BAB IV : PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
D. Pembahasan
Tujuan penelitian yang ingin mengetahui apakah ada hubungan positif antara persepsi keharmonisan keluarga dengan intensi prososial remaja berhasil diungkap melalui analisa statistik dari data-data yang diperoleh. Perhitungan statistik yang telah dilakukan memperoleh hasil koefisien korelasi r sebesar 0,512 dengan p =
0,000 (<0,01) pada uji satu ekor. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara persepsi keharmonisan keluarga dengan intensi prososial remaja. Hal ini berarti bahwa persepsi keharmonisan keluarga sebagai variabel bebas dapat menjadi salah satu indikator tingkat intensi prososial remaja.
Dari deskripsi data penelitian ini diperoleh hasil intensi prososial tersebut memiliki rerata empirik 110,1444 dan rerata hipotetik 87,5 maka diketahui bahwa rerata empirik intensi prososial lebih besar daripada rerata hipotetiknya. Hal ini menunjukkan bahwa subjek cenderung memiliki intensi prososial yang tinggi.
Pada deskripsi data persepsi keharmonisan keluarga diperoleh hasil rerata empirik 118,1000 dan rerata hipotetik 97,5 maka rerata empirik juga lebih besar daripada rerata hipotetik. Hal ini juga menunjukkan persepsi keharmonisan keluarga yang dimiliki subjek cenderung tinggi.
Subjek pada penelitian ini sendiri sebagian besar masuk pada kategori yang memiliki intensi prososial tinggi, yaitu 67 orang (74,4%) dan persepsi keharmonisan keluarga yang juga tinggi, yaitu 53 orang ( 58,9%). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang tumbuh pada lingkungan keluarga yang harmonis akan menjadi remaja yang memiliki intensi prososial yang baik. Keadaan ini sejalan dengan pernyataan Brooks (2004) bahwa kondisi keluarga yang harmonis akan membuat anak dapat melihat bahwa manusia harus saling mengasihi, berbagi, dan saling tolong-menolong Orangtua dapat menjadi contoh bagi anak-anak mereka dalam mengembangkan perilaku prososial. Anak belajar untuk mengasihi, berbagi, bekerja sama, tolong-menolong, perhatian dan peduli pada orang lain dari kedua orangtuanya.
Selain itu, adanya pembinaan IMTAQ yang diberikan sekolah juga dapat menjadi sarana dalam mengembangkan perilaku prososial subjek, yaitu dengan adanya pendalaman pengetahuan agama, di sana dapat dijelaskan bahwa agama mengajarkan manusia untuk dapat saling mengasihi, peduli, dan tolong-menolong dengan sesamanya. Berdasarkan orientasi kancah diketahui bahwa siswa-siswi di SMAN 2 Kota Bekasi diwajibkan untuk memilih salah satu atau lebih ekstrakulikuler yang ada di sekolah, ekstrakulikuler dapat dijadikan tempat untuk mengembangkan perilaku prososial mereka. Pada kegiatan ekstrakulikuler yang diikutinya anak dapat belajar untuk dapat mengasihi, berbagi, bekerja sama, perhatian, tolong-menolong, dan peduli dengan apa yang dialami oleh temannya.
Menurut penulis sendiri peran keluarga khususnya orangtua tetap yang paling penting dalam mengembangkan perilaku prososial anak, karena sejak baru lahir hingga anak siap untuk berinteraksi dengan orang di luar lingkungan keluarganya, anak mendapatkan pendidikan, pengetahuan dan contoh dari keluarga khususnya orangtua, seperti dalam penelitian yang dilakukan Kerr, dkk (2003) yang menggunakan subjek remaja Latin berusia14-19 tahun. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa keterlibatan keluarga dapat mempengaruhi perilaku prososial anak.
Rendahnya keterlibatan keluarga maka akan menguatkan keterlibatan anak pada pesta minuman keras, penggunaan ganja, pesta-pesta, dan tindakan kekerasan pada orang lain. Kuatnya monitoring orangtua dan kultur sosial yang dianut anak akan mempengaruhi kuatnya minat anak untuk menjadi tenaga sukarelawan pada kegiatan sosial dan perilaku prososial lainnya.
