C. Hasil Penelitian (Uji Hipotesis)
8. Pembahasan hasil uji hipotesis secara keseluruhan
Hasil uji hipotesis pada penelitian ini menemukan bahwa
Pengalaman auditor dan tipe kepribadian secara langsung tidak
berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi
kecurangan. Sedangkan, etika profesi berpengaruh positif dan
signifikan secara langsung terhadap kemampuan auditor dalam
mendeteksi kecurangan. Etika profesi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan
melalui skeptisisme profesional auditor, namun pengalaman auditor
dan tipe kepribadian tidak berpengaruh signifikan. Hal ini
mengindikasikan bahwa skeptisisme profesional auditor merupakan
faktor penting yang mempengaruhi kemampuan auditor dalam
mendeteksi kecurangan secara langsung. Skeptisisme profesional
auditor merupakan variabel intervening yang berpengaruh signifikan
dalam memediasi 1 dari 3 variabel independen penelitian ini secara
tidak langsung terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi
Kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan akan semakin
mahir jika seorang auditor memiliki sikap skeptisisme profesional
yang tinggi dibandingkan auditor dengan sikap skeptisisme profesional
yang rendah. Pramudyastuti (2014) juga menyimpulkan bahwa auditor
yang memiliki skeptisisme profesional yang tinggi lebih mampu dalam
mendeteksi tindak kecurangan yang ada dibandingkan dengan auditor
yang memiliki skeptisisme profesional yang rendah. Skeptisisme
profesional auditor merupakan variabel kuat yang mempengaruhi
dalam mendeteksi kecurangan. Variabel etika profesi dapat
mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung terhadap
kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan dengan
mengintegrasikan variabel skeptisisme profesional auditor.
Berdasarkan hasil penelitian variabel skeptisisme profesional
auditor memperkuat variabel etika profesi dengan nilai t-statistik 2,459
yang lebih tinggi dari pengaruh langsung terhadap kemampuan auditor
dalam mendeteksi kecurangan dengan nilai t-statistik 2,269. Dapat
disimpulkan bahwa, skeptisisme profesional auditor merupakan
variabel penting yang berpengaruh dalam mendeteksi kecurangan
bersama variabel etika profesi. Dari hasil penelitian ini, model
penelitian ini adalah quasi-intervening dimana baik secara langsung
maupun tidak langsung melalui pemediasi 1 dari variabel eksogenus
independen dapat berpengaruh signifikan terhadap variabel endogenus
90
A. Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan guna mengetahui pengaruh pengalaman
auditor, etika profesi dan tipe kepribadian terhadap skeptisisme
profesional auditor dan kemampuan auditor dalam mendeteksi
kecurangan. Responden penelitian ini berjumlah 53 orang auditor yunior
dan senior yang bekerja pada 12 Kantor Akuntan Publik (KAP) di 3
wilayah yaitu Yogyakarta, Solo dan Semarang. Berdasarkan data yang
diperoleh dan telah dianalisis menggunakan partial least square (PLS)
melalui software SmartPLS 3.0 maka diperoleh kesimpulan sebagai
berikut:
1. Pengalaman auditor tidak berpengaruh signifikan secara langsung
terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan.
2. Etika profesi berpengaruh positif dan signifikan secara langsung
terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan.
3. Tipe kepribadian tidak berpengaruh signifikan secara langsung
terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan.
4. Skeptisisme profesional auditor berpengaruh positif dan signifikan
5. Pengalaman auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan
auditor dalam mendeteksi kecurangan melalui skeptisisme profesional
auditor.
6. Etika profesi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan
auditor dalam mendeteksi kecurangan melalui variabel skeptisisme
profesional auditor.
7. Tipe kepribadian tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan
auditor dalam mendeteksi kecurangan melalui skeptisisme profesional
B. Saran
Penelitian yang selanjutnya dapat menyajikan dan memperoleh hasil
penelitian yang lebih berkualitas dengan beberapa masukan dari beberapa
hal yang perlu diimprovisasi yaitu:
1. Penelitian yang selanjutnya diharapkan dapat menggunakan
pengukuran tipe kepribadian dengan preferensi lain selain preferensi
MBTI (myers-briggs type indicator).
2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan responden
yang merupakan auditor yang investigatif seperti pada BPK, BPKP
dan KPK.
3. Penelitian selanjutnya diharapkan memperluas wilayah survey
penelitian di Kota besar yang lebih banyak terdapat Kantor Akuntan
Publik seperti Jakarta, Surabaya, Makassar dan lain-lain.
4. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah responden
penelitian dengan mewakili seluruh Kantor Akuntan Publik di Wilayah
yang diteliti tanpa terkecuali untuk mendapatkan generalisasi hasil
C. Keterbatasan
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dikarenakan hal
yang tidak terduga yaitu:
1. Pernyataan nomor 2 pada kuesioner variabel etika profesi yang
merupakan pernyataan negatif dengan nilai reverse tidak dapat
digunakan untuk diolah data karena tidak memenuhi validitas dan
reliabilitas.
2. Terdapat hasil yang tidak maksimal dari hasil analisis variabel Tipe
Kepribadian dikarenakan pembatasan indikator penilaian yang
mengunggulkan tipe kepribadian ST dan NT dibandingkan dengan tipe
kepribadian lainnya juga hanya dengan satu preferensi untuk
mengukur konstruk tipe kepribadian.
3. Variabel skeptisisme profesional auditor merupakan variabel
independen yang diduga berpengaruh secara langsung jika terhadap
kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan namun belum
sepenuhnya memediasi variabel-variabel eksogenus independen dalam
22.41 WIB.
Ajzen, I., 1991, “The Theory of Planned Behavior”, Organizational Behavior and Human Decision Process, Vol. L, hal. 179-211.
Allport, G., 1961, Personality, Holt, Rinehart and Winston, New York.
Anggriawan, E. F., 2014, “Pengaruh Pengalaman Kerja, Skeptisme Profesional dan Tekanan Waktu Terhadap Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi Fraud”, Jurnal Nominal,Vol. III, No. 2, hal. 101-116.
Assosiation of Certified Fraud Examiners (ACFE), 2002, 2002 Report to The
Nation: Occupational Fraud and Abuse,
Attamimi, Fikri M., dan Riduwan, 2015, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Skeptisme Profesional Auditor”, Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi, Vol. IV, No. 7, hal. 1-22.
Aulia, M. Y., 2013, “Pengaruh Pengalaman, Independensi Dan Skeptisme Profesional Auditor Terhadap Pendeteksian Kecurangan”, Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Badjuri, A., 2011, “Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Audit Auditor Independen Pada Kantor Akuntan Publik (Kap) Di Jawa Tengah”, Dinamika Keuangan dan Perbankan, Vol. III, No. 2, November, hal. 183-197.
Bawono, dan Singgih, 2011, “Faktor-Faktor Dalam Diri Auditor dan Kualitas Audit (Studi pada KAP ‘Big Four’ di Indonesia)”, Paper Presentasi SNA XIII Purwokerto.
Boynton, Johnson, dan Kell, 2003, Modern Auditing, Jilid 1 Edisi ke-7 (Alih Bahasa Rajoe, P.A., Gania, G., Budi, I. S.,), Erlangga, Jakarta.
Boynton, William C., Raymond N. Johnson., 2006, Modern Auditing, 8 th Edition, John Willey & Sons Inc., New York.
Carpenter, T., Durtschi, C., dan Gaynor, L. M., 2002, The Role of Experience in Professional Skepticism, Knowledge Acquisition and Fraud Detection. Working Paper.
Fa’ati, I. A. N. Ilmi., dan Sukirman, 2014, “Pengaruh Tipe Kepribadian dan Kompetensi Auditor Terhadap Skeptisme Profesional Auditor”, Accounting Analysis Journal, Vol. III, No. 3, hal. 1-3.
Faradina, H., 2016, “Pengaruh Beban Kerja, Pengalaman Audit dan Tipe Kepribadian Terhadap Skeptisme Profesional dan Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan”, JOM Fekon, Vol. III, No. 1, hal. 1235-1249.
Fishbein dan Ajzen, 1975, Belief, Attitude, Intentions and Behavior: An Introduction to Theory and Research, Addison-Wesley Publishing Company, Inc., California.
Fullerton, Rosemary, and Durtschi C., 2005, “The Effect of Professional Skepticism on the Fraud Detection Skills of Internal Auditors”, Working Paper, Utah State University School of Accountancy, Logan.
