• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Program Perikanan Tangkap di Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai.

Program pengembangan perikanan tangkap dilaksanakan mulai tahun 2011 sebagai pengganti dari program pemberdayaan masyarakat pesisir. Program dijalankan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan khususnya bidang perikanan tangkap. Berbagai kegiatan yang tercakup di dalam program pengembangan perikanan tangkap ini bertujuan untuk meningkatkan produksi perikanan dan meningkatkan pendapatan nelayan kecil. Pemberian bantuan alat tangkap ikan merupakan bagian dari program pengembangan perikanan tangkap. Bantuan alat tangkap ikan disalurkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serdang Bedagai kepada nelayan-nelayan yang tergabung di dalam kelompok nelayan.

Namun masih banyak nelayan yang tidak tergabung dalam kelompok nelayan yang disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dari Dinas Perikanan dan Kelautan. Masih banyak nelayan yang belum mengerti akan pentingnya kelompok nelayan ini. Sehingga masih banyak nelayan yang belum mengetahui tentang program pengembangan perikanan tangkap ini.

Prosedur yang harus dijalankan oleh nelayan untuk mendapatkan bantuan alat tangkap ikan dinilai oleh nelayan sendiri tidak terlalu memberatkan. Dimana prosedur tersebut adalah sebagai berikut :

1. Nelayan membentuk kelompok nelayan lengkap dengan kepengurusan kelompok.

2. Kelompok nelayan melakukan diskusi anggota mengenai potensi daerah dan peralatan yang dibutuhkan oleh nelayan dalam rangka meningkatkan hasil tangkapan dan pendapatan nelayan.

3. Kelompok nelayan mengajukan proposal kepada Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serdang Bedagai yang berisi tentang kebutuhan mereka dalam rangka meningkatkan hasil tangkapan.

4. Proposal-proposal yang masuk dinilai oleh Dinas Perikanan dan Kelautan. 5. Proposal yang dinilai bagus akan dan memenuhi syarat akan diseleksi lagi

oleh Dinas Perikanan dan Kelautan.

6. Kelompok nelayan yang dinilai layak untuk mendapatkan bantuan alat tangkap sesuai dengan potensi daerah akan dipanggil dan diberikan sosialisasi oleh Dinas Perikanan dan Kelautan.

7. Kelompok nelayan mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Perkembangan program pengembangan tangkap dapat dilihat pada tabel 9. berikut:

Tabel 9. Perkembangan Program Pengembangan Perikanan Tangkap di Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai

No Kriteria Tahun 2011 2012 1 2 3 Jumlah Pelaksana

Jumlah Penerima Bantuan Jumlah Anggota 15 Orang 11 Kelompok 125 Kelompok 15 Orang 9 Kelompok 125 Kelompok Sumber : Data primer

Dari tabel 9. dapat dilihat bahwa berdasarkan jumlah pelaksana, program pengembangan perikanan tangkap dapat dikatakan stagnan atau tidak mengalami

pada tahun 2011, dan pada tahun 2012 jumlah pelaksana masih tetap sebanyak 15 orang. Beradasarkan jumlah penerima bantuan, program pengembangan perikanan tangkap mengalami penurunan jumlah penerima. Pada tahun 2011 jumlah penerima bantuan sebanyak 11 kelompok nelayan. Sedangkan pada tahun 2012 jumlah penerima bantuan hanya sebanyak 9 kelompok nelayan. Jumlah penerima bantuan menurun sebanyak 7 kelompok nelayan atau menurun sebesar 20,59 %. Dan berdasarkan jumlah anggota, program perkembangan perikanan tangkap tidak mengalami perkembangan. Jumlah anggota pada tahun 2011 masih sama dengan tahun 2012 yaitu sebanyak 125 kelompok nelayan.

Berdasarkan uraian diatas dapat dibuat kesimpulan bahwa perkembangan program pengembangan perikanan tangkap cenderung stabil dari tahun 2011 ke tahun 2012. Sehingga dengan demikian Hipotesis 1 yang menyatakan program pengembangan perikanan tangkap mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, ditolak.