Pada analisis tambahan penelitian ini diketahui bahwa sumbangan efektif yang diberikan oleh persepsi keharmonisan keluarga terhadap tingkat intensi prososial remaja tidaklah cukup besar, yaitu hanya 26,2% saja. Artinya, ada faktor-faktor lain sebesar 73,8% yang mempengaruhi tingkat intensi prososial remaja.
Faktor-faktor tersebut antara lain menurut Syafriman dan Wirawan (2004) adalah faktor situasional, seperti kehadiran orang lain dan faktor tanggung jawab, Selain itu, ada faktor dari si penerima bantuan, seperti karakteristik yang memerlukan pertolongan dan kesamaan penolong dengan yang memerlukan pertolongan, atau faktor-faktor lainnya.
Secara keseluruhan, penulis mengakui bahwa penelitian ini masih mempunyai banyak kelemahan, antara lain: skala persepsi keharmonisan keluarga yang digunakan tidak mengungkap data apakah subjek berasal dari keluarga yang utuh atau berantakan (broken-home), sehingga keharmonisan keluarga yang ada belum begitu akurat untuk mengukur keharmonisan keluarga dalam arti yang paling ideal. Selain itu, jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian masih tergolong sedikit dibandingkan populasi remaja yang begitu banyak, perbandingan subjek berdasarkan jenis kelamin yang tidak seimbang, rentang usia subjek penelitian yang kurang bervariati, serta tidak diketahui bagaimana perilaku prososial orangtua pada lingkungan sekitar. Oleh karena itu, demi generalisasi hasil penelitian yang lebih akurat, hendaknya penelitian yang akan datang lebih memperhatikan hal-hal tersebut.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi positif yang sangat signifikan antara persepsi keharmonisan keluarga dengan intensi prososial remaja.
Artinya, semakin tinggi tingkat persepsi keharmonisan keluarga, maka semakin tinggi tingkat intensi prososial remaja. Sebaliknya, semakin rendah tingkat persepsi keharmonisan keluarga, maka semakin rendah tingkat intensi prososial remaja.
Sumbangan efektif persepsi keharmonisan keluarga terhadap variabel intensi prososial sebesar 26,2%.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang dapat penulis berikan berkaitan dengan proses dan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Saran-saran tersebut, antara lain:
1. Bagi Praktisi Psikologi
Dengan latarbelakang ilmiah yang mendasarinya, kiranya para praktisi psikologi dapat mulai mengkampanyekan pentingnya keharmonisan keluarga dalam kaitannya dengan tingkat intensi prososial remaja. Di samping itu, penanganan terhadap remaja-remaja yang mengalami krisis akibat tumbuh di lingkungan keluarga yang harmonis agar mulai dilakukan dengan pendekatan yang lebih terpadu, yang melibatkan keberadaan keluarganya secara nyata.
2. Bagi Orangtua
Agar terus dilakukan upaya-upaya nyata di lingkungan keluarganya masing-masing untuk membentuk keluarga yang berfungsi seutuhnya di era modern ini, karena arti dan keberadaan keluargalah yang pada akhirnya menentukan kualitas remaja. Keluargalah yang membentuk remaja apakah remaja tersebut tumbuh menjadi remaja yang berguna bagi agama, lingkungan sekitar, bangsa dan negaranya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi yang tertarik untuk melakukan penelitian dengan tema serupa, hendaknya lebih memperbanyak jumlah subjek penelitian dengan komposisi jenis kelamin yang relatif seimbang, kelompok usia yang lebih variatif, riwayat keutuhan keluarga yang lebih lengkap, serta laporan perilaku prososial orangtua subjek pada orang-orang di lingkungan sekitarnya sehingga generalisasi hasil penelitian dapat dilakukan secara lebih akurat
DAFTAR PUSTAKA
Ajzen. 2006. Constructing a TpB Questionnaire : Conceptual and Methodological Considerations. http://www.people-umass.edu.9/1/07
Azwar, S. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar Azwar, S. 2004. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar Baron, R. A. & Byrne, D. 1994. Social Psychology : Understanding Human
Interaction. Massachusetts : Allyn and Bacon
Baron, R. A. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Jilid 1. Edisi Kesepuluh. Jakarta : Penerbit Erlangga
Baron, R. A. & Byrne, D. 2005. Psikologi Sosial. Jilid 2.Edisi Kesepuluh. Jakarta : Penerbit Erlangga
Brigham, J. C. 1991. Social Psychology. Second Edition. New York : Harper Collins Publishers
Brooks, J. 2004. The Process Of Parenting. Sixth Edition. New York : McGraw-Hill, Inc
Dayakisni, T. & Hudaniah. 2003. Psikologi Sosial. Malang : UMM Press
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Edisi Kedua. Jakarta : Balai Pustaka
Duncan, dkk. 2002. Relation Between Youth Antisocial and Prosocial Activities.
http://www.proquest.umi.com.23/2/07
Fishbein & Ajzen. 1975. Belief, Attitude, Intention And Behavior. Philippines : Addison-Wesley Publishing Company. Inc
Gerungan, W. A. 1988. Psikologi Sosial. Bandung : P.T Eresco
Hastings, dkk. 2005. Links among Gender, Inhibition, and Parental Socialization in
the Developmental of Prosocial Behavior.
http://www.proquest.umi.com.23/2/07
Hawari, D. 1999. Alqur’an : Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa
Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga
Jattina, V. 1994. Tingkat Keintiman Keluarga Terhadap Penyesuaian Sosial Pada Remaja. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada
Kerr, M. H, dkk 2003. Family Involvement, Problem and Prococial Behavior Outcomes of Latino Youth. http://www.proquest.umi.com.23/2/07
Rakhmat, J. & Gandaatmaja, M. 1993. Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern.
Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Santrock. 2001. Adolescence. Eighth Edition. New York : McGraw-Hill
Sarwono, S. W. 2002. Psikologi Remaja. Edisi Revisi. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
Sears, dkk. 1991. Psikologi Sosial. Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga
Shaffer, D. R. 1994. Social & Personality Development. Third Edition. Brook/Cole Publishing Company. California : Pacific Grove
Suhendi, H. & Wahyu, R. 2001. Pengantar Studi Sosiologi Keluarga. Bandung : Pustaka Setia
Sulistyandari, E. 1988. Perbedaan Intensi Prososial Ditinjau Dari Status Anak Dalam Keluarga. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada
Syafriman & Wirawan, Y.G. 2004. Perbedaan Orientasi Nilai dan Perilaku Prososial Antara Suku Bangsa Melayu dan Suku Bangsa Tionghoa.
http://www.depsos.go.id.13/1/07
Walgito, B. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset
Descriptives
Normal Parameters(a,b) Mean 110.1444 118.1000
Std. Deviation 11.23254 13.19691 Most Extreme
Differences
Absolute .106 .072
Positive .068 .067
Negative -.106 -.072
Kolmogorov-Smirnov Z 1.005 .680
Asymp. Sig. (2-tailed) .264 .745
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.
a All requested variables entered.
b Dependent Variable: i.prososial
ANOVA(b)
Case Number Std. Residual i.prososial
18 -3.277 77.00
a Dependent Variable: i.prososial
Residuals Statistics(a)
Minimum Maximum Mean Std. Deviation N
Predicted Value 95.7178 124.0480 110.1444 5.75186 90
Residual -31.79331 23.89914 .00000 9.64811 90
Std. Predicted Value -2.508 2.417 .000 1.000 90
Std. Residual -3.277 2.463 .000 .994 90
a Dependent Variable: i.prososial
Charts
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3
Regression Standardized Residual
0 5 10 15 20 25 30
Frequency
Mean = -5.76E-16 Std. Dev. = 0.994 N = 90
Dependent Variable: i.prososial Histogram
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0
Observed Cum Prob 0.0
0.2 0.4 0.6 0.8 1.0
Expected Cum Prob
Dependent Variable: i.prososial
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Curve Fit
80.00 90.00 100.00 110.00 120.00 130.00 140.00 150.00
k.klrga
** Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed