HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Pembahasan Hasil Penelitian
4.3.1 Pengaruh Ukuran KAP terhadap Auditor Switching secara Voluntary
Variabel ukuran KAP memiliki koefisien sebesar 0,258 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,782 diatas tingkat signifikansi sebesar 0,05 (α = 5%). Dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, yang juga menandakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara ukuran KAP dengan auditor switching secara voluntary. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Damayanti dan Sudarma (2007), Pratitis (2012), dan Aprillia (2013), yang menyatakan bahwa variabel ukuran KAP berpengaruh signifkan terhadap auditor switching secara voluntary. KAP besar dianggap mampu meningkatkan kredibilitas laporan keuangan di mata pemakai laporan keuangan (Halim, 1997 dalam Damayanti dan Sudarma, 2007) dan akan mendorong perusahaan untuk mengganti KAP-nya menjadi KAP besar, namun hal tersebut berbeda dengan hasil penelitian ini.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa, perusahaan yang telah menggunakan KAP Big Four tidak melakukan perpindahan KAP karena menganggap kualitas auditnya lebih baik, serta untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan dan reputasi perusahaan di mata pemakai laporan keuangan. Sedangkan perusahaan yang telah menjalin kerja sama dengan KAP non Big Four tidak melakukan pergantian karena biaya yang besar untuk melakukan pergantian (dalam Prima, 2015). Sehingga kecenderungan untuk melakukan pergantian KAP secara sukarela sangat kecil. Hasil
pengujian ini diperkuat dengan pengamatan yang dilakukan peneliti mengenai ukuran KAP dan auditor switching secara voluntary PT FMII melakukan pergantian KAP pada tahun 2013 dan 2014, namun PT FMII tetap tidak menggunakan KAP Big Four, dan memilih KAP Non Big Four.
4.3.2 Pengaruh Ukuran Klien terhadap Auditor Switching secara Voluntary
Pada variabel ukuran klien diketahui nilai koefisiennya adalah sebesar -0,447 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,237 yang mana lebih besar dari 0,05 (α = 5%). Sehingga, H2 ditolak, karena tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap auditor switching secara voluntary. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Nasser et al. (2006), namun sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Pratitis (2012) dan Chadegani (2011). Watts dan Zimmerman (1986) (Nasser et al., 2006) menyatakan perusahaan yang besar dan memiliki operasi yang lebih kompleks memerlukan KAP yang dapat mengurangi agency cost.
Hasil penelitian menunjukkan, klien yang memiliki total aset yang kecil, cenderung menggunakan KAP yang kecil pula, sedangkan klien yang besar atau klien yang memiliki total aset yang besar akan menggunakan KAP yang besar atau KAP Big
Four. Penerapan auditor switching di Indonesia umumnya memiliki hubungan yang searah antara klien dan KAP-nya (Pratitis, 2012). Sehingga perusahaan tidak memiliki kecenderungan untuk mengganti KAP-nya secara sukarela agar tidak menambah agency cost perusahaan.
Hasil pengujian ini diperkuat dengan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti mengenai ukuran klien dan auditor switching secara voluntary. PT LPKR memiliki total aset yang besar namun, PT LPKR tidak menggunakan KAP Big Four. Pada tahun 2012 hingga 2014 menggunakan jasa KAP RSM AJJ (Aryanto, Amir Jusuf, Mawar, dan Saptato).
4.3.3 Pengaruh Financial Distress terhadap Auditor Switching secara Voluntary
Hasil olahan data menunjukkan nilai koefisien variabel financial distress adalah sebesar -0,8210 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,482 yang mana lebih besar dari 0.05. H3 ditolak karena tidak memiliki pegaruh yang signifikan terhadap auditor switching secara voluntary. Selain itu, hasil ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nasser et al. (2006) dan Sinarwati (2010). Namun, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Pratitis (2012), Aprillia (2013), Chadegani (2011), dan Damayanti dan Sudarma (2007).
Kesulitan keuangan mempengaruhi perusahaan yang terancam bangkrut untuk berpindah KAP bila dibandingkan dengan perusahaan yang sehat secara keuangannya (Schwartz dan Menon, 1985). Auditor changes juga bisa disebabkan karena perusahaan sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk membayar biaya audit yang dibebankan oleh KAP yang diakibatkan penurunan kemampuan keuangan perusahaan (Damayanti dan Sudarman, 2007).
Hasil penelitian menunjukkan, financial distress tidak mendorong dilakukannya pergantian KAP. Sebagain besar perusahaan yang dijadikan sampel penelitian menggunakan KAP Non Big Four, sehingga akan meningkatkan agency cost bila harus berganti KAP menjadi KAP Big Four. Selain itu, perusahaan dalam kondisi financial distress cenderung tidak berganti KAP karena memperhatikan persepsi pemegang saham sebagai pemilik dana di perusahaan, jika perusahaan sering berganti KAP timbul anggapan yang negatif (Wijayani et al., 2011).
Hasil pengujian ini diperkuat dengan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti mengenai financial distress dan auditor switching secara voluntary. PT DILD yang selama tiga tahun berturut-turut memiliki DER (Debt to Equity Ratio) diatas 100%
tidak melakukan pergantian KAP dan lebih memilih menggunakan KAP Non Big Four.
4.3.4. Pengaruh Pergantian Manajemen terhadap Auditor Switching secara Voluntary
Variabel pergantian manajemen (CEO) memiliki nilai koefisien sebesar 1,195 dan tingkat signifikansi sebesar 0,226 yang jauh lebih besar dari 0,05. Sehingga H4 ditolak karena tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap auditor switching secara voluntary. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sinarwati (2010) dan Ni Kadek Puspa Pratiwi (2015). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Damayanti dan Sudarma (2007), Chadegani et al. (2012), dan Aprilia (2013).
Hasil pengujian menunjukkan, pergantian manajemen tidak selalu diikuti dengan pergantian kebijakan perusahaan untuk melakukan pergantian KAP. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan dan pelaporan akuntansi KAP lama tetap dapat diselaraskan dengan kebijakan manajemen baru dengan cara melakukan negosiasi ulang antara kedua pihak (Damayanti dan Sudarma, 2007).
Hasil pengujian ini diperkuat dengan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti mengenai pergantian manajemen dan auditor switching secara voluntary. PT ASRI memiliki tiga CEO
berbeda pada tiga tahun penelitian, tahun 2012 PT ASRI dipimpin oleh Tri Ramadi, pada tahun 2013 dipimpin oleh Harjanto Tirtohadiguno, dan pada tahun 2014 dipimpin oleh Purbaja Pantja.
Pergantian manajemen tersebut tidak mendorong dilakukannya pergantian KAP, karena PT ASRI tetap menggunakan KAP PKF (Paul Hadiwinata, Hidajat, Arsono, Ade Fatma & Rekan) selama tiga tahun laporan keuangan.
BAB V