• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan Penelitian

Menurut Siagian (1994:135) menyatakan pengawasan sebagai proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi. Untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan menurut Manullang (2004:173) mengatakan pengawasan dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menerapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan bila perlu mengoreksi dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana.

Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 9 Tahun 2006 Badan Permusyawaratan Desa adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Sedangkan pengertian BPD menurut Undang-Undang No.6 Tahun 2014 Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

Kedudukan BPD menurut Pasal 17 yaitu, BPD berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Sedangkan fungsi BPD menurut Pasal 18 yaitu, BPD berfungsi menetapkan Peraturan Desa bersama Kepala Desa dan menampung serta menyalurkan aspirasi masyarakat. BPD mempunyai wewenang sebagai berikut :

a) membahas rancangan peraturan Desa bersama Kepala Desa.

b) melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa dan

Peraturan Kepala Desa.

c) mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Desa sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

d) membentuk panitia pemilihan Kepala Desa.

e) menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan

aspirasi masyarakat dan f) menyusun tata tertib BPD.

Pengawasan dalam penelitian ini adalah pengawasan yang dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pembuatan rancangan Peraturan Desa (Perdes) Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri Nomor 01 Tahun 2013 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2013 dan juga pengawasan tentang pelaksanaan peraturan desa Nomor 01 khususnya terhadap APBDes dan juda ADD. Wawancara yang dilakukan dengan Kepala Desa, Ketua BPD, Sekretaris BPD, dan tokoh masyarakat. Pada data dokumentasi yaitu rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun anggaran 2013, rincian Alokasi Dana Desa (ADD) tahun anggaran 2013 dan Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) Alokasi Dana Desa (ADD) mulai dari Termin 1 sampai dengan Termin 3, maka penulis selaku peneliti akan memberikan hasil analisa data sesuai dengan uraian fokus sebagai berikut:

4.3.1 Pengawasan Ter hadap Pembuatan Rancangan Peraturan Desa

Dari hasil wawancara kepada Ketua BPD selaku pelaksana pengawas, diketahui bahwa proses pengawasan yang dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) terhadap pembuatan rancangan Peraturan Desa telah dilaksanakan dengan baik oleh Ketua BPD beserta anggotanya. Hal ini bisa dilihat dari hasil wawancara kepada Ketua BPD (Bapak Slamet) dan juga Kepala Desa (Bapak Darto) kepada peneliti. Dalam mekanisme penyusunan Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk tahun anggaran 2013, BPD

terlibat secara langsung dalam pembuatan dan penyusunan Peraturan Desa Tentang APBDes ini bersama Pemerintah Desa. Hal ini sesuai dengan yang tertera dalam PERDA Kabupaten Kediri Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pembentukan dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa yakni dalam pasal 8 yang berbunyi “rancangan Peraturan Desa dibahas secara bersama oleh Pemerintah Desa dan BPD”.

Secara konseptual, pengawasan menurut Siagian (1994:135) menyatakan bahwa pengawasan adalah sebagai proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi. Untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Secara normatif yang dilakukan BPD Desa Sukoharjo sesuai dengan amanat Perda Kabupaten Kediri Nomor 9 Tahun 2006, BPD wajib mengawasi pembuatan rancangan peraturan desa terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan desa.

Dalam hal pengawasan rancangan peraturan desa tentang anggaran pendapatan dan belanja desa Sukoharjo, BPD Desa Sukoharjo melakukan mekanisme berupa:

a. BPD di undang rapat oleh pemerintah desa untuk mengikuti musyawarah dalam menentukan rancangan Peraturan Desa.

b. Dalam musyawarah tersebut BPD memberikan pendapat dan

c. Setelah rancangan peraturan tersebut di setujui oleh kami selaku BPD serta peserta rapat yang lain,maka rancangan tersebut akan dilaporkan kepada pihak kepala aderah melalui kecamatan untuk dievaluasi.

d. Sesudah dievaluasi oleh pihak kecamatan, maka rancangan

peraturan desa tersebut dapat disahkan menjadi peraturan desa. BPD melakukan pengawasan terhadap jalannya pembuatan

rancangan peraturan desa melalui rapat musyawarah yang

diselenggarakan oleh pemerintah desa untuk membuat rancangan Perdes.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pengawasan yang dilaksanakan oleh Badan Permusyawaratan Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri terhadap pelaksanaan Peraturan Desa Sukoharjo Nomor 01 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa tahun anggaran 2013 sudah dilaksanakan oleh BPD.

