Pengetahuan * sikap

HASIL PENELITIAN

4.2 Analisis Bivariat

Analisis hubungan pada penelitian ini meliputi analisis variabel pendidikan, sosioekonomi, sikap dan pengetahuan respoden dilakukan dengan uji chi square sebagai berikut.

Tabel 13. menunjukkan hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan responden tentang penanganan darurat kasus trauma avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia. Responden yang berpendidikan tinggi dengan pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 9 orang (9,1%) serta tidak jauh berbeda dengan responden yang berpendidikan sedang sebanyak 7 orang (4,6%) dan perndidikan rendah 2 orang (5,9%) yang memiliki pengetahuan baik tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p= 0,021 < 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan pengetahuan responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Kecamatan Medan Polonia.

49

Tabel 13. Hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia

Pendidikan

Pengetahuan

Baik Cukup Kurang Total p

n % n % n % n % Rendah 2 5,9 0 0 32 94,1 34 100 Sedang 7 4,6 21 13,9 123 81,5 151 100 0,021 Tinggi 9 9,1 18 18,2 72 72,7 99 100 Total 18 6,3 39 13,7 187 80 284 100 p = 0,021(<0,05)

Tabel 14 menunjukkan hubungan antara sosioekonomi dengan pengetahuan responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia. Responden yang mempunyai faktor sosioekonomi dengan kategori baik sebanyak 52 (77,6%), kategori sedang 115 orang (76,6%), dan kategori kurang 60 orang (89,6%) hasilnya hampir sama yaitu memiliki pengetahuan kurang tentang penanganan penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p= 0,169 > 0,05 menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara sosioekonomi dengan pengetahuan responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Kecamatan Medan Polonia.

Tabel 14. Hubungan antara sosioekonomi dengan pengetahuan responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia

Sosioekonomi

Pengetahuan

Baik Cukup Kurang Total p

n % n % n % n % Baik 6 9 9 13,4 52 77,6 67 100 Sedang 11 7,3 24 16 115 76,7 150 100 0,169 Kurang 1 1,5 6 9 60 89,6 67 100 Total 18 6,3 39 13,7 227 80 284 100 p = 0,169(>0,05)

Tabel 15 menunjukkan hubungan antara pendidikan dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia. Responden dengan berpendidikan tinggi sebanyak 71 orang (71,7%), sedang 119 (78,8%) maupun rendah 24 orang (70,6%) memiliki sikap yang baik dalam penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p= 0,035 < 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Kecamatan Medan Polonia.

Tabel 15. Hubungan antara pendidikan dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia

Pendidikan

Sikap

Sangat Baik Baik Tidak Baik Total p

n % n % n % n % Rendah 2 5,9 24 70,6 8 23,5 34 100 Sedang 7 4,6 119 78,8 25 16,6 151 100 0,035 Tinggi 15 15,2 71 71,7 13 13,1 99 100 Total 24 8,4 214 75,4 46 16,2 284 100 p = 0,035(<0,05)

51

Tabel 16 menunjukkan hubungan antara sosioekonomi dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia. Responden dengan faktor sosioekonomi yaitu kategori baik 51 orang (76,1%), sedang 107 orang (71,3%) dan rendah 56 orang (83,6%) hampir sama dengan memiliki sikap yang baik tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p= 0,259 menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara sosioekonomi dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Kecamatan Medan Polonia.

Tabel 16. Hubungan antara sosioekonomi dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia

Sosioekonomi

Sikap

Sangat Baik Baik Tidak Baik Total p

n % n % n % n % Baik 5 7,5 51 76,1 11 16,4 67 100 Sedang 17 11,3 107 71,3 26 17,3 150 100 0,259 Kurang 2 3 56 83,6 9 13,4 67 100 Total 24 8,4 214 75,4 46 16,2 284 100 p = 0,0259(<0,05)

Tabel 17 menunjukkan hubungan antara pengetahuan dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia. Responden dengan berpendidikan baik sebanyak 9 orang (50%), cukup 24 (61,5%) maupun kurang 181 orang (75,4%) memiliki sikap yang baik dalam penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p= 0,000 < 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Kecamatan Medan Polonia.

Tabel 17. Hubungan antara pengetahuan dengan sikap responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Polonia

Pengetahuan

Sikap

Sangat Baik Baik Tidak Baik Total p

n % n % n % n % Baik 9 50 9 50 0 0 18 100 Cukup 11 28,2 24 61,5 4 4 39 100 0,000 Kurang 4 1,8 181 79,7 42 18,5 227 100 Total 24 8,4 214 75,4 46 16,2 284 100 p = 0,000(<0,05)

BAB 5

PEMBAHASAN

Penelitian ini telah dilakukan pada dua kecamatan yaitu Kecamatan Medan Marelan dan Kecamatan Medan Polonia dengan jumlah responden 284 orang orangtua. Hasil penelitian diperoleh jenis kelamin responden laki-laki adalah sebanyak 40,5% dan responden perempuan sebanyak 59,5%, hal tersebut membuktikan bahwa di Indonesia ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus anak-anaknya dibandingkan dengan ayah yang pergi bekerja. Usia responden yang sebagian besar mengisi kuisioner adalah usia 35 sampai 44 tahun sebanyak 58,4%, hal tersebut dikarenakan pada kriteria inklusi penelitian ini adalah orangtua yang memiliki anak dengan gigi permanen berusia 7-9 tahun dan kemungkinan untuk orangtua yang berusia diatas 45 tahun memiliki anak usia 7-9 tahun memang jarang didapat. Diperlukan kesadaran dan perhatian orangtua tentang penanganan darurat avulsi karena kejadian trauma pada anak usia 7-9 tahun sering terjadi . Kerjasama dan pengetahuan orangtua terhadap trauma avulsi dianggap penting menentukan tercapainya keberhasilan perawatan dikarenakan orangtua sebagai penolong pertama ketika anak menghadapi trauma avulsi.6,13

Berdasarkan hasil penelitian tingkat pendidikan responden cukup bervariasi. Tingkat pendidikan responden diperoleh kelompok yang paling banyak adalah yang berpendidikan sedang (SMA) 53,1% sedangkan hasil yang paling kecil didapatkan dari yang berpendidikan rendah (SD dan SMP) 12% serta sisanya yang berpendidikan tinggi (tamat diploma, tamat sarjana/ perguruan tinggi) 34,9%. Perbedaan tingkat pendidikan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pola pikir, sudut pandang, dan tindakan-tindakan responden, maka dengan latar belakang pendidikan masyarakat yang berbeda akan mempengaruhi pengetahuan dan sikap tentang penanganan darurat kasus trauma avulsi gigi permanen ini.16

Sosioekonomi responden pada penelitian ini diukur berdasarkan faktor pekerjaan dan penghasilan. Status kerja responden yang bekerja adalah 70,8% sedangkan yang tidak bekerja 29,2%. Penghasilan responden lebih banyak yang berpenghasilan rendah yaitu 70,8% sedangkan responden dengan penghasilan yang tidak rendah 29,2%. Berdasarkan hasil penelitian, kategori sosioekonomi ditemukan bervariasi dengan hasil paling banyak ditemukan adalah kategori sedang 52,8% sedangkan didapatkan persentase yang sama antara kategori baik yaitu 23,6%, dan kategori kurang 23,6%. Status ekonomi seseorang dapat mempengaruhi pengetahuan, pada sosioekonomi menengah keatas umumnya lebih mendukung akses dan fasilitas yang diperlukan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan dan informasi tertentu kemudian ditambahkan lagi bahwa di daerah penelitian ini ternyata banyak masyarakat yang berkategori sosioekonomi sedang. 16

Penelitian ini menunjukkan responden yang tidak pernah memperoleh informasi tentang trauma gigi lebih banyak dibandingkan dengan yang pernah mendapatkan informasi sebelumnya. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Abdellatif, dkk yang menunjukkan bahwa hanya 18,9% dari orangtua dengan pendidikan sedang serta 17,6% orangtua dengan pendidikan tinggi yang pernah memperoleh pengalaman informasi tentang trauma gigi. Penelitian ini juga menunjukkan gambaran tentang sumber informasi mengenai trauma gigi yang diperoleh orangtua. Penelitian ini mengartikan kurangnya penyebaran informasi melalui dokter gigi, media cetak, internet, dan yang lainnya. Orangtua dengan keadaan sosioekonomi yang rendah lebih sulit mendapatkan akses informasi langsung dari dokter gigi dan sebaiknya informasi tersebut dapat ditingkatkan dengan memberikan sebaran brosur ataupun berupa poster khususnya tentang penanganan darurat kasus trauma gigi avulsi. 41

