• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Masalah

1. Pencapaian Target Berdasarkan Realisasi Pajak Restoran, Khususnya

PKL yang Telah Diperoleh DPPKA Kota Surakarta

Pihak DPPKA Kota Surakarta setiap tahunnya menerima laporan realisasi penerimaan Pajak Restoran, khususnya PKL dari masing-masing Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kota Surakarta. UPTD I bertanggungjawab atas Kecamatan Banjarsari, UPTD II bertanggungjawab atas Kecamatan Jebres dan Pasar Kliwon, UPTD III bertanggungjawab atas Kecamatan Laweyan dan Serengan. Dalam proses realisasinya, target yang telah direncanakan Pemerintah Daerah dapat tercapai atau tidak

commit to user

tercapai. Apabila realisasi dapat melebihi target maka tahun berikutnya Pemerintah Daerah dapat meningkatkan lagi target yang ingin dicapai berdasarkan analisis kondisi dan kemampuan. Sebaliknya, apabila realisasi kurang dari target yang ditetapkan maka dapat menjadi koreksi Pemerintah daerah tentang langkah-langkah yang harus ditempuh guna mencapai target yang telah ditentukan.

Tabel II. 2

Realisasi Penerimaan Pajak Restoran (Warungan)

UPTD Wilayah I DPPKA Kota Surakarta Kecamatan Banjarsari (dalam Rupiah)

Tahun Target Realisasi Selisih (+/-)

2009 49.307.330 47.163.000 (2.144.330)

2010 54.716.997 50.202.000 (4.514.997)

2011 49.824.000 11.358.000 (38.466.000)

Sumber: UPTD I DPPKA Kota Surakarta

Tabel II. 3

Realisasi Penerimaan Pajak Restoran (Warungan) UPTD Wilayah II DPPKA Kota Surakarta Kecamatan Jebres

(dalam Rupiah)

Tahun Target Realisasi Selisih (+/-)

2009 44.089.759 40.563.000 (3.526.759)

2010 39.486.493 44.729.000 5.242.507

2011 43.288.500 11.360.000 (31.928.500)

commit to user Tabel II. 4

Realisasi Penerimaan Pajak Restoran (Warungan)

UPTD Wilayah II DPPKA Kota Surakarta Kecamatan Pasar Kliwon (dalam Rupiah)

Tahun Target Realisasi Selisih (+/-)

2009 37.228.015 41.315.500 4.087.485

2010 42.243.214 50.307.500 8.064.286

2011 49.486.024 13.052.000 (36.434.024)

Sumber: UPTD II DPPKA Kota Surakarta Tabel II. 5

Realisasi Penerimaan Pajak Restoran (Warungan) UPTD Wilayah III DPPKA Kota Surakarta

Kecamatan Laweyan dan Serengan (dalam Rupiah)

Tahun Target Realisasi Selisih (+/-)

2009 70.771.638 80.968.800 10.197.162

2010 100.408.511 67.466.000 (32.942.511)

2011 90.247.886 20.607.500 (69.640.386)

Sumber: UPTD III DPPKA Kota Surakarta

Berdasarkan Tabel II. 2 di atas, wilayah Kecamatan Banjarsari pada tahun 2009 dan 2010 penerimaan pajak restoran yang berasal dari PKL tidak bisa mencapai target. Realisasi penerimaan pada tahun 2011 (per Maret) baru sebesar Rp11.358.000,-. Tabel II. 3 adalah penerimaan pajak restoran di wilayah Kecamatan Jebres pada tahun 2009 realisasi penerimaan pajaknya tidak mencapai target, pada tahun 2010 realisasi penerimaannya dapat melebihi target sebesar Rp5.242.507,- dan pada tahun 2011 (per Maret) realisasinya baru sebesar Rp11.360.000,-. Wilayah

commit to user

Kecamatan Pasar Kliwon ditunjukkan oleh Tabel II. 4, pada tahun 2009 dan 2010 Kecamatan Pasar Kliwon realisasi penerimaan pajaknya dapat melebihi target yang telah direncanakan. Tahun 2009 surplus Rp4.087.485,- , tahun 2010 meningkat menjadi Rp8.064.286,- dan tahun 2011 (per Maret) realisasinya baru sebesar Rp13.052.000,-. Tabel II. 5 adalah penerimaan pajak restoran (warungan) di Kecamatan Laweyan dan Serengan, pada tahun 2009 realisasinya melebihi target sebesar Rp. 10.197.162,-. Pada tahun 2010 mengalami penurunan karena target tidak tercapai dan tahun 2011 (per Maret) realisasinya baru sebesar Rp20.607.500,-.

