• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

E. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tingkat keterbacaan yang berbeda-beda jika dilihat dari alat uji yang digunakan. Pada subbab pembahasan ini, peneliti akan memaparkan data-data yang telah didapat. Kesimpulan berdasarkan hasil analisis data akan dikelompokan dalam tabel. Berikut tabel analisisnya.

Tabel 9

Analisis Wacana Yang Sesuai Untuk Kelas VIII dalam Buku Teks Kreatif Bahasa Indonesia Berdasarkan Formula Flesch dan Autentisitasnya

Tabel di atas merupakan hasil analisis wacana berdasarkan formula Flesch dan autentisitasnya. Berdasarkan tabel di atas, tidak ada wacana dalam buku teks Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius yang sesuai dengan keterbacaan pelajar kelas VIII berdasarkan formula Flesch. Setelah menganalisis buku teks Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius menggunakan formula Flesch, peneliti menyimpulkan bahwa kesesuaian wacana untuk pembaca tertentu dipengaruhi oleh formula yang digunakan untuk menganalisis tingkat keterbacaannya.

Flesch pada umumnya digunakan untuk menentukan keterbacaan teks berbahasa Inggris. Karakteristik antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tentu berbeda, salah satu perbedaannya terlihat dari panjang kata dan struktur kalimat yang digunakan. Bahasa Indonesia memanfaatkan pemilihan kata dengan banyak suku kata, imbuhan pada kata dan kalimat yang kompleks. Tentu hal ini berpengaruh pada hasil analisis tingkat keterbacaan menggunakan formula Flesch

Wacana yang sesuai berdasarkan formula Flesch

Wacana yang sesuai berdasarkan autentisitasnya

- Wacana 7

Wacana 12 Wacana 15 Wacana 18 Wacana 19 Wacana 21 Wacana 22

yang mengukur tingkat keterbacaan berdasarkan jumlah suku kata, kata dan kalimat. Hal ini diperkuat pula oleh pandangan Suherli (2006) yang mengatakan bahwa teks berbahasa Indonesia dapat memiliki keterbacaan yang tinggi jika memanfaatkan pemilihan kata yang sederhana serta dapat dihubungkan dengan konteks kehidupan siswa. Selain pandangan Suherli, hasil studi oleh Tim Pusat Perbukuan (2003) mengatakan bahwa penggunaan kalimat-kalimat sederhana berpengaruh pada keefektifan teks berbahasa Indonesia (dalam Yasa, 2013).

Hasil analisis keterbacaan pada buku teks Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius berdasarkan formula Flesch sejalan dengan penelitian relevan yang dilakukan oleh Ketut Ngurah Yasa yang berjudul Kecermatan Formula Keterbacaan Sebagai Penentu Keefektifan Teks. Dalam penelitian relevan tersebut, dikatakan bahwa tes uji keterbacaan menggunakan formula berbasis bahasa Inggris kurang cermat dalam menguji keefektifan teks berbahasa Indonesia. Penelitian relevan menggunakan formula Flesch, SMOG, Fog Index dan Grafik Fry dalam menguji teks dan mendapatkan hasil analisis keterbacaan teks rendah. Sebaliknya, hasil perhitungan menggunakan formula BI menunjukan bahwa teks bahasa Indonesia yang dianalisis memiliki tingkat keterbacaan tinggi.

Berdasarkan hasil analisis autentisitas yang dilakukan pada 24 wacana dalam buku teks Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius, diperolah 7 wacana yang memiliki tingkat autentisitas tinggi. Wacana pada tingkat autentik, yaitu wacana 7 yang berjudul “Pelangi”, wacana 12 yang berjudul “Teks Ulasan 3: Lagu Bunda”, wacana 15 yang berjudul “Teks Ulasan 3:

Grup Musik Kotak”, wacana 18 yang berjudul “Penyebab Gangguan Pencernaan”, wacana 19 yang berjudul “Ayo Hidup Sehat”, wacana 21 yang berjudul “Naskah Drama: Sahabat Untuk Salita”, dan wacana 22 yang berjudul “Naskah Drama:

Malin Kundang”. Wacana-wacana tersebut merupakan bahan yang autentik.

