• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.5 Pembahasan Penelitian Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran

Keterampilan Proses Sains.

Berdasarkan hasil rekapitulasi peningkatan keterampilan proses sains kelas eksperimen dan kelas kontrol pada tabel 4.6 halaman 83, dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan keterampilan proses sains dengan kategori tinggi (N-gain 0,87) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang hanya mengalami peningkatan keterampilan proses sains dengan kategori sedang (N-gain 0,59). Selain itu, dari rekapitulasi peningkatan setiap aspek keterampilan proses sains yang ditunjukkan pada tabel 4.9 halaman 87, dapat diketahui bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan keterampilan proses sains yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol pada setiap aspek keterampilan proses sains. Kategori peningkatan keterampilan proses sains untuk kelas eksperimen sebagian besar berada pada kategori sedang lebih besar peningkatannya dilihat dari nilai gain ternormalisasinya dibandingkan dengan kelas kontrol yang sebagian besar peningkatannya berada pada kategori sedang.

97 Pada aspek mengamati, peningkatan pada kelas eksperimen terkategori tinggi (N-gain 0,49) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang terkategori sedang (N-gain 0,67). Pada aspek merencanakan penelitian, peningkatan pada kelas eksperimen terkategori tinggi (N-gain 0,85) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang terkategori sedang (N-gain 0,47). Pada aspek keeterampilan berkomunikasi, peningkatan pada kelas eksperimen terkategori tinggi (N-gain 0,97) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang terkategori sedang (N-gain 0,67). Pada aspek menafsirkan pemangamatan, peningkatan pada kelas eksperimen terkategori tinggi (N-gain 0,92) lebih besar peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol terkategori sedang (N-gain 0,63).

Peningkatan keterampilan proses sains tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Glazer (2001) bahwa: “Model problem based learning terdiri dari suatu proses penyajian situasi masalah yang autentik dan bermakna yang diharapkan memberikan kemudahan kepada siswa dalam melakukan proses pembelajaran yang utuh.” Menurut Barraws (Ibrahim dan Nur, 2004) menyatakan bahwa: “PBL dikembangkan untuk mengembangkan kemampuan keterampilan berpikir, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan proses.” Keterampilan proses ini dilatihkan kepada siswa pada tahap menuliskan tindakan kerja yang dilakukan dalam sintaks model pembelajaran problem based learning. Menurut Nurhayati (Abbas, 2000: 60) menyatakah bahwa: “Pada tahap ini siswa menuliskan dan mengerjakan tindakan kerja yang mereka lakukan untuk memecahkan masalah tersebut.” Ketika proses itu dilakukan oleh siswa, maka banyak keterampilan proses yang dilatihkan kepada siswa.

98 Pada pelaksanaan pembelajaran, diberikan permasalahan mengenai bagaimana mengetahui prinsip pembuatan lift supaya tetap aman jika ditumpangi berulang-ulang untuk pertemuan I berkaitan dengan pembahasan modulus young.

Keterampilan mengamati dilatihkan dalam melihat fenomena adanya pertambahan panjang kawat ketika diberikan beban, keterampilan merencanakan penelitian dilatihkan dalam merencanakan kegiatan praktikum menghitung besarnya tegangan dan regangan yang ada pada suatu bahan. Perencanaan kegiatan praktikum ini dituliskan dalam LKS elastisitas untuk memecahkan masalah mengenai konsep elastisitas, keterampilan berkomunikasi dilatihkan dalam menuliskan hasil dari pengamatan tersebut dalam bentuk grafik tegangan terhadap regangan dan keterampilan menafsirkan pengamatan dilatihkan dalam menentukan titik batas elastisitas, titik batas plastis, dan titik patah suatu bahan dalam grafik yang digambarkannya, menentukan nilai modulus young dari grafik tegangan terhadap regangan, sehingga didapatkan solusi untuk memperkuat ketahanan suatu bahan maka nilai modulus young bahan tersebut harus lebih besar.

Pada pertemuan II diberikan masalah mengenai bagaimana prinsip pembuatan dinamometer berkaitan dengan pembahasan pegas tunggal, keterampilan mengamati dilatihkan dalam melihat fenomena adanya pertambahan panjang pegas ketika diberikan beban, keterampilan merencanakan penelitian dilatihkan dalam merencanakan kegiatan praktikum menghitung besarnya konstanta pegas suatu bahan. Perencanaan prosedur kegiatan praktikum ini dituliskan dalam LKS elastisitas untuk memecahkan masalah mengenai konsep elastisitas. keterampilan berkomunikasi dilatihkan dalam menuliskan hasil dari pengamatan tersebut dalam bentuk grafik gaya terhadap pertambahan panjang

99 pegas. Grafik yang telah dilukiskan tersebut diidentifikasi untuk menentukan pegas mana yang paling cocok untuk menjawab masalah diatas berdasarkan kecenderungan sifat elastisitas pegas tersebut. dan keterampilan menafsirkan pengamatan dilatihkan dalam menentukan skala-skala untuk mengukur berat suatu bahan dengan menghitungnya berdasarkan nilai konstanta gaya yang diperolehnya dari kegiatan praktikum.

