• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam dokumen PENELITIAN KUALITATIF KEPERAWATAN (Halaman 57-73)

METODE PENELITIAN

HASIL PENELITIAN

6.2 Pembahasan Hasil Penelitian

6.2.1 implementasi Range of motion aktif post operasi fraktur femur 6.2.1.1. Implementasi ROM aktif post operasi fraktur femur

Informasi yang di peroleh dari informan dan observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan) yang mengatakan di implementasikan ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur. hal ini berbeda dengan hasil wawancara mendalam dengan key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang mengatakan tidak ada perawat yang menganjurkan mengerak-gerakan kaki (ROM aktif) hal ini tidak di dukung oleh hasil observasi bahwasanya belum di implementasikanya ROM aktif post operasi fraktur femur.

Sedangkan menurut Saryono, dkk (2008) upaya perawat dalam meminimalkan dampak post operasi fraktur femur diperlukan implementasi ROM Perawat dapat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal

Dari penelitian terdahulu yang di lakukan oleh Devita, M, (2007) yang berpendapat bahwa peran perawat sudah cukup baik dalam implementasi mobilisasi dini pada pasien pasca operasi digestive, diharapkan perawat dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih baik lagi.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada dan hasil penelitian terdahulu, terdapat kesamaan antara teori dengan penelitian terdahulu, dan tedapat perbedaan dengan praktik di lapangan bahwasanya kurangnya peran perawat dalam implementasi ROM aktif dilapangan mestipun

demikian di harapakan perawat hendakya benar-benar mengimplementasikan mobilisasi dasar yaitu ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur di lapangan jangan hanya dalam teori agar perawat benar-benar bisa menjadi mitra pasien.

6.2.1.2. Cara-cara latihan Range of motion aktif

Informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) dalam melakukan ROM aktif dengan cara mengerakan tungkai ke depan dan keatas, kesamping dan kebelakang, memutar ke dalam dan luar, mengerakan tumit ke belakang paha, mengembalikan tungkai ke posisi semula, jari-jari kaki menekuk keatas dan bawah, memutar telapak kaki kesamping dalam dan luar, hal ini di dukung oleh adanya pasien yang melakukan ROM aktif atas instruksi tenaga medis lain, tidak ada perawat yang mendampingi dan memberikan contoh pada pasien untuk melakukan ROM aktif.

Sedangkan menurut teori perry dan potter (2006) cara-cara latihan ROM aktif: pada servikal: Fleksi, Ekstensi, Hiperekstensi, fleksi lateral, dan rotasi.pada bahu: Fleksi, Ekstensi, Hiperekstensi, Abduksi, Adduksi, Rotasi internal, Rotasi eksternal. Pada siku: Fleksi, Ekstensi. Pada lengan bawah:supinasi dan pronasi. Pada pergelangan tangan: Fleksi, Ekstensi, Hiperekstensi, Abduksi, Adduksi. Pada jari-jari tangan: Fleksi, Ekstensi, Hiperekstensi, Abduksi, Adduksi. Pada panggul: Fleksi, Ekstensi, Hiperekstensi, Abduksi, Adduksi, Rotasi internal, Rotasi eksternal dan sirkumduksi. Pada lutut: Fleksi, Ekstensi. Pada kaki: Inversi, Eversi. Pada jari-jari kaki: Fleksi, Ekstensi, Abduksi dan Adduksi.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada, terdapat persamaan antara teori dengan intervensi perawat cara latihan ROM aktif post operasi fraktur femur dengan cara mengerakan tungkai: Fleksi, Ekstensi, Hiperekstensi, Abduksi, Adduksi, Rotasi internal, Rotasi eksternal dan sirkumduksi, hal ini berbeda dengan implementasi di lapangan bahwasanya belum di dapatkan perawat yang mengimplementasikan ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur, mestipun demikian diharapkan perawat benar-benar berperan aktif dalam implementrasi ROM aktif dengan cara membimbing dan memberi contoh pada pasien dan keluaga cara melakuakan ROM aktif.

6.2.1.3. Tujuan latihan Range of motion aktif

Informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan tujuan ROM aktif adalah Untuk mempercepat proses penyembuhan hal ini seiringan dengan hasil observasi di dapatkan adanya tenaga kesehatan lain yang memberi penjelasan tetang tujuan ROM aktif dan dari hasil observasi di dapatkan juga tidak adanya peran perawat dalam memberikan penjelasan tentang tujuan di lakukan ROM aktif.

