DI LAHAN NON-SALIN
10 PEMBAHASAN UMUM
Salinitas merupakan salah satu faktor yang membatasi produksi padi di Indonesia. Kehilangan hasil padi akibat salinitas mencapai 50-100%. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil padi di lahan salin adalah dengan menggunakan varietas toleran salinitas. Ketersediaan varietas unggul toleran salinitas di Indonesia masih terbatas sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menghasilkan varietas unggul baru yang toleran salinitas. Penggunaan kultur antera dan uji cepat pada fase bibit diharapkan mampu menghasilkan galur-galur homozigos yang toleran salinitas dalam waktu yang lebih cepat sehingga diharapkan varietas baru toleran salinitas dapat dihasilkan lebih cepat.
Penelitian ini merupakan penelitian berkelanjutan yang diawali dengan pemilihan tetua untuk membentuk populasi F1. Tanaman F1 yang dihasilkan digunakan sebagai sumber antera dalam penelitian pembentukan galur-galur dihaploid melalui kultur antera. Galur-galur dihaploid yang dihasilkan perlu diuji lebih lanjut penampilan, daya hasil dan toleransinya terhadap salinitas. Oleh karena itu dilakukan pengujian terhadap 60 galur dihaploid yang dihasilkan. Pengujian toleransi terhadap salinitas dilakukan pada media hidroponik pada fase bibit dan di tanah salin dalam pot yang dilakukan di rumah kaca. Pengujian penampilan dan daya hasil dilakukan di Cianjur, Jawa Barat. Galur-galur yang berpenampilan baik kemudian diuji kembali penampilan dan daya hasilnya di lahan sawah irigasi di Sukabumi, Jawa Barat.
Pemilihan tetua untuk persilangan sangat diperlukan dalam perakitan varietas unggul baru. Pada penelitian ini dilakukan penapisan toleransi terhadap salinitas pada fase bibit terhadap 10 varietas unggul dan 3 galur padi asal IRRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima genotipe tergolong toleran dengan skor 3 yaitu Dendang, Inpara 5, Inpari 29, IR77674-3B-8-2-2-14-4-AJY2 dan IR81493-B-B-B-6-2-1-2. Genotipe-genotipe tersebut digunakan sebagai tetua dalam pembentukan F1 yang digunakan sebagai sumber antera dalam pembentukan galur-galur dihaploid. Selain genotipe toleran dihasilkan pula genotipe yang peka terhadap salinitas, yaitu Inpara 4. Inpara 4 dapat digunakan sebagai alternatif untuk varietas peka salinitas selain IR29 pada penelitian- penelitian selanjutnya.
Perlakuan salinitas pada fase bibit mengakibatkan penurunan pertumbuhan pada semua genotipe yang digunakan pada penelitian ini, terlihat dari penurunan pada karakter-karakter agronomi yang diamati yaitu tinggi bibit, panjang akar, bobot basah tajuk dan akar, bobot kering tajuk dan akar, serta bobot basah dan bobot kering biomassa tanaman. Pengamatan terhadap karakter agronomi bibit tidak dapat digunakan untuk membedakan antara genotipe toleran dengan genotipe peka karena semua genotipe mempunyai penurunan yang signifikan pada karakter yang diamati. Skoring berdasar kerusakan daun dapat lebih mudah digunakan untuk membandingkan genotipe toleran dan genotipe peka sehingga penentuan genotipe toleran atau peka pada fase bibit menggunakan dasar skor kerusakan daun.
