• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

D. Pembahasan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi kelompok pendukung terhadap kesejahteraan subjektif pada pasien HIV/AIDS.

Hasil menunjukkan bahwa terapi kelompok pendukung berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif pasien HIV/AIDS. Hal ini dibuktikan oleh adanya

26

31 31

25

30

25

12 22 32 42

Prates Pascates Tindak Lanjut

Skor Afeksi

Afek Positif Afek Negatif Column1

102

102

perbedaan skor kesejahteraan subjektif pada kelompok eksperimen antara sebelum dan setelah diberikan intervensi, yakni terdapatpeningkatan skor setelah diberikan intervensi. Selain itu juga terdapat perbedaan skor antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilihat dari rerata skor yang menunjukkan adanya peningkatan skor untuk kedua aspek pada kelompok eksperimen dan adanya penurunan skor rerata pada kelompok kontrol.

Pada penelitian ini, terdapat 2 aspek kesejahteraan subjektif, yakni kepuasan hidup yang diukur menggunakan skala SWLS (Satisfaction With Life Scale) dan aspek afeksi yang diukur menggunakan skala PANAS (Positive and Negative Scale). Berdasarkan analisis data yang dilakukan pada pasien HIV/AIDS, hasil menunjukkan bahwa adanya peningkatan rerata gained score prates-pascates dan gained score prates-tindak lanjut dengan selisih yang cukup tinggi pada kedua aspek kesejahteraan subjektif kelompok eksperimen. Gained score disini maksudnya adalah peningkatan skor yang diperoleh oleh kelompok eksperimen setelah diberikan perlakuan. Sedangkan untuk kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan ditemukan adanya gained score negatif yang menunjukkan penurunan skor dari waktu prates-tindak lanjut pada aspek kepuasan hidup. Jadi, dapat disimpulkan ada pengaruh terapi kelompok pendukung terhadap kesejahteraan subjektif pada pasien HIV/AIDS.

Pada skala kepuasan hidup, hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh subjek kelompok eksperimen terus mengalami peningkatan setelah diberikan intervensi. Hal tersebut dikarenakan subjek sudah mampu untuk menghargai hal-hal kecil yang diperoleh saat ini dan juga sudah mampu menerima masa lalu

103 sehingga menemukan tujuan yang berarti baginya (Diener, Suh, Lucas & Smith,

1999). Sesuai dengan hasil wawancara, pikiran-pikiran negatif seperti halnya bunuh diri tidak muncul kembali, hal ini disebabkan oleh meningkatnya kepuasan hidup subjek, dimana bunuh diri merupakan produk dari rendahnya kepuasan hidup (Moum dalam Diener, 2000), kemudian yang dimaksud dengan tujuan dapat berupa gambaran mengenai kehidupannya dimasa depan atau sebuah kesehatan.

Pada sesi terakhir, diskusi kelompok membahas tentang keluarga dan kesehatan, dimana rata-rata subjek mengatakan bahwa dengan adanya sesi diskusi seperti yang sedang dilakukan, subjek lebih menyadari bahwa walaupun virus HIV itu tidak bisa hilang dari tubuh, hal terpenting adalah kesehatan dan keluarga yang senantiasa menjadi penyemangat. Hal ini menunjukkan subjek memiliki kepuasan hidup yang baik. Pernyataan ini didukung oleh Diener, dkk (2004) yang mengatakan bahwa seseorang akan menggunakan informasi dari kepuasan domainnya untuk mengukur kepuasannya secara global, sehingga menjadi acuan untuk melihat kepuasan hidup. Contoh kepuasan domain adalah pekerjaan, keluarga, kesehatan, rekreasi, dan hubungan sosial (Diener, dkk, 2004).

Hasil terapi juga menunjukkan subjek sudah mampu untuk memahami diri dan mampu untuk belajar dari orang lain sehingga dapat menikmati pengalaman yang disertai dengan rasa gembira. Penilaian ini didasarkan pada perbandingan antara kondisi diri subjekyang dibandingkan dengan berbagai standar, diantaranya adalah orang lain dan kondisi masa lalu. Secara spesifik, kepuasan hidup akan

104

104

melibatkan persepsi individu terhadap perbandingan keadaan hidup dengan standar yang sudah ditetapkan (Diener, Suh, Lucas & Smith, 1999).

Pada skala afeksi, seluruh subjek mengalami peningkatan skor skala PANAS. Terlihat 2 subjek mengalami peningkatan yang memiliki nilai paling tinggi setelah diberikan intervensi, baik itu pada pascates hingga pada saat tindak lanjut. Peningkatan ini dikarenakan subjek sudah mampu megelola perasaan-perasaan negatif yang muncul setiap kali melanda pikirannya. Keseimbangan tingkat afek merujuk kepada banyaknya perasaan positif yang dialami dibandingkan dengan perasaan negatif (Diener, 1984). Subjek sudah mampu untuk belajar tentang cara menghadapi masalah, karena adanya proses pembelajaran dari cara menghadapi masalah yang sama dari anggota yang lain.