Penting bagi orangtua maupun orang yang berada didekat anak untuk mengetahui faktor yang dapat menentukan keberhasilan perawatan replantasi gigi anak yaitu lamanya gigi berada di luar soket alveolar, tempat penyimpanan dan media transportasi gigi avulsi yang adekuat, serta cara membersihkan gigi avulsi tanpa merusak bagian akar gigi dan jaringan ligamen periodontal.15 Pengetahuan orangtua

55

pada penelitian ini dinilai dari tindakan yang pertama sekali dilakukan oleh orangtua pada saat kejadian trauma terjadi dan yang menjawab benar dengan cara menenangkan anak terlebih dahulu lalu menghentikan perdarahan dengan menggigit kain sambil membawa anak ke pelayanan medis adalah sebesar 39,4%. Hasil penelitian ini lebih rendah sedikit dibandingkan dengan hasil penelitian Santos et.al di Brazil pada tahun 2009 dengan hasil sebesar 49%. Orangtua sebagian besar yang menjawab salah sebesar 59,5%, dikarenakan orangtua cenderung fokus terhadap keluhan sakit anak karena yang dilihat pertama sekali adalah wajah anak dipenuhi darah, setelah dibersihkan luka pada wajah anak maka segera memberikan anak obat anti sakit tanpa dibawa lagi ke pelayanan medis.15

Penelitian ini menemukan bahwa orangtua yang lebih memilih untuk menyelamatkan gigi permanen pada ilustrasi lebih banyak 61,3% dibandingkan yang memilih gigi susu 29,5%, dan sebanyak 9,2% tidak tahu jenis gigi yang terlepas. Hasil penelitian Abdellatif, dkk berbeda dan ditemukan sejumlah besar dari responden lebih memilih untuk menyelamatkan gigi susu. Alasan untuk tidak melakukan replantasi gigi avulsi anak dihubungkan dengan kurangnya pengetahuan, khawatir mencederai anak atau lebih mengutamakan menghentikan perdarahan anak yang bagi sebagian besar orang dipandang sebagai ancaman hidup. Hal ini juga dikarenakan orangtua tidak mendapatkan pengetahuan yang adekuat mengenai masa erupsi gigi permanen padahal hal ini penting untuk diketahui sebelum melakukan penanganan darurat gigi avulsi. Pentingnya pengetahuan orangtua untuk mengetahui jenis gigi anak yang terlepas dikarenakan apabila gigi permanen anak sudah hilang maka tidak ada lagi pengganti gigi permanen tersebut, maka diharapkan agar orangtua dapat menyelamatkan gigi permanen pada anak yang terlepas sedangkan gigi susu merupakan tidak dianjurkan untuk dilakukan replantasi diakibatkan dapat merusak benih gigi permanen yang akan erupsi.29,41

Penelitian ini menemukan hanya sebanyak 5,3% responden orangtua yang mengetahui bahwa setelah gigi anak terlepas maka yang akan dilakukan orangtua adalah gigi tersebut harus dicari kemudian gigi segera dibersihkan dengan memegang bagian mahkota gigi dan diletakkan ke dalam rongga mulut diantara gusi dan pipi

anak. Hanya sebanyak 34,2% orangtua yang membersihkan gigi terlepas dan kotor dibawah air mengalir selama 10 detik, selainnya sebanyak 50,7% yang membersihkan gigi dengan menyikat gigi sampai bersih, membersihkan dengan tangan atau tissue, dan membersihkan gigi dengan sabun atau alcohol, sisanya 15,1% orangtua tidak tahu apa yang harus dilakukan pada gigi tersebut. Penelitian ini menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Santos et.al yaitu 52% dari orangtua mengetahui memegang gigi yang terlepas pada bagian mahkota dan 59% membersihkan gigi tersebut dibawah air mengalir. Penelitian ini menunjukkan bahwa orangtua tidak tahu tentang prosedur membersihkan gigi yang benar dan pentingnya menjaga kesehatan jaringan ligamen periodontal gigi avulsi.15

Penelitian ini menunjukkan bahwa 62,6% orangtua mengetahui waktu kurang dari 60 menit adalah waktu yang paling tepat untuk anak menerima perawatan medis setelah terjadi trauma gigi avulsi, yang menjawab salah sebanyak 28,9% dan yang menjawab tidak tahu 8,9%. Penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Ozer et.al yang membuktikan bahwa 68,2% dari responden mengetahui bahwa waktu untuk mencari perawatan medis gigi avulsi adalah kurang dari 30 menit. Ini membuktikan bahwa orangtua waspada dan segera mungkin membawa anak untuk mendapatkan perawatan. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa hanya sedikit orangtua yang mengetahui lamanya waktu gigi dapat tetap sehat untuk dapat direplantasi kembali ke soket adalah 30 menit yaitu sebesar 23,2% orangtua, sedangkan 42,6% salah dan 34,2% tidak tahu. Penelitian menyatakan bahwa semakin lama waktu gigi avulsi untuk dilakukan replantasi gigi dan perawatan avulsi, kemungkinan risiko terjadinya resorpsi dan inflamasi akar gigi semakin besar.3

Penelitian ini menemukan bahwa hanya sedikit orangtua yaitu 11,3% yang memilih memasukkan gigi avulsi kedalam susu sebagai cara membawa gigi avulsi ke dokter gigi dikala orangtua tidak langsung melakukan replantasi sendiri gigi anak, sedangkan 69,4% lagi memilih dengan cara membalut gigi dengan tissue, memasukkan kedalam kantong berisi es, membungkus gigi kedalam plastik kering, dan 19,3% tidak tahu. Pada penelitian lain menjelaskan bahwa orang awam cenderung memilih gigi dimasukkan ke dalam kantong berisi es dikarenakan

57

temperatur es yang rendah mencirikan sesuatu yang dapat mempertahankan kesegaran gigi, orang awam seharusnya diberikan edukasi bahwa air bersifat hipotonis dan mempercepat kerusakan dari sel-sel ligamen periodontal akar gigi serta memberikan efek yang buruk apabila gigi tersebut direplantasi. Sedangkan, membungkus gigi avulsi kedalam tissue ataupun membungkus gigi avulsi kedalam plastik kering menyebabkan sel-sel ligamen periodontal mengalami dehidrasi sehingga mengalami kerusakan. Media tersebut merupakan wadah yang kering yang dipilih oleh orangtua karena lebih gampang didapat, namun orangtua tidak tahu akan efek langsung merusak ligamen periodontal gigi.14 Hasil yang tidak jauh berbeda dilihat dari pilihan orangtua tentang media penyimpanan yang paling tepat digunakan, maka yang menjawab susu hanya sebesar 14,2%, sebesar 70,8% menjawab air bersih, alkohol serta air garam, dan 15,1% tidak tahu jenis media penyimpanan apa yang akan digunakan. Beberapa penelitian sebelumnya juga telah membuktikan bahwa masih kurangnya pengetahuan orangtua tentang pemilihan media penyimpanan yang baik untuk gigi avulsi. Hasil penelitian Santos et.al menemukan hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan penelitian ini yaitu sebesar 3% dari orangtua yang mengetahui susu baik sebagai media penyimpanan gigi avulsi, sedangkan 54% orangtua memilih menyimpan pada wadah kering.15

Hasil penelitian ini menemukan bahwa 93,7% orangtua mengetahui bahwa klinik dokter gigi merupakan tempat untuk mendapatkan perawatan lanjutan trauma avulsi gigi anak, sebanyak 4,9% pergi mencari perawatan lanjutan ke dokter umum, bidan atau rumah sakit, dan 1,4% tidak tahu. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Loo et.al yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden orangtua mencari perawatan ke klinik dokter gigi dan sisanya mencari perawatan di klinik dokter umum atau rumah sakit umum.14

Kategori pengetahuan yang paling banyak ditemukan yaitu pada kategori kurang 227 orang (80%), kategori yang paling sedikit yaitu kategori baik 18 orang (6,3%), dan kategori cukup adalah 39 orang (13,7%). Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Gupta et al yang menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang prosedur penanganan avulsi gigi permanen anak masih sangat rendah.

