• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN Isolat Minyak Kulit Kayu Manis

Sampel kulit kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk yang berukuran 100 mesh. Penentuan kadar air dilakukan sebelum proses isolasi minyak kulit kayu manis yang berfungsi menyatakan kandungan zat dalam tumbuhan sebagai persen kering, mengetahui cara penyimpanan sampel yang baik, dan menghindari pengaruh mikrob. Menurut Winarno (1997), sampel yang baik disimpan dalam jangka panjang

adalah yang memiliki kadar air kurang dari 10%.

Kadar air serbuk kulit kayu manis adalah 10.65%. Hal ini memperlihatkan bahwa kadar air yang terkandung di dalam sampel lebih besar dari 10% sehingga membutuhkan perhatian dalam penyimpanan sampel agar tidak cepat rusak. Faktor yang perlu diperhatikan dalam proses penyimpanan antara lain kelembapan udara, perlakuan terhadap bahan, waktu penyimpanan, besarnya penguapan, dan kemungkinan teroksidasinya sampel.

Berdasarkan standar mutu SNI 01-3714-1995 (Lampiran 4), kadar air maksimum yang diperbolehkan terkandung di dalam serbuk kulit kayu manis adalah 12%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar air sampel kayu manis yang digunakan di dalam penelitian ini telah memenuhi standar mutu.

Serbuk kulit kayu manis sebanyak 2000.50 g didistilasi selama 6 jam. Rendemen minyak yang diperoleh sebesar 0.93% (b/b) atau 0.95% (v/b). Rendemen minyak semakin meningkat bergantung pada lamanya distilasi dan tingginya suhu pemanasan (Ginting 2004). Akan tetapi, suhu yang tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya degradasi komponen minyak atsiri sehingga kehilangan aroma khas minyak kulit kayu manis (sinamon). Rendemen minyak sinamon yang diperoleh sangat bergantung pada kehalusan simplisia (Kurniawan 1996).

Proses distilasi selama 8 jam menghasilkan rendemen minyak kayu manis 1.3% (b/b) dengan menggunakan metode

clevenger (Sulaswatty et al. 2001), sedangkan

pada penelitian ini distilasi dilakukan selama 6 jam. Kadar minyak atsiri yang harus dimiliki kulit kayu manis maksimum adalah 0.7% bersumber pada SNI 01-3714-1995. Hal ini disebabkan perbedaan metode yang digunakan, yaitu distilasi air dan distilasi uap air. Minyak sinamon dari hasil isolasi menghasilkan nilai indeks bias dan bobot jenis yang masih berada pada selang yang digunakan sebagai syarat mutu minyak kulit kayu manis berdasarkan SNI 06-3734-2006 (Lampiran 4).

Hasil analisis GCMS terhadap minyak sinamon menghasilkan kadar sinamaldehida sebesar 55.7% yang terdiri atas senyawa

trans-sinamaldehida dan 3-fenil-2-propenal.

Hal ini berarti bahwa sinamaldehida merupakan komponen utama penyusun minyak sinamon kulit kayu manis C.

Uji Aktivitas Antioksidan

Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan adanya aktivitas antioksidan pada fraksi sinamaldehida yang diperoleh dari hasil isolasi KLT preparatif. Aktivitas antioksidan fraksi sinamaldehida menghasilkan nilai IC50 sebesar 5.06 mg/L. (Tabel 3).

Tabel 3 Data IC50 sinamaldehida dari hasil isolasi dan senyawa kontrol positif

Sampel IC50(mg/L)

Sinamaldehida 5.06

BHT 10.4

Vitamin E* 61.1

*Lin et al. (2007)

Sinamaldehida dari hasil isolasi memiliki aktivitas antioksidan yang lebih besar dibandingkan dengan senyawa antioksidan lainnya seperti BHT dan vitamin E (Lin et al. 2007). Hal ini ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6 Perbandingan aktivitas antioksidan sinamaldehida dan senyawa kontrol positif.

PEMBAHASAN

Isolat Minyak Kulit Kayu Manis Sampel kulit kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk yang berukuran 100 mesh. Penentuan kadar air dilakukan sebelum proses isolasi minyak kulit kayu manis yang berfungsi menyatakan kandungan zat dalam tumbuhan sebagai persen kering, mengetahui cara penyimpanan sampel yang baik, dan menghindari pengaruh mikrob. Menurut Winarno (1997), sampel yang baik disimpan dalam jangka panjang

adalah yang memiliki kadar air kurang dari 10%.

