BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Data
3. Pembahasan Hasil Tanggapan Responden terhadap
implementasi metode sorogan modified dengan kemampuan membaca kitab kuning. Peneliti mengolah data dengan perhitungan presentase, Untuk lebih jelasnya peneliti menguraikan hasil angket ke dalam tabel 4.10 sampai 4.39 dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
P = Presentase yang di cari F = Frekuensi
N = Number of Cases (banyak individu)
Tabel 4.10
Ustadz membuka pelajaran dengan membaca do’a
No. Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
1 Selalu 26 52% Sering 13 26% Kadang-kadang 11 22% Tidak Pernah - - Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa Ustadz membuka pembelajara selalu dengan membaca do’a. Responden yang
menjawab Ustadz selalu membuka pembelajaran dengan membaca do’a
sebanya 52% dan responden yang menjawab tidak pernah tidak ada.
Tabel 4.11
Santri tepat waktu masuk kelas
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
2 Selalu 3 6%
P
= F60
Sering 21 42%
Kadang-kadang 26 52%
Tidak Pernah - -
Jumlah (N) 50 100%
Tabel tersebut menunjukan bahwa mayoritas responden menjawab kadang-kadang tepat waktu masuk kelas dengan perolehan presentase (52%). Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar santri terkadang masuk kelas tepat pada waktunya.
Tabel 4.12
Implementasi metode sorogan modified menjadikan santri
menelaah kitab kuning di kamar
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
3 Selalu 4 8% Sering 14 28% Kadang-kadang 31 62% Tidak Pernah 1 2% Jumlah (N) 50 100%
Dengan melihat tabel di atas, implementasi metode sorogan
modified terkadang membuat santri ingin menelaah kitab kuning di kamar sebelum pembelajaran kitab kuning berlangsung. Hal tersebut terlihat dengan presentase 62% untuk jawaban kadang-kadang. 14 orang (28%) menjawab sering menelaah kitab kuning di kamar sebelum pembelajaran kitab kuning berlangsung. 1 orang (2%) menjawab tidak pernah menelaah kitab kuning di kamar sebelum pembelajaran kitab kuning berlangsung.
Tabel 4.13
Metode sorogan modified mempersulit santri untuk
membaca kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
Sering 6 12%
Kadang-kadang 14 28%
Tidak Pernah 25 50%
Jumlah (N) 50 104
Metode sorogan modified yang digunakan Pesantren Luhur Sabilussalam Ciputat, mempermudah santri untuk membaca kitab kuning hal tersebut terlihat dari jumlah presentase 50% untuk pernyataan metode sorogan modified mempersulit santri untuk membaaca kitab kuning.
Tabel 4.14
Memperhatikan santri lain ketika membaca dan
mengartikan kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
5 Selalu 23 46% Sering 21 42% Kadang-kadang 5 10% Tidak Pernah 1 2% Jumlah (N) 50 100%
Dari tabel di atas diketahui bahwa terdapat (2%) santri yang
menjawab “tidak pernah” memperhatikan santri lain ketika membaca dan
mengartikan kitab kuning, sedikit responden yang menjawab “kadang-
kadang”, hampir setengah (46%) dari respoden menjawab “selalu”. Hal ini
menunjukan bahwa mayoritas santri memperhatikan santri lain ketika sedang membaca dan mengartikan kitab kuning dalam proses pembelajaran.
Tabel 4.15
Implementasi metode sorogan modified disenangi oleh santri
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
6 Selalu 14 28%
62
Kadang-kadang 11 22%
Tidak Pernah 1 2%
Jumlah (N) 50 100%
Dengan melihat tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian
santri (48%) menjawab “sering”. Hal tersebut merupakan wujud bahwa
santri senang pada metode sorogan modified, dan terdapat (2%) santri yang tidak menyenangi metode sorogan modified.
Tabel 4.16
Santri yang tidak pernah bolos di Pesantren Sabilussalam
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
7 Selalu 2 4% Sering 32 64% Kadang-kadang 14 28% Tidak Pernah 2 4% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa lebih dari
setengah (64%) santri menjawab “sering” sedikit (4%) responden
menjawab “tidak pernah”. Hal ini menunjukan bahwa hampir mayoritas
siswa pernah bolos tidak mengikuti pembelajaran di Pesantren Luhur Sabilussalam ciputat.