Sedikitnya orangtua dengan pengetahuan baik menunjukkan kurangnya pengetahuan kemungkinan disebabkan oleh kurangnya informasi orangtua tentang penanganan kasus trauma avulsi gigi permanen.42 Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Gupta et al yang menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang prosedur penanganan avulsi gigi permanen anak masih sangat rendah.

Sikap merupakan respon atau kesediaan suatu responden untuk bertindak terhadap suatu stimulus atau obyek. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lebih dari setengah yaitu 97,1% memberikan tanggapan positif dengan sebanyak 56,6% yang sangat setuju pada pernyataan setiap orangtua harus mengetahui tentang penanganan darurat cedera gigi dan mulut. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Ozer et.al yang menemukan 59,5% menyatakan sangat penting untuk mengetahui informasi mengenai penanganan darurat cedera gigi dan mulut.3 Penting bagi orangtua untuk mencari dan menyelamatkan gigi yang terlepas agar dapat dilakukan perawatan untuk mencegah anak mengalami kehilangan gigi anak secara dini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 58,1% orangtua yang memberikan tanggapan positif pada pernyataan perlunya mencari gigi anak yang hilang dengan 38% menyatakan setuju. Sebaliknya hasil penelitian Loo et.al menunjukkan bahwa 62,5% orangtua tidak mencari gigi yang terlepas tersebut.14 Selanjutnya hasil penelitian juga menemukan lebih dari setengah 56,4% responden yang memberikan tanggapan positif dengan menyatakan setuju pada penyataan perlunya dilakukan pengembalian gigi segera setelah gigi anak terlepas sebanyak 38,4%. Namun, sikap responden tentang membersihkan gigi anak yang kotor dengan cara disikat sampai bersih menunjukkan lebih dari setengah responden 65,8% menunjukkan hasil negatif yaitu 41,9% menyatakan setuju. Orangtua umumnya berpikir bahwa membersihkan gigi dalam keadaaan normal dengan gigi yang terlepas adalah sama. Akan tetapi, perlakuan tersebut menyebabkan kerusakan pada jaringan ligamen periodontal pada akar gigi. Dengan demikian, sebaiknya gigi yang terlepas dibersihkan dengan air mengalir dengan memegang pada bagian mahkota gigi sehingga resiko kerusakan ligamen periodontal dapat dihindari.20

59

Sikap responden pada pernyataan membawa anak dan gigi yang terlepas ke dokter gigi segera setelah cedera gigi dan mulut terjadi menunjukkan hasil positif 81,4% yaitu sebanyak 47,2% orangtua menyatakan setuju. Sebaliknya, sikap responden ditemukan hasil negatif karena pada pernyataan cara membawa gigi anak yang terlepas ke dokter gigi dengan dibalut menggunakan tissue terdapat 48,6% yang setuju dan 13% sangat setuju terhadap pernyataan tersebut. Kemungkinan orang tua menganggap tissue lebih mudah didapatkan dan tidak tahu bahwa media yang kering menyebabkan kekeringan pada membran periodontal sehingga kegagalan perawatan dapat terjadi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya 27,1% responden yang memberikan tanggapan positif pada pernyataan menyimpan gigi yang terlepas ke dalam kantong berisi susu. Hasil penelitian Gupta et.al ditemukan lebih rendah yaitu 4,4% yang setuju bahwa susu sebagai media penyimpanan.42 Keuntungan dari susu adalah murah dan mudah didapat sehingga gigi dapat segera ditempatkan di media susu. Ini menunjukkan kurangnya pengetahuan orangtua tentang media penyimpanan yang sesuai dengan kondisi lingkungan alveolar.32 Responden memberikan tanggapan positif sebesar 89% untuk yang bersedia menerima penyuluhan lebih lanjut tentang penanganan darurat cedera gigi dan mulut. Namun hasil tersebut lebih rendah sedikit dibandingkan hasil responden yang tadinya memberikan tanggapan positif dalam mengetahui informasi tentang penanganan darurat cedera gigi dan mulut. Kemungkinan orangtua tidak memiliki banyak waktu untuk menghadiri penyuluhan.

