HASIL PENELITIAN
4.5. Pembahasan Hasil Penelitian
Subyek pada penelitian ini adalah penderita TB Paru dengan pemeriksaan BTA nya adalah + (positif) yang belum pernah diobati dengan pengobatan OAT sebelumnya. Sampel sebanyak 80 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 40 orang yaitu kelompok perlakuan dimana pada kelompok ini subyek mendapat pengobatan OAT kategori I ditambah dengan pemberian suplemen zink dan kelompok kontrol dimana kelompok ini subyek hanya mendapat pengobatan OAT kategori I tanpa pemberian suplemen zink.
Hasil penelitian ini mengelompokkan umur berdasarkan umur muda yaitu 18-45 tahun dan umur tua > 45 tahun dimana didapat umur terbanyak pada keseluruhan sampel adalah pada kelompok umur 18-45 tahun yaitu sebanyak 48 orang (60%), dimana didapat pada kelompok perlakuan sebanyak 25 orang (62,5%) dan pada kelompok kontrol sebanyak 23 orang (57,5%). Menurut laporan WHO di Indonesia persentase kelompok umur penderita TB paru kasus baru BTA (+) pada segala umur terbanyak adalah umur 15-44 tahun sebesar 58,45%.
Proporsi berdasarkan umur secara global di seluruh dunia juga didapatkan hampir sama dengan Indonesia (WHO 2012). Hal ini diketahui bahwa kelompok umur produktif sangat rentan terkena penularan penyakit TB Paru, dimana pada usia produktif ini tingkat mobilitas sangat tinggi dan sering berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya.
40
Hasil penelitian ini menunjukkan distribusi subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin mayoritas laki-laki sebanyak 52 orang (65%) dan perempuan sebanyak 28 orang (35%). Untuk kelompok perlakuan laki-laki sebanyak 27 orang (67,5 %), perempuan 13 orang (32,5%) dan untuk kelompok kontrol laki-laki sebanyak 25 orang (62,5 %), perempuan 15 orang (37,5%). Hal ini sesuai dengan laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2010) bahwa status kesehatan masyarakat berbasis gender dari hasil survey kesehatan masyarakat, proporsi laki-laki (57%) lebih banyak dari perempuan (43%). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Blanquer et al pada tahun 2015 di Spanyol yang menunjukkan bahwa penderita TB Paru lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan (65% : 35%). Hal ini diketahui bahwa laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah yang lebih sering beraktifitas diluar rumah lebih rentan terhadap penularan penyakit TB Paru.
Distribusi berdasarkan pemeriksaan BTA dikelompokkan pada 1+, 2+, 3+.
Pada kelompok perlakuan mayoritas hasil pemeriksaan BTA adalah 1+ yaitu sebanyak 24 orang (60%), diikuti BTA 2+ sebanyak 14 orang (35%) dan BTA 3+
sebanyak 2 orang (5%). Untuk kelompok kontrol mayoritas hasil pemeriksaan BTA pasien adalah 1+ yaitu sebanyak 29 orang (72,5%), diikuti BTA 2+
sebanyak 10 orang (25%) dan BTA 3+ sebanyak 1 orang (2,5%). Pada penelitian ini didapati baik kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol sampel terbanyak adalah TB paru dengan pemeriksaan BTA 1+
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan (pemberian suplemen zink) hasil konversi BTA dari BTA (+) menjadi BTA (-) didapatkan mayoritas hasil konversi BTA adalah pada minggu ke-2 yaitu sebanyak 29 orang (72,5%), minggu ke-4 sebanyak 11 orang, sedangkan pada kelompok kontrol (tanpa pemberian suplemen zink) mayoritas hasil konversi BTA pada minggu ke-6 yaitu sebanyak 25 orang (62,5%), minggu ke-4 sebanyak 8 orang (20%) dan pada minggu ke-8 sebanyak 7 orang (17,5%). Hasil penelitian membuktikan bahwa pasien yang diberi suplemen zink lebih cepat mengalami konversi BTA pada pasien TB Paru BTA (+) jika dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapat pengobatan OAT kategori I. Hasil uji statistik dengan
41
menggunakan uji mann-whitney diperoleh nilai p sebesar < 0,001 yang masih dibawah nilai tingkat kemaknaan alpha sebesar 0,05, artinya ada pengaruh pemberian zink terhadap konversi BTA pada pasien TB Paru BTA (+) dengan pengobatan OAT kategori I di Kecamatan Delitua. Dengan semakin cepatnya terjadi konversi BTA dari pasien BTA (+) menjadi BTA (-) maka tingkat penularan semakin berkurang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian ysng dilakukan Utami (2012) dimana suplemen zink dapat memperbaiki keefektifan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam 2 bulan pertama (fase intensif) dan menghasilkan konversi BTA yang lebih awal disertai peningkatan berat badan.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Karyadi Elvina (2002) bahwa pemberian suplemen zink (zink sulfate) 15 mg setiap hari dan membandingkan dengan kontrol placebo, pemeriksaan klinis terhadap status mikronutrien sebelum dan sesudah 2 bulan dan menghasilkan konversi sputum lebih cepat. Selain itu dikatakan juga penambahan suplemen zink pada pasien TB Paru menunjukkan peningkatan fungsi imun.
Hasil penelitian Cuevas mempelajari pengaruh zink pada respon tuberkulin dari 98 anak-anak dan TB dewasa dengan BTA positif. Mereka menemukan proporsi yang lebih tinggi dari anak-anak sebagai PPD positif pada kelompok zink ditambah (57,1%) dibandingkan pada kelompok plasebo (53,1%).
Hal ini menjelaskan bahwa suplementasi zink bisa bekerja dengan memperbaiki kekurangan zink tanpa gejala atau marjinal atau sebagai booster non-spesifik kekebalan terlepas dari kekurangan zink.(Cuevas, 2002)
Penelitian ini juga ingin mengetahui apakah ada perbedaan berat badan pasien sebelum dan sesudah pemberian Zink pada minggu ke-2, minggu ke-4, minggu ke-6 dan minggu ke-8 dengan pengobatan OAT kategori I. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji friedman diperoleh nilai p sebesar < 0,001 yang masih lebih kecil dari nilai alpha sebesar 0,05, artinya ada pengaruh yang signifikan pemberian Zink dengan pengobatan OAT Kategori I terhadap kenaikan berat badan pasien penderita TB paru BTA (+) pada kelompok perlakuan. Hal ini menjelaskan bahwa setelah diberi suplemen Zink dengan pengobatan OAT Kategori I ternyata berat badan pasien bertambah.
42
Penelitian ini juga ingin mengetahui apakah ada perbedaan berat badan pasien sebelum dan sesudah diberi pengobatan OAT kategori I (pada kelompok kontrol) pada minggu ke-2, minggu ke-4, minggu ke-6 dan minggu ke-8 tanpa penambahan suplemen Zink. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji friedman diperoleh nilai p sebesar < 0,001 yang masih lebih kecil dari nilai alpha sebesar 0,05, artinya ada pengaruh yang signifikan dengan pengobatan OAT Kategori I terhadap kenaikan berat badan pasien penderita TB paru BTA (+) pada kelompok kontrol yaitu pasien yang hanya dengan pengobatan OAT kategori I tanpa pemberian suplemen Zink. Hal ini menjelaskan bahwa setelah diberi pengobatan OAT Kategori I tanpa tambahan suplemen Zink ternyata berat badan pasien bertambah.
Pada penelitian ini terjadi kenaikan berat badan pada kedua kelompok, baik kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol. Pada kelompok perlakuan kenaikan berat badan sudah terlihat pada minggu kedua antara 0,2-0,6 kg dan rata-rata kenaikan berat badan pada kelompok perlakuan sampai pada minggu ke-8 sebesar 2,1-3,2 kg, sedangkan pada kelompok kontrol pada minggu kedua belum terlihat kenaikan berat badan dan sampai minggu ke-8 kenaikan berat badan sebesar 0,6-2,1 kg. Dari hal ini didapati bahwa kenaikan berat badan pada kelompok perlakuan lebih cepat dan lebih besar dari kelompok kontrol.
Penderita TB paru umumnya mengalami penurunan berat badan akibat asupan makanan rendah yang dipicu oleh selera makan menurun. Sitokin-sitokin proinflammatory yang disekresi sel-sel imun sebagai respon imunitas terhadap infeksi bakteri TB, diduga menjadi penyebab perubahan metabolisme yang sering menimbulkan terjadinya kekurangan energi kronis. Suatu studi di Amerika pada sejumlah pasien yang didiagnosa menderita tuberkulosis, menunjukkan 45 persen mengalami kehilangan berat badan dan 26 persen anoreksia. Kekurangan energi-protein, berkaitan dengan menurunnya imunitas tubuh (immune suppression) terutama fungsi sel T (Suparman dkk, 2011).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian ysng dilakukan Utami (2012) dimana suplemen zink dapat memperbaiki keefektifan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam 2 bulan pertama (fase intensif) dan menghasilkan konversi BTA yang lebih awal disertai peningkatan berat badan
43
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Suparman (2011) yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh langsung pemberian suplemen sinbiotik dan zat gizi mikro (vitamin A dan Zink) terhadap kenaikan berat badan (p> 0,05), tetapi pemberian suplemen protein berbasis susu pada kedua kelompok cukup efektif meningkatkan berat badan.
BAB V