Sikap Nelayan Terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap

Sikap Nelayan terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap Khususnya Pemberian Bantuan Alat Tangkap Ikan diperlihatkan oleh jawaban nelayan terhadap pernyataan-pernyataan yang diberikan. Baik berupa pernyataan positif maupun pernyataan negatif. Interpretasi terhadap skor masing-masing responden dilakukan dengan mengubah skor tersebut ke dalam skor standar yang mana dalam hal ini digunakan Model Skala Likert (Skor T). Nilai S (standar deviasi) berbeda untuk masing-masing kemlompok sampel yang diteliti. Perhitungan dilakukan dengan rumus :

�=��+ ��[�−�������

� ]

Jika diperoleh nilai skor standar (T) ≥ 50, maka sikap dinyatakan positif. Sementara jika nilai skor standar (T) < 50, maka sikap dinyatakan negatif.

a. Sikap nelayan yang belum pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan

Nilai standar deviasi yang diperoleh untuk kelompok nelayan yang belum pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan dalah sebesar 1,73669. Sikap nelayan yang belum pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 10. Sikap Nelayan yang Belum Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan Terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap

No. Kategori Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. Positif 13 43,33

2. Negatif 17 56,67

Jumlah 30 100

Sumber : data diolah dari lampiran 11

Dari tabel 10. dapat dilihat bahwa dari 30 sampel yang diambil, 13 sampel (43,33%) memiliki sikap positif terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap. Dan 17 sampel (56,67%) memikil sikap negatif terhadap Progaram Pengembangan Perikanan Tangkap. Mayoritas dari sampel memiliki sikap yang negatif, sehingga dapat dikatakan bahwa sampel nelayan yang belum pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan memiliki sikap negatif terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap.

b. Sikap nelayan yang pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan

Nilai standar deviasi untuk kelompok nelayan sampel yang pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan adalah sebesar 4,588842. Sikap nelayan yang pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Sikap Nelayan yang Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan Terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap

No. Kategori Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. Positif 13 43,33

2. Negatif 17 56,67

Jumlah 30 100

Sumber : data diolah dari lampiran 12

Dari tabel 11. dapat dilihat bahwa dari 30 sampel yang diambil, 13 sampel (43,33%) memiliki sikap positif terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap. Dan 17 sampel (56,67%) memikil sikap negatif terhadap Progaram Pengembangan Perikanan Tangkap. Mayoritas dari sampel memiliki sikap yang negatif, sehingga dapat dikatakan bahwa sampel nelayan yang belum pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan memiliki sikap negatif terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap.

c. Perbandingan sikap antara nelayan yang belum pernah dan yang pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap

Dari tabel 10. dan tabel 11. dapat dilihat perbandingan sikap nelayan sampel yang belum pernah dan yang sudah pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan. Dimana perbandingan jumlah sampel yang bersikap positif untuk masing-masing kelompok nelayan adalah 13:13. Dan perbandingan jumlah sampel yang bersikap negatif adalah 17:17. Dari perbandingan ini dapat kita lihat bahwa antara nelayan yang belum pernah dan nelayan yang sudah pernah mendapatkan

bantuan alat tangkap ikan memiliki sikap yang sama terhadap Program Perkembangan Perikanan Tangkap. Mayoritas sampel dari masing-masin kelompok memiliki sikap yang negatif. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa nelayan di Kecamatan Teluk Mengkudu bersikap negatif Terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap.

Ada beberapa alasan mengapa Sikap Nelayan terhadap Program Unggulan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Deli Serdang negatif, yaitu sebagai berikut.

1. Penyaluran bantuan yang dinilai para nelayan masih berjalan lambat dan belum tepat sasaran. Serta masih banyak di antara para nelayan yang belum menerima bantuan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serdang Bedagai.

2. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap aspirasi para nelayan.

3. Kurangnya interaksi yang baik antara nelayan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan.

4. Kurangnya sosialisai dalam kegiatan pendampingan pada kelompok nelayan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serdang Bedagai terhadap para nelayan.

5. Nelayan menilai pemberian bantuan alat tangkap kurang sesuai dengan kondisi yang dialami oleh nelayan. Hal ini disebabkan karena nelayan minimnya hasil tangkapan nelayan bukan karena peralatan, melainkan dikarenakan jumlah ikan di laut memang sudah sangat minim.

Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan Dengan Sikap Nelayan Terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap

Karakteristik sosial ekonomi nelayan seperti umur, tingkat pendidikan, pengalaman melaut, jumlah tanggungan dan jumlah pendapatan nelayan diduga berhubungan dengan sikap nelayan terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap. Untuk mengetahui hubungan tersebut maka dapat dilakukan analisis dengan menggungakan metode korelasi rank spearman.

Untuk melihat besarnya nilai derajat keeratan dapat menggunakan klasifikasi koefisien korelasi dua variabel menurut Guilford dalam Supriana (2009) pada tabel 12 berikut ini :

Tabel 12. Nilai Hubungan Korelasi Menurut Guilford Nilai Koefisien Korelasi Keterangan

< 0,2

Antara 0,2 s/d 0,4 Antara 0,4 s/d 0,7 Antara 0,7 s/d 0,9 Antara 0,9 s/d 1

Tidak terdapat hubungan antara kedua variabel Hubungan kedua variabel lemah

Hubungan kedua variabel sedang Hubungan kedua variabel kuat Hubungan kedua variabel sangat kuat

Sedangkan untuk melihat nyata tidaknya hubungan antar kedua variabel ini dilakukan dengan membandingkan nilai t-hitung dengan nilai tabel. Nilai t-tabel (α = 0,05) dengan derajat bebas (db = n-2) = 28 adalah 1,701. Jika t-hitung yang diperoleh < 1,701 maka hubungan kedua variabel adalah tidak nyata. Sedangkan jika t-hitung ≥ 1,701, hubungan kedua variabel adalah nyata.

a. Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yang Belum Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan dengan Sikap Nelayan

Hasil analisis korelasi rank spearman karakteristik sosial ekonomi nelayan yang belum pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan dengan sikap nelayan terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap dapat dilihat pada tabel 13. berikut :

Tabel 13. Analisis Korelasi Rank Spearman Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yang Belum Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan Variabel Rs t-hitung Umur Tingkat Pendidikan Pengalaman Melaut Jumlah Tanggungan

Jumlah Pendapatan per Hari

0,109 0,284 0,113 0,159 0,007 0,581 1,570 0,604 0,850 0,034 Sumber : data primer diolah pada lampiran 13,14,15,16,17

- Analisis Hubungan Umur Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa nilai rs antara umur dengan sikap adalah sebesar 0,109 dengan nilait t-hitung 0,581. Nilai t-hitung yang diperoleh 0,581 < 1,701, menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara umur dengan sikap nelayan. Hal ini berarti bahwa tinggi rendahnya umur sampel tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

- Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa nilai rs antara tingkat pendidikan dengan sikap nelayan adalah sebesar 0,284 dengan nilai t-hitung sebesar 1,570. Oleh karena nilai t-hitung < nilai t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan sikap nelayan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tinggi rendahnya tingkat pendidikan nelayan tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

- Analisis Hubungan Pengalaman Melaut Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 13 dapat dilihat nilai rs antara pengalaman melaut dengan sikap nelayan adalah sebesar 0,113 dengan nilai t-hitung sebesar 0,604. Oleh karena nilai t-hitung < t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya, tidak ada hubungan antara pengalaman melaut dengan sikap nelayan. Atau dengan kata

lain dapat dikatakan bahwa tinggi rendahnya pengalaman melaut nelayan tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

- Analisis Hubungan Jumlah Tanggungan Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 13 dapat dilihat nilai rs antara jumlah tanggungan dengan sikap nelayan adalah sebesar 0,159 dengan nilai t-hitung sebesar 0,850. Oleh karena nilai t-hitung < t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya tidak ada hubungan antara jumlah tanggungan dengan sikap nelayan. Atau dengan kata lain, tinggi rendahnya jumlah tanggungan tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

- Analisis Hubungan Jumlah Pendapatan Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa nilai rs antara jumlah pendapatan dengan sikap nelayan adalah sebesar 0,006 dengan nilai t-hitung sebesar 0,035. Oleh karena nilai t-hitung < t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya, tidak ada hubungan antara jumlah pendapatan dengan sikap nelayan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tinggi rendahnya pendapatan tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

b. Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yan Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Dengan Sikap Nelayan