Wacana autentik adalah wacana yang yang asli, apa adanya dan tidak mendapat campur tangan dari guru. Berdasarkan teori dari Widharyanto (2016), wacana yang autentik memiliki tingkat kesukaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan wacana yang telah mengalami modifikasi. Hal ini dikarenakan wacana autentik memuat komunikasi-komunikasi yang digunakan di dunia nyata tanpa dimodifikasi untuk kepentingan pembelajaran. Berardo (2006) menyatakan bahwa teks bahasa yang dimanfaatkan dalam pembelajaran sebaiknya merupakan teks yang ada dan digunakan oleh masyarakat secara umum, bukan diciptakan untuk keperluan pembelajaran. Wacana yang auntentik memberikan gambaran terkait kebahasaan yang digunakan sehari-hari secara umum. Hal ini membuat wacana autentik cenderung lebih sulit dipahami karena memanfaatkan kebahasaan yang lebih kompleks, bukan kebahasaan yang sengaja diciptakan dan disederhanakan untuk kepentingan pembelajaran di kelas.

Bila dihubungkan dengan teori belajar bahasa, menurut teori dari Piaget (1959) dalam Pranowo (2014), dikatakan bahwa pada usia 11 ke atas, anak mulai memahami segala kemungkinan dari dunia yang sebenarnya. Pembelajar SMP kelas VIII berada di rentang usia 12-14 tahun dan berdasarkan pada teori dari Piaget di atas, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang autentik sesuai digunakan untuk pembelajar SMP kelas VIII.

Pada tingkat modifikasi, terdapat 14 wacana yang mengalami penyederhanaan (simplifikasi) atau pengubahan dalam struktur kalimat maupun pemilihan kata. Wacana-wacana tersebut tidak sesuai untuk pembelajar kelas VIII.

Sejalan pada teori belajar bahasa yang telah dipaparkan di atas, bahwa materi ajar otentik lebih sesuai diberikan pada pembelajar kelas VIII dibandingkan materi yang telah mengalami modifikasi atau simplifikasi. Modifikasi dilakukan untuk kepentingan pembelajaran dengan harapan pembelajar lebih mudah memahami kebahasaan dalam wacana. Pembelajar SMP kelas VIII berada pada usia 11 tahun ke atas, sudah dapat dihadapkan dengan materi autentik yang dapat memberikan pesan nyata dalam kehidupan. Sejalan pula dengan Berardo (2006) yang menyatakan bahwa teks yang dimanfaatkan dalam pembelajaran sebaiknya ada dan digunakan sehari, dan bukan diciptakan untuk kepentingan pendidikan. Hal inilah yang menjadikan wacana tipe 2 (modifikasi) tidak sesuai untuk pembelajaran. Wacana yang telah mengalami modifikasi ini memiliki tingkat kesulitan yang lebih rendah dibandingkan wacana autentik. Meskipun guru telah mengupayakan autentisitas secara maksimal, bahan-bahan ajar yang digunakan tidak mungkin mencapai autentisitas absolut karena pembelajaran memerlukan pemanfaatan bentuk rekayasa (Widharyanto, 2016). Tentu beberapa materi ajar perlu pemanfaatan bentuk rekayasa, karena disesuaikan dengan karakteristik pembelajar, keberagaman kemampuan pembelajar dalam menyerap informasi, kemampuan pembelajar dalam kebahasaan dan lain sebagainya. Meskipun begitu, auntetisitas tetap harus diperhatikan dalam pembelajaran. Auntetisitas mendukung

pendekatan pembelajaran yang tercermin dari penggunaan bahasa yang digunakan pada komunikasi sesungguhnya.

64 BAB 5 PENUTUP

Peneliti membagi bab 5 menjadi dua subbab yaitu kesimpulan dan saran.

Subbab kesimpulan merupakan jawaban dari rumusan masalah dan rangkuman yang menegaskan hasil analisis. Pada subbab saran, peneliti menyampaikan saran yang diharapkan dapat berguna bagi penelitian selanjutnya yang relevan.