4.3.2 Pengawasan Ter hadap Pelaksanaan Peraturan Desa (APBDes dan ADD)

Pelaksanaan peraturan desa yang dimaksud disini adalah pelaksanaan Peraturan Desa Sukoharjo Kecamatan Keyen Kidul Nomor 01 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) periode anggaran tahun 2013. Dalam fokus ini terdapat dua sasaran kajian dalam hal pengawasan perlaksanaan peraturan desa, yakni Anggaran Pendapatan

dan Belanja Desa (APBDes) Desa Sukoharjo dan Alokasi Dana Desa (ADD) Desa Sukoharjo :

a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes)

Secara konseptual menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa selanjutnya disingkat APBDes adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan BPD, yang ditetapkan dengan Peraturan Desa.

Dari hasil wawancara kepada Ketua BPD selaku pengawas APBDes, diketahui bahwa proses pengawasan APBDes telah dilakukan oleh BPD terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Sukoharjo tahun 2013 telah dilaksanakan pada minggu keempat bulan Januari tahun 2014 yang dihadiri oleh BPD, Kepala Desa beserta Perangkat Desa dan tokoh masyarakat. Dalam mekanisme pelaporan APBDes yang dilaksanakan Kepala Desa kepada BPD melalui musyawarah BPD. Untuk waktu pelaporan kepada BPD dilaksanakan pada minggu keempat bulan Januari 2014. Bentuk laporan berupa lisan dan tertulis, sedangkan dalam isi pelaporan yang diberikan oleh Kepala Desa kepada BPD berupa neraca pelaporan APBDes pada pelaksanaan APBDes tahun 2013.

Dalam Pasal 48 Undang-Undang Desa nomor 6 Tahun 2014 Kepala Desa bertugas memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa, yang meliputi:

a. menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa setiap

akhir tahun anggaran kepada bupati/walikota;

b. menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa pada akhir masa jabatan kepada bupati/walikota;

c. menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada Badan Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran.

Kepala Desa menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf c setiap akhir tahun anggaran kepada Badan Permusyawaratan Desa secara tertulis paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran. Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud paling sedikit memuat pelaksanaan peraturan Desa. Laporan keterangan

penyelenggaraan Pemerintahan Desa digunakan oleh Badan

Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi pengawasan pemerintahan desa.

Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa proses pengawasan terhadap APBDes Desa Sukoharjo Tahun Anggaran 2013 Sudah benar-benar dilakukan oleh BPD Desa Sukoharjo. Hal tersebut dapat dilihat dalam gambar 9 yang memberikan gambaran berupa data absensi anggota BPD,

Kepala Desa beserta perangkatnya dan tokoh masyarakat di Desa Sukoharjo. Dari data primer dan sekunder tersebut, peneliti mengambil kesimpulan bahwa proses pengawasan BPD memang telah dilaksanakan.

b. Alokasi Dana Desa (ADD)

Secara konseptual menurut Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Sumber Pendapatan Desa, Alokasi Dana Desa (ADD) adalah dana yang dialokasikan oleh pemerintah kabupaten untuk desa dan kelurahan yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten.

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa pada Pasal 18 bahwa Alokasi Dana Desa berasal dari APBD Kabupaten/Kota yang bersumber dari bagian Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10 % (sepuluh persen).

