• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

PROTECTED FATTY ACIDS

5 PEMBAHASAN UMUM

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan telah mencanangkan program percepatan pencapaian swasembada daging sapi (P2SDS) tahun 2014 dan kerbau termasuk di dalam komoditas untuk mendukung swasembada tersebut, tetapi program ini telah tiga kali mengalami revisi. Tidak tercapainya target PSDS pada tahun 2010 disebabkan oleh peningkatan populasi sapi lebih rendah dibandingkan peningkatan jumlah ternak yang dipotong. Pemerintah menetapkan program P2SDS 2010 melalui tujuh langkah operasional yakni 1. Optimalisasi akseptor dan kelahiran melalui IB dan kawin alam. 2. Pengembangan RPH dan pengendalian pemotongan betina produktif 3. Perbaikan mutu dan penyediaan bibit 4. Penanganan gangguan reproduksi dan kesehatan hewan 5. Intensifikasi kawin alam 6. Pengembangan pakan lokal 7. Pengembangan SDM dan kelembagaan.

Populasi sapi potong pada tahun 1991 sampai 2009 meningkat 15.36% (0.85% per tahun) yaitu dari 10.67 juta ekor menjadi 12.60 juta ekor termasuk didalamnya populasi kerbau sebanyak 2.3 juta ekor (Ditjennak 2005 dan BPS 2010); namun peningkatan jumlah ternak yang dipotong pada periode tersebut lebih tinggi yaitu mencapai 37.51% (2.08% per tahun), dari 1.28 juta ekor menjadi 2.04 juta ekor. Kontribusi daging kerbau dari jumlah populasi sebanyak 2.3 juta ekor menghasilkan daging sebesar 46 ribu ton atau 2.12% terhadap kebutuhan daging nasional (Ditjennak 2008). Keadaan tersebut memberi gambaran bahwa, permintaan daging belum dapat diimbangi oleh pertumbuhan suplai dan produksi daging dalam negeri. Kondisi ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi petani untuk mengembangkan usahatani ternak.

Ada dua cara untuk mengembangkan usahatani ternak, pertama adalah dengan meningkatkan populasi ternak per unit lahan dan yang kedua adalah dengan meningkatkan pertambahan bobot badan per unit ternak (Wiryawan 1994). Untuk meningkatkan pertambahan bobot badan per unit ternak dapat dilakukan dengan penggemukan. Penggemukan pada ternak selain meningkatkan pertambahan bobot badan, juga dapat meningkatkan kualitas karkas dan daging (Priyanto dan Johnson 2011). Tetapi harus diperhatikan pula manipulasi terhadap priode waktu penggemukan yang juga berpengaruh terhadap biaya. Salah satu cara untuk mendapatkan laju pertumbuhan yang tinggi dan feed cost/gain yang efisien adalah dengan menerapkan phenomena pertumbuhan kompensasi (compensatory growth) pada ternak bakalan yang digemukkan.

Dari hasil penelitian penggemukan pada ternak kerbau dan sapi jantan umur 1.5-2 tahun (umur I1) dengan pemberian pakan konsentrat tinggi (67%) menghasilkan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi pada ternak kerbau yaitu 1.16 kg/ekor/hari dibandingkan dengan sapi yaitu 0.95 kg/ekor/hari. Sedangkan jika ternak kerbau dipelihara secara tradisional menghasilkan pertambahan bobot badan 0.37 kg/ekor/hari pada kerbau jantan dan 0.30 kg/ekor/hari pada betina (Zulbardi et al. 1982, 1998). Penggemukan yang dilakukan pada ternak kerbau jantan dibandingkan dengan pemeliharaan secara tradisional dapat meningkatkan laju pertumbuhan sebesar 0.79 kg (68.10%) dari

0.37 kg/ekor/hari menjadi 1.16 kg/ekor/hari. Apabila diasumsikan bahwa pemotongan ternak kerbau berasal dari 50% kerbau betina dan 50% berasal dari kerbau jantan maka diperoleh peningkatan produksi daging asal ternak kerbau jantan yang digemukkan adalah 15 663 ton (68.10% x 46 000 x 50%). Total produksi daging yang dihasilkan adalah 61 663 ton (46 000 ton + 15 663 ton) daging. Terjadi peningkatan sumbangan daging yang berasal dari ternak kerbau sebesar 25.40% atau terjadi peningkatan dari 2.12% menjadi 2.66%.

