• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5 HasilPenelitian Dan Pembahasan

5.3 Pembahasan

Penelitian ini merupakan deskriptif observasional yang bertujuan untuk mengidentifikasi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan pemasangan kateter urine dan pemasangan infus di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane.

5.3.1 Karakteristik Demografi Perawat

Hasil penelitian mengenai Kepatuhan perawat dalam pelaksanaan pemasangan kateter urine dan pemasangan infus yaitu sebanyak 58 kali tindakan.Berdasarkan data yang didapatkan bahwa sebagian besar yaitu 21 kali tindakan pemasangan kateter urine dilakukan oleh perawat dengan patuh(72.4%), dan 24 kali tindakan pemasangan infus dilakukan perawat dengan kategori patuh pada Standar Prosedur Operasional Pemasangan infus (82,8%). Karakteristik perawat yang patuh adalah lebih dari 50% berusia 25–34 tahun yaitu 45 kali (73.9%), sebagian besar pendidikan diploma III keperawatan yaitu 35 kali (68.1%), paling banyak memiliki masa kerja <5 tahun yaitu 29 kali (62.3%).

Perawat yang tidak patuh pada Standar Prosedur Operasional pelaksanaan pemasangan kateter urine yaitu 8 kali tindakan pemasangan kateter(27.6%) dan 5 kali tindakan pemasangan infus (17.2%). Ketidakpatuhan ini dilakukan oleh sebagian besar perawat yang berusia

sebagian besar 20–30 tahun yaitu sebanyak 13 kali (26.1%), dengan masa kerja selama 0–5 tahun, lebih dari 50% pendidikan diploma III keperawatan. Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar tindakan pemasangan kateter urine dan pemasangan infus dilakukan dengan patuh pada Standar Operasional Proseduryang berlaku di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane .

5.3.2Kepatuhan Perawat Dalam Pelaksanaan Pemasangan Kateter Urine

Berdasarkan hasil observasi kepatuhan perawat dalam pemasangan kateter urine di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane didapatkan hasil mayoritas perawat patuh 72.4%.Perawat pelaksana dalam Pelaksanaan pemasangan kateter urine telah mematuhi Standar Operasional Prosedur yang berlaku di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane.Perawat bertindak sesuai dengan langkah-langkah atau standar prosedur operasional pemasangan kateter urine yang berlaku di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane dalam melaksanakan pemasangan kateter urine seperti memakai handscone steril, memberikan pencahayaan yang adekuat, menjaga privasi klien dan melakukan pemasangan kateter urine sesuai teknik.

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Nopia, Mahyudin, dan Yasir dengan judul faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur pemasangan kateter uretra di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar menyatakan tidak

patuh sebanyak 29 responden (67,4%) dan perawat melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur sebanyak 14 responden (32,6%).

Hasil observasi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan pemasangan kateter urine ada yang tidak patuh yaitu mencuci tangan, menempatkan posisi klien wanita dengan lutut ditekukan dan rotasi eksternal, merendam kapas sublimat dengan larutan antiseptik, membersihkan meatus, serta menganjurkan klien tarik nafas dalam dan memasukkan kateter ketika klien menghembuskan napas.

Berdasarkan obserasi yang didapat tidak sejalan dengan penelitian Ratih, Elsye dan Maria (2014) Pengaruh Kepatuhan Perawat Terhadap Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pemasangan Kateter Di RS PKU Muhammadiyah Gombong, berdasarkan hasil observasi pemasangan kateter, diperoleh bahwa sebesar 100% perawat tidak melaksanakan pemasangan kateter dengan baik, hal tersebut dikarenakan perawat tidak melakukan beberapa fase perisap alat dan fase kerja diantaranya tidak meletakkan underpad, tidak melakukan desinfektan serta meletakkan duk steril.

Kepatuhan merupakan bagian dari perilaku individu yang bersangkutan untuk mentaati atau mematuhi sesuatu.Kepatuhan adalah sifat patuh, suka menurut, taat pada perintah, aturan, berdisiplin (Departemen Pendidikan Nasional, 2003).

Beberapa hal yang mempengaruhi tingkat perilaku kepatuhan diantaranya yakni pemahaman tentang instruksi, tingkat pendidikan, keyakinan, sikap dan kepribadian, serta dukungan sosial. Dalam hal

pemahaman tentang instruksi, tentunya tidak seorang pun mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi yang diberikan padanya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi tentang instruksi tersebut, penggunaan istilah-istilah yang tidak umum dalam instruksi dan memberikan banyak instruksi yang harus di ingat oleh penerima instruksi Carpenito, L.J. (2000).

Standar Operasional Prosedur pemasangan kateter urine di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane sudah cukup baik, tetapi ada beberapa point yang berbeda dengan prosedur menurut Kozier, et al (2010) seperti: persiapan alat perlak, tempat specimen urin, memasang duk di bawah bokong klien, meletakkan wadah specimen dekan klien dan menfiksasi slang kateter. Standar Operasional Prosedur yang kurang memperbaharui pengatahuan dapat menyebabkan mutu pelayanan kurang maksimal khususnya dalam pasien safety yang juga dapat berdampak pada insidensi ISK pada klien.

Penelitian ini menunjukkan perawat patuh dalam pelaksanaan pemasangan kateter urine dan sesuai dengan langkah prosedur yang telah ditetapkan di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane.Hal ini harus dipertahankan upaya dalam pencegahan terjadinya infeksi saluran kemih pada klien.

5.3.3Kepatuhan Perawat dalam Pemasangan Infus di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane

Berdasarkan hasil observasi kepatuhan perawat dalam pemasangan infus di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane yaitu sebesar 82.8% tindakan pemasangan infus dilakukan oleh perawat dengan patuh pada Standar Operasional Prosedur yang berlaku di rumah sakit tersebut. Perawat yang tidak patuh pada Standar Operasional Prosedur pemasangan infus yaitu sebesar 17.2%. Pelayanan keperawatan dalam hal ini yaitu pemasangan infus yang merupakan tindakan yang paling sering dilakukan di Rrumah Sakit, tindakan pemasangan infus akan berkualitas dalam pelaksanaanya apabila adanya kepatuhan perawat dan mengacu pada prosedur tetap pemasangan infus (Cantika, Setyoadi, dkk, 2010).

Hasil penelitian didapatkan perawat patuh dalam prosedur pemasangan infus sesuai dengan Standar Operasional Prosedur di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane meliputi perawat melakukan menyiapkan set infus dengan baik, mengatur tetesan infus dengan benar sesuai kebutuhan pasien, memasang tourniquet dengan baik serta melakukan pemasangan dengan teknik pemasangan infus yang baik.

Hasil observasi tindakan pemasangan infus yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane ada yang tidak patuh dalam melaksanakan Standar Operasional Prosedur pemasangan infus.Ketidakpatuhan pemasangan infus pada bagian mencuci tangan, membiarkan ujung selang tertutup dengan plastik sampai infus dipasang,

memasang kembali tutup selang, mencuci tangan kembali, memakai sarung tangan steril, melepaskan tutup pelindung ujung distal tidak dilakukan karena pada menutup kembali selang tidak dilakukan, memberikan label pada selang yaitu tanggal, menuliskan waktu pemasangan infus dan menuliskan inisial perawat yang memsang infus. Berdasarkan hasil penelitian perawat yang tidak patuh dalam melaksanakan Standar Operasional Prosedur pemasangan infus dikarenakan perawat beranggapan jika sesuai Standar Operasional Prosedur membutuhkan waktu yang lama, perawat tergesa-gesa saat pemasangan infus serta banyaknya pasien yang membuat perawat tidak patuh.

Hasil observasi dari pemasangan infus yang didapatkan peneliti tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Andares (2009), menunjukkan bahwa perawat kurang memperhatikan kesterilan luka pada pemasangan infus.Perawat biasanya langsung memasang infus tanpa memperhatikan tersedianya bahan-bahan yang diperlukan dalam prosedur tindakan tersebut, tidak tersedia handscone, kain kasa steril, alkohol, pemakaian berulang pada selang infus yang tidak steril.

Kepatuhan merupakan bagian dari perilaku individu yang bersangkutan untuk mentaati atau mematuhi sesuatu.Kepatuhan adalah sifat patuh, suka menurut, taat pada perintah, aturan, dan berdisiplin (Departemen Pendidikan Nasional, 2003).Kepatuhan perawat dapat dipengaruhi oleh faktor internal meliputi kemampuan, keterampilan, lama kerja, umur, jenis

kelamin, sikap dan motivasi serta faktor eksternal yang meliputi sarana dan prasarana, kepemimpinan dan imbalan (Yohana, 2012).

Berdasarkan observasi kepatuahn perawat dalam pelaksanaan pemasangan infus sejalan dengan penelitian Maria dan Erlin (2012) Penyebab kepatuhan yang lain dapat menjelaskan mengapa sebagian besar tindakan dilakukan perawat dengan patuh dalam melaksanakan Standar Prosedur Operasional pemasangan infus adalah usia, pendidikan dan masa kerja mereka, dari segi usia mereka sudah mempunyai tingkat kemampuan, kematangan dan kekuatan sehingga perawat akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi pendidikan sebagian besar perawat yang patuh terhadap Standar Operasional Prosedur pemasangan infus memiliki pendidikan Diploma III Keperawatan dan Sarjana Keperawatan sehingga kemungkinan makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin mudah baginya untuk menerima informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki. Masa kerja bahwa makin lama masa kerja perawat makin terampil dan makin berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan sehingga hasil kinerja yang dilakukan lebih positif dan produktif.

Berdasarkan data didapatkan bahwa sebagian besar perawat patuh dalam melaksanakan pemasangan infus. Hal ini karena perawat melakukan tindakan sesuai dengan langkah-langkah atau standar prosedur operasional pemasangan infus yang berlaku di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudi Kutacane dalam pelaksanaan pemasangan infus pada pasien dengan benar seperti membersihkan area punksi dengan kapas alkohol dengan gerakan

melingkar dari tengah ke luar 100% tindakan dilakukan perawat seauai Standar Operasional Prosedur yang berlaku di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane.

Hasil observasi pelaksanaan pemasangan infusyang didapat tidak sejalan dengan penelitian mulyani (2011), yang melakukan penelitian Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS PKU Muhammadiyah Gombong menunjukan perawat cenderung tidak patuh pada persiapan alat dan prosedur pemasangan infus sesuai dengan Standar Operasional Prosedur, berdasarkan pengamatan terhadap 12 perawat di ruangan, didapatkan 12 orang perawat (100%) yang tidak melakukan Standar Operasional Prosedur dalam pemasangan infus. Hal ini ditunjukkan dengan perawat yang tidak mencuci tangan dahulu, tidak menggunakan bengkok dan kapas alkohol serta jarum infus yang sudah dipakai diletakkan di tempat yang sama dengan alat-alat yang masih bersih. Pasaribu (2008) melakukan analisa pelaksanaan pemasangan infus di ruang rawat inap Rumah Sakit Haji Medan menunjukan bahwa pelaksanaan pemasangan infus yang sesuai Standar Operasional Prosedur katagori baik 27 %, sedang 40 % dan buruk 33 %.

Kepatuhan dalam pelaksanaan pemasangan infus harus dipertahankan sesuai Standar Operasional Prosedur yang berlaku di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane.Arikunto (2006)Kepatuhan perawat dalam pelaksanaan prosedur tetap pemasangan infus diartikan sebagai ketaatan untuk melaksanakan pemasangan infus sesuai prosedur tetap yang telah ditetapkan sehingga berkurangnya insiden atau infeksi

akibat pemasangan infus. Pemasangan infus akan berdampak apabila dalam pelaksanaannya tidak sesuia dengan Standar Operasional Prosedur.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan dapat diambil kesimpulan dan saran mengenai kepatuhan perawat dalam pelaksanaan pemasangan kateter urine dan pemasangan ifus di rumah sakit umum daerah haji sahudi kutacane.

6.1 Kesimpulan

Untuk mengidentifikasi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan pemasangan kateter urine dan pemasangan infus di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane.

6.1.1 Pelaksanaan pemasangan kateter urine mayoritas pada kategori patuh. Kepatuhan berdasarkan pada memberikan privasi pada klien, memberikan pencahayaan yang adekuat, memasang sarung tangan steril, menyiapkan pelumas, melumasi kateter, memasukkan kateter 2 inchi lebih jauhsetelah urine mulai mengalir ke kateter, menggelembungkan balon retensi dengan aquadest steril sesuai ketentuan volume, menempatkan urobag di tempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih dan membereskan alat dan bahan setelah melakukan tindakan. Pelaksanaan pemasangan pada kategori tidak patuh seperti mencuci tangan, merendam kapas pembersih dengan larutan anti septik dan membersihkan meatus.

6.1.2Pelaksanaan pemasangan infus mayoritas pada kategori patuh. Kepatuhan berdasarkan pada menyiapkan set infus, menutup klem, melepaskan tutp pelindung dari lubang botol cairan infus, masukkan penusuk ke lubang botol

cairan infus, menggantungkan botol cairan infus pada tiang infus dengan jarak 1 m di atas kepala klien, mengisi sebagian bilik tetes dengan cairan infus, membuka tutup pelindung, melepaskan klem, biarkan cairan mengalir sampai belembung dikeluarkan, memilih tempat punksi vena, memasang tourniquet, menfiksasi selang infus dengan metode U dan memastikan ketepatan aliran infuse sesuai dosis yang di anjurkan. Pelaksanaan pemasangan pada kategori tidak patuh.Ketidakpatuhan berdasarkan pada mencuci tangan, membiarkan ujung slang tertutup dengan plastik sampai infus dipasang, memasang kembali penutup selang, membersihkan area punksi dan

berikan label pada selang meliputi tanggal, waktu dan inisial pemasang infus.

6.2 Saran

6.2.1 Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane

Kepatuhan perawat dalam pelaksanaan pemasangan kateter urine dan pemasangan infus harus dipertahankan, karena terbukti melakukan pemasangan kateter urine dan pemasangan infus dengan baik atau sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane.

6.2.2 Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian perawatan kateter urine dan perawatan infus dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial.

6.2.3 Bagi Pendidikan Keperawatan

Berdasarkan observasi diharapkan mahasiswa keperawatan dapat meningkatkan motivasi dan pengetahuan tentang kepatuhan perawat dalam pelaksanaan pemasangan kateter urine dan pemasangan infus sesuai Standar Operasional Prosedur yang telah ditentukan oleh WHO.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik.Jakarta : renika cipta. Pustaka belajar

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Renika Cipta. Pustaka Belajar.

Arma MR. (2012). Pengaruh Pelatihan Kolaborasi Pada Perawat yang Mengalami Konflik Peran terhadap Kepatuhan dalam Pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (Pemasangan Infus) di Ruangan Interne RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2012.[Repository]. Universitas Andalas, Padang.

Atmoko T. (2008). Standar Operasional Prosedur (SOP) Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Universitas Diponegoro, Semarang;

Bastable.(2002). Perawat Sebagai Pendidik. Jakarta: EGC

Carayon, Bravery K., Gabriel J., Kayley, J., Scales K., dan Inwood S. (2010).Standards for infusion therapy, the RCN IV Therapy Forum, England.

Darmadi.(2008). Infeksi Nosokomia Problema dan pengendaliannya. Jakarta: Salemba Medika.

Hartawan M., Taza H., dan Syukriyadi. (2012). Hubungan Pemasangan Kateter Tetap Dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih Pada Pasien Rawat Inap. Di unduh Februari 2012 dari http//www.garuda

Hidayat A., dan Aziz Alimul. (2009). Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik Analisis Data Kesehatan. Depok: Salemba Medika.

HafizurrachmanH., Trisnantoro L., dan Bachtiar A. (2012). Kebijakan Keperawatan Berbasis Kinerja di RSU Tangerang. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 15(1): 12-19.

Josephson, D. L. (1999). Interavenous Infusion Theraphy For Nurse: Principles and Practice. Albany, NY. Delmar

Kelleher, M. M. B. (2002). Removal of Urinary Catheters: Mindnigth vs. 0600 hours. British journal of Nursing, 11, 84, 86, 88-90.

Kozier B., Erb G., Berman A., dan Synder SJ., (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, proses & Praktek. Jakarta. EGC

Maria I., dan Kurnia E. (2012). Kepatuhan Perawat Dalam Melaksanakan Standar Prosedur Operasional Pemasangan Infus Terhadap Pheblitis. Di unduh 1 Juli 2012 dari http://www.stikesbaptiskediri.pdf

Niven, N. (2002). Psikologi Kesehatan: Pengantar Utnuk Perawat Dan Profeional Kesehatan Lain. Jakarta: EGC

Nopia.,Mahyudi., dan Haska Y., (2013). Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan

Perawat Dalam Menjalankat Standar Operasional Prosedur

Pemasangan Kateter Uretra Di Ruang Rawat Inap.Di unduh Juli 2013 dari http://www.e-librarystikesnani--nopiamahyu-175-1- artikel8.pdf.Diambil pada 24 November 2014 jam 10:41 wib

Notatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Renika Cipta

Notoadmodjo, Soekidjo. (2003). Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. (2007). Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis Dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Pasaribu,Masdalifa. (2006) Analisis Pelaksanaan Standar Operasional Prosedur Pemasangan Infus.Jakarta, Salemba Medika.

Potter P. A. dan Perry A. G. (2005).Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC

Ratih L. U., Elsye M. R., dan Maria U. (2014). Pengaruh Kepatuhan Perawat Terhadap Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional Pemasangan

Kateter Di Rs PKU Muhammadiyah Gombong. Universitas

Muhammadiyah Yogjakarta. Di unduh Juni 2015.

Rusna RP. (2009). Gambaran Rekrutmen dan Seleksi Karyawan Di Rumah Sakit Permata Bekasi. Universitas Indonesia, Jakarta.

Sugiyono.(1994) Statistika Untuk Penelitian. Bandung.CV Alphabeta.

Suroso J. (2011). Penataan System Jenjang Karir Berdasarkan Kompetensi untuk Meningkatkan Kepuasan Kerja Dan Kinerja Perawat Di Rumah Sakit.Eksplatasi.2011; 6(2)123-131

Swansburg RC. (2000). Kepemimpinan Dan Manajemen Keperawatan untuk Perawat Klinis. Jakarta: EGC;

Syukriyadi., Baharuddin., Muhammad. (2013). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Perawat Dalam Pelaksanaan Ptotap Pemasangan Dan Irigasi Kateter Uretra Di Ruang Rawat Inap RSUD

Kabupaten Sinjai. Di unduh Juni 2013 dari http://www.e-

librarystikesnani

Widhori.(2014). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Perawat Dalam Pelaksanaan Protap Pemasangan Infus Di Ruang Rawat inap RSUD

Lampiran 1 JADWAL PENELITIAN No Kegiatan Septemb er Oktober Novemb er Desemb er

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. Mengajukanjudul 2. Menetepkanjudul penelitian 3. Menyusun BAB 1 4. Menyusun BAB 2 5. Menyusun BAB 3 6. Menyusun BAB 4 7. Menyerahkan proposal penelitian 8. Mengajukan sidang proposal

9. Sidang proposal

10. Revisi proposal penelitian 11. Mengajukan izin penelitian 12. Pengumpulan data

13. Analisa data

14. Penyusunan skripsi 15. Pengajuan sidang skripsi 16. Ujian sidang hasil

17. Revisi

Lampran 2 LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Judul : Kepatuhan Perawat dalam Pemasangan Kateter dan

Pemasangan Infus di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Sahudin Kutacane

Peneliti : Habibul Ummi

Nim : 111101132

Saya adalah mahasiswa Fakultas keperawatan Universitas Sumatera Utara

Medan, akan melakukan penelitian tentang “Kepatuhan Perawat dalam

Pemasangan Kateter dan Pemasangan Infus di Rumah Sakit Umum Daerah Haji

Sahudin Kutacane”. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Partisipasi bapak/ibu dalam penelitian ini bersifat suka rela. Bapak/ibu mempunyai hak bebas untuk berpartisipasi atau menolak menjadi responden dan jika bapak/ibu tidak bersedia menjadi responden maka saya akan tetap menghargai dan tidak akan mempengaruhi terhadap proses penelitian ini, dan jika bapak/ibu bersedia mohon untuk menandatangani lembar persetujuan ini.

Demikian permohonan ini disampaikan atas bantuan dan partisipasinya saya ucapkan terimakasih

Medan, Mei 2015 Responden

Lampiran 3 KEPATUHAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN PEMASANGAN

KATETER DAN PEMASANGAN INFUSE

DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH HAJI SAHUDIN KUTACANE

Hari/tanggal: ……….

Petunjuk pengisian : isilah titik-titik yang tersedia dan beri tanda contreng/check list(√) pada kotak yang sesuai dengan bapak/ibu

Data Demografi Responden

1. No Responden : ………...

2. Jenis Kelamin : Laki-laki, Perempuan

3. Usia : …… Tahun

4. Pendidikan Terakhir : S1 Keperawatan D3 Keparawatan SPK

Lampiran 4 FORMAT OBSERVASI KEPATUHAN PERAWAT DALAM

PELAKSANAAN PEMASANGAN KATETER DI RUANGAN

PETUNJUK PENGISIAN:

1. Adapun kriteria jawaban dalam lembar observasi ini sebagai berikut:

(+) : Perawat melakukan atau patuh dalam pelaksanaan prosedur pemasangan katater.

(−) : Perawat tidak melakukan atau tidak patuh dalam pelaksanaan posedur

pemasangan kateter

Pelaksanaan pemasangan kateter

Kepatuhan

Tgl Tgl Tgl Tgl Tgl No No No No No + − + − + − + − + − a. Alat : 1. Neirbecken 2. Handscone steril 3. Pinset anatomis

4. Kateter steril sesuai ukuran yang di butuhkan 5. Urobag

6. Spuit 10 ml 7. Selimut 8. Plester

9. Kapas dan cairan sublimate 10. Jelly

11. Aquadest

b. Persiapan Pasien

1. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan

2. Menjelaskan Tujuan melakukan pemasangan kateter

c. Prosedur

1. Mencuci tangan

2. Memberikan pripasi pada klien.

3. Menempatkan posisi klien supinasi pada klien wanita dengan lutut ditekukan dan rotasi eksternal, pada klien laki-laki supinasi tungkai sedikit dibuka.

4. Memberikan pencahayaan yang adekuat. 5. Memasang sarung tangan steril.

6. Merendam kapas pembersih dengan larutan antiseptic. 7. Menyiapkan pelumas.

a. Pada klien laki-laki lumasi kateter sekitar 6 sampai 7 inci menggunakan jelly.

b. Pada klien wanita lumasi kateter 1 samapi 2 inci menggunakan jelly.

9. Membersihkan meatus:

a. Pada klien laki-laki tangan nondominan memegang penis ke arah atas dan mengambil pengelap dari pusat dan mengambil forceps di tangan dominan dan mengelap dari pusat meatus dengan gerakan melingkar ke sekeliling glans dengan hati-hati dan melakukan pembersihan ini hingga sampai tiga kali.

b. Pada klien wanita mulai dari salahsatu sisi labia mayora dangan arah anteroposterior dan ulangi membersihkan labia minora kemudia gunakan kapas terakhir untuk membersihkan secara langsung ke atas meatus.

10. Menganjurkan klien menarik napas dalam dan masukkan kateter 2 sampai 3 inci ketika klien menghembuskan napas.

11. Memasukkan kateter 2 inci labih jauh setelah urine mulai mengalir ke kateter

12. Menggelembungkan balon retensi dengan aquadest steril sesuai ketentuan volume .

13. Menempatkan urobag di tempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih

14. Membereskan alat dan bahan setelah melakukan tindakan

d. Mengevaluasi

1. Melakukan tindak lanjut apabila ditemukan hasil yang menyimpang dari yang diharapkan

2. Memantau kelancaran pengeluaran urine 3. Mengajarkan klien merawat kateter

e. Dokumentasi :

1. Hari 2. Tanggal 3. Jam

4. Tipe dan ukuran kateter yang digunakan 5. Jumlah urine 6. Bau urine 7. Warna urine (+) = YA (−) = Tidak No = Kode Responden

Lampiran 5 FORMAT OBSERVASI KEPATUHAN PERAWAT DALAM

PELAKSANAAN PEMASANGAN INFUS DI RUANGAN

1. Adapun kriteria jawaban dalam lembar observasi ini sebagai berikut:

(+) : perawat melakukan atau patuh dalam pelaksanaan prosedur pemasangan infus.

(−) : perawat tidak melakukan atau tidak patuh dalam pelaksanaan posedur

pemasangan infus.

Pelaksanaan pemasangan infus

Kepatuhan

Tgl Tgl Tgl Tgl Tgl No No No No No + − + − + − + − + − a. Alat 1. Set infus 2. Tiang infuse 3. Cairan infus 4. Plester 5. Handscone steril 6. Tourniquet 7. Swab antiseptic 8. Kateter intravena 9. Kassa steril b. Persiapan klien

1. Menjelaskan prosedur pemasangan infuse

2. Memastikan bahwa pakaian klien dapat dilepas di bagian atas

c. Prosedur kerja

1. Mencuci tangan 2. Menyiapkan set infus 3. Menutup klem

4. Membiarkan ujung slang tertutup dengan plastik sampai infus dipasang 5. Melepaskan tutup pelindung dari lubang kantong atau botol cairan infus 6. Masukkan penusuk ke lubang kantong atau botol cairan infuse

7. Menggantungkan botol cairan infus pada tiang infus dengan jarak 1 m di atas kepala klien

9. Membuka tutup pelindung 10. Melepaskan klem

11. Biarkan cairan mengalir sampai belembung sikeluarkan, 12. Mengklem kembali slang

13. Pasang kembali tutup slang 14. Mencuci tangan kembali

15. Memilih tempat punksi vena: vena yang tampak lurus tidak berkelok- kelok dan tidak pada persendian

Dokumen terkait