Pada pertemuan III diberikan masalah mengenai mengapa spring bad harus dipasang pegas dengan rangkaian paralel dan bagaimana menentukan konstanta gabungan yang berkaitan dengan pembahasan pegas campuran.

keterampilan mengamati dilatihkan dalam melihat fenomena adanya pertambahan panjang pegas pada rangkaian dan paralel ketika diberikan beban kemudian dilihat perbedaannya, keterampilan merencanakan penelitian dilatihkan dalam merencanakan kegiatan praktikum menghitung besarnya konstanta pegas dan paralel. Perencanaan prosedur kegiatan praktikum ini dituliskan dalam LKS elastisitas untuk memecahkan masalah mengenai konsep elastisitas. keterampilan berkomunikasi dilatihkan dalam menuliskan hasil dari pengamatan tersebut dalam bentuk grafik gaya terhadap pertambahan panjang pegas baik rangkaian maupun paralel. Grafik yang telah dilukiskan tersebut diidentifikasi untuk melihat karakteristik sifat elastisitas rangkaian pegas dan paralel dan keterampilan menafsirkan pengamatan dilatihkan dalam membandingkan karakteristik pegas dan paralel berdasarkan data hasil pengamatan.

Permasalahan konkret tersebut akan menstimulus siswa untuk belajar menemukan melalui pendekatan inkuiri yang guru berikan. Kegiatan dilakukan dilaboratorium melalui metode eksperimen. Peningkatan keterampilan proses

100 sains ini ditunjang dengan keterlaksanaan model pembelajaran yang mencapai 100% terlaksana untuk tiga pertemuan.

Hasil uji signifikansi statistik non parametrik terhadap peningkatan keterampilan proses elastisitas ketika diterapkan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri dan model konvensional yang biasa diterapkan di sekolah diperoleh nilai Whitung untuk peningkatan penguasaan konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 0 dan nilai adalah 168,91 dengan taraf signifikansi 1%. Maka kategori hasil uji signifikansi statistik non parametrik dengan tes wilcoxon tersebut adalah berbeda dengan sangat signifikan.

Dengan demikian, hipotesis Ho “ Penerapan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri secara signifikan dapat lebih meningkatkan keterampilan proses sains siswa dibandingkan ketika diterapkan dan model konvensional.,” diterima dengan tingkat kepercayaan 99%. Hasil tersebut sesuai dengan yang dinyatakan oleh Moh. Amin (Siswanto, 2003: 12) menyatakan bahwa:

“Dengan kegiatan inkuiri terjadi perluasan proses-proses discovery karena mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merancang eksperimen, mengumpulkan data dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu dan terbuka.”

Jika kita perhatikan, penerapan model PBL akan menghasilkan peningkatan keterampilan proses yang lebih tinggi sesuai dengan yang dinyatakan oleh Roestiyah N.K. (1998) bahwa :

“pembelajaran konvensional (tradisional) pada umumnya memiliki kekhasan tertentu, misalnya lebih mengutamakan hapalan daripada pengertian, menekankan kepada keterampilan berhitung, mengutamakan hasil daripada proses, dan pengajaran berpusat pada guru.”

101 Dengan demikian ketika kegiatan pembelajaran disertai dengan kegiatan yang melibatkan banyak indra, sesuai dengan yang dinyatakan oleh Vernon A Madnesen (1983) bahwa:

“Kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cara belajar. Jika belajar hanya dengan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%, dari mendengar 20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, mengatakan-komunikasi mencapai 70%, dan belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan bisa mencapai 90% dari materi pembelajaran yang guru sampaikan.”

4.6 Pembahasan Penelitian Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan Pendekatan Inkuiri terhadap Peningkatan

Penguasaan Konsep Elastisitas.

Berdasarkan hasil rekapitulasi peningkatan penguasaan konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol pada tabel 4.1 halaman 75, dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan penguasaan konsep dengan kategori tinggi (N-gain 0,77) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang hanya mengalami peningkatan penguasaan konsep dengan kategori sedang (N-gain 0,50). Selain itu, dari rekapitulasi peningkatan setiap aspek kognitif yang ditunjukkan pada tabel 4.4 halaman 79, dapat diketahui bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan penguasaan konsep yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol pada setiap aspek kognitif. Kategori peningkatan penguasaan konsep untuk kelas eksperimen sebagian besar berada pada kategori tinggi lebih besar peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang sebagian besar peningkatannya berada pada kategori sedang.