Pada budidaya padi di lahan pantai, salinitas terjadi tidak hanya pada fase bibit saja, melainkan pada semua fase pertumbuhan tanaman padi. Oleh sebab itu, respon tanaman padi terhadap salinitas pada seluruh fase pertumbuhan tanaman sangat penting untuk diketahui. Pengujian 15 genotipe padi yang digunakan
sebagai tetua persilangan dalam penelitian ini, selain dilakukan di media hidroponik juga dilakukan di lapangan, yaitu di lahan salin di Madura. Percobaan mengalami kegagalan karena curah hujan yang cukup tinggi selama pelaksanaan percobaan sehingga pengaruh salinitas tidak dapat diamati pada genotipe-genotipe yang diuji. Semua genotipe menunjukkan pertumbuhan yang baik, tidak menunjukkan terpengaruh salinitas (Gambar 10.1A), sehingga pengujian diulang di lokasi yang berbeda, yaitu di Serang, Banten. Percobaan di Serang tidak berhasil karena pertanaman mengalami kekeringan sehingga tingkat salinitas tanah sangat tinggi (>15 dS m-1) sehingga semua genotipe tidak bertahan hidup dan data toleransi 15 genotipe padi tidak diperoleh (Gambar 10.1B). Pelaksanaan percobaan penapisan salinitas di lapangan banyak mengalami kesulitan dan kendala alam sehingga perlu ditemukan metode yang tepat dalam melaksanakan percobaan penapisan salinitas di tanah salin yang dapat dilakukan di rumah kaca. Oleh karena itu perlu diketahui konsentrasi NaCl yang dapat digunakan untuk melakukan percobaan tersebut.
Gambar 10.1 Kondisi percobaan penapisan plasma nutfah padi terhadap salinitas di lapangan: (A) lokasi Madura pada 65 HST dan (B) lokasi Serang, Banten pada 30 HST
Empat genotipe toleran (IR77674, IR81493, Dendang dan Pokkali) dan dua genotipe sangat peka (Inpara 4 dan IR29) yang terpilih pada penapisan pada fase bibit digunakan untuk mengetahui respon agro-fisiologi dan toleransi tanaman terhadap salinitas di tanah salin. Percobaan dilakukan dengan menggunakan pot di rumah kaca. Media yang digunakan berupa tanah sawah yang ditambah dengan NaCl dengan konsentrasi 0, 20, 40, 60 dan 80 mM (berturut-turut EC = 1.3 dS m- 1
, 4.8 dS m-1, 6.2 dS m-1, 8.8 dS m-1, dan 12.3 dS m-1 yang diukur pada air genangan pada pot). Dari percobaan ini diketahui bahwa genotipe toleran IR77674 dan IR81483 mempunyai mekanisme toleransi yang bersifat eksklusi, sedangkan Dendang dan Pokkali mempunyai mekanisme yang bersifat inklusi. IR77674 dan IR81483 mempunyai konsentrasi Na+ dalam jaringan daun yang rendah pada perlakuan salinitas, berbeda dengan Dendang dan Pokkali yang mempunyai konsentrasi Na+ dalam jaringan daun yang tinggi. Keempat galur toleran tersebut mampu mempertahankan pertumbuhannya hingga panen dengan kehilangan hasil pada perlakuan 40 mM NaCl (6.2 dS m-1) sebesar <70%, sedangkan genotipe peka Inpara 4 dan IR29 mengalami kehilangan hasil 90-100%. Zeng dan Shannon (2000) menyatakan bahwa kehilangan hasil padi pada salinitas sedang (6-10 dS m-1) mencapai 75%.
Pada percobaan penapisan di tahan salin diperoleh hasil bahwa konsentrasi 40 mM NaCl (EC = 6.2 dS m-1) dapat membedakan antara genotipe toleran dan peka secara signifikan. Pada 40 mM NaCl, penurunan hasil pada genotipe toleran berkisar 46.2-68.2% dan pada genotipe peka berkisar 90.9-100%. Menurut Sopandie (2014), tanah salin adalah tanah yang memiliki konduktivitas elektrik (EC) lebih dari 4 dS.m-1 atau kurang lebih setara dengan 40 mM NaCl dalam larutan tanah. Egdane et al. (2007) mengaplikasikan NaCl yang menghasilkan EC sebesar 6 dS m-1 pada plot percobaan untuk penapisan padi terhadap salinitas pada fase reproduktif di lahan salin. Islam dan Gregorio (2013) melaporkan bahwa padi toleran salinitas dapat diperoleh melalui penapisan pada fase bibit dengan aplikasi NaCl yang menghasilkan EC sebesar 12-14 dS m-1 dan penapisan di tanah salin selama siklus hidup tanaman pada EC 6 dS m-1.
