Pengamatan Evaluasi
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Berbicara merupakan keterampilan dalam menyampaikan pesan yang dilakukan secara lisan. Rofi’uddin (1998: 13) mengatakan bahwa berbicara merupakan keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan secara lisan. Selanjutnya, (Tarigan, 1883: 12) Salah satu keterampilan berbicara adalah keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atas kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Berdasrkan dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan
Adapun keefektifan berbicara adalah sebagai berikut: a. Ketepatan pengucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perahatian pendengar. Sudah tentu pola ucapan dan artikulasi yang digunakan tidak selalu sama. Setiap orang mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang dipakai berubah-ubah sesuai dengan pokok
pembicaraan, perasaan, dan sasaran. Akan tetapi kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok, dan menyimpang, maka keefektifan komunikasi akan terganggu.
Setiap penutur tentu sangat dipengaruhi oleh bahasa ibunya. Misalnya, pengucapan kan untuk akhiran -kan yang kurang tepat, memasukkan. Memang kita belum memiliki lafal baku, namun sebaiknya ucapan kita jangan terlalu diwarnai oleh bahasa daerah, sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar. Demikian juga halnya dengan pengucapan tiap suku kata. Tidak jarang kita dengar orang mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku katanya.
Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik sehingga
dapat mengalihkan perhatian pendengar, mengganggu komunikasi, atau pemakainya dianggap aneh (Maidar dan Mukti, 1991).
b. Ketepatan intonasi
Kesesuaian intonasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara dan merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan intonasi yang sesuai dengan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara berkurang.
Demikian juga halnya dalam pemberian intonasi pada kata atau suku kata. Tekanan suara yang biasanya jatuh pada suku kata terakhir atau suku kata kedua dari belakang, kemudian ditempatkan pada suku kata pertama. Misalnya kata
peyanggah, pemberani, kesempatan, diberi tekanan pada pe-, pem-, ke-, tentu
kedengarannya janggal. d. Pilihan kata (diksi)
Pilihan kata (diksi) hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar. Misalnya, kata-kata populer tentu
akan lebih efektif daripada kata-kata yang muluk-muluk dan kata-kata yang berasal dari bahasa asing. Kata-kata yang belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun menghambat kelancaran komunikasi. Pilihan kata itu tentu harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan dan dengan siapa kita berbicara (pendengar).
e. Kelancaran
Seorang pembicara yang lancar berbicara memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Seringkali kita dengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang sangat mengganggu penangkapan pendengar, misalnya menyelipkan bunyi ee, oo, aa, dan sebagainya. Sebaliknya, pembicara yang terlalu cepat berbicara juga menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicarannya.
Kemampuan yang dimiliki manusia merupakan bekal yang sangat pokok. Kemampuan ini telah berkembang selama berabad-abad yang lalu untuk memperkaya diri dan untuk mencapai perkembangan kebudayaan yang lebih tinggi. Misalnya para ilmuan berusaha terus menemukan sumber-sumber energy yang baru, dengan menemukan hasil penemuan ilmiah yang digali oleh generasi terdahulu terjadi karena manusia dibekali berbagai akal kemampuan.
Peningkatan nilai rata-rata siswa dari siklus I ke siklus II ini terjadi akibat adanya perbaikan pada siklus dua , yakni memperlihatkan video berita. Kegiatan mengemukakan pendapat terlihat lebih aktif dan menyenangkan bagi siswa dengan adanya ekspresi ejaan dan tanda baca, penggunaan bahasa baku dan volume suara yang membuat siswa lebih berani dan percaya diri dalam mengemukakan pendapatnya.
Berdasarkan rekapitulasi data hasil tes kemampuan mengemukakan pendapat dari siklus I ke siklus II meningkat hal ini dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan pendapat siswa pada setiap aspek penilaian keterampilan mengemukakan pendapat. Pada aspek kesesuaian pengucapan keterampilan siswa
meningkat 34%, aspek kejelasan isi berita meningkat sebesar 68%, aspek pemilihan kata meningkat 48%, selanjutnya aspek ejaan dan tanda baca mengalami peningkatan sebanyak 65%, aspek penggunaan bahasa baku meningkat sebesar 51%, aspek struktur kalimat 37%, dan aspek volume suara meningkat sebesar 10%. Jadi secara keseluruhan keterampilan mengemukakan pendapat siswa mengalami peningkatan 44% dari 69% dari siklus I menjadi 82% pada siklus II.
Berdasarkan hasil wawancara siswa merasakan manfaat yang besar dari pembelajaran kemampuan mengemukakan pendapat siswa dengan menggunakan media Video Liputan 6 SCTV, manfaat yang diperoleh ini antara lain siswa mendapatkan berbagai pengalaman ilmu pengetahuan maupun suasana baru pembelajaran. Hubungan siswa dengan siswa, maupun siswa dengan guru terjalin semakin akrab siswa melatih diri untuk berbicara dengan baik didepan umum secara formal. Mereka saling menghargai pendapat temannya dan memberikan gagasan masing-masing dalam mengemukakan pendapat dan tidak bergantung kepada siswa lain. Siswa saling member masukan atau pendapat dengan memperhatikan aspek penilaian yang terdiri atas kesesuaian pengucapan, kejelasan isi berita, pemilihan kata, ejaan dan tanda baca, penggunaan bahasa baku, struktur kalimat, dan volume suara. Penelitian tindakan kelas ini mampu menunjukan peningkatan nilai rata-rata yang diperoleh siswa. Dari nilai 69 (siklus I) menjadi 82 (siklus II) dengan persentase 44%, oleh karena itu penelitian ini di anggap berhasil dan tidak diulang pada siklus berikutnya.
Berdasarkan penelitian ini terdapat persamaan dengan penelitian Yunita Rika (2015) dengan penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Media Audio Visual Terhadap Kemampuan Menulis Teks Berita oleh Siswa Kelas VII SMP
PGRI Percut Sei Suan Tahun Pembelajaran 2012/2013”, menjelaskan bahwa
penelitian ini memanfaatkan salah satu jenis media pembelajaran yang dapat
digunakan dalam pembelajaran adalah tayangan televisi “Liputan 6 SCTV”. Guru
dapat menggunakan berita yang terdapat dalam program tersebut sebagai pengantar pembelajaran, yaitu dengan cara mengunduh videonya dari internet dan menampilkannya di kelas melalui LCD/Proyektor. Dalam proses belajar mengajar, media memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai penyalur pesan. Pada dasarnya, televisi termasuk media yang sifatnya audiovisual, yaitu: perpaduan antara suara dan gambar secara bersamaan bila dilihat dan didengar. Media audiovisual dianggap lebih baik dan menarik perhatian karena mengandung
kedua unsur tersebut. mengguanakan Tayangan televisi “Liputan 6 SCTV”
tergolong ke dalam media audiovisual yang merupakan perpaduan antara media suara (audio) dan media gambar (visual) yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajarannya dan dapat digunakan untuk merangsang daya imajinasi siswa sehingga siswa dengan mudah menuangkan gagasan/idenya. Siswa diupayakan mampu merelevansi pengetahuan-pengetahuan yang ada dengan pengalaman yang dilihat dan yang dirasakannya. Terlebih lagi dengan adanya penggunaan media berupa tayangan ini, siswa akan lebih banyak memperoleh argumen-argumen (mendukung/menentang) suatu permaslahan, Hal ini sangat membantu siswa dalam belajar mengemukakan pendapat
94
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media Video Liputran 6 SCTV, secara keseluruhan keterampilan mengemukakan pendapat siswa mengalami peningkatan sebanyak 44% dari nilai rata-rata 69 pada siklus I dengan kualifikasi kurang meningkat menjadi nilai rata-rata 82 dengan kualifikasi tinggi pada siklus II. Pada aspek kesesuaian pengucapan keterampilan siswa meningkat sebesar 34%, aspek kejelasan isi berita meningkat sebesar 68%, aspek pemilihan kata meningkat sebesar 48%, selanjutnya aspek ejaan dan tanda baca mengalami peningkatan sebesar 65%, aspek penggunaan bahasa baku meningkat sebesar 51%, aspek struktur kalimat 37%, dan aspek volume suara meningkat sebesar 10%. Jadi, secara keseluruhan keterampilan mengemukakan pendapat siswa mengalami peningkatan 44% dari 69% dari siklus I menjadi 82% pada siklus II.
B. Saran
Dari hasil penelitian tersebut maka peneliti menyarankan :
1. Kepada siswa, hendaknya terus berlatih meningkatkan keterampilan berbicara mengingat pentingnya peranan keterampilan berbicara dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kepada guru bahasa Indonesia, kiranya dapat menggunakan media Video Liputan 6 SCTV sebagai media pembelajaran, karena metode ini terbukti dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa.
3. Kepada peneliti lanjut, agar kiranya meneliti mengguanakan media audio visual dalam penerapannya diberbagai sub pelajaran.
4. Kepada pihak yang berwenang dalam bidang pendidikan kiranya dapat mengupayakan kelengkapan sarana mengajar terutama dalam mengajar materi pembelajaran bahasa Indonesia khususnya.
96
Ahmadi, Abu dan Umar, M. 1992. Psikologi Umum (Edisi Revisi). Surabaya: PT Bina Ilmu.
Anderson, Ronald, H. 1994. Pemilihan dan Pengembangan Media Video Pembelajaran. Jakarta: Grafindo Pers.
