• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN

5.1 Pembahasan Hasil penelitian

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 6 tema mengenai karakteristik

caring dosen keperawatan yaitu karakteristik caring dosen keperawatan dengan 8 subtema, karakteristik non-caring dosen keperawatan dengan 2 subtema, pendukung caring dengan 1 sub tema, kendala caring dengan 4 subtema, manfaat

caring dengan 4 subtema dan dampak caring dengan 3 subtema.

Berbagai subtema dari masing-masing tema yang ditemukan, dapat dibahas satu persatu sebagai berikut:

5.1.1 Karakteristik Caring Dosen Keperawatan

1). Memberikan motivasi

Dalam penelitian ini partisipan memberikan motivasi kepada mahasiswa selama proses belajar-mengajar berlangsung dikelas maupun saat bertemu diluar kelas, dapat diberikan diawal dan diakhir atau dipertengahan pembelajaran dengan tujuan ingin mendorong semangat belajar mahasiswa. Motivasi yang diberikan kepada mahasiswa dalam bentuk nasehat dan memberikan gambaran situasi yang nyata tentang perkembangan keperawatan saat ini, menyadarkan mahasiswa agar sepenuh hati mencintai keperawatan sehingga lebih mudah dalam menerima pelajaran, mengingatkan mahasiswa apabila membuat kesalahan dan penyimpangan baik dalam kehidupan pribadi maupun akademik mereka yang

dapat membuat hambatan atau kegagalan dalam kelancaran studi mereka danmendorong keahlian berpikir ketingkat yang lebih tinggi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Dunn dan Cramer (2007) tentang karakteristik yang harus dimiliki seorang dosen yang sukses dalam memberikan pembelajaran dengan berbasis caring. Beliau menyatakan bahwa hubungan yang mendukung dan mendorong dianggap penting terutama untuk mahasiswa karena mereka biasanya kurang kemandirian dan kedewasaan secara emosional, dimana mereka menghadapi situasi yang lebih baru. Dosen yang efektif tidak memanjakan, melainkan membimbing mahasiswa melalui pemikiran kritis tentang pilihan akademik dan kehidupan serta mendorong mereka ketika mereka belajar keterampilan baru.

Atribut caring yang paling tinggi kebutuhannya adalah adanya rasa kasih sayang, dapatdidefinisikan sebagai suatu carahidup yanglahir darikesadaranhubunganseseorang untuksemua makhluk hidup, dimanakasih sayang adalahhubungan,hidupdalam solidaritas denganorang lain, menerima kehadiran orang lain, berbagikegembiraan,kesedihan, rasa sakit, dan prestasi

Hasil penelitian diatas juga sejalan dengan hasil penelitian Straits (2007) menyatakan bahwa ada dua indikator pengajaran caring untuk pendidik di Perguruan Tinggiyaitu, learnercentered dan learning centered,

mencakup:kesediaan waktu untuk mahasiswa, menghargai mahasiswa sebagai (Roach, 2002).Memberikan motivasi kepada mahasiswa juga sesuai dengan teori

transpersonal caring sepuluh carative factor Watson (1979) yaitu menanamkan sikap penuh pengharapan.

individu, bersedia untuk memberikan usaha ekstra, menyambut pertanyaan didalam kelas, mengundang diskusi diluar kelas, berusaha mengenal mahasiswa, ingin mahasiswa untuk belajar/berhasil, menawarkan beberapa kesempatan belajar, menggunakan strategi mengajar yang bervariasi, menggunakan berbagai sumber, mendorongkeahlianberpikirke tingkat yang

Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa ada faktor lain yang menjadikan pemberian motivasi oleh dosen sangat penting untuk mahasiswa karena adanya rasa kasih sayang dan pengharapan yang timbul dari dosen kepada mahasiswa. Memberikan motivasi kepada mahasiswa yang dilandaskan karena adanya kesadaran hubungan, pengharapan dan rasa kasih sayang dosen kepada mahasiswanya yang merupakan salah satu karakteristik caring yang paling utama harus diberikan oleh dosen karena mahasiswa biasanya menghadapi situasi dan masalah yang lebih kompleks selama belajar di universitas.

lebih tinggi.