Hasil analisis korelasi rank spearman karakteristik sosial ekonomi nelayan yang pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan dengan sikap nelayan terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap dapat dilihat pada tabel 14. berikut :

Tabel 14. Analisis Korelasi Rank Spearman Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yang Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan

Variabel rs t-hitung

Umur

Tingkat Pendidikan Pengalaman Melaut Jumlah Tanggungan

Jumlah Pendapatan per Hari

-0,038 0,104 0,064 0,093 0,082 -0,198 0,554 0,337 0,496 0,436 Sumber : data primer diolah pada lampiran 18,19,20,21,22

- Analisis Hubungan Umur Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa nilai rs antara umur dengan sikap adalah sebesar -0,038 dengan nilait t-hitung -0,198. Nilai t-hitung yang diperoleh -0,198 < 1,701, menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara umur dengan sikap nelayan. Hal ini berarti bahwa tinggi rendahnya umur sampel tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

- Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa nilai rs antara tingkat pendidikan dengan sikap nelayan adalah sebesar 0,104 dengan nilai t-hitung sebesar 0,554. Oleh karena nilai t-hitung < nilai t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan sikap nelayan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tinggi rendahnya tingkat pendidikan nelayan tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

- Analisis Hubungan Pengalaman Melaut Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 14 dapat dilihat nilai rs antara pengalaman melaut dengan sikap nelayan adalah sebesar 0,064 dengan nilai t-hitung sebesar 0,337. Oleh karena nilai t-hitung < t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya, tidak ada hubungan antara pengalaman melaut dengan sikap nelayan. Atau dengan kata

lain dapat dikatakan bahwa tinggi rendahnya pengalaman melaut nelayan tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

- Analisis Hubungan Jumlah Tanggungan Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 14 dapat dilihat nilai rs antara jumlah tanggungan dengan sikap nelayan adalah sebesar 0,093 dengan nilai t-hitung sebesar 0,496. Oleh karena nilai t-hitung < t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya tidak ada hubungan antara jumlah tanggungan dengan sikap nelayan. Atau dengan kata lain, tinggi rendahnya jumlah tanggungan tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

- Analisis Hubungan Jumlah Pendapatan Dengan Sikap Nelayan

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa nilai rs antara jumlah pendapatan dengan sikap nelayan adalah sebesar 0,082 dengan nilai t-hitung sebesar 0,436. Oleh karena nilai t-hitung < t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya, tidak ada hubungan antara jumlah pendapatan dengan sikap nelayan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tinggi rendahnya pendapatan tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

c. Perbandingan Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yang Belum dan Sudah Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Dengan Sikap Terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap

Tabel 15. Perbandingan Hubungan Karaktersitik Sosial Ekonomi Nelayan yang Belum dan Sudah Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Dengan Sikap Nelayan

Variabel Kelompok 1 Kelompok 2

Rs t-hitung rs t-hitung

Umur

Tingkat Pendidikan Pengalaman Melaut Jumlah Tanggungan

Jumlah Pendapatan per Hari

0,109 0,284 0,113 0,159 0,007 0,581 1,570 0,604 0,850 0,034 -0,038 0,104 0,064 0,093 0,082 -0,198 0,554 0,337 0,496 0,436 Sumber : data primer diolah dari tabel 13 dan 14

Dari tabel dapat dilihat bahwa, baik untuk kelompok nelayan 1, yaitu yang belum pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan, dan untuk kelompok nelayan kelompok 2, yaitu yang sudah pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan, tidak ada variabel karakteristik ekonomi yang berhubungan dengan sikap nelayan. Artinya tinggi rendahnya karakteristik sosial ekonomi nelayan yang belum dan sudah pernah mendapatkan bantuan alat tangkap tidak menyebabkan nelayan bersikap positif atau negatif.

Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan Terhadap Sikap Nelayan

Pengaruh karakteristik sosial ekonomi nelayan yang diteliti adalah umur, pendidikan, pengalaman melaut, jumlah tanggungan dan jumlah pendapatan dengan sikap nelayan, dianalisis dengan menggunakan metode Regresi Linear Berganda dengan bantuan SPSS 16.

a. Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yang Belum Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan Terhadap Sikap Nelayan

Hasil analisis regresi linear berganda karakteristik sosial ekonomi nelayan yang belum pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan terhadap sikap nelayan dapat dilihat pada tabel 16 berikut ini :

Tabel 16. Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yang Belum Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan Terhadap Sikap Nelayan

Variabel Koefisien Regresi t-hitung Signifikansi Constant Umur Tingkat Pendidikan Pengalaman Melaut Jumlah Tanggungan Jumlah Pendapatan 63,564 0,050 0,453 0,044 0,230 0,000 8,674 0,516 1,437 0,370 0,533 -0,940 0,000 0,611 0,164 0,715 0,599 0,357 R-square = 0,165 F-hitung = 0,945 (sig = 0,470)

Persamaan Regresi Linear Berganda :

Y = 63,564 + 0,05 X1 + 0,452 X2 + 0,044 X3 +0,044 X4 + X5

Dimana :

Y = Skor Sikap Nelayan X1 = Umur Nelayan (Tahun)

X2 = Tingkat Pendidikan (Tahun)

X3 = Pengalaman Melaut (Tahun)

X4 = Jumlah Tanggungan (Jiwa)

X5 = Jumlah Pendapatan (Rp/hari)

Dari tabel 16 diperoleh penjelasan sebagai berikut:

1. Secara serempak, diperoleh nilai F-hitung sebesar 0,945 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,470. Maka dapat disimpulkan bahwa secara serempak variabel umur, tingkat pendidikan, pengalaman melaut, jumlah tanggungan dan jumlah pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan. 2. Secara parsial, diperoleh nilai koefisien regresi umur nelayan terhadap sikap

sebesar 0,05 dengan nilai t-hitung sebesar 0,516 (sig = 0,611). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,651 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa umur nelayan tidak berpengaruh nyata secara parsial terhadap sikap nelayan. 3. Secara parsial, diperoleh nilai koefisien regresi tingkat pendidikan nelayan

terhadap sikap nelayan sebesar 0,452 dengan nilai t-hitung sebesar 1,437 (sig =0,164). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,164 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa secara parsial, tingkat pendidikan nelayan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan.

4. Secara parsial, diperoleh nilai koefisien regresi pengalaman melaut nelayan terhadap sikap nelayan sebesar 0,044 dengan nilai t-hitung sebesar 0,370 (sig = 0,715). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,715 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa secara parsial, pengalaman melaut tidak berpengaruh terhadap sikap nelayan.

5. Secara parsial, diperoleh nilai koefisen regresi jumlah tanggungan terhadap sikap nelayan sebesar 0,230 dengan nilai t-hitung 0,599 (sig = 0,599). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,599 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa secara parsial, jumlah tanggungan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan.

6. Secara parsial, diperoleh nilai koefisien regresi jumlah pendapatan terhadap sikap nelayan sebesar 0,0 dengan nilai t-hitung sebesar -0,94 (sig = 0,357). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,357 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa secara parsial, jumlah pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan.

7. Nilai R-square sebesar 0,185 menunjukkan bahwa variabel umur, tingkat pendidikan, pengalaman melaut, jumlah tanggungan dan jumlah pendapatan dapat menjelaskan sikap nelayan sebesar 18,5 %. Sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diamati oleh peneliti sehingga diduga ada variabel lain yang menjelaskan sikap nelayan sebesar 81,5%.

b. Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yang Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan Terhadap Sikap Nelayan

Hasil analisis regresi linear berganda karakteristik sosial ekonomi nelayan yang pernah mendapatkan bantuan alat tangkap ikan terhadap sikap nelayan dapat dilihat pada tabel 17 berikut ini :

Tabel 17. Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi Nelayan yang Pernah Mendapatkan Bantuan Alat Tangkap Ikan Terhadap Sikap Nelayan

Variabel Koefisien Regresi t-hitung Signifikansi Constant Umur Tingkat Pendidikan Pengalaman Melaut Jumlah Tanggungan Jumlah Pendapatan 108,881 -0,778 -0,637 0,827 -0,069 0,000 5,803 -2,030 -0,990 2,037 -0,061 -0,344 0,000 0,054 0,332 0,053 0,952 0,734 R-square = 0,204 F-hitung = 1,232 (sig = 0,325) Persamaan Regresi Linear Berganda :