A. Kesimpulan

Tingkat keterbacaan wacana dalam buku teks Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius berdasarkan perhitungan Flesch, tidak sesuai dengan keterbacaan siswa kelas VIII. Berdasarkan pada perhitungan Flesch, wacana-wacana yang terdapat pada buku teks Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius termasuk dalam kategori wacana dengan keterbacaan sangat sulit dan sesuai untuk keterbacaan tingkat atas / tingkat lanjut.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan menghitung keterbacaan pada 24 wacana, tidak ada wacana dalam buku teks Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius yang sesuai dengan keterbacaan pelajar kelas VIII berdasarkan formula Flesch. Setelah menganalisis buku teks Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius menggunakan formula Flesch, peneliti menyimpulkan bahwa kesesuaian wacana untuk pembaca tertentu dipengaruhi oleh formula yang digunakan untuk menganalisis tingkat keterbacaannya.

Berdasarkan hasil analisis tingkat autentisitas pada 24 wacana dalam buku Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius, diperoleh 7 wacana yang autentik atau asli. Wacana pada tingkat autentik, yaitu wacana 7 yang berjudul “Pelangi”, wacana 12 yang berjudul “Teks Ulasan 3: Lagu Bunda”, wacana 15 yang berjudul “Teks Ulasan 3: Grup Musik Kotak”, wacana 18 yang berjudul “Penyebab Gangguan Pencernaan”, wacana 19 yang berjudul “Ayo Hidup Sehat”, wacana 21 yang berjudul “Naskah Drama: Sahabat Untuk Salita”, dan wacana 22 yang berjudul “Naskah Drama: Malin Kundang”. Wacana-wacana tersebut dikatakan autentik (asli) karena diambil dari bahan-bahan yang ada dalam komunikasi sehari-hari dan tidak mengalami perubahan (modifikasi). Berdasarkan teori dari Widharyanto (2016), wacana yang autentik memiliki tingkat kesukaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan wacana yang telah mengalami modifikasi.

Hal ini dikarenakan wacana autentik memuat komunikasi-komunikasi yang digunakan di dunia nyata tanpa dimodifikasi untuk kepentingan pembelajaran.

Selain 7 wacana autentik, terdapat 14 wacana yang tidak autentik karena telah mengalami modifikasi atau perubahan. Wacana-wacana tersebut diambil oleh guru bahasa Indonesia dari teks nyata yang terdapat dalam komunikasi sehari-hari dan telah mengalami modifikasi seperlunya berupa pengubahan, pengeditan dan penyederhanaan kalimat maupun kata yang terdapat dalam wacana. Modifikasi dilakukan untuk kepentingan pembelajaran dengan harapan pembelajar lebih mudah memahami kebahasaan dalam wacana. Wacana yang telah mengalami modifikasi ini memiliki tingkat kesulitan yang lebih rendah dibandingkan wacana autentik. Terdapat pula 3 wacana yang tidak diketahui tingkat autentisitasnya

karena halaman web yang disertakan sebagai sumber wacana tidak dapat ditemukan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian tingkat keterbacaan ini, peneliti memberikan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pengajar dan peneliti lain.

Pertama, bagi pengajar, diharapkan lebih memperhatikan buku teks yang menjadi pegangan dalam proses pembelajaran di kelas. Selain memperhatikan isi dan konsep yang termuat dalam buku teks, pengajar juga perlu memperhatikan kedekatan buku teks dengan konteks sosial kehidupan siswa. Buku teks yang baik dapat memberikan gambaran terkait komunikasi dan sosial di kehidupan nyata.

Kedua, bagi peneliti lain, diharapkan dapat lebih memperhatikan pemilihan alat uji keterbacaan yang digunakan dalam mengukur keterbacaan teks.

Peneliti berharap adanya penelitian selanjutnya yang menganalisis keterbacaan buku Kreatif Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Kanisius dengan alat uji yang berbeda. Sebuah karya tulis akademik bersifat mengembangkan lebih lanjut temuan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Semoga hasil penelitian ini dapat membantu penelitian lain yang relevan.

67

DAFTAR PUSTAKA

Alwi et al. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Metode Penelitian, “Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis”. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Baryadi, Praptomo. 2015. “Analisis Wacana” dalam Lokakarya Metode Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia Berkonteks Kekinian. Magelang:

Universitas Tidar.

Chiappetta, E.L. dan D.A. Filman. 2007. Analysis of five high school biology textbooks used in the united states for inclusion of the nature of science.

International Journal of Science Education. 29(15):1847-1868.

Dewi, Rishe Purnama dkk. 2019. Analysis of Readability Discourse Level and Authenticity of “Sahabatku Indonesia” for BIPA Level C1 Textbook by Indonesia’s Language Agency Based on the Fry Chart. Surakarta.