Percobaan pembentukan galur-galur dihaploid melalui kultur antera menggunakan 12 populasi F1, 6 persilangan merupakan kombinasi antara genotipe toleran/toleran dan 6 persilangan yang lain merupakan kombinasi antara genotipe toleran/moderat (Tabel 5.2). Percobaan kultur antera menghasilkan 125 tanaman dihaploid, 54 tanaman diantaranya (43%) dihasilkan dari F1 persilangan IR77674/Inpari 29. Dari 125 galur dihaploid yang dihasilkan, 60 galur (48%) diuji lebih lanjut penampilan agronomi, daya hasil dan toleransinya terhadap salinitas. Galur-galur dihaploid yang dihasilkan belum semuanya diuji lebih lanjut karena keterbatasan rumah kaca, lahan dan juga tenaga.
Skoring visual berdasarkan kerusakan daun terhadap 60 galur-galur dihaploid pada fase bibit menghasilkan 31 tergolong toleran (skor 3), 25 galur moderat toleran (skor 5) dan 4 galur peka (skor 7), sedangkan skoring pada 60 hasi setelah semai (HSS) di tanah salin menghasilkan 12 galur toleran (skor 3), 6 galur moderat toleran (skor 5), 14 galur peka (skor 7) dan 28 galur sangat peka (skor 9) (Tabel 10.1). Data yang diperoleh menunjukkan bahwa galur-galur yang toleran salinitas pada pengujian di tanah salin berjumlah lebih sedikit apabila dibandingkan dengan galur-galur yang toleran pada pengujian di kultur hara pada fase bibit, meskipun pemberian NaCl yang digunakan pada pengujian di tanah salin lebih rendah konsentrasinya (40 mM NaCl atau EC = 6.2 dS m-1) dibandingkan dengan pada percobaan hidroponik (120 mM NaCl atau EC = 11 dS m-1). Hal ini terjadi karena tanaman berada dalam media tanah salin di pot pada seluruh fase pertumbuhannya, sedangkan pada pengujian di kultur hara, bibit berada dalam media selama 14 hari. Selain itu, dalam media kultur hara, nutrisi yang diberikan berada dalam kondisi optimal sehingga garam yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman hanya NaCl. Pada media tanah salin di pot, selain NaCl terdapat garam-garam lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan dapat meningkatkan salinitas tanah, antara lain Na2SO4, CaCl2, Mg2SO4 dan MgCl2. Ketidakseimbangan ion-ion dalam larutan tanah dapat menurunkan penyerapan ion NO3-, K+, Zn+ dan Ca2+ yang berakibat pada penurunan pertumbuhan tanaman (Sopandie 2014).
Penapisan galur-galur padi terhadap salinitas yang dilakukan dengan percobaan pot di rumah kaca mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan penapisan yang dilakukan di lapangan pada lahan salin, antara lain perlakuan yang lebih terkontrol (seragam pada semua pot), konsentrasi NaCl dapat ditentukan berdasar konsentrasi kritis untuk percobaan penapisan, pengamatan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan tidak dipengaruhi oleh
lingkungan (musim). Meskipun demikian, penapisan (seleksi) yang dilakukan pada lingkungan target (lahan salin) tetap perlu dilakukan, terutama pada galur- galur terpilih yang berdaya hasil tinggi. Penapisan galur-galur padi terhadap salinitas pada media hidroponik dan tanah salin dalam pot dapat digunakan sebagai seleksi awal, apalagi jika jumlah galur yang diuji sangat banyak. Galur- galur yang tergolong toleran salinitas berdasar penapisan pada media hidroponik dan tanah salin dalam pot dapat diuji lebih lanjut tingkat toleransinya di lahan salin dan diuji potensi hasilnya pada lahan optimal.
