• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Hasil penelitian secara umum menggambarkan bahwa aktualisasi diri siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 memiliki aktualisasi diri tinggi. Data yang diperoleh menunjukkan 17 siswa memiliki aktualisasi diri sangat tinggi (12%), 81 siswa memiliki aktualisasi diri tinggi (55%), 43 siswa memiliki aktualisasi diri cukup (29%), dan 6 siswa memiliki aktualisasi diri rendah (4%). Pada penelitian ini tidak terdapat siswa yang memiliki aktualisasi diri sangat rendah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktualisasi diri siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 belum tinggi dikarenakan masih adanya siswa yang memiliki aktualisasi dalam kategori rendah.

Bila perkembangan diri siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 tidak dibimbing dengan baik untuk mencapai aktualisasi diri maka akan berdampak pada perkembangan kepribadian diri siswa tersebut. Remaja bebas untuk mengembangkan potensinya, itu akan mengarahkan mereka pada aktualisasi diri, namun jika tidak ada yang membantu dapat berpengaruh pada perkembangan karakteristinya. Misalnya mereka menjadi sulit untuk menyesuaikan diri sendiri maupun orang lain, menjadi kurang percaya diri sendiri bahkan dengan orang lain, atau dapat juga memiliki konsep yang tidak baik terhadap dirinya.

Meskipun siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo belum mampu mengaktualisasikan diri secara optimal, namun mereka dapat mengarahkan diri pada aktualisasi yang berlangsung terus menerus melalui proses mereka menjalani

hidup. Masa transisi yang dialami oleh para siswa-siswa kelas XI SMK Mikael solo yang merupakan usia remaja dapat menjadi suatu latar belakang dalam pencapaian aktualisasi diri. Walaupun demikian para siswa kelas XI SMK Mikael memiliki dorongan untuk mengaktualisasikan diri. Setiap orang memiliki dorongan untuk mengaktualisasi diri dan hal itu ada sejak lahir seperti yang diungkapkan Rogers (dalam Schultz, 1991).

Rogers mengatakan bahwa aktualisasi diri berlangsung terus bukanlah suatu kondisi yang statis atau selesai. Maka siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 akan mampu untuk mengarahkan dirinya pada pengaktualisasi diri yang tinggi. Seperti yang dikatakan Maslow bahwa sulit menemukan orang yang mengaktualisasikan diri untuk mencapai semua aspek-aspek aktualisasi diri. Namun mampu mencapai beberapa dari keseluruhan aspek-aspek aktualisasi diri. Oleh karena itu sangatlah penting membantu para siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo untuk mengarahkan dan memperkuat aktualisasi diri melalui aspek-aspek aktualisasi diri.

Rogers mengatakan bahwa mengaktualisasikan diri merupakan proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi-potensi psikologisnya yang unik (Schultz;1991:44). Meskipun remaja belum mampu mengaktualisasikan diri dengan optimal, namun remaja mampu untuk merasa bebas mengembangkan semua potensinya untuk menuju tujuan terakhir dari kehidupannya dengan menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya.

Berikut ini akan dibahas hasil penelitian dengan menyoroti butir-butir aktualisasi diri dengan jumlah skor tertinggi dan terendah dari tiap aspek-aspek aktualisasi diri.

1. Butir aktualisasi diri dengan jumlah skor tertinggi

Dari hasil penelitian hanya terdapat satu butir yang memiliki jumlah skor total tertinggi yang dicapai siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010. Butir tersebut tergolong pada aspek perasaan bebas dengan jumlah skor 547. Dengan demikian dapat digambarkan bahwa aktualisasi diri yang dicapai siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 belum tinggi. Karena hanya terdapat satu saja aspek dengan jumlah skor tertinggi yang dicapai siswa-siswa kelas XI Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010.

Hal ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Rogers bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya (mengaktualisasikan diri) dapat mencapai lima aspek yang ia kemukankan. Berarti dapat diketahui bahwa masih sangat minimalis aktualisasi diri siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010. Kemungkinan yang terjadi karena sekolah ini selalu membantu siswa untuk menyalurkan setiap potensi yang dimiliki, maka mereka merasa bebas untuk menyalurkan potensi tanpa harus dibatasi atau dikekang. Siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo memiliki pendampingan yang mempermudah proses evaluasi dan refleksi dengan tujuan yang Cura Personalis yaitu memberikan perhatian pada siswa secara mendalam (Kira, 2007:9).