Borg, W.R and Gall, M.D. 2003. Educational Research: An Introduction 4th Edition. London: Longman Inc.

Harjasujana, A. S., & Mulyati, Y. 1996. Membaca 2. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Klare, G.R. 1984. Readability: Handbook of Reading Research. New York:

Longman Inc.

Kridalaksana, Harimurti. 1978. "Keutuhan Wacana" dalam Bahasa dan Sastra.

Tahun IV, No.1. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Moleong, Lexy J.. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Oka, I.G.N. dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Dikjen DIKTI.

Pranowo. Teori Belajar Bahasa. 2014. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pranowo, D. D. (2015). Masalah Pengukuran Keterbacaan Teks. Diksi.

https://doi.org/10.21831/diksi.v15i5.6982

Renkema, Jan. 1993. Discourse Studies An Introductory Textbook. Amsterdam:

John Benjamins Publishing.

Rogers, C. V., & Medley, F. W. (1988). Language with a purpose: Using authentic materials in the foreign language classroom. Foreign Language Annals, 21(5), 467-478

Safi'i, Imam, Wini Tarmini & Sobiri. 2021. The Readibility of Articles in Electronic Book for School Indonesian Language Textbook. Jurnal Pendidikan Edutama.

https://ejurnal.ikippgribojonegoro.ac.id/index.php/JPE/article/view/1064 ; Sari, Rita Karmila. 2018. Analisis Keterbacaan Teks Bahasa Inggris dalam Buku

Ajar Wajib di Sekolah Menengah Pertama dengan Menggunakan Formula Flesch. Prosiding Seminar Nasional "Peran Teknologi Informasi Dalam Mendukung Stabilitas Nasional". 415 - 420

Silalahi, I., & Lubis, F. (2018). Analisis Tingkat Keterbacaan Wacana Buku Teks Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 Revisi 2017 Dengan

Menggunakan Teknik Fog Indeks Siswa Kelas VIII SMP Negeri 18 Medan Tahun Pembelajaran 2017/2018. Basastra.

https://doi.org/10.24114/bss.v7i3.10716

Siroj, M. (2015). Pengembangan Model Integratif Bahan Ajar Bahasa Indonesia Ranah Sosial Budaya Berbasis ICT Bagi Penutur Asing Tingkat Menengah.

Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia.

https://doi.org/10.15294/jpbsi.v4i2.11305

Suherli, K., Yusuf, S., & Sundayana, W. 2006. Keterbacaan Buku Teks Pelajaran Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Perbukuan.

Suryaman, M. (2015). Dimensi-Dimensi Kontekstual di Dalam Penulisan Buku Teks Pelajaran Bahasa Indonesia. https://doi.org/10.21831/diksi.v13i2.6456

Sudjana, Nana dan Ibramin. 2007. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung:

Sinar Baru Algensindo.

Tarigan, Henry G. 1986. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry G. 1989. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Widharyanto, B. 2016. “Autentisitas di dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia”

dalam Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia

“Mengenang Kiprah J.S. Badudu dalam Pengembangan Bahasa Indonesia”.

Bandung: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran.

Yasa, Ketut Ngurah. 2013. Kecermatan Formula Keterbacaan sebagai Penentu Keefektifan Teks. Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran 46 (3).

https://doi.org/10.23887/jppundiksha.v46i3.4226.

Yulianto. 2019. An Analysis on Readability Level of English Reading Text for Eighth Grade Students. Universitas Islam Riau.

https://journal.uir.ac.id/index.php/jshmic/article/download/2675/1549

LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Triangulator

71

Lampiran 2 Wacana Buku Teks Kreatif Bahasa Indonesia Kelas VIII Terbitan Kanisius

Wacana 1

Wacana 2

Wacana 3

Wacana 4

Wacana 5

Wacana 6

Wacana 7

Wacana 8

Wacana 9

Wacana 10

Wacana 11

Wacana 12

Wacana 13

Wacana 14

Wacana 15

Wacana 16

Wacana 17

Wacana 18

Wacana 19

Wacana 20

Wacana 21

Wacana 22

Wacana 23

Wacana 24

110 Lampiran 3 Triangulasi Data

Dokumen terkait