Bobot badan awal ternak kerbau dan sapi sebelum digemukkan adalah 218.66 kg pada kerbau dan 217.37 kg pada sapi, kemudian digemukkan selama 75 hari menghasilkan bobot potong sebesar 315.50 kg pada kerbau dan 289.87 pada sapi. Walaupun persentase karkas yang didapat dari hasil penelitian pada ternak kerbau lebih rendah yaitu 46.49% dibandingkan dengan sapi yaitu 52.09%. Apabila ternak kerbau tidak digemukkan maka berat karkas yang dihasilkan adalah 101.66 kg (46.49% x 218.66 kg) pada kerbau dan 113.23 kg (52.09% x 217.37 kg) pada sapi, sedangkan jika ternak digemukkan dengan pakan konsentrat tinggi selama 76 hari akan menghasilkan peningkatan terhadap produksi karkas yaitu 146.58 kg (46.49% x 315.50 kg) pada kerbau dan 151.13 kg (52.09% x 289.87 kg) pada sapi. Peningkatan produksi karkas pada ternak kerbau yang digemukkan adalah sebesar 30.82% (146.58 kg – 101.66 kg/146 kg) x 100% dan pada sapi sebesar 25.06% (151.13 kg – 113.25 kg) x 100%. Pemotongan pada ternak pada tahun 2009 adalah 2.04 juta ekor (Dirjennak 2010). Jika diasumsikan pemotongan pada ternak kerbau 1/10 dari ternak sapi maka pemotongan ternak dapat dihindari sebesar 62 526 ekor (0.1 x 2.04 juta ekor x 30.65%) dari kerbau dan 460 102 ekor (0.9 x 2.04 juta ekor x 25.06%) dari sapi jadi total keseluruhan adalah 522 628 ekor atau sekitar 25.62%.

Basuki (1999), menyatakan bahwa, dalam konstelasi pembangunan nasional, usaha penggemukan mempunyai peranan strategis yaitu: pada pemotongan ternak lokal, terutama pada betina produktif dapat dicegah, sehingga populasi ternak potong di Indonesia diharapkan dapat stabil bahkan dapat meningkat. Jumlah tenaga kerja yang dapat diserap dalam kegiatan agribisnis penggemukan dari hulu sampai hilir cukup besar, sehingga usaha penggemukan memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan di Indonesia.

Penggemukan pada ternak selain meningkatkan pertambahan bobot badan, juga meningkatkan kualitas daging. Ternak kerbau yang digemukkan dan dipotong pada umur I1 menghasilkan daging yang lebih empuk dan mempunyai susut masak yang lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi. Jika dikembangkan akan memberikan dampak yang baik bagi industri daging di tanah air, terutama restoran dan hotel-hotel dan juga berdampak positif terhadap pengembangkan ternak kerbau di Indonesia.

Penggemukan ternak kerbau dengan pemberian pakan yang mengandung asam lemak terproteksi yang berasal dari minyak ikan lemuru dalam bentuk CGKK menghasilkan daging yang mengandung zat bioaktif sebagai sumber pangan fungsional yang berpengaruh positif terhadap kesehatan.

Aspek Ekonomi Ransum

Menguntungkan atau tidaknya suatu usaha peternakan terutama penggemukan dapat dilihat dengan menghitung aspek ekonominya. Analisis ekonomi pada ternak hidup berdasarkan harga beli bakalan, harga jual ternak dan biaya pakan selama pemeliharaan, sedangkan jika dipotong berdasarkan harga jual karkas dan harga dari potongan komersial karkas (Adkinson et al. 1993).

