BAB IV. PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
D. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara empati dan pemaafan pada pelajar SMP yang menjadi korban bullying. Subjek dalam penelitian ini merupakan pelajar sekolah menengah pertama kelas 8 di Kabupaten Klaten. Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rho, didapatkan hasil analisis korelasi antara empati
54
dan pemaafan yaitu nilai koefisien korelasi (r) = 0,049 dengan p = 0,692 (p
> 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara empati dan pemaafan pada pelajar yang menjadi korban bullying. Oleh karena itu, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ditolak.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pemaafan tidak hanya dipengaruhi oleh empati. Selalu ada persoalan psikologis yang terjadi di antara dua pihak yang mengalami keretakan akibat suatu kesalahan.
Semakin besar luka maka akan semakin sulit untuk memaafkan dan semakin parah rasa sakit hati, maka semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk memaafkan. Dalam penelitian yang dilakukan Lestari dan Agung (2016) disebutkan bahwa meminta maaf sangat efektif dalam mengatasi konflik interpersonal, sebab permintaan maaf dianggap sebagai pernyataan tanggung jawab tidak bersyarat atas sebuah kesalahan serta komitmen untuk memperbaikinya.
Penelitian yang dilakukan Younger, Piferi, Jobe, dan Lawler (2004) menjabarkan beberapa alasan mengapa seorang individu tidak memaafkan orang lain. 75% dari responden pada penelitian tersebut menjelaskan bahwa beberapa alasan korban tidak memaafkan antara lain pelaku mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan korban, pelaku tidak pernah meminta maaf atau merasa bersalah atas perbuatannya, pelaku tidak pantas mendapatkan maaf akibat perbuatannya serta pelanggaran yang dilakukan pelaku masih terjadi dan pelaku masih terlibat dalam hal tersebut. Korban
juga menjabarkan bahwa pelanggaran yang dilakukan telah mengacaukan hidup individu tersebut.
Memperbaiki hubungan yang telah rusak antar individu tidak bisa dilihat sebagai hal yang sederhana. McCullough, dkk (2006) menyatakan bahwa ketika seseorang memaafkan maka ia akan mengurangi keinginan untuk menghindar dari orang yang telah menyakitinya, tidak memiliki perasaan ingin melakukan balas dendam, serta lebih berperilaku positif dan baik hati kepada individu yang telah menyakitinya. Dalam penelitian ini, diketahui bahwa empati memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebajikan. Kebajikan memiliki nilai p = 0,000 (p < 0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,446 yang berarti semakin tinggi empati yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi pula kebajikan yang dimiliki.
Dalam aspek lain yaitu perilaku menghindar, nilai koefisien korelasi adalah 0,205. Hal tersebut menunjukkan bahwa empati memiliki arah korelasi yang positif terhadap perilaku menghindar, yang artinya semakin tinggi empati yang dimiliki seorang individu, maka semakin tinggi pula perilaku tidak menghindar yang dilakukan. Namun lain halnya dengan koefisien korelasi pada balas dendam, nilai r dalam penelitian ini sebesar -0,002 yang berarti semakin tinggi empati maka semakin rendah perilaku tidak balas dendam yang dimiliki individu.
Pada penelitian ini, skor hasil yang diperoleh responden menunjukkan tingkat empati berada pada kategori sedang dengan presentase 47,8%. Hal tersebut dijabarkan pada penelitian yang dilakukan
56
oleh Saadah (2018) dimana artinya responden masih memiliki kecenderungan untuk bingung dan ragu dalam memahami pandangan-pandangan orang lain ketika berada dalam suatu kondisi, sehingga terkadang tidak mampu secara imajinatif menempatkan diri dan bertindak secara fiktif. Responden juga dianggap kurang memiliki kehangatan, perasaan kasih sayang, kepedulian terhadap orang lain, serta ketidak mampuan merasakan ketidaknyamanan yang dialami oleh orang lain yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kedekatan dan perbedaan pengalaman antar individu.
Berdasarkan demografi jenis kelamin, hasil menunjukkan bahwa responden laki-laki memiliki hubungan yang lebih tinggi dengan koefisien korelasi sebesar 0,118. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ghuzairoh (2015) yang menyatakan bahwa pemaafan pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perbedaan budaya, seberapa besar akibat luka yang ditimbulkan, keterbukaan terhadap emosi, serta ketrampilan dalam membaca perasaan. Pada penelitian tersebut dijabarkan bahwa perempuan dalam budaya jawa distereotipkan menjadi perempuan yang tunduk pada laki-laki, sehingga perempuan kurang bisa mengekspresikan perasaan yang diungkapkan dan mengakibatkan rendahnya tingkat pemaafan dibanding pada gender laki-laki. Namun secara umum pada penelitian ini, ditemukan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan pemaafan pada responden pelajar SMP di Kabupaten Klaten.
Lebih spesifik, peneliti menemukan perbedaan skor yang signifikan pada koefisien korelasi empati afektif dan empati kognitif terhadap kebajikan. Pada empati afektif, perempuan memiliki skor lebih tinggi dibanding laki-laki dengan koefisien korelasi sebesar 0,457 sedangkan pada laki-laki sebesar 0,185. Sebaliknya pada aspek empati kognitif, koefisien korelasi laki-laki memiliki skor lebih tinggi yaitu 0,453 dan perempuan sebesar 0,330. Hal ini juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Stuijfzand, Wied, Kempes, Graaff, Branje dan Meeus (2016) dimana perempuan cenderung lebih memiliki respon afektif terhadap pengakuan orang lain, rasa bersalah, dan disosialisasikan untuk menjadi lebih empatik secara afektif daripada laki-laki.
Pola ini sejalan dengan ketergantungan perempuan terhadap wilayah emosi dalam otak yang lebih besar daripada laki-laki bahkan ketika melakukan tugas yang serupa. Garaigordobil (2009) menambahkan bahwa kapasitas memahami dan berbagi perasaan serta emosi orang lain menjadi karakteristik yang berkaitan dengan peran feminin, lebih dari stereotip peran maskulin. Villadangos, Errasti, Amigo, Jolliffe dan Cueto (2016) menjelaskan bahwa penyebab mengapa empati afektif pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki dapat dipengaruhi oleh perbedaan sosialisasi dimana laki-laki dibesarkan untuk menjadi seseorang yang kuat secara emosional serta dapat merespon masalah sosial secara rasional.
Sedangkan pada perempuan seringkali dibesarkan menjadi pribadi yang mampu memahami emosi orang lain serta pribadi yang lebih perasa.
58
Selain faktor yang telah disebutkan di atas, Nashori (2014) meyebutkan bahwa faktor usia juga dapat mempengaruhi pribadi individu.
Nashori menjelaskan bahwa semakin dewasa seseorang, maka kematangan emosi, kepedulian dan sikap empati juga meningkat. Hal tersebut diakibatkan karena pengalaman individu yang bertambah seiring berjalannya waktu, sisi emosional yang semakin stabil, serta sisi kognitif yang lebih berkembang seiring bertambahnya usia. Dalam penelitian ini, responden dengan usia 14 tahun memiliki koefisien korelasi tertinggi yaitu sebesar 0,101.
Peneliti menyadari masih terdapat kekurangan dalam penelitian ini, diantaranya keterbatasan peneliti dalam bertemu secara langsung dengan responden. Hal tersebut menyebabkan terbatasnya jumlah responden yang berpartisipasi dalam pengisian kuisioner ini. Selain itu, responden tidak mendapatkan pendampingan secara langsung dikarenakan keterbatasan yang disebabkan oleh regulasi sekolah di rumah dalam menghadapi pandemi Covid-19. Hal tersebut dirasa dapat mempengaruhi responden dalam pengisian kuisioner karena responden tidak dapat bertanya secara langsung apabila terdapat pernyataan yang kurang dimengerti.
59 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa hipotesis ditolak, sebab tidak terdapat hubungan antara empati dan pemaafan pada pelajar SMP yang menjadi korban bullying di Kabupaten Klaten. Akan tetapi terdapat perbedaan yang signifikan dimana tingkat empati afektif perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki, sedangkan tingkat empati kognitif pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.
B. Saran
Setelah dilakukan penelitian dan pembahasan, peneliti memiliki beberapa saran, antara lain:
1. Bagi sekolah
Diharapkan sekolah mampu memberikan edukasi mengenai pentingnya menumbuhkan rasa empati dalam setiap siswa agar siswa-siswi menjadi seorang yang lebih pemaaf dan tidak memiliki rasa dendam. Sekolah juga diharapkan menanamkan sikap-sikap positif agar perilaku bullying tidak terjadi di kalangan pelajar sekolah.
60
2. Bagi peneliti selanjutnya
a. Peneliti dapat menggunakan alat ukur lain untuk mengetahui lebih lanjut tentang seberapa dalam seorang responden menjadi korban perundungan.
b. Peneliti disarankan untuk mencari tahu lebih dalam tentang kategori responden sebagai pelaku, korban, ataupun pelaku-korban supaya tidak terjadi bias dalam hasil penelitian.
c. Peneliti dapat melakukan penelitian lebih spesifik dari masing-masing aspek yang ada dalam variabel sehingga akan ditemukan hasil yang lebih terperinci.
61
DAFTAR PUSTAKA
Akhtar, S., Dolan, A., & Barlow, J. (2017). Understanding the Relationship between State Forgiveness and Psychological Wellbeing: A Qualitative Study. Journal of Religion and Health, 56(2), 450-463.
Alam, A., Rafique, R., & Anjum, A. (2016). Narcissistic Tendencies, Forgiveness and Empathy as Predictors of Social Connectedness in Students from Universities of Lahore. Dialogue (Pakistan), 11(2).
Al-Raqqad, H. K., Al-Bourini, E. S., Al-Talahin, F. M., & Aranki, R. M. E. (2017).
The Impact of School Bullying on Students' Academic Achievement from Teachers Point of View. International Education Studies, 10(6), 44-50.
Aragon, P. J. (2016). Empathy-Motivated Forgiveness: The Influence of Empathy, Prior Experience, and Contextual Factors in Route to Forgiveness of a Transgressor. International Journal of Psychology & Behavior Analysis.
Azwar, S. (2012). Penyusunan skala psikologi: edisi 2. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Azwar, S. (2014). Metode Penelitian, Reliabilitas dan Validitas: Edisi 4.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baldner, C., & McGinley, J. J. (2014). Correlational and Exploratory Factor Analyses (EFA) of Commonly Used Empathy Questionnaires: New Insights. Motivation and Emotion, 38(5), 727-744.
Barnett, G., & Mann, R. E. (2013). Empathy Deficits and Sexual Offending: A Model of Obstacles to Empathy. Aggression and Violent Behavior, 18(2), 228-239.
Baron, R. A., & Byrne, D. (2005). Psikologi sosial: edisi 10. Jakarta: Erlangga.
Berry, J. W., Worthington Jr, E. L., O'Connor, L. E., Parrott III, L., & Wade, N. G.
(2005). Forgivingness, Vengeful Rumination, and Affective Traits. Journal of Personality, 73(1), 183-226.
Bestari, N. (2016). Hubungan Kematangan Kepribadian dengan Perilaku Memaafkan pada Remaja Akhir. Skripsi. Fakultas Psikologi. Universitas Islam Negerti Sultan Syarif Kasim Riau. Riau.
Burnette, J. L., Taylor, K. W., Worthington, E. L., & Forsyth, D. R. (2007).
Attachment and Trait Forgivingness: The mediating role of angry rumination. Personality and Individual Differences, 42(8), 1585-1596.
Campbell, N. D. (2013). Why can’t they stop? A highly public misunderstanding of science. In E. Raikhel, & W. Garriott (Eds.), Addiction trajectories, 238-262.
62
Capo, M. F., Recoder, S., Benito, J. G., Gamiz, M., Garcia, P. G., Diez, P., &
Worthington, J., E. (2017). Exploring the Dimensionality and the Psychometric Properties of the TRIM-18 in the Spanish Context. Anales de Psicologia, 33(3), 548-555.
Chen, F. R., Fung, A. L. C., & Raine, A. (2019). The Cognitive, Affective, and Somatic Empathy Scales (CASES): Cross-Cultural Replication and Specificity to Different Forms of Aggression and Victimization. Journal of personality assessment, 1-12.
Cuff, B. M., Brown, S. J., Taylor, L., & Howat, D. J. (2016). Empathy: A review of the concept. Emotion review, 8(2), 144-153.
Davis, K. C. (2004). Oprah’s Book Club and the politics of cross-racial empathy. International Journal of Cultural Studies, 7(4), 399-419.
Decety, J. (2010). The neurodevelopment of empathy in humans. Developmental neuroscience, 32(4), 257-267.
Enright, R. D. (2003). Forgiveness is a choice: A step by step proces for resolving anger and restoring hope. Washington: American Psychological Association.
Erzar, T., Yu, L., Enright, R. D., & Kompan E. K. (2019). Childhood Victimization, Recent Injustice, Anger, and Forgiveness in A Sample of Imprisoned Male Offenders. International Journal of Offender Therapy and Comparative Criminology, 63(1), 18-31.
Fehr, R., Gelfand, M. J., & Nag, M. (2010). The road to forgiveness: a meta-analytic synthesis of its situational and dispositional correlates. Psychological bulletin, 136(5), 894.
Feshbach, N., & Feshbach, S. (2011). The social neuroscience of empathy.
Cambridge, MA: The MIT Press.
Flanagan, K. S., Hoek, K. K. V., Ranter, J. M., & Reich, H. A. (2012). The Potential of Forgiveness as A Response for Coping With Negative Peer Experiences. Journal of Adolescence, 35(5), 1215-1223.
Fluck, J. (2017). Why do students bully? An analysis of motives behind violence in schools. Youth & Society, 49(5), 567-587.
Ghuzairoh, T. (2015). Perbedaan Forgiveness Ditinjau dari Jenis Kelamin pada Budaya Jawa. Disertasi. Fakultas Psikologi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Jawa Timur.
Jeffrey, D. (2016). Empathy, Sympathy and Compassion in Healthcare: Is There A Problem? Is There A Difference? Does It Matter?. Journal of the Royal Society of Medicine, 109(12), 446-452.
Jolliffe, D., & Farrington, D. P. (2006). Development and Validation of the Basic Empathy Scale. Journal of Adolescence, 29(4), 589-611.
Kahn, R. E. (2014). Affective and Cognitive Empathy Deficits Distinguish Primary and Secondary Variants of Callous-Unemotional Youth. Disertation.
Psychology. University of New Orleans. Louisiana.
Karremans, J. C., & Van Lange, P. A. (2004). Back to Caring After Being Hurt:
The Role of Forgiveness. European Journal of Social Psychology, 34(2), 207-227.
Kimmes, J. G., & Durtschi, J. A. (2016). Forgiveness in Romantic Relationships:
The Roles of Attachment, Empathy, and Attributions. Journal of marital and family therapy, 42(4), 645-658.
Laghi, F., Bianchi, D., Pompili, S., Lonigro, A., & Baiocco, R. (2018).
Metacognition, Emotional Functioning and Binge Eating in Adolescence:
The Moderation Role of Need to Control Thoughts. Eating and Weight Disorders-Studies on Anorexia, Bulimia and Obesity, 23(6), 861-869.
Lamont, A. (2010). Effect of Child Abuse and Neglect for Children and Adolescents. Institute of family Studies.
Lee, T., & Cornell, D. (2009). Concurrent Validity of the Olweus Bully/Victim Questionnaire. Journal of School Violence, 9(1), 56-73.
Lestari, D. I., & Agung, I. M. (2016). Empati dan Pemaafan pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Suska Riau. Jurnal Studia Insania, 4(2), 137-146.
Lijo, K. J. (2018). Forgiveness: Definitions, Perspectives, Contexts and Correlates. Journal of Psychology & Psychotherapy, 8(3), 342.
Matthews, K. A., Jennings, J. R., Lee, L., & Pardini, D. A. (2017). Bullying and Being Bullied in Childhood are Associated with Different Psychosocial Risk Factors for Poor Physical Health in Men. Psychological science, 28(6), 808-821.
McCullough, M. E. (2000). Forgiveness as Human Strength: Theory, Measurement, and Links to Well-Being. Journal of Social and Clinical Psychology, 19(1), 43-55.
McCullough, M. E., Kurzban, R., & Tabak, B. A. (2013). Putting Revenge and Forgiveness in an Evolutionary Context. Behavioral and Brain Sciences, 36(1), 41.
McCullough, M. E., Root, L. M., & Cohen, A. D. (2006). Writing About the Benefits of An Interpersonal Transgression Facilitates Forgiveness. Journal of consulting and clinical psychology, 74(5), 887.
Morrow, E. P. (2019). Cognitive, Affective, and General Empathy in Individuals Convicted of A Sexual Offense: A Meta-Analysis. Sexual Abuse, 1-24.
Nashori, F. (2014). Psikologi Pemaafan. Yogyakarta: Safitria Insania Press.
64
Nashori, F. (2016). Meningkatkan Kualitas Hidup dengan Pemaafan. Unisia, (75), 214-226.
Nashori, F., Iskandar, T. Z., Setiono, K., & Siswandi, A. G. P. (2011). Tema-tema pemaafan pada mahasiswa Yogyakarta. Yogyakarta: Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII.
Nurani, I. (2017). Hubungan Antara Kepribadian Big Five dengan Pemaafan pada Istri yang Mengalami Problematika Perkawinan. Skripsi. Fakultas Psikologi. Universitas Katolik Soegijapranata. Semarang.
Nurdin, M. N., & Fakhri, N. (2020). Perbedaan Empati Kognitif Dan Empati Afektif Pada Remaja Laki-Laki Dan Perempuan. Jurnal Psikologi Talenta, 2(2), 11.
Olweus, D. (1996). Revised Olweus Bully/Victim Questionnaire. British Journal of Educational Psychology.
Poulton, A. (2017). Impulsive Aggression and the Significance of Bullying In Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. Journal of Child and Adolescent Psychopharmacology, 27(1), 101-101.
Putra, A. N. (2017). Hubungan Antara Komitmen Persahabatan dengan Pemaafan pada Remaja. Tesis. Fakultas Psikologi. Universitas Katolik Soegijapranata. Semarang.
Putri, R. D. (2019). Bimbingan Kelompok Menggunakan Permainan sebagai Strategi dalam Mengembangkan Empati Siswa. Jurnal Bimbingan dan Konseling Borneo, 1(2).
Quintana-Orts, C., Rey, L., & Worthington Jr, E. L. (2019). The Relationship Between Forgiveness, Bullying, and Cyberbullying in Adolescence: A Systematic Review. Trauma, Violence, & Abuse, 20(10), 1-17.
Rana, S., Hariharan, M., Nandinee, D., & Vincent, K. (2014). Forgiveness: A Determinant of Adolescents Happiness. Indian Journal of Health and Wellbeing, 5(9), 1119-1123.
Richards, R. (2018). Empathy and Relational Creativity in Everyday Creativity and the Healthy Mind. Palgrave Macmillan, London.
Saadah, Y. N. (2018). Kontribusi Empati Terhadap Pemaafan. Disertasi. Fakultas Psikologi. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Santrock, J.W. (2007). Remaja, Jilid 2, Edisi kesebelas. Jakarta: Erlangga.
Sari, R. N., & Agung, I. M. (2016). Pemaafan dan kecenderungan perilaku bullying pada siswa korban bullying. Jurnal Psikologi, 11(1), 32-36.
Sarıçam, H., & Çetinkaya, Ç. (2018). Exploring Revenge as A Mediator between Bullying and Victimisation in Gifted and Talented Students. Current Issues in Personality Psychology, 6(2), 102-111.
Silfiasari, S. (2017). Empati dan Pemaafan dalam Hubungan Pertemanan Siswa Regular Kepada Siswa Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Inklusif. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 5(1), 126-143.
Smith, P. K. (2016). Bullying: Definition, Types, Causes, Consequences and Intervention. Social and Personality Psychology Compass, 10(9), 519-532.
Solberg, M. E., & Olweus, D. (2003). Prevalence estimation of school bullying with the Olweus bully/victim questionnaire. Aggressive Behavior, 29(3), 239-268.
Stein, J. M., & Miller, N. S. (2019). Individual Differences in Apology Acceptance and Forgiveness: The Influence of Handedness. Laterality: Asymmetries of Body, Brain and Cognition, 24(5), 559-581.
Sullivan, K., Cleary, M., & Sullivan, G. (2003). Bullying in secondary schools:
What it looks like and how to manage it. Sage: New York.
Swickert, R., Robertson, S., & Baird, D. (2016). Age Moderates The Mediational Role of Empathy in The Association Between Gender And Forgiveness. Current Psychology, 35(3), 354-360.
Tittler, M. V., & Wade, N. G. (2019). Forgiveness Interventions from a Multicultural Perspective: Potential Applications and Concerns.
In Theoretical Approaches to Multi-Cultural Positive Psychological Interventions. Springer, Cham.
Umar, M.F.R., Daud. M., & Faradillah. (2016). Hubungan Antara Empati dan Forgiveness pada Remaja Pasca Perceraian Orangtua di Kota Makassar.
Skripsi. Fakultas Psikologi. Universitas Negeri Makassar. Makassar.
Utami, A. C., Ulfiah, Tahrir. (2019). Gambaran Memaafkan (Forgiveness) pada Korban Bullying. Jurnal Penelitian Psikologi, 10(2), 13-25.
Van Lissa, C. J., Hawk, S. T., Branje, S., Koot, H. M., & Meeus, W. H. (2016).
Common and Unique Associations of Adolescents' Affective and Cognitive Empathy Development with Conflict Behavior towards Parents. Journal of Adolescence, 47, 60-70.
Verhofstadt, L., Devoldre, I., Buysse, A., Stevens, M., Hinnekens, C., Ickes, W., &
Davis, M. (2016). The Role of Cognitive and Affective Empathy in Spouses' Support Interactions: An Observational Study. PloS one, 11(2).
Villadangos, M., Errastil, J., Amigo, I., Jolliffe, D., & Garcia-Cueto, E. (2016).
Characteristic of Empathy in Young People Measured by the Spanish Validation of the Basic Empathy Scale. Psicothema, 28(3), 323-329.
Wai, M., & Tiliopoulos, N. (2012). The Affective and Cognitive Empathic Nature of the Dark Triad of Personality. Personality and Individual Differences, 52(7), 794-799.
66
Walter, H., 2012. Social Cognitive Neuroscience of Empathy: Concepts, Circuits, and Genes. Emot. Rev. 4 (1), 9–17.
Watson, H., Rapee, R., & Todorov, N. (2016). Imagery Rescripting Of Revenge, Avoidance, and Forgiveness for Past Bullying Experiences in Young Adults. Cognitive Behaviour Therapy, 45, 73–89.
Widhiarso, W. (2010). Membuat Kategori Skor Hasil Pengukuran Skala. Fakultas Psikologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
www.cnnindonesia.com. (2020, 05 Februari). Diduga Korban Bullying Jari Siswa SMP di Malang Diamputasi. Diakses pada 20 Maret 2020.
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200205140320-20-471871/diduga-korban-bullying-jari-siswa-smp-di-malang-diamputasi www.kbbi.web.id. (2019) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Definisi Empati.
Diakses pada 20 Maret 2020. https://kbbi.web.id/empati
www.kpai.go.id. (2020, 10 Februari). Sejumlah Kasus Bullying Sudah Warnai Catatan Masala Anak di Awal 2020, Begini Kata Komisioner KPAI.
https://www.kpai.go.id/berita/sejumlah-kasus-bullying-sudah-warnai-catatan-masalah-anak-di-awal-2020-begini-kata-komisioner-kpai
www.regional.kompas.com. (2020, 13 Februari). Ganjar Sebut Siswi SMP Korban Bullying Berkebutuhan Khusus. Diakses pada 20 Maret 2020.
https://regional.kompas.com/read/2020/02/13/18353491/ganjar-sebut-siswi-smp-korban-bullying-di-purworejo-berkebutuhan-khusus?page=all Younger, J. W., Piferi, R. L., Jobe, R. L., & Lawler, K. A. (2004). Dimensions of
Forgiveness: The Views of Laypersons. Journal of social and Personal Relationships, 21(6), 837-855.
67
LAMPIRAN I
SKALA PENELITIAN
68
Prodi Psikologi
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia
Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Halo teman-teman! Dengan segala kerendahan hati saya ingin meminta tolong kepada teman-teman untuk membantu saya menjawab beberapa pernyataan di bawah. Segala jawaban yang teman-teman berikan bersifat netral, tidak ada jawaban yang lebih benar/salah serta akan dijaga kerahasiaannya. Untuk itu saya harap teman-teman dapat menjawab semua pernyataan di bawah dengan jujur dan teliti, ya!
Terima kasih atas kesediaan teman-teman menjawab dengan baik. Semoga segala kebaikan teman-teman dibalas oleh Tuhan.
Wassalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hormat saya,
Mutiara Jasmine O.
IDENTITAS DIRI
Nama / Inisial :
Jenis Kelamin : L / P (lingkari salah satu)
Usia :
Kelas :
Dengan ini saya menyatakan bersedia untuk menjadi responden penelitian dan menjawab semua pertanyaan penelitian sesuai dengan keadaan saya yang sejujurnya.
Yogyakarta, 2020
(...)
70
PETUNJUK PENGERJAAN Bagian 1
Terdapat 8 pernyataan yang mungkin pernah terjadi atau tidak pernah terjadi denganmu. Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan kondisimu dengan memberi tanda centang (√). Tidak ada jawaban salah/benar, semua jawaban
Jawablah pernyataan berikut ini dengan memberi tanda centang (√) sesuai dengan
72
dikomentari tentang ras atau warna kulit saya.
8
Saya diintimidasi dengan nama-nama kasar, komentar, atau gerakan dengan makna seksual.
PETUNJUK PENGERJAAN Bagian 2
Terdapat 18 pernyataan yang mungkin kamu setujui atau tidak setujui. Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan kondisimu dengan memberi tanda centang (√). Tidak ada jawaban salah/benar, semua jawaban bersifat netral.
Contoh pengerjaan: hatimu, kamu bisa memberi tanda centang (√) pada bagian Setuju.
---
Jawablah pernyataan berikut ini dengan memberi tanda centang (√) sesuai dengan kondisimu saat ini!
2 Saya berharap sesuatu yang buruk menimpanya.
74
5 Saya ingin melihatnya terluka dan sengsara.
6 Saya menjaga jarak sejauh mungkin diantara kami.
14 Saya ingin hidup rukun dengannya.
PETUNJUK PENGERJAAN Bagian 3
Terdapat 20 pernyataan yang mungkin kamu setujui atau tidak setujui. Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan kondisimu dengan memberi tanda centang (√). Tidak ada jawaban salah/benar, semua jawaban bersifat netral.
Contoh pengerjaan:
Jika perasaanmu tidak ikut berubah menjadi sedih ketika temanmu sedang bersedih, maka kamu bisa memberi tanda centang (√) pada bagian Sangat tidak setuju.
---
Jawablah pernyataan berikut ini dengan memberi tanda centang (√) sesuai dengan kondisimu saat ini!
76 sedih ketika melihat hal-hal menyedihkan di televisi
16
Saya biasanya mampu menyadari dengan cepat ketika seorang teman sedang marah.
17 Saya sering kali terhanyut dalam perasaan teman saya.
18
Ketidakbahagiaan teman saya tidak membuat saya merasakan apapun.
19
Biasanya saya tidak tahu mengenai perasaan teman saya.
20
Saya memiliki masalah dalam mencari tahu kapan teman saya sedang berbahagia.
Sekian.
Terima kasih atas bantuan teman-teman. Semoga kamu bahagia selalu
78
LAMPIRAN II
TABULASI DATA UJI COBA
A. Tabulasi Data Victimized
80
S54 3 3 1 1 2 3 2 3 18
S55 3 2 1 1 2 1 1 1 12
S56 3 3 1 3 1 3 1 1 16
S57 1 1 1 1 1 1 1 1 8
S58 1 1 1 1 1 1 1 1 8
S59 2 3 1 3 1 1 2 1 14
S60 2 3 1 2 1 1 1 1 12
S61 3 1 2 1 2 1 3 1 14
S62 4 2 1 1 2 1 3 1 15
S63 1 1 1 1 1 1 2 1 9
S64 2 1 1 2 1 1 1 1 10
S65 3 3 1 3 3 1 3 1 18
S66 3 2 3 4 4 2 3 3 24
S67 3 2 1 2 1 1 1 1 12
S68 3 2 1 2 2 2 1 2 15
S69 1 1 1 4 1 1 3 1 13
S70 1 1 1 3 2 1 1 1 11
S71 3 2 1 1 1 1 1 2 12
S72 1 3 1 3 3 1 1 1 14
S73 2 1 1 2 3 2 1 1 13
S74 3 1 3 2 3 3 2 1 18
S75 3 2 1 4 4 4 4 3 25
S76 3 1 1 1 1 3 1 1 12
S77 2 1 1 3 1 1 2 1 12
S78 2 1 1 1 1 1 1 1 9
S79 3 3 2 4 3 1 4 1 21
82
38 3 3 4 4 4 3 2 3 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 62
84
39 3 3 5 3 3 3 4 5 5 3 3 5 1 5 3 5 4 1 5 3 72
86
LAMPIRAN III
DATA DAN SKOR TOTAL PARTISIPAN
A. Skor total partisipan yang termasuk dalam kategori victimized Partisipan Jenis Kelamin Usia Victimized Pemaafan Empati
1 P 14 15 62 44
2 L 15 12 71 46
3 L 14 23 52 48
4 L 14 17 55 50
5 L 15 21 47 48
6 L 15 17 73 35
7 L 14 16 70 39
8 L 15 11 66 49
9 L 14 16 67 45
10 P 14 14 74 45
11 L 13 9 74 49
12 P 14 24 71 53
13 P 15 15 48 41
14 L 14 19 62 54
15 L 14 9 62 38
16 L 14 11 69 34
17 P 14 17 71 41
18 P 15 16 60 53
19 L 13 20 74 48
20 P 14 14 74 55
21 L 14 12 78 62
22 P 14 13 60 58
23 L 14 18 75 50
24 L 14 10 63 44
25 L 14 18 84 54
26 P 14 9 89 61
88
27 L 14 15 62 53
28 L 15 16 68 67
29 P 15 9 69 52
30 P 14 9 61 54
31 P 14 9 85 54
32 P 14 14 69 39
33 P 14 16 62 55
34 P 13 13 75 59
35 P 15 13 70 58
36 P 14 12 79 62
37 P 13 11 61 64
38 L 14 20 72 49
39 L 13 9 76 47
40 L 14 13 58 52
41 P 14 19 72 63
42 L 13 9 73 48
43 P 14 11 64 60
44 P 14 11 69 52
45 P 14 9 72 40
46 L 14 18 44 47
47 P 14 12 57 56
48 P 14 16 81 48
49 P 13 14 76 59
50 L 14 12 62 48
51 P 14 14 83 42
52 L 14 15 73 48
53 P 15 9 58 66
54 P 14 10 75 53
55 P 14 18 56 54
56 P 14 24 62 53
57 P 14 12 49 52
58 L 14 15 77 49
59 P 15 13 78 52
60 P 14 11 70 60
61 L 14 12 69 55
62 P 14 14 66 44
63 P 14 13 82 43
64 L 14 18 73 62
65 L 14 25 64 49
66 P 13 12 61 55
67 P 15 12 60 36
68 L 14 9 69 48
69 P 14 21 72 61
90
LAMPIRAN IV
HASIL ANALISIS AITEM SAAT UJI COBA
A. Hasil Analisis Aitem dalam Tabel setelah Uji Coba
A. Hasil Analisis Aitem dalam Tabel setelah Uji Coba