Gambar II. 1

Grafik Penerimaan Pajak Restoran (Warungan) Kota Surakarta

Grafik di atas menunjukkan rata-rata penerimaan pajak restoran yang berasal dari PKL pada tahun 2009, 2010, dan 2011 (per Maret). Rata-rata penerimaan pajak di wilayah Banjarsari sebesar Rp36.241.000,-. Pada

commit to user

wilayah Jebres sebesar Rp32.217.333,- sedangkan wilayah Pasar Kliwon sebesar Rp34.891.667,-. Penerimaan pajak restoran (warungan) yang tertinggi yaitu Rp56.347.433,- adalah Wilayah Laweyan dan Serengan.

2. Faktor yang Memicu Ketidakkonsistenan Populasi PKL dan

Dampaknya Terhadap Penerimaan Pajak Restoran

Berikut adalah tabel populasi PKL di Kota Surakarta tahun 2009 sampai dengan bulan Maret 2011.

Gambar II. 2

commit to user Tabel II. 6

Populasi PKL di Kota Surakarta

Wilayah 2009 2010 2011

Banjarsari 192 180 185

Jebres 169 136 158

Pasar Kliwon 152 164 161

Laweyan dan Serengan 291 296 278

Sumber: UPTD I, II, III DPPKA Kota Surakarta

Berdasarkan hasil studi kepustakaan dan wawancara dengan pegawai UPTD DPPKA Kota Surakarta, faktor-faktor yang menyebabkan ketidakkonsistenan populasi PKL yaitu:

a) Krisis ekonomi yang berkepanjangan menjadi faktor terus meningkatnya jumlah PKL. Peningkatan itu sebagai dampak negatif dari Pemerintah daerah yang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan guna menampung tenaga kerja yang jumlahnya sangat banyak. Krisis berkepanjangan yang berdampak pada banyaknya angka pemutusan hubungan kerja pada industri khususnya di Surakarta, membuat usaha PKL jadi pilihan memungkinkan untuk bertahan hidup. Keharusan untuk mencukupi kebutuhan hidup berumah tangga, usaha yang mudah dilakukan dan dijalankan, tidak membutuhkan modal besar, tidak membutuhkan keterampilan dan keahlian khusus, tidak terikat pada jam kerja atau waktu, dan keinginan berwirausaha tanpa campur tangan pihak lain adalah alasan masyarakat membuka usaha warungan.

commit to user

b) Pedagang Kaki Lima dalam kehidupannya memunculkan berbagai permasalahan bagi ketertiban Kota Surakarta. Aktivitasnya sering dianggap menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat serta sering dipojokkan sebagai penyebab timbulnya berbagai permasalahan seperti mengganggu pergerakan pejalan kaki atau menyebabkan kemacetan lalu lintas. Penanganan PKL cenderung bersifat represif melalui penggusuran, sementara penataan atau relokasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Surakarta dirasakan oleh PKL terlalu tergesa-gesa serta tidak memperhatikan aspek strategis bagi PKL. Potensi dagang di wilayah yang baru sangat tidak menguntungkan bagi para PKL, mereka merasa tempat yang disediakan kurang tepat bahkan tidak sesuai dengan keadaan yang diharapkan oleh PKL sendiri. Selain itu, jenis usaha PKL yang tidak diterima di pasar, ketidakmampuan PKL bersaing dalam menyajikan makanan dan minuman, harga yang kompetitif, dan menarik minat pembeli menyebabkan banyak PKL yang gulung tikar.