Y = 108,881 - 0,778 X1 - 0,637 X2 + 0,827 X3 - 0,069 X4 + X5

Dimana :

Y = Skor Sikap Nelayan X1 = Umur Nelayan (Tahun)

X2 = Tingkat Pendidikan (Tahun)

X3 = Pengalaman Melaut (Tahun)

X4 = Jumlah Tanggungan (Jiwa)

X5 = Jumlah Pendapatan (Rp/hari)

Dari tabel 16 diperoleh penjelasan sebagai berikut:

1. Secara serempak, diperoleh nilai F-hitung sebesar 1,232 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,325. Maka dapat disimpulkan bahwa secara serempak variabel umur, tingkat pendidikan, pengalaman melaut, jumlah tanggungan dan jumlah pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan. 2. Secara parsial, diperoleh nilai koefisien regresi umur nelayan terhadap sikap

signifikansi yang diperoleh sebesar 0,054 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa umur nelayan tidak berpengaruh nyata secara parsial terhadap sikap nelayan. 3. Secara parsial, diperoleh nilai koefisien regresi tingkat pendidikan nelayan

terhadap sikap nelayan sebesar -0,637 dengan nilai t-hitung sebesar -0,990 (sig =0,332). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,332 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa secara parsial, tingkat pendidikan nelayan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan.

4. Secara parsial, diperoleh nilai koefisien regresi pengalaman melaut nelayan terhadap sikap nelayan sebesar 0,827 dengan nilai t-hitung sebesar 2,037 (sig = 0,053). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,053 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa secara parsial, pengalaman melaut tidak berpengaruh terhadap sikap nelayan.

5. Secara parsial, diperoleh nilai koefisen regresi jumlah tanggungan terhadap sikap nelayan sebesar -0,069 dengan nilai t-hitung -0,061 (sig = 0,952). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,952 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa secara parsial, jumlah tanggungan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan.

6. Secara parsial, diperoleh nilai koefisien regresi jumlah pendapatan terhadap sikap nelayan sebesar 0,0 dengan nilai t-hitung sebesar -0,344 (sig = 0,734). Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,734 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa secara parsial, jumlah pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan.

7. Nilai R-square sebesar 0,204 menunjukkan bahwa variabel umur, tingkat pendidikan, pengalaman melaut, jumlah tanggungan dan jumlah pendapatan

dapat menjelaskan sikap nelayan sebesar 20,4 %. Sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diamati oleh peneliti sehingga diduga ada variabel lain yang menjelaskan sikap nelayan sebesar 79,6%.

Hambatan-Hambatan yang Dihadapi Oleh Pelaksana Program

Dalam melaksanakan Program Pengembangan Perikanan Tangkap, ada beberapa kendala atau hambatan yang dialami oleh petugas pelaksana yaitu : - Kurangnya kesadaran nelayan akan pentingnya kelompok nelayan

Masyarakat nelayan pada umumnya masih kurang mengerti tentang arti dari kelompok nelayan. Sehingga banyak diantara mereka yang masih enggan untuk bergabung di dalam kelompok nelayan. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan nelayan itu sendiri.

- Kurangnya kepedulian dan rasa ingin tahu nelayan

Pada umumnya nelayan kurang peduli dengan hal-hal yang berkembang disekitar mereka. Hal ini menyebabkan informasi-informasi tentang inovasi- inovasi atau teknologi-teknologi baru yang berkembang sangat susah menyebar di kalangan nelayan. Hal ini mungkin terjadi dikarenakan masyarakat nelayan pada umumnya kurang memiliki waktu untuk menggali informasi dari luar. Kesibukan mereka dan keseharian mereka yang dominan di laut, membuat nelayan hanya mengerti dan melaksanakan apa yang mereka tahu dan apa yang mereka pelajari dari pengalaman mereka di laut.

- Banyaknya “Kelompok Siluman” yang muncul saat ada pemberian bantuan Saat nelayan mengetahui adanya pembagian bantuan, akan banyak muncul

Dokumen terkait