BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBHASAN
B. Pembahasan
1. Perencanaan Pembelajaran Teks Cerita Fantasi di Kelas VII F SMP Negeri 8 Yogyakarta
Berdasarkan Permendikbud No. 22 Tahun 2016, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Guru merencanakan pembelajaran teks cerita fantasi dengan membuat RPP dan mangacu pada silabus. RPP yang digunakan guru dalam pembelajaran teks cerita fantasi masih berdasar pada model RPP sebelumnya, yakni model RPP Kurikulum 2013 yang lama. Hal tersebut karena perubahan kurikulum 2013 untuk kelas VII dan X.
Guru membuat RPP teks cerita fantasi berdasar pada model RPP 2013 yang lama karena pelaksanaan pembelajaran teks cerita fantasi bertepatan dengan pelatihan penyusunan RPP terbaru untuk kelas VII dari MGMP. Pelatihan penyusunan RPP terbaru dilaksanakan selama satu bulan. Berdasarkan informasi dari narasumber, RPP akan diperbaiki sesuai dengan hasil pelatihan dari MGMP.
RPP teks cerita fantasi dirancang untuk 12 pertemuan. Dalam praktiknya pembelajaran teks cerita fantasi di kelas VII F terlaksana lebih dari 12 pertemuan. Komponen RPP teks cerita fantasi sudah sesuai dengan Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses, yaitu meliputi identitas RPP, Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Media dan Alat Pembelajaran, Sumber Belajar, Langkah-langkah Pembelajaran dan Penilaian Hasil Pembelajaran.
Langkah-langkah pembelajaran dibagi menjadi tiga, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan berisi salam pembuka, menyanyikan mars, hymne, dan satu lagu nasional, menyampaikan tujuan pembelajaran, serta penyampaian motivasi. Kegiatan inti memuat kegiatan 5 M dalam pembelajaran teks cerita fantasi. Dalam pelaksanaannya, kegiatan 5 M tidak semua dilakukan pada setiap materi yang diberikan. Kegiatan penutup berisi refleksi dari pembelajaran yang telah dilakukan, penyampaian informasi, berdoa, dan salam penutup. Berdasarkan hasil wawancara, guru menyatakan bahwa RPP diperlukan dalam menyampaikan materi supaya pembelajaran menjadi terarah. Dalam praktiknya, guru melakukan pembelajaran berbeda dengan yang telah dicantumkan dalam RPP. Guru menyesuaikan dengan situasi dan kondisi kelas untuk tercapainya tujuan pembelajaran.
2. Pelaksanaan Pembelajaran Teks Cerita Fantasi di Kelas VII F SMP Negeri 8 Yogyakarta
a. Materi Pembelajaran Teks Cerita Fantasi
Berdasarkan kurikulum 2013 revisi 2016, teks cerita fantasi merupakan salah satu teks baru yang terdapat dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII. Pembelajaran teks cerita fantasi terdiri dari empat KD, yaitu KD 3.3 mengidentifikasi unsur-unsur teks narasi (cerita fantasi) yang dibaca dan didengar, KD 4.3 menceritakan kembali isi teks narasi (cerita fantasi) yang didengar dan dibaca, KD 3.4 menelaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita fantasi) yang didengar dan dibaca, serta KD 4.4 menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita fantasi secara lisan dan tulis dengan memerlihatkan struktur dan penggunaan bahasa. Guru memberikan materi tentang cerita fantasi pada pertemuan kesatu sampai keenam. Pada pertemuan ketujuh, guru hanya mengulas beberapa materi secara singkat kemudian dilanjutkan dengan ulangan harian.
Arifin (2012: 24) mengungkapkan bahwa materi adalah isi kurikulum yang berupa topik atau pokok bahasan dan perincian dalam setiap mata pelajaran. Materi yang diajarkan guru dari pertemuan kesatu sampai ketujuh di antaranya unsur pembangun cerita fantasi, jenis cerita fantasi, struktur cerita fantasi, menyimpulkan karakteristik bagian-bagian struktur cerita fantasi, unsur kebahasaan cerita fantasi, dan cara menyajikan cerita fantasi. Berikut merupakan deskripsi materi
pembelajaran teks cerita fantasai dari pertemuan kesatu sampai pertemuan ketujuh.
1) Materi Pembelajaran pada Pertemuan Pertama
Peneliti belum bisa melakukan penelitian pembelajaran teks cerita fantasi pada pertemuan pertama karena masih terkendala surat izin penelitian. Akan tetapi, berdasarkan informasi yang diperoleh dari informan (guru), pertemuan pertama pada pembelajaran teks cerita fantasi yaitu membangun konteks.
2) Materi Pembelajaran pada Pertemuan Kedua
Sebelum menyampaikan materi pada pertemuan kedua, guru memersilahkan para siswa untuk menampilkan dan memresentasikan tugas video cerita fantasi secara berkelompok. Guru kemudian menyampaikan materi pembelajaran tentang jenis cerita fantasi. Materi yang disampaikan mengacu pada KD 3.3, yaitu mengidentifikasi unsur-unsur teks narasi (cerita fantasi) yang dibaca dan didengar.
Setelah semua kelompok melakukan presentasi, guru menjelaskan mengenai jenis cerita fantasi. Guru menjelaskan jenis cerita fantasi secara singkat sebelum jam pelajaran usai. Hal tersebut dilakukan supaya para siswa dapat mengetahui video yang telah mereka tampilkan termasuk jenis cerita fatasi irisan atau total, sezaman atau lintas waktu.
Guru menjelaskan bahwa jenis cerita fantasi irisan atau total dilihat dari kesesuaian dalam dunia nyata. Cerita fantasi irisan yaitu cerita fantasi yang mengungkapkan fantasi tetapi masih menggunakan nama-nama dalam kehidupan nyata, menggunakan nama tempat yang ada dalam dunia nyata, atau peristiwa pernah terjadi pada dunia nyata. Sebaliknya, cerita fantasi total berisi fantasi pengarang terhadap objek/ tertentu. Pada cerita kategori ini semua yang terdapat pada cerita semua tidak terjadi dalam dunia nyata.
Sedangkan, jenis cerita fantasi sezaman atau lintas waktu dilihat berdasarkan latar cerita. Latar sezaman berarti latar yang digunakan adalah satu masa, misal masa sekarang, masa lampau, atau masa yang akan datang/ futuristik. Latar lintas waktu berarti cerita fantasi menggunakan dua latar waktu yang berbeda, misal masa sekarang dengan zaman prasejarah, masa sekarang dan masa yang akan datang/ futuristik. Oleh karena waktu pembelajaran pada pertemuan kali inni telah usai, maka guru memutuskan untuk melanjutkan materi tentang jenis cerita fantasi pada pertemuan selanjutnya.
3) Materi Pembelajaran pada Pertemuan Ketiga
Pada pertemuan ketiga, materi pembelajaran masih mengacu pada KD 3.3, yaitu mengidentifikasi unsur-unsur teks
narasi (cerita fantasi) yang dibaca dan didengar. Materi yang disampaikan oleh guru adalah jenis cerita fantasi dan unsur intrinsik yang terdapat dalam cerita fantasi. Guru melanjutkan pembelajaran tentang jenis cerita fantasi disertai dengan contoh. Setelah itu, guru melanjutkan pembelajaran mengenai unsur intrinsik. Sebelum menjelaskan tentang unsur intrinsik, guru memberikan beberapa pertanyaan seputar unsur intrinsik. Para siswa saling berebut untuk menjawab. Setelah tanya jawab, guru kemudian menjelaskan kembali tentang unsur intrinsik mulai dari tema, penokohan, perwatakan, latar, alur, amanat, dan sudut pandang.
Setelah itu, guru memberikan tugas kepada siswa secara berkelompok untuk menemukan unsur intrinsik dari naskah cerita fantasi disertai bukti. Guru meminta setiap kelompok untuk memilih dan membaca naskah “Kekuatan Ekor Biru Nagata” atau “Berlian Tiga Warna” secara teliti. Masing-masing kelompok mengerjakan di buku catatan salah satu anggota kelompoknya. Guru memberikan waktu untuk mengerjakan sampai jam pelajaran bahasa Indonesia berakhir.
4) Materi Pembelajaran pada Pertemuan Keempat
Pada pertemuan keempat, para siswa menukarkan hasil diskusi kelompok tentang unsur intrinsik untuk dikoreksi bersama.
Setelah hasil diskusi masing-masing kelompok dipaparkan, guru melanjutkan pembelajaran. Guru melanjutkan materi tentang unsur intrinsik. Guru mengulas kembali tentang unsur intrinsik dan memersilahkan para siswa untuk bertanya apabila masih terdapat hal yang belum dimengerti. Salah seorang siswa mengangkat tangan dan bertanya tentang sudut pandang. Siswa tersebut masih sedikit bingung cara membedakan sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Kemudian guru menjelaskan kembali tentang sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga serta guru memberikan contoh yang mudah dipahami siswa.
Guru kemudian melanjutkan materi pembelajaran mengenai struktur cerita fantasi. Materi tersebut mengacu pada KD 3.4, yaitu menelaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita fantasi) yang dibaca dan didengar. Guru meminta beberapa siswa untuk membaca naskah cerita fantasi “Belajar dengan Gajah Mada” secara bergantian. Kemudian guru menjelaskan tentang struktur cerita fantasi, yaitu orientasi, komplikasi, dan resolusi disertai dengan contoh.
Guru menjelaskan bahwa orientasi merupakan pengenalan tokoh, latar, dan watak tokoh. Guru memberikan contoh bagian orientasi dengan cerita timun mas. Misal, pada zaman dahulu tinggallah seorang wanita tua di desa terpencil bernama Mbok
Rondo. Guru kemudia menjelaskan bahwa komplikasi dimulai dari munculnya permasalahan atau konflik sampai terjadinya klimaks atau puncak pemasalahan dalam cerita. Guru kembali memberikan contoh dengan cerita timun mas. Setelah itu guru menjelaskan tentang resolusi yang merupakan penyelesaian masalah dalam cerita. Guru memberikan contoh dari masing-masing struktur (orientasi, komplikasi, dan resolusi) untuk membantu para siwa memahami mengenai struktur cerita. Setelah itu, siswa secara bergantian membaca materi tentang variasi pengungkapan struktur cerita fantasi. Kemudian dilanjutkan dengan alur cerita, ragam alur, dan telaah teks cerita dari segi strukturnya.
5) Materi Pembelajaran pada Pertemuan Kelima
Pada pertemuan kelima, guru mengulas pelajaran pada pertemuan sebelumnya. Tujuan pembelajaran kali ini adalah siswa dapat menyimpulkan karakteristik bagian-bagian pada struktur cerita fantasi (orientasi, komplikasi, dan resolusi). Tujuan tersebut mengacu pada KD 3.4, yaitu menelaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita fantasi) yang dibaca dan didengar.
Sebelum melanjutkan materi pada pertemuan kali ini, guru menginstruksikan para siswa untuk membagi kelompok diskusi mengenai struktur cerita fantasi. Guru meminta setiap kelompok untuk mengamati dua video yang akan ditampilkan secara teliti.
Guru kemudian menampilkan dua video cerita fantasi, yaitu Bawang Merah Bawang Putih dan Keong Mas.
Setiap anggota kelompok mengamati dua video tersebut secara seksama dan mencatat bagian-bagian yang termasuk dalam struktur cerita. Guru kemudian meminta satiap kelompok untuk memilih salah satu dari video tersebut. Setelah itu, setiap kelompok berdiskusi tentang video yang telah mereka pilih. Guru menginstruksikan kepada semua kelompok untuk menulis hasil diskusi mereka di salah satu buku catatan anggota kelompok. Guru memberikan keluasan waktu untuk berdiskusi dan menulis hasil diskusi sampai jam pelajaran bahasa Indonesia berakhir.
6) Materi Pembelajaran pada Pertemuan Keenam
Pada pertemuan keenam terdapat dua tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Pertama, siswa mampu mengomentari cerita fantasi dari segi struktur dan bahasanya. Kedua, siswa mampu merencanakan pengembangan cerita fantasi. Materi yang hendak disampaikan mengacu pada KD 3.4, yaitu menelaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita fantasi) yang didengar dan dibaca, dan KD 4.4, yaitu menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita fantasi secara lisan dan tulis dengan memerhatikan struktur dan penggunaan bahasa.
Guru menjelaskan secara ringkas tentang unsur kebahasaan yang terdapat dalam cerita fantasi. Mulai dari penggunaan kata ganti dan nama orang sebagai sudut pandang penceritaan, penggunaan kata yang mencerap panca indera untuk deskripsi latar, penggunaan diksi dengan makna kias dan makna khusus, penggunaan kata sambung urutan waktu, penggunaan kata/ ungkapan keterkejutan, dan penggunaan dialog/ kalimat langsung dalam cerita. Para siswa memerhatikan dengan seksama.
Setelah itu guru melanjutkan materi tentang menyajikan cerita fantasi. Guru menunjuk siswa secara acak untuk membaca buku pegangan siswa mengenai cara menyajikan cerita fantasi. Guru memberikan penjelasan bahwa ada dua tahapan dalam menyajikan cerita fantasi. Tahapan yang pertama yaitu merencanakan cerita, mulai dari menemukan ide, menggali ide cerita melalui membaca, membuat rangkaian peristiwa, hingga pengembangan cerita. Kemudian tahapan yang kedua yaitu menulis cerita fantasi mulai dari merencanakan, mengembangkan produk, memberi judul yang menarik, menelaah untuk merevisi, dan memublikasikan.
7) Materi Pembelajaran pada Pertemuan Ketujuh
Pada pertemuan ketujuh, guru tidak memberikan materi kepada para siswa. Guru hanya mengulas beberapa materi yang
telah disampaikan di pertemuan-pertemuan yang lalu. Guru juga memberikan saran kepada para siswa untuk memublikasikan karya tulisan cerita fantasi di mading dan majalah sekolah. Pertemuan kali ini merupakan pembelajaran terakhir tentang cerita fantasi sekaligus pertemuan terakhir pelajaran bahasa Indonesia di kelas VII F sebelum UTS dilaksanakan. Oleh karena itu, guru mengadakan ulangan harian mengenai cerita fantasi.
b. Metode Pembelajaran Teks Cerita Fantasi
Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat beberapa metode yang digunakan dalam pembelajaran teks cerita fantasi. Dalam pelaksanaannya, metode yang digunakan tidak tercantum secara rinci dalam RPP. Guru menggunakan metode ceramah, penugasan, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, tugas belajar, dan latihan.
Pemilihan metode yang tepat berpengaruh pada ketercapaian tujuan belajar. Berdasarkan hasil wawancara, metode-metode yang digunakan berjalan efektif. Uno (2007: 2) mendefinisikan metode pembelajaran sebagai cara yang digunakan guru sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
1) Metode Pembelajaran pada Pertemuan Pertama
Peneliti belum bisa melakukan penelitian pembelajaran teks cerita fantasi pada pertemuan pertama karena masih terkendala
surat izin penelitian. Akan tetapi, berdasarkan informasi yang diperoleh dari informan (guru), para siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk mencari dan memresentasikan video cerita fantasi.
2) Metode Pembelajaran Pertemuan Kedua
Pada pertemuan kedua guru menggunakan metode ceramah dan pembelajaran berbasis TIK. Metode tersebut digunakan untuk mengajarkan KD 3.3 dengan indikator 3.3.2 menentukan jenis cerita fantasi dan menunjukkan bukti pada teks yang dibaca/ didengar. Metode ceramah digunakan oleh guru untuk menjelaskan tentang jenis cerita fantasi total atau irisan, sezaman atau lintas waktu. Guru menjelaskan tentang jenis cerita fantasi secara singkat dan jelas. Hal tersebut dilakukan supaya para siswa setidaknya mengetahui video yang telah mereka tampilkan termasuk dalam jenis cerita fantasi total atau irisan, sezaman atau lintas waktu.
Adapun pembelajaran berbasis TIK digunakan untuk memresentasikan tugas yang diberikan guru pada pertemuan sebelumnya, yaitu menampilkan video cerita fantasi. Metode terebut dipilih sesuai dengan materi dan kondisi siswa di kelas. Pembelajaran berbasis TIK dipilih sesuai dengan keefektifannya. Pembelajaran tersebut juga sesuai dengan Kurikulum 2013 yang
berbasis IT. Pembelajaran berbasis TIK juga mengasah kreatifitas para siswa dengan menampilkan video dan slide unik.
Guru tidak sepenuhnya menggunakan metode pembelajaran yang tertulis dalam RPP. Guru menggunakan metode pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi kelas. Adapun metode yang digunakan oleh guru telah disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Berdasarkan hasil wawancara, metode yang digunakan oleh guru sudah efektif. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian.
3) Metode Pembelajaran pada Pertemuan Ketiga
Metode yang digunakan guru untuk mengajarkan KD 3.3 dan 4.3 yaitu metode ceramah, tanya jawab, penugasan, diskusi, dan kerja kelompok. Berdasarkan informasi yang diperoleh, guru menggunakan metode pembelajaran secara situasional. Metode ceramah digunakan oleh guru untuk menjelaskan kembali tentang jenis cerita fantasi irisan atau total, sezaman atau lintas waktu beserta contohnya. Selain itu, metode ceramah juga digunakan oleh guru untuk menjelaskan tentang unsur intrinsik. Dengan menggunakan metode ceramah, guru lebih mudah untuk menjelaskan kepada para siswa tentang unsur intrinsik mulai dari tema, penokohan, perwatakan, alur, setting, amanat, dan sudut pandang.
Metode tanya jawab digunakan oleh guru untuk memacu ingatan siswa tentang unsur intrinsik dengan memberikan beberapa pertanyaan seputar unsur intrinsik. Metode tersebut dipilih karena pada pembelajaran tentang teks deskripsi sudah dibahas mengenai unsur intrinsik. Oleh karena itu, metode tersebut sesuai untuk mengetes daya ingat para siswa tentang unsur intrinsik yang sudah dipelajari pada pembelajaran sebelumnya.
Metode penugasan, diskusi, dan kerja kelompok dilakukan dengan memberikan tugas secara berkelompok kepada siswa untuk menemukan unsur intrinsik pada naskah cerita fantasi. Setelah menjelaskan tentang unsur intrinsik, guru kemudian memberikan tugas kepada para siswa untuk menemukan unsur intrinsik yang terdapat dalam naskah cerita fantasi. Tugas tersebut didiskusikan secara berkelompok kemudian hasil diskusi akan dipaparkan pada pertemuan selanjutnya.
4) Metode Pembelajaran pada Pertemuan Keempat
Guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan tugas belajar untuk mengajarkan KD 3.4 dengan indikator ketercapaian 3.4.1 merinci struktur cerita fantasi. Metode ceramah digunakan untuk menjelaskan pertanyaan siswa terkait materi unsur intrinsik pada pertemuan sebelumnya, yaitu sudut pandang. Pada pertemuan keempat, sebelum guru melanjutkan materi
tentang struktur cerita, para siswa melakukan presentasi hasil diskusi dari pertemuan sebelumnya. Setelah memberikan apresiasi, tanggapan, dan evaluasi pada hasil diskusi kelompok, guru menggunakan metode tanya jawab dengan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengajukan pertanyaan mengenai materi unsur intrinsik. Salah seorang siswa menanyakan bagian unsur intrinsik yang belum dimengerti, yaitu sudut pandang. Oleh karena itu, guru menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan terkait sudut pandang sehingga siswa tersebut paham dengan penjelasan yang diberikan.
Selain itu, metode ceramah juga digunakan oleh guru untuk menjelaskan tentang struktur cerita. Guru menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan bagian-bagian struktur cerita. Guru menjelaskan bahwa orientasi bukan hanya pengenalan tokoh tetapi juga pengenalan latar dan watak tokoh. Guru menjelaskan bahwa komplikasi dimulai dari munculnya permasalahan atau konflik sampai terjadinya puncak permasalahan atau klimaks dalam cerita. Guru juga menjelskan bahwa resolusi bukan hanya akhir cerita yang bahagia, sedih, atau datar, akan tetapi resolusi dimulai dari redanya permasalahan.
Metode tugas belajar diberikan oleh guru kepada siswa untuk membaca buku paket halaman 68-69 di rumah. Tugas belajar tersebut terkait materi yang akan diajarkan pada pertemuan
selanjutnya, yaitu unsur kebahasaan yang terdapat dalam cerita fantasi dan cara menyajikan cerita fantasi. Metode tersebut cukup efektif karena selain metode tersebut memudahkan guru dalam menyampaikan materi, metode tersebut juga membantu para siswa menyiapkan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
5) Metode Pembelajaran pada Pertemuan Kelima
Guru menggunakan metode penugasan, ceramah, diskusi, dan kerja kelompok untuk mengajarkan KD 3.4. Adapun indikator yang hendak dicapai adalah menyimpulkan karakteristik bagian-bagian pada struktur cerita fantasi (orientasi, komplikasi, dan resolusi). Metode-metode tersebut digunakan secara situasional sesuai dengan materi dan kondisi kelas.
Sebelum mengajarkan materi tentang unsur kebahasaan dan cara menyajikan cerita fantasi, pada pertemuan kelima guru menyajikan dua video cerita fantasi. Metode penugasan dipilih untuk mengukur pemahaman para siswa tentang struktur cerita. Metode penugasan dilakukan dengan memberikan tugas kepada para siswa untuk mengamati video cerita fantasi yang ditampilkan oleh guru berdasarkan struktur ceritanya. Video yang ditampilkan adalah cerita Bawang Merah Bawang Putih dan Keong Mas.
Metode diskusi dan kerja kelompok merupakan salah satu karakteristik dari kurikulum 2013. Metode tersebut dipilih untuk melihat kinerja siswa dalam menyelesaikan tugas secara berkelompok. Metode tersebut juga digunakan untuk melihat bagaimana cara mereka berkoordinasi dalam menemukan bagian-bagian dari struktur cerita fantasi yang ditampilkan oleh guru.
Metode ceramah digunakan oleh guru untuk menjelaskan tata cara mengerjakan tugas. Sebelum para siswa melakukan pengamatan pada video dan melakukan diskusi kelompok, guru menjelaskan tata cara atau alur dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Guru menjelaskan bahwa sebelum memulai diskusi para siswa harus terbentuk dalam kelompok. Guru kemudian meminta untuk setiap kelompok fokus dan teliti dalam mengamati video yang ditayangkan karena 2 video tersebut akan ditampilkan secara berurutan. Setelah mengamati video, setiap kelompok salah satu video yang akan didiskusikan. Kemudian hasil diskusi ditulis di salah satu buku anggota kelompok dan dipresentaikan pada pertemuan selanjutnya. Metode ceramah efektif digunakan sehingga para siswa tahu langkah apa saja yang harus dilakukan sebelum diskusi.
6) Metode Pembelajaran pada Pertemuan Keenam
Metode yang digunakan oleh guru pada KD 3.4 dan KD 4.4 adalah metode ceramah. Metode yang digunakan oleh guru berdasarkan situasi dan kondisi kelas. Guru menggunakan metode ceramah untuk memberikan koreksi dan apresiasi pada kelompok-kelompok yang telah memresentasikan hasil diskusi mereka tentang struktur cerita fantasi. Hasil diskusi masing-masing kelompok dikoreksi secara silang. Guru memberikan apresiasi dan koreksi pada saat hasil diskusi kelompok yang satu dipresentasikan oleh kelompok lain.
Pada pertemuan keempat yang lalu guru telah memberikan tugas belajar kepada para siswa. Tugas belajar yang diberikan yaitu membaca dan memelajari tentang unsur kebahasaan dan cara menyajikan cerita fantasi. Di pertemuan keenam guru memilih metode ceramah untuk mengajarkan materi tentang unsur kebahasaan dan cara menyajikan cerita fantasi.
Metode tersebut digunakan untuk menjelaskan unsur kebahasaan mulai dari penggunaan kata ganti dan nama orang sebagai sudut pandang penceritaan, penggunaan kata yang mencerap panca indera untuk deskripsi latar, penggunaan diksi dengan makna kias dan makna khusus, penggunaan kata sambung urutan waktu, penggunaan kata/ ungkapan keterkejutan, dan penggunaan dialog/ kalimat langsung dalam cerita. Metode
ceramah juga digunakan guru untuk penjelasan dua tahapan dalam menyajikan cerita fantasi. Penggunaan metode ceramah cukup efektif karena siswa dengan cepat memahami penjelasan guru.
7) Metode Pembelajaran pada Pertemuan Ketujuh
Metode yang digunakan guru pada pertemuan ketujuh adalah ceramah dan latihan. Metode ceramah digunakan oleh guru untuk mengulas materi yang telah disampaikan di pertemuan-pertemuan sebelumnya. Guru mengulas materi mulai dari pembelajaran teks cerita fantasi pertemuan pertama sampai pertemuan keenam.
Selain itu, metode ceramah juga digunakan untuk menjelaskan tata cara ulangan harian yang akan dilakasanakan. Dengan metode ceramah para siswa paham dengan alur pelaksanaan ulangan harian. Guru menjelaskan bahwa para siswa sebelum melaksanakan ulangan, para siswa harus memersiapkan