Pajak yang hanya dipungut dengan menggunakan karcis atau DPD II 20 sebesar Rp1.000,- sampai dengan Rp10.000,- per hari, PKL mampu memberikan kontribusi terhadap penerimaan pajak restoran yang tidak sedikit bagi Kota Surakarta. Ketidakkonsistenan populasi PKL menjadi salah satu faktor penerimaan pajak restoran yang berasal dari PKL pada wilayah dan tahun tertentu meningkat atau menurun karena tidak bisa mencapai target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.

commit to user

3. Kendala yang Dihadapi Dalam Pemungutan Pajak Restoran

Khususnya yang Berasal Dari PKL

Berdasarkan hasil interview/ wawancara dengan pegawai UPTD DPPKA Kota Surakarta yang bertugas memungut pajak restoran khususnya yang berasal dari PKL, kendala yang dihadapi pada saat pemungutan yaitu:

a) Cuaca

Pada saat hujan, pedagang kaki lima kebanyakan tidak mau dipungut pajak. Alasan mereka adalah terganggunya omset penjualan, penghasilan yang didapatkan hanya sedikit karena sepi oleh pembeli. b) Kelangsungan usaha

Persaingan antar pedagang yang menyelenggarakan usaha sejenis menyebabkan tidak stabilnya kelangsungan usaha PKL. Dibutuhkan inovasi, kreatifitas, dan harga kompetitif untuk menarik minat pembeli. Tidak sedikit PKL yang tiba-tiba menutup usahanya karena bangkrut. Bagi pedagang kaki lima yang sukses, mereka akan mengembangkan usahanya dengan membuka Rumah Makan.

c) Penataan

Penataan atau pengaturan cenderung mengabaikan karakter masing-masing bidang usaha PKL sendiri, yaitu menempatkan PKL pada posisi yang tidak strategis dan menyebabkan dagangan mereka tidak laku. Akhirnya mereka kembali ke tempat asal, mencari tempat lain atau tiba-tiba menutup usahanya.

commit to user d) Tindakan kecurangan yang dilakukan PKL

Beberapa pedagang kaki lima berusaha menghindari petugas pada saat pemungutan pajak sehingga mereka berhasil lolos dan tidak perlu membayar pajak.

e) Masing-masing individu kurang sadar pajak

PKL dipungut retribusi dan pajak restoran. Seringkali mereka hanya membayar retribusi dan mengabaikan pajak. Kebanyakan PKL beranggapan bahwa membayar pajak hanya akan mengurangi penghasilan mereka setiap harinya. Hal ini disebabkan karena kurang informasi dan pemahaman sehingga PKL acuh saat dipungut pajak.

4. Upaya Dari Pihak UPTD DPPKA Surakarta Dalam Melakukan

Pemungutan Pajak Restoran Khususnya yang Berasal Dari PKL Untuk Mencapai Target Pendapatan Daerah Kota Surakarta

Berdasarkan hasil interview/ wawancara dengan pegawai UPTD DPPKA Kota Surakarta yang bertugas memungut pajak restoran khususnya yang berasal dari PKL, upaya yang telah dilakukan dalam pemungutan untuk mencapai target Pendapatan Daerah yaitu:

a) Petugas UPTD memungut pajak harian atau mingguan tergantung kesepakatan dengan PKL. Hal ini diharapkan agar PKL tetap bersedia membayar pajak.

commit to user

b) Bagi PKL yang omsetnya meningkat, pihak UPTD menaikkan jumlah pajak terutangnya, misal dari Rp2.000,- per hari menjadi Rp5.000,- per hari.

c) Setiap enam bulan sekali petugas UPTD melakukan pendataan ulang, menghitung jumlah PKL yang masih aktif dan PKL yang baru.

d) Petugas UPTD mengamati beberapa PKL yang melakukan tindak kecurangan, kemudian pada hari-hari berikutnya PKL tersebut dipungut pajak lebih dahulu dibandingkan PKL yang lain sehingga mereka tidak dapat lolos dari petugas.

e) Pihak UPTD melakukan pembinaan atau sosialisasi kepada PKL bahwa pajak berbeda dengan retribusi. Pajak dipungut saat mereka menyelenggarakan usaha sedangkan retribusi dipungut karena mereka menggunakan lahan milik negara untuk berjualan. Selain itu PKL juga diberi pemahaman bahwa membayar pajak besar manfaatnya, yaitu untuk membiayai rumah tangga daerah seperti perbaikan jalan, pembuatan shelter, tenda, gerobak di zona khusus PKL.

commit to user BAB III TEMUAN

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka penulis dapat menemukan kelebihan dan kelemahan dari dampak populasi PKL kaitannya dengan realisasi penerimaan pajak restoran di Kota Surakarta. Adapun kelebihan dan kelemahan tersebut adalah sebagai berikut.

1. KELEBIHAN

a) UPTD DPPKA Surakarta melakukan pendataan ulang PKL setiap enam bulan sekali sehingga diketahui jumlah PKL yang masih aktif dan PKL yang baru.

b) Mulai tahun 2010 UPTD DPPKA Wilayah I Kecamatan Banjarsari dapat memecah Wajib Pajak Restoran (warungan) yang awal mulanya memiliki NPWP berdasarkan kecamatan menjadi NPWP berdasarkan kelurahan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pihak UPTD dalam mengawasi dan memantau perkembangan masing-masing kelurahan. Proses pemungutan pajaknya menjadi lebih terorganisir karena terdapat petugas yang bertanggungjawab pada setiap kelurahan di Kecamatan Banjarsari.

c) Pihak UPTD DPPKA dapat meningkatkan penghasilan PKL dan penerimaan pajaknya dengan cara mengadakan event khusus, seperti pagelaran kesenian musik, tari, bazzar dan sejenisnya.

commit to user

2. KELEMAHAN

a) Beberapa PKL ada yang tidak dipungut pajak oleh petugas. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya jumlah pegawai UPTD DPPKA yang bertugas memungut pajak restoran yang berasal dari PKL.

b) Kesadaran pedagang kaki lima untuk membayar pajak terutangnya masih kurang. Banyak PKL yang mengeluh dan keberatan membayar pajak sebesar Rp1.000,- sampai Rp2.000,- setiap harinya. Keadaan tersebut menyebabkan penerimaan pajak tidak dapat mencapai target.

c) Penanganan PKL yang bersifat represif melalui penggusuran. Relokasi oleh Pemerintah Daerah Kota Surakarta kurang memperhatikan aspek strategis dan ketidaksesuaian antara jenis usaha dengan tempat untuk menyelenggarakan usahanya menjadi salah satu faktor berkurangnya penghasilan PKL dan berkurangnya populasi PKL di Kota Surakarta.

commit to user BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari UPTD Wilayah I, II, III DPPKA Kota Surakarta, evaluasi dampak populasi PKL kaitannya dengan penerimaan pajak restoran di Kota Surakarta dapat disimpulkan:

1. Tahun 2009 sampai 2010 penerimaan pajak restoran (warungan) Kecamatan Banjarsari meningkat tetapi tidak bisa mencapai target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Keadaan tersebut tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti kelangsungan usaha PKL dan kesadaran PKL dalam membayar pajak.

2. Selisih target dengan realisasi pada tahun 2009 untuk Kecamatan Banjarsari sebesar (Rp2.144.330,-), Kecamatan Jebres sebesar (Rp3.526.759,-), Kecamatan Pasar Kliwon sebesar Rp4.087.485,-, dan Kecamatan Laweyan/ Serengan sebesar Rp10.197.162,-. Pada tahun 2010 untuk Kecamatan Banjarsari sebesar (Rp4.514.997,-), Kecamatan Jebres sebesar Rp5.242.507,-, Kecamatan Pasar Kliwon sebesar Rp8.064.286,-, dan Kecamatan Laweyan/ Serengan sebesar (Rp32.942.511,-).