Pada aspek kognitif pemahaman konsep (C2), peningkatan pada kelas eksperimen terkategori tinggi (N-gain 0,76) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang terkategori sedang (N-gain 0,53). Pada

102 aspek kognitif penerapan konsep (C3), peningkatan pada kelas eksperimen terkategori tinggi (N-gain 0,76) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang terkategori sedang (N-gain 0,49). Pada aspek kognitif analisis konsep (C4), peningkatan pada kelas eksperimen terkategori sedang (N-gain 0,68) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol yang terkategori sedang (N-gain 0,37). Pada aspek kognitif sintesis konsep (C5), peningkatan pada kelas eksperimen terkategori sedang (N-gain 0,60) sama besar peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol terkategori sedang (N-gain 0,61). Pada aspek kognitif evaluasi konsep (C6), peningkatan pada kelas eksperimen terkategori sangat tinggi (N-gain 0,90) lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelas kontrol terkategori rendah (N-gain 0,32).

Peningkatan penguasaan konsep tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh M.Taufiq Amir (4:2009) bahwa: “Penggunaan PBL dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari.”

Ketika diterapkan model pembelajaran ini, siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendirimenemukan konsep tersebut. Siswa bukan hanya sekedar memperoleh informasi mengenai ilmu pengetahuan tetapi juga membangun konsep yang dimilikinya untuk membentuk struktur pengetahuan yang utuh. Hal ini terjadi karena menurut Fogarty (1997) menyatakan bahwa:

“Ketika diterapkannya PBL, terjadi konfrontasi kepada siswa dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau open ended melalui stimulus dalam belajar.” Karena menurut Glazer (2001) menyatakan bahwa: “Dengan pembelajaran bermakna diharapkan memberikan kemudahan kepada siswa dalam melakukan proses pembelajaran yang utuh.”

103 Pada pelaksanaan pembelajaran, diberikan permasalahan mengenai bagaimana mengetahui prinsip pembuatan lift supaya tetap aman jika ditumpangi berulang-ulang untuk pertemuan I berkaitan dengan pembahasan modulus young, kemudian diberikan masalah mengenai bagaimana prinsip pembuatan dinamometer pada pertemuan II berkaitan dengan pembahasan pegas tunggal, terakhir diberikan masalah mengenai mengapa spring bad harus dipasang pegas dengan rangkaian paralel dan bagaimana menentukan konstanta gabungan pada pertemuan III yang berkaitan dengan pembahasan pegas campuran. Permasalahan konkret tersebut akan menstimulus siswa untuk belajar menemukan melalui pendekatan inkuiri yang guru berikan. Kegiatan dilakukan di laboratorium melalui metode eksperimen. Peningkatan penguasaan konsep ini ditunjang dengan keterlaksanaan model pembelajaran yang mencapai 100% terlaksana untuk tiga pembelajaran.

Hasil uji signifikansi statistik non parametrik terhadap peningkatan penguasaan konsep elastisitas ketika diterapkan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri dan model konvensional yang biasa diterapkan di sekolah diperoleh nilai Whitung untuk peningkatan penguasaan konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 0 dan nilai adalah 235,35 dengan taraf signifikansi 1%. Maka kategori hasil uji signifikansi statistik non parametrik dengan tes wilcoxon tersebut adalah berbeda dengan sangat signifikan.

Dengan demikian, hipotesis Ho “Penerapan model pembelajaran problem based learning dengan pendekatan inkuiri secara signifikan dapat lebih meningkatkan penguasaan konsep siswa dibandingkan ketika diterapkan dan

104 model konvensional.,” diterima dengan tingkat kepercayaan 99%. Hasil tersebut sesuai dengan yang dinyatakan oleh Taufiq Amir (2009: 3) menyatakan bahwa:

“Model pembelajaran konvensional dengan pendekan teacher centered sudah dianggap tradisional dan perlu diubah. Ini karena pendekatan teacher centered dimana pembelajaran berpusat pada pendidik dengan penekanan pada peliputan dan penyebaran materi, sementara pembelajar kurang aktif, sudah tidak memadai untuk tuntutan era pengetahuan saat ini.

sulit untuk mengembangkan kecakapan berfikir, kecakapan intrapersonal dengan baik. Sehingga Tidak banyak yang mereka dapatkan untuk meningkatkan penguasaan konsep.”

4.7 Pembahasan Penelitian Korelasi Positif Peningkatan Keterampilan Proses