Ghozali, I., dan Latan, H., 2015, Partial Least Square SmartPLS 3.0, Edisi 2, Badan Penerbit-Undip, Semarang.
Gusti, M., dan Ali, S.,No. 2008, “Hubungan Skeptisisme Profesional Auditor dan Situasi, Etika, Pengalaman serta Keahlian Audit dengan Ketepatan Pemberian Opini Auditor oleh Akuntan Publik”, Simposium Nasional Akuntansi XI, Universitas Andalas, Padang.
Hackenbrack, Karl., 1992, “Implications of Seemingly Irrelevant Evidence in Audit Judgment”, Journal of Accounting Research, Vol. XXX, No. 1, hal. 126-136.
Hasanah, S., 2010, “Pengaruh Penetapan Aturan Etika, Pengalaman dan Skeptisme Profesional Auditor Terhadap Pendeteksian Kecurangan”, Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarih Hidayatullah, Jakarta.
Hurtt, R.K., Eining, M., dan Plumlee R.D., 2008, “An Experimental Examination of Profesional Skepticsm”, Paper disajikan pada seminar University of Winconsin-Madison, Mei.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2001, Standar Profesional Akuntan Publik, Salemba Empat, Jakarta.
Indriyani, Y., 2015, “Pengaruh Beban Kerja, Pengalaman Audit, Skeptisisme Profesional dan Tipe Kepribadian Terhadap Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan”, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Ismail, F., 2015, “Pengaruh Tipe Kepribadian, Pengalaman dan Penerimaan Perilaku Disfungsional Terhadap Audit Judgment”, Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. III, No. 2, Oktober, hal. 263-278.
Jogiyanto, dan Abdilah, W., 2014, Konsep dan Aplikasi PLS untuk Penelitian Empiris, Edisi 1, Cetakan 2, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.
Justiana, D., 2010, “Pengrauh Etika, Independensi, Pengalaman dan Keahlian Auditor Terhadap Opini Audit”, Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Kartikarini, N., dan sugiarto, 2016, “Pengaruh Gender, Keahlian, dan Skeptisisme Profesional terhadap Kemampuan Auditor Mendeteksi Kecurangan”, Simposium Nasional akuntansi XIX, Lampung.
Kreshastuti, D. K., 2014, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intensi Auditor Untuk Melakukan Whistleblowing”, Skripsi, Universitas Diponegoro, Semarang.
Kushasyandita, Rr. Sabhrina., 2012, “Pengaruh Pengalaman, Keahlian, Situasi Audit, Etika Dan Gender Terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor Melalui Skeptisisme Profesional Auditor”, Skripsi, Universitas Negeri Diponegoro, Semarang.
Kusuma, N. F. B. A., 2012, “Pengaruh Profesionalisme Auditor, Etika Profesi dan Pengalaman Auditor Terhadap Pertimbangan Tingkat Matrealitas”, Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
Larimbi dan Rosidi, 2013, “Pengaruh Faktor-Faktor Personal Terhadap Skeptisisme Profesional Auditor”, Jurnal Ekonomi dan Keuangan, Vol. XVII, No. 1, Maret, hal. 89 – 107.
Libby, R., dan Frederick D.M., 1990, “Experience and The Ability to Explain Audit Findings”, Journal of Accounting Research, Vol. XXVIII, hal. 348-367.
Lovita, L., 2016, “Pengaruh Skeptisisme Profesional Auditor Terhadap Kemampuan Auditor Mendeteksi Kecurangan”, Skripsi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta.
Mudrika, 2011, Membaca Kepribadian Menggunakan Tes MBTI (Myers Briggs Type Indicator),
Diakses tanggal 29 Juli 2016 pk 16:27 WIB.
Mui, Grace Y., 2010, “Factors That Impact On Internal Auditors’ Fraud Detection Capabilities – A Report For The Institute of Internal Auditors Australia”, Presentation, Center for Business Forensics HELP University Malaysia.
Mustafa, Vebry A., 2016, “Pengaruh Keahlian, Etika, Tipe Kepribadian dan Independensi Terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor Melalui Skeptisme Prfesional Auditor”, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Nasution, H., dan Fitriany, 2012, “Pengaruh Beban Kerja, Pengalaman Audit dan Tipe Kepribadian Terhadap Skeptisme Profesional dan Kemampuan
Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan”, Simposium Nasional
Akuntansi XV, Banjarmasin.
Noviyanti, S., 2008, “Skeptisisme Profesional Auditor Dalam Mendekteksi Kecurangan”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Vol. V, No. 1, Juni, hal. 102-125.
Nurutami, Ghina L., 2014, “Pengaruh Penetapan Risiko Kekurangan dan Tipe Kepribadian Auditor Terhadap Skeptisisme Profesional Auditor”, Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Nurwiyati, 2015, “Pengaruh Penerapan Aturan Etika, Pengalaman Kerja, dan Persepsi Profesi Terhadap Profesionalisme Auditor”, Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
Oktaviani, N. Ferlina., 2015, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Skeptisisme Profesional Auditor Di Kap Kota Semarang”, Skripsi, Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Otoritas Jasa Keuangan, 2015, Daftar Kantor KAP, tanggal 30 Juli 2016 pk 11:32 WIB.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan PSA No.4 (SA seksi 230) Standar Profesional Akuntans Publik dan Kode Etik Akuntan Indonesia, Dewan Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntan Indonesia, Jakarta.
Pramudiastuti, Octavia L., 2014, “Pengaruh Skeptisime Profesional, Pelatihan Audit Kecurangan, Dan Independensi Terhadap Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan” , Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Purnamasari, D. I., 2005, “Pengaruh Pengalaman Kerja Terhadap Hubungan Partisipasi dengan Efektifitas Sistem Informasi”, Jurnal Riset Akuntansi Keuangan, Vol. VI, No. 1, hal. 1-22.
Putra, Wahyu M., dan Stiyaningtyas, Marine M., 2016, “Tindakan Kecurangan Keuangan Dengan Analisis Model Fraud Diamond Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Pemoderasi”, Paper ICAF 3, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Quadackers, Mathias L., 2009, “A Study of Auditors’ Skeptical Characteristics and Their Relationship to Skeptical Judgements and Decisions”, Disertasi, University of Amsterdam, Amsterdam.
Rafael, S. J. M, 2013, “Pengaruh Pengalaman, Keahlian, Etika, Dan Skeptisisme Profesional Terhadap Kemampuan Auditor Internal Dalam Mendeteksi Fraud”, Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Rahayu, S., dan Gudono, 2016, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Auditor dalam Pendeteksian Kecurangan: Sebuah Riset Campuran dengan Pendekatan Sekuensial Eksplanatif”, Simposium Nasional akuntansi XIX, Lampung.
Rahman, M. R. Z., 2014, “Pengaruh Pengalaman, Keahlian Dan Tipe Kepribadian Estj Pada Auditor Terhadap Skeptisisme Profesional Auditor”, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Saul McLeod, 2014, “Simply physicology”,
tanggal 20 Agustus 2016 pk 09:48 WIB.
Security Exchange Commission of Washington D. C.,
WIB.
Sudarmo, Sawardi, dan Yulianto Agus., 2008, Fraud Auditing, Pusdiklatwas BPKP, Bogor.
Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Bisnis, CV Alfabeta, Bandung.
Sularso, Sri dan Na’im A., 1999, “Analisis Pengaruh Pengalaman Akuntan pada Pengetahuandan Penggunaan Intuisi dalam Mendeteksi Kekeliruan”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. II, No. 2, Juli, hal. 154-172.
Supriyanto, 2015, “Pengaruh Beban Kerja, Pengalaman Audit, Tipe Kepribadian dan Skeptisme Profesional Terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan”, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo.
Suraida, I., 2005, “Pengaruh etika, kompetensi, pengalaman audit dan risiko audit terhadap skeptisisme profesional auditor dan ketepatan pemberian opini akuntan publik”, Jurnal Sosiohumaniora, Vol.VII, No.3, November, hal. 186-202.
Surtiana, Gina R., 2014, “Pengaruh Keahlian Audit dan Pengalaman Audit Terhadap Kemampuan Auditor Mendeteksi Kecurangan”, Skripsi, Universitas Widyatama, Bandung.
Suryani, S. Ade., 2015, “Pengaruh Pengalaman Dan Etika Terhadap Kemampuan Auditor Internal Dalam Mendeteksi Fraud Melalui Skeptisisme Profesional”, Tesis, Universitas Hasanuddin Makassar, Makassar.
Swastika, A., 2016, “Pengaruh Pengalaman, Skeptisme Profesional dan Kemampuan Audit Investigasi Terhadap Efektivitas Pelaksanaan Prosedur Audit Dalam Pembuktian Kecurangan (Fraud)”, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Wardhani, Rizky F., 2014, “Pengaruh Skeptisme Profesional Internal Auditor Terhadap Pencegahan dan Pendeteksian Fraud Dalam Perusahaan”, Skripsi, ETD Unsyiah, Banda Aceh.
Widyastuti, M., dan Pamudji, S., 2009, “Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Profesionalisme terhadap Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan”, Jurnal Value Added, Vol. V, No. 2, hal. 52-73.
Wikipedia, 2016, Myers-Briggs Type Indicator,
Winantyadi, Ndaru., dan Waluyo, Indarto., 2014, “Pengaruh Pengalaman, Keahlian, Situasi Audit, dan Etika Terhadap Skeptisisme Profesional Auditor”, Jurnal Nominal, Vol. III, No. 1, hal. 14-34.
Wusqo, U., 2016, “Pengaruh Beban Kerja, Independensi, Skeptisme Profesional, dan Pengalaman Audit Terhadap Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan”, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Indicator adalah sebuah instrumen yang dirancang untuk menunjukkan preferensi dasar manusia. Dalam MBTI, tipe kepribadian manusia dibedakan menjadi 4 pasang preferensi yaitu: (a) Extraversion dan Introversion (E dan I), (b) Sensing dan Intuition (S dan N), (c) Thinking dan Feeling (T dan F), dan (d) Judging dan Perceiving (J dan P). Berdasarkan 4 pasang preferensi tersebut didapatkan 16 tipe kepribadian menurut Myers-Briggs Type Indicator, yaitu ESTJ, ESTP, ESFJ, ESFP, ENTJ, ENTP, ENFJ, ENFP, ISTJ, ISTP, ISFJ, ISFP, INTJ, INTP, INFJ, dan INFP.
Tipe kepribadian dinotasikan dengan PERSON. Indikator untuk variabel tipe kepribadian terdiri dari 40 item pernyataan yang dikembangkan oleh Mudrika (2011). Dari 40 item pernyataan yang terdapat dalam kuesioner, 5 item pernyataan menggambarkan preferensi extraversion, 5 item pernyataan menggambarkan preferensi introversion, 5 item pernyataan menggambarkan preferensi sensing, 5 item pernyataan menggambarkan preferensi intuition, 5 pernyataan menggambarkan preferensi thinking, 5 pernyataan menggambarkan preferensi feeling, 5 item pernyataan menggambarkan preferensi judging, dan 5 item pernyataan menggambarkan preferensi perceiving.
Auditor diminta untuk memilih salah satu dari dua pernyataan yang saling berlawanan antara 4 pasang preferensi yang sesuai dengan tipe kepribadian auditor. Total jawaban dari masing-masing responden dipersentasekan untuk masing-masing preferensi. Apabila persentase preferensi extraversion lebih besar dari persentase introversion maka auditor cenderung memiliki preferensi extraversion, namun apabila presentase extraversion lebih rendah daripada persentase introversion maka auditor cenderung memiliki preferensi introversion. Apabila persentase preferensi sensing lebih besar dari persentase feeling maka auditor cenderung memiliki preferensi sensing, namun apabila presentase sensing lebih rendah daripada persentase feeling maka auditor cenderung memiliki preferensi feeling. Apabila persentase preferensi thinking lebih besar dari persentase intuition maka auditor cenderung memiliki preferensi thinking, namun apabila presentase thinking lebih rendah daripada persentase intuition maka auditor cenderung memiliki preferensi intuition. Apabila persentase preferensi judging lebih besar dari persentase perceiving maka auditor cenderung memiliki preferensi judging, namun apabila presentase judging lebih rendah daripada persentase perceiving maka auditor cenderung memiliki preferensi perceiving.
Extraversion, Sensing, Thinking and Perceiving), Extraversion, Intuition, Thinking and Judging),
Extraversion, Intuition, Thinking and Perceiving), Introversion, Sensing, Thinking and Judging),
Introversion, Sensing, Thinking and Perceiving), Introversion, Intuition, Thinking and Judging),
Introversion, Intuition, Thinking and Perceiving). b. Tipe kepribadian kombinasi SF dan NF yang terdiri dari:
Extraversion, Sensing, Feeling and Judging), Extraversion, Sensing, Feeling and Perceiving), Extraversion, Intuition, Feeling and Judging),
Extraversion, Intuition, Feeling and Perceiving), FJ (Introversion, Sensing, Feeling and Judging),
Introversion, Sensing, Feeling and Perceiving), Introversion, Intuition, Feeling and Judging),
Introversion, Intuition, Feeling and Perceiving).
Dalam penelitian ini, tipe kepribadian kombinasi ST dan NT diduga memiliki skeptisme profesional dan kemampuan mendeteksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tipe kepribadian kombinasi SF dan NF. Tipe kepribadian ST dan NT adalah tipe kepribadian yang mengambil keputusan berdasarkan fakta yang diperolehnya dengan menggunakan analisis yang logis (Noviyanti, 2008). Tipe kepribadian ST dan NT diberi nilai 1 dan tipe kepribadian SF dan NF diberi nilai 0.
Contoh penentuan tipe kepribadian auditor:
Dalam kuesionernya auditor memberikan 2 pilihan untuk kolom preferensi extraversion, 3 pilihan untuk kolom preferensi introversion, 1 pilihan untuk kolom preferensi sensing, 4 pilihan untuk kolom intuition, 2 pilihan untuk kolom preferensi thinking, 3 pilihan untuk kolom preferensi feeling, 5 pilihan untuk kolom preferensi judging, dan tidak ada pilihan untuk kolom preferensi perceiving.
Berdasarkan pilihan tersebut diperoleh: Extraversion = 2/5 x 100 = 40% Introversion = 3/5 x 100 = 60%
Extraversion < Introversion, maka auditor cenderung memiliki preferensi introversion
Feeling = 3/5 x 100 = 60%
Thinking < Feeling, maka auditor cenderung memiliki preferensi feeling. Judging = 5/5 x 100 = 100%
Perceiving = 0
Judging > Perceiving, maka auditor cenderung memiliki preferensi judging
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa auditor memiliki tipe kepribadian INFJ dan auditor dikelompokkan menjadi auditor dengan tipe kepribadian kombinasi SF dan NF (diberi nilai 0).
Indikator Tipe Kepribadian (PERSON)
Referensi Dimensi Pernyataan
Noviyanti (2008) dan Mudrika (2011) Extraversion (E)
Spontan; Easy Going; Fleksibel.
Menemukan dan mengembangkan ide dengan berdiskusi.
Mengekspresikan semangat.
Lebih suka komunikasi langsung (tatap muka). Membangun ide pada saat berbicara.
Introversion (I)
Berhati-hati; Penuh pertimbangan; Kaku Menemukan dan mengembangkan ide dengan merenung.
Menyimpan semangat dalam hati.
Lebih suka komunikasi tidak langsung (telp, surat, e-mail)
Membangun ide dengan matang, baru membicarakannya
Sensing (S) Menggunakan pengalaman sebagai pedoman. SOP sangat membantu.
Bertindak step by step dengan timeframe yang jelas.
Menarik kesimpulan dengan lama dan hati-hati. Praktis.
Intuition (N) Menggunakan imajinasi dan perenungan sebagai pedoman
SOP sangat membosankan
Bertindak dengan semangat tanpa menggunakan timeframe
Menarik kesimpulan dengan cepat sesuai naluri Konseptual
Thinking (T) Objektif
Mementingkan sebab-akibat Feeling (F) Subjektif
Yang penting situasi harmonis terjaga
Mengambil keputusan berdasar perasaan pribadi dan kondisi orang lain
Menghargai seseorang karena sifat dan perilakunya Judging (J) Mementingkan nilai-nilai personal
Terencana; Memiliki dedline jelas
Aturan, jadwal dan target akan sangat membantu dan memperjelas tindakan
Berpegang teguh pada pendirian
Ketidakpastian membuat bingung dan meresahkan Situasi last minute sangat menyiksa, membuat stres dan merupakan kesalahan
Perceiving (P)
Spontan; Fleksibel; Tidak diikat waktu
Aturan, jadwal dan target sangat mengikat dan membebani
Pendirian masih bisa berubah tergantung situasi nantinya
Ketidakpastian itu seru, menegangkan dan membuat hati lebih senang
Situasi last minute membuat bersemangat dan memunculkan potensi