Kontribusi terbesar untuk penerimaan pajak restoran (warungan) pada tahun 2009, 2010, dan 2011 (per Maret) berasal dari UPTD III DPPKA Kota Surakarta, yaitu Kecamatan Laweyan dan Serengan sebesar Rp56.347.433,-.

commit to user

3. Ketidakkonsistenan Pedagang Kaki Lima di Kota Surakarta terjadi karena adanya peningkatan dan pengurangan jumlah PKL. Peningkatan jumlah PKL disebabkan oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan, terbatasnya lapangan kerja dan banyaknya angka pemutusan hubungan kerja. Berkurangnya populasi PKL disebabkan oleh jenis usaha PKL yang tidak diterima di pasar dan persaingan antar pedagang yang memiliki usaha sejenis. Tindakan Pemerintah Daerah dalam menangani dan merelokasi para PKL juga berpengaruh besar dalam kelangsungan usaha PKL. Sebagai contoh adalah populasi PKL Kecamatan Jebres pada tahun 2009 terdapat 169, tahun 2010 terdapat 136, tahun 2011 terdapat 158. Ketidakkonsistenan populasi PKL merupakan salah satu faktor penyebab penerimaan pajak restoran (warungan) pada wilayah dan tahun tertentu meningkat atau menurun karena tidak bisa mencapai target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.

4. Kendala yang dihadapi oleh petugas UPTD DPPKA Surakarta dalam memungut pajak restoran yang berasal PKL antara lain cuaca yang tidak mendukung untuk melakukan aktivitas berjualan, kelangsungan usaha PKL yang tidak stabil, penataaan PKL pada tempat-tempat yang tidak strategis, tindakan kecurangan yang dilakukan oleh beberapa PKL, kurangnya kesadaran masing-masing individu dalam membayar pajak. 5. Membuat kesepakatan antara petugas UPTD DPPKA dengan PKL dalam

pemungutan pajak, menaikkan jumlah pajak terutang, melakukan pendataan ulang setiap enam bulan sekali, mengamati dan mengatasi

commit to user

perilaku beberapa PKL yang melakukan tindak kecurangan, melakukan pembinaan dan sosialisasi kepada PKL adalah upaya yang telah dilakukan pihak UPTD DPPKA Surakarta untuk mencapai target Pendapatan Daerah Kota Surakarta.

B. SARAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan peda kesimpulan yang dibuat oleh penulis maka penulis memberikan saran dan rekomendasi yang diharapkan dapat memperbaiki dan meningkatkan penerimaan pajak restoran yang berasal dari PKL di Kota Surakarta, yaitu:

1. Pihak UPTD DPPKA Kota Surakarta seharusnya memberlakukan sistem shift, yaitu perputaran pegawai yang bertugas memungut pajak restoran (warungan) sesuai jam/ waktu yang diatur oleh Kepala Bagian masing-masing UPTD. Apabila sangat diperlukan tambahan personil untuk menangani pajak restoran yang berasal dari PKl, pihak UPTD dapat mempekerjakan Tenaga Kerja Lapangan (TKL) atau outsourcing.

2. Manfaat membayar pajak tidak bisa langsung dirasakan oleh Wajib Pajak karena dibutuhkan proses dalam jangka panjang. Sosialisasi pihak UPTD DPPKA Kota Surakarta perlu ditingkatkan sehingga PKL dapat mengetahui hak yang akan diperolehnya setelah mereka melaksanakan kewajiban membayar pajak. Seiring berjalannya waktu diharapkan kesadaran PKL akan tumbuh dan dapat menghilangkan paradigma/

commit to user

anggapan bahwa membayar pajak bisa merugikan mereka karena pajak akan mengurangi penghasilan yang didapat setiap harinya.

3. Pajak restoran yang berasal dari PKL setiap tahunnya selalu memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi Pemerintah Daerah Kota Surakarta. Penanganan dan penataan PKL perlu dikaji dengan matang oleh Pemerintah Daerah. Hal ini tidak boleh dilakukan dengan tergesa-gesa dan semata-mata untuk kepentingan satu pihak. Seharusnya, PKL dipindahkan pada tempat yang lebih ramai, yaitu tempat yang menjadi lalu lintas atau dilewati oleh banyak orang. Tata letak atau penataan PKL juga disesuaikan dengan jenis usahanya sehingga dapat memikat para pengunjung yang datang.

Pengelompokkan pedagang yang memiliki usaha sejenis seharusnya dihindari karena dapat menyebabkan kesenjangan antar pedagang. Pemerintah Daerah sebaiknya mengelompokkan PKL yang menjual beraneka ragam makanan sehingga persaingan antar pedagang lebih objektif karena pelayanan penjualan makanan dan minuman berbeda jenisnya.

Dokumen terkait