Sedangkan menurut teori suratun, dkk, (2008) tujuan di lakukan ROM post operasi fraktur femur adalah Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot, Memelihara mobilitas persendian, Merangsang sirkulasi darah, Mencegah ke lainan bentuk.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada, terdapat persamaan antara teori dengan pengetahuan perawat tetang tujuan implementasi ROM aktif post operasi fraktur femur untuk mempercepat proses penyembuhan, mestipun demikian perawat diharapkan memiliki inisiatif untuk ikut mengimplementasikan ROM aktif dan menjelasakan tujuan di lakukan ROM aktif post operasi fraktur pemur.

6.2.1.4. Manfaat latihan Range of motion aktif

Informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan) dan yang di rasakan kay informan (pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan manfaat latihan ROM aktif adalah persendian tidak terasa kaku, bengkaknya mengecil, memperlancar peredaran darah, dan tidak merasa nyeri, hal ini sejalan dengan hasil obserpasi di dapatkan adanya rentang gerak sendi klien tampak kakuya berkurang, tidak adanya odem pada ekstermitas, ekspresi wajah klien yang tenang saat melakukan ROM aktif, hal ini tidak di dukung oleh hasil observasi dengan perawat di dapatkan juga tidak ada perawat yang menjelaskan tentang manfaat di lakukan latihan ROM aktif pada pasien poast operasi fraktur femur.

Sedangkan menurut teori suratun, dkk, (2008) manfaat implementasi ROM aktif post operasi fraktur femur adalah memperbaiki tonus otot, Meningkatkan mobilisasi sendi, memperbaiki toleransi otot untuk latihan, Meningkatkan massa otot, Mengurangi kehilangan tulang.

Sedangkagkan menurut suratun, dkk (2008) manfaat implementasi ROM post operasi fraktur femur ialah mempertahankan mobilitas sendi, mencegah kontraktur, meningkatkan keyamanan dan memperbaiki fungsi tubuh dari injuri.

Dari hasil penelitian terdahulu yang di lakukan oleh Astuti pada tahun (2006), setelah di lakuakan ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur 1/3 medial dextra dengan pemasangan plate dan screw. Setelah di lakukan 6 kali latihan didapatkan: Nyeri berkurang dan tidak timbul nyeri, Range of motion (ROM) panggul kanan aktif, sedangkan untuk lutut kanan aktif nilai kekuatan otot meningkat, Berkurangnya bengkak (oedema) dari nyeri ringan sampai tidak timbul nyeri telah mengalami penurunan, Aktifitas fungsional telah meningkat dan dapat dievaluasi bahwa pasien dalam aktifitas sehari-hari sudah dapat berjalan sendiri biarpun masih dengan bantuan alat yaitu kruk.

Dari hasil penelitian terdahulu yang di lakukan oleh kumpulanskripsi, (2008) yang mengatakan perlunya mobilisasi dini bagi pasien post operasi fraktur femur dengan anastesi umum untuk memperlancar peredaran darah, mempercepat pemulihan peristaltik usus.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada dan hasil penelitian terdahulu, terdapat kesamaan antara teori dengan penelitian terdahulu dan pengetahuan informasi tentang manfaat implementasi ROM aktif adalah untuk memperlancar peredaran darah, Meningkatkan mobilisasi sendi, Mengurangi kehilangan tulang dan mengurangi rasa nyeri, namun manfaat ROM tersebut belum di jelaskan perawat saat akan latihan ROM aktif. Untuk itu perawat di

harapkan untuk mempunyai inisiatif menjelaskan hal tersebut saat akan implementasi ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur.

6.2.1.5. prinsip-prinsip latihan Range of motion aktif

Informasi yang di peroleh dari wawancara mendalam di atas dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan gerakan ROM aktif di lakuakan minimal 1 kali sehari, ROM di lakukan berlahan dan hati-hati, pada persendian dapat di lakukan ROM, ROM di lakukan setelah semua perawatan rutin telah di lakukan, biasa di lakukan setelah pasien dari kamar operasi. Hal ini belum di dukung oleh hasil observasi di dapatkan belum ada perawat yang menerapkan prinsip-prinsip latihan ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur.

Sedangkan menurut suratun, dkk, (2008) prinsi-prinsip implementasi ROM aktif post operasi fraktur femur adalah ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari, ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien, pergerakan ROM dilakukan sesuai kemampuan pasien, bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki, ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian yang di curigai mengalami proses penyakit, melakukan ROM harus sesuai waktunya. misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah di lakukan. pada hari ke 2-3 latihan aktif (ROM) yang di bantu dapat dimulai dari bidang anatomi yang normal (Garrison, 2002).

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada, terdapat kesamaan antara teori dengan pengetahuan perawat tentang prinsip-prinsip latihan ROM aktif di lakukan berlahan dan hati-hati, di lakukan saat pasien santai, di lakukan minimal 1 kali sehari, di lakukan setelah pasien dari kamar operasi, tetapi hal tersebut tidak di implementasikan di ruangan hanya sebatas pengetahuan menkipun demikian di harapkan perawat mempunyai inisiatif untuk mengunakan prinsi-prinsip tersebut dan mengimplementasikan ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur.

6.2.1.6. Faktor pendukung di lakukan ROM aktif

Informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan informasi dari informan (perawat pelaksana) dan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan faktor pendukung latihan ROM aktif adalah di butuhkan peran perawat, klien dan keluarga untuk di implementasikan ROM aktif. Hal ini didukung oleh hasil observasi di dapatkan terjalinya komunikasi yang baik antara perawat dengan klien dan adaya SOP di ruangan yang mendukung untuk di implementasiaknya ROM aktif post operasi fraktur femur.

Sedangkan menurut Nurachah, (2000) dalam Nurachmah, E, (2001) Keberhasilahn hubungan profesional/terapeutik anatara perawat dan klien sangat menentukan keberhasilan hasil tindakan yang diharapkan. Disamping itu, hubungan profesional yang baik anatara perawat-klien dapat menghindari, memprediksi, dan mengantisipasi berbagai penyulit yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, berbagai

peran diatas seyogyanya menjadi fokus perhatian perawat ketika menolong klien melewati tahapan dalam hubungan profesionalnya dengan perawat.

6.2.1.7. Faktor penghambat di lakukan ROM aktif

Informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan) dan yang di rasakan kay informan (pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan faktor penghambat latihan ROM aktif adalah pasien dan keluarga takut mengerakan kaki karena takut nyeri dan kaku saat akan mengerakan kaki. Hal ini tidak sejalan dengan hasil observasi di dapatkan sebagian perawat tidak merencanakan latihaan ROM aktif pada pasien post operasi fraktur.

Sedangkan menurut Suddarth dan Brunner (2002) kebanyakan pasien merasa takut untuk bergerak setelah pembedahan ortopedi.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada, terdapat kesamaan antara teori dengan yang terjadi di lapangan bahwasanya tedapat sebagian pasien merasa takut untuk melakuakan ROM aktif dan tidak ada inisiatif dari perawat untuk merencanakan latihan ROM aktif mestipun demikian di harapkan adanya inisiatif dari perawat untuk meninimalkan rasa takut tersebut. 6.2.1.8. Cara mengatasi hambatan.

Informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan) yang menyatakan memberi penjelasan dan memberikan contoh latihan ROM aktif. hal ini tidak sejalan dengan hasil wawancara mendalam dengan

kay informan (pasien post operasi fraktur femur) dan hasil observasi tidak ada upaya perawat dalam menyakinkan pasien dan keluarga untuk latihan ROM untuk meningkatkan mobilisasi pada ekstermitas yang sakit dan tidak melibatkan keluarga dalam perencanakan latihan ROM aktif post operasi fraktur femur.

Sedangkan menurut Suddarth dan Brunner (2002) hubungan terapetik dapat membantu pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang di rancang untuk mempertahankan tingkat mobilisasi fisik. Pasien biasanya mau menerima terhadap peningkatan mobilisasinya bila mereka telah di yakinkan bahwa gerakan masih dalam gerakan terapetik sangat menguntungkan, bahwa bantuan akan di berikan oleh perawat, bahwa keyamanan dapat di control dan sasaran aktivitas dapat di capai.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada, terdapat perbedaan antara teori dengan implementasi di runagan bahwasanya belum ada inisiatif dari perawat untuk memberi penjelasan dan memberikan contoh latihan ROM aktif, mentipun demikian di harapkan perawat meyakinkan pasien bahwa gerakan tersebut memberikan manfaat untuk kesembuhan dan latihan di dampingi perawat sehingga dapat meminimalkan rasa takut pada pasien dan keluarga sehingga tercapai tujuan perawatan