Keadaan sekolah yang homogen (hanya satu jenis) juga memungkinkan para siswa kelas XI merasa bebas karena mereka berada pada zona aman ada di

tempat yang memiliki kesamaan tugas perkembangan masa remaja laki-laki. Selain itu dapat juga karena para siswa kelas XI berada dalam tahap perkembangan remaja yang masih membutuhkan proses panjang untuk menemukan jati dirinya. Demikian juga dengan pencapaian aktualisasi diri.

Aspek tertinggi yang dicapai siswa berhubungan erat dengan perkembangan emosi dan sosial usia remaja. Keinginan untuk bersosialisasi tinggi inilah yang dapat menumbuhkan perasaan bebas para siswa adanya keinginan untuk mengeksplorasi diri. Hal ini dikarenakan aspek tersebut dapat membantu siswa untuk mengaktualisasikan diri dengan mengembangakan potensi-potensi unik yang ada dalam diri siswa tanpa mengalami tekanan dari pihak manapun.

Kebebasan yang dirasakan para siswa bukan berarti kebebasan untuk melanggar aturan sekolah dari kewajiban belajar sebab sekolah ini selalu menanamkan kedisiplinan. Namun perasaan bebas yang dialami para siswa kemungkinan adalah perasaan bebas berbicara ataupun bebas berpendapat yang mungkin dalam keluarga tidak dapat mereka lakukan. Perbedaan pendapat yang mungkin terjadi dalam keluarga para siswa membuat mereka merasa sangat tidak bebas dan mengalami kekangan. Hal tersebut cenderung tidak menyenangkan bagi para siswa yang merupakan usia remaja. Peristiwa tersebut dapat terlihat dalam buku kasus di sekolah yang menunjukkan bahwa banyak siswa yang terlibat kasus sekolah memiliki hubungan keluarga yang kurang harmonis (Buku Kasus:2008/2009). Maka memang benar bahwa mereka merasa kebebasan saat di sekolah sebab mereka bertemu dengan teman-teman yang sebaya dengannya.

Selain itu dengan memiliki perasaan bebas dapat juga membantu siswa untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain karena tidak mengalami paksaan dari orang lain. Maka memiliki perasaan yang bebas berhubungan erat juga dengan ciri-ciri siswa yang notabene adalah remaja yaitu mencari identitas.

2. Butir aktualisasi diri dengan jumlah skor terendah

Dari hasil penelitian terdapat dua butir aktualisasi diri yang memiliki jumlah skor terendah. Butir tersebut tergolong pada aspek kreativitas, spontanitas dan humor (370) serta aspek kepercayaan terhadap organisme orang sendiri (376). Hasil penelitian tersebut dapat menggambarkan bahwa siswa-siswa kelas XI SMK Mikael tahun pelajaran 2009/2010 mengalami kurangnya keterbukaan terhadap pengalaman dan rasa kurang percaya diri sebab kedua hal tersebut yang mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dan bertingkah apa adanya (Schultz, 1991). Maka kedua aspek diatas memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai aktualisasi diri.

Siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo memiliki jumlah skor terendah pada aspek kreativitas, spontanitas dan humor serta kepercayaan terhadap organisme orang sendiri kemungkinan bersumber dari tuntutan sekolah. Rendahnya aspek kreatifitas, spontanitas dan humor mungkin adanya tuntutan sekolah yang menekankan pada pengembangan skills sehingga menjadikan sekolah ini seperti sekolah kerja yang membuat siswa cenderung menghabiskan banyak waktu dengan mesin. Banyaknya waktu yang dihabiskan dengan mesin sehingga kemungkinan dapat menjadikan siswa ketika berelasi dengan sesamanya

memposisikan sesamanya seperti mesin yang selalu dihadapinya. Dengan demikian siswa sulit untuk terus mengembangkan potensinya, meskipun sekolah ini memberikan kebebasan pada siswa untuk mengembangkan bakat-bakatnya sebab kurangnya waktu untuk berkreasi.

Rendahnya aspek kepercayaan terhadap organisme orang sendiri kemungkinan dapat disebabkan siswa merasa hanya siswa yang bersekolah di sekolah kejuruan yang tidak memiliki masa depan bagus selain untuk bekerja. Adanya perasaan yang muncul karena mereka sekolah di sekolah “kelas dua” tentu berbeda jika dibandingkan dengan SMU. Pandangan mereka tentang siswa-siswa SMU yang lebih pandai, lebih kaya dan lebih banyak teman perempuan (Mahatma SJ said). Peristiwa tersebut tampak ketika pertemuan tujuh kolese yaitu: Loyola, De Brito, Kanisius Jakarta, dan Wacana Bhakti siswa SMK Mikael merasa ciut nyali sehingga cenderung pasif dalam setiap kegiatan. Mereka merasa “kalah kelas” dan “kalah saing” dengan kolese tersebut yang termasuk dalam SMU. Namun, berbeda kita para siswa bertemu dengan PIKa yang sama-sama berasal dari sekolah kejuruan mereka merasa lebih percaya diri sebab sekolah mereka lebih unggul.

Selain itu SMK Mikael termasuk sekolah untuk siswa-siswa yang berasal dari keluarga ekonomi menengah kebawah yang menuntut mereka menjadi tulang punggung keluarga maka hal ini yang menjadikan mereka memiliki kepercayaan diri yang kurang. Latar belakang keluarga yang memberikan tekanan pada mereka untuk membantu perekonomian keluarga mungkin dapat dijadikan alasan mereka merasa kurang percaya diri. Di usia yang seharusnya dapat menikmati masa muda

dengan membangun relasi dengan sebayanya bahkan lawan jenis mengalami hambatan karena harus bekerja untuk keluarga. Menurut salah satu guru teknik di SMK Mikael Solo mengatakan bahwa rasa kurang percaya terhadap diri sendiri timbul akibat kepercayaan lebih yang diberikan pada mereka karena dianggap selalu mampu mengerjakan segala hal. Pada realitanya tidak semua dapat dikerjakan maka ketakutan akan kepercayaan lebih yang diberikan tersebut menjadikan mereka kurang percaya terhadap dirinya sendiri. Rogers mengatakan bahwa seseorang yang sehat adalah orang yang berani untuk membuat keputusan sesuai dengan apa yang dirasa benar dan dapat mempertimbangkan setiap segi serta berani untuk bertanggung jawab dengan konsekuensi (Schultz; 1991)

Adanya perasaan yang berbeda pada diri siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo dengan teman-teman yang berada di sekolah menengah umum, kemungkinannya para siswa berfikir bahwa siswa-siswa yang berada pada sekolah menengah merupakan siswa-siswa yang memiliki masa depan cerah. Alasannya setelah menyelesaikan sekolah menengah umum dengan otomatis mereka akan menlanjtukan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi. Sedangkan para siswa Mikael Solo, setelah menyelesaikan sekolah menengah kejuruan cenderung langsung meneruskan untuk bekerja.

Kemungkinan lain yang dapat mempengaruhi kurangnya rasa percaya terhadap diri sendiri adalah usia mereka yang menginjak masa remaja. Masa remaja merupakan masa dimana remaja mencari identitas dirinya sehingga rendahnya rasa percaya pada diri sendiri seringkali terjadi akibat remaja selalu melihat kelemahan dirinya dan bukan melihat kelebihan yang ada pada dirinya.

Kebutuhan remaja yang besar untuk diterima oleh orang lain memungkinkan mereka mengalami krisis kepercayaan diri. Alasannya ketika orang lain tidak menerima gagasan ataupun pendapat mereka dengan respon yang baik maka kecenderungan remaja akan takut untuk mencobanya lagi. Kegagalan menjadi pengaruh besar bagi seorang remaja untuk tidak percaya diri.

Salah satu ciri seseorang mampu mengaktualisasikan diri yaitu bertingkah laku apa adanya. Hal tersebut yang mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas. Kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk berfikir secara luas dalam menyelesaikan suatu persoalan dirinya sendiri dengan mencari penyelesaian dari masalah tersebut serta menghasilkan sesuatu yang bersifat baru dan berguna bagi diri sendiri maupun orang lain, sehingga membantu orang lain untuk memahami dan menemukan gagasan atau rumusan yang baru (Munandar;2009). Kreativitas seseorang menggunakan imajinasi yang ia peroleh dari interaksi maupun ide yang muncul dari orang lain dan dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Pada hakikatnya tiap orang memiliki kreativitas, namun itu semua tergantung pada diri orang itu sendiri, orang dikatakan kreativ jika ia mau untuk menindaklanjuti ide-ide ataupun pemikiran-pemikiran ke dalam suatu tindakan. Kreativitas perlu untuk remaja sebab tuntutan masalah yang akan dihadapi mereka semakin kompleks. Bertambahnya usia mereka menuntut mereka untuk semakin mahir menyelesaikan masalah dalam hidupnya sendiri. Keterbukaan dapat menjadi faktor pendukung seseorang menjadi kreativ. Alasanya orang menerima kemungkinan-kemungkinan yang dapat ia jadikan konsep baru untuk hidupnya.