Kadar air serbuk kulit kayu manis adalah 10.65%. Hal ini memperlihatkan bahwa kadar air yang terkandung di dalam sampel lebih besar dari 10% sehingga membutuhkan perhatian dalam penyimpanan sampel agar tidak cepat rusak. Faktor yang perlu diperhatikan dalam proses penyimpanan antara lain kelembapan udara, perlakuan terhadap bahan, waktu penyimpanan, besarnya penguapan, dan kemungkinan teroksidasinya sampel.

Berdasarkan standar mutu SNI 01-3714-1995 (Lampiran 4), kadar air maksimum yang diperbolehkan terkandung di dalam serbuk kulit kayu manis adalah 12%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar air sampel kayu manis yang digunakan di dalam penelitian ini telah memenuhi standar mutu.

Serbuk kulit kayu manis sebanyak 2000.50 g didistilasi selama 6 jam. Rendemen minyak yang diperoleh sebesar 0.93% (b/b) atau 0.95% (v/b). Rendemen minyak semakin meningkat bergantung pada lamanya distilasi dan tingginya suhu pemanasan (Ginting 2004). Akan tetapi, suhu yang tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya degradasi komponen minyak atsiri sehingga kehilangan aroma khas minyak kulit kayu manis (sinamon). Rendemen minyak sinamon yang diperoleh sangat bergantung pada kehalusan simplisia (Kurniawan 1996).

Proses distilasi selama 8 jam menghasilkan rendemen minyak kayu manis 1.3% (b/b) dengan menggunakan metode

clevenger (Sulaswatty et al. 2001), sedangkan

pada penelitian ini distilasi dilakukan selama 6 jam. Kadar minyak atsiri yang harus dimiliki kulit kayu manis maksimum adalah 0.7% bersumber pada SNI 01-3714-1995. Hal ini disebabkan perbedaan metode yang digunakan, yaitu distilasi air dan distilasi uap air. Minyak sinamon dari hasil isolasi menghasilkan nilai indeks bias dan bobot jenis yang masih berada pada selang yang digunakan sebagai syarat mutu minyak kulit kayu manis berdasarkan SNI 06-3734-2006 (Lampiran 4).

Hasil analisis GCMS terhadap minyak sinamon menghasilkan kadar sinamaldehida sebesar 55.7% yang terdiri atas senyawa

trans-sinamaldehida dan 3-fenil-2-propenal.

Hal ini berarti bahwa sinamaldehida merupakan komponen utama penyusun minyak sinamon kulit kayu manis C.

sinamaldehida yang harus dimiliki minyak sinamon adalah 50% (SNI 06-3734-2006).

Kadar sinamaldehida minyak sinamon akan semakin tinggi bila isolasi minyak menggunakan distilasi uap, karena pada distilasi air komponen penyusun minyak atsiri dapat rusak akibat terhidrolisis oleh air. Penelitian Nainggolan (2008) menggunakan metode isolasi distilasi uap menghasilkan rendemen minyak sinamon sebesar 0.0963% dengan kadar sinamaldehida sebesar 82.8%. Hal ini berarti metode isolasi yang baik untuk menghasilkan kadar sinamaldehida minyak sinamon yang lebih murni adalah metode distilasi uap, tetapi rendemen yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan distilasi air. Walaupun demikian, minyak sinamon yang diperoleh dari metode distilasi air masih memenuhi syarat mutu minyak kulit kayu manis.

Isolat Sinamaldehida

Isolasi sinamaldehida pada penelitian ini menggunakan metode KLT preparatif. Kromatogram yang dihasilkan dari pemisahan melalui KLT memperlihatkan bahwa eluen yang digunakan sudah baik untuk mengisolasi sinamaldehida dari minyak sinamon dengan Rf

senyawa telah diketahui.

Berdasarkan Tabel 2, nilai Rfdari senyawa yang diduga sinamaldehida adalah 0.62, yang terdapat pada fraksi ke-3 dari lima fraksi yang dihasilkan. Standar senyawa sinamaldehida yang digunakan oleh Friedman et al. (2000) memiliki Rf sebesar 0.64. Perbedaan eluen yang digunakan akan menghasilkan Rf senyawa yang berbeda. Pada penelitian ini digunakan eluen n-heksana:etanol (95:5), sedangkan senyawa standar menggunakan n -heksana:etil asetat (10:1).