6.3.2. Implementasi ROM fasif post operasi fraktur femur. 6.3.2.1. Implementasi ROM fasif post operasi fraktur femur.

Informasi yang di peroleh dari awancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala

ruangan) yang mengatakan di implementasikan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur sedangkan hasil wawancara mendalam dengan key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang mengatakan tidak ada perawat yang membantu mengerakan kaki klien (ROM pasif). Hal ini di dukung oleh hasil observas Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada dan hasil penelitian terdahulu, terdapat kesamaan antara teori dengan pengetahuan informasi tentang manfaat implementasi ROM pasif adalah untuk memperlancar peredaran darah, Meningkatkan mobilisasi sendi, dan mengurangi rasa nyeri, pada implementasinya belum ada perawat yang memberikan penyuluhan tentang manfaat tersebut, Untuk itu perawat di harapkan untuk mempunyai inisiatif menjelaskan hal tersebut saat akan implementasi ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur.

Sedangkan menurut Suddarth dan Brunner, (2002) pada pasien post operasi, mobilitas pasien dapat terganggu karena nyeri, pembengkakan, Perawat harus membantu pasien dengan lembut menggerakkan (ROM pasif) bagian yang cedera dengan tetap memberikan sokongan yang adekuat.

Sedangkan menurut Saryono, dkk, (2008) perawat membantu pasien pascaoperatif fraktur femur melakukan Latihan ROM pasif dan menganti posisi akan meningkatkan aliran darah ke ekstermitas sehingga stasis berkurang. perawat membantu pasien melakukan latihan ini setiap 2 jam sekali saat klien terjaga.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada, terdapat kesamaan antara teori dengan intervensi perawat melakukan ROM

pasif untuk mencegah komplikasi akibat pembedahan, tedapat perbedaan dengan implementasi di ruangan belum ada perawa yang membentu mengerak-gerakan kaki (ROM pasif) pasien, mestipun demikian di harapakan perawat hendakya benar-benar mengimplementasikan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur di lapangan jangan hanya dalam teori agar perawat benar-benar bisa menjadi mitra pasien.

6.3.2.2. Cara-cara latihan Range of motion pasif

Informasi yang di peroleh dari hasil awancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) di lakukan ROM pasif dengan cara di beri bantuan dari tiap-tiap gerakan menekuk ke bawah, keatas, renggangkan, rapatkan dan di luruskan pada kaki dan jari-jari kaki, hal ini tidak di dukung oleh hasil observasi di dapatkan tidak ada perawat yang membantu dan memberi contoh pada keluarga pasien untuk melakukan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur.

Sedangkan menurut Saryono, dkk, (2008) perawat membantu pasien pascaoperatif fraktur femur melakukan Latihan ROM pasif dengan cara atur posisi pasien terlentang, rotasikan kedua pergelangan kaki membentuk lingkaran penuh, lakukan dorsofleksi dan flantar fleksi secara bergantian pada kedua kaki klien, lanjutkan latihan dengan melakukan fleksi dan ekstensi lutut cecara bergantian mengangkat kedua telapak kaki klien kedua kakinya secara tegak lurus dari permukaan tempat tidur secara bergantian.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada, terdapat persamaan antara teori dengan pengetahuan perawat bahwasanya cara latihan ROM pasif adalah di Bantu dari tiap-tiap gerakanya. Pada implementasi di ruangan belum ada perawat yang melakukan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur, mestipun demikian diharapkan perawat benar-benar berperan aktif dalam implementrasi ROM pasif.

6.3.2.3. Tujuan latihan Range of motion pasif

Informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan tujuan latihan ROM pasif adalah mempercepat proses penyembuhan, memperlancar sirkulasi darah, mempertahankan kekuatan otot dan mencegah kelainan bentuk. Dari hasil observasi masih di dapatkan belum ada perawat yang menjelaskan tujuan latihan ROM pada keluarga pasien dan pasien post operasi fraktur femur.

Sedangkan menurut Saryono, dkk (2008) latihan ROM pasif dan mengganti posisi akan meningkatkan aliran darah ke ekstermitas, mencegah stasis vena, kontraksi otot kaki bagian bawah akan meningkatkan aliran balik vena sehingga mempersulit terbentuknya bekuan darah.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori terdapat perbedaan dengan implementasi di lapangan bahwasanya belum ada perawat yang menjelaskan tujuan latihan ROM pasif pada pasien dan keluaga, impormasi yang di peroleh hanya sebantas mengetahui dan tidak di implementasikan. Malupun

demikian di harapkan perawat menjalankan fungsi dan peran sebagai pemberi asuhan keperawatan yang propesional.

6.3.2.4. Manfaat latihan Range of motion pasif

informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan manfaat ROM pasif adalah mempercepat proses penyembuhan, memperlancar sirkulasi darah, mempertahankan kekuatan otot dan mencegah kelainan bentuk. Hal ini di dukung oleh hasil observasi di dapatkan dari 3 pasien ada 2 pasien yang melakukan ROM pasien di dapatkan ujung-ujung jarinya berwarna normal dan 1 pasien yang tidak melakukan ROM pasif ujung-ujung jarinya berwarna pucat.

Sedangkan menurut Saryono, dkk (2008) manfaat implementasi ROM post operasi fraktur femur ialah mempertahankan mobilitas sendi, mencegah kontraktur, meningkatkan keyamanan dan memperbaiki fungsi tubuh dari injuri.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada dan hasil penelitian terdahulu, terdapat kesamaan antara teori dengan pengetahuan informasi tentang manfaat implementasi ROM pasif adalah untuk memperlancar peredaran darah, Meningkatkan mobilisasi sendi, dan mengurangi rasa nyeri, pada implementasinya belum ada perawat yang memberikan penyuluhan tentang manfaat tersebut, Untuk itu perawat di harapkan untuk mempunyai inisiatif menjelaskan hal tersebut saat akan implementasi ROM aktif pada pasien post operasi fraktur femur.

6.3.2.5. Faktor pendukung di lakukan ROM pasif

Informasi yang di peroleh dari hasil wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan informasi dari informan (perawat pelaksana) dan key informan (kepala ruangan) yang menyatakan faktor pendukung latihan ROM aktif adalah perawat selalu siap membantu melakukan latihan ROM pasif dan kemauan keluaga pasien untuk melakukan ROM pasif, sedangkan menurut kay informan (pasien post operasi fraktur femur) bahwasanya adanya perawat yang baik di ruangan ROW. Hal ini didukung oleh hasil observasi di dapatkan adaya sikap yang bersahabat antara perawat dengan pasien dan adaya SOP di ruangan yang mendukung untuk di implementasiaknya ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur.

6.3.2.6. Faktor penghambat di lakukan ROM pasif

Informasi yang di peroleh dari awancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan informasi dari informan (perawat pelaksana) dan key informan (kepala ruangan) mengatakan hambatan datang dari pasien takut mengerakan kaki dan keluarga pasien yang tidak membantu pasien latihan ROM, hasil wawancara mendalam dengan key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan adanya rasa takut sakit saat akan melakukan ROM pasif. Hal ini tidak sejalan dengan hasil observasi di dapatkan tidak ada perawat yang merencanakan latihaan ROM pasif

pada pasien post operasi fraktur femur dan di dapatkan adanya keluarga pasien yang membantu klien latihan ROM.

Sedangkan menurut Suddarth dan Brunner (2002) kebanyakan pasien merasa takut untuk bergerak setelah pembedahan ortopedi.

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti peroleh di bandingkan dengan teori yang ada, terdapat kesamaan antara teori dengan yang terjadi di lapangan bahwasanya tedapat sebagian pasien merasa takut untuk melakuakan ROM aktif dan tidak ada inisiatif dari perawat untuk merencanakan latihan ROM pasif mestipun demikian di harapkan adanya inisiatif dari perawat untuk meninimalkan rasa takut tersebut. 6.3.2.7. Cara mengatasi hambatan.

Informasi yang di peroleh dari beberapa petikan wawancara mendalam dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan) yang menyatakan memberi penjelasan dan membantu pasien melakukan latihan ROM. hal ini tidak sejalan dengan hasil wawancara mendalam dengan kay informan (pasien post operasi fraktur femur) yang mengatakan di bantu dan di jelaskan oleh tenaga medis lain (dokter), hal ini sejalan dengan hasil

Dalam dokumen PENELITIAN KUALITATIF KEPERAWATAN (Halaman 57-73)

Dokumen terkait