Pada Tabel 5.1 dapat dilihat besarnya pendapatan usaha ternak yang diperoleh berdasarkan penjualan ternak hidup antara ternak kerbau dan sapi yang diberi pakan suplemen dan tanpa pemberian pakan suplemen. Asumsi biaya pemeliharaan dan harga pembelian dan penjualan didasarkan harga yang terjadi pada tahun 2011. Dari hasil analisis ekonomi terlihat bahwa pendapatan ternak kerbau yang digemukkan lebih tinggi dari ternak sapi dan ternak kerbau yang disuplementasi CGKK lebih tinggi dari ternak sapi yang diberi pakan dengan suplementasi CGKK. Hal ini berhubungan erat dengan pertambahan bobot badan harian yang dihasilkan oleh ternak kerbau yang lebih tinggi dari sapi. Walaupun konsumsi pakan kerbau lebih tinggi dari sapi tetapi kemampuan ternak kerbau merubah pakan menjadi daging juga lebih tinggi sehingga diperoleh keuntungan yang optimal. Pemberian suplementasi CGKK memberikan nilai ekonomis yang lebih baik bagi pakan penggemukani.

Tabel 5.1 Analisis ekonomi pendapatan usaha pemeliharaan ternak kerbau dan sapi yang diberi pakan dengan suplementasi CGKK dan tanpa suplementasi CGKK berdasarkan pertambahan bobot badan

Parameter Sapi Kerbau

Non CGKK CGKK Non CGKK CGKK Biaya (Rp/hari) : Hijauan Konsentrat komersial Kulit ari kedelai CGKK 2 781 4 184 3 138 0 2 854 4 019 3 014 2 700 3 217 5 035 3 777 0 3 235 4 887 3 666 2 700 Biaya total (Rp/hari) 10 104 12 587 12 029 14 488 PBB (kg/ekor/hari)

Harga jual (/kg bobot hidup) 0.93 26 000 0.98 26 000 1.10 24 000 1.22 24 000 Penerimaan (Rp/hari) 24 204 25 410 26 316 29 368 Pendapatan (ekor/hari) 14 100 12 814 14 286 14 881 Pendapatan selama penggemukan (76 hr) 1 071 613 973 897 1 085 767 1 130 944

KESIMPULAN

Penggemukkan pada ternak kerbau dapat dilakukan untuk meningkatkan performa pertumbuhan dengan menghasilkan pertambahan bobot badan yang relatif lebih tinggi dari ternak sapi. Dilihat dari pertambahan bobot badan yang dihasilkan terjadi peningkatan kontribusi daging kerbau terhadap kebutuhan daging nasional, selain itu juga dapat mengurangi jumlah pemotongan ternak untuk menjaga kelangsungan populasi ternak terutama pada betina produktif. Penggemukan pada ternak kerbau yang disuplementasi dengan pakan yang mengandung asam-asam lemak terproteksi yang berasal dari minyak ikan lemuru dalam bentuk CGKK tidak mengganggu proses fermentasi rumen dan menghasilkan peningkatan terhadap karakteristik daging dan pendapatan. Kerbau yang diberi pakan dengan suplementasi asam lemak terproteksi menghasilkan daging yang lebih empuk dan mengandung asam-asam lemak jenuh (Saturated fatty acid’s/SFA) yang rendah, dan kandungan asam-asam lemak tak jenuh (Saturated fatty acid’s/ UFA) yang tinggi serta peningkatan rasio UFA/SFA sehingga dapat digunakan sebagai sumber pangan fungsional.

SARAN

Pemerintah harus mengawasi secara ketat proses pemotongan ternak kerbau dan sapi di Rumah Potong Hewan sehingga ternak yang dipotong sudah terlebih dahulu digemukkan untuk mengurangi jumlah pemotongan ternak dan menghindari pemotongan pada ternak betina produktif. Persentase karkas kerbau dapat ditingkatkan dengan cara melakukan dehorning atau pemotongan tanduk pada ternak dan memberi pakan yang berkualitas baik mulai dari anak sampai dewasa.

Dokumen terkait