• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya menunjukkan bahwa ada kontribusi positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap efikasi kolektif guru. Berikut ini dijelaskan atas jawaban dari hipotesis penelitian.

1. Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah menurut Persepsi Guru

Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 3.6 sampai tabel 3.13 dan disimpulkan menurut persepsi guru, yaitu:

a. Dimensi Visi Bersama

Dimensi yang pertama adalah membangun visi bersama. Kepemimpinan kepala sekolah dalam mengembangkan visi bersama dinilai sangat transformatif sebanyak 59,7%. Organisasi sekolah perlu memiliki visi agar tujuan sekolah terlihat lebih jelas. Dalam pencapaian visi, kepala sekolah

membutuhkan strategi untk mencapai visi yang telah ditetapkan. Pada dimensi visi bersma dapat dikatakan bahwa perilaku pemimpin mampu mengembangkan, mengartikulasikan, dan menyalurkan visi serta membuat mereka memahami dan melakukan visi tersebut.

b. Dimensi Membangun Konsensus Sekolah

Dimensi Kedua yaitu Pada dimensi membangun konsensus kepala sekolah dinilai transformatif sebanyak 61,1%. Sekolah membutuhkan kerjasama diantara para guru dalam proses pencapaian tujuan. Kerjasama tidak hanya terjadi diantara staf namun kerjasama antara pemimpin dan pengikut menjadi sangat penting mengingat bahwa pemimpin tidak dapat mencapai tujuan sendiri. Hal ini dikatakan bahwa pada dimensi membangun konsensus sekolah terlihat bahwa kepala sekolah mampu mendorong terjadinya kerjasama diantara para staf. Guru menilai kerjasama dalam sebuah organisasi dibutuhkan di sekolah untuk proses pencapaian tujuan.

c. Dimensi Ekspektasi Kinerja yang Tinggi

Dimensi yang ketiga yaitu dimensi ekspektasi kinerja yang tinggi dinilai transformatif sebanyak 62,5%. Seorang pemimpin memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap para guru agar apa yang menjadi tujuan dapat tercapai. Hal ini dapat dikatakan bahwa pada dimensi ekspektasi kinerja yang tinggi menunjukkan kepala sekolah memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap para staf supaya mampu bekerja secara inovatif serta profesional demi mendapatkan hasil yang maksimal.

d. Dimensi Menjadi Model

Dimensi yang keempat yaitu dimensi menjadi model sebanyak 58,3%. Seorang pemimpin di sekolah diharapkan mampu memberi teladan yang baik terhadap semua staff, karena perilaku pemimpin menjadi cerminan untuk bawahan. Hal ini dapat dikatakan bahwa pada dimensi menjadi model, seorang kepala sekolah mampu menunjukkan perilaku dan tindakan yang bisa menjadi teladan atau contoh yang baik untuk para staf.

e. Dimensi Dukungan Individual

Dimensi yang kelima yaitu dimensi dukungan individual dinilai transformatif sebanyak 68%. Kepala sekolah perlu memahami kemampuan dan ketertarikan guru agar apa yang dikerjakan menjadi sesuatu yang berharga untuk guru. Pada dimensi dukungan individual bahwa kepala sekolah memahami kemampuan dan ketertarikan para staff serta mencari tahu pemahaman para guru terhadap suatu masalah serta memberi penghargaan atas kerja keras mereka.

f. Dimensi Memberi Stimulasi Intelektual

Dimensi yang keenam yaitu dimensi memberi stimulasi intelektual dinilai sangat transformatif sebanyak 61,1%. Guru memiliki banyak sekali kompetensi yang dapat membantu dalam proses pencapaian tujuan. Pada dimensi memberi stimulasi intelektual dapat dikatakan bahwa kepala sekolah mengajak para staf untuk mencoba sesuatu yang baru serta mengkaji kembali asumsi-asumsi tentang pekerjaan mereka dan memikirkan kembali bagaimana mewujudkan asumsi tersebut.

g. Dimensi Membangun Kultur Sekolah

Dimensi yang ketujuh yaitu dimensi membangun kultur sekolah dinilai transformatif sebanyak 73,6%. Lingkungan sekolah perlu ditekankan adanya nilai, norma dan kepercayaan agar tercipta saling percaya diantara para guru serta perhatian baik kepada sesama rekan maupun kepada siswa. Pada dimensi membangun kultur sekolah dapat dikatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah mampu membangun norma sekolah, nilai, keyakinan dan sikap yang mendorong terciptanya sikap saling percaya dan perhatian antara para staf.

h. Dimensi Menciptakan Struktur Kolaboratif

Dimensi yang kedelapan adalah dimensi menciptakan struktur kolaboratif dinilai transformatif yaitu sebanyak 56,9%. Kepala sekolah terkadang kurang memperhatikan pendapat guru dalam hal pengambilan keputusan, karena keputusan bersama itu lebih penting agar tidak ada kesalahpahaman diantara pemimpin dan bawahan. Pada dimensi membangunn kultur sekolah dapat dikatakan bahwa kepala sekolah memberi kesempatan kepada para guru dalam pengambilan keputusan terkait tugas-tugas guru dan memberitahukan permasalahan yang terdapat di sekolah tersebut.

Hasil data kepemimpinan transformasional kepala sekolah perdimensi, menurut persepsi guru dimensi yang dinilai transformatif adalah membangun kultur sekolah yaitu sebanyak 73,6%. Hal itu karena menurut guru kepala sekolah dinilai sangat baik dalam membangun kultur dilingkungan sekolah. Pemimpin harus bisa membangun norma, nilai dan keyakinan yang mampu

mendorong terciptanya sikap saling percaya dan perhatian terhadap sesama rekan kerja.

Kepemimpinan kepala sekolah dinilai memiliki pengaruh yang cukup besar kepada bawahan dengan cara memotivasi bawahan. Apabila seorang

pemimpin mampu memotivasi bawahan akan membantu dalam

membangkitkan kepercayaan bahwa mereka untuk mampu mencapai tujuan organisasi bersama sesama rekan kerja.

2. Tingkat efikasi kolektif guru

Pada tabel 3.14 tingkat efikasi pada SMP Negeri Kecamatan Batin dinilai tinggi sebanyak 83,8%. Hal ini berarti para guru memiliki kepercayaan terhadap rekan kerja dalam menyelesaikan tugas-tugas guru disekolah. Guru yang memiliki efikasi tinggi dinilai mempunyai kemampuan untuk memberikan motivasi dan pembelajaran yang lebih baik kepada murid. Menurut Ismail, guru yang berefikasi tinggi mempunyai kemampuan untuk memberikan motivasi dan pembelajaran yang lebih baik kepada murid.

3. Kontribusi Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dengan Efikasi Kolektif Guru

Tabel 5.19 Hasil Uji Hipotesis

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 52.559 11.623 4.522 .000 KT .125 .057 .253 2.191 .032 a. DependentVariable: EKG

Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah memiliki kontribusi secara signifikan terhadap variabel efikasi kolektif guru sebesar 0,253 (25,3%). Kontribusi kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap efikasi kolektif dinilai kecil. Hal ini dapat dikatakan bahwa masih banyak faktor lain yang mempengaruhi efikasi kolektif yang tidak dibahas pada penelitian ini.

Pada tabel 5.18 menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah dapat menjadi prediktor efikasi kolektif guru (F = 4,8; sig = 0,32 < 0,050. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, yaitu bahwa ada kontribusi

positif kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap efikasi kolektif guru SMP Negeri, Kecamatan Negara Batin.

Dalam pencapaian tujuan sekolah, seorang guru perlu memiliki kepercayaan terhadap sesama rekan kerja untuk menyelesaikan tugas-tugas guru. Kepemimpinan transformasional diharapkan tidak hanya dapat memotivasi guru untuk melakukan apa yang diinginkan tetapi diharapkan mampu membangkitkan kepercayaan guru terhadap sesama rekan kerja agar dapat mencapai tujuan secara bersama-sama. Maka dari itu, perlu ada kontribusi yang banyak dari kepala sekolah, misalnya lebih terbuka terhadap guru, mau berbagi pengalaman tanpa memandang status jabatan dan lebih banyak menjalin komunikasi yang baik.

63

BAB VI

Dokumen terkait