Fraksi ke-3 yang dihasilkan pada KLT digunakan untuk proses analisis selanjutnya dengan cara mengumpulkan hasil kerokan dari KLT preparatif sehingga mencukupi untuk dianalisis kualitatif dan kuantitatif komponen senyawa penyusunnya. Dari analisis kualitatif (Gambar 3) disimpulkan bahwa pada fraksi yang ke-3 terkandung senyawa aldehida. Aldehida merupakan gugus yang mudah teroksidasi menjadi gugus asam karboksilat. Dalam uji Tollens, aldehida dioksidasi dalam suasana basa menghasilkan anion karboksilat dan secara bersamaan ion Ag+ dalam pereaksi Tollens tereduksi menjadi logam Ag (perak bebas) yang melekat pada dinding dalam tabung reaksi sebagai cermin perak.

Uji kualitatif dengan adisi senyawa bisulfit dilakukan menggunakan natrium bisulfit. Endapan kristal putih adalah senyawa yang terbentuk setelah natrium bisulfit mengadisi gugus karbonil. Reaksi adisi gugus karbonil akan membentuk suatu garam yang mengandung natrium dan ikatan karbon-sulfur pada atom karbonil sehingga reaksi adsi ini dijadikan metode identifikasi senyawa karbonil.

Uji kuantitatif komponen senyawa penyusun fraksi yang ke-3 dari hasil isolasi adalah senyawa trans-sinamaldehida, 3-fenil-2-propenal, dan metanol. Metanol merupakan pelarut yang digunakan dalam metode isolasi sinamaldehida dengan KLT preparatif. Hal ini menyebabkan pada analisis GCMS fraksi yang ke-3 terdapat senyawa metanol. Dari analisis GCMS yang dihasilkan dapat disimpulkan bahwa kadar sinamaldehida yang berhasil diisolasi adalah 89.09%.

Hasil analisis GCMS terlihat pada Lampiran 3. Kadar sinamaldehida yang diperoleh pada penelitian lebih besar dibandingkan dengan yang dilaporkan Nainggolan (2008), yaitu 82.8% dengan pemisahan menggunakan kromatografi kolom. Eluen yang digunakan sama. Perbedaan ini dikarenakan pada metode KLT preparatif, fraksi yang diperoleh dilarutkan dengan metanol. Sinamaldehida larut baik dalam pelarut metanol sehingga senyawa yang dihasilkan sedikit lebih murni.

Isolasi menggunakan metode KLT preparatif silika gel 60 F254 memiliki keunggulan, yaitu waktu isolasi yang relatif singkat bila dibandingkan dengan isolasi kromatografi kolom. Akan tetapi, proses ini memiliki kelemahan dalam jumlah sampel yang diisolasi dan hasil yang diperoleh lebih sedikit. Meskipun demikian, KLT preparatif dapat dijadikan salah satu metode pemisahan senyawa selain kromatografi kolom yang umum digunakan saat ini dengan syarat Rf

senyawa yang ingin diisolasi telah diketahui sebelumnya atau dengan cara membandingkan Rf fraksi yang diperoleh dengan senyawa standar.

Aktivitas Antioksidan

Aktivitas antioksidan senyawa sinamaldehida ini lebih besar dibandingkan dengan BHT yang digunakan sebagai kontrol positif. BHT memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 10.4 mg/L sedangkan sinamaldehida hasil isolasi memiliki aktivitas sebesar 5.06 mg/L.

Aktivitas ini lebih baik bila dibandingkan dengan laporan Ekaprasada (2010) yang menyatakan bahwa ekstrak kasar etanol kulit kayu manis adalah λ g/mL. Perbedaan ini tampaknya karena ada pengaruh komponen lain penyusun ekstrak kasar etanol.

Sinamaldehida yang diperoleh dari isolasi minyak daun C. osmophloeum memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 11 mg/L dengan menggunakan kontrol positif vitamin E yang memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 sebesar 61.1 mg/L (Lin et al. 2007). Penelitian ini hanya menggunakan BHT sebagai kontrol positif karena berdasarkan struktur dari senyawa lebih mirip dengan sinamaldehida yang memiliki gugus benzena bila dibandingkan senyawa vitamin E maupun asam askorbat. BHT memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan vitamin E.

Penelitian yang dilakukan oleh Amiri (2007) menyatakan hal yang sama bahwa komponen minyak atsiri memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol positif BHT. Hasil uji aktivitas antioksidan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sinamaldehida memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan senyawa antioksidan sintetik (BHT) sehingga dapat dijadikan produk turunan kayu manis yang bernilai tinggi.

Dokumen terkait