Arikunto,Suharsimi. 2010. Strategi Pembelajaran; Aplikasi Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara
Arsyad, Azhar. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Badudu, JS. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Depdiknas. 2004. Petunjuk Proses Pelaksanaan Belajar Mengajar.Bandung: BPG Jawa Barat.
Didik. 2007. Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Dongeng dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas I SDN. (Online)
https://fkippgsd.wordpress.com/2012/06/11/peningkatan-kemampuan- berbicara-melalui-dongeng-dalam-pembelajaran-bahasa-indonesia-siswa-kelas-i-sdn-2/. Diakses 11 juni 2012.
Djamarah, Syaiful B dan Zain, Aswan. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasan Fadli. 2009. minat siswa SMA Negeri 12 Pekanbaru kecamatan tampan dalam
menonton beritadi televisi. (online), Vol: 5, No.1.
Ibrahim et.al. 2001. Peranan Guru dalam Pengembangan Media Pembelajaran. (online), http=//idhedefina.blogspot.co.id/?m=1. Diakses 19 November 2012. Isjoni, dkk.2008. pembelajaran Virtual Perpaduan Indonesia-Malaysia.Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Jaicko. 2013. Pengaruh Penggunaan Media Video Terhadap Minat Belajar
Membatik Siswa. http://id.wikipedia.org/wiki/video. diakses tanggal 2 Januari
2017.
Mahirjanto, Bambang. 1995. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Bintang Ilmu.
Maidar, Arsjad, G. dan Mukti. 1991. Pembinaan kemampuan Berbicara Bahasa
Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Mukhlis. 1993. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3 Modul 1-9. Jakarta: Universitas Terbuka.
Munadi, Yudi. 2008. Media Pembelajarn. Jakarta: Gaung Persada Press.
Nana, Ahmad . 2015. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Nurhasnah. . 2007. Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Dongeng dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas I SDN. (Online)
https://fkippgsd.wordpress.com/2012/06/11/peningkatan-kemampuan- berbicara-melalui-dongeng-dalam-pembelajaran-bahasa-indonesia-siswa-kelas-i-sdn-2/. Diakses 11 juni 2012.
Poerwadarminta. 2007. Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Dongeng dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas I SDN. (Online)
https://fkippgsd.wordpress.com/2012/06/11/peningkatan-kemampuan- berbicara-melalui-dongeng-dalam-pembelajaran-bahasa-indonesia-siswa-kelas-i-sdn-2/. Diakses 11 juni 2012.
Purwanti Ningsih dan Sutijono. 2010. Penerapan Strategi Modeling Partisipan untuk
Meningkatkan Kemampuan Mengungkapkan Pendapat. Surabaya: UNESA.
Rofi’uddin, Ahmad & Zuhdi, Darmiati. 1998. Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Kelas Tinggi. Depdikbud.
Sadiman, arief. 1993. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta: Grafindo Pers.
Setyosari, Punaji & Sihkabuden. 2005. Media Pembelajaran. Malang: Elang Mas.
Seels, B.B. & Glasgow, Z. 1990. Exercises In Instructional Design. Colombus: Merril Publishing Company.
Sukmadinata, N.S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Remaja Rosda Karya.
Susilo, Gunawan. 2011.Video Sebagai Media Pembelajaran Seni. (Online) http://gunawansusilo.blogspot.com /video. Diakses 2 Januari 2017.
Syah, Muhibbin. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda Karya.
Tarigan, Hendry Guntur. 1983. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Umar, dan Kaco. 2008. Penelitian Tindak Kelas; kedalam pemahaman konsep dan
Aplikasi. Makassar: Badan Penerbit UNM.
Wawan Setia Wardani. 2013. Penggunaan Media Audio Visual Video pada
Berbicara. (online). Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sasatra Indonesia
https://scholar.google.co.id/scholar?start=10&q=jenis+penelitian+PTK+pafda +pembelajaran+Bahasa+Indonesia&hl=id&as_sdt=0,5. 23 Desember 2016. Woodworth, Marquis. 2007. Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Dongeng
dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas I SDN. (Online)
https://fkippgsd.wordpress.com/2012/06/11/peningkatan-kemampuan- berbicara-melalui-dongeng-dalam-pembelajaran-bahasa-indonesia-siswa-kelas-i-sdn-2/. Diakses 11 juni 2012.
Yunita, Rika. 2015. Pengaruh Tayangan Televisi Liputan 6 SCTV Terhadap
Kemampuan Menulis Teks Diskusi Oleh Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Lubuk Pakam Tahun Pembelajaran 2014/2015. Jurnal Jurusan Bahasa dan
Sastra Indonesia (online), http://digilib.unimed.ac.id/15497/. Diakses 2 September 2016.
No Komponen yang diamati Persentase (%)
I II III IV
1 Banyaknya siswa yang hadir pada saat pembelajaran
28 29 29 T E S S I K L U S II 98,85 %