Tabel 10.1 Skor visual toleransi 60 galur dihaploid padi terhadap salinitas pada media hidroponik (fase bibit) pada 120 mM NaCl dan di tanah salin (60 HST) pada 40 mM NaCl
No Genotipe Hidroponik Tanah
salin No Genotipe Hidroponik
Tanah salin 1 HS1-5-1-1 3 5 31 HS4-15-3-16 5 7 2 HS1-15-1-1 3 9 32 HS4-15-3-19 5 9 3 HS1-28-1-3 5 9 33 HS4-15-3-21 3 7 4 HS1-28-1-4 5 9 34 HS4-15-3-33 3 9 5 HS1-35-1-1 3 3 35 HS4-15-3-34 3 7 6 HS1-35-1-5 3 3 36 HS4-15-3-39 3 9 7 HS1-35-1-6 3 3 37 HS4-45-1-66 5 7 8 HS1-35-1-7 3 3 38 HS14-15-1-1 3 3 9 HS1-35-1-10 3 3 39 HS14-15-1-2 3 3 10 HS2-5-1-1 3 7 40 HS15-11-1-1 7 9 11 HS2-9-1-1 3 3 41 HS15-11-1-2 3 7 12 HS4-8-1-2 3 9 42 HS15-13-1-1 5 5 13 HS4-11-1-3 5 7 43 HS17-1-1-1 3 7 14 HS4-11-1-29 3 5 44 HS17-1-1-2 5 9 15 HS4-11-1-36 3 5 45 HS17-3-1-1 5 9 16 HS4-11-1-70 3 7 46 HS17-3-1-2 3 3 17 HS4-11-1-71 5 9 47 HS17-3-1-3 3 3 18 HS4-11-1-72 5 5 48 HS17-3-1-4 7 9 19 HS4-11-1-75 5 5 49 HS17-3-1-6 5 9 20 HS4-13-1-4 5 9 50 HS17-3-1-7 5 9 21 HS4-15-1-1 7 9 51 HS17-21-1-1 5 9 22 HS4-15-1-8 3 7 52 HS17-21-1-2 5 9 23 HS4-15-1-9 5 7 53 HS17-21-1-5 3 3 24 HS4-15-1-10 3 9 54 HS17-21-1-6 5 9 25 HS4-15-1-28 3 7 55 HS17-31-1-1 3 3 26 HS4-15-1-62 3 7 56 HS17-31-1-2 5 9 27 HS4-15-2-1 3 9 57 HS17-33-1-1 5 9 28 HS4-15-3-13 5 9 58 HS17-33-1-8 7 9 29 HS4-15-3-14 5 9 59 HS17-62-1-1 5 9 30 HS4-15-3-15 3 7 60 HS18-17-1-1 5 9 Pokkali 3 3 IR29 9 9
Skor 1 = sangat toleran, 3 = toleran, 5 = moderat toleran, 7 = peka, 9 = sangat peka
Tabel 10.2 Koefisien korelasi Pearson skor toleransi salinitas padi pada media hidroponik (fase bibit) dan di tanah salin (60 HST)
Hidroponik Tanah salin
Hidroponik 1.00
Tanah Salin 0.55** 1.00
Tabel 10.3 Galur-galur padi dihaploid yang toleran dan moderat terhadap salinitas padi berdasarkan pengujian di tanah salin
No Galur/varietas
Hasil gabah per
tanaman (g) Penurunan variabel akibat salinitas (%)
Hasil gabah vs Ciherang pada 40 mM Skor NaCl 0 mM NaCl 40 mM TT JA GI GT Hasil 1 HS1-5-1-1 54.6 14.3 16.0 67.6 37.1 42.5 73.8 91.9 5 2 HS1-35-1-1 34.6 15.6 14.8 9.1 34.8 31.1 54.9 109.8 3 3 HS1-35-1-5 36.3 18.1 16.9 24.3 25.4 30.6 50.1 143.0 3 4 HS1-35-1-6 30.7 22.9 21.0 0.0 27.8 32.6 25.4 207.8 3 5 HS1-35-1-7 29.9 15.7 18.5 20.7 26.2 33.8 47.5 110.7 3 6 HS1-35-1-10 24.2 17.9 11.6 31.3 24.2 16.0 25.8 140.7 3 7 HS2-9-1-1 17.0 15.3 6.9 8.3 7.4 10.3 10.4 104.9 3 8 HS4-11-1-29 34.4 7.5 23.5 59.1 56.9 56.9 78.3 0.2 5 9 HS4-11-1-36 40.5 10.0 11.8 41.9 43.8 32.9 75.4 33.8 5 10 HS4-11-1-72 30.5 9.0 24.7 27.3 58.7 59.4 70.5 20.8 5 11 HS4-11-1-75 29.8 6.8 22.3 53.8 36.7 38.0 77.2 -8.7 5 12 HS14-15-1-1 14.5 9.9 8.3 30.0 42.2 42.2 32.1 32.4 3 13 HS14-15-1-2 16.8 12.3 19.8 76.0 1.4 3.2 26.9 65.1 3 14 HS15-13-1-1 57.9 17.3 21.8 69.2 46.3 48.6 70.0 132.7 5 15 HS17-3-1-2 35.3 11.2 14.4 50.0 53.2 45.2 68.3 50.3 3 16 HS17-3-1-3 47.6 17.3 13.5 31.7 45.9 40.8 63.7 132.2 3 17 HS17-21-1-5 27.7 12.2 5.4 20.6 30.1 22.6 56.1 63.1 3 18 HS17-31-1-1 20.9 10.5 13.4 44.4 52.8 49.4 49.8 40.5 3 Pokkali 32.9 15.6 9.5 25.6 34.1 29.8 52.5 109.8 3 IR29 30.2 2.7 25.6 71.2 78.3 77.9 91.2 -64.2 9 Ciherang 35.7 7.5 9.7 43.8 66.7 46.2 79.2 - 5 TT= tinggi tanaman, JA= jumlah anakan, GI= jumlah gabah isi per malai, GT = jumlah gabah total per malai