Dari hasil wawancara kepada Kepala Desa Sukoharjo diperoleh informasi bahwa dana ADD diperoleh dari bagi hasil pajak daerah dan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten. Pada tahun 2013 ini anggaran Alokasi Dana Desa Desa Sukoharjo sebesar Rp. 82.288.000,- dengan prosentase penggunaan alokasi dana 30% untuk kegiatan pemerintahan desa dan BPD serta 70% untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah desa selalu melibatkan BPD dalam setiap rapat musyawarah desa, karena BPD merupakan mitra kerja Kepala Desa,sekaligus sebagai pengawas pemerintahan desa. Untuk

hal alokasi dana desa ini ada sebagian dana yg ditujukan untuk kegiatan operasional pemerintahan termasuk BPD juga, maka dari itu pihak-pihak yang terkait dalam ADD wajib mengikuti musyawarah ini.

Berikut proses pencairan dana ADD menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 Pasal 21:

1. Pemerintah Desa membuka rekening pada bank yang ditunjuk

berdasarkan Keputusan Kepala Desa;

2. Kepala Desa mengajukan permohonan penyaluran Alokasi Dana

Desa kepada Bupati atau Kepala Bagian Pemerintahan Desa Setda Kabupaten melalui Camat setelah dilakukan verifikasi oleh Tim Pendamping Kecamatan;

3. Bagian Pemerintahan Desa pada Setda Kabupaten akan

meneruskan berkas permohonan berikut lampirannya kepada Kepala Bagian Keuangan Setda Kabupaten atau

4. Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) atau Kepala

Badan Pengelola Keuangan dan Kekayaan/Aset Daerah

(BPKKjAD); Kepala Bagian Keuangan Setda atau Kepala BPKD atau Kepala BPKKj AD akan menyalurkan Alokasi Dana Desa langsung dari kas Daerah ke rekening Desa;

5. Mekanisme Pencairan Alokasi Dana Desa dalam APBDesa

dilakukan secara bertahap atau disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi daerah kabupaten/kota

Dalam hal pengawasan ,terdapat laporan penggunaan dana ADD yaitu laporan Surat Pertanggung jawaban (SPJ) guna mengetahui pemakaian Alokasi Dana Desa tersebut. Sedangkan dalam pencairan dana ADD, pemerintah membaginya menjadi 3 tahap yaitu Termin1, Termin 2, dan Termin 3. Laporan SPJ tersebut adalah bukti semua alokasi ADD yang telah disalurkan dan digunakan untuk kegiatan pemerintahan maupun untuk pemberdayaan masyarakat, jadi BPD dapat mengawasi penggunaan dana ADD berdasarkan laporan SPJ tersebut.

Dari hasil wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa pengawasan yang telah dilakukan oleh BPD telah dilakukan sesuai Perda Kabupaten Kediri Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Badan Permusyawaratan Desa. BPD mengawasi semua pengelolaan keuangan desa mulai dari APBDes sampai dengan ADD. Akan tetapi tidak adanya sosialisasi secara lisan atau tertulis menngenai APBDes dan ADD dari aparatur desa menyebabkan proses pengawasan itu terputus pada tataran pemerintahan desa saja dan tidak sampai pada masyarakat.

Dari keseluruhan pengawasan yang dilakukan oleh BPD menurut jenisnya adalah pengawasan secara internal yakni pengawasan yang dilakukan oleh suatu badan atau orang yang secara organisasi/struktural termasuk dalam lingkungan pemerintahan itu sendiri. Misalnya pengawasan yang dilakukan pejabat atasan terhadap bawahannya sendiri. (Irmansyah dalam Hendro 1996:9). Pengawasan internal ini sama dengan

pengawasan yang dilakukan oleh BPD, sebab BPD masih dalam satu lingkup organisasi pemerintahan desa.

Tujuan utama dari pengawasan ialah mengusahakan agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan. Untuk dapat benar-benar merealisasi tujuan utama tersebut, maka pengawasan pada taraf pertama bertujuan agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang telah dikeluarkan, dan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan rencana berdasarkan penemuan-penemuan tersebut dapat diambil tindakan untuk memperbaikinya, baik pada waktu itu maupun waktu-waktu yang akan datang. (Manullang, 2004 : 173).

