• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil rangkaian penelitian yang dilakukan peneliti ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat perbedaan kemampuan baca tulis Al Quran antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran Al Quran dengan pendekatan Teknologi Quran Digital dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran Al Quran dengan model Konvensional atau manual mengandalkan metode ceramah. Penggunaan pendekatan Quran Digital dan model Konvensional ternyata memberikan kemampuan baca tulis Al Quran yang berbeda pula.

1. Temuan Deskriptif

a. Pembelajaran Al Quran dengan teknologi Al Quran Digital

Gambar 4.7 Suasana belajar menggunakan Al Quran Digital Berdasarkan pengamatan selama penelitian yang berlangsung selama 12 kali tatap muka pada kelas yang menggunakan treatment teknologi Al Quran digital, diperoleh temuan bahwa siswa mengikuti pembelajaran dengan senang dan gembira serta fokus dalam belajar Al Quran. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi dapat melesat mendapatkan nilai yang tertinggi setelah mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan Al Quran Digital. Siswa

terangsang kognitif dan psikomotoriknya untuk dapat belajar Al Quran secara maskimal. Bagi siswa yang memiliki motivasi belajar rendah pun demikian walaupun hasilnya tidak begitu signifikan melesat seperti anak yang memiliki motivasi tinggi, namun secara keseluruhan prestasi belajar siswa yang menggunakan Al Quran digital lebih tinggi dibandingkan mereka yang menggunakan media konvensional.

Sebagaimana halnya media pada umumnya, kelebihan penggunaan Al Quran digital diiringi dengan beberapa kekurangan diantaranya penggunaan listrik yang memakan biaya besar, hanya bisa dipraktikan di sekolah yang memiliki faasilitas lengkap atau di rumah siswa yang memiliki sarana komputer atau laptop yang lengkap. Oleh karenanya tidak semua golongan dalam hal ini siswa dapat merefleksikannya dengan mudah. Selain itu, penggunaan komputer secara berlebihan dapat menyebabkan sakit mata, nyeri pada persendian dan peregangan otot.

b. Pembelajaran Al Quran secara Konvensional

Gambar 4.8 Suasana Belajar Al Quran secara Konvensional Kegiatan belajar mengajar baik di kelas eksperimen yakni kelas yang belajar Al Quran dengan teknologi Al Quran digital maupun kelas kontrol yakni kelas yang belajar Al Quran secara konvensional dilaksanakan dalam kurun waktu yang sama yakni seminggu 2 kali tatap muka, 4 jam pelajaran dan dilaksanakan pada objek yang sama yakni kelas IX SMPN semester genap tahun Ajaran 2015/2016.

Berdasarkan pengamatan peneliti pada kelas yang belajar Al Quran secara konvensional, nampak pembelajaran Al Quran berlangsung secara tradisional. Guru memulai pelajaran Al Quran sesuai dengan materi pelajaran yang sesuai dengan silabus. Guru mencontohkan cara membaca Al Quran

kemudian siswa membaca secara seksama. Setelah itu, siswa membaca satu persatu maju ke depan untuk mempraktikan membaca Al Quran. Guru melanjutkan pelajaran dengan menulis teks ayat Al Quran di papan tulis lengkap dengan terjemahnya. Siswa diminta untuk menulis teks ayat tersebut di buku tulis. Pembelajaran berlangsung satu arah dan monoton terpusat hanya pada guru sebagai satu satunya sumber belajar. Kegiatan ini dilakukan selama 12 kali pertemuan selama penelitian.

Pembelajaran Al Quran secara konvensional meskipun terlihat kuno dan terkesan mengandalkan metode ceramah memiliki berbagai kelebihan. Diantaranya siswa fokus terhadap penjelasan guru, para siswa menggunakan pendengaranya dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan menyimpulkan isi ceramah dengan cepat dan tepat, guru tidak perlu menyiapkan bahan belajar sehingga pembelajaran berlangsung efisien waktu dan hemat biaya. Disamping itu, belajar Al Quran langsung dengan guru

sebagi mursyid Al Quran membuat mereka ta’zhim dan hormat terhadap guru

nya, karena sentuhan langsung sang guru dalam mempelajari Al Quran. Pembelajaran Al Quran secara konvensional merupakan model pembelajaran yang paling pertama digunakan sejak awal dikenal pembelajaran sampai saat ini. Tentunya diantara kelebihan dari pembelajaran konvensional yang awet dan tahan lama ini terdapat berbagai kekurangan. Pembelajaran berlangsung hanya satu arah dari guru ke murid tanpa ada timbal balik antara keduanya. Model pembelajaran ini bergantung pada kompetensi yang dimiliki guru. Tidak semua siswa bisa menangkap pengetahuan yang disampaikan guru secara seimbang, ada siswa yang menangkap pembelajaran secara sempurna, namun tidak sedikit yang bisa menyerap pelajaran seadanya.

c. Motivasi belajar

Kegiatan yang saat ini banyak digelar dalam ruang lingkup kelas besar diantaranya adalah “Motivasi Diri”, apapun bentuknya mulai dari seminar talkshow, acara ini selalu diminati banyak orang. Salah satu sebabnya adalah mereka membutuhkan semangat, dorongan dan kepercayaan diri walaupun hanya sekedar kata, perhatian dan saran. Demikian halnya dengan siswa di sekolah. Guru merupakan motivator ulung di kelas, tugasnya bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran, memberikan tugas dan ulangan semata, namun guru harus bisa membuat anak percaya diri, menemukan bakatnya dan bisa meraih prestasi yang gemilang. Siswa sebagaimana halnya manusia, banyak dihadapkan oleh banyak permasalahan baik di rumah dengan orang tuanya, dengan adiknya atau dengan teman sebayanya. Jika kita lihat, lebih banyak waktu yang mereka habiskan di luar sekolah dibanding waktu belajar di sekolah, maka tidak heran jika mereka pergi sekolah tidak hanya membawa beban buku dan alat tulis ke sekolah melainkan beban problematika kehidupan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis di sekolah terbukti

bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung ceria, bersemangat, selalu melakukan inovasi dalam belajar, tidak puas dengan jawaban guru, belajar mandiri tanpa harus ada yang memerintahkan si anak untuk belajar. Sementara siswa yang memiliki motivasi belajar rendah cenderung tidak suka belajar, tidak pernah mengulang pelajaran sekolah, serta tidak fokus belajar. Oleh karenanya peran guru diharapkan dapat mendongkrak semangat belajar siswa, guna menciptakan pembelajaran yang efektif dan nyaman bagi mereka.

d. Kemampuan baca tulis Al Quran

Diantara indikator kemampuan berbahasa asing yang baik adalah siswa mampu membaca dan menulis bahasa tersebut dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Data Kemenag sebagaimana disingung

pada “Pendahuluan” menunjukan bahwa kualitas kemampuan baca tulis Al Quran terus merosot tiap tahunnya. Data ini diperkuat dengan kondisi riil di lapangan pada sekolah-sekolah negeri yang mayoritasnya muslim hanya sedikit sekolah negeri yang mau mencantumkan pelajaran Al Quran sebagai salah satu bidang studi di sekolah tersebut. Keterpurukan ini merupakan tanggung jawab semua pihak, termasuk guru Agama di sekolah. Hendaknya guru memberikan nuansa baru dalam belajar Al Quran di kelas, agar siswa tertarik untuk belajar lebih jauh, ketika minat itu timbul mungkin tidak hanya sampai pada tahap baca tulis melainkan sampai pada tahap penguasaan dan pemahamaan Al Quran. Berdasarkan pengamatan penulis, anak anak lebih senang dan antusias jika diajar dengan media yang sesuai dengan perkembangan zaman mereka, kesulitan apapun jika mereka senang dengan pelajaran yang berlangsung akan merangsang insting mereka untuk berfikir keras dan belajar mandiri tanpa harus diberi arahan.

2. Temuan Kuantitatif

Tabel 4.29 Rekapitulasi temuan kuantitatif selama penelitian

No Kelas Motivasi Nilai tinggi Nilai Motivasi Rendah Digital Motivasi tinggi Manual Motivasi tinggi 1 kelas eksperimen 94,25 70,6 94,25 74,45 2 93,25 72,95 93,25 74,45 3 92,65 71,35 92,65 74,45 4 89,45 73,85 89,45 72,87 5 87,8 70,45 87,8 73,87 6 86,8 70,45 86,8 73,55 7 89,45 71,35 89,45 73,7 8 88,43 71,35 88,435 74,32

No Kelas Motivasi Nilai Tinggi Nilai Motivasi Rendah Digital Motivasi Rendah Manual Motivasi Rendah 1 kelas Kontrol 74,45 84,435 70,6 84,435 2 74,45 79,435 72,95 79,435 3 74,45 84,435 71,35 84,435 4 72,87 81,935 73,85 81,935 5 73,87 77,7 70,45 77,7 6 73,55 77,7 70,45 77,7 7 73,7 77,05 71,35 77,05 8 74,32 79,55 71,35 79,55

a. Pengaruh Teknologi Al Quran Digital Terhadap Kemampuan Baca Tulis Al Quran

Pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa skor rata-rata kemampuan baca tulis Al Quran kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran Al Quran dengan pendekatan teknologi Quran Digital adalah 80.61dengan simpangan baku sebesar 6.92, lebih tinggi daripada skor rata-rata kemampuan baca tulis Al Quran dari kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran Al Quran dengan pendekatan tanpa teknologi Quran Digital dengan skor rata ratanya 76.60 dan simpangan baku 2.75.

Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa secara keseluruhan penggunaan pembelajaran Al Quran dengan pendekatan teknologi Quran digital lebih baik dari pada pembelajaran Al Quran dengan tanpa pendekatan teknologi Quran digital.

Pengujian hipotesis ketiga membuat temuan kuantitatif dalam penelitian ini menjadi spesifik. Kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi yang mengikuti pembelajaran Al Quran dengan pendekatan teknologi Quran Digital memiliki skor rata-rata sebesar 90.26 dengan simpangan baku 2.57. Sedangkan kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi yang mengikuti pembelajaran Al Quran tanpa Quran Digital kognitif memiliki skor rata-rata sebesar 73.95 dengan simpangan baku 0.57.

Pengujian hipotesis ke-empat tidak kalah menarik, kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah yang mengikuti pembelajaran Al Quran dengan pendekatan teknologi Quran Digital memiliki skor rata-rata sebesar 71.54 dengan simpangan baku 1.23. Sedangkan kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah yang mengikuti pembelajaran Al Quran tanpa Quran Digital kognitif memiliki skor rata-rata sebesar 80.28 dengan simpangan baku 2.98.

Berdasarkan dua hipotesis di atas dapat ditarik sebuah temuan bahwa secara spesifik kelompok siswa yang memiliki motivasi rendah lebih tertarik pada pembelajaran Al Quran secara manual terbukti nilai akhir mereka lebih besar dibandingkan dengan kelompok siswa bernotivasi rendah yang melalui pembelajran Al Quran dengan teknologi digital. Sementara pada kelompok siswa yang memiliki motivasi tinggi mereka lebih gemar belajar menggunakan teknologi Al Quran digital, terbukti nilai akhir mereka lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok siswa bermotivasi tinggi yang melalui pembelajaran Al Quran secara manual atau konvensional.

Hasil ini bermakna bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan baca tulis Al Quran siswa dapat dilakukan melalui pemilihan teknologi pembelajaran yang tepat. Sebagai contoh untuk mengurangi kesalahan baca Tulis Al Quran siswa dapat dengan melakukan pembelajaran Al Quran dengan pendekatan teknologi Quran digital. Dalam hal ini siswa dituntut untuk belajar dan menemukan sendiri serta berperan aktif dalam proses pembelajaran untuk menemukan dan memecahkan permasalahan yang disajikan guru. Dalam proses pembelajaran ini, siswa juga dapat menggali potensi dirinya dalam upaya membangun konsep-konsep yang benar dari hasil penemuan dan kreativitasnya.

b. Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Kemampuan Baca Tulis Al Quran

Dari hasil pengujian hipotesis kedua diperoleh data bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan mengikuti pembelajaran Al Quran baik melalui pendekatan Quran Digital atau manual (kelompok B1) memiliki skor

rata-rata 82.10 dengan simpangan baku 8.63. Bagi kelompok siswa dengan memiliki motivasi belajar rendah yang mengikuti pembelajaran Al Quran (kelompok B2) memperoleh skor rata-rata 75.91 dengan simpangan baku 5.02.

Hasil perhitungan analisis varians untuk motivasi belajar menunjukkan bahwa nilai sig = 0.000, sedangkan nilai signifikansi α = 0,05, ini berarti nilaiSig<nilai α (0.000<0.05. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) ditolak dan

hipotesis alternative (H1) diterima. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa

kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi yang mengikuti pembelajaran Al Quran baik dengan pendekatan teknologi Quran digital maupun manual lebih tinggi dari kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah yang diajar dengan pendekatan teknologi Quran digital atau manual.

Hasil uji hipotesis yang ada menunjukkan makna bahwa motivasi belajar itu penting dan harus dipupuk sedini mungkin. Semakin tinggi motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa, maka semakin tinggi kemampuan baca tulis Al Quran siswa. Motivasi belajar dibutuhkan oleh siswa, secara keseluruhan siswa yang memiliki motivasi belajar rendah cenderung memiliki kemampuan lebih rendah dibanding siswa yang memiliki motivasi rendah.

c. Interaksi Antara Teknologi Al Quran Digital dan Motivasi Belajar terhadap Kemampuan Baca Tulis Al Quran

Pengujian hipotesis kelima menunjukkan bahwa dari baris interaksi pada ringkasan tabel Anava Dua Jalur diperoleh hasil antara teknologi Quran digital dan motivasi belajar terhadap kemampuan baca tulis Al Quran menunjukkan bahwa nilai sig = 0.000, sedangkan nilai signifikansi α = 0,05, ini berarti nilaiSig<nilai α 0.000<0.05. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima dan dapat disimpulkan terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara tingkat motivasi belajar dengan teknologi pembelajaran terhadap kemampuan baca tulis Al Quran siswa. Adanya interaksi membuktikan bahwa masing-masing pendekatan pembelajaran, baik pendekatan dengan Teknologi Quran Digital dan tanpa dengan Teknologi Quran Digital memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kemampuan baca tulis Al Quran jika digunakan pada kelompok siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar yang berbeda pula.

Kemampuan baca tulis Al Quran sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor internal yang turut mempengaruhi hasil kemampuan baca tulis Al Quran adalah tingkat motivasi belajar siswa. Tingkat motivasi belajar siswa merupakan latar belakang pemahaman konsep dasar yang dimiliki siswa. Perbedaan tingkat motivasi belajar yang dimiliki siswa tentunya akan berpengaruh terhadap kemampuan baca tulis Al Quran. Perbedaan ini juga memberikan hasil belajar Al Quran yang berbeda pula.

Motivasi belajar memiliki pengaruh terhadap penggunaan teknologi pembelajaran yang digunakan selama proses belajar berlangsung, yang pada akhirnya berpengaruh pada kemampuan BTA siswa. Jika dilihat secara detail pada kelompok siswa motivasi tinggi sebanyak 8 siswa yang belajar Al Quran menggunakan teknologi Al Quran digital memiliki kemampuan BTA lebih tinggi dibandingkan dengan siswa motivasi tinggi sebanyak 8 siswa mengikuti pembelajaran Al Quran secara konvensional.

Meskipun secara keseluruhan siswa yang belajar menggunakan Al Quran digital memiliki hasil lebih tinggi dibandingkan siswa yang belajar Al Quran secara konvensional, namun jika dilihat secara detail pada kelompok siswa motivasi rendah sebanyak 8 siswa yang belajar Al Quran secara konvensional memiliki kemampuan BTA lebih tinggi dibandingkan dengan siswa motivasi rendah sebanyak 8 siswa mengikuti pembelajaran Al Quran menggunakan teknologi Al Quran digital.

Dokumen terkait