CSRDI= 0,031 + 0,045 UDK 026 KSP 053 KI
4. Pembahasan Hasil Statistik
Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa secara simultan, variabel ukuran dewan komisaris, kepemilikan saham publik dan kepemilikan institusional secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial sebesar 13,7% (Adjusted ). Sisanya sebesar 86,3% dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel yang digunakan. Tingkat Adjusted yang rendah ini menunjukkan perlunya dilakukan penelitian lanjutan dengan menambah variabel lain sebagai penduga pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Walaupun demikian apabila dilihat dari signifikansinya dengan nilai F hitung 2,535 yang lebih kecil dari F tabel (2,535 < 2,934) dan p = 0,079 ( p 0,079 > 0,05).
Hasil pengujian secara parsial ditemukan bahwa satu variabel independen yaitu ukuran dewan komisaris berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, sedangkan dua variabel lainnya yaitu kepemilikan saham publik dan kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh signifikan. Pembahasan terhadap masing-masing variabel dalm pengujian secara parsial akan dibahas berikut ini.
a. Ukuran Dewan komisaris
Dewan Komisaris sebagai organ perusahaan bertugas dan bertanggung jawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi serta memastikan bahwa perusahaan melaksanakan GCG (KNKG, 2006). Berdasarkan teori agensi, dewan komisaris dianggap sebagai mekanisme pengendalian intern tertinggi, yang bertanggung jawab untuk memonitor tindakan manajemen puncak. Dikaitkan dengan pengungkapan informasi oleh perusahaan, kebanyakan penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara berbagai karakteristik dewan komisaris dengan tingkat pengungkapan informasi oleh perusahaan (Sulastini, 2007).
Semakin besar jumlah anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan maka tekanan terhadap manajemen juga semakin besar untuk semakin luas perusahaan tersebut melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial. Berdasarkan penelitian ini, melalui analisis uji t, ukuran dewan komisaris yang diproksi dengan jumlah anggota dewan komisaris menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dengan nilai t 2.737 (t > 1,699) dan p = 0,011 ( p 0,011 < 0,05). Hal ini berarti semakin besar jumlah anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan maka semakin luas perusahaan tersebut melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial.
Hal ini sesuai dengan teori agensi dan pendapat Coller dan Gregory (1999) dalam Sembiring (2006) semakin besar jumlah anggota dewan komisaris, semakin mudah untuk mengendalikan Chief Executives Officer (CEO) dan semakin efektif dalam memonitor aktivitas manajemen. Hasil penelitian ini juga berhasil
mendukung hasil penelitian Sembiring (2005) dan Sitepu (2010) yang menemukan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Sembiring (2005) menemukan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dengan nilai thitung sebesar 2,544 dan nilai signifikansi 0,012 < 0,05. Sitepu (2010) menemukan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dengan nilai t hitung sebesar 2,0395 dan nilai signifikansi 0,045 < 0,05.
b. Kepemilikan Saham Publik
Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi kepentingannya sendiri, tapi juga harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya (pemegang saham, kreditor, supplier, konsumen, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain). Publik sebagai salah satu stakeholder juga wajib mengetahui tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Sebagai salah satu stakeholder, peran publik sebagai pemegang saham bisa menjadi salah satu dorongan perusahaan untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan. Semakin besar kepemilikan saham oleh publik dalam suatu perusahaan, maka semakin besar pula tanggung jawab perusahaan untuk mengungkapkan tanggung jawab sosialnya (Marpaung, 2009).
Hasibuan (2001) menyatakan bahwa rasio kepemilikan publik yang tinggi diprediksikan akan melakukan tingkat pengungkapan sosial yang lebih, hal ini
dikaitkan dengan tekanan dari pemegang saham, agar perusahaan lebih memperhatikan tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Dikaitkan dengan pengungkapan tanggung jawab sosial, semakin tingginya rasio kepemilikan saham yang dimiliki masyarakat umum pada suatu perusahaan maka masyarakat yang berperan sebagai pemegang saham akan menekan pihak perusahaan agar perusahaan lebih memperhatikan tanggung jawabnya terhadap masyarakat.
Berdasarkan penelitian ini, melalui analisis uji t, kepemilikan saham publik yang diproksi dengan rasio kepemilikan saham publik tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dengan nilai t = -0,128 (t < 1,699) dan p = 0,899 ( p 0,899 > 0,05). Hal ini berarti tinggi rendahnya rasio kepemilikan saham pubik pada suatu perusahaan tidak mempengaruhi luaas pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Marpaung (2009) yang menemukan kepemilikan saham publik tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial pada laporan tahunan. Marpaung (2009) menemukan kepemilikan saham publik tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial pada laporan tahunan dengan nilai t hitung sebesar 1,258 dan signifikansi sebesar 0,217 > 0,05.
c. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional dapat menjadi pendorong perusahaan untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial (Novita dan Djakman, 2008). Semakin besar kepemilikan institusional pada suatu perusahaan diharapkan pihak institusional dapat bertindak sebagai monitor pencegahan terhadap pemborosan
yang dilakukan oleh manajemen juga diharapkan membuat semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan. kepemilikan institusional dapat menjadi pendorong perusahaan untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial (Novita dan Djakman, 2008). Kepemilikan institusional umumnya dapat bertindak sebagai pihak yang memonitor perusahaan. Hal ini berarti kepemilikan institusi dapat menjadi pendorong perusahaan untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial. Dikaitkan dengan pengungkapan tanggung jawab sosial, semakin tingginya rasio kepemilikan institusi pada suatu perusahaan maka masyarakat yang berperan sebagai pihak yang akan memonitor pihak manajemen perusahaan dan mendorong untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial.
Berdasarkan penelitian ini, melalui analisis uji t, kepemilikan institusional yang diproksi dengan rasio kepemilikan institusional tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dengan nilai t = -0,340 (t < 1,669) dan p = 0, 736 ( p 0,736 > 0,05). Hal ini berarti tinggi rendahnya rasio kepemilikan institusional pada suatu perusahaan tidak mempengaruhi luas pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hasil penelitian ini juga berhasil mendukung hasil penelitian Novita dan Djakman (2008) dan Nurkhin (2009) yang menemukan hasil yang sama dan menyatakan hasil tersebut di atas mencerminkan bahwa kepemilikan institusi yang terdiri dari perusahaan perbankan, asuransi, dan dana pensiun di Indonesia belum mempertimbangkan tanggung jawab sosial sebagai salah satu kriteria dalam melakukan investasi, sehingga para investor institusi ini juga cenderung tidak
menekan perusahaan untuk mengungkapan CSR secara detail (menggunakan indikator GRI) dalam laporan tahunan perusahaan.
BAB V