Sesuai dengan definisinya, intervensi dilakukan dalam bentuk kelompok dengan partisipan yang memiliki kondisi sama, yakni pasien HIV/AIDS. Jumlah dari subjek kelompok adalah sebanyak 3 orang. Kurniawan (2015) menjelaskan bahwa terapi kelompok terdiri dari minimal tiga hingga sepuluh individu yang bertemu untuk menyelesaikan masalah tertentu. Santosa (2004) juga menambahkan bahwa dinamika kelompok sendiri adalah suatu kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang lain. Maksudnya, dengan adanya individu yang berkumpul dengan teratur dan kondisi yang sama terdiri dari 2 atau lebih anggota, maka sudah dapat dikatakan sebuah kelompok dan sudah bisa menciptakan dinamika didalamnya.

105 Hasil penelitian ini didukung oleh beberapa penelitian sebelumnya.

Penelitian-penelitian sebelumnya diantaranya adalah penelitian dari Bategaya, dkk (2015) menyatakan bahwa dengan menerapkan kelompok pendukung sebagai intervensi, maka akan terkait dengan penurunan angka kematian dan morbiditas, peningkatan retensi dalam perawatandan peningkatan kualitas hidup, termasuk didalamnya tentang kesejahteraan. Hal tersebut didukung oleh penelitian Siedlecki, dkk (2014) yang dilakukan terhadap 1.111 individu antara usia 18 dan 95 menunjukkan hasil adanya hubungan antara dukungan sosial dengan aspek dari kesejahteraan subjektif (yaitu, kepuasan hidup, afek positif, dan afek negatif).

Sweetland, dkk (2004) juga mendukung penelitian ini dimana dalam bukunya dinyatakan bahwa kelompok pendukung disebut sebagai "tempat penyembuhan"

karena memungkinkan individu memenuhi kebutuhan dan menyembuhkan diri individu sendiri, juga membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama, di lingkungan yang saling memahami dan peduli, khususnya pada pasien HIV/AIDS.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, penelitian ini kemudian menegaskan bahwa ada pengaruh terapi kelompok pendukung terhadap kesejahteraan subjektif pasien HIV/AIDS. Pengaruh ini menunjukkan bahwa terapi kelompok pendukung mampu meningkatkan kesejahteraan subjektif individu.

Individu yang berada dalam sebuah kelompok akan cenderung membagi informasi, pengetahuan, dan pengalaman serta akan memberi tanggapan dan bahkan solusi kepada permasalahan yang dihadapi. Melalui proses berbagi dan mendengarkan inilah akan tercipta sebuah kepercayaan dan dukungan.

Individuyang menghadapi situasi kehidupan yang sama, terutama situasi yang

106

106

buruk atau tidak menyenangkan, seringkali akan menemukan kenyamanan, dukungan dan kekuatan pada orang lain dalam situasi yang sama atau serupa (Sweetland, dkk, 2004). Sweetland, dkk (2004) juga menambahkan bahwa kelompok pendukung adalah tempat di mana orang-orang dengan perhatian dan kebutuhan bersama dapat berbagi pengalaman dan saling membantu melalui masa-masa sulit, dan dengan demikian mencapai kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik untuk semua anggota. Maksud dari kesejahteraan lebih baik dapat berupa kepuasan hidup dan mengurangi afek-afek negatif yang diraskan sehingga meningkatkan kesejahteraan subjektif. Terapi kelompok pendukung sendiri memiliki 4 faktor terapeutik yang memiliki potensi untuk memberikan keuntungan psikologis bagi anggotanya, diantaranya adalah supportive factor, self revelation, learning from others, dan psychological work factors (Kurniawan, 2015).

Faktor-faktor terapeutik ini kemudian dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif individu dalam kelompok. Supportive factor menjelaskan bagaimana subjek mampu menerima dan memiliki rasa kebersamaan untuk melihat dan menghadapi masalah. Selain itu self revelation menjelaskan bahwa ketika anggota kelompok saling percaya dengan anggota lainnya dan mau membuka dirinya.

Pada saat berjalannya proses terapi, ada salah seorang anggota berbagi tentang pikiran buruknya mengenai kekhawatiran masa depan karena diri subjek mengidap penyakit menular seksual (PMS). Sementara itu anggota lain berusaha untuk menjelaskan berbagai macam permasalahan yang sudah pernah terjadi sebelumnya yang lebih parah, sehingga subjek mampu menerima keadaannya saat

107 ini juga anggota lain yang membantu mencari solusi sehingga subjek mampu

untuk mengelola perasaan negatif akan masa depan, seperti cemas. Makino dan Tagami (1998) sejak lama sudah menjelaskan bahwa ada hubungan antara penerimaan khususnya pada keterbukaan diri dengan kesejahteraan subjektif.