Tabel 4.17
Usaha santri untuk meningkatkan kemampuan membaca
kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
8 Selalu 28 56% Sering 16 32% Kadang-kadang 4 8% Tidak Pernah 2 4% Jumlah (N) 50 100%
Dengan memperhatikan tabel di atas dapat diketahui bahwa minoritas (4%) responden menjawab “tidak pernah” berusaha untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning, sebagian besar (56%)
menjawab “selalu”. Hal ini memperlihatkan bahwa sebagian besar santri
berusaha untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning.
Tabel 4.18
Metode sorogan modified membosankan
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
9 Selalu 3 6% Sering 9 18% Kadang-kadang 27 54% Tidak Pernah 11 22% Jumlah (N) 50 100%
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa (6%) responden
menjawab “selalu” merasa bosan dengan penerapan metode sorogan
modified, sedikit (18%) menjawab “sering” merasa bossan dengan
penerapan metode sorogan modified, lebih dari setengan (54%) responden menjaawab “jarang”. Hal ini menunjukan bahwa hampir seluruh santri tidak merasa bosan terhadap penerapan metode sorogan modified dalam proses pembelajaran.
Tabel 4.19
Berdiskusi ketika menemukan mufradat yang sulit
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
10 Selalu 18 36% Sering 22 44% Kadang-kadang 8 16% Tidak Pernah 2 4% Jumlah (N) 50 100%
64
Dengan memperhatikan tabel di atas dapat diketahui bahwa
(4%) menjawab “tidak pernah” berdiskusi ketika menemukan mufradat
yang sulit, sebagian besar (44%) responden menjawab “sering”. Hal ini
menunjukan bahwa sebagian besar santri berdiskusi ketika menemukan
mufradat yang sulit.
Tabel 4.20
Ustadz membimbing proses pembelajaran
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
11 Selalu 29 58% Sering 16 32% Kadang-kadang 5 10% Tidak Pernah - - Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahawa (0%) responden
yang menjawab “tidak pernah” dapat dikatakan bahwa Ustadz selalu
membimbing proses pembelajaran, mayoritas (58%) responden menjawab
“selalu”, dan sebagian kecil (10%) responden menjawab kadang-kadang. Hal ini memperlihat bahwa Ustadz membimbing santri dalam proses pembelajaran.
Tabel 4.21
Metode sorogan modified memberi peluang untuk santri
mengembangkan kemampuan membaca dan mengartikan
kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
12 Selalu 26 52% Sering 16 32% Kadang-kadang 7 14% Tidak Pernah 1 2% Jumlah (N) 50 100%
Tabel di atas menunjukan bahwa sedikit (2%) responden
menjawab “Tidak Pernah” memberikan peluang santri mengembangkan
kemampuan membaca dan mengartikan kitab kuning, mayoritas (52%)
responden menjawab “selalu”. Hal ini menandakan bahwa dengan
penerapan metode sorogan modified dalam pembelajaran kitab kuning memberikan peluang terhadap santri untuk mengenbangkan kemampuannya dalam membaca dan mengartikan kitab kuning.
Tabel 4.22
Metode sorogan modified berlangsung efektif
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
13 Selalu 16 32% Sering 18 36% Kadang-kadang 14 28% Tidak Pernah 2 4% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa setengah (36%)
responden menjawab “sering”, responden menjawab “selalu” (32%), sedangkan responden yang menjawab “tidak pernah (4%)”. Hal ini
memperlihatkan bahwasannya penerapan metode sorogan modified efektif dalam proses pembelajaran kitab kuning.
Tabel 4.23
Ustadz memberi kesempatan untuk bertanya
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
14 Selalu 26 52% Sering 14 28% Kadang-kadang 10 20% Tidak Pernah - - Jumlah (N) 50 100%
66
Dengan memperhatikan tabel di atas dapat diketahui bahwa
setengan (28%) responden menjaawab “sering”, lebih dari setengah (52%) responden menjawab “selalu”, responden menjawab “tidak pernah” (0%).
Hal ini menunjukan bahwa Ustadz memberi kesempatan santri untuk bertanya dalam proses pembelajaran.
Tabel 4.24
Ustadz mengakhiri pelajaran dengan membaca do’a
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
15 Selalu 32 64% Sering 8 16% Kadang-kadang 10 20% Tidak Pernah - - Jumlah (N) 50 100%
Dari tabel di atas diketahui bahwa hampir setengan (64%)
responden menjawab “selalu”, mengakhiri pelajaran dengan membaca do’a, setengan (20%) responden menjawan “kadang-kadang”, responden
menjawab “tidak pernah” (0%). Hal ini berarti bahwa hampir seluruh
santri menyatakan bahwa Ustadz mengakhiri pelajaran dengan membaca
do’a.
Tabel 4.25
Santri dapat membaca kitab kuning dengan baik dan benar
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
16 Sangat Baik 18 36% Baik 20 40% Cukup 9 18% Kurang 3 6% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hampir
setengan (36%) menjawab “sangat baik” membaca kitab kuning , hampir setengan (40%) responden menjawab “baik”, sebagian kecil (6%) menjawab “kurang”. Hal ini menunjukan bahwa santri dapat membaca
kitab kuning dengan baik dan benar.
Tabel 4.26
Santri mampu memahami isi bacaan kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
17 Sangat Baik 6 12% Baik 29 58% Cukup 11 22% Kurang 4 8% Jumlah (N) 50 100%
Dengan melihat tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian
kecil (8%) responden menjawab “kurang”, setengah responden (22%) menjawab “cukup”, lebih dari setengah (58%) responden menjawab “baik” dan sebagian kecil (12%) responden menjawab “sangat baik”. Hal ini
menunjukan bahwa santri mampu memahami isi bacaan kitab kuning dengan baik.
Tabel 4.27
Metode sorogan modified tidak berpengaruh terhadap
kemampuan membaca kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
18 Sangat Baik 6 12% Baik 5 10% Cukup 16 32% Kurang 23 46% Jumlah (N) 50 100%
68
Tabel di atas menunjukan bahwa sedikit (10%) responden
menjawab “baik”, setengan (46%) responden menjawab “kurang”.
Perolehan persentase tersebut menunjukan bahwa sebagian besar santri mengganggap bahwa metode sorogan modified berpengaruh terhadap kemampuan membaca kitab kuning.
Tabel 4.28
Santri mampu membedakan tanda-tanda i’rob
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
19 Sangat Baik 12 24% Baik 26 52% Cukup 10 20% Kurang 2 4% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas diketahu sedikit (4%) responden
menjawab “kurang” mampu membedakan tanda-tanda i’rob, setengah
(20%) responden menjawab “cukup”, setengah (24%) responden menjawab “sangat baik” dan lebih dari setengah (52%) responden menjawab “baik”. Hal ini menunjukan bahwa santri mampu membedakan tanda-tanda i’rob dengan baik.
Tabel 4.29
Santri mampu mengaplikasikan teori nahwu dan sorof
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
20 Sangat Baik 8 16% Baik 25 50% Cukup 13 26% Kurang 4 8% Jumlah (N) 50 100%
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian kecil (16%)
responden menjawab “sangat baik”, lebih dari setengah (50%) responden menjawab “baik”, setengah (26%) responden menjawab “cukup”, dan sebagian kecil (8%) menjawab “kurang”. Pesentase di atas menunjukan bahwa santri mampu mengaplikasikan teori nahwu dan sorof dengan baik.
Tabel 4.30
Metode sorogan modified tidak membantu santri dalam
meningkatkan kemampuan mengkaji kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
21 Sangat Baik 3 6% Baik 11 22% Cukup 18 36% Kurang 18 36% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa sebagian kecil
(6%) responden menjawab “sangat baik”, setengah (36%) responden
menjawab kurang. Hal ini memperlihatkan bahwa metode sorogan membantu santri dalam meningkatkan keampuan mengkaji kitab kuning.
Tabel 4.31
Meningkatkan kemampuan bahasa Arab
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
22 Sangat Baik 12 24% Baik 30 60% Cukup 7 14% Kurang 1 2% Jumlah (N) 50 100%
Dengan melihat tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian
kecil (2%) responden menjawab “kurang” meningkatkan kemampuan behasa Arab, (14%) responden menjawab “cukup”, sebagian (24%)
70
respoden menjawab “sangat baik” dan lebih dari setengah (60%)
responden menjawab “baik”. Hal ini menunjukan bahwa metode sorogan
modified meningkatkan kemampuan bahasa Arab santri dengan baik.
Tabel 4.32
Meningkatkan kepercayaan diri untuk membaca kitab
kuning dengan baik dan benar
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
23 Sangat Baik 15 30% Baik 23 46% Cukup 9 18% Kurang 3 6% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa setengah (30%)
responden menjawab “sangat baik”, lebih dari stengah (46%) menjawab “baik”, (18%) responden menjawab “cukup” dan minoritas (6%) responden menjawab “kurang”. Hal tersebut menunjukan bahwa
meningkatnya kepercayaan diri santri dalam membaca kitab kuning dengan baik dan benar.