Mahasiswa di Fakultas Keperawatan Swasta kota Medan mayoritas berasal dari daerah-daerah diluar kota Medan, hal ini berarti mahasiswa jauh dari keberadaan orang tua mereka masing-masing sehingga dosen diharapkan dapat menggantikan fungsi orang tua dalam memberikan pengawasan melalui motivasi atau memberikan nasehat. Selain itu mahasiswa di Fakultas Keperawatan Swasta kota Medan terutama yang D-III Keperawatan tinggal di asrama, hal ini tentunya dapat membuat permasalahan mahasiswa lebih kompleks karena harus menyesuaikan diri dengan teman-temannya diasrama yang berasal dari berbagai daerah dengan adat-istiadat dan kebiasaan hidup yang berbeda-beda, baik yang berasal dari Pulau Sumatera maupun dari luar Sumatera.

Dalam situasi ini, dosen keperawatan swasta kota Medan melakukan berbagai strategi untuk mendorong kemampuan berpikir mahasiswa agar lebih kritis ketingkat yang lebih tinggi dengan cara memberikan penugasan yang menarik dan sesuai dengan tingkat kemampuan mahasiswa, merangsang pemikiran mahasiswa dengan memberikan ilustrasi dan pertanyaan yang menyangkut materi diawal pembelajaran, apalagi rata-rata mahasiswa di fakultas keperawatan swasta kota Medan datang dari berbagai tingkat pengetahuan dan kecerdasan yang beraneka ragam yang menuntut dosen harus lebih terampil dalam mengajar agar tercapai tujuan pembelajaran.

2). Menghargai

Sikap dosen dalam menghargai mahasiswa yang ditemukan pada penelitian ini terwujud melalui verbal dan non verbal yang ditunjukkan dosen dengan cara tidak membentak ataupun marah-marah dan tidak menunjukkan sikap yang arogan kepada mahasiswa serta menyadari bahwa dosen bukanlah orang yang mengetahui segalanya serta memberikan umpan balik yang spesifik kepada mahasiswa dengan cara adanya keseimbangan dalam memberikan teguran dan pujian, mau mendengarkan saran atau masukan dari mahasiswa apabila saran atau masukan tersebut mempunyai alasan yang baik dan dapat diterima.

Menghargai mahasiswa dengan membuat jadwal untuk bimbingan/konsultasi mahasiswa sehingga tidak membiarkan mahasiswa menunggu tanpa kepastian, dapat juga ditunjukkan dengan tidak melakukan

teguran atas kesalahan mahasiswa didepan umum atau didepan mahasiswa lainnya, sikap tidak cuek dosen serta memanggil mahasiswa langsung dengan menyebut nama mahasiswa yang bersangkutan dapat membuat mahasiswa merasa dihargai

Hal ini juga sejalan dengan teori transpersonal caring sepuluh carative factor Watson (1979) yaitu membentuk dan menghargai sistem nilai humanistic dan altruistic, memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan penuh penghargaan dalam rangka mempertahankan keutuhan dan martabat manusia dan juga sesuai dengan pendapat Appleton (dalam Watson & Leininger, 1990) bahwa perhatianyang tulus untuk mahasiswa sebagai orang yang belajar merupakan salah satu aspek yang paling penting dari professional caring, mencakupmenghargai mahasiswa, kekhawatiran terhadap belajar mahasiswa dan kebebasan akademik(Appleton dalam Watson & Leininger, 1990).

Pendapat tersebut sejalan dengan penelitian Lee & Ravizza (2008) yang menyatakan bahwa caringterhadap mahasiswa adalah dengan cara menghormatimahasiswa, misalnya ketika pengajar menggunakan peralatan mahasiswa makaharus memintaijin terlebih dahulu kepada mahasiswa, hal ini merupakan ungkapan rasa hormat kepada mahasiswa, dimana menghormati hubungan adalah salah satu cara menunjukkan caring kepada mahasiswa.

Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian Miller, et al. (dalam Watson & Leininger, 1990) yang menyatakan bahwa caringdosen secara pribadi dan akademik dengan memberikan umpan balik dan membantu mahasiswa untuk mengeksplorasi pikiran, perasaan dan pilihan serta memberdayakan individu

untuk mandiri mencapai potensi pribadi dan akademik.Hasil penelitian ini juga sejalan dengan teori transpersonal caring sepuluh carative factor Watson (1979) yaitu meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif.

Sikap menghargai mahasiswa telah ditunjukkan oleh dosen di fakultas keperawatan swasta kota Medan dengan berbicara yang santun dan sikap yang ramah serta tidak menganggap mahasiswa sebagai bawahan tetapi mengganggap mahasiswa adalah orang yang perlu dilayani secara dewasa tetapi terkadang dosen dapat juga tidak menghargai/menghormati mahasiswa yang dilakukan oleh dosen yang sama, hal ini mungkin karena adanya faktor kendala yang dihadapi dosen untuk selalu bersikap caring kepada mahasiswa, misalnya faktor banyaknya kesibukan dosen, waktu yang terbatas, adanya masalah yang sedang dihadapi dosen serta kesalahan mahasiswa yang berulang-ulang.

3). Kedekatan profesional

Kedekatan yang dibina secara profesional dengan mahasiswa dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk berbuat lebih baik karena segan apabila berbuat tidak sesuai harapan dosennya, ditandai dengan menyapa atau senyum kepada mahasiswa bila bertemu diluar kelas yang dapat menunjukkan persahabatan, sikap yang membuka diri dan mau menanggapi keluhan mahasiswa sehingga mahasiswa tidak takut kepada dosennya, tetapi kedekatan yang dibina dengan mahasiswa tetap secara profesional dan ada batas-batasnya. Hal ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa dosendapat menyampaikan keterbukaan kepada mahasiswa di kelas dimana mahasiswa bebas mengekspresikan sudut pandang yang berlawanan dengan momen komunikasi

singkat dan keterlibatan dengan mahasiswa dapat lebih jauh membangun sikap pendekatan (Dunn & Cramer, 2007) dan sejalan juga dengan hasil penelitian Appleton (dalam Watson dan Leininger, 1990) menyatakan bahwa struktur penting caring yang tampak dari hubunganantara dosen dan mahasiswa yang dilihat dari perspektif mahasiswa keperawatan memiliki empat komponen dasar, yaitu:pendekatan profesional dosen caring, rasa saling percaya yang dihasilkan,hubungan kerja yang profesional antara dosen dan mahasiswa, dan respon positif mahasiswa terhadap pembelajaran yang berbasis caring.

Hasil penelitian juga didapatkan bahwa kedekatan dosen dengan mahasiswa juga dapat membuat dosen lebih mudah untuk mengarahkan mahasiswa kepada tujuan yang diinginkannya, karena mahasiswa akan lebih mengikuti perkataan dosen yang dekat dengannya dari pada dosen yang galak atau menciptakan jarak dengan mahasiswa. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa interaksi caring antara dosen dan mahasiswa melibatkan dimensi keintiman, kepercayaan, berbagi dan ketertarikan, bahkan dapat dianggap sebagai teman (Miller, et al., dalam Watson & Leininger, 1990), sejalan juga dengan pendapat Dunn & Cramer (2007) tentang karakteristik dari pengajar yang sukses dengan berbasis caring bahwa kehidupan kampus tidak terbatas pada kelas,percakapan tentang topik lain memungkinkan pendidik untuk mengenal mahasiswa dari waktu ke waktu sehingga saran yang diberikan dosen dapat sesuai dengan tujuan mahasiswa yang lebih luas.

Dalam situasi ini mungkin karena mahasiswa mayoritas jauh dari orang- orang terdekatnya seperti orang tua atau karena banyaknya masalah yang terjadi

diasrama, sehingga kedekatan dengan dosen sangat membantu mahasiswa dalam mengelola masalah yang sedang dihadapinya, selain itu kedekatan dengan dosen juga dapat membuat mahasiswa merasa diterima keberadaannya yang dapat menghilangkan jarak dengan dosen dan sekaligus menghapus perasaan takut.

4). Ketersediaan waktu

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dosen dapat menunjukkan ketersediaan waktu kepada mahasiswa dengan cara mengatur jadwal untuk bimbingan mahasiswa, memberikan nomor telepon yang dapat dihubungi mahasiswa, bersedia menjawab atau membalas SMS dari mahasiswa apabila dibutuhkan, bersedia memberikan waktu kepada mahasiswa yang ingin berdiskusi dan mendengarkan keluhan mahasiswa melalui percakapan kecil diluar kelas. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dunn dan Cramer (2007) bahwa seorang dosen difakultas dapat menyampaikan ketersediaan waktu dengan mahasiswa di kelas dan memiliki kebijakan pintu terbuka yang terlihat didepartemen dan di kampus, menggunakan jeda waktu kecil sebelum dan setelah mengajar di kelas untuk mengenal mahasiswa, serta ketersediaan waktu telah dikutip sebagai faktor penting untuk mencari pengetahuanpada pengajar dan memelihara hubungan timbal balik antara pengajar dan mahasiswa,dimana pada saat banyak mahasiswa memiliki perasaan terisolasi karena jauh dari keluarga dan teman dekat, maka ketersediaan tatap muka oleh dosen menjadi sangat penting.

Dalam situasi ini, walaupun dosen mempunyai banyak kesibukan dan waktu yang terbatas tetapi dosen tetap berusaha melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik termasuk memberikan bimbingan bagi mahasiswa baik sebagai

pembimbing akademik maupun pembimbing tugas akhir mahasiswa, maka dengan waktu yang terbatas dan kesibukan yang banyak tersebut dosen merelakan waktu diluar kerja untuk menerima telepon ataupun sekedar membalas pesan singkat (sms) dari mahasiswa.

5). Menggunakan berbagai metode sistematis dalam penyelesaian masalah

Dalam penelitian ini ditemukan beberapa dosen yang menggunakan berbagai metode sistematis dalam penyelesaian masalah mahasiswa, yaitu dilakukan dengan cara memilah-milah jenis masalah dan karakteristik mahasiswa sehingga dapat menentukan jenis penyelesaian masalah yang sesuai serta dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif.

Hal ini sejalan dengan teori Watson (1979)tentang transpersonal caringyang berfungsi sebagaipanduan untuk disiplin ilmu dan pengembangan perawat profesional, dimana teori ini didasarkan pada nilai-nilai saling menghormati satu sama lain, otonomi individu dan kebebasan memilih yang terkenal dengan sepuluh carative factor Watson’s dan salah satunya adalah menggunakan metode sistematis dalam penyelesaian masalah(systematic use of a creative problem-solving, caringprocess).

Untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dapat diterjemahkan dengan membuat mahasiswa rileks/tidak kaku dalam mengikuti proses belajar- mengajar, untuk membuat mahasiswa rileks dengan membuat lelucon atau humor sehingga mahasiswa tidak bosan dan tetap semangat mengikuti perkuliahan, membuat suasana belajar yang kondusif dengan mengelola kelas dan menyajikan materi dengan menarik, terutama mencegah mahasiswa tidak konsentrasi dalam

menerima pelajaran, terus-menerus mengawasi konsentrasi mahasiswa saat belajar.

Hal ini juga sejalan dengan pendapat Watson (1979) tentang transpersonal caring yang

Dosen harus mempunyai pandangan luas agar dapat membantu dalam menyelesaikan masalah mahasiswa, dalam hal ini berarti dosen harus berusaha mengenal berbagai karakteristik mahasiswa seperti kemampuannya dalam belajar, sikapnya sehari-hari dan berusaha mengetahui latar belakang mahasiswa agar bisa memahaminya dan membantu dalam mengambil keputusan yang tepat serta menentukan sikap yang sesuai untuk mahasiswa tersebut.

diwujudkan melalui 10 carativefactor yang menjadi ciri caringantara manusia ke manusia lainnya, diantaranya adalah provision for a supportive, protective, and/or corrective mental, physical, societal, and spiritual

environment(menciptakan lingkungan fisik, mental, sosial dan spiritual yang suportif, protektif atau korektif).

Hal ini sejalan dengan pendapat Mayeroff (1971 dalam Fabrykowski et al., 2002) bahwa komponen yang perlu harus dimiliki seseorang untuk dapat

caringsalah satunya adalahmengenal penerimacaring(knowing the recipient) yang berarti mengetahui atau mengenal beberapa hal tentang penerima caring baik secara eksplisit maupun implisit, mengetahui kebutuhannya dan mengetahui hal apa yang harus dilakukan untuk menanggapi kebutuhan tersebut serta mengetahui atau mengenal penerima caring baik secara langsung maupun tidak langsung.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan pendapat bahwa seorangpendidik yang efektif adalah yang menyadari berbagai masalah unik mahasiswa di

Perguruan Tinggi,sejumlah kesulitan potensial seperti penolakan, kerinduan dan stres akademik,penyesuaian yang kurang memadai untuk tantangan tersebut menghasilkan risiko tinggi untuk depresi, kecemasan dan konflik interpersonal,meskipun dosen tidak harus bertindak sebagai terapis, pengetahuan pendidik tentang isu-isu perkembangan dewasa muda sangat membantu untuk menyelesaikan masalah mahasiswa (Dunn & Cramer, 2007).

Menggunakan berbagai metode sistematis dalam menyelesaikan masalah mahasiswa merupakan salah satu bentuk karakteristik caring dosen keperawatan. Berbagai masalah dapat terjadi selama mahasiswa dalam masa pendidikan, dosen dituntut harus menggunakan berbagai metode secara sistematis untuk menyelesaikan permasalahan mahasiswa untuk dapat mengambil keputusan. Dalam situasi ini mahasiswa di fakultas keperawatan swasta kota Medan terutama yang tinggal di asrama cenderung memiliki banyak masalah baik masalah yang terjadi di asrama maupun masalah dari keluarganya yang terkait dengan aturan- aturan asrama yang banyak dan peraturan di pendidikan, misalnya mengenai pembayaran uang kuliah, jadwal keluar-masuk asrama, peralatan asrama, serta peraturan lainnya.

6). Empati

Karakteristik caring dosen keperawatan yang ditunjukkan oleh partisipan juga tergambar dalam sikap empati yang tercermin dalam kepedulian dan perhatian terhadap mahasiswa, seperti memperhatikan keadaan fisik dan psikologis mahasiswa, berusaha memahami situasi dan kondisi mahasiswa, merasa kasihan pada mahasiswa, berusaha mengetahui keadaan/keberadaan

mahasiswa, dan mentoleransi suatu kesalahan dengan alasan yang dapat diterima serta memiliki rasa tanggungjawab terhadap belajar atau keberhasilan mahasiswa.

Sikap empati terhadap mahasiswa dapat juga ditunjukkan dosen dari kepedulian terhadap kehadiran, penampilan, pengetahuan, sikap dan tindakan mahasiswa karena mahasiswa keperawatan tentunya berbeda dengan mahasiswa lainnya. Sikap empati juga tergambar dari adanya rasa tanggung jawab dosen terhadap belajar mahasiswa dan keinginan dosen agar mahasiswanya berhasil, adanya rasa tanggung jawab dosen terhadap pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diajarkan, peduli terhadap konsentrasi mahasiswa saat mengajar dan peduli terhadap masalah yang dapat menghambat kelancaran studi mahasiswa, tanggung jawab terhadap pengetahuan yang diperoleh mahasiswa setelah tamat dari pendidikan, keinginan dosen agar mahasiswanya berhasil setelah menyelesaikan pendidikannya dan terjun kedunia kerja untuk melayani masyarakat.

Pendapat diatas sejalan dengan teori transpersonal caring sepuluh carative factor Watson (1979) yaitu menanamkan sensitifitas atau kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain dan juga sesuai dengan hasil penelitian Appleton (dalam Watson & Leininger, 1990) bahwa pendekatan profesional dosen caring

mencakup kompetensi profesional yaitu memiliki perhatian yang tulus untuk mahasiswa sebagai orang yang sedang belajar.Temuan dari hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitianMiller, et al. (dalam Watson & Leininger, 1990) yang menjelaskan bahwa dimensi penting dari interaksi caring antaradosen

keperawatan dan mahasiswa dalam proses belajar mengajar adalah perhatian holistik (menyeluruh) dosenkepadamahasiswa secara pribadi maupun akademik.

Hal ini juga sejalan dengan teori transpersonal caring sepuluh carative factor Watson (1979) yaitu mengembangkan hubungan saling percaya dan saling membantu, dan sesuai juga dengan pendapat Lee dan Ravizza (2008) yang menyatakan bahwa caringharusdisahkan melaluiprosespembelajaran dan caring

bisa ditunjukkanmelalui perilakumengajar dantanggung jawab terhadap pembelajaran mahasiswa sertacaring lebihberpusatpada pengajarandaripada membangunhubungan

Dalam situasi ini, dosen di fakultas keperawatan swasta cenderung terlihat lebih perhatian kepada mahasiswanya sampai menimbulkan sikap empati terhadap mahasiswa. Hal ini mungkin karena mahasiswa rata-rata jauh dari orang-orang terdekatnya seperti orang tua dan rata-rata tinggal diasrama sehingga lebih membutuhkan perhatian dan hal ini dapat direspon dengan baik oleh dosen di fakultas yang selalu memberikan perhatian dan bersikap empati terutama dalam hal kehadiran mahasiswa saat proses belajar-mengajar berlangsung, penampilan, bahkan dalam hal keuangan mahasiswa yang dapat terlihat dari adanya dosen yang mau menjaminkan uang kuliah yang menunggak, memberikan keringanan dengan dapat mencicil pembayaran, bahkan meminjamkan uangnya kepada mahasiswa.

pribadi.

7). Komitmen

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa dosen yang caring mempunyai komitmen dalam bekerja seperti selaras antara apa yang dikatakan dan apa yang

dilakukan, tegas dalam menegakkan peraturan yang berlaku, menepati janji kepada mahasiswa, tidak akan terpengaruh oleh suku apapun dalam memberikan nilai pada mahasiswa dan tidak akan menyangkut pautkan urusan pendidikan dengan urusan pribadi, serta tidak akan merubah keputusan yang telah ditetapkan dengan alasan apapun. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Appleton (dalam Watson & Leininger, 1990) bahwa pendekatan profesional dosen caring

mencakup kompetensi profesional, meliputi memiliki kepribadian positif dan berkomitmen.

Komitmenmerupakanresponafektifkompleks,perpaduan antarakeinginan dankewajibanseseorang serta pilihan yang disengajauntuk bertindak. Komitmenataurespon perilakusepertikesediaanuntuk menerima, kesediaanuntuk menanggapi danpenerimaannilai,dimana komitmen dianggapjelas ketikapilihansangattegasbahwa apa yangdikomitmenkanuntukdilakukan adalahsama denganapa yangdipilih untuk dilakukan. Komitmenmenjadibagian dari identitasseseorangsebagai seorang dosen profesional yang caring terhadap orang lain. Komitmen merupakan pertemuan antaraapa yang ingindilakukan danapa yang dilakukan. Komitmensangat penting untukcaring, dimana jikakomitmenrusak makacaringtidak sempurna. Komitmenmerupakan investasidiridalam pekerjaanseseorang dankarirkarenaapa yangdilakukan adalahwajib, tidak dianggapsebagai bebanmelainkan sebuah panggilanyang menarik untuk sadar,mau danmelakukan tindakan positif (Roach, 2002).

Komitmen dalam penelitian ini ditunjukkan dosen untuk membuktikan keprofesionalannya sebagai dosen, akan tetapi dalam penelitian ini ada juga

ditemukan satu partisipan yang kurang komitmen terhadap pemberian nilai hasil ujian mahasiswa karena faktor kedekatannya dengan mahasiswa, hal tersebut terlihat dalam kutipan pernyataan berikut ini:

“…karena jujur aja kita sebagai dosen kan bisa subjektif, kadang siapa yang kita kenal pengaruh juganya nilainya itu ya kan” [P5, L130-132]

Pernyataan partisipan diatas tidak diangkat sebagai sub tema dalam hasil penelitian ini karena hanya 1 partisipan dari 13 partisipan yang menyatakan hal yang demikian, tetapi dari kutipan diatas dapat dikatakan kedekatan dosen dengan mahasiswa terkadang tidak dapat dihindari akan mempengaruhi saat memberikan nilai mahasiswa, dimana hal tersebut menunjukkan dosen yang kurang profesional karena tidak mampu menjaga komitmennya sebagai dosen.

8). Ketulusan

Dalam penelitian ini ketulusan seorang dosen meliputi sikap memberikan bantuan kepada mahasiswa tanpa pamrih, tidak mempersulit mahasiswa, mudah memaafkan kesalahan mahasiswa, memberikan ilmu dengan tulus kepada mahasiswa sehingga mahasiswa menunjukkan respon senang kepada dosen yang tulus. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa pendekatan profesional dosen caring mencakup kompetensi profesional, meliputi: memiliki perhatian yang tulus untuk mahasiswa sebagai orang yang sedang belajar, memiliki kepribadian positif dan berkomitmen. Ketulusanmerupakan tulus terhadap diri sendiri, tulus mencoba melihat kebenaran untuk dapat caring

terhadap orang lain, melihat orang lain apa adanya dan bukan menjadi seperti apa yang diinginkan atau harapkan, ketulusan dari hati dalam melaksanakan caring

yang signifikan antara tindakan dan yang dirasakan (Mayeroff, 1971 dalam Fabrykowski et al., 2002).

Perhatianyang tulus untuk mahasiswa sebagai orang yang belajar merupakan salah satu aspek yang paling penting dari professional caring, mencakupmenghargai mahasiswa, kekhawatiran terhadap belajar mahasiswa dan kebebasan akademik.Kepribadian yang positif,terkait dengan perhatian yang tulus adalah unsur caring yang sangat penting dalam pengalaman belajar-mengajar. Karakteristik utama pribadi yang positif adalah pribadi dengan integritas, jujur, tulus, berbagi, perhatian, mendengarkan, fleksibilitas dan humor serta murah hati (Appleton dalam Watson & Leininger, 1990).

Dosen dalam penelitian ini menunjukkan karakter sebagai pribadi yang tulus, perhatian, mendengarkan pendapat dan keluhan mahasiswa, memberikan bantuan tanpa pamrih, jujur, melihat mahasiswa apa adanya bukan karena faktor lain seperti sogokan atau yang lainnya, dimana hal tersebut mencerminkan

Dokumen terkait