Kategori sikap orangtua pada penelitian ini yang paling banyak ditemukan adalah kategori baik sebanyak 214 orang (75,4%), kategori sangat baik sebanyak 24 orang (8,4%) dilanjutkan kategori tidak baik 46 orang (16,2%). Penelitian ini menunjukkan hasil sikap responden lebih dari setengah memberikan respon positif. Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian Loo et.al yang membuktikan responden orangtua memberikan respon sikap yang baik tentang penanganan darurat kasus trauma avulsi.14 Dengan demikian, penelitian ini menemukan tingkat pengetahuan orangtua yang rendah tentang penanganan darurat trauma avulsi namun orangtua masih memberikan respon sikap yang positif untuk meningkatkan pengetahuan tentang penanganan darurat trauma avulsi lebih lanjut.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan diketahui ada hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan responden tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Hasil penelitian yang serupa ditemukan oleh Ozer et.al.3 Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin mudah orang tersebut untuk menerima informasi, semakin banyak informasi yang didapat maka sebanyak itu pula pengetahuan yang didapat. Ditinjau dari sosioekonomi, hasil penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan yang bermakna antara sosioekonomi orangtua dengan pengetahuan tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Hasil penelitian ini juga bertentangan dengan teori dimana orangtua dengan sosioekonomi menengah keatas memiliki fasilitas atau akses yang cenderung memudahkan untuk mendapatkan pengetahuan tentang suatu hal. Kemungkinan ini terjadi karena sumber informasi tentang penanganan darurat gigi avulsi masih belum memadai baik melalui media cetak, internet, maupun informasi langsung dari dokter gigi.16

Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara pendidikan dengan sikap orangtua tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Hal ini sejalan dengan teori dimana dengan memiliki pendidikan yang baik seseorang memiliki respon positif terhadap suatu informasi baru terutama informasi yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara sosioekonomi dengan sikap orangtua tentang penanganan darurat kasus trauma avulsi gigi permanen anak.16 Penelitian Santos et.al dan Ozer et.al menyatakan bahwa masih terdapat rendahnya pengetahuan dan sikap tentang penanganan darurat avulsi gigi anak dan penelitian tersebut menemukan tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pendidikan orangtua, penghasilan orangtua dan usia.3,15 Disamping itu penelitian ini menemukan adanya hubungan antara pengetahuan dengan sikap orangtua tentang penanganan darurat avulsi gigi permanen anak. Pengetahuan orangtua tentang penanganan darurat avulsi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan perawatan avulsi. Sikap dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan. Adanya pengetahuan yang benar

61

dapat menimbulkan respon yang positif dari seseorang untuk melakukan tindakan yang benar dalam melaksanakan prosedur menyelamatkan gigi avulsi anak.

Metode pengumpulan data penelitian secara angket dilakukan dengan menyebarkan kuisioner melalui anak memampukan peneliti untuk mengumpulkan data dalam jumlah besar dalam satu satuan waktu kepada orangtua. Kelemahan sistem angket yaitu saat peneliti membagikan informed consent dan kuisioner melalui anak sekolah, anak sering lupa memberikan langsung kepada orangtua untuk diisi dan tidak semua kuisioner diisi dengan tepat sehingga peneliti kembali harus menambah jumlah kuisioner, karena dalam hal ini kuisioner tersebut menjadi data eksklusi. Hal tersebut juga menyebabkan jadwal pengumpulan data dapat lebih lama dari yang ditentukan. Selain itu, pertimbangan dari pihak sekolah yang tidak memungkinkan untuk mengumpulkan orangtua pada saat bersamaan menyebabkan penyampaian informasi tentang penanganan darurat avulsi gigi sangat minimal. Penelitian ini masih merupakan penelitian pendahuluan sehingga apabila mau melihat keadaan data penelitian, masih tidak diperoleh distribusi sampel yang merata.

BAB 6

Dalam dokumen Pengetahuan Dan Sikap Orangtua Tentang Penanganan Darurat Trauma Avulsi Gigi Permanen Anak Di Kecamatan Medan Marelan Dan Kecamatan Medan Polonia (Halaman 54-68)