Korelasi antara skor toleransi berdasar kerusakan daun pada media hidroponik dan di tanah salin menunjukkan positif sangat nyata (0.55) (Tabel 10.2). Hal ini berarti bahwa skor kerusakan daun pada media hidroponik berbanding lurus dengan skor kerusakan daun di tanah salin. Skor kerusakan daun pada penapisan di tanah salin 1-2 level lebih besar dibandingkan dengan skor kerusakan daun pada penapisan di media hidroponik, sehingga galur yang tergolong toleran di media hidroponik dapat tergolong moderat toleran atau peka di tanah salin. Meskipun demikian, penapisan galur-galur padi pada media hidroponik pada stadia bibit dapat digunakan sebagai penapisan awal untuk menentukan toleransi galur-galur padi di tanah salin. Pada penelitian selanjutnya, galur-galur padi yang tergolong moderat toleran, peka dan sangat peka berdasar pengujian di media hidroponik tidak perlu diikutkan dalam pengujian kembali pada penapisan galur-galur padi di tanah atau lahan salin. Hal ini juga bertujuan mengurangi jumlah galur (materi penelitian) yang cukup banyak, sehingga penelitian dapat dilakukan dengan lebih efisien. Galur-galur yang toleran dan moderat toleran terhadap salinitas di tanah salin ditampilkan pada Tabel 10.3. Galur-galur toleran dan moderat toleran mengalami penurunan hasil sebesar 10.4- 78.3%, meskipun demikian galur-galur tersebut mempunyai hasil gabah 0.2- 207.8% lebih tinggi dibandingkan dengan Ciherang pada perlakuan salinitas, kecuali galur yaitu HS4-11-1-75.
Kegiatan seleksi dalam pemuliaan tanaman dapat dilakukan dengan metode konvensional dan memanfaatkan teknologi molekuler. Seleksi secara
konvensional mendasarkan pada pengamatan fenotipe yang dibantu dengan pendugaan menggunakan metode statistik yang tepat. Kelemahan seleksi metode konvensional antara lain: 1) memerlukan waktu yang cukup lama, 2) sulit memilih dengan tepat gen-gen yang menjadi target seleksi untuk diekspresikan pada sifat- sifat morfologi atau agronomi, karena penampilan fenotipe tanaman selain ditentukan oleh komposisi genetik, juga ditentukan oleh lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh, 3) rendahnya frekuensi individu yang berada dalam suatu populasi yang besar sehingga menyulitkan kegiatan seleksi untuk mendapatkan hasil yang valid secara statistik, dan 4) pautan gen antara sifat yang diinginkan dengan yang tidak diinginkan sulit dipisahkan saat melakukan persilangan (Lamadji et al. 1999; Azrai 2006).
Teknologi marka molekuler atau marker assisted selection (MAS) pada tanaman padi berkembang sejalan dengan makin banyaknya pilihan marka DNA. Penggunaan MAS dapat mempercepat proses seleksi dan mengurangi jumlah pautan negatif yang berhubungan dengan lokus target (Islam dan Gregorio 2013; Gregorio et al. 2013). MAS yang dapat digunakan antara lain: 1) marka yang berdasarkan pada hibridisasi DNA seperti restriction fragment length polymorphism (RFLP), 2) marka yang berdasarkan pada reaksi rantai polimerase yaitu polymerase chain reaction (PCR) dengan menggunakan sekuen-sekuen nukleotida sebagai primer, seperti randomly amplified polymorphic DNA (RAPD) dan amplified fragment length polymorphism (AFLP), 3) marka yang berdasarkan pada PCR dengan menggunakan primer yang menggabungkan sekuen komplementer spesifik dalam DNA target, seperti sequence tagged sites (STS),
sequence characterized amplified regions (SCARs), simple sequence repeats
(SSRs) atau mikrosatelit, dan single nucleotide polymorphisms (SNPs). Pemilihan marka yang akan digunakan dalam analisis genetik perlu mempertimbangkan tujuan yang diinginkan, sumber dana yang dimiliki, fasilitas yang tersedia, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing tipe marka (Azrai 2006).
Penggunaan marker assisted backcrossing (MABC) telah dikenalkan dengan menggunakan marka foreground untuk mendeteksi Quantitative Trait
Loci (QTL) pada lokus target dan marka background untuk mendeteksi genom
recurrent parent. Efektivitas MABC telah dibuktikan dengan introgresi Sub1, QTL utama untuk toleransi terhadap rendaman sehingga diperoleh beberapa varietas baru toleran rendaman. Pada perakitan padi toleran salinitas, QTL utama
untuk toleransi terhadap salinitas pada kromosom 1 padi yaitu SalTol telah
dipetakan di IRRI dengan menggunakan populasi recombinant inbred line (RIL)
hasil persilangan antara genotipe toleran Pokkali dan genotipe peka IR29. SalTol
berperan mengendalikan rasio penyerapan Na/K dan menyumbang 64.3-80.2% keragaman fenotipik pada padi toleran salinitas. Metode MABC berhasil
mengintrogresikan QTL SalTol ke dalam varietas padi yang berasal dari
Bangladesh yaitu BR11, BRR1 dhan28 dan BRR1 dhan29. Pengembangan varietas padi tersebut dapat mengatasi tantangan produksi padi di pesisir pantai
Bangladesh (Islam dan Gregorio 2013).
Seleksi yang dilakukan pada penelitian ini hanya mendasarkan pada marka morfologi (fenotipe) tanaman dan belum mendasarkan pada marka molekuler. Penggunaan metode penapisan cepat pada fase bibit sudah cukup untuk mengetahui toleransi genotipe-genotipe padi terhadap salinitas pada tahap awal. Metode ini lebih mudah dilakukan dan mempunyai korelasi yang signifikan
dengan penapisan di tanah salin (Tabel 10.2). Metode penapisan di tanah salin selain dapat digunakan untuk mengetahui toleransi suatu genotipe pada fase lanjut, metode ini juga berguna untuk mengetahui keragaan suatu galur atau genotipe padi pada saat kondisi tercekam salinitas maupun pada kondisi non-salin pada perlakuan kontrol.