Tabel 4.33
Bingung dalam memahami dan menerjemahkan istilah-
istilah bahasa Arab yang terdapat dalam kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
24 Sangat Baik 1 2% Baik 9 18% Cukup 25 50% Kurang 15 30% Jumlah (N) 50 100%
Tabel di atas menunjukan bahawa sebagian (30%) responden
menjawab “kurang”, lebih dari sebagian (50%) responden menjawab “cukup”, (18%) responden menjawab “baik” dan minoritas (2%)
responden menjawab “sangat baik”. Persentase tersebut menunjukan bahawa terkadang santri cukup bingun dalam memahami dan menerjemahkan istilah-istilah bahasa Arab yang terdapat dalam kitab kuning.
Tabel 4.34
Bersikap kritis ketika mendengar santri lain kurang tepat
membaca kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
25 Sangat Baik 8 16% Baik 23 46% Cukup 13 26% Kurang 6 12% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa setengah (46%) responden menjawab “baik”, kurang dari setengan (26%) responden
menjawab “cukup”, (16%) responden menjawab “sangat baik” dan sebagian kecil (12%) responden menjawab “kurang”. Hal tersebut
menunjukan bahwa sikap kritis santri ketika mendengar santri lain kurang tepat membaca kitab kuning sudah baik.
Tabel 4.35
Tidak menyukai pembelajaran kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
26 Sangat Baik 5 10% Baik 8 16% Cukup 26 52% Kurang 11 22% Jumlah (N) 50 100%
Tabel di atas menunjukan bahwa sebagian kecil (10%)
72
lebih dari setengah (52%) responden menjawab “cukup” dan kurang dari setengah (22%) responden menjawab “kurang”. Persentase tersebut
menunjukan bahwa setengah dari santri cukup tidak menyukai pembelajaran kitab kuning.
Tabel 4.36
Berpeluang mengikuti perlombaan kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
27 Sangat Baik 4 8% Baik 17 34% Cukup 18 36% Kurang 11 22% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa (8%) responden
menjawab “sangat baik”, kurang dari setengah (22%) responden menjawab “kurang”, setengah (36%) responden menjawab “cukup” dan (34%) responden menjawab “baik”. Hal ini memperlihatkan bahwasannya peluang santri untuk mengikuti perlombaan kitab kuning sudah cukup baik.
Tabel 4.37
Bersemangat untuk mengikuti pengkajian kitab kuning di
luar pesantren
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
28 Sangat Baik 15 30% Baik 24 48% Cukup 9 18% Kurang 2 4% Jumlah (N) 50 100%
Dengan melihat tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian
besar (48%) responden menjawab “baik”, sebagain (30%) responden menjawab “sangat baik”, (18%) responden menjawab “cukup” dan
minoritas (4%) menjawab “kurang”. Hal ini menunjukan bahwa santri bersemangat untuk mengikuti pengkajian kitab kuning di luar pesantren.
Tabel 4.38
Membantu santri untuk lebih berkonsentrasi dalam proses
pembelajaran kitab kuning
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
29 Sangat Baik 10 20% Baik 31 62% Cukup 7 14% Kurang 2 4% Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa minoritas
(4%) responden menjawab “kurang” membantu santri untuk lebih
berkonsentrasi dalam peoses pembelajaran kitab kuning, (14%)
responden menjawab “cukup”, kurang dari setengah (20%) responden menjawab “sangat baik” dan lebih dari setengah (62%) responden menjawab “baik”. Persentase tersebut menunjukan bahwa santri sudah
baik dalam membantu santri lain untuk lebih berkonsentrasi dalam proses pembelajaran kitab kuning.
Tabel 4.39
Mampu membaca kitab kuning, memberikan banyak
manfaat terhadap kehidupan
No Alternatif Jawaban Frekuensi Presentase
30
Sangat Baik 19 38%
Baik 21 42%
74
Kurang - -
Jumlah (N) 50 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa (0%)
responden menjawab “kurang” mampu membaca kitab kuning dan
kemampuan membaca kitab kuning banyak memberikan manfaat
terhadap kehidupan, sebagian besar (42%) responden menjawab “baik”,
(38%) menjawab “sangat baik” dan kurang dari setengah (20%)
responden menjawab “cukup”. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan
membaca kitab kuning memberikan manfaat terhadap santri di dalam kehidupannya.