Dari hasil uraian dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa BPD sudah menjalankan fungsinya sebagai pengawas pemerintahan desa, khususnya pada pengawasan pembuatan Rancangan Peraturan Desa serta pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa yakni Peraturan Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri Nomor 01 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa periode tahun 2013, khususnya untuk APBDes dan juga Alokasi Dana Desa (ADD).

115

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disampaikan sebelumnya, maka penulis ingin memberikan kesimpulan dalam peranan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam menjalankan fungsi pengawasan di Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri, yaitu :

1. Pengawasan terhadap pembuatan rancangan Peraturan Desa yakni

Peraturan Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri Nomor 01 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun 2013 Sudah dilaksanakan oleh BPD Desa Sukoharjo. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara kepada Ketua BPD selaku pelaksana pengawas, diketahui bahwa proses pengawasan yang dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) terhadap pembuatan rancangan Peraturan Desa telah dilaksanakan dengan baik. Dalam mekanisme penyusunan Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk tahun anggaran 2013, BPD terlibat secara langsung dalam pembuatan dan penyusunan Peraturan Desa Tentang APBDes ini bersama Pemerintah Desa. Hal ini sesuai dengan yang tertera dalam PERDA Kabupaten Kediri Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pembentukan dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa

yakni dalam pasal 8 yang berbunyi “rancangan Peraturan Desa dibahas secara bersama oleh Pemerintah Desa dan BPD”.

2. Pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa, yakni Peraturan Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri Nomor 01 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun 2013 dalam ini terdapat dua sasaran kajian dalam hal pengawasan yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Sukoharjo dan Alokasi Dana Desa (ADD) Desa Sukoharjo:

a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes)

Pengawasan terhadap APBDes yang dilakukan oleh BPD telah dilaksanakan,hal ini dibuktikan dari hasil wawancara kepada Ketua BPD selaku pengawas APBDes, diketahui bahwa proses pengawasan APBDes telah dilakukan oleh BPD terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Sukoharjo tahun 2013 telah dilaksanakan pada minggu keempat bulan Januari tahun 2014 yang dihadiri oleh BPD, Kepala Desa beserta Perangkat Desa dan tokoh

masyarakat. Dalam mekanisme pelaporan APBDes yang

dilaksanakan Kepala Desa kepada BPD melalui musyawarah BPD. Untuk waktu pelaporan kepada BPD dilaksanakan pada minggu keempat bulan Januari 2014. Bentuk laporan berupa lisan dan tertulis, sedangkan dalam isi pelaporan yang diberikan oleh Kepala Desa kepada BPD berupa neraca pelaporan APBDes pada pelaksanaan APBDes tahun 2013.

b. Alokasi Dana Desa (ADD)

Pengawasan terhadap Alokasi Dana Desa (ADD) ini sudah dilakukan oleh BPD, hal ini terbukti dari Pemerintah desa yang melibatkan BPD dalam setiap rapat musyawarah desa, karena BPD kan merupakan mitra kerja Kepala Desa,sekaligus sebagai pengawas pemerintahan desa. Untuk hal alokasi dana desa ini ada sebagian dana yg ditujukan untuk kegiatan operasional pemerintahan termasuk BPD juga, maka dari itu pihak-pihak yang terkait dalam ADD wajib mengikuti musyawarah ini. Dalam hal pengawasan ,terdapat laporan penggunaan dana ADD yaitu laporan Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) guna mengetahui pemakaian Alokasi Dana Desa tersebut. Sedangkan dalam pencairan dana ADD, pemerintah membaginya menjadi 3 tahap yaitu Termin1, Termin 2, dan Termin 3. Laporan SPJ itu adalah bukti semua alokasi ADD yang telah disalurkan dan digunakan untuk kegiatan pemerintahan maupun untuk pemberdayaan masyarakat, jadi BPD dapat mengawasi penggunaan dana ADD dari laporan SPJ tersebut. 5.2. Sar an

Berdasarkan kesimpulan data diatas dapat diketahui bahwa fungsi yang dilakukan oleh BPD sebagai pengawas dalam membuat rancangan Peraturan Desa PERDES Nomor 01 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa serta sebagai pengawas pelaksanaan PERDES Nomor 01 tersebut yakni tentang APBDes dan ADD sudah dilaksanakan cukup baik,

namun masih terdapat kendala sehingga diperlukan pembenahan- pembenahan. Maka penulis berusaha akan memberikan saran yang mungkin dapat bermanfaat dan bersifat membangun bagi Kepala Desa beserta BPD Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri. Adapun saran-saran tersebut yaitu :

1. Untuk meningkatkan keberhasilan program Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Pelatihan bagi Perangkat Desa selaku Tim Pelaksana Desa tentang manajemen dan administrasi pengelolaan ADD.

b. Penyediaan sarana yang memadai bagi Tim Fasilitasi Kecamatan untuk menunjang kegiatan supervisi, pemantauan, evaluasi dan monitoring kegiatan ADD di desa.

c. Dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan untuk memperbaiki kinerja di semua sisi baik fisik, teknis, maupun administrasi (pertanggungjawaban/SPJ).

2. Pada Surat Pertanggung Jawaban Alokasi Dana Desa (ADD) Termin Dua

dimana terdapat bukti pertanggung jawaban kegiatan yang telah ditetapkan di dalam rancangan anggaran yang menyangkut kegiatan pembangunan desa, BPD yang dalam hal ini sebagai mitra kerja pemerintah desa dan pengawas pemerintahan desa harusnya dilibatkan dalam proses pengawasan hal ini terlihat dari bukti-bukti pada laporan SPJ tidak terdapat sama sekali BPD di dalam kegiatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Friedman, M. Marilyn.1998. Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik. Jakarta : EGC.

Handoko, T. Hani. 1995. Manajemen. Yogyakarta : BDFE.

Hurlock, E.B. 1979. Personality Development. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Company ltd.

Hurlock, E.B. (1980). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Penerjemah: Istiwidiyanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.

HAW. Widjaja. 2004. Otonomi Desa Merupakan Otonomi Yang Asli, Bulat dan Utuh. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Juliantara, Dadang. 2005. Pembaruan Desa : Bertumpu Pada Yang Terbawah. Yogyakarta : Lappera.

Koentjaraningrat (ed.). 1977. Masyarakat Desa di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Komarudin. 1974. Ensiklopedia Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara.

Kurniawan,Agung. 2005. transformasi peleyanan punblik. Yogyakarta:

PEMBARUAN.

Manullang, M. 2004. Dasar – Dasar Manajemen. Yogyakarta: Gadjah Mada. Moenir, H.A.S. 2002. majemen pelayanan umum di Indonesia. Jakarta: PT. Bumi

Aksara.

Moleong, Lexy. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda karya.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa. Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Badan

Permusyawaratan Desa.

Ratminto & Atik septi winarsih. 2012. manejemen pelayanan. yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Sedarmayanti, 2009. Reformasi Administrasi Publik, Reformasi Birokrasi, dan Kepemimpinan Masa Depan (Mewujudkan Pelayanan Prima dan Kepemerintahan yang baik). Bandung: PT. Refika Aditama.

Sekaran, Uman. 2007. Research Method For Business(Metode Penelitian Untuk Bisnis). Jakarta: Salemba Empat.

Sondang P. Siagian. 1994. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Penerbit Rhineka Cipta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Penerbit Rhineka Cipta.

Soekanto, Soerjono. 2002. Teori Peranan. Jakarta: Bumi Aksara. Soenarjo, Djoenaesih S. 1997. Opini Publik. Yogyakarta : Libertary. Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfa Beta.

Sutrisno. 2014. Pelaksanaan Pengawasan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Terhadap Peraturan Desa Tentang Anggaran Pendapatan dan Balanja Desa di Kec. Pati Kab. Pati. Program Studi Ilmu Hukum. Fakultas Hukum. Universitas Muria Kudus.

Tim Penyusun. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang

Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Ridwan Nasrulloh. 2008. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Dalam Mendukung Tata Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Di Desa Tegalgondo Kec. Wonosari Kab. Klaten. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang.

Ridho Hidayat. 2013. Fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Kuala Secapah Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Pontianak. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak.

Dokumen terkait