Keterbukaan ini kemudian akan meningkatkan afek-afek positif, seperti harga diri dan efikasi diri (Nöstlingera, dkk, 2015). Nöstlingera, dkk (2015) menegaskan bahwa perlunya interevensi psikologi untuk mendampingi keterbukaan seseorang.

Jadi dapat disimpulkan bahwa penerimaan dan kebersamaan dalam anggota kelompok mampu membuat subjek menerima keadaannya dan mengelola perasaannya, sehingga dapat meningkatkan kepuasan hidup dan afek positif.

Pada setiap sesi dalam penelitian ini, terdapat banyak ilmu untuk diperoleh dan dibagi kepada anggota kelompok. Bercerita dan mendengarkan pengalaman akan memunculkan proses pembelajaran. Menurut Usman (2008) diskusi kelompok merupakan proses yang berguna untuk menghadapi interaksi dengan berbagai informasi atau pengalaman, kesimpulan atau solusi untuk memecahkan sebuah masalah. Adanya solusi merupakan hasil dari proses pembelajaran anggota tentag cara menghadapi masalah dan juga akan memunculkan psychlogical work factors yang akan muncul karena keterlibatan antar sesama anggota kelompok untuk memahami diri sendiri.

Terapi ini mengandung edukasi dan dukungan yang kuat antar sesama anggota kelompok. Pada analisis kualitatif, subjek mengaku bahwa hal-hal yang dapat memberikan semangat hidup yang kuat, salah satunya adanya belajar dari support group dimana subjek lebih mudah mendapatkan contoh yang nyata

108

108

sehingga subjek mampu untuk memahami diri akibat perbandingan kondisi yang dilakukan subjek. Subjek juga mampu untuk terbuka akan kondisi dan situasinya sehingga subjek dapat memperoleh solusi. McCrae dan Costa (Gutie´rrez, dkk, 2005) menyebutkan bahwa keterbukaan dapat membawa seseorang memperoleh afek positif sejalan dengan afek negatifnya.

Keberhasilan terapi ini juga didukung oleh keberhasilan terapis dalam memimpin jalannya terapi juga mengarahkan anggota terapi untuk dapat saling berbagi. Selain itu juga keberhasilan terapi dalam menyampaikan materi. Selain terapis, keberhasilan terapi ini juga dikarenakan oleh kemauan dari anggota kelompok. Terlihat keinginan yang kuat untuk datang walaupun dengan kondisi baru balik dari rumah sakit, maupun hujan yang deras. Setelah evaluasi terapi yang dilakukan dengan terapis, observer, dan anggota, terapi ini mengandung ilmu yang sangat bermanfaat dikarenakannya ada berbagi pengalaman dari anggota lain yang memiliki kondisi yang sama. Kondisi yang sama ini kemudian sangat berarti bagi anggota kelompok, karena akan lebih mudah untuk dipahami dan diterapkan. Sweetland, dkk (2004) menyatakan bahwa dalam setting kelompok mungkin akan berguna bagi pasien HIV, bisa sebagai penerima dukungan dan kadang-kadang sebagai pemberi informasi, karena memberikan dukungan seringkali bisa bermakna dan penting seperti menerimanya.

Secara kualitatif, penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok pendukung merupakan hal yang sangat bermanfaat untuk membuat pasien HIV menjadi lebih hidup, karena faktor-faktor terapeutik yang ada didalamnya. Selanjutnya, terapi ini menunjukkan kesejahteraan subjektif dapat meningkat karena terlihat dari

109 menurunnya afek-afek negatif pada seluruh kelompok kontrol atau meningkatnya

affect balance dan subjek juga lebih menghargai hidup saat ini dengan mengurangi penyesalan yang ada dimasa lalu yang mengindikasikan meningkatnya kepuasan hidup. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap subjek mengalami peningkatan kesejahteraan subjektif yang berbeda-beda. Perbedaan ini diakibatkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti dukungan yang diperoleh berbeda-beda, dan pemaknaan dalam proses terapi, serta masalah-masalah subjektif subjek.

Berdasarkan penjelasan penelitian yang dijelaskan, dapat disimpulkan bawa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Pertama, terdapat perbedaan skor kesejahteraan subjektif sebelum dan setelah diberikan intervensi pada kelompok eksperimen. Kedua, terdapat peningkatan skor sebelum dan setelah diberikan intervensi pada kelompok eksperimen. Ketiga, terdapat perbedaan skor kesejahteraan subjektif kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dimana kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor pada seluruh aspek kesejahteraan subjektif dan kelompok kontrol mengalami penurunan pada aspek kesejahteraan subjektif.