Evaluasi karakter agronomi dan daya hasil 60 galur padi dihaploid dilaksanakan pada lahan sawah irigasi non-salin di Cianjur, Jawa Barat. Penelitian menghasilkan 21 galur yang berpotensi hasil tinggi (>8 ton ha-1). Dari 60 galur yang diuji, 32 galur terpilih untuk diteruskan pada uji daya hasil pendahuluan (UDHP). Pemilihan galur untuk UDHP berdasarkan pada karakter hasil gabah, umur tanaman dan penampilan tanaman.
Seleksi galur-galur hasil pemuliaan tanaman pada lingkungan bercekaman sebaiknya dilakukan di lingkungan target sehingga dapat memaksimalkan ekspresi gen-gen yang mengendalikan daya adaptasi maupun daya hasil tanaman (Jambormias 2011; Lubis et al. 2014), sedangkan seleksi untuk peningkatan potensi hasil akan lebih efektif bila dilakukan pada lingkungan optimal (Jambormias 2011). Percobaan UDHP pada awalnya dilaksanakan di dua lokasi yang berbeda, yaitu di lahan salin di daerah Indramayu (Pantai Utara), Jawa Barat dan di lahan optimal di Sukabumi, Jawa Barat. Percobaan di lahan salin Pantai Utara mengalami kegagalan karena faktor kekeringan yang dimulai pada dua minggu setelah tanam, sehingga tanaman tidak mampu bertahan (mati) akibat akumulasi garam dalam tanah yang terlalu tinggi (EC > 20 dS m-1) (Gambar 10.2). Hal ini menyebabkan tidak adanya data yang diperoleh dari percobaan UDHP di lahan salin. Kegagalan percobaan di Indramayu disebabkan oleh terlambatnya semai benih (2 minggu lebih lambat), musim kemarau yang datang lebih awal dan adanya air pasang yang merendam pertanaman percobaan, sehingga tidak terdapat air tawar (air irigasi) yang dapat digunakan untuk mencuci garam yang berasal dari air laut. Kegagalan percobaan di Indramayu memberikan suatu pelajaran bahwa seleksi di lingkungan target harus memperhatikan kondisi lingkungan target, terutama musim tanam.
Gambar 10.2 Kondisi percobaan uji daya hasil pendahuluan (UDHP) padi di Indramayu, Jawa Barat: (A) saat tanam dan (B) pada saat 4 minggu setelah tanam
Pertanaman UDHP di Sukabumi juga mengalami kendala kekeringan yang terjadi mulai 8 MST. Dengan pemberian air, pertanaman masih dapat dipertahankan hingga panen walaupun mengalami penurunan pertumbuhan dan hasil gabah. Hal tersebut dilakukan dengan mengusahakan air pengairan dengan cara memompa air dari sumber air (sungai) yang letaknya lebih rendah dari lahan sawah dan berjarak sekitar 100 m dari lokasi percobaan. Secara umum, rata-rata hasil gabah galur-galur dihaploid pada UDHP di Sukabumi sama (sebanding) dengan Ciherang (3.4 ton ha-1). Galur-galur dihaploid perlu diuji kembali di lahan salin dan non-salin untuk mengetahui penampilan dan daya hasil pada lingkungan optimum maupun sub-optimum.
Pengaruh perubahan iklim mengharuskan pemulia tanaman padi untuk menggabungkan beberapa karakter toleransi terhadap cekaman abiotik ke dalam satu genotipe, antara lain toleran salinitas dan rendaman, toleran rendaman dan kekeringan, toleran salinitas dan kekeringan, dan toleran salinitas-rendaman dan kekeringan. Karakter gabungan tersebut dibutuhkan karena beberapa masalah cekaman abiotik dapat terjadi dalam satu musim tanam. Penggabungan beberapa karakter toleransi terhadap cekaman abiotik dapat dilakukan dengan melakukan persilangan menggunakan banyak tetua (multi-parental) dan pemuliaan molekuler (Gregorio et al. 2013). Penggunaan teknologi baru, pengetahuan tentang mekanisme genetik dan sumber toleransi baru memudahkan pemulian padi dalam merakit varietas padi masa depan yang mampu bertahan terhadap pengaruh perubahan iklim dan dapat diterima petani dan konsumen beras.