Namun begitu ada juga hambatan orang untuk menjadi tidak kreativ. Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi orang tidak kreatif yaitu internal dan eksternal (Oslon; 1990:25). Dari faktor internal dapat disebabkan karena ketakutan pada kegagalan yang akan dialami, ketidakmampuan untuk mengenali masalah, atapun kebiasaan. Sedangkan dari faktor eksternal dapat disebabkan karena waktu yang terbatas, pengaruh lingkungan, ataupun dapat juga dari kritik yang diberikan orang lain.

Rendahnya kreativitas siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 kemungkinan dapat disebabkan karena lingkungan sekolah yang homogen maka kreativitas mereka terbatas. Alasan lain mungkin karena terbatasnya jam untuk bertemu dengan teman dan lebih banyak untuk bertemu dengan mesin-mesin yang menjadi pekerjaannya dapat juga mempengaruhi kurangnya rasa kreativitas, spontanitas dan humor. Waktu berelasi di sekolah yang banyak dihabiskan untuk mengerjakan mesin produksi sehingga membuat siswa kelas XI SMK Mikael Solo ketika menjalin relasi dengan teman mengasumsikan sedang memperlakukan mesin.

Kemungkinan yang lain dapat juga karena kurangnya pengarahan dari guru pembimbing yang mampu mengarahkan kreativitas, spontanitas, humor dan kepercayaan diri siswa sehingga mereka belum mampu mengoptimalkan aspek tersebut. Kurangnya variasi topik bimbingan yang diberikan pada siswa juga dapat menjadi pengaruh rendahnya aspek-aspek diatas. Sekolah yang selalu mengembangkan sikap-sikap siswa dalam bidang kepemimpinan dan kedisiplinan ini yang menyebabkan para siswa merasa kurang mampu untuk percaya diri,

kreatif, spontan, dan memiliki rasa humor. Namun kurangnya kepercayaan terhadap oraganisme sendiri serta, kreativitas, spontanitas, dan humor bukan berarti memberikan penilaian bahwa tidak adanya aspek tersebut di SMK Mikael Solo.

Oleh karena itu aspek-aspek dengan jumlah skor total terendah dapat dijadikan bahan pembuatan topik-topik bimbingan klasikal siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010. Dengan demikian akan dapat membantu siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 mencapai aktualisasi diri yang optimal. Hal ini sejalan dengan visi sekolah yaitu 3C (Competence, Conscience, and Compassion) yang mengembangkan siswa menjadi pribadi yang lebih. Pribadi yang tidak hanya unggul dalam kemampuan akademik namun, memiliki keterampilan untuk peka terhadap dirinya sendiri dengan berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap resiko yang dialami serta memiliki kemampuan untuk peka terhadap sesama yang menderita.

45 BAB V

TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL YANG RELEVAN DENGAN DESKRIPSI AKTUALISASI DIRI SISWA-SISWA KELAS XI

SMK MIKAEL SOLO TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Bab ini memuat tentang topik-topik bimbingan klasikal yang dapat membantu siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 untuk mengembangkan aktualisasi diri melalui aspek-aspek yang dikemukakan oleh Rogers. Dengan demikian diharapkan siswa-siswa dapat mencapai aktualisasi diri secara optimal.

Penyusunan topik-topik bimbingan klasikal peneliti menggunakan butir dengan jumlah skor yang terendah. Alasan peneliti menggunakan butir dengan jumlah skor terendah yang digolongkan ke dalam aspek-aspek aktualisasi diri untuk meningkatkan dan mengembangkan aktualisasi diri siswa-siswa kelas XI SMK Mikael Solo tahun pelajaran 2009/2010 juga untuk tahun pelajaran yang selanjutnya.

Harapan peneliti aspek terendah tersebut dapat mendukung aspek-aspek lain yang mempengaruhi tercapainya aktualisasi diri. Peneliti melampirkan topik-topik bimbingan klasikal yang diharapkan dapat membantu guru pembimbing untuk mengarahkan siswa-siswa mengaktualisasikan diri. Pada tabel 9 akan disajikan topik-topik bimbingan klasikal:

Usulan Topik-Topik Bimbingan Klasikal

No Tujuan Bimbingan Topik Waktu Bidang

Bimbingan

Metode Sumber

1. a. Siswa-siswa dapat

mengenali kelamahan dan kelebihan dalam diri sendiri maupun sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri.

b. Siswa-siswa dapat

memahami dan mengenali dirinya sendiri serta membantu siswa untuk mensyukuri

kehidupannya.

“Aku dan Diriku”

45 menit Pribadi Dinamika

kelompok, pemberian informasi.

a. Sinurat, R.H.Dj. Konsep Diri dan Pengembangannya. 1991. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.

b. Siregar, Maria. Pengembangan Diri. 1993. Jakarta: Grasindo.

2. Siswa-siswa semakin percaya diri

untuk mengoptimalkan

talentanya.

“Aku

Percaya

Diri”

45 menit Pribadi Dinamika

kelompok, sharing, dan pemberian

a. Hankin, Sheenah. 2005. Strategi Untuk Meningkatkan Percaya Diri. Jakarta: Erlangga.

Dirimu. Jakarta: Cipta Loka Caraka

3. a. Siswa-siswa dapat bekerja sama dengan orang lain.

b. Siswa-siswa dapat

menerima dan memahami orang lain apa adanya.

“Kerjasama” 45 menit Pribadi-sosial Dinamika kelompok, sharing, dan pemberian informasi

West, Michael. 1998. Kerjasama Kelompok yang Efektif. Yogyakarta: Kanisius.

4. a. Siswa dapat mengenali dan memahami diri sendiri serta orang lain. b. Siswa mudah untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

“Aku dan Dirinya”

45 menit Pribadi-sosial Dinamika kelompok, sharing dan pemberian informasi.

a. Siregar, Maria. Pengembangan Diri. 1993. Jakarta: Grasindo. b. Sinurat, R.H.Dj. 1999. Reader

Mata Kuliah Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta:

Prodi Bimbingan dan

Konseling.

5. a. Siswa-siswa semakin

dapat mengungkapkan perasaannya dengan terbuka.

b. Siswa dapat semakin

“Bagaimana Perasaanku

Hari ini?”

45 menit Pribadi-sosial Dinamika kelompok, sharing, dan pemberian informasi.

Robert, Vallet. 1991. Aku Mengembangkan Diriku. Jakarta: Cipta Loka Caraka.

menghargai perasaan orang lain. 6. a. Siswa-siswa semakin meningkatkan kreatifitasnya. b. Siswa-siswa semakin mampu menggali potensi-potensi atau bakat-bakat dalam dirinya.

“Bakatku” 45 menit Pribadi-sosial Dinamika kelompok, experimental learning.

Munandar, A.S. 2001.

Mengembangkan Kreatifitas. Jakarta: Obor.

7. a. Siswa-siswa semakin

berani untuk tampil di depan umum.

b. Siswa-siswa semakin mampu untuk mengenali dirinya.

c. Siswa-siswa mampu

untuk bersikap spontan tanpa malu pada orang lain.

“Aku dan Kami Unik”

45 menit Pribadi-sosial Dinamika kelompok, experimental learning.

a. Supratiknya, A. 1995. Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius.

b. Sinurat, R.H.Dj. 1999. Reader Mata Kuliah Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta:

Prodi Bimbingan dan

Konseling.

c. Lumpkin, Aaron. 2004. Positive and Confident. Jakarta: Erlangga.

dirinya. kelompok, experimental learning.

Dikmenum. 1984. Bimbingan Karier Paket 1. Jakarta: Depdikbud, Proyek Pengadaan Sarana Pembinaan dan Penyempurnaan SMU.

b. Sinurat, R.H.Dj. Konsep Diri dan Pengembangannya. 1991. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.

9. Siswa dapat mengembangkan kreatifitas dalam dirinya

“Kreativitas” 45 menit Pribadi-sosial Experimental learning

Oslon. Seni Kreatifitas. 1991. Jakarta: Gramedia.

50 BAB VI PENUTUP

Dokumen terkait