yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap Weighted Average
Cost of Capital perusahaan tekstil yang go public di Bursa Efek Indonesia pun tidak ada karena terbukti bahwa tidak ada variable
bebas yang berpengaruh.
Tidak berpengaruhnya variabel Long Term Debt to Equity Ratio (LDTER) terhadap Weighted Average Cost of Capital (WACC) perusahaan tekstil yang go public di Bursa Efek Indonesia, menandakan bahwa terjadi penyimpangan yang tidak sesuai dengan
modal / long term debt to equity yang dimiliki oleh perusahaan-
perusahaan tekstil yang go public diatas, bahwa rata-rata dari
keseluruhan perusahaan pada tahun 2004 hingga 2008 yaitu -58%,
perbandingan ini menunjukan bahwa mayoritas perusahaan sampel
memiliki hutang yang tinggi tanpa dijamin bahkan oleh satu rupiah
modal sendiri. Rasio long term debt to equity yang menunjukan
angka negative ini dikarenakan modal sendiri yang dimiliki
mayoritas perusahaan sampel telah terdominasi oleh akumulasi laba
ditahan yang negative, atau dapat dikatakan bahwa perusahaan telah
mengalami defisiensi modal. Jika ditinjau dari rata-rata Biaya Modal
keseluruhan selama lima tahun pada seluruh perusahaan sampel
maka dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan biaya dari tahun 2004
sebesar 6% mencapai 13% pada tahun 2008, dalam hal ini faktor lain
yang turut mempengaruhi adalah besarnya pembiayaan yang
dilakukan oleh perusahaan dikarenakan krisis keuangan global,
sehingga banyak perusahaan tekstil yang membutuhkan dana yang
besar untuk merekstrukturisasi mesin yang usang dengan melakukan
pinjaman kepada pihak luar seperti pihak perbankan, serta adanya
bantuan dana dari pemerintah yang terkait dengan restrukturisasi
mesin, ditambah lagi Menurut Marta (2010), Suku bunga kredit di
Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga.
Bunga kredit di Indonesia 14-16 persen per tahun, sementara
Layaknya pada teori trade off bahwa nilai perusahaan akan semakin
baik apabila menggunakan hutang semakin besar, namun perlu
diingat bahwa proporsi hutang yang semakin besar, akan
menimbulkan risiko yang semakin tinggi, dan para pemodal akan
menetapkan tingkat keuntungan yang lebih besar lagi terhadap setiap
rupiah yang ditanamkan di perusahaan tersebut, sehingga long term
debt to equity yang terus meningkat cenderung akan meningkatkan
biaya modal keseluruhan.
Tidak berpengaruhnya variabel Return On Asset (ROA) terhadap Weighted Average Cost of Capital (WACC) perusahaan tekstil yang go public di Bursa Efek Indonesia, Hal ini terjadi karena berdasarkan data sampling penelitian selama lima tahun, perusahaan-
perusahaan mayoritas mengalami kerugian, sehingga return on asset
yang dihasilkanpun negatif. dimana kondisi rata-rata rasio return on
asset pada mayoritas perusahaan sample penelitian selama lima tahun
sebesar -6%, dan jika dibandingkan dengan rata-rata biaya modal
keseluruhan selama lima tahun yang ditanggung oleh seluruh
perusahaan maka return on asset jauh dibawah biaya modal yang
mencapai 6%, sebagai ilustrasi PT Panasia Indosyntec adalah satu-
satunya perusahaan dalam sample penelitian ini yang dapat mencapai
ROA rata-rata positif, sebesar 2%. Return on asset sebesar 2% dapat
dikatakan bahwa perusahaan tersebut hanya mampu mencapai
menandakan bahwa kondisi investasi yang tidak sehat. Faktor lain
yang turut mempengaruhi adalah Keputusan operasi dan keuangan
yang dibuat manajemen, karena setiap keputusan yang dibuat oleh
perusahaan akan menghasilkan risiko operasi. Risiko operasi (usaha)
adalah variable dalam pengembalian atas investasi (ROA) yang
dipengaruhi oleh keputusan investasi perusahaan. Menurut Menteri
Perindustrian M.S. Hidayat (2010) mengatakan melambatnya
industri tekstil disebabkan munculnya banyak Negara pesaing yang
menggunakan teknologi baru (www.Tempointeraktif.com). Pada
produk pakaian dan tekstil, di Indonesia mengalami defisit perdagangan yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan kata lain, lebih banyak produk luar negeri yang masuk dan dijual di pasar domestik ketimbang produk lokal yang dijual di luar negeri. Jika ditinjau dari teori pecking order, maka perusahaan yang mengalami risiko bisnis yang tinggi akan memiliki return on asset yang rendah, akumulasi kerugian yang terus bertambah dan pada akhirnya perusahaan harus menggunakan hutang jangka panjang jika menemukan kesempatan investasi yang menjanjikan, namun disisi lain penggunaan modal tersebut akan berimbas pada biaya modal
yang tinggi, sehingga pada akhirnya jika tingkat return on asset yang
diperoleh pada tahun berjalan ternyata dibawah tingkat biaya modal
keseluruhan, maka akan menunjukan bahwa investasi yang dilakukan
menjamin biaya modalnya.Berdasarkan data Bank Indonesia, bahwa
porsi kredit industri manufaktur terhadap total kredit perbankan pada
awal 2002 masih 37,6 persen, namun porsinya menurun, hingga pada
akhir 2009 hanya 17,2 persen. Akibat kondisi ini pulalah muncul
istilah sunset industry untuk mempersepsikan industri-industri yang
secara umum kehilangan daya saing sehingga dianggap berisiko
tinggi untuk dibiayai (Sigit Pramono, 2010).
Tidak berpengaruhnya variabel Earning Per Share (EPS) terhadap Weighted Average Cost of Capital (WACC) perusahaan tekstil yang go public di Bursa Efek Indonesia, Hal ini terjadi karena hampir seluruh laba / rugi bersih perusahaan sample menunjukan
nilai negative (rugi) maka begitu juga dengan rata-rata earning per
share yang ditampilkan perusahaan sampel, selama lima tahun
seluruh perusahaan menunjukan angka rata-rata laba per saham yang
negative, sebesar Rp -0,0001707, dalam hal ini berarti tidak ada
biaya modal saham biasa yang dapat dibayarkan, karena perusahaan
sample mengalami kerugian bersih selama lima tahun berturut-turut.
Factor lain yang menentukan yaitu Kemampuan pemasaran sekuritas
perusahaan. Investor yang membeli sekuritas dengan risiko yang
besar, akan mensyaratkan pengembalian yang tinggi pula, dan ketika
investor meningkatkan tingkat pengembalian yang disyaratkan maka
cost of capital juga akan meningkat secara simultan. Jika ditinjau
tersebut tidak akan dapat mensejahterakan para pemegang saham.
Signaling theory mendasarkan pada asumsi bahwa manajer
mempunyai informasi yang lebih baik mengenai kesempatan
investasi perusahaannya dari pada investor, dan tindakan manajer
didasarkan pada kepentingan yang terbaik untuk para pemegang
saham (Djakman & Halomoan, 2001). Model ini berpandangan
bahwa tindakan perusahaan memberikan signal dengan pembayaran
dividen sesungguhnya merupakan tindakan penghamburan, namun
perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi diharap akan dapat
melakukan hal ini, sebaliknya perusahaan yang buruk prospeknya
tidak akan dapat melakukan hal tersebut (Arifin, 2005, 122).
Sedangkan kondisi perusahaan sampel mayoritas mengalami
akumulasi kerugian, tingkat hutang yang terlampau tinggi
menimbulkan biaya bunga yang tinggi sehingga membuat laba yang
dihasilkan perusahaan negative / rugi, dan perusahaan-perusahaan
tekstil yang mengalami kerugian secara otomatis tidak dapat
membagikan dividen saham biasa.
Tidak berpengaruhnya long term debt to equity ratio (X1),
return on asset (X2), earning per share (X3) terhadap biaya modal
keseluruhan / WACC (Y) disebabkan adanya variabel lain diluar
model penelitian yang berpengaruh pada Cost of Cpital baik itu
dalam faktor internal maupun faktor eksternal, hal ini bisa dilihat
digunakan dalam penelitian ini hanya mempunyai pengaruh 21%
terhadap biaya modal keseluruhan / WACC dan sisanya 79%
dijelaskan variabel lain selain yang digunakan dalam penelitian ini.
Variabel selain yang digunakan dalam penelitian ini seperti variabel
dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti rasio
keuangan lainnya, sedangkan faktor eksternal seperti Kondisi
perekonomian secara umum.
Salah satu fakor ekstenal yaitu terkait dengan Kondisi
perekonomian secara umum dikarenakan permintaan dan penawaran
modal dalam perekonomian, begitu juga dengan tingkat inflasi yang
diperkirakan. Tingginya tingkat biaya modal, seperti bunga kredit
perbankan dan bunga penerbitan obligasi, menyebabkan turunnya
daya saing harga produk lokal. Suku bunga kredit di Indonesia jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Bunga kredit di
Indonesia 14-16 persen per tahun, sementara Malaysia 4,8 persen,
China sekitar 6 persen, dan Singapura 5 persen. Yang lebih
memberatkan, ternyata, suku bunga kredit riil (suku bunga kredit
setelah memperhitungkan inflasi) di Indonesia juga amat tinggi.
Suku bunga kredit riil dipakai dunia usaha untuk membandingkan
biaya pinjaman bank dengan prospek keuntungan usaha ke depan.
Akibat tingginya bunga kredit riil, bila ingin meminjam, pengusaha
harus menargetkan pendapatan yang besar berupa harga jual relatif
tahun 2010 sebesar 5 persen, maka suku bunga kredit riil di
Indonesia mencapai 9 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan
Thailand yang sebesar 6,8 persen dan Malaysia sebesar 2,4 persen.
Suku bunga kredit riil Indonesia saat ini tercatat yang tertinggi sejak
tahun 2001. Biaya itu masih ditambah dengan biaya operasional dan
premi risiko yang akhirnya membuat daya saing produk Indonesia
semakin lemah (Marta, 2010).
Berdasarkan pendapat diatas sudah jelas bahwa dengan
semakin melemahnya kondisi perekonomian secara umum, dapat
menyebabkan meningkatnya biaya modal yang dipengaruhi oleh
tingginya suku bunga riil yang mengakibatkan lemahnya daya saing
perusahaan-perusahaan tekstil yang go public di bursa efek
Indonesia, Hal inilah salah satu yang bisa dijadikan indikator yang
mempengaruhi biaya modal perusahaan-perusahaan sampel.
4.6.2. Perbedaan Hasil Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun persamaan penelitian sekarang dengan penelitian
terdahulu adalah sama-sama membahas mengenai faktor – faktor
yang berpengaruh terhadap Cost of Capital, sedangkan perbedaannya
yaitu terletak pada objek, jumlah sampel dan periode penelitian,
sehingga penelitian ini bukan merupakan replikasi.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa model
debt to equity ratio (X1), return on asset (X2), earning per share (X3)
terhadap cost of capital keseluruhan / WACC (Y) perusahaan tekstil
go public di Bursa Efek Indonesia, hal ini mendukung penelitian
yang dilakukan oleh Sartono (2000) dan Djatu Rumawanti (2003).
4.6.3. Keterbatasan Penelitian
Beberapa keterbatasan yang ada dalam penelitian ini:
1. Penelitian ini hanya dibatasi pada perusahaan tekstil yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi bagi perusahaan lainnya.
2. Periode penelitian ini hanya 5 tahun sehingga kurang
memberikan informasi atau gambaran tentang pengaruh long term debt to equity ratio, return on asset, dan earning per share terhadap cost of capital.
3. Keterbatasan dalam mengambil variabel yang digunakan dalam
penelitian, yaitu hanya terbatas pada variabel long term debt to equity ratio, return on asset, dan earning per share tidak melibatkan faktor teknis seperti perkembangan kurs, dan faktor
sosial, ekonomi dan politik seperti kondisi perekonomian secara
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa uji
hipotesis tidak teruji kebenarannya. Dimana variabel Long Term Debt to Equity Ratio, Return on Asset dan Earning Per Share tidak mempunyai pengaruh yang signifikan, baik secara simultan (uji F) maupun secara parsial
(uji t) terhadap Cost of Capital (WACC) pada perusahaan tekstil go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
5.2. Saran
1. Berbagai keterbatasan yang dimiliki penelitian ini mudah-mudahan
dapat diperbaiki lagi pada penelitian-penelitian berikutnya. Untuk
peneliti selanjutnya diharapkan melanjutkan penelitian dengan
menambahkan rasio yang lain, factor primer yang berpengaruh terhadap
biaya modal, atau factor Economi Value Added yang diharapkan
perusahaan, sehingga dapat diketahui factor-faktor apa saja yang
2. Bagi Peneliti yang berminat melakukan penelitian hal yang sama,
sebaiknya memperluas jangkauan penelitian, memperpanjang periode
pengamatan sehingga data pengamatan menjadi lebih banyak,
mengambil variabel independen yang berpengaruh pada variabel
dependen.
3. Bagi perusahaan, dengan adanya pemfasilitasan dana dan dukungan dari
pemerintah hendaknya perusahaan memanfaatkan dana dalam
melakukan investasi dengan rate of return yang menjanjikan, namun
tetap memperhitungkan Cost of Capital (WACC) dengan lebih hati-hati,
sehubungan dengan tingginya risiko usaha yang sedang di hadapi oleh
sektor industri tekstil, sehingga dengan biaya modal yang efisien,
investasi dalam asset nantinya dapat tercapai dengan efektif dan efisien,
serta output yang dihasilkan baik secara kualitas maupun secara
Anonim, 2003, Buku Panduan Penyyusunan Skripsi, Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan Nasional “Vetaran”, Jawa Timur, Surabaya.
Baridwan, Zaki, 1994, Intermediate Accounting, Edisi Tujuh, Penerbit BPFE, Yogyakarta.
Brigham, Eugene F. dan Houston, Joel F, 2006, Dasar-Dasar Manajemen
Keuangan, Edisi Sepuluh, Penerbit Salemba Empat.
Dwi, Astuti, 2004, Manajemen Keuangan Perusahaan, Penerbit Ghalia Indonesia.
Fabozzi, Frank J, 1999, Manajemen Investasi, Edisi, Penerbit Salemba Empat Husnan, Suad, 1990, Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan (Keputusan
Jangka Panjang), Edisi Pertama, Penerbit BPFE, Yogyakarta.
Keown, dkk, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Edisi Tujuh, Penerbit Salemba Empat
Levy, Haim. dan Sarnat, Marshal, 1994, Capital Investment and Financial
Decisions, Penerbit Prentice Hall, Edisi empat.
Muljadi, A Bambang. dan Widodo, Heri, 2002, Manajemen Keuangan 1, Edisi Kesatu, Muhammadiyah University Press, Sidoarjo.
Munawir, 2002, Analisa Laporan Keuangan, Edisi Empat, Penerbit Liberty. Nazir, Mohammed, 2005, Metode Penelitian,Cetakan Enam, Penerbit Ghalia
Indonesia, Jakarta.
Riyanto, Bambang, 1995, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Empat, Penerbit BPFE, Yogyakarta.
Sartono, Agus, 2001, Manajemen Keuangan Teroi dan Aplikasi, Edisi Empat, BPFE, Yogyakarta.
Sunariyah, 2003, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Tiga, Penerbit UPP AMP YKPN.
Sumarsono, 2004, Metode Penelitian Akuntansi (Beserta Contoh Interprestasi
Hasil Pengolahan Data), Edisi Revisi.
Sundjaja, 2005, Manajemen Keuangan, Edisi Empat, Penerbit Jakarta.
Weston, J Fred. dan Copeland, Thomas E 1992, Manajemen Keuangan, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Wild, dkk, 2005, Analisa Laporan Keuangan, Edisi Delapan, Penerbit Salemba Empat.
JURNAL :
Djakman, Chaerul D. dan Halomoan, Gina, 2001, “Pengujian Pecking Order
Hypotesis pada Emiten di Bursa Efek Jakarta 1994 dan 1995”, Jurnal
Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 04, No. 03, September, Hal : 303-313 Iramani, Rr. dan Febrian, Erie, 2005, “Financial Value Added : Suatu
Paradigma Dalam Pengukuran Kinerja dan Nilai Tmabah Perusahaan”,
Jurnal Akuntansi & Keuangan, Vol. 07, No. 01, Mei, Hal 01-10.
Jensen, Michele C. dan Smith, W Clifford, 1984, “The Theory of Corporate
Finance: A Historical Overview”, The Modern Theory of Corporate
Finance, New York, Hal 2-20
Kesuma, Ali, 2009, “Analisis Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Serta
Pengaruhnya Terhadap Harga Saham Perusahaan Real Estate yang Go Public di Bursa Efek Indonesia” Jurnal Manajemen dan
Kewirausahaan, Vol.11, No. 1, Maret, Hal : 38-45
Laurent, Sandra, 2000, “Capital Structure Decision : The Use of Preference
Share and Convertible Debt in The UK” Working Paper, Bristol
Bussiness School, University of the West of England, Hal : 1-39
Martono, 2002, “Analisis Pengaruh Profitabilitas Industri, Rasio Leverage
Keuangan Tertimbang Dan Intensitas Modal Tertimbang Serta Pangsa Pasar Terhadap “ROA” Dan “ROE” Perusahaan Manufaktur Yang Go– Public Di Indonesia”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 04, No.
Prabansari, Yuke. dan Kesuma, Hadri, 2005, “Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Struktur Modal Perusahaan Go Publik Di Bursa Efek Jakarta” SINERGI, ISSN : 1410-9018, Hal : 01 – 15
.Sartono, Agus, 2001, “Long Tem Financing Decisions : Views and Practices of
Financial Managers of Listed Public Firms in Indonesia”, Gajah Mada
International Journal of Bussiness, Vol. 03, No. 01, January, Hal 35 - 44.
Soetjipto, Bagus Eko, 2003, “Biaya Modal : Perspektif Bagi Manajer”, Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol. 07, No. 01, April, Hal 50 - 64.
ALAMAT WEB :
Bisnis, 2010, Pertumbuhan Industri Tekstil Cenderung Melambat, http://www.tempointeraktif.com
Bisnis, 2010, Resiko Industri Tekstil Masih Tinggi, http://www.tempointeraktif.com
Ekonomi, 2010, ACFTA Terbukti Berdampak Negatif, http://kompas.com IDX, 2010, Laporan Keuangan, http://idx.co.id
M Marta, Fajar, 2010, Biaya Modal